Tampilkan postingan dengan label Place. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Place. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 November 2017

Warisan Sejarah Itu Bernama Tukang Gigi Mester.

Zaman old, jika warga kampung saya hendak plesir ke ‘ibu kota’ Jakarta Timur, mereka menyebutnya pergi ke Mester. Jarang yang bilang ke Jatinegara. Jarak dari Kampung Kebon di Kemang ke Mester lumayan jauh untuk ukuran kala itu. Perlu waktu setengah hari pulang pergi. Biasanya mereka ke Mester untuk membeli keperluan yang tidak di dapat di Pasar Minggu, atau Pasar Kebayoran, kedua pasar yang cukup besar di Jakarta Selatan. Salah satu tujuan ke Mester adalah betulin gigi atau masang gigi palsu.

Selain panca indera yang lima macam itu, gigi juga memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Tanpa gigi depan misalnya, takkan bisa kita menggarot apel, atau jambu. Apalagi, kalau gigi geraham kita ada yang tanggal, saya pastikan salah satu kenikmatan hidup berupa mengunyah makanan akan terganggu. Tak heran bila ada orang yang berkata, lebih baik sakit hati ketimbang sakit gigi. Disamping untuk mengunyah dan menggarot makanan, gigi juga berfungsi untuk estetika atau keindahan. Orang akan dipandang menawan salah satunya, bila gigi-giginya tertata dengan rapi, tidak tonggos (maju kemuka seperti bemo), putih dan bersih. Sayangnya, bila gigi depan kita tanggal, ini akan menjadi cacat permanen. Untuk mengobatinya hanya ada satu solusi, buat gigi palsu.

Meski zaman now, tukang gigi palsu banyak bertebaran di sudut kampung di Jakarta. Namun, bicara sejarah dan ke’orisinal’-an dari tukang gigi itu, bolehlah kita berpaling ke Jatinegara. Salah satu sudut sejarah tukang gigi palsu di Jakarta yang masih tersisa ada di ruas Jalan Jatinegara Barat. Disinilah terdapat deretan toko pembuat gigi palsu yang telah dirintis oleh para imigran dari tionghoa saat mereka hijrah dan menetap di Jakarta. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari bioskop Nusantara, yang sayangnya kini telah almarhum.

Ada empat toko gigi palsu yang menghiasi jalan sepanjang satu setengah kilometer itu, selain toko karpet, terpal, plastik, dan aneka kebutuhan lainnya. Paling selatan ada Toko Gigi Ekadi Kasim, sebelahnya ada Tukang Gigi Makmur, kemudian Tukang Gigi Indah, dan diujungnya Tukang Gigi Bandung. Toko/Tukang Gigi Makmur, misalnya, toko ini telah ada sejak tahun 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut Jayadi (65), pembuat gigi di Tukang Gigi Makmur, ia telah menekuni dunia per-gigi-an sejak zamannya Bung Karno, di tahun 1964. Sewaktu tukang gigi belum banyak di Jakarta, keempat toko ini pernah memasuki masa keemasan. Waktu itu bahkan toko tutup hingga malam. Zaman terus berganti, di masa Ali Sadikin, sekitar tahun 70-an, keempat toko ini terkena pelebaran jalan. Beruntung bisnis mereka tidak gulung tikar. Kini profesi itu masih berlanjut dan diteruskan oleh generasi ketiga atau cucu.

Bicara kualitas dan kerapihan, para tukang gigi palsu boleh diadu dengan dokter gigi tamatan universitas ternama sekalipun. Gigi palsu buatan mereka sangat bagus dan awet. Bahkan, dokter gigi yang buka praktek pun banyak yang memesan untuk dibuatkan gigi palsu ke mereka. Meski hasil kerja mereka memuaskan, namun untung-untungan juga, dalam arti ada juga hasil buatan mereka yang kurang presisi sedikit. Ada yang enak dan nyaman dipakai, adapula yang mesti berkali-kali datang untuk meng-epaskan ‘stelan’nya. Karena bila kurang sedikit saja (stelan-nya), maka makan apapun takkan terasa nikmat. Terlepas dari itu, hasil pembuatan gigi palsu, yang berfungsi sebagai estetika, patut diapresiasi. Pasalnya tanpa kemahiran tangan mereka mengolah cetakan gigi (dinamakan Modano, bahan yang diimpor dari Jerman) dapat dipastikan penampilan kita saat tersenyum bukannya bertambah manis, namun akan semakin hancur lantaran ompong, heheh..

