Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Agustus 2017

Mutasi, Antara Dibina Dengan Dibinasakan

Bagi perusahaan besar yang telah mempunyai sistem yang tertata dengan baik, tentu ada aturan dan mekanisme yang mengatur pegawainya dalam bekerja. Pegawai yang baik tentu akan memperoleh promosi sebagai reward-nya. Sebaliknya, bagi mereka yang berkinerja buruk alias tidak perform tentu akan di demosi sebagai hukumannya. Syukur-syukur kalau masih bisa dibina, ya cukup di mutasi saja.

Mutasi adalah hal yang wajar, tidak perlu ditakutkan ataupun di-lebay-lebay-kan. Tidak selamanya kita akan berada dalam suatu tempat dan posisi. Cepat atau lambat pasti kita akan dipindah. Bahkan dalam dunia militer, biasa dikenal dengan istilah “tour of duty dan tour of area” atau perpindahan tempat/lokasi dan posisi/jabatan seseorang dalam ketentaraan. Mutasi itu sendiri saya maknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Atau bisa pula dimaknai perpindahan dari satu jenis pekerjaan ke jenis yang lain. Idealnya, mutasi ini dimaksudkan sebagai ‘pembinaan’ kepada pegawai, dan bukannya pembinasaan karier si pegawai.

Nah, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang dimutasi atau di pindah. Biasanya alasan yang dipakai oleh HR Manager adalah karena kebutuhan organisasi, dimana tempat/unit yang baru membutuhkan tenaga muda yang potensial, atau bantuan tenaga baru yang masih fresh, yang menguasai suatu bidang. Mutasi dengan alasan seperti ini tentu mempunyai nilai yang positif bagi jalannya roda organisasi. Penempatan pegawai sesuai dengan keahliannya. The right man in the right job.  

Ironisnya, tidak semua per-mutasi-an dilakukan karena kebutuhan organisasi ataupun dalam rangka pembinaan pegawai. Ada mutasi yang dilakukan oleh pimpinan kepada bawahannya lantaran Si Bos menilai bahwa pegawai tersebut membahayakan kedudukan pimpinan. Ketimbang ia berulah macam-macam, ya dimutasikan saja, beres! Mutasi model inilah yang kental dengan aroma like and dislike, bukan karena performa atau konduite dari pegawai yang terkena mutasi.

Selain itu, mutasi terjadi lantaran kehadiran pegawai tersebut tidak diingini oleh sebagian besar pegawai lainnya. Biasanya, ia dibuang lantaran diangap sebagai orang yang tak ‘disukai’ ditempat lama. Sengaja saya beri tanda kutip karena ada banyak faktor yang menyebabkan pegawai tersebut tidak disukai. Tidak disukai karena susah diajak untuk ‘berkolusi’ dalam suatu kegiatan/proyek. Ia typical pegawai yang taat asas dan aturan. Nah, pegawai model begini kebanyakan tidak disukai oleh rekan-rekan lainnya yang suka nyerempet-nyerempet. Ia terlalu ‘lurus’, tidak cocok bila di tempatkan di lingkungan yang ‘basah’ yang biasa dengan hal-hal yang sedikit-sedikit ‘melenceng’. Ketimbang jadi kerikil dalam sepatu, makanya ia terkena mutasi.

Bagi pegawai yang terkena mutasi tentu ada perasaan kecewa. Wajar, lha wong lagi kerja enak-enak dipindahin. Namun ada pula yang merasa senang, tergantung sudat pandangnya terhadap mutasi itu sendiri. Ada pegawai yang memaknai mutasi sebagai musibah. Dikatakan musibah lantaran mutasi itu menyebabkan ia kehilangan ‘kenyamanan’ di tempat lamanya. Kenyamanan-kenyamanan itu diantaranya:
Nyaman tempatnya, karena dekat dengan rumah atau dekat dengan tempat-tempat strategis.
Nyaman orang-orangnya, artinya ditempat lama orangnya asik asik alias friendly.
Nyaman pendapatannya, dimana uang di peroleh dengan gampang karena tempatnya ‘basah’.

Nah, ada pula yang justru berbahagia terkena mutasi. Baginya, mutasi dimaknai sebagai sebuah anugerah lantaran kepindahannya itu tentu akan membuat suasana baru yang akan ia dapatkan ketimbang di tempat lama yang tak nyaman, dan tentunya sudah jenuh.

Selama berkarir sebagai pegawai pemerintah --dalam kurun waktu tujuh tahun ini-- telah lima kali saya mengalami mutasi. Boleh dibilang rata-rata sekitar 1,5 tahun berada di satu tempat untuk kemudian dipindah ke tempat lain. Macam-macam alasan saya dimutasi. Kesal dan marah? Tentu saja! Namun, usahlah itu saya ungkit, biarlah menjadi cerita untuk anak cucuku kelak. Ketimbang menyesalinya, justru saya memaknai mutasi itu sebagai penambah teman di tempat baru dan terlepas dari kejenuhan rute bermotor saat pulang pergi dari/ke kantor yang lama, hehe.. So, mari hadapi mutasi dengan happy.

Sumber foto:

https://www.123rf.com/clipart-vector/job_placement.html?mediapopup=60186979

Minggu, 30 Juli 2017

Mewujudkan Perpustakaan Ramah Anak di DKI Jakarta

Selama saya mengunjungi perpustakaan, hampir dapat dipastikan bahwa sebagaian besar pengunjung perpustakaan adalah para mahasiswa/pelajar ataupun para kaum ‘jomblo’ yang mengisi waktunya dengan membaca. Jarang saya jumpai di dalamnya ibu-ibu atau istilah ngetrend-nya “Mahmud” atawa mamah muda, misalnya, yang mengisi hari-harinya sembari mengampu anaknya di perpustakaan.

Lalu, apakah fungsi perpustakaan diperuntukkan hanya untuk para dosen peneliti, mahasiswa/pelajar atau kaum ‘pengangguran’ terdidik dimana mereka mempunyai banyak waktu untuk membaca? Rasanya terlalu sayang bila gedung mewah nan megah perpustakaan dibangun dan berfungsi hanya untuk mereka semata.

Disatu sisi, kebiasaan membaca belum tertanam secara kokoh dalam budaya masyarakat Indonesia. Anak-anak kita lebih asyik ber-gadget ketimbang memegang buku. Agak sulit menanamkan kepada mereka agar menjadikan buku sebagai teman, dan membaca sebagai sebuah hobby yang mengasyikkan. Karena, bila membaca sudah menjadi hobby, maka buku apapun yang ada di rumah pasti dibacanya. 

Sayangnya, tidak semua referensi dan sumber bacaan dapat ditemukan di rumah maupun di sekolah, melainkan hanya ada di perpustakaan. Perpustakaan dengan beragam koleksi buku adalah tempat yang tepat untuk ‘berselanjar’ menambah pengetahuan kita. Lalu bagaimana kita mengenalkan kepada anak-anak tentang perpustakaan sebagai pusat dari beragam buku dan informasi yang tersedia?

Kendala yang sering kita hadapi adalah bagaimana kita menumbuhkan kebiasaan ‘main’ ke perpustakaan (atau bisa juga toko buku), bila untuk pergi ke perpustakaan saja anak-anak enggan atau merasa tak nyaman. Perpustakaan bagi mereka bisa jadi tempat yang membosankan.  Perpustakaan tak ubahnya hanya tempat bagi para ‘pemikir’ dan orang-orang ‘aneh’ yang sedang serius membaca. Ia bukanlah tempat yang asik untuk bermain dan bersenda gurau. Sudah terbayang dalam pikiran mereka bahwa di perpustakaan tidak boleh berisik, tidak boleh ribut, harus tenang, dan segala gambaraan keseriusan lainnya.

