Selain lebaran anak yatim, orang Betawi juga mengenal yang namanya "Lebaran Kubur." Lebaran apa pula itu? Memangnya kuburan bisa lebaran? Ya, saya maklum, istilah lebaran kubur ini mungkin rada asing dan hanya dikenal dikalangan terbatas. Bila Anda atau kerabat Anda, tidak punya hubungan kekerabatan dengan etnis Betawi, maka istilah ini mungkin terdengar aneh.
Menjadi kebiasaan bagi sebagian besar muslim etnis Betawi –paling tidak setahun dua kali- untuk ziarah kubur, mengunjungi para kerabatnya yang telah meninggal dunia. Ziarah pertama, pada bulan rowah, atau menjelang datangnya bulan puasa (Ramadhan). Dan kedua, di bulan Syawal (lebaran). Biasanya kuburan ramai pada hari kedua setelah lebaran, dan kami menyebutnya Lebaran Kubur. Ya, jika di hari pertama lebaran kami disibukkan dengan silaturahmi ke kerabat terdekat (nyak/babe, ncang/ncing) yang masih hidup, maka dihari kedua kami ziarah atau lebaran ke kerabat yang sudah wafat.
Oh ya, biasanya kami ziarah kubur waktunya di pagi hari, tak lama setelah shubuh berlalu, begitu matahari mulai rada terangan. Maklum, Betawi gak kuat panas-panasan. Kan kalian tahu sendiri, di kuburan jarang pepohon untuk neduh dari sengatan matahari. Disamping itu, pertimbangannya, sekelar ziarah kubur sekira jam 8-an, mereka bisa melanjutkan acara lebarannya dengan ngedatengin saudara-saudara lainnya yang rumahnya rada jauhan.
Lantaran kebanyakan anak Betawi ilmu agamanya mumpuni, maka di kuburan, mereka tak hanya tabur bunga dan baca fatihah saja, namun mereka ngedoain ahli kubur dengan doa paket lengkap. Saya katakan paket lengkap karena gak hanya baca rabbigfirli saja, namun diawali dengan baca Surah Yasin (full) kemudian kulhu 3X; Kul auzu birabbil falak dan annas sekali, lalu ayat pertama dan terakhir dari surat al-Baqorah; La ilaahaillah; Sholawatan, dan ditutup dengan doa yang panjangnya sekitar satu halaman quarto, heheh.. Ya total untuk acara lebaran kubur ini, kami, orang betawi menghabiskan waktu satu hingga dua jam di kuburan. Oh ya, paket doa komplit itu biasanya dibacakan di kuburan utama (Nyak/Babe). Nah, untuk kuburan ke dua, ketiga, keempat, (kuburan ncang/ncing) cukup baca al-fatihah dan doa arwah saja, heheh..
Enaknya momen lebaran kubur ini adalah, bagi mereka yang di hari pertama lebaran belum sempat bertemu atau berlebaran dengan kerabatnya, jangan khawatir. Datang aja ke kuburan pas hari kedua. In Sya Allah bakalan ketemu dengan saudara lainnya yang juga ziarah kubur di kuburan yang sama. Maklum, bagi orang Betawi, letak liang makam kerabatnya berdekat-dekatan. Walhasil, lebaran kubur di hari kedua dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi bermaaf-maafan di kuburan. Jadilah areal pemakanan ramai dengan prosesi salam-salaman dan basa basi dengan ujaran seperti ini:
“ehh loe dah ke rumah Ncang Naseh blom? bareng ya..!
atau
“Gak mudik loe, Mat? ” (karena yang nanya tahu, bini nya orang jawa)
Begitulah prosesi “lebaran kubur”, bagi kami, orang Betawi. Bagaimana dengan lebaran kubur versi Anda?
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Juni 2019
Selasa, 13 Februari 2018
Cerita Banjir di Condet
Banjir kembali menerjang sebagian Jakarta.
Banjir pada Senin, 5 Februari 2018, bisa disebut sebagai siklus lima tahunan. Kenapa demikian? Saya
yang tinggal di Kawasan Condet, Jakarta Timur, yang relatif lebih aman ketimbang
di daerah hilir seperti Rawajati, Manggarai, dan sekitarnya, pada sore kemarin
kembali merasakan Banjir. Tahun-tahun sebelumnya, pemukiman kami selamat.
Terakhir kena, di tahun 2007 dan 2012.
Karena sudah terbiasa ngalamin banjir, kami nyantai
saja ngadapinya. Beruntung sejak pagi
peringatan dini telah dikeluarkan sehinga kami siap menyambut datangnya banjir
kiriman. Sebelum ‘tamu’ dari Bogor tiba, tetangga kami yang rumahnya hanya
berjarak selemparan batu dari bibir sungai Ciliwung telah siap siaga.
Barang-barang elektronik sudah diungsikan ke tetangga yang rumahnya bertingkat.
Pakaian-pakaian sudah dikosongkan dari lemarinya. Simpanan emas, dollar, dan
rupiah yang tak seberapa, telah dikempit dan dimasukkan dalam kutang ibu-ibu.
Nah, setelah prosesi angkut-angkut barang kelar dikerjakan, warga pemukiman kami
nongkrong di tanggul bibir sungai, untuk memantau ketinggian air sungai. Sambil
menghisap rokok, mereka mulai dapat memprediksi kapan kira-kira air sungai akan
menerjang pemukiman kami. Memprediksi seberapa besar ketinggian banjir yang
mungkin akan terjadi. Dengan Handy Talky,
beberapa pengurus RW berkoordinasi dengan rekan-rekan mereka yang ada di hulu
dan hilir sungai.
Begitulah sampai tibalah saatnya
‘tamu-tamu’ itu mulai berdatangan. Air mulai masuk menggenangi jalan di kawasan
pemukiman kami sekira setelah shalat ashar.
Lambat laun air mulai meninggi, dan puncaknya terjadi pada pukul 23.00 WIB.
Semua badan jalan di Jalan Ciliwung/Buluh, yang melingkupi RW.16, Kelurahan Cililitan,
terkena limpahan air cokelat Ciliwung. Ya, pemukiman kampung kami memang
berbatasan langsung dengan kali Ciliwung. Di sebelah timurnya adalah Jalan
Condet Raya. Beruntung banjir semalam tidak separah banjir di tahun 2012. Hanya
mampir sebentar. Dan, sekira menjelang shubuh, banjir telah surut.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir
di kawasan kami tak terlalu lama. Pertama adalah; Jembatan di Kalibata yang
menghubungkan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, sudah dibongkar, diganti
dengan fly over yang tinggi, sehingga
sampah yang biasanya menyangkut di badan jembatan dapat bebas mengalir sampai
ke hilir, sampah terus hanyut hingga ke Manggarai.
Sampah ini memang momok yang menakutkan
bagi kami. Isinya macam macam, ada ranting hingga dahan pohon yang hanyut,
pempers bayi, bahan-bahan dari stereoform,
bahkan hingga spring bed. Belum lagi sampah rumah tangga yang terbawa hanyut
dari hulu. Nah, kalau sampah ini nyangkut di jembatan Kalibata, maka
aliran air akan terhambat, akibatnya air dari hulu tidak dapat terus melaju
melainkan ‘mampir’ di pemukiman kami, di Condet.
Kedua, telah rampungnya sudetan di Banjir
Kanal Barat, sehingga air dari hulu Ciliwung yang masuk ke Pintu Air Manggarai
dapat terbagi dan tidak terkonsentrasi di satu titik. Ketiga, tidak adanya
pasang air laut. Dan terakhir, semalam Jakarta tidak di guyur lebat. Kalau sampai
hujan, perfect!
Yang juga patut disyukuri adalah, tak ada
korban jiwa dan harta akibat hanyut dibawa banjir, semalam. Kalaupun ada
kerugian, itu hanya berupa sisa lumpur yang melekat di dinding dan ubin rumah.
Dan pagi tadi, warga sudah mulai mebersihkan rumahnya, mengeluarkan sisa air
kiriman dengan gayung. Setelah itu menyiramnya dengan air bersih.
Pagi ini kiriman air dari Bogor telah
berangsur surut. Sayangnya, bagi mereka yang rumahnya memang permukaannya berada
lebih rendah dari kali, air masih belum surut, meskipun ketinggiannya berangsur
menurun. Begitulah banjir semalam yang terjadi di pemukiman kami. Kini kami
bersiap untuk memantau kembali permukaan air sungai, karena kami tak tahu
apakah si ‘tamu’ masih ingin datang ke rumah kami atau tidak.
Minggu, 04 Februari 2018
Menempatkan Becak di Jakarta
Meski sama-sama
beroda tiga, namun becak dan bajaj berbeda. Bajaj dianggap manusiawi karena
digerakkan dengan mesin. Sedangkan becak, dianggap kurang manusiawi lantaran
dikayuh oleh kaki, betis, dan paha. Kebayang gak, bila becak melaju di jalan menanjak, dengan peluh keringat
membasahi muka dan badannya, karena tak kuat mengayuh, Si abang becak mendorong
becaknya, sedangkan Si penumpang, alih
alih turun membantu meringankan beban berat Si abang becak, justru hanya
duduk manis, menikmati ‘kesengsaraan’ Si abang becak. Inilah mungkin yang dimaksud tidak
memanusiakan manusia atau kurang manusiawi.