Oh ya, urusan ompong ternyata bukan domain para manula ataupun rakyat jelata. Ada beragam orang dengan status sosial yang macam-macam yang datang ke tukang gigi di Jatinegara. Ada selebritis, ada politisi, dan banyak pula rakyat kebanyakan. Mereka datang tentu dengan kondisi dimana gigi depan mereka ompong atau tanggal. Dari penuturan Jayadi, ada beragam sebab yang membuat gigi mereka tanggal, seperti jatuh akibat tabrakan dimana gigi depan membentur aspal. Adapula yang patah/copot giginya akibat berkelahi, kena tonjok, dsb. Paling banyak tentu karena kecelakaan.

Maka, bila anda mengalami masalah dengan tanggalnya gigi, jangan berkecil hati. Segeralah ke dokter gigi untuk mengobati luka di gusi anda, lalu pergilah ke tukang gigi palsu. Bila ragu dengan banyaknya tukang gigi yang ada, tak ada salahnya anda mencoba tukang gigi yang berlokasi di Jatinegara. Saya jamin penampilan dan senyum anda akan semakin menawan dengan gigi palsu buatan para tukang gigi. Dan, inilah salah satu warisan Jakarta yang tersisa untuk anda, si ompong, hehe..



Senin, 02 Oktober 2017

Menyusuri Sungai Potamac

Sesuai rencana yang kuimpikan sejak semalam, pagi ini aku akan menyusuri sungai Potamac, sungai yang membelah Washington DC, pada pagi hari kedua keberadaanku di ibukota Amerika ini. Dengan hanya mengenakan longjohn berbalut jaket tebal, selepa sholat subuh aku bergegas keluar hotel mengambil jalur kanan menyusuri jalan 23 lalu belok kanan menuju kawasan Georgetown, suatu kawasan pemukiman lama di DC. Kebanyakan yang tinggal disini golongan menengah keatas, mungkin kalau di Jakarta, kawasan ini sekelas Menteng.

Selepas melalui kawasan itu, aku melipir ke kiri menuju sungai Potamac. Pagi itu banyak warga DC ber-jogging pagi. Pertokoan masih tutup, namun aktivitas olahraga di sisi sungai sepanjang 652 Km ini cukup semarak. Mahasiswa dari George Washingto University aku lihat sudah turun ke sungai untuk berdayung. Mereka berkelompok. Sebagian yang lain sudah selesai, dan merapikan peralatan dayungnya.


Matahari mulai meninggi, bergegas aku kembali ke hotel lantaran pagi itu jadwal pertemuan dengan beberapa counterpart di DC sudah menunggu. 

Minggu, 20 Agustus 2017

Hotel Tempatku Menginap

Room @Washington Circle Hotel
Selama mengikuti program IVLP --program yang memang dirancang selain untuk belajar juga untuk mengenal lebih mendalam tentang Amerika-- saya tidak hanya bertandang untuk menemui beberapa counterpart dari satu kota saja, namun beberapa kota di beberapa negara bagian. Dan, selama pindah-pindah kota tersebut, otomatis, saya pun harus angkat-angkat koper untuk berpindah-pindah hotel.

Oleh pihak Department of State, saya disediakan hotel dengan layanan standard bintang 4 (empat). Meski demikian, tak selamanya hotel bintang 4 yang disediakan itu nyaman. Ada hotel yang enak dan convenience untuk di tinggali dan ada pula yang tidak lantaran tempatnya jauh dari keramaian, misalnya. Diantara sekian hotel yang saya tinggali, ada beberapa hotel yang enak karena lokasinya strategis dan dekat kemana-mana, seperti saat kami singgah di DC dan Philadelphia.