Definisi perpustakaan itu sendiri adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca (Sutarno NS, 2006:11). Bila merujuk pada definisi tersebut, inilah model perpustakaan jadul dan kuno yang sering dan banyak kita jumpai, dimana perpustakaan hanya berisi kumpulan rak-rak buku dengan meja dan kursi baca. Sebaiknya, lebih dari itu. Perlu ada revolusi dalam konsep penataan perpustakaan agar perpustakaan dapat dinikmati oleh beragam kalangan dari beragam usia, mulai anak-anak hingga manula. Ini merupakan tantangan dan peluang bagi para insan pustakawan untuk men-create suatu perpustakaan yang disukai oleh anak. Men-design perpustakaan yang ramah untuk anak.

Seperti yang saya uraikan dimuka, bagi sebagian kalangan, utamanya para ibu rumah tangga yang mempunyai balita, waktu dan kesempatan untuk membaca sangatlah sulit didapatkan. Jangankan jalan-jalan ke toko buku (perpustakaan), untuk membaca saja tak ada waktu bagi merekamembaca. Tidak mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya di rumah hanya untuk pergi ke perpustakaan. Bila ia membawa dan mengajak serta anaknya ke perpustakaan, di jamin si anak hanya akan tenang selama 5 menit. Selanjutnya tentu mereka akan uring-uringan, tidak nyaman dan merengek minta keluar untuk bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Tumbuh dan kembang mereka diwarnai dengan keceriaan, kebahagiaan dalam suasana permainan.

Lalu bagaimana agar perpustakaan itu ramah bagi anak? Alangkah idealnya bila di perpustakaan itu disediakan space dan ruang baca sekaligus ruang bermain bagi anak. Disamping orang tua dapat tenang membaca, anak anak mereka pun dapat bermain sekaligus belajar. Mereka dapat melihat gambar-gambar menarik dalam buku dan (jika bisa) membaca isi buku.

Bagi saya, Perpustakaan Ramah Anak (PRA) adalah suatu perpaduan konsep yang menempatkan anak pada subjek dan mengarahkan anak pada budaya dan kebiasaan membaca. Ada dua keuntungan yang didapat dari penerapan konsep perpustakaan ramah anak; yang pertama adalah anak dapat bermain di perpustakaan itu berpadu dengan (aktivitas) orang tua yang membaca dan berinteraksi secara aktif dengan anak; dan kedua adalah penyediaan bahan-bahan bacaan yang ramah anak dan sesuai dengan usia anak.

Di dalam PRA ini, selain anak dapat bermain dengan aneka permainan edukatif yang tersedia seperti: Lego; Susun Balok; dan sebagainya; Anak juga dapat menikmati bacaan atau melihat gambar-gambar menarik yang dapat meningkatkan fungsi kognitif anak. Informasi-informasi pengetahuan (buku) bergambar dan warna-warna yang mereka sukai harus tersedia di PRA.

Selain itu harus tersedia pula berbagai macam bahan dan sumber pengetahuan bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya, seperti: Bagaimana menerapkan disiplin pada anak; Bagaimana membiasakan hidup bersih pada anak; dsb. Buku-buku tentang pola dan cara pengasuhan anak menjadi bacaan yang pastinya disukai oleh para orangtua. Dengan demikian selagi mereka menemani anak-anaknya ke PRA, mereka juga dapat menggali dan mencari pengetahuan tentang tumbuh kembang anak.

Disamping itu PRA harus juga berisi tentang buku-buku bacaan anak yang edukatif dan informatif. Dari buku-buku itu, para orang tua pun dapat membacakan dongeng kepada anaknya. Keragaman koleksi dan kelengkapan PRA juga dilengkapi pula dengan APE atau Alat Permiana Edukatif dan ruang bermain anak. Di sudut PRA dapat diletakkan seperangkat permainan anak yang lazim dijumpai pada permainan outdoor seperti perosotan, ayunan, dan sebagainya.

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah penataan ruang dan fasilitas penunjang harus mencerminkan suatu model penataan yang ramah anak. Pemilihan wall paper dan cat dinding yang dekat dengan dunia anak (gambar winny the poh) misalnya, patut diperhatikan.


Lantas adakah contoh Perpustakaan yang ideal bagi semua kalangan seperti uraian saya diatas? Ada. Perpustakaan yang dikelola oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, misalnya layak diacungi jempol lantaran telah membuat konsep penataan perpustakaan yang ramah bagi semua kalangan, utamanya anak-anak. Jika Anda ada waktu senggang, cobalah ajak buah hati anda bermain dan berekreasi sekaligus belajar disana. Nah, bila konsep ini dapat diaplikasikan pada seluruh perpustakaan yang ada, niscaya anak-anak akan merasa akrab dengan perpustakaan yang pada gilirannya, budaya dan kebiasaan membaca dapat ditumbuhkan sejak usia dini. 

Kamis, 30 Maret 2017

Romantika Hidup Bertetangga

Alhamdulillah, meski letaknya dilingkungan padat penduduk, kami dapat memiliki rumah, masih di Jakarta. Letaknya strategis, dekat kemana-mana. Ke PGC Cililitan misalnya, hanya ‘selangkah’ saja. Tinggal di kawasan padat penduduk seperti di Condet ini membuat kami harus banyak bertenggang rasa dengan para tetangga kiri kanan, depan belakang. Tidak bisa kami bersikap individualis dan semau gue seperti yang pernah kami terapkan di Kemang. Di Kemang, keluarga kami nyaris tinggal sendiri dalam arti tak mempunyai tetangga lantaran kiri kanan rumah adalah ruko dan belakang rumah ditinggali oleh orang bule.

Nah, karena di Condet banyak orang kitanya, maka sering terjadi tolong menolong diantara warganya. Yang sering terjadi adalah kita menolong mereka atau mereka menolong kita. Bila tetangga kehabisan garam, misalnya, mungkin ia biasa meminta ke kita. Itu hal yang wajar. Begitupun bila kita akan pergi lama, mungkin bisa menitipkan kunci (rumah) di tetangga, agar lampu depan rumah bisa di nyalakan saat menjelang malam

Banyak romantika yang kami rasakan selama tinggal di Condet. Hal-hal yang tidak mengenakkan, yang mungkin kami rasakan, harus kami telan, demi menjaga keutuhan hidup bertetangga. Ibaratnya, kita masih dibolehkan ribut dengan keluarga. Sedahsyat apapun konflik kita dengan keluarga, toh, saban tahun pasti kita akan bersilaturahmi dengan mereka saat lebaran tiba, dan konflik itu akan termaafkan. Memangnya bila kita marahan dengan keluarga, lalu putus hubungan dengan mereka? Tidak ada istilah bekas saudara. Namun yang perlu dicatat, jangan sampai ribut dengan tetangga, apalagi tetangga yang sudah lebih dulu tinggal di situ. Bila sampai ribut dengan tetangga, yang terjadi adalah, loe yang pindah dari lingkungan situ, atau loe yang akan dikucilkan oleh mereka. Kelar hidup loe!!

Hidup di lingkungan padat, dimana jarak antar rumah yang satu dengan yang lainnya saling berhimpitan tentu ada suka dukanya. Bila ada anak tetangga yang nangis, misalnya, akan dengan jelas kami dengar tangisannya. Begitupun bila ada tetangga di depan atau samping rumah yang ribut dengan suami/istrinya, kami juga bisa menguping keributan mereka. Untungnya kami belum pernah menyaksikan piring terbang akibat keributan tetangga kami. Ya, Itulah romantika bertetangga.

Nah, bicara mengenai kehidupan bertetangga, banyak hak dan kewajiban tak tertulis yang ada dalam masyarakat. Salah satunya adalah perihal undang mengundang dalam lingkungan masyarakat. Saya ingin membahas mengenai per-undangan ini lantaran kita sebagai warga masyarakat tentu pernah dan akan selalu melakukannya.

Selama tinggal di lingkungan RW. 07 Condet, kami sekeluarga telah tiga kali mengundang tetangga untuk acara kami. Terakhir, saat kami mengkhitankan si sulung. Agar acara itu diberkati Allah SWT, kami sengaja menggelar selamatan kecil-kecilan dengan mengumpulkan orang. Tanpa kehadiran tetangga pun sebenarnya kami bisa mengumpulkan kerabat hingga puluhan orang lantaran kami keluarga Betawi/Jawa. Namun itu tak kami lakukan. Kami sengaja mengundang tetangga dan bukan kerabat lantaran kami ingin berbaur dengan mereka.