Wacana
Gubernur Anies Baswedan untuk menghidupkan lagi becak di Ibukota mendapat
tanggapan pro dan kontra dan warga kota. Yang kontra beranggapan bahwa becak, adalah
salah satu yang menjadi sumber ketidak tertiban berlalu lintas. Bukankah saat
ini tanpa becak pun, gang-gang dan jalan-jalan kecil di pelosok Jakarta masih
semrawut. Semrawut dengan mobil milik warga yang parkir di pingir jalan
lantaran tak punya lahan parkir. Semrawut dengan kaki lima yang buka lapak dan
berjualan di pinggir jalan yang sempit. Lha,
gimana kalau ada becak, bisa tambah semrawut gang-gang dan jalan-jalan
kecil di perkampungan Jakarta.
Gubernur Anies
dalam argumennya menuturkan bahwa becak hanya akan ada di perumahan atau
perkampungan, dan tidak boleh masuk ke jalan protokol. Anies mencontohkan, warga yang membuka warung di rumah
membutuhkan becak untuk membawa barang belanjaannya yang dibeli dari pasar.
Selama ini disukai atau tidak becak telah hadir ditengah-tengah masyarakat. Di kawasan
Jakarta Utara seperti di Warakas misalnya, becak digunakan untuk menarik
penumpang. Di sekitar tempat pelelangan ikan di Jakarta, becak digunakan untuk
mengangkut hasil tangkapan nelayan. Ini adalah kondisi becak yang terjadi saat
ini. Sudahkah becak di Jakarta dimanusiawikan? Inilah yang akan menjadi impian dan
tantangan bagi Anies, menjadikan becak lebih manusiawi di Jakarta.
Namun, sebelum
impian itu menjadi nyata, perlu upaya yang sungguh-sungguh dari pemerintah
untuk menerapkan regulasi perbecakan.
Dengan kajian yang mendalam melibatkan seluruh komponen masyarakat, pasti akan
terjawab keraguan-keraguan masyarakat tentang dampak negatif dari hadirnya becak
di Jakarta. Bila di cerna dengan pikiran jernih, wacana dan ide yang
dilontarkan oleh Gubernur Anies cukup menarik. Kenapa becak tidak dilegalkan saja?
Ditata dan diatur dikawasan mana saja yang boleh ada becak. Ada batasan
maksimal, berapa becak yang boleh beroperasi di kawasan itu. Intinya adalah
pengaturan!
Nah, selain sebagai sarana transportasi di
perkampungan, yang tak kalah menariknya adalah bagaimana menjadikan becak
sebagai salah satu daya tarik wisatawan. Sama seperti Monument Washington, di
Washington DC, Amerika Serikat, dengan National Mall, yang terbentang
dihadapannya, Monas pun mempunyai tata ruang yang hampir sama. Kebayang gak, selama ini dari parkiran
mobil/motor menuju ke Tugu Monas, kita harus berjalan kaki, meskipun telah tersedia
mobil wara wiri gratis. Nah, bila di sekitaran monas disiapkan
becak, bisa menjadi daya tarik wisatawan. Syaratnya tentu ada pada penampilan
dan modifikasi becak itu sendiri agar sesuai dengan pangsa pasar wisata.
Tampilan becak bisa ditiru dinegara-negara maju.
Sebagai bahan
perbandingan, kita bisa menoleh kehadiran becak di Negara-negara yang lebih
maju dari Jakarta. Di Washington DC, Amerika Serikat misalnya, becak telah ada.
Saat saya berkunjung ke DC, saya menemukan becak yang disewakan. Becak disana
sungguh menarik, eye-catching. Tampilan
becaknya gak kumel. Abang becaknya pun bajunya rapih dan bersih. Berbeda dengan
di Indonesia, becak di DC posisi pengayuh atau abang becak ada di muka,
sedangkan penumpangnya ada di belakang. Permasalahannya adalah, bagaimana
mengatur kebaradaan becak agar tertata dan terlihat rapih dan teratur. Di DC,
kebaradaan becak hanya ada di sekitar objek-objek wisata yang banyak terserak
di sekitar National Mall, yang mana di
sekitarnya terdapat spot-spot menarik yang menjadi daya tarik destinasi wisatawan
mancanegara, seperti Monument Washington, Gedung Putih, dan musem-museum
menarik lainnya.
Bila di DC,
becak wisata bisa diterapkan, lantas apa yang salah dengan ide dan wacana Gubernur
Anies untuk menghidupkan becak? Bila saja becak wisata dapat beroperasi di
sekitaran Monas, tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan
yang hendak berkeliling monas. Selain ke Monas, dengan becak wisatawan dapat menyusuri
jalan di sekitaran Medan Merdeka, mengunjungi spot-spot menarik yang ada di
sana. Berkunjung ke beberapa museum yang ada di sekitarnya. Saya percaya, bila
ini di terapkan secara professional niscaya akan menjadi pilihan wisata yang
menarik. Jadi, jangan anggap becak sebagai suatu aib bagi transportasi Jakarta,
tinggal di poles sedikit niscaya profesi penarik becak akan termanusiakan. Dan,
satu lagi, impian Anies menjadikan becak di Jakarta sekelas becak di DC, nyata
adanya.
Jakarta Jangan Meninggalkan Sejarahnya
Upaya untuk menghargai jasa para pahlawan tentu
patut diapresiasi. Salah satu pengingatnya adalah dengan penamaan jalan. Ali
Sadikin (Bang Ali) misalnya, sebagai gubernur legendaris di Jakarta, meskipun
yang bersangkutan belum ditetapkan sebagai pahlawan, namun jasa dan kontribusinya
terhadap kemajan kota Jakarta sangat besar. Beliau lah peletak dasar pembangunan dan kemajuan Jakarta. Oleh sebagian
kalangan, Bang Ali, pernah diusulkan untuk diabadikan namanya sebagai jalan di
Jakarta. Cari punya cari, ketemulah
Jalan yang cocok, lokasinya dekat dengan Balakikota, bekas kantornya. Jalan
yang membentang dari mulai Tugu Tani hingga Tanah Abang ini dinominasikan
sebagai jalan Ali Sadikin menggantikan Jl. Kebon Sirih. Sayangnya, seiring
berjalannya waktu usulan itu menguap.
Kini, tanpa ada angin dan petir, usulan untuk
mengganti nama jalan di Jakarta kembali mencuat. Permasalahannya adalah apakah
penamaan jalan dengan salah satu tokoh (pahlawan) itu harus mengganti nama
jalan yang telah ada, yang telah mempunyai nilai histroris, dan melegenda di
kalangan masyarakat Jakarta? Inilah permasalahnya.
Sebagai kota pelabuhan, Jakarta kaya akan warisan
sejarah. Beragam suku bangsa bermukim diwilayah seluas 661,5 Km2 ini. Untuk
menjaga ingatan kolektif masyarakat, biasanya penamaan jalan di Jakarta terkait
dengan peristiwa, tokoh, etnis/suku, ataupun geografis daerah itu. Di Jakarta
kita mengenal Jalan Kampung Melayu, untuk melabelkan nama etnis yang banyak
menetap di kawasan itu. Jl. Warung Buncit misalnya, dulunya disitu ada warung
kepunyaan Bu Encit (etnis tionghoa). Warungnya, kalau meminjam istilah zaman now digunakan sebagai tempat hang out (ngumpul), untuk tempat transit
dan kongkow-kongkow para pejalan dan
pedagang yang melintasi ruas dari Pasar Minggu menuju ke tengah kota. Oleh
masyarakat setempat, ruas itu dinamakan Warung Buncit. Begitupun Jl. Mampang (nama
jenis pohon) Prapatan Raya dan Kemang Raya, di Jakarta Selatan. Dulunya banyak
pohon Kemang (sejenis mangga) yang berserakan di sepanjang jalan mulai dari
Antasari hingga Ampera Raya.
Nah, mengingat Jakarta sebagai kota yang punya
nilai sejarah tinggi, maka wacana pergantian nama jalan itu harus dikaji secara
mendalam. Boleh saja merubah nama jalan, namun dengan pertimbangan dan kajian
yang melibatkan beberapa stakeholder,
budayawan, dan tokoh masyarakat Betawi. (Maaf), jangan mentang-mentang (meminjam isilah Betawi) Buncit dan Mampang bukan
seorang pahlawan, dan hanya sekadar nama bekas toko, nama buah, atau pohon,
lalu dengan serta merta gampang menggantinya, semudah kita mengganti celana. Ingat,
kawasan itu punya sejarah. Merubahnya berarti merubah sejarah. Jadi, kalau mau merubah, ya, lihat-lihat dulu,
oom.
Sebenarnya, bila kita mau capek sedikit menelisik
jalan-jalan di Jakarta, banyak jalan-jalan di Jakarta yang rancu dan membingungkan
warganya. Mau contoh? Seruas jalan di depan Stasiun Jatinegara, misalnya,
dinamakan Jalan Bekasi Barat. Bagi orang luar Jakarta yang baru datang atau
turun dari kereta, tentu bertanya-tanya, dimana Bekasinya? Padahal Bekasi masih
sekitar 30-an kilo ke arah timur dari Jatinegara. Berbatasan dengan jalan itu,
bukan masuk kota/Kabupaten Bekasi, namun ada jalan Bekasi Timur, lalu (ujug-ujug) ada jalan bernama I Gusti
Ngurah Rai, mulai dari Cipinang/Klender hingga masuk ke perbatasan Bekasi. Tak
hanya itu, jalan dengan penamaan “Bekasi” pun tak cuma di sekitar Jatinegara,
ada banyak! Di kawasan Pulogadung hingga masuk ke Cakung, ada Jalan Raya Bekasi.