Patung Washington dengan hotel dibelakangnya
Di Washington DC, saya menginap di Hotel One Washington Circle. Dari namanya yang circle, hotel ini terletak di dekat bundaran patung George Washington. Dari seberang hotel terlihat dengan jelas kampus prestigious di Washington DC yakni Washington University. Hotelnya cukup nyaman. Strategis, dekat kemana-mana. Terletak di Jalan 23. Bila kita hendak ke Monumen Hall atau Gedung Putih, bisa dicapai hanya dengan 15 menit jalan kaki. Pagi hari disiapkan aneka buah-buahan segar yang dapat diambil di lobby hotel. Sebelum beranjak untuk aktivitas di pagi hari, biasanya saya selalu mengambil apel untuk pengganjal perutku di siang harinya. (Point 8,5)

Nah, sewaktu di Philadelphia, saya menginap di hotel Club Quarters Philadelphia, di Jalan 1628 Chestnut Street. Hotel ini letaknya di pusat kota. Kemana-mana dekat. Hanya perlu berjalan kaki beberapa blok ke alun-alun kota dan Reading Terminal Market. Bahkan dipagi hari, saya hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menitan untuk samapai di Penn’y, yakni pelabuhan tempat pertama kali para imigran datang ke Philly. Di situs bersejarah ini terdapat ornament yang menggambarkan saat para imigran mendarat di Philadelphia. Sama seperti di DC, hotel ini juga menyediakan buah-buahan segar dan aneka minuman (susu dan teh hangat) yang bisa diambil gratis di lobby hotel. (Point 8)

Kamar Hotel CQ
Lalu di St. Louis saya menginap di hotel Drury Plaza Hotel at the Arch, beralamat di 2 South 4th Street.
Kamar Hotel Drury Plaza
Hotelnya hanya sepelemparan batu dengan Arch Gateway, yakni monument melengkung mirip logo restoran McD. Oleh pihak hotel, atas request panitia lokal, saya diberikan kamar yang menghadap langsung ke Arch
sebagai icon Kota St. Louis, dengan sungai Mississippi di belakangnya. Namun lantaran kota berjuluk The Lau ini tidak semeriah Philadelphia, maka kesan sunyi dan sepi sangat terasa di sekitar hotel. Untungnya hotel ini menyediakan menu sarapan pagi dan sore gratis, sehingga bisa menghemat anggaran makanku. (Point 7,5)
S. Mississippi terlihat dari kamar hotel


Kemudian di Helena, saya menginap di hotel Comfort Suites‑Helena, yang terletak di 3180 North Washington Street. lokasinya dekat dengan bandara, hanya sekitar 5 menit-an saja. Kami diberikan makan pagi gratis. Namun sayangnya hotel ini jauh ke tempat-tempat strategis untuk kita jalan-jalan meng-explore kota. Kurang nyaman lah sebagai titik point untuk menjelajah kota Helena.
Kamar Hotel Comfort Suites-Helena
Namun bila kita baru tiba dari Helana, hotel ini cukup recommended mengingat ia berada sangat dekat dengan bandara. Saya sarankan cukup semalam saja kita menginap disini untuk kemuadian, dari sini, mungkin kita bisa mulai menjelajah sisi lain dari Negara bagian Montana. (Point 7)
Photo diambil dari belakang hotel Comfort Helena


Nah, di kota terakhir, Salt Lake City, saya menginap di Hotel Little America. Hotelnya bagus, dekat dengan trem yang dilewati dari dan menuju ke bandara. Letaknya di 500 South Main Street.
Bila kita ingin menuju pusat perbelanjaan yang berlokasi agak ‘diatas’ misalnya, kita dapat menggunakan trem (free), dengan terlebih dulu berjalan sekitar 200 meter menuju haltenya. (Point 7)
Kamar Hotel Little America, Salt Lake City

Kamis, 30 Maret 2017

Romantika Hidup Bertetangga

Alhamdulillah, meski letaknya dilingkungan padat penduduk, kami dapat memiliki rumah, masih di Jakarta. Letaknya strategis, dekat kemana-mana. Ke PGC Cililitan misalnya, hanya ‘selangkah’ saja. Tinggal di kawasan padat penduduk seperti di Condet ini membuat kami harus banyak bertenggang rasa dengan para tetangga kiri kanan, depan belakang. Tidak bisa kami bersikap individualis dan semau gue seperti yang pernah kami terapkan di Kemang. Di Kemang, keluarga kami nyaris tinggal sendiri dalam arti tak mempunyai tetangga lantaran kiri kanan rumah adalah ruko dan belakang rumah ditinggali oleh orang bule.