Karena keterbatasan tempat/ruang di rumah kami, maka undangan pun tak banyak kami sebar, hanya untuk kapasitas 50 orang. Biasanya kalau kita mengundang sekitar 50 orang maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi: Pertama, tamu yang datang bisa lebih dari 50, atau sialnya, bisa pula hanya 30-40 orang saja. Untuk jaga-jaga, maka Istri menyiapkan bingkisan sebanyak 70 orang. Begitulah, ternyata yang datang memenuhi undangan kami hanya sekitar 30-an tetangga saja. Ya, lumayanlah, lebih separuhnya yang datang, hiburku.

Saya coba ber-khusnudzon dan berbaik sangka, kenapa tetangga yang diundang, tak semuanya hadir. Pertama; Mungkin banyak tetangga yang masih harus masuk kerja. Maklum acaranya digelar pada hari Sabtu pagi, dimana tak semua tetangga di hari itu memperoleh jatah libur. Kedua; Mungkin saja undangan-nya tak sampai ke tuan rumah. Bisa jadi kertas undangan-nya tertiup angin ketika digeletakkan di meja serambi rumah, atau bisa pula tetangga punya kegiatan yang lebih penting ketimbang memenuhi undangan kami. Dari banyak alasan-alasan yang mengemuka, yang kami khawatirkan adalah tetangga tidak datang ke acara kami lantaran mereka memang tak suka atau tak merasa perlu dengan keluarga kami. Mungkin saja kami selama ini salah dalam bergaul dengan mereka. Mungkin kami dinilai masih asosial, sehingga tetangga pun segan tuk datang memenuhi undangan kami. Kalalu ini alasannya, wahh perlu diperbaiki lagi tingkah dan polah kami dalam bertetanga. Semoga bukan itu penyebabnya.

Begitulah adanya dengan kehidupan bertetangga. Akan selamanya kita membutuhkan mereka. Jadi, bila kita punya hajat, entah itu nyunatin atau ngawinin anak, dan hanya sedikit tetangga yang hadir, jangan salahkan ketidakhadiran mereka. Mungkin kita yang kurang gaul, asosial, individualis, atau tidak bertetangga dengan baik hingga para tetangga pun segan datang ke rumah kita.

Atau bahkan bila kita tertimpa musibah seperti kematian salah satu kerabat kita, dan kita minta tolong dengan mengundang tetangga untuk mensholati jenazah kerabat kita, lalu hanya sedikit warga (tetangga) yang mensholati-nya, maka jangan salahkan tetangga lainnya yang enggan mensholatinya. Jangan dibangun opini menyesatkan yang justru memperkeruh suasana. Jangan ditarik ke ranah politik atau Pilkada. Introspeksiah, kenapa para tetangga enggan mensholati kerabat kita?? Kalau kita selama bertetangga hidup baik dan rukun, jangankan disholati dirumah dengan segelintir orang yang mensholatinya, bahkan jenazah kita akan mereka arak untuk disholati, tidak hanya di musholla, bahkan di masjid dengan ribuan jemaah yang hadir. Semoga kita nantinya akan disholati oleh ribuan orang lantaran kebaikan yang kita tanamkan semasa hidup kita, amien..


Catatan: Sholat jenazah hukumnya fardu kifayah. Artinya bila ada satu orang saja yang mensholati jenazah tersebut maka umat Islam di wilayah/kawasan tsb tidak berdosa. Namun bila tidak ada seorangpun yang mensholati jenazah tersebut, maka seluruh umat islam di wilayah itu berdosa. It’s simple!!

Senin, 27 Maret 2017

Tentang Sepupuku

Mamiku adalah anak bontot, dari empat bersaudara. Berbeda dengan Mami yang hanya berputra empat orang, Ncang-ncang ku anaknya banyak. Jadilah aku, meski cuma empat bersaudara kandung, namun mempunyai saudara sepupu yang banyak. Orang tua kami memang sangat dekat satu dengan lainnya. Paling tidak sebulan sekali, diantara mereka, waktu mudanya, saat kami masih kanak-kanak, saling main ke rumah. Lantaran itulah aku dan para sepupuku sangat dekat.

Diantara sepupu-sepupuku, ada satu yang punya kelebihan dan talenta yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Ia, sebagaimana Mamiku, juga anak bontot di keluarganya. Entah sebab apa yang membuatnya punya kelebihan dan maqom yang tinggi, aku sendiripun tak tahu. Pasalnya, bila kita telisik satu persatu potensi yang ada padanya, hampir tak dijumpai nilai positif pun yang patut dijadikan acuan atau contoh untuk anak-anak kita. Gak percaya? mari kita kuliti sepupuku ini.

Kalau di reken dari tampang wajah, sepupuku ini (parasnya) jauh kemana-mana. Wajahnya hancur. Masih kalah ganteng denganku dan mungkin dengan abang-abangnya yang lain. Itu dari segi face. Nah, dari segi education, sepupuku ini gak pinter-pinter amat. Mungkin hanya berkat katrolan nilai, ia, konon akhirnya bisa lulus S1. Maklum, tempat ia kuliah, sebuah universitas apalah-apalah di Jakarta Selatan kebetulan juga di ampu oleh sepupuku yang lain. Entah bagaimana ia menyelesaikan S1-nya. Aku sendiri ragu bila ia sanggup membuat skripsi atau tugas akhir. Sewaktu kecil, setamat SD, untuk tes masuk Pesantren Darunnajah (DN) saja, ia tak lulus seleksi. Ia akhirnya berlabuh di pesantren cabang DN, di Parung. Jadi secara akademis, sepupuku ini memang tak cerdas. Mungkin hanya nasib baiklah yang membuat namanya tercantum sebagai lulusan bergelar SE, dan itupun bukan dari universitas bonafid sekelas trisakti atau Untar, apalagi ITB dan Unpad, jauhhhh bagai langit dan sumur.

Begitulah, meski wajah dan nilai akademisnya tak patut dijadikan acuan untuk dicontoh, namun ada banyak kelebihan dan prestasi lainnya yang dapat ia bangakan kepada kami, para sepupunya. Jujur saja, sejumlah prestasi dan kelebihannya itu tidak dimiliki olehku dan sepupu-sepupuku yang lainnya. Bahkan, sampai lebaran kuda pun, kami para sepupunya takkan pernah sanggup dan bisa menyainginya. Bukan itu saja, bila kami berserikat untuk mengumpulkan kekuatan dan potensi yang ada pada kami, tetap saja kami takkan sanggup mengalahkannya. Ia memang diberikan talenta yang berpebih. Banyak kebisaan (keahlian) yang ia miliki yang justru keahlian itu tak dimiliki oleh kami, para sepupunya. Agar seimbang, mari kita kuliti juga kelebihan sepupuku ini.

Jika kami hanya ahli bermain kelereng, ngaji qur’an, gaple-an, dan badminton, lantaran hanya permaianan itu yang sering dimainkan oleh anak-anak kampung seperti kami, maka ia punya keahlian yang jarang dimiliki oleh kami, bahkan oleh anak-anak gedongan di Kemang. Bilyard misalnya, permainan jenis ini tentu tak pernah kami rasakan sewaktu kecil. Boro-boro main bilyard, megang sticknya saja tak becus. Waktu muda, pernah aku diajarinya ‘nyodok’, namun tetap saja bidikan bola putih tak pernah dengan sempurna menimpa bola warna lainnya, lantaran pegangan stick-ku yang tak kokoh dan mantaf. Aku give up bila diajak nyodok. Nah, hebatnya sepupuku ini, sewaktu mudanya pernah menjuarai turnamen bilyard antar mahasiswa se DKI Jakarta.