Jalannya sangat panjang, mulai dari Perintis Kemerdekaan hingga berbatasan
dengan Kabupaten Bekasi. Adapula jalan Raya Bekasi Timur, mulai dari Flyover
Klender hingga Terminal Pulogadung.
Saking rancunya nama “Bekasi”,
bila berkorespondensi maka harus lengkap mencantumkan keterangan
wilayah/kawasan setelah kata “Bekasi”. Bekasi mana? Bekasi Jatinegara, Bekasi
Klender, Bekasi Cakung, atau Bekasi Pulo Gadung? Jadi, bila mau dirubah, inilah
salah satu contoh nama jalan yang harus ditata dan ditertibkan agar tak
membingungkan warga.
Begitupun Jalan Raya Bogor. Jalan yang bermula
dari PGC di Cililitan ini sangat panjang melintasi Kramat Jati, Pasar Rebo,
Cijantung, lalu masuk ke wilayah Depok, Cibinong, hingga ke kota Bogor. Jalan
ini memang jalan yang bernilai historis. Inilah jalan pertama yang dibangun di
pulau Jawa. Dulu dinamakan jalan Pos atau Jalan Deandels. Bila kita berniat
mengganti jalan ini, tentu akan mempunyai konsekwensi sejarah. Namun bila dirasa
jalan itu membingungkan lantaran panjangnya, bisa saja jalan itu dirubah dengan
nama pahlawan, dimulai dari PGC hingga Pertigaan Pasar Induk Kramat Jati,
misalnya. Agar akar sejarah tidak hilang, selebihnya tetap dinamakan jalan Raya
Bogor.
Jakarta memang berbeda dengan Washington DC. Di DC,
hanya jalan-jalan besar (avenue) yang memakai nama tokoh atau kota tertentu.
Disana kita akan menemukan jalan Pennsylvania. Nah, nama jalan lainnya diatur
berdasarkan hurup seperti A, B, C, dst, ataupun berupa angka seperti jalan 1,
jalan 2, 3, dst yang merujuk kepada petunjuk dari satu blok berpindah ke blok
sebelah atau blok lainnya. Jalan dibagi/belah menjadi blok dan sektor. Misalkan
saja namanya: Jalan 1SW, artinya jalan 1 dalam sektor South West. Maka tentu di blok berikutnya jalan 2SW, begitu
seterusnya. Blok pun demikian. Bila di depan kita jalan Blok A, tentu
setelahnya jalan Blok B, C, D berurutan dalam jejeran blok yang memancang. Sebagai
orang baru, tentu kita tak akan menyasar selama jalan-jalan (kaki) di ibukota
Amerika Serikat itu.
Kedepan, tampaknya kita memang harus duduk satu
meja untuk merumuskan dan mengkaji ulang penamaan jalan-jalan di Jakarta.
Jangan sampai terjadi jalan yang membingungkan tetap dipertahankan, dan
sebaliknya jalan yang punya nilai historis dan legenda menjadi hilang. Amerika
besar karena sejarahnya, kitapun ingin besar karena tak melupakan sejarah kita.
Senin, 06 November 2017
Warisan Sejarah Itu Bernama Tukang Gigi Mester.
Zaman old, jika warga kampung saya hendak plesir ke ‘ibu kota’ Jakarta Timur,
mereka menyebutnya pergi ke Mester. Jarang yang bilang ke Jatinegara. Jarak
dari Kampung Kebon di Kemang ke Mester lumayan jauh untuk ukuran kala itu.
Perlu waktu setengah hari pulang pergi. Biasanya mereka ke Mester untuk membeli
keperluan yang tidak di dapat di Pasar Minggu, atau Pasar Kebayoran, kedua
pasar yang cukup besar di Jakarta Selatan. Salah satu tujuan ke Mester adalah betulin gigi atau masang gigi palsu.
Selain panca
indera yang lima macam itu, gigi juga memegang peranan penting dalam kehidupan
kita. Tanpa gigi depan misalnya, takkan bisa kita menggarot apel, atau jambu.
Apalagi, kalau gigi geraham kita ada yang tanggal, saya pastikan salah satu
kenikmatan hidup berupa mengunyah makanan akan terganggu. Tak heran bila ada
orang yang berkata, lebih baik sakit hati ketimbang sakit gigi. Disamping untuk
mengunyah dan menggarot makanan, gigi juga berfungsi untuk estetika atau
keindahan. Orang akan dipandang menawan salah satunya, bila gigi-giginya
tertata dengan rapi, tidak tonggos (maju kemuka seperti bemo), putih dan
bersih. Sayangnya, bila gigi depan kita tanggal, ini akan menjadi cacat
permanen. Untuk mengobatinya hanya ada satu solusi, buat gigi palsu.
Meski zaman now, tukang gigi palsu banyak bertebaran
di sudut kampung di Jakarta. Namun, bicara sejarah dan ke’orisinal’-an dari tukang gigi itu, bolehlah kita berpaling ke
Jatinegara. Salah satu sudut sejarah tukang gigi palsu di Jakarta yang masih
tersisa ada di ruas Jalan Jatinegara Barat. Disinilah terdapat deretan toko
pembuat gigi palsu yang telah dirintis oleh para imigran dari tionghoa saat
mereka hijrah dan menetap di Jakarta. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari
bioskop Nusantara, yang sayangnya kini telah almarhum.
Ada empat toko
gigi palsu yang menghiasi jalan sepanjang satu setengah kilometer itu, selain toko
karpet, terpal, plastik, dan aneka kebutuhan lainnya. Paling selatan ada Toko
Gigi Ekadi Kasim, sebelahnya ada Tukang Gigi Makmur, kemudian Tukang Gigi Indah,
dan diujungnya Tukang Gigi Bandung. Toko/Tukang Gigi Makmur, misalnya, toko ini
telah ada sejak tahun 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut Jayadi (65),
pembuat gigi di Tukang Gigi Makmur, ia telah menekuni dunia per-gigi-an sejak
zamannya Bung Karno, di tahun 1964. Sewaktu tukang gigi belum banyak di
Jakarta, keempat toko ini pernah memasuki masa keemasan. Waktu itu bahkan toko
tutup hingga malam. Zaman terus berganti, di masa Ali Sadikin, sekitar tahun
70-an, keempat toko ini terkena pelebaran jalan. Beruntung bisnis mereka tidak
gulung tikar. Kini profesi itu masih berlanjut dan diteruskan oleh generasi
ketiga atau cucu.
Bicara kualitas
dan kerapihan, para tukang gigi palsu boleh diadu dengan dokter gigi tamatan
universitas ternama sekalipun. Gigi palsu buatan mereka sangat bagus dan awet. Bahkan,
dokter gigi yang buka praktek pun banyak yang memesan untuk dibuatkan gigi
palsu ke mereka. Meski hasil kerja mereka memuaskan, namun untung-untungan juga,
dalam arti ada juga hasil buatan mereka yang kurang presisi sedikit. Ada yang
enak dan nyaman dipakai, adapula yang mesti berkali-kali datang untuk meng-epaskan
‘stelan’nya. Karena bila kurang sedikit saja (stelan-nya), maka makan apapun
takkan terasa nikmat. Terlepas dari itu, hasil pembuatan gigi palsu, yang
berfungsi sebagai estetika, patut diapresiasi. Pasalnya tanpa kemahiran tangan
mereka mengolah cetakan gigi (dinamakan Modano, bahan yang diimpor dari Jerman)
dapat dipastikan penampilan kita saat tersenyum bukannya bertambah manis, namun
akan semakin hancur lantaran ompong, heheh..
Oh ya, urusan
ompong ternyata bukan domain para manula ataupun rakyat jelata. Ada beragam orang
dengan status sosial yang macam-macam yang datang ke tukang gigi di Jatinegara.
Ada selebritis, ada politisi, dan banyak pula rakyat kebanyakan. Mereka datang
tentu dengan kondisi dimana gigi depan mereka ompong atau tanggal. Dari
penuturan Jayadi, ada beragam sebab yang membuat gigi mereka tanggal, seperti
jatuh akibat tabrakan dimana gigi depan membentur aspal. Adapula yang
patah/copot giginya akibat berkelahi, kena tonjok, dsb. Paling banyak tentu
karena kecelakaan.
Maka, bila
anda mengalami masalah dengan tanggalnya gigi, jangan berkecil hati. Segeralah
ke dokter gigi untuk mengobati luka di gusi anda, lalu pergilah ke tukang gigi
palsu. Bila ragu dengan banyaknya tukang gigi yang ada, tak ada salahnya anda
mencoba tukang gigi yang berlokasi di Jatinegara. Saya jamin penampilan dan
senyum anda akan semakin menawan dengan gigi palsu buatan para tukang gigi. Dan,
inilah salah satu warisan Jakarta yang tersisa untuk anda, si ompong, hehe..
Rabu, 25 Oktober 2017
Haruskah Mengadu Langsung Ke Gubernur Anies Baswedan?