Nah, karena di Condet banyak orang kitanya, maka sering terjadi tolong menolong diantara warganya. Yang sering terjadi adalah kita menolong mereka atau mereka menolong kita. Bila tetangga kehabisan garam, misalnya, mungkin ia biasa meminta ke kita. Itu hal yang wajar. Begitupun bila kita akan pergi lama, mungkin bisa menitipkan kunci (rumah) di tetangga, agar lampu depan rumah bisa di nyalakan saat menjelang malam

Banyak romantika yang kami rasakan selama tinggal di Condet. Hal-hal yang tidak mengenakkan, yang mungkin kami rasakan, harus kami telan, demi menjaga keutuhan hidup bertetangga. Ibaratnya, kita masih dibolehkan ribut dengan keluarga. Sedahsyat apapun konflik kita dengan keluarga, toh, saban tahun pasti kita akan bersilaturahmi dengan mereka saat lebaran tiba, dan konflik itu akan termaafkan. Memangnya bila kita marahan dengan keluarga, lalu putus hubungan dengan mereka? Tidak ada istilah bekas saudara. Namun yang perlu dicatat, jangan sampai ribut dengan tetangga, apalagi tetangga yang sudah lebih dulu tinggal di situ. Bila sampai ribut dengan tetangga, yang terjadi adalah, loe yang pindah dari lingkungan situ, atau loe yang akan dikucilkan oleh mereka. Kelar hidup loe!!

Hidup di lingkungan padat, dimana jarak antar rumah yang satu dengan yang lainnya saling berhimpitan tentu ada suka dukanya. Bila ada anak tetangga yang nangis, misalnya, akan dengan jelas kami dengar tangisannya. Begitupun bila ada tetangga di depan atau samping rumah yang ribut dengan suami/istrinya, kami juga bisa menguping keributan mereka. Untungnya kami belum pernah menyaksikan piring terbang akibat keributan tetangga kami. Ya, Itulah romantika bertetangga.

Nah, bicara mengenai kehidupan bertetangga, banyak hak dan kewajiban tak tertulis yang ada dalam masyarakat. Salah satunya adalah perihal undang mengundang dalam lingkungan masyarakat. Saya ingin membahas mengenai per-undangan ini lantaran kita sebagai warga masyarakat tentu pernah dan akan selalu melakukannya.

Selama tinggal di lingkungan RW. 07 Condet, kami sekeluarga telah tiga kali mengundang tetangga untuk acara kami. Terakhir, saat kami mengkhitankan si sulung. Agar acara itu diberkati Allah SWT, kami sengaja menggelar selamatan kecil-kecilan dengan mengumpulkan orang. Tanpa kehadiran tetangga pun sebenarnya kami bisa mengumpulkan kerabat hingga puluhan orang lantaran kami keluarga Betawi/Jawa. Namun itu tak kami lakukan. Kami sengaja mengundang tetangga dan bukan kerabat lantaran kami ingin berbaur dengan mereka.

Karena keterbatasan tempat/ruang di rumah kami, maka undangan pun tak banyak kami sebar, hanya untuk kapasitas 50 orang. Biasanya kalau kita mengundang sekitar 50 orang maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi: Pertama, tamu yang datang bisa lebih dari 50, atau sialnya, bisa pula hanya 30-40 orang saja. Untuk jaga-jaga, maka Istri menyiapkan bingkisan sebanyak 70 orang. Begitulah, ternyata yang datang memenuhi undangan kami hanya sekitar 30-an tetangga saja. Ya, lumayanlah, lebih separuhnya yang datang, hiburku.

Saya coba ber-khusnudzon dan berbaik sangka, kenapa tetangga yang diundang, tak semuanya hadir. Pertama; Mungkin banyak tetangga yang masih harus masuk kerja. Maklum acaranya digelar pada hari Sabtu pagi, dimana tak semua tetangga di hari itu memperoleh jatah libur. Kedua; Mungkin saja undangan-nya tak sampai ke tuan rumah. Bisa jadi kertas undangan-nya tertiup angin ketika digeletakkan di meja serambi rumah, atau bisa pula tetangga punya kegiatan yang lebih penting ketimbang memenuhi undangan kami. Dari banyak alasan-alasan yang mengemuka, yang kami khawatirkan adalah tetangga tidak datang ke acara kami lantaran mereka memang tak suka atau tak merasa perlu dengan keluarga kami. Mungkin saja kami selama ini salah dalam bergaul dengan mereka. Mungkin kami dinilai masih asosial, sehingga tetangga pun segan tuk datang memenuhi undangan kami. Kalalu ini alasannya, wahh perlu diperbaiki lagi tingkah dan polah kami dalam bertetanga. Semoga bukan itu penyebabnya.