Bosen bermain bilyard, lantaran seng ada lawan (tak ada lawan yang seimbang) Ia beralih ke golf. Tanah engkongnya yang di Ciganjur dan Pangkalan Jati yang telah dijual dan tersulap menjadi padang golf, ia sambangi. Bukan untuk ia beli kembali namun untuk ia rumput alias untuk bermain golf. Bersama kawan-kawannya para sosialita dan eksekutif papan atas Jakarta, ia rutin merumput tak hanya di sekitaran Jakarta namun juga merambah hingga Bali dan Luar Negeri. Hasilnya, ia sukses memenangi beberapa turnamen golf yang rutin diadakan. Sepengetahuanku, tak hanya bilyard dan golf yang ia kuasai. Beragam olahraga, hobby, dan kesenangan para orang kaya bin tajir di Jakarta pernah ia coba. Dan, ia selulu unggul. Ia pernah ikutan hobby ber-motorcross. Bosen disitu, ia beralih ke motor besar semacam Harley Davidson. Suntuk Di Harley, ia kini berlabuh di Triumph. Kalau kami hanya sanggup touring seputaran Pelabuhan Ratu saja, itupun dengan motor bebek. Nah, sepupuku ini level touring-nya menjelajah ke Sumatera, Lintas Sulawesi, Nusa Tenggara, bahkan hingga ke Eropa.

Aku, sebagaimana sepupu-sepupuku yang lain sebenarnya heran, apa sih kerjanya sepupuku ini? Kok pergaulan dan relasinya begitu luas, seluas Samudra Pacific. Perbandingannya, jika pergaulannya seluas samudera, maka pergaulanku hanya seluas kolam renang samping rumah. Sepupuku ini, siapa yang tak kenal dengannya. Dari selebritis kelas teri hingga se-level Raffi Ahmad adalah sohib dekatnya. Dari jajaran pengusaha kelas teri yang hanya punya satu dua apartemen di Kemang hingga level mafia migas kelas dunia juga akrab dengan sepupuku ini. Dari politisi kelas kampung macam Haji Topa, Ketua Forkabi di kampungku, hingga politisi level senayan/istana sekelas HR akrab ia gauli. Dengan anak-anaknya bahkan ia bergaul akrab. Dari ustadz model kampung kayak Ustadz Syamsuddin, hingga level ulama sekelas Habib Umar adalah kawannya. Belum lagi dari kalangan public figure yang tak terbilang jumlahnya tak luput dari kekeran radar pertemanannya. Tak ada yang ia tak kenal. Bukan cuma kenal, namun akrab dan terjalin relasi dan hubungan personal yang hangat diantara mereka.

Pernah suatu ketika kutanyakan ke sepupu-ku lainnya yang notabene adalah kakak-kakaknya. “Ehh Si Anu kerjanya apa sih? Kalo Si Anu kerjanya wartawan sich gak heran kalau punya relasi yang luas, lha Si Anu gw liat seringan di rumah kalo pagi. Usahanya pun cuma nyewain genset. Kok temen-temennya banyak banget. Orang-orang kaya dan berpengaruh di Indonesia. Saban bulan Si Anu gw perhatiin jalan-jalan mlulu ke Bali. Barusan abis dari Jepang dan Hongkong, duitnya kok banyak banget ya,” tanyaku.
“Gw sendiir gak tau ‘Mat apa kerjaan si Anu.. gw aja yang abangnya heran dia kayak gitu,” ujar abang dari sepupuku itu


Itulah sepupuku. Meski tak ganteng dan berprestasi secara akademik, namun ia mampu menggenggam dunia. Jujur saja, bila berbicara didepannya, aku rada keder juga. Untungnya, --diantara sepupu-sepupuku yang lain--, hanya aku lah (alhamdulillah) yang pernah ke Amrik, negeri yang belum pernah ia singgahi. So, aku masih unggul satu lap darinya. Namun, bila ia telah ke Amrik, aku akan kalah segala-galanya. Oh ya, ngomong-ngomong siapa sih sepupuku itu? Penasaran…? Tampaknya ia hanya tertawa membaca kisahku ini. Sudahlah tak usah diungkap, toh para sepupuku yang lain tentu tahu siapa yang aku maksud, heheh…

Kamis, 09 Maret 2017

Rano, Sang Legenda Remaja Sepanjang Masa

Baru saja aku membaca kisah hidup Rano Karno yang dibukukan oleh penerbit Gramedia. Bukunya berisi kisah dan perjalanan hidup putra aktor legendaris Sukarno M. Noer,  dari sejak kecil, yang tinggal di gang sempit berbau (maaf) ta*, di kawasan Kemayoran, hingga ia menjadi Gubernur Banten menggantikan Atut. Meski aku dan Rano tidak seumuran, dan berbeda generasi, namun saat aku kecil, aku sangat akrab dengan film-film yang ia bintangi. Maklum saja, zaman aku SD hanya film yang dibintangi oleh Si Doel lah yang merajai jagat bioskop di tanah air. Film-film Rano sering pula di putar di TVRI, sebagai satu-satunya tipi pada masa itu. Jadi, tak mengherankan bila hanya Rano lah bintang dan idola remaja saat itu. Bukan profile Rano yang ingin aku ulas, namun aku ingin berbagi kisah tentang figur dan idola remaja pada masaku. Figur mereka tentu tak lepas dari film-film yang mereka bintangi.

Bagi remaja seusiaku, saat itu di tahun 90-an, kami nyaris tak punya figur idola remaja. Memang selepas era Rano, aku masih ingat, ada beberapa artis yang menjadi teen figure. Saking ngetop-nya, wajah mereka dengan mudah ditemukan di sampul buku tulis sekolah. Namun figur seperti Dina Mariana, Richi Ricardo ataupun Ongky Alexander, menurutku, (maaf) kualitas dan ketokohan mereka masih jauh dibawah Rano, cs. Sialnya lagi disamping krisis figur, tak ada satu pun film yang mewakili generasi kami. Kalaupun ada, palingan cuma sinetron serial “Rumah Masa Depan” yang dibintangi oleh Septhian Dwi Cahyo Cs dan serial “Aku Cinta Indonesia” (ACI).

Lain halnya bagi kakak-kakak-ku yang lahir di tahun 60-an, mereka masih sempat menyaksikan film dari kisah percintaannya  Rano Karno dan Yessy Gusman. Sebut saja misalnya film “Selamat Tinggal Masa Remaja”, ataupun “Ali Topan Anak Jalanan”. Rano, sang legenda remaja saat itu sering tampil di film-film ber-genre percintaan dan kisah kasih remaja di sekolah. Saat ini mungkin sosok Rano bisa diwakilkan oleh Reza Rahardian Si pemeran Habibie yang laris ditanggap sebagai pemeran utama film-film ber-genre anak muda.

Sama seperti generasi remaja tahun 80-an, begitupun halnya dengan remaja yang tumbuh di era tahun 2000-an, mereka punya kisah kasih romantis yang bisa diceritakan untuk anak cucunya. Mereka punya film “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC) yang fenomenal, yang dibintangi oleh Dian Sastro, perempuan dengan kecantikan khas Jawa-nya, dan Nicholas Saputra sebagai icon remaja saat itu.

Bagiku yang lahir tahun 70-an, tentu sudah out of date ‘tuk hanyut dalam kisah romantika Rangga dan Cinta, pasalnya saat film itu di luncurkan, aku baru saja tamat kuliah. Tak seumur dengan setting film AADC itu yang berseragam putih abu-abu anak remaja SMA. AADC adalah film-nya generasi adikku. Ya, saat film itu booming, adikku baru saja lulus SMU.