Dulu, saat Jakarta masih dipimpin oleh
Fauzi Bowo (Foke), tak tampak kerumunan warga yang menghadang sang gubernur --begitu
tiba di kantornya-- untuk mengadukan permasalahnnya. Apakah ini indikasi tak
ada masalah dalam kehidupan warga? Tentu tidak! Masalah dan urusan warga yang
butuh pemecahan dari aparat pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentu ada. Mulai
dari ngurus KTP/KK; Akte
Kelahiran/Kematian; Izin domisili; sampai pada permasalahan saluran air (got)
yang mampet. Lalu apakah untuk urusan
yang ‘remeh temeh’ itu warga mengadu
ke Balaikota (Foke)? Tidak, saat itu cukup diselesaikan oleh Pak Lurah dan
stafnya saja.
Beda dengan Foke. Dimasa Ahok menjabat
sebagai gubernur, ia terlalu one man show.
Ibaratnya, bila tanpa Ahok maka pemerintahan Provinsi DKI Jakarta akan
berhenti. Itulah yang terjadi saat itu, setiap permasalahan, baik itu besar
atau kecil, warga maunya ngadu langsung
ke gubernur tanpa terlebih dahulu mengadu ke para stafnya (pejabat dibawahnya).
Jadilah saban hari kantor Balaikota
kebanjiran warga yang datang mengadu ke gubernurnya. Dari (permasalahan) yang ecek-ecek, hingga yang memang Ahok
sendiri yang harus turun tangan untuk mengeluarkan arahan (disposisi). Sayangnya, tak semua yang datang ke Balaikota memang
membutuhkan arahan dan pemecahan langsung oleh gubernur. Banyak juga yang datang
hanya untuk sekadar mencari popularitas (sensasi), diliput media, bahkan ada
warga Bekasi yang mengadu ke Gubernur DKI Jakarta, ckck.. dan, --tentu-- ber-selfi
dengan gubernur.
Dan inilah kesalahan sistem yang dibangun
oleh Ahok. Seharusnya ada mekanisme pengaduan yang tertata dengan baik,
sehingga permasalah itu dapat tersaring, hingga permasalahan tertentu (berat
dan penting) saja yang bisa naik hingga ke level gubernur. Maka menjadi
pertanyaan, apakah aparat pemerintahan di tingkat bawah tidak bekerja, sehingga
permasalahan warga harus sampai ke gubernur? Rasanya tidak! Tak ada
permasalahan, even berat sekalipun
yang tak dapat kami tangani. Selama ini sistem pelayanan kepada warga telah
berjalan dengan baik. Masing-masing jenis pelayanan/perizinan ada tingkatannya.
Contoh, untuk urusan nutup jalan buat
acara ngawinin anak, maka izinnya cukup
di tingkat kelurahan, agar nantinya Satpol PP tingkat kelurahan berkoordinasi
dengan Bhabinkamtibmas Polsek. Begitupun kalau ada warga yang hendak membangun
apartemen atau sarana olahraga (lapangan futsal) maka kewenangan perizinan itu
tentu ada di tingkat kota. Semuanya sudah ter-sistem dengan baik.
Selama saya bekerja di lapisan bawah
pemerintahan, tepatnya di kelurahan, saban
hari tak kurang puluhan warga datang ke kantor kelurahan. Beragam permasalahan
dan aduan yang mereka bawa ke kami, aparat pemerintah di kelurahan. Ada yang datang
hanya bersandal jepit, dengan busana ala ‘dasteran’,
adapula yang datang dengan harum parfum yang menggoda, memakai busana kerja dengan
sepatu tersemir mengkilap, menandakan dari kalangan mana mereka berasal. Dengan
profesional kami layani mereka tanpa pilah-pilih dalam memperlakukan mereka. Intinya,
semua yang datang harus tertib, ngantri,
menunggu pelayanan.
Dari berbaur dan merasakan terjun langsung dalam
pelayanan warga masyarakat di level terbawah pemerintahan (kelurahan), saya
jadi tahu pattern atau pola
permasalahan di masyarakat. Masalah yang ada dalam kehidupan mereka tak jauh
dari urusan ekonomi, yakni minta
keringanan. Keringanan dalam urusan apapun. Nah, permasalahan utama yang
sering terjadi dalam masyarakat dapat saya bagi kedalam empat bidang, yakni; Pendidikan;
Kesehatan; Kependudukan; dan Pertanahan (Perumahan).
Pendidikan misalnya, warga datang untuk
meminta keringanan SPP; Meminta agar di catat sebagai warga tidak mampu untuk
memperoleh KJP (Kartu Jakarta Pintar). Kesehatan pun demikian, warga meminta
surat keterangan keringanan biaya rumah sakit; Meminta dibuatkan KJS (Kartu
Jakarta Sehat) atau BPJS Kesehatan. Untuk masalah kependudukan: Mengurus KK/KTP;
Domisili/pindah; Surat Keterangan Kelahiran/Kematian, Surat Pengantar Nikah, dsb.
Adapun terkait pertanahan/perumahan: Balik nama/keringanan pembayaran PBB; Jual
beli tanah/rumah; Meminta jatah rusun; Izin mendirikan/merenovasi bangunan
(IMB), dsb. Tak ada yang keluar dari tuntutan (permintaan) seperti itu. Tak ada
permasalahan yang aneh-aneh, seperti permintaan memindahkan sarang lebah/tawon
dari rumah salah satu warga, yang, tentu untuk masalah ini, kami, pihak kelurahan
harus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran, hehe..
Nah, laksana penyakit, maka aduan atau masalah yang
dihadapi warga masyarakat levelnya hanya sakit ‘demam (radang tengorokan) biasa’,
dan cukup diselesaikan di tingkat kelurahan saja. Lha, bila setiap ‘demam biasa’ warga mengadu ke gubernur, lalu
untuk apa fungsi Kelurahan/Kecamatan dan Kantor Walikota? Gubernur tentu tak
mesti meng-handle permasalahan yang ecek-ecek, justru gubernur dituntut
untuk bekerja secara professional. Mengeluarkan kebijakan pro rakyat yang
bersifat makro (global) sebagai guidance
bagi bawahannya. Memonitor kerja bawahannya. Jika ada yang tak beres dengan
arahan dan kebijakan gubernur, maka ia akan ‘menjewer’ bawahannya. Begitulah seharusnya managemen kepemimpinan yang
baik dan benar. Ada pembagian tugas dan wewenang.
Anies dan Sandi tampaknya tahu betul
bagaimana menjadi pemimpin yang baik, dan ini telah diterapkan oleh keduanya. Pendelegasian
wewenang, tugas dan tanggung jawab, misalnya. Anies dan Sandi yang paham hal
itu tentu tidak ingin show off dengan
menampilkan kesan ke masyarakat bahwa bawahan mereka tidak bisa bekerja dan hanya
mereka berdua yang hero dan smart. Untuk
itulah mekanisme pengaduan itu perlu dibuat agar fungsi Kelurahan, Kecamatan, Kantor
Walikota, serta seluruh Badan dan Dinas di pemerintahan Provinsi DKI Jakarta bisa
berfungsi dan bekerja secara optimal sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya
(tupoksi) sehingga tidak semua masalah diadukan ke Balaikota, ke kantor
gubernur.
Dan, justru disinilah Gubernur Anies
Baswedan ingin mewargakan warga Jakarta. Menempatkan warga Jakarta sebagai raja
dan tuan di rumahnya sendiri. Dan, bahwa bila ada permasalahan warga, maka mereka
cukup datang hanya sampai kantor Kelurahan/Kecamatan saja. Jadi, buat apa ke (Balaikota)
Gubernur bila permasalahan itu dapat ditangani oleh Lurah, Camat, Walikota atau
Kepala Dinas? Namun, bila mereka semua ‘angkat tangan’, maka Gubernur Anies-lah yang akan turun tangan langsung dan
memberikan arahan atau disposisi pada mereka. Inilah (sistem) yang dibangun
oleh Gubernur Anies Baswedan.
Kebijakan ini tentu bukan untuk membatasi
warga masyarakat bertemu atau mengadukan permasalahan (curhat) kepada gubernur idolanya, tidak! Gubernur Anies Baswedan
selalu welcome terhadap warga yang datang.
Namun ini dimaksudkan agar perangkat pemerintahan Kota Jakarta bekerja dengan
sistem yang tertata baik. Sebagai pemimpin, Anies percaya bahwa semua pegawai
pemerintah provinsi DKI Jakarta mulai dari tingkatan terendah hingga Sekda akan
bekerja secara sungguh-sungguh untuk kemajuan kota Jakarta. Melayani warga
Jakarta dengan sepenuh hati dan seoptimal mungkin demi kesejahteraan warga
Jakarta.
Akhirnya, mari kita bantu pekerjaan Gubernur
Anies Baswedan dengan tidak membebani beliau dengan urusan yang ecek-ecek, yang sejatinya urusan itu
bisa diselesaikan di kantor kelurahan saja. Mari kita bantu Gubernur Anies
Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno agar konsentrasi bekerja untuk
meningkatkan harkat dan martabat kita sebagai warga Jakarta.