Begitulah adanya dengan kehidupan bertetangga. Akan selamanya kita membutuhkan mereka. Jadi, bila kita punya hajat, entah itu nyunatin atau ngawinin anak, dan hanya sedikit tetangga yang hadir, jangan salahkan ketidakhadiran mereka. Mungkin kita yang kurang gaul, asosial, individualis, atau tidak bertetangga dengan baik hingga para tetangga pun segan datang ke rumah kita.

Atau bahkan bila kita tertimpa musibah seperti kematian salah satu kerabat kita, dan kita minta tolong dengan mengundang tetangga untuk mensholati jenazah kerabat kita, lalu hanya sedikit warga (tetangga) yang mensholati-nya, maka jangan salahkan tetangga lainnya yang enggan mensholatinya. Jangan dibangun opini menyesatkan yang justru memperkeruh suasana. Jangan ditarik ke ranah politik atau Pilkada. Introspeksiah, kenapa para tetangga enggan mensholati kerabat kita?? Kalau kita selama bertetangga hidup baik dan rukun, jangankan disholati dirumah dengan segelintir orang yang mensholatinya, bahkan jenazah kita akan mereka arak untuk disholati, tidak hanya di musholla, bahkan di masjid dengan ribuan jemaah yang hadir. Semoga kita nantinya akan disholati oleh ribuan orang lantaran kebaikan yang kita tanamkan semasa hidup kita, amien..


Catatan: Sholat jenazah hukumnya fardu kifayah. Artinya bila ada satu orang saja yang mensholati jenazah tersebut maka umat Islam di wilayah/kawasan tsb tidak berdosa. Namun bila tidak ada seorangpun yang mensholati jenazah tersebut, maka seluruh umat islam di wilayah itu berdosa. It’s simple!!

Minggu, 19 Maret 2017

Main Ke Lokasi Shooting Film Shooter

Bagi anda pecinta film action, tentu tak melewatkan tontonan dari salah satu film action terbaik sepanjang masa yakni: “Shooter”. Film yang dibintangi oleh Mark Walberg ini menceritakan tentang seorang mantan marinir AS, penembak jitu (Bob Lee) yang telah pensiun. Singkat cerita, Bob, karena keahliannya sebagai seorang sniper atau penembak jitu, didatangi oleh salah seorang pejabat militer Amerika untuk ambil bagian dari pengamanan tim Kepresidenan Amerika (Secret Service) dari ancaman pembunuhan. Saya tidak ingin bercerita tentang akhir dari jalannya cerita dalam film besutan sutradara Antoine Fuqua ini, namun saya ingin berbagi gambar tentang salah satu tempat yang dijadikan lokasi shooting film keluaran tahun 2007 itu. Ya, film ini memang banyak mengambil lokasi di beberapa negara bagian di Amerika, salah satunya adalah di kota Philadelphia, Pennsylvania.

Didepan alun-alun philadelphia, dimana liberty bell bersemayam
Dalam salah satu adegan, Bob mengobservasi Balai Kota atau alun-alun yang bakal digunakan oleh Presiden Amerika berpidato. Alun-alun ini menjadi salah satu tempat terbaik bagi pembunuh presiden untuk mewujudkan niatnya tersebut. Dalam setting film digambarkan, di sekitar panggung utama, ada banyak bangunan tinggi yang mengelilinginya, dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi SS untuk meng-clear-kan lokasi sekitar alun-alun tersebut. Oh ya, Kota Philly, sebutan slank dari Philadelphia, di samping sebagai kota pelabuhan, juga terkenal sebagai kota tempat dikumandangkannya Kemerdekaaan Amerika dengan salah satu icon-nya adalah Liberty Bell. Banyak bangunan bernilai historis yang terdapat di alun-alun seluas lebih kurang 500 meter persegi itu.

Beruntung pada lawatan ke Amerika Serikat Maret 2016 silam, saya berkesempatan mengunjungi salah satu spot terbaik bagi pengambilan gambar film tersenut. Lokasinya tak jauh dari tempat saya menginap, sekitar beberapa blok, dekat dengan Reading Terminal Market, dan tempat-tempat yang menjadi highlight kota Philly. Lantaran ada waktu senggang, saya berkesempatan menengok ke salah satu lokasi pembuatan film ini. Inilah gambar-gambarnya..