Sejujurnya aku iri dengan mereka yang lahir pada tahun 80-an dan 60-an. Betapa bahagianya mereka. Ada cerita dan kisah film atau tontonan yang bisa diceritakan diantara mereka. Ada tokoh yang menjadi idola, kebanggaan, dan pujaan mereka. Bagi mereka kelahiran tahun 60-an saat beranjak remaja, maka mereka hidup di tahun 80-an. Banyak film-film berkisah asmara anak muda hadir di tengah-tengah mereka. Saya masih ingat bintang idola remaja kelahiran 60-an antara lain: Rano Karno; Herman Felani; Lydia Kandau; dan Yessy Gusman. Film-film remaja yang dibintangi mereka pun banyak. Seperti; Selamat Tinggal Masa Remaja; Selamat Tinggal Duka; Masih Adakah Cinta, dan film-film roman picisan yang menjadi hits dan merajai blantika perbioskopan tanah air.

Bayangkan saja, anak remaja seusiaku, saat itu tak ada film percintaan remaja yang layak diobrolkan. Kalaupun ada hanya film-film sex murahan seperti: “Ratu Laut Selatan”, dengan bintang film sekelas; Febby Lawrence; Meriam Bellina; Yurike Prastica; Ataupun Sally Marcellina. Tak ada yang lain. Tahun 90-an itu, saat aku remaja, jagat perfilm-an di tanah air hanya dipenuhi dengan 3 (tiga) tema, yakni: Sex; Action (laga); Dan mistis. Judulnya pun tak jauh dari kata-kata yang ada dalam stensilan-nya Enny Arrow; seperti: “Gairah Malam”; “Kenikmatan Tabu”; ataupun “Ranjang yang Ternoda”. Masih untung tak selamanya judul-judul seperti itu merajai jagat perbioskopan nusantara; Film-film bermutu pun bukannya tak ada, namun segmen-nya terlalu luas untuk dibilang sebagai film anak muda/remaja. Film berjudul “Perwira dan Ksatria” yang dibintangi Dede Yusuf boleh juga dikatakan sebagai film yang mewakili genre remaja, namun film itu tidak se-booming film remaja generasi AADC.


Itulah zaman saat aku remaja. Meski tak ada kisah (film) yang patut diceritakan, namun aku bangga pernah menjadi anak yang tumbuh dan besar tanpa gadget dan masih menikmati aneka permainan khas anak kampung. Mungkin generasi-ku lah, generasi (remaja) terakhir yang selamat dari arus informasi dan hoax yang diakibatkan oleh kemunculan sosial media macam twitter, facebook dan kroni-kroninya. Dan, Rano Karno masih menjadi legenda, setidaknya bagiku..

Selasa, 03 Januari 2017

Berkaca Dari Udin Sarap

Bagi pasangan yang baru menikah, atau yang kita sebut pengentin baru, saat-saat awal pernikahan merupakan moment yang penuh dengan kebahagian. Segalanya indah. Aktivitas berkasih sayang, misalnya, boleh dibilang selalu rutin dilakukan, persis seperti minum obat, 3 kali dalam sehari. Itulah yang lazim kita sebut sebagai masa bulan madu. Praktis tidak ada gejolak dan keributan diantara mereka. Semuanya selalu terasa indah. Nah, seiring perjalanan waktu, madu pun habis, yang ada tinggal sepahnya saja. Saat usia pernikahan beranjak memasuki usia 1 tahun mulai lah kejenuhan terjadi. Yang tadinya saling memanggil dengan panggilan sayang, berubah menjadi hanya panggilan nama. Yang tadinya selalu memperhatikan dan mengingatkan, berubah menjadi mengabaikan. Mulailah terjadi letupan-letupan kecil. Masalah sepele bisa berubah menjadi besar. Bagi kita yang sudah/pernah menikah, tentu pernah mengalami hal seperti itu khan?

Saat saya hendak menikah, Udin Sarap, panggilan akrabku kepada sepupu yang bernama Safrudin ini, memberikan sedikit gambaran tentang lika-liku dan suka duka hidup berumah tangga. Lantaran ia adalah abang sepupuku, maka nasehatnya tentang pernikahan mau tak mau saya perhatikan dengan sungguh-sungguh. Ia, yang lebih dahulu menikah ketimbangku, dan kini telah mempunyai empat orang anak yang sudah beranjak dewasa, tentu telah kenyang makan asam garamnya pernikahan.

Diantara point penting obrolan ringan kami dengan suguhan pisang goreng dan kopi panas, buatan Mpo’ Mumun, istrinya, yang kuingat ialah tentang 5 tahun pertama usia pernikahan. Menurut Udin Sarap, sama seperti balita, maka usia pernikahan 5 tahun pertama boleh dibilang usia rawan. Beragam masalah yang sepele bisa menjadi besar. Belum punya anak, misalnya, jadi bahan cela’an dan beban yang tak ada habis-habisnya.

Menurut Udin Sarap, boleh dibilang pada masa-masa itu adalah rentang waktu yang genting dalam berumah tangga, bila lulus melaluinya, maka kesana-sananya akan lancar. Saya, yang memang belum pernah menikah sebelumnya, rada kaget juga dengan warning yang ia ungkapkan. Kenapa harus lima tahun pertama? Ada apa dengan lima tahun pertama itu? Akhirnya, setelah saya menjalani pernikahan yang telah menginjak satu dasawarsa ini, barulah saya ngeh betapa pentingnya mencermati 5 tahun pertama ini.

Oh ya, perlu diketahui bahwa dari pengamatan yang pernah saya lihat, dengar, dan tonton, ada beberapa orang atau teman dekat saya yang gagal dalam membina hubungan rumah tangga. Dan menariknya, kegagalan mereka itu (baca: perceraian) terjadi pada usia pernikahan di bawah 5 tahun. Benar juga apa yang diomongin Si Udin Sarap, batinku. Oke, lantaran saya sudah khatam dan melalui 5 tahun pertama itu, saya akan berbagi kisah dan analisa mengapa 5 tahun pertama dalam pernikahan itu bernilai penting dan strategis bagi perkawinan seseorang. Ada beberapa faktor yang meyebabkan itu terjadi.

Pertama, 5 tahun pertama adalah masa dimana pasangan suami istri itu belum mapan. Karena mereka baru menikah dan masih berusia muda, (rata-rata menikah dibawah usia 30 tahun) maka kemapanan secara ekonomi pun masih minim. Pendapatan bulanan hanya cukup untuk makan berdua, dan itu pun pas-pas-an tanpa mampu ber-saving. Bila salah satu pasangan menuntut gaya hidup mewah, dan tidak mau tahu dengan kondisi ekonomi yang ada, tentu akan merepotkan pasangannya. Bila ini tidak di-adjust dengan baik dan bijak, maka jangan kaget bila muncul konflik-konfik kecil diantara mereka.

Kedua, belum punya rumah dan masih gabung/tinggal dengan orang tua atau mertua. Kalian tentu pernah merasakan dong suka dukanya tinggal dan hidup serumah dengan orang tua atau mertua. Ada plus minusnya. Ada enak dan kagaknya. Ya, kalau banyakan enak ketimbang kagaknya mungkin tak masalah, namun bila sebaliknya, yang saya istilahkan banyakan makan hati, ketimbang daging, tentu menjadi problem tersendiri. Bagi mereka yang tidak bisa mengelola plus minusnya tinggal di rumah mertua, tentu akan menimbulkan konflik tersendiri. Bila tinggal dengan mertua/orang tua, yang sering terjadi ialah istri berkonflik dengan mertua perempuan. Atau, bisa pula suami berkonflik dengan mertua laki-laki. Si Suami yang dinilai oleh sang istri lebih condong atau sayang ke ibunya ketimbang dia. Nah, hal-hal inilah yang bisa menjadi benih pertengkaran diantara mereka, suami istri.

Ketiga penyatuan dan adaftasi dari dua karakter yang berbeda. Sifat dan karakter asli yang tidak bisa diterima dengan baik oleh pasangan, seperti kebiasaan bangun siang; Tidur selalu mendengkur; Merokok dalam kamar; Tidak membuatkan kopi/teh pada pasangan; Cemburu berlebihan; Boros; Suka keluyuran atau begadang, ataupun perilaku negatif lainnya dari pasangan  yang baru muncul justru setelah menikah.