Sumber Foto:
https://news.detik.com/berita/3690397/anies-persilakan-warga-mengadu-seperti-era-ahok-djarot
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/21/13151281/di.tengah.antrean.di.balai.kota.warga.bekasi.mengadu.ke.ahok
Senin, 25 September 2017
Mari Wujudkan Sekolah Ramah Anak Di Jakarta
Satu-satunya
legacy yang patut dibanggakan oleh duet
kepemimpinan Basuki & Djarot --yang sebentar lagi akan berakhir-- adalah
keberadaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau yang lebih dikenal dengan sebutan
“RPTRA”. Pembangunan RPTRA sendiri dimaksudkan sebagai salah satu upaya
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penyediaan ruang terbuka yang ramah anak,
disamping juga sebagai tempat berkumpul dan berkegiatan semua lapisan
masyarakat (komunitas) dalam suatu wilayah atau lazim disebut sebagai community center.
Keberadaan
RPTRA ini telah mendapat perhatian dan apresiasi yang luas dari berbagai
kalangan. Antusiasme itu ditunjukkan dengan peninjauan ke lokasi-lokasi RPTRA
oleh berbagai kalangan seperti para korps diplomatik, pejabat pemerintah dan
tamu-tamu negara sahabat yang berkunjung ke Jakarta. Mereka datang untuk
menyaksikan secara langsung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh berbagai
komunitas dan anak-anak dalam RPTRA. Mereka terkesan dengan fungsi dan tujuan
RPTRA yang ingin mewujudkan kehidupan yang ramah anak dalam suatu kawasan atau
ruang publik yang ramah anak di Jakarta.
Upaya
untuk mewujudkan kehidupan yang layak bagi anak dengan penyediaan ruang publik
ramah anak, yang diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak Dan
Pengendalian Penduduk (DPPAP) Provinsi DKI Jakarta patut diapresiasi. Namun
demikian, usaha tersebut tidak lantas berhenti dengan pembangunan ratusan RPTRA
semata, akan tetapi perlu adanya inovasi, perluasan, dan upaya pengembangan
dalam bidang pembangunan yang lain agar program perlindungan anak menuju
perwujudan kota Jakarta sebagai Kota Layak Anak (KLA) dapat terus terpelihara. Salah
satu program yang layak dicanangkan adalah dalam bidang pendidikan yakni mewujudkan
Sekolah Ramah Anak (SRA) di DKI Jakarta.
Di
DKI Jakarta bukan tidak di temukan Sekolah Ramah Anak. Di SMAN 3 dan SMAN 29,
Jakarta Selatan, misalnya, telah menjadi sekolah rujukan nasional sebagai
Sekolah Ramah Anak. Namun demikian, kebijakan ini perlu diperluas dengan
menyasar kepada seluruh sekolah yang ada mengingat Jakarta adalah barometer kualitas
pendidikan di Indonesia. Disamping itu yang tak kalah menariknya adalah sosok
dari Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Rasyid Baswedan. Doktor lulusan Northern Illinois University ini bukanlah
orang baru dalam dunia pendidikan. Inisiator “Gerakan Indonesia Mengajar” ini sebelumnya
pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan pada Kabinet Kerja Jokowi. Momentum kepemimpinan
Anies ini seyogyanya dapat diambil agar kebijakan SRA dapat segera
diimplementasikan di seluruh sekolah-sekolah yang ada di DKI Jakarta.
SRA itu
sendiri merupakan komponen yang tak terpisahkan sebagai upaya untuk mewujudkan
salah satu indikator KLA. Perlu diingat bahwa usia anak adalah usia sekolah,
dimana hampir sepertiga waktu anak akan dihabiskan di lingkungan sekolah. Karena
itu keberadaan SRA memegang peranan yang signifikan bagi tumbuh kembang, dan
pembentukan karakter kepribadian anak.
![]() |
| Sarana olahraga SMAN 3, Jakarta |
Untuk
mewujudkan hal tersebut, bagaimana kita men-design
dan meng-create Sekolah Ramah Anak
(SRA) pada sekolah-sekolah yang ada di Jakarta? Yang pertama adalah harus ada
komitmen dan keterpanggilan dari para stakeholders
di sekolah tersebut, seperti guru, wali murid (komite sekolah), dunia
usaha, dan pemerintah untuk mewujudkan SRA. Tanpa adanya komitmen, bagaimana
mungkin terjalin sinergisitas, pelibatan, dan peran serta aktif para pemangku
kepentingan dalam setiap permasalahan dan persoalan yang menyangkut anak.
Sekolah
Ramah Anak sendiri adalah suatu sekolah yang bertujuan untuk memastikan bahwa
sekolah memenuhi, menjamin, dan melindungi hak-hak anak. Mengembangkan minat,
bakat, dan kemampuan anak agar terwujud anak yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki ilmu
pengetahuan, keterampilan, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. SRA juga
mempersiapkan
anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membawa
rahmat bagi seluruh alam.
![]() |
| Suasana belajar di SMAN 3, Jakarta |
Jam
sekolah yang berdurasi sekitar 8 (delapan) jam per hari harus dimanfaatkan
sebaik mungkin untuk pembentukan karakter dan kepribadian anak. Anak harus
merasa nyaman berada di lingkungan sekolahnya. Lingkungan sekolah bagi anak, disamping
sebagai tempat belajar, pembentukan nilai-nilai luhur dalam diri anak, juga
tempat mereka bermain dan berkumpul dengan teman-temannya. Bagaimana kita
memastikan agar sekolah menjadi tempat favorit bagi anak-anak. Harus dipastikan
tidak ada pem-bully-an, --baik fisik
maupun mental-- dan kekerasan antar siswa (perkelahian) di sekolah, Bagaimana
kita membuat agar anak tidak merasa jenuh dan takut untuk berangkat ke sekolah.
Dengan demikian, sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi sepertiga
waktu mereka, anak menjadikan sekolah sebagai rumah keduanya.
Setelah
adanya komitmen dari para pemangku kepentingan lalu dibentuklah Tim Pelaksana
SRA yang akan merencanakan dan membuat kebijakan-kebijakan demi terwujudnya
SRA. Tim ini akan bertugas untuk menginventarisir kebutuhan-kebutuhan apa saja
yang harus disiapkan, sarana dan prasarana apa saja yang mesti dibangun agar
tercipta suasana yang kondusif bagi proses belajar mengajar siswa.
![]() |
| Zona aman selamat sekolah |
Sebagai
perwujudan SRA, ada beberapa sarana dan fasilitas yang harus dipenuhi. Misalnya,
agar para siswa (anak) dalam pergi dan berangkat ke sekolah merasa aman dan
nyaman tanpa khawatir akan bahaya kendaraan bermotor, maka harus dibuatkan
suatu kawasan rute aman dari/ke sekolah, beserta rambu-rambu lalu lintas dan
perangkat sarana pendukung lainnya. Keberadaan Zona Selamat Sekolah (Zoss)
merupakan komponen yang harus ada dalam setiap SRA.
![]() |
| Perpustakaan SMAN 3, Jakarta |
Di
dalam lingkungan SRA akan terdapat beberapa fasilitas, sarana, dan miniatur
pendukung bagi tumbuh kembang dan penambah wawasan anak, seperti: Adanya Taman
Lalu Lintas; Tersedianya ruang dan tenaga konseling bagi siswa; Serta ruang/pojok
Bahaya HIV/AIDS dan Narkoba; Disamping itu, untuk meningkatkan wawasan dan
pengetahuan anak, maka keberadaan perpustakaan yang lengkap dengan koleksi yang
beragam, dengan suasana ruangan yang nyaman menjadi suatu keniscayaan pada
setiap SRA.
Selain
pemenuhan sarana dan fasilitas penunjang SRA, yang tak kalah pentingnya adalah adanya
peningkatan kualitas pendidik (guru) terkait dengan hak-hak anak yang
komprehensif. Peningkatan kualitas guru diibaratkan sebagai software untuk pembentukan SRA. Guru
dididik dan dilatih untuk mengetahui tentang tumbuh kembang anak, problematika
dalam dunia anak dan remaja serta apa yang menjadi hak-hak anak dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan.
Sebagai
panduan untuk mewujudkan SRA, dapat dilihat pada Permen PP dan PA No 8/2014. Dalam
permen tersebut tertulis beberapa indikator sebagai acuan bagaimana
merencanakan dan melaksanakan SRA. Bila semua ini dilakukan niscaya cita-cita
mewujudkan kota Jakarta sebagai kota pendidikan yang ramah bagi anak bukan
isapan jempol dan angan-angan semata.
Sumber
foto-foto:
Sumber
Ilustrasi:
https://www.dreamstime.com/stock-illustration-children-playing-slide-school-cartoon-full-color-image67408586#
Rabu, 13 September 2017
Untung Ada Foke: Menengok Proses Seleksi CPNS Pemprov DKI Jakarta.
Minggu-minggu
ini adalah waktu-waktu tersibuk bagi para sarjana lulusan perguruan tinggi baik
negeri maupun swasta untuk menyiapkan berkas dan persyaratan yang diperlukan
untuk mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tak hanya itu,
mereka pun dituntut kesiapan mental dan me-refresh
kemampuan dan pengetahuan mereka agar siap untuk bertarung dalam ajang seleksi CPNS.
Jika ada satu kekurangan yang luput saja, niscaya akan membuyarkan impian mereka
menjadi CPNS.