Senin, 02 Mei 2016

Perlunya physical face yang waardig. –Menengok Icon Kota di Amerika

Saat melantik Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta di April 1966, Soekarno, di ujung senja kekuasaanya, berpesan pada Ali agar menjadikan kota ini mempunyai physical face yang waardig (wajah penampilan yang berharga) bagi Indonesia*. Untuk mewujudkan hal tersebut Jakarta harus mempunyai national pride, sesuatu yang menjadi kebanggaan nasional, sesuatu yang abadi, yang akan dikenang oleh umat manusia. Itulah visi kedepan seorang Soekarno yang sudah dapat menggambarkan akan seperti apa kota ini seharusnya dibangun.

Bung Karno, sebagai seorang pecinta wanita, seni dan keindahan, tentu mengharapkan kota Jakarta dibangun dengan memperhatikan aspek estetika dan sentuhan seni yang bernilai. Kita tahu, tahun 60 dan 70-an Jakarta laksana sebuah desa di kampung. Cuma bedanya, desa ini sangat luas. Big Village, itulah julukan yang disematkan media barat pada Jakarta. Tak ada keteraturan didalamnya, serba semrawut. Keindahan kota hanya dapat dipancarkan oleh sebidang ruang yang bernama bundaran HI dengan hotel Indonesia-nya, tak lebih dari itu. 

Nah, Jakarta sekarang tentu berbeda dengan zaman Bung Karno. Banyak perubahan yang terjadi. Namun, bila kita bandingkan Jakarta dengan kota-kota dari negara maju lainnya di dunia, tentu bagai langit dan sumur. Sangat jauh berbeda.

Dalam lawatan muhibahku ke negara Paman Sam Maret 2016 silam, aku terpesona dengan setiap tampilan, icon, dan penataan kota-kota yang kusinggahi. Akan selalu ada kekhasan dan ciri khusus yang melekat dalam masing-masing kota. Semuanya berbeda dengan aneka rupa, bentuk dan corak.

Washington DC misalnya, diwakilkan oleh Washington Monument yang menjulang tinggi -persis seperti Monas-, dengan jalan-jalan yang tertata rapi dan deretan bangunan yang sejajar tingginya. Sebagai pusat pemerintahan Amerika Serikat, DC menampilkan banyak karya monumental berupa patung-patung pahlawan dan monument peringatan perang yang pernah dilakoni bangsa Amerika. DC layak menyandang julukan sebagai kota peringatan atau kota yang tak pernah lupa akan jasa para pahlawan dan pendiri Amerika.

Terbang ke barat, ke St. Louis, di kota berjuluk The Lau ini dulunya adalah wilayah Perancis. Oleh Jefferson, tanah di tepi sungai Mississippi itu dibeli. Di Tanah Lusiana ini ada sebuah icon kota yang sangat menawan dan artistic. Icon itu bernama “The Arch Gateway”, yang berbentuk oval setengah lingkaran. The Arch sendiri dibangun untuk mengenang visi Presiden Jefferson sebagai penanda dan peringatan akan ekspansi dan perluasan wilayah Amerika ke arah barat.

Beranjak ke Philadelphia atau Philly, kota ini di cirikan dengan Liberty Bell-nya. Bell ini adalah lonceng tanda peringatan kemerdekaan Amerika di tahun 1776, dimana Philly adalah kota tempat naskah kemerdekaan Amarika ditandatangani. Kini Liberty Bell menjadi icon Philly dan di tempatkan di Independence National Historical Park, dekat alun-alun kota.

Begitupun dengan Salt Lake City, Ibukota negara bagian Utah ini terkenal dengan mayoritas penganut ajaran mormon.  Gereja mormon di pusat kota layak di sandingkan dengan kuil Taj Mahal, di India sebagai icon kota berpenduduk 187 ribu jiwa ini.

Itulah Amerika, dari timur ke barat kota yang kusambangi mempunyai bentuk dan ciri khas yang unik, yang tidak dimiliki oleh wilayah atau kota lainnya. Keunikan tersebut terefleksikan dari monument, tugu atau karya seni yang bernilai sejarah yang diabadikan dan ditempatkan di pusat kota. Tiap kota berupaya berlomba memunculkan ke-khasan dalam kotanya. Kekhasan itu yang selalu ditonjolkan, dan menjelma menjadi icon dan landmark kota.