Keempat, belum punya anak. Bagi mereka yang ingin segera memiliki momongan, setelah menikah tentu ingin segera punya anak. Nah, setelah 2, 3 hingga 4 tahun pernikahan kok belum ada tanda-tanda hamil bagi si istri. Kondisi ini tentu menjadi tanda tanya. Kok istri belum hamil, apa yang salah. Disatu sisi orang tua/mertua juga ingin cepat-cepat memomong cucu. Timbulllah rasa curiga jangan-jangan salah satunya mandul atau tidak bisa membuahi. Nah, mulailah timbul riak-riak kecil yang menggangu keharmonisan rumah tangga yang bisa berakibat perceraian.  

Kelima sudah atau terlalu cepat punya anak. Dilalahnya mereka justru belum mau punya anak. Akibatnya dalam pola pengasuhan dan pendidian anak mereka belum siap, mereka belum faham dalam mendidik dan mengurus anak. Celakanya, masalah (kehadiran) anak ini justru menyulut potensi perceraian. Masing-masing pihak menyalahkan yang lain dalam mengasuh dan mendidik anak.


Itulah sekilas gambaran dan analisa saya mengapa 5 tahun pertama masa pernikahan itu begitu urgent bagi pasangan suami istri. Dan yang perlu diingat adalah meski kita akan menghadapi kondisi kegentingan dan kerawanan di 5 tahun pertama itu, hindarilah perkataan “cerai”. Bila kita sukses melaluinya, niscaya kita akan mudah untuk menjalani etape-etape berikutnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga, semoga. 

Minggu, 13 November 2016

Indonesia Bisa Menjadi Role Model Perwujudan Pulau Layak Anak (PLA) Di Dunia

Sejak dicanangan pada tahun 2010 oleh Kementerian PP&PA, Kota Layak Anak (KLA) telah merambah ke hampir sebagian besar Kota/Kabupaten di Indonesia. Kota Layak Anak adalah suatu sistem pembangunan Kabupaten/Kota yang mengintergrasikan komitmen dan sumberdaya dari para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, masyarakat dan dunia usaha secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan yang terencana untuk pemenuhan hak-hak anak. Beranjak dari komitmen tersebut, tiap-tiap Kota/Kabupaten telah mencoba menerapkan kebijakan KLA dalam program dan tahapan rencana pembangunan kota/kab mereka.

Dari judul dan penamaan program, yakni Kota Layak Anak (KLA), niscaya tidak ditemukan atau belum disentuh pengembangan Pulau Layak Anak (PLA) secara khusus. Selama ini, yang menjadi sasaran program ini adalah Kota atau Kabupaten di Indonesia, yang berada –tentunya—di pulau-pulau besar, seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Lalu, bagaimana dengan pengembangan Pulau Layak Anak itu sendiri? Sudahkah kita menerapkan kebijakan Pulau Layak Anak? Memang, sejatinya keberadaan pulau itu sendiri berada dalam lingkup suatu kabupaten, dan KLA pastinya akan menyasar ke pulau yang notabene berada (include) dalam kabupaten tersebut. Namun peng-intensifan atau penajaman program sebaiknya juga menyentuh suatu pulau atau beberapa pulau sebagai pilot project pengembangan Pulau Layak Anak di Indonesia (PLA).

Lalu, sejauh mana gaung KLA telah ada atau diimplementasikan di suatu kawasan atau pulau tertentu di Indonesia. Apakah ada sebuah pulau yang benar-benar menjadi benchmark bagi perwujudan PLA, dengan kata lain pulau tersebut telah 100 persen menjadi Pulau Layak Anak? Selain Jepang dan Filipina, tak banyak negara di dunia yang memiliki gugusan kepualaun. Untuk itu, sebagai salah satu negara kepulauan di dunia, adalah suatu keniscayaan mewujudkan Pulau layak Anak dalam salah satu kawasan gugusan kepulauan di nusantara.

Bila melihat dari scope dan cakupan pelaksanaan program, sejatinya sangat lah mudah mewujudkan Pulau Layak Anak ketimbang perwujudan Kota/Kab. Layak Anak yang berada di area (baca: daratan) yang luas. Lantaran luas cakupan areanya kecil, maka kompleksitas yang ada di pulau tidak serumit ketimbang di daratan yang luas. Pulau Untung Jawa, di gugusan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, misalnya, dapat dijadikan role model pengembangan Pulau Layak Anak di Indonesia. Selain itu, Gugusan Kepulauan di Mentawai, di Sumatera Barat, dan gugusan kepulauan di Sulawesi Tenggara, juga layak untuk dikembangkan sebagai percontohan PLA.

Sama seperti penerapan percepatan pelaksanaan KLA di daratan, maka untuk pengembangan Pulau Layak Anak (PLA) di Indonesia, kami ingin membagi penerapan PLA dalam 2 (dua) tataran konsep, yakni; Pertama: Tataran implementasi PLA yang dapat di lihat/tampak (seen) dan Kedua; implementasi perwujudan PLA yang tidak tampak (unseen) atau dalam bentuk pemenuhan data terpilah, peraturan perundangan, dan pendokumentasian/pengarsipan. Untuk tataran seen (dapat dilihat) maka perlu dikembangkan Sekolah Ramah Anak (SRA) di pulau tersebut, lalu mewujudkan Puskesmas Ramah Anak (PusRA), dan pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Seen concept adalah percepatan perwujudan PLA dengan membangun sarana dan prasarna (fisik) penunjang PLA. Keberadaan PLA dapat dirasakan langsung oleh masyarakat penghuni pulau dengan melihat apakah tersedia sarana dan prasarana yang ramah anak di pulau tersebut? Taman bermain, misalnya. Berapa dan bagaimana kondisi taman atau tempat bermain bagi anak yang tersedia?  

Faktor seen ini juga sangat penting untuk membuktikan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan PLA. Maka pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana bermain anak, yakni melalui perwujudan taman bermain interaktif adalah hal mutlak yang harus dikerjakan pertama kali bila ingin meng-create dan men-design pulau yang ramah anak.

Bila lahan/tanah yang ada cukup luas, maka pembuatan taman bermain tidak hanya tertuju lepada pembangunan taman bermain an sich namun dapat dikembangkan dan diintegrasikan menjadi RPTRA. RPTRA yang dimaksud adalah taman atau ruang yang memadukan konsep bermain, belajar, berkreasi, berseni, dan berolahraga, serta beragam aktivitas warga masyarakat yang kesemuanya ditujukan untuk mendukung pengembangan potensi anak. Di RPTRA harus tersedia Perpustakaan Anak; Panggung Seni & Kreasi Anak; Pojok Cyber/Komputer Anak; Sekretariat Forum Anak; Lapangan Futsal/Badminton/Tenis Meja dsb, serta sarana penunjang kegiatan anak lainnya. Singkatnya, RPTRA adalah perwujudan bagi pengintegrasian seluruh aktivitas dan kegiatan anak dan masyarakat yang ramah anak.

Disamping pemenuhan kebutuhan dasar anak (tempat bermain), permasalahan yang lekat dengan anak adalah dalam hal pendidikan dan kesehatan. Usia anak adalah usia sekolah, maka hampir sepertiga waktu anak dihabiskan di sekolah. Untuk itu bagaimana kita men-design Sekolah Ramah Anak (SRA); yakni suatu sekolah yang bertujuan untuk memastikan bahwa sekolah memenuhi, menjamin, dan melindungi  hak anak. Mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan anak agar terwujud anak yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Mempersiapkan anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membawa rahmat bagi seluruh alam.

Di bidang Kesehatan, bagaimana kita membangun Puskesmas Ramah Anak (PusRA), dimana didalamnya mutlak tersedia: Ruang menyusui bagi ibu (Ruang Laktasi); Adanya ruang/space bermain untuk balita/anak; Tersedianya ruang dan tenaga konsultasi kesehatan remaja (PIK Remaja); dan sarana penunjang kesehatan yang modern dan meng-cover seluruh jenis penyakit yang rentan menimpa anak-anak. Di tiap PusRA minimal tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter spesialis THT, dan dokter spesialis gigi.