Bicara
mengenai integritas dan profesionalitas PNS sangat erat kaitannya dengan proses
atau awal mula seseorang diterima menjadi CPNS. Bila dalam proses penerimaannya
diawali dengan cara-cara kotor, hasilnya pun
akan kotor. Maka, agar diperoleh PNS yang bagus, harus dimulai dari hulu-nya
yakni proses seleksi penerimaan itu sendiri. Mulai dari keterbukaan penyampaian
informasi (diumumkan secara resmi dan tranparan proses dan tahapan-tahapannya
sampai kepada pengumuman kelulusannya) hingga yang terpenting adalah proses
atau tahapan seleksi itu sendiri. Bagaimana para pengambil kebijakan (Panitia
Seleksi) menjalankan proses seleksi itu secara fair, jujur, transparan dan
bersih. Bila proses awalnya bagus, dalam arti tak ada unsur KKN, maka boleh kita
berharap bahwa output atau pegawai
yang nanti akan di terima menjadi PNS adalah pegawai dengan kualitas dan
integritas diatas rata-rata.
Lalu, adakah role model proses seleksi CPNS yang
bersih yang pernah kita rasakan? Sekitar tahun 2009 hal tersebut pernah
diterapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo atau Foke. Beliau, meski orang
Betawi asli namun tidak aji mumpung
dengan cara mengistimewakan atau memberikan privilege
kepada orang Betawi untuk bekerja dan berkarier di Pemprov DKI Jakarta. Padahal,
--kalau beliau mau-- bisa saja memasukkan sebanyak mungkin putra-putri asli
Betawi untuk mengabdi di Pemprov DKI, wong
dia Gubernur-nya. Bicara dari segi
kepatutan dan kewajaran, bisa dimaklumi bila ada putra daerah yang diberikan
prioritas untuk membangun dan mengabdi di daerahnya. Selain itu, kedekatan beliau
dengan para tokoh masyarakat Betawi, ulama, dan pemuda-nya yang notabene mayoritas ber-etnis Betawi
sangat lah mudah untuk membuat
kebijakan yang pro-Betawi, even menyangkut kebijakan rekrutmen
pegawai di Pemprov DKI Jakarta. Tak hanya itu, Sekda Provinsinya pun, Muhayat, yang juga berdarah Betawi,
tentu akan meng-amini setiap langkah
dan kebijakan sang Gubernur. Namun kedua pimpinan pemerintahan tertinggi di ibukota
ini tidak melakukan itu. Mereka berdua bekerja secara professional, dengan
menanggalkan jubah suku dan etnis Betawinya.
Saking cintanya Fauzi Bowo kepada kota Jakarta, beliau
tak ingin merusak Jakarta dengan mewariskan aparatur yang tidak professional,
tidak bersih, dan tidak kredibel. Pada masa-nya lah dimulai proses seleksi CPNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang
transparan, bersih dan professional. Teman saya, wong ndeso dari Pacitan dan Klaten, misalnya, bisa keterima lulus menjadi CPNS di Pemprov
DKI Jakarta. Padahal di satu sisi banyak pemuda potensial Betawi yang masih ngangur. Namun itulah seleksi. Tidak ada
kebijakan afirmatif action yang digulirkan Fauzi Bowo bagi etnis Betawi
meskipun itu hanya untuk berkarier di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.
Akibatnya pada
masa penerimaan CPNS Pemprov DKI Jakarta periode 2009 itulah dihasilkan para
staf CPNS yang kredibel, professional dan mumpuni di bidangnya masing-masing.
Para PNS Pemprov DKI Jakarta dengan NIP 2010 adalah pegawai pilihan dengan
latar belakang dari universitas terkemuka di tanah air. Saat itu
sarjana-sarjana terbaik jebolan dari Unpad, ITB, dan UI, terserak di
dinas-dinas teknis yang ada di Pemprov DKI.
Fauzi Bowo
sebagai pegawai yang telah lama berkarier di Pemprov DKI Jakarta tampaknya
memendam luka lama. Sudah menjadi rahasia umum pada sekitar tahun 70 – 90-an di
Pemprov DKI Jakarta dikuasai oleh etnis dan suku tertentu. Saat itu dikenal
dengan istilah “Babi Kuning”. Bila atasan atau pimpinan di dinas atau instansi
tersebut berasal dari etnis A, maka semua pejabat bawahannya hingga staf-nya
akan terkoneksi dengan si bos. Orang diluar kelompok itu akan sulit masuk ke
dinas tersebut. Pasalnya, setiap ada rekrutmen, pasti yang diprioritaskan untuk
masuk dan diterima bekerja adalah mereka yang berasal atau satu etnis dengan
pimpinannya. Jadilah di dinas tersebut menjadi dikuasai oleh mereka yang satu
group.
Kita tidak
dapat membayangkan bila proses dan cara-cara ‘jahiliyah’ ini diteruskan dan tidak diputus mata rantai-nya oleh Fauzi
Bowo maka dapat dipastikan langgam dan gaya pelayanan pemerintahan di DKI
Jakarta mungkin menjadi tidak professional, lemah, amburadul, bahkan hancur.
Tak ada yang bisa diharapkan dari mereka, calon pegawai, yang (proses) diterimanya
dengan dengan cara sogokan, kedekatan
kekerabatan (nepotisme), dan kolusi. Nah, usaha yang dirintis oleh Foke inilah
yang tinggal dipetik hasilnya dengan manis oleh penggantinya yakni Joko Widodo
dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Betapa Ahok, saat menjabat sebagai gubernur
sangat membangga-banggakan angkatan 2010 sebagai angkatan yang hebat,
professional, dan kredibel. Tak heran banyak dari angkatan ini yang diangkat
Ahok menjadi pejabat dan menjadi ujung tombok setiap kebijakan yang
dikeluarkannya. Kalau saja tak ada angkatan 2010, entah apa yang terjadi dengan
kepemimpinan Ahok? Beruntung Ia banyak dibantu oleh staf PNS professional hasil
kebijakan seleksi yang dilakukan oleh Gubernur Fauzi Bowo.
Kini, pemerintah
pusat kembali membuka kesempatan kepada putra putri terbaik bangsa untuk
berkarier sebagai PNS. Langkah ini patut kita syukuri bersama, mengingat sudah
beberapa tahun ini penerimaan pegawai ditiadakan. Kita sama-sama berharap semoga
niat baik dan upaya mereka, para sarjana, putra putri Indonesia, yang memang
tulus dan ikhlas untuk mengabdi bagi kejayaan, kemajuan nusa dan bangsa Indonesia
dapat diapresiasi dengan sebaik-baiknya dengan tidak menyimpangkan proses
seleksi CPNS 2017 menjadi ajang titip menitip anak, keponakan, tetangga,
kerabat, dan anak-anak dari teman-teman sang pejabat. Semoga dengan proses seleksi,
seperti yang pernah dilakukan di Pemprov DKI Jakarta era Fauzi Bowo, menjadi
barometer dalam proses seleksi CPNS yang bersih, transparan, adil, dan jujur. Semoga!
Sumber Foto: http://www.tigapilarnews.com/berita/2017/07/01/112508-Pemprov-DKI-Ancam-Potong-Uang-TKD-PNS
Minggu, 30 Juli 2017
Mewujudkan Perpustakaan Ramah Anak di DKI Jakarta
Selama
saya mengunjungi perpustakaan, hampir dapat dipastikan bahwa sebagaian besar
pengunjung perpustakaan adalah para mahasiswa/pelajar ataupun para kaum ‘jomblo’
yang mengisi waktunya dengan membaca. Jarang saya jumpai di dalamnya ibu-ibu
atau istilah ngetrend-nya “Mahmud” atawa mamah muda, misalnya, yang mengisi
hari-harinya sembari mengampu anaknya di perpustakaan.
Lalu,
apakah fungsi perpustakaan diperuntukkan hanya untuk para dosen peneliti,
mahasiswa/pelajar atau kaum ‘pengangguran’ terdidik dimana mereka mempunyai
banyak waktu untuk membaca? Rasanya terlalu sayang bila gedung mewah nan megah perpustakaan
dibangun dan berfungsi hanya untuk mereka semata.
Disatu
sisi, kebiasaan membaca belum tertanam secara kokoh dalam budaya masyarakat
Indonesia. Anak-anak kita lebih asyik ber-gadget
ketimbang memegang buku. Agak sulit menanamkan kepada mereka agar menjadikan
buku sebagai teman, dan membaca sebagai sebuah hobby yang mengasyikkan. Karena,
bila membaca sudah menjadi hobby, maka buku apapun yang ada di rumah pasti dibacanya.
Sayangnya,
tidak semua referensi dan sumber bacaan dapat ditemukan di rumah maupun di
sekolah, melainkan hanya ada di perpustakaan. Perpustakaan dengan beragam
koleksi buku adalah tempat yang tepat untuk ‘berselanjar’ menambah pengetahuan
kita. Lalu bagaimana kita mengenalkan kepada anak-anak tentang perpustakaan
sebagai pusat dari beragam buku dan informasi yang tersedia?
Kendala
yang sering kita hadapi adalah bagaimana kita menumbuhkan kebiasaan ‘main’ ke
perpustakaan (atau bisa juga toko buku), bila untuk pergi ke perpustakaan saja
anak-anak enggan atau merasa tak nyaman. Perpustakaan bagi mereka bisa jadi
tempat yang membosankan. Perpustakaan
tak ubahnya hanya tempat bagi para ‘pemikir’ dan orang-orang ‘aneh’ yang sedang
serius membaca. Ia bukanlah tempat yang asik untuk bermain dan bersenda gurau. Sudah
terbayang dalam pikiran mereka bahwa di perpustakaan tidak boleh berisik, tidak
boleh ribut, harus tenang, dan segala gambaraan keseriusan lainnya.