Beruntung kita punya Soekarno, presiden yang berjiwa seni dengan visi jauh ke depan. Di zamannya, di Jakarta dibangun Monas; Patung Tugu Tani; Patung Pancoran; dan Tugu Selamat Datang. Istananya pun, -baik di Bogor maupun di Jakarta- bertaburan karya-karya seni dari seniman top mancanegara. Bayangkan, bila Bung Karno tak berbuat itu, mungkin kota ini kehilangan ‘ruh’nya. Tak ada estetika dan patung-patung bernilai seni di Jakarta. Mungkin yang ada hanya bangunan tinggi menjulang dengan pemukiman kumuh di kiri kanannya.

Selain monas di Jakarta, Jembatan Suramadu di Surabaya, adakah kota-kota lainnya di Indonesia yang mempunyai physical face yang waardig yang menjadi kebanggan warga kota akan kotanya? Bila belum, maka, menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai bagian warga kota untuk menciptakan sesuatu yang, bahkan bisa menjadi national pride, agar umat manusia seribu tahun lagi akan terus mengingat dan mengenang dit heft jij gedaan. Ini yang kita warisi untuk anak cucu kita kelak. Ini yang akan kita persembahkan untuk generasi mendatang. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?


*dinukil dari buku Bang Ali Demi Jakarta, karya Ramadhan, KH.

Rabu, 07 Oktober 2015

Kemang*

Bagi sebagian ekspatriat, alias bule yang bekerja di Jakarta, mendengar nama Kemang tentu tidak asing di telinga mereka. Banyak ekspatriat yang tinggal di Jakarta memilih Kemang sebagai tempat tinggalnya. Wilayah ini memang cocok untuk hunian. Hanya berjarak lebih kurang 5 kilometer dari pusat bisnis dan perwakilan kantor-kantor asing di Jakarta --Sudirman dan Rasuna Said-- Kemang menyajikan kenyamanan dan ketenangan. Selain Menteng, Jakarta Pusat, di kawasan Kemang Dalam misalnya, akan ditemukan suasana yang nyaman, tenang, dan sejuk rindang, yang akan membuat mereka yang tinggal merasakan kebanggaan tersendiri berada dalam salah satu lingkungan prestise Jakarta. 

Buah Kemang; 

Menyusuri sepanjang jalan Kemang Raya akan tampak gemerlap suasana kehidupan yang dinamis. Deretan tempat usaha mulai dari hotel, bank, sekolah, tempat makan, café, dan toko-toko yang menyajikan beragam kebutuhan bagi kalangan sosialita Jakarta dapat dijumpai di hamparan jalan sepanjang 2 kilometer ini. Bahkan, kebutuhan untuk memanjakan hidup, mulai dari perawatan tubuh hingga perawatan hewan dan kendaraan ada di sini. Kemang boleh dikatakan the downtown never sleep.

Sebagian dari kita banyak yang tidak mengetahui dimanakah Kemang berada, dalam arti, Kemang masuk wilayah mana? Mereka menyangka Kemang itu juga adalah nama kelurahan di Jakarta. Maklum saja, mereka tidak mengenal wilayah Bangka, yang menjadi nama sebuah kelurahan yang menaungi kawasan Kemang. Kemang lebih terkenal ketimbang Kelurahan Bangka itu sendiri. Padahal, tidak ada kelurahan Kemang, namun yang ada Kelurahan Bangka. Ya, Kemang berada di Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Nama Kemang sendiri berasal dari pohon Kemang, sejenis pohon mangga yang tingginya beberapa meter dan berdaun lebat yang dulunya banyak dijumpai di kawasan Kemang. Namun sayangnya, saat ini tidak dijumpai sama sekali pohon kemang. Kawasan Kemang sendiri dulunya hanya mempunyai 2 (dua) kampung, Yakni Kampung Kemang dan Kampung Kebon. Kampung Kemang terbentang mulai dari Kem-Chic sampai dengan Jalan Kemang Selatan I. Lalu dari Jl. Kemang Selatan I kearah selatan menyusuri Jl. Kemang Raya hingga Jl. Kemang Selatan dinamakan Kampung Kebon. ‘Pusat pemerintahan atau pusat keramaian’ Kampung Kebon ada disekitar Jl. Kemang Selatan IX, persisnya dekat dengan Musholla Al-Istiqomah. Dulunya, bila kita naik kendaraan umum dari Blok M atau dari Pasar Minggu, maka bila kita hendak turun di (saat ini) Jl. Kemang Selatan IX dan X, maka kenek akan berteriak: “Kebon kebon…” Sedangkan pusat keramaian Kampung Kemang ada disekitaran Mc-Donald saat ini, dan kenek biasanya menyebut: “Kemang satu Kemang satu..”