Lalu bagaimana mewujudkan PLA di Indonesia? Untuk mewujudkan PLA, perlu dukungan dan komitmen yang kuat dari para stakeholder yang ada di pulau tersebut agar mereka merasa saling memiliki dan mempunyai ikatan emosional yang kuat untuk kesuksesan PLA. Para pemangku kepentingan, yakni kepala kampung/pulau, tokoh agama, guru/pendidik, dokter/bidan, dan aparat pemerintah setempat dapat merumuskan kebijakan-kebijakan apa yang akan diambil dan sarana/prasarana apa yang mesti dibangun untuk pelaksanaan PLA.


Dari 31 indikator KLA yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan PA, maka bila 3 (tiga) bidang tersebut diatas, yakni bidang Pendidikan; Kesehatan; Dan Pemanfaaatan Waktu Luang, digarap secara serius dan simultan, maka keberadaan PLA bukan impian kosong. Untuk mewujudkan itu semua, rasanya tidak berlebihan bila –sebagai negara kepulauan- Indonesia bisa menjadi pilot project pengembangan suatu pulau atau kepulauan yang ramah anak di dunia. 

Senin, 17 Oktober 2016

Cerita Tentang Orang Kaya di Jakarta

Banyak yang bilang bahwa kaya dan miskin itu relatif. Bagaimana mengukur seseorang kaya atau miskin. Apa parameternya? Apa tolak ukurnya? Bagi saya pribadi, untuk menilai seseorang masuk golongan kaya atau tidak kaya (sengaja saya gunakan kata tidak kaya untuk menggantikan kata miskin) yakni bila ia memiliki rumah pribadi (bukan ngontrak atau masih numpang dengan orang tua/mertua, hehe..) berlokasi MASIH di Jakarta, lebih spesifik lagi di kawasan Menteng, Kebayoran Baru, Kemang, dan Pondok Indah, dengan luas tanah sekitar –sedikitnya-- 500 meter persegi, plus punya kendaraan roda empat tentunya, dan penghasilan sebulan at least 20 jutaan. It’s simple parameter. Lebih dari itu, berarti kaya bingits. Nah, justru, bagi orang yang kaya bingits, bila ukurannya hanya memakai, saya punya parameter, seperti diatas, bisa jadi mereka masih dianggap belum kaya atau masuk kategori orang yang biasa-biasa saja. Jadi, mungkin inilah makna relativitas dari kekayaan atau ketidak-kayaan itu sendiri.

Jika saya amati sekilas, ada 2 (dua) type atau golongan orang kaya. Pertama; Orang kaya yang tahu bahwa ia kaya. Ia sadar bahwa ia orang kaya dan tahu akan kemana uang dan harta kekayaannya itu akan ia gunakan. Lantaran tahu bahwa ia kaya, maka ia nikmati harta kekayaannya sebaik-baiknya. Ia tidak ingin dibelenggu oleh harta dan kekayaanya, justru gunakan uang dan hartanya untuk bersenang-senang. Tiada hari tanpa kebahagiaan, tawa dan canda.

Banyak teman saya memanfaatkan kekayaannya untuk kesenangan pribadi dan keluarganya. Saban semester diisi dengan jalan-jalan, wisata kuliner, spa, hangout, dan sebagainya. Sering saya jumpai dalam updetan status di fesbuk-nya, teman saya terlihat sedang ber-selfie dengan latar belakang Menara Eifel. Di lain kesempatan saya lihat pula ia berada di Patung Liberty, NY.

Nah, menariknya golongan ini mampu mengimplementasikan kekayaanya dengan amal sosial yang bernilai ibadah. Mereka membelanjakan kekayaannya --disamping untuk kesenangan pribadi-- juga untuk kemaslahatan umat manusia. Mereka mendonasikan sebagian –entah besar atau kecil—harta yang dimiliki untuk amal ibadah sosial secara simultan dan beriringan. Tak jarang mereka saban tahun suka ber-umroh ke Masjidil Haram, Kerap mengundang anak yatim untuk perayaan hari ulang tahunnya ataupun perayaan kesyukuran lainnya. Bahkan, saking ‘riya’ nya foto-foto aktivitas sosial dengan para pengurus panti sosial di unggah di medsos. Dengan kata lain, Ia dan harta kekayaannya bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Inilah jenis atau type orang kaya yang saya istilahkan “High Quality Rich.” Orang kaya model ini adalah mereka yang sadar bahwa meraka kaya sehingga mampu dan mendayagunakan potensi kekayaannya untuk sesuatu yang bernilai sosial, produktif, rekreatif, dan multi useful. Tegasnya, kekayaan yang ia miliki mampu membuat ia dihormati, dipandang dan di’anggap’ oleh masyarakat sekitar.

Nah, ada pula orang kaya yang sadar bahwa ia kaya namun mereka membelanjakan kekayaannya hanya untuk kepentingan dan ego pribadi dan keluarga saja tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Bahasa sosiologinya “Asosial”. Tidak peduli akan nasib tetangga yang kesusahan. Tidak care terhadap anak yatim dan janda sekitar rumah yang perlu disantuni. Bahkan, tidak pernah ikut iuran satpam atau iuran RT/RW. Bila ada tetangga selemparan rumah yang meninggal, ia tidak melayat ataupun menitipkan amplop uang duka kepada shohibul musibah. Golongan ini berprisnsip: “gw gak ngerugiin loe, so jangan janggu gw.” “Loe asik, gw asik.” Walhasil, mereka menikmati kekayaannya hanya untuk kepentingan diri sendiri, hanya untuk pemuasan ego dan nafsu pribadi, tanpa peduli dengan lingkungan masyarakat sekitar. Sepanjang tidak merugikan orang lain, buat apa pusing mikirin orang lain. Ego lah yang timbul.

Sebaliknya, ada pula golongan kedua, yakni orang kaya yang tidak sadar bahwa ia kaya sehinga tidak bisa menikmati dan memanfaatkan harta kekayaannya. Mereka diperbudak oleh hartanya. Mereka ini, sibuk bekerja dari pagi buta hingga malam berselimut gelap. Yang ada dibenaknya bagaimana uang hari ini terkumpul banyak. Buka toko dipagi hari, berdagang seharian di toko, tutup toko lalu pulang, begitu seterusnya. Bagi mereka yang kerja kantoran, eksekutif papan atas, misalnya, pergi saat belum tampak mentari, pas jam pulang tak sempat bersua dengan kelembutan mentari. Jika saya lirik dari penampilannya tentu gajinya sekitar 30 jutaan. Mobil keluaran terbaru, walaupun masih ada sisa kredit 12 bulan.

Karena tidak sadar bahwa ia kaya, maka hampir dibilang tidak ada kamus ber-leisure dan bersenang-senang dalam hidup mereka. Tiap akhir pekan menghadang, hanya pergi ke mall lalu balik ke rumah. Tak pernah sekalipun saya lihat keluarga mereka plezier ke Bali, misalnya. Namun demikian, beruntung mereka masih mau iuran RT/RW, masih mau nyumbang pembangunan gedung PAUD, dan masih peduli dengan menyantuni anak tetangga yang ileran dan belekan lantaran kurang gizi. Menarik memang, meski gak pernah jalan-jalan ke Lombok, mereka juga masih sempet-sempetnya nyumbang kegiatan maulid Nabi SAW di mushola deket rumah. Golongan ini ‘pelit’ terhadap diri sendiri, namun royal terhadap lingkungan sekitar. Mereka masih mau bersosialisasi dengan warga sekitar tempat tinggal.