Definisi
perpustakaan itu sendiri adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan
atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun
demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila
sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca (Sutarno NS, 2006:11). Bila merujuk pada
definisi tersebut, inilah model perpustakaan jadul dan kuno yang sering dan banyak kita jumpai, dimana
perpustakaan hanya berisi kumpulan rak-rak buku dengan meja dan kursi baca. Sebaiknya,
lebih dari itu. Perlu ada revolusi dalam konsep penataan perpustakaan agar
perpustakaan dapat dinikmati oleh beragam kalangan dari beragam usia, mulai
anak-anak hingga manula. Ini merupakan tantangan dan peluang bagi para insan
pustakawan untuk men-create suatu
perpustakaan yang disukai oleh anak. Men-design
perpustakaan yang ramah untuk anak.
Seperti
yang saya uraikan dimuka, bagi sebagian kalangan, utamanya para ibu rumah tangga
yang mempunyai balita, waktu dan kesempatan untuk membaca sangatlah sulit
didapatkan. Jangankan jalan-jalan ke toko buku (perpustakaan), untuk membaca
saja tak ada waktu bagi merekamembaca. Tidak mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya
di rumah hanya untuk pergi ke perpustakaan. Bila ia membawa dan mengajak serta anaknya
ke perpustakaan, di jamin si anak hanya akan tenang selama 5 menit. Selanjutnya
tentu mereka akan uring-uringan,
tidak nyaman dan merengek minta keluar
untuk bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Tumbuh dan kembang mereka
diwarnai dengan keceriaan, kebahagiaan dalam suasana permainan.
Lalu
bagaimana agar perpustakaan itu ramah bagi anak? Alangkah idealnya bila di
perpustakaan itu disediakan space dan
ruang baca sekaligus ruang bermain bagi anak. Disamping orang tua dapat tenang membaca,
anak anak mereka pun dapat bermain sekaligus belajar. Mereka dapat melihat
gambar-gambar menarik dalam buku dan (jika bisa) membaca isi buku.
Bagi
saya, Perpustakaan Ramah Anak (PRA) adalah suatu perpaduan konsep yang
menempatkan anak pada subjek dan mengarahkan anak pada budaya dan kebiasaan
membaca. Ada dua keuntungan yang didapat dari penerapan konsep perpustakaan
ramah anak; yang pertama adalah anak dapat bermain di perpustakaan itu berpadu dengan
(aktivitas) orang tua yang membaca dan berinteraksi secara aktif dengan anak;
dan kedua adalah penyediaan bahan-bahan bacaan yang ramah anak dan sesuai
dengan usia anak.
Di
dalam PRA ini, selain anak dapat bermain dengan aneka permainan edukatif yang
tersedia seperti: Lego; Susun Balok; dan sebagainya; Anak juga dapat menikmati
bacaan atau melihat gambar-gambar menarik yang dapat meningkatkan fungsi
kognitif anak. Informasi-informasi pengetahuan (buku) bergambar dan warna-warna
yang mereka sukai harus tersedia di PRA.
Selain
itu harus tersedia pula berbagai macam bahan dan sumber pengetahuan bagi orang
tua dalam mendidik anak-anaknya, seperti: Bagaimana menerapkan disiplin pada
anak; Bagaimana membiasakan hidup bersih pada anak; dsb. Buku-buku tentang pola
dan cara pengasuhan anak menjadi bacaan yang pastinya disukai oleh para
orangtua. Dengan demikian selagi mereka menemani anak-anaknya ke PRA, mereka
juga dapat menggali dan mencari pengetahuan tentang tumbuh kembang anak.
Disamping
itu PRA harus juga berisi tentang buku-buku bacaan anak yang edukatif dan informatif.
Dari buku-buku itu, para orang tua pun dapat membacakan dongeng kepada anaknya.
Keragaman koleksi dan kelengkapan PRA juga dilengkapi pula dengan APE atau Alat
Permiana Edukatif dan ruang bermain anak. Di sudut PRA dapat diletakkan
seperangkat permainan anak yang lazim dijumpai pada permainan outdoor seperti perosotan, ayunan, dan
sebagainya.
Selain
itu yang tak kalah pentingnya adalah penataan ruang dan fasilitas penunjang
harus mencerminkan suatu model penataan yang ramah anak. Pemilihan wall paper dan cat dinding yang dekat
dengan dunia anak (gambar winny the poh) misalnya, patut diperhatikan.
Lantas
adakah contoh Perpustakaan yang ideal bagi semua kalangan seperti uraian saya
diatas? Ada. Perpustakaan yang dikelola oleh Badan Perpustakaan dan Arsip
Daerah Provinsi DKI Jakarta yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Cikini,
Jakarta Pusat, misalnya layak diacungi jempol lantaran telah membuat konsep
penataan perpustakaan yang ramah bagi semua kalangan, utamanya anak-anak. Jika
Anda ada waktu senggang, cobalah ajak buah hati anda bermain dan berekreasi
sekaligus belajar disana. Nah, bila konsep ini dapat diaplikasikan pada seluruh
perpustakaan yang ada, niscaya anak-anak akan merasa akrab dengan perpustakaan
yang pada gilirannya, budaya dan kebiasaan membaca dapat ditumbuhkan sejak usia
dini.
Kamis, 27 April 2017
Cukup Ahok Menjadi Pembelajaran Bagi Kita
Pada
dasarnya Indonesia adalah negeri yang terbuka, toleran dan menghargai segala perbedaan
yang ada. Praktis, sepanjang berdirinya Republik, tak ada kerusuhan dan huru
hara yang diakibatkan oleh perbedaan SARA yang terjadi merata di seluruh
kawasan di Indonesia dalam skala luas. Kalaupun ada, sifatnya hanya kerusuhan
lokal, dan mampu segera diredakan dengan pendekatan yang dinamakan kearifan
lokal. Itulah sebabnya jauh sebelum Negara ini resmi berdiri, semboyan Bhinneka
Tunggal Ika telah dipatrikan oleh para founding
father sebagai slogan yang dilekatkan pada kaki burung Garuda. Mereka
menyadari bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, dan ras, dan itu
tidak bisa dihilangkan atau diseragamkan. Keberagaman adalah takdir Indonesia
itu sendiri.
Berbicara
tentang kepemimpinan di Indonesia, kita tak mengenal kepemimpinan yang
diwariskan, atau kepemimpinan yang telah di ‘jatahkan’ untuk etnis atau golongan
tertentu. Semua warga Negara berhak menjadi pemimpin. Oleh karenanya, tak
menjadi soal siapapun yang menjadi pemimpin di suatu wilayah, sepanjang yang
bersangkutan mempunyai kemampuan leadership,
bertingkah dan berprilaku santun, sopan, menghormati dan menghargai kearifan
dan budaya lokal, maka ia akan diterima dengan baik oleh warga setempat. Mau bukti?
Bali misalnya, sebagai wilayah yang mayoritas hampir 100% dihuni oleh warga
beragama Hindu, pada tahun 70-an, bisa dengan damai menerima kepemimpinan Bapak
Soekarmen sebagai gubernur mereka, meskipun beliau adalah seorang Muslim dan
bukan orang asli Bali. Saat kepemimpinannya berlangsung, tak ada gejolak dan polemik
yang terjadi di Bali. Segalanya berlangsung damai, aman, dan tentram. Begitupun
dengan Aceh, Papua, NTT, Sulawesi Utara dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Mereka menerima dengan baik kepemimpinan seseorang yang bukan berasal dari
etnis ataupun kepercayaan yang sama dengan mereka.
Demikian
pula dengan Jakarta, jauh sebelum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang ber-etnis
Tionghoa dan beragama Kristen menjabat Gubernur, Jakarta telah dipimpin oleh
putra Manado yang juga beragama Kristen. Dalam catatan sejarah, tak pernah ada
penolakan terhadap figure Henk Ngantung,
meskipun ia menganut kepercayaan berbeda dengan mayoritas warga Jakarta. Betawi,
sebagai etnis asli Jakarta welcome
terhadapnya. Lalu, bagaimana dengan Ahok? Tidak seperti Soekarmen di Bali, yang
stabil tanpa gejolak, kepemimpinan Ahok tidak berjalan mulus, ia mendapat
penolakan dari sebagian warga Jakarta, utamanya etnis Betawi. Mengapa hal ini
terjadi? Apakah penolakan ini murni masalah perbedaan agama yang dianut oleh sang
gubernur dan warganya? Tampaknya tidak demikian halnya.
Dari
berbagai analisa yang disampaikan oleh beberapa lembaga survey, faktor dominan
kekalahan Ahok dalam Pilkada 19 April lalu adalah ketakutan warga Jakarta terhadap
figur Ahok itu sendiri. Ketakutan-ketakutan ini dapat berupa: Takut di gusur.
Ketakutan akan digusur dari tempat tinggalnya; Ketakutan di gusur tempat
usahanya; Takut di larang. Larangan-larangan yang mengekang terhadap hajat yang
bersentuhan dengan rakyat kecil, seperti wacana larangan sepeda motor melintasi
jalan Sudirman-Thamrin, misalnya, ataupun kebijakan-kebijakan lainnya yang justru
pro kalangan menengah atas, bukan kepada rakyat kecil.