Semula, sekitar tahun 60-an, kawasan ini adalah wilayah satelit penyangga dari wilayah Kebayoran Baru, suatu kawasan yang mulai dikembangkan pada tahun 50-an. Jalan raya yang dibangun --menuju arah kota-- pada masa itu hanya sampai Jalan Prapanca (Kebayoran Baru) yang langsung berbatasan dengan pinggir Kali Krukut dan belum tembus sampai Kemang. Saat itu, bila hendak ke ‘kota’ maka penduduk Kemang terpaksa harus menyebrangi Kali Krukut yang berarus deras saat musim penghujan tiba. Seiring dengan perkembangan kota yang mengarah ke selatan, kawasan perkebunan ini mulai dilirik oleh para ‘pengembang’ untuk dikembangkan sebagai tempat tinggal dan hunian untuk kaum menengah keatas. Ini lantaran masih rimbunnya kawasan ini dengan pepohonan dan rumah-rumah penduduk asli Betawi dengan pekarangan yang lebar serta luas, dan yang terutama adalah letaknya yang tidak jauh dengan pusat kota (Jl. Sudirman dan JL. Rasuna Said)

Perkembangan kawasan Kemang bermula sekitar tahun 70-an saat terjadi pembangunan perumahan secara besar-besaran di kawasan --yang saat ini dikenal dengan nama-- Jalan Kemang Dalam. Tak mau kalah dengan pengembang, maka warga pribumi Kemang pun mengontrakkan tanahnya kepada pemilik modal agar dibangun menjadi rumah gedung untuk disewakan kepada para ekspatriat yang ada di Jakarta. Paling kecil, satu kavling hunian di Kemang seluas rata-rata 1000 meter persegi, suatu luasan yang sangat cocok untuk para expatriate tinggal dan bermukim.
Maka, makin banyaklah hunian untuk ekspatriat yang tersedia. Kini, 40 tahun kemudian, kawasan seluas 200 hektare ini menjelma menjadi tempat bisnis, hiburan, dan kuliner yang menyediakan aneka kebutuhan bagi kalangan sosialita dan ekspatriat yang ada di Jakarta.

Sejak tahun 2000-an Kemang menjadi salah satu tempat nongkrong favorit bagi sebagian expatriate dan anak muda Jakarta. Selain Kemang, tentu ada pula tempat favorit lainnya. Namun Kemang menawarkan nuansa dan atmosphere yang berbeda ketimbang lainnya. Banyaknya tempat makan dan café dengan style anak muda membuat Kemang menjadi pilihan yang menarik. Disini, sekelompok anak muda dan ekspatriat di akhir pekan kerap berkumpul menyeruput kopi, bercengkrama dengan sesama menghabiskan malam hingga pagi menjelang.

Kendati suasana jalan Kemang Raya telah jauh berubah dibanding sebelum tahun 90-an --saat belum bermunculnya beragam tempat usaha-- namun kawasan Kemang tetap menjadi hunian ekslusif dan nyaman bagi para ekspatriat yang tinggal di Jakarta.  Maka selain jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat, di Kemang lah kita akan menjumpai para bule berlalu lalang di jalan raya dengan nyamannya.


*Sumber: 
  • Seperti yang dialami oleh penulis dan dikisahkan oleh para orang tua di Kemang. 
  • Sebagian isi pernah dimuat di Majalah all about Kemang, edisi Maret-April 2003;
  • Tulisan pernah dimuat di Majalah Media Jaya edisi 02/2015

Foto : 
buah kemang sumber: http://www.indahnyaindonesia.web.id/2014/03/kemang-flora-khas-kabupaten-bogor-yang-mulai-langka/