Disamping
itu, Ahok lemah secara leadership. Ia tidak mempunyai kemampuan leadership yang
mumpuni. Sebagai pemimpin, ia tidak mengayomi seluruh warga sebaliknya justru
menebar ketakutan dan intimidasi kepada warganya. Banyak statemen dan kebijakan
gubernur yang justru kontra produktif untuk merangkul masyarakat. Larangan
takbir keliling; Larangan ber-sholawat di Monas; Larangan pemotongan hewan
qurban di sekolah, misalnya, adalah sebagian contoh nyata bagaimana gubernur
tidak sensitif terhadap keadaan dan budaya dari warga asli yang ia pimpin
(Betawi). Dari situlah muncul bibit-bibit ketidakpercayaan kepada kepemimpinan
gubernur. Ia melupakan dan mengabaikan kearifan lokal dari bangsa Indonesia
umumnya dan etnis Betawi pada khususnya. Meminjam istilah kasar yang diucapkan oleh
sesepuh masyarakat Betawi Bapak Eddy Marzuki Nalapraya; “Bacot loe jaga! Yang merefleksikan ungkapan kekesalan warga Betawi
terhadap langkah dan ucapan yang sering dikemukakan oleh Ahok.
Ahok
tampaknya tak menyadari bahwa ia adalah minoritas. Ia terlalu jumawa dan
sombong. Ia tidak menjaga budi pekertinya. Dulu, sewaktu mahasiswa, dalam
berbagai kesempatan memimpin atau me-moderatori rapat, diskusi atau berdialog
dengan para rekan-rekan saya calon pemimpin bangsa, sering saya utarakan kepada
mereka bahwa: “Yang merasa mayoritas JANGAN sombong dan jumawa! Sedangkan yang
minoritas, HARUS tahu diri!’ Bila teori saya ini diterapkan, maka tak mustahil
kepemimpinan Ahok akan di nilai oleh seluruh warga Jakarta dengan khusnul khotimah, berakhir baik. Ia akan
selalu dikenang oleh warga Jakarta seperti mereka mengenang Ali Sadikin (Bang
Ali) sebagai Bapak Pembangunan Jakarta.
Paska
Pilkada dimana warga Jakarta telah memutuskan vonisnya dengan menarik mandat
Ahok dan menyerahkannya kepada pasangan Anies-Sandi, marilah kita akhiri
gonjang ganjing dan hiruk pikuk yang terjadi di Jakarta. Suka atau tidak,
cukuplah figur dan kepribadian Ahok, dengan segala plus minus-nya menjadi
pembelajaran bagi kita semua dan mereka yang ingin menjadi pemimpin, bahwa
jangan sekali-kali mengabaikan kearifan lokal dalam suatu wilayah. Selalu ingat
mantra lama yang masih terbukti keampuhannya, yakni: “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.” Mari gandeng tangan
menata Jakarta dan Indonesia dengan semangat persatuan dan kesatuan.
Kamis, 20 April 2017
Mari Jadikan Anies-Sandi Gubernur Kita Bersama
Keriuhan
Pilkada DKI Jakarta baru saja usai. Beruntung kita mengenal metode hitung cepat
atau Quick Count hingga tidak perlu
menunggu terlalu lama untuk mengetahui siapa pemenang dari perhelatan 5 tahunan
ini. Dari hasil hitung cepat yang disajikan oleh berbagai lembaga survey,
tampak dengan jelas dan meyakinkan, kemenangan pasangan Anies-Sandi atas
pasangan yang diusung oleh koalisi PDIP, Golkar dan Nasdem. Dan segera, setelah
publik mengetahui hasil hitung cepat tersebut, beragam, komentar, ucapan dan
pendapat dari warga masyarakat bermunculan. Ada yang pro atau berpendapat
positif, ada pula yang masih nyinyir.
Bagi
mereka yang jagoannya menang, tentu komentar yang berupa puja puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah pemimpin baru, di panjatkan tak
henti-hentinya oleh mereka. Nyaris seluruh isi timeline di media sosial dihiasi oleh kalimat-kalimat penyejuk,
pembakar semangat dan harapan menyongsong era baru. Ungkapan dan komentar
tersebut sebagai wujud perasaan gembira dan rasa syukur yang meraka rasakan. Tak
hanya di media sosial, di dunia nyata pun, keriuhan dan kegembiraan segera tampak
begitu masyarakat mengetahui psangan Anies-Sandi menang, ribuan rakyat
melakukan sujud syukur, bahkan banyak diantara mereka menangis terharu
menandakan sudah lama mereka mengidam-idamkan mempunyai pemimpin yang santun, cerdas, amanah, dan bersih.
Nah
disisi yang berbeda, bagi pendukung pasangan Ahok-Djarot, atau pasangan yang
kalah, kesedihan tentu mereka rasakan. Banyak diantara mereka yang seolah tak
percaya bahwa Ahok-Djarot kalah dengan selisih
suara yang sangat signifikan. Untuk menghilangkan kesedihan itu, mereka
pun membangkitkan semangat dengan komentar dan pendapat, yang kebanyakan
membesarkan hati dengan mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya atas upaya, dedikasi dan hasil kerja yang telah ditorehkan
oleh Ahok-Djarot untuk masyarakat Jakarta selama ini.
Namun
apakah hiruk pikuk Pilkada telah berakhir, setidaknya di media sosial?
Tampaknya ‘perang’ di media sosial masih terus berlanjut, baik haters maupun lovers ataupun pengamat partisan masih beradu panggung. Seharusnya,
setelah 19 April 2017, pukul 14.00, tensi keriuhan Pilkada ini berangsur
menurun, namun yang terjadi, masih saja timeline dihiasi oleh perang opini. Patut
disayangkan, dari beragam pendapat yang menghiasi timeline itu, ada saja yang masih
bersikap nyinyir dan segan untuk
mengakui keunggulan dan kemenangan pihak Anies-Sandi.
“Horeee gw mo’ ambil rumah DP 0 rupiah.”
“Siap-siap
deh perda syariah diberlakukan.”
Padahal,
seperti kita ketahui, pasangan Anies-Sandi dilantik saja belum, kok sudah ditagih janjinya dan di fitnah
macam-macam. Mereka beralasan, hal tersebut bukan menagih janji namun mengingatkan
Anies-Sandi akan janjinya. Namun apakah elegant mengutarakan hal itu mengingat
masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama masih tersisa 6 purnama lagi.
Justru ke-nyinyiran-lah yang tampak.
Bahkan,
tak hanya itu, muncul pula peramal-peramal dan cenayang masa depan yang sudah
dapat memperdiksi masa depan Jakarta lima tahun kedepan, seperti:
“Jakarta
bakalan banjir dan macet kembali”. Lho,
bukankah sejak dulu juga Jakarta identik dengan macet dan banjir. Justru bila tidak
macet, pasti ada yang salah dengan Jakarta. Hanya ada 2 peristiwa yang membuat
Jakarta tak macet yakni pas lebaran dan kerusuhan.
“Jakarta
akan kembali di rampok oleh mafia anggaran”
“Jakarta
bakalan menjadi banjakan sarang korupsi”
“Jakarta
akan menjadi sarang radikalisme”
Begitulah
predikasi dan ramalan-ramalan seram lainnya, yang prediksi ini hanya fitnahan
belaka dan justru kontra produktif untuk upaya merekatkan kembali Jakarta yang
selama ini terkotak-kotak.
Kini
pesta telah usai. Kehidupan tak berhenti hingga di tanggal 19 April 2017.
Marilah kita hadapi hari esok, lusa, dan mendatang dengan kerja nyata demi
kemajuan Jakarta. Kepada seluruh warga Jakarta, khususnya pendukung Ahok-Djarot,
jangan berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk membuktikan kepada dunia
bahwa Ahok-Djarot adalah pemimpin yang baik. Kini kita tagih dan usut
janji-janji kampanye yang telah mereka ucapkan sejak tahun 2012 agar seluruh
janji-janji itu tergenapi. Tak ada kata terlambat. Mumpung masih ada waktu 6
bulan, segera tuntaskan segala janji-janjinya, bia ada janji-janji itu yang
belum terselesaikan. Ya, terlepas dari plus minus dan pro kontra, pasangan
Ahok-Djarot telah berbuat yang terbaik untuk Jakarta. Telah ada program dan
prestasi yang mereka banggakan sebagai legacy
bagi penerus mereka. Kepada pasangan Ahok-Djarot, selamat kami ucapkan. Kalian
telah membuat kami bangga pada Jakarta.
Dan
akhirnya, kemenangan pasangan Anies-Sandi sejatinya adalah kemenangan akal
sehat, kemenangan hati nurani dan kemenangan semua warga Jakarta yang selama
ini mendambakan keadilan. Kini, marilah kita songsong Jakarta dengan semangat
membangun, berjabat dan bergandengan tangan erat dengan menghilangkan
kotak-kotak yang selama ini menjadi sekat diantara kita. Dengan semangat
persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI kita jadikan Jakarta sebagai
barometer kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, nyaman, damai dan
tentram bagi kita semua. Maju kotanya, bahagia warganya, semoga terwujud.
Sumber
Foto: http://www.klasemen.co/nasional/peristiwa/1617/berita-terkini-begin-bocoran-strategi-anies-baswedan-dan-sandiaga-uno-hadapi-putaran-2-pilkada-dki/
Langganan:
Postingan (Atom)





