Nah, celakanya golongan kedua ini adalah meski kaya, namun tidak sadar ia kaya malahan justru apaptis terhadap lingkungan sosialnya. Sungguh, saya kasihan terhadap mereka, tidak bahagia hidupnya. Dibudak oleh harta, tanpa mampu menikmatinya. Pergi pagi, pulang malam, begitu saban hari menumpuk dan mengumpulkan harta. Apesnya lagi, dalam tata pergaulan masyarakat pun golongan ini nyaris diacuhkan bahkan tidak di reken keberadaannya oleh Pak RT/RW. Kalau ia mati, entah ketabrak Bus TransJakarta atau tertimpa pohon tumbang, dipastikan gak ‘kan ada orang yang men-shalatinya, bahkan tetangga kiri kanan pun segan bertandang ke rumahnya tuk ngelawat.  


Maka, beruntunglah kita bila diamanahi kekayaan oleh Tuhan YME dan sadar bahwa kita kaya karena-Nya dan membelanjakan kekayaan itu untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar, amien. 

Senin, 15 Agustus 2016

Menelisik Motif Seseorang Menjadi Warga Negara (Asing) Amerika

Saat menjadi tamu dari Kemeneterian Luar Negeri Amerika Serikat dalam program International Visitor Leadership 2016 (IVLP) Maret silam, aku, dan beberapa peserta lainnya ditemani oleh pendamping yang bertugas sebagai Liason Officer dan penterjemah bagi kami, peserta dari Indonesia. Maklum, tidak semua dari kami yang empat orang ini lancar ber cas cis cus dengan style American English. Menyadari bahwa program ini sangat penting bagi transfer pengetahuan dan menjalin mutual understanding diantara kedua anak bangsa, Indonesia dan warga Amerika, pihak Kemenlu USA tampaknya tidak mau mengambil resiko. Dan, supaya program berjalan efektif dan lancar, mereka pun menyediakan dua orang penterjemah untuk kami.

Kedua penterjemah kami telah lama tinggal dan menetap di Amerika. Lancar berbicara bahasa Indonesia dan Inggris. Wanita (WNI) bersuamikan WN Amerika, dan seorang lagi, pria, ber-WN- Amerika. Keduanya adalah orang aseli Indonesia. Dikatakan asli karena keduanya sejak lahir, kecil dan tumbuh remaja tinggal di Indonesia, berdarah Indonesia, ditambah berayah dan ibu Indonesia. Namun, dalam perjalanannya suratan nasib lah yang membuat keduanya mempunyai WN yang berbeda.

Nah, saat senggang diwaktu break kegiatan, iseng-iseng aku coba menelisik kisah ‘kepindahan’ pendampingku, sebut saja namanya Jonny, dari WNI ke WN Amerika. “Pak Jon, kenapa sih milih jadi WN Amerika? Selidikku.
(jawabannya kurang lebih dalam redaksi yang bebas seperti ini) “Saya itu orangnya gak suka ribet Mas Rachmat. Coba bayangkan, saya dan keluarga tinggal disini (USA), mencari nafkah dan bekerja disini. Hampir dibilang jarang sekali kami pulang ke Indonesia. Bahkan pernah, saking jarangnya, selama 5 tahun itu paspor Indonsia saya nyaris bersih dari cap imigrasi Indonesia. Parahnya, meski saya jarang ke Indonesia atau bepergian ke lauar dari Amerika, namun saya harus memperpanjang passport itu 5 (lima) tahun sekali. Dan itu sangat menyita waktu saya. Bayangkan saja, saya tinggal di California, untuk mengurus urusan keimigrasian (passport), saya harus terbang ke kedutaan di Washington DC. Butuh waktu 4 jam terbang, sudah itu ditambah pula dengan keruwetan birokrasi khas Indonesia. Jadi ya, saya memutuskan pindah jadi WN Amerika agar PRAKTIS saja.” Ujarnya.

Kemudian dia menceritakan padaku tentang proses seseorang mendapatkan kewarganegaraan Amerika. Kebanyakan dari mereka (WNI atau WN luar Amerika yang melamar menjadi WN Amerika) sebelumnya telah mendapatan status Permanent Resident atau PR. PR adalah semacam pintu masuk untuk menjadi WN Amerika. “Saya pun juga demikian, Mas Rachmat”, ujarnya. Lalu ia kembali menjelaskan bahwa sebenarnya status PR dengan WN Amerika lainnya kedudukannya hampir tak ada beda. Semua hak dan kewajiban hukum yang melekat bagi seorang PR dan Warga Negara Amerika lainnya sama. Perbedaanya hanya pada urusan politik saja yakni WN Amerika boleh nyoblos Pemilu. Mereka boleh ikut election, pemilihan presiden Amerika, Hanya itu, tak lebih.

Nah, di lain waktu, pendampingku yang seorang lagi sebut saja namanya Wati, karena ia menikah dengan WN Amerika, maka ia telah mendapatkan PR. Ia pernah ‘curhat’ padaku, “Mas Rachmat, enaknya gimana ya, apakah aku apply jadi WN Amerika atau tetap dengan status ini. Toh aku juga jarang sekali ke Indonesia. Hidupku lebih banyak disisni, di Amerika.”
Dengan bijak aku kasih pandangan. “Mbak Wati, kata Pak Jonny, PR itu kan gak beda dengan WN Amerika. Mempunyai hak dan kedudukan yang sama di mata hukum. Nah, buat apa pula ngelamar jadi WN Amerika. Toh dengan masih memiliki passport hijau Indonesia, mbak punya keterikatan batin dengan Indonesia, disamping itu kalau suatu saat mbak berencana ‘pensiun’ dan menghabiskan masa tua di tanah air, mbak bisa beli tanah dan rumah di Indonesia. Kalau tak salah kan kepemilikan tanah untuk WN Asing dilarang di Indonesia.” Begitu kira-kira advisku. “Iya juga mas”. Ujarnya menutup obrolan kami.

Nah, bicara mengenai kasus Arcandra Tahar, Menteri ESDM saat ini, perlu juga ditelisik latar belakang dan motif yang bersangkutan mendapatkan passport Amerika. Dari obrolanku dengan kedua orang pendampingku itu maka dapat diduga bahwa lantaran Arcandra telah lama tinggal dan bekerja di Amerika, tentu ia sebelumnya telah mendapatkan status Permanent Resident (PR)  sebagai syarat untuk ‘meningkatkan status’ nya menjadi WN Amerika.

Lalu apa yang menjadi motif Arcandra melamar jadi WN Amerika. Apakah motif nya sama dengan Pak Jonny itu, karena ribet harus gonta-ganti passport ataukah ada motif lain? Apapun motif dan tujuannya, hanya Tuhan dan Arcandra yang tahu. Namun dari situ kita bisa sedikit menilai jiwa dan semangat patriotisme yang bersangkutan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia. Tentu kadar dan bobotnya berbeda dengan Umar Bakrie, guru yang bergaji kecil namun tetap setia dengan pengabdiannya. Nasionalisme Arcandra Tahar juga tak bisa disamakan dengan Ngadinu, tukang becak di Solo yang mengaku pernah menempeleng pemuda rakyat di tahun 1965.

Bicara masalah nasionalisme dan patrotisme, tentu akan panjang dan menyita energy kita. Ahh persetan dengan nasionalisme, ahh masa bodo dengan patriotsime, toh kewarganegaraan tidak ditanyakan malaikat maut saat kita meninggal, misalnya. Ok, aku tidak menyalahkan mereka yang punya pikiran itu, namun aku punya prinsip, bila seseorang telah meng-apply kewarganegaraan asing, bersumpah setia terhadap Negara asing itu, maka yang bersangkutan tentu tak mau ambil pusing dengan apapun yang terjadi di Indonesia. Ia tentu saja lebih concern dengan Negara ‘barunya’ tempat ia mencari makan dan hidup. Tempat dimana ia menghabiskan waktu dan hidupnya. Indonesia? Nanti dulu.


Kenapa aku bisa pada kesimpulan itu karena dengan ia menjadi WN (asing) Amerika, misalnya, maka ia dapat menentukan kebijakan dan arah politik bangsa Amerika dengan ikut pemilu misalnya. Lalu untuk apa pula seseorang bersusah payah menjadi WN (Asing) Amerika bila dengan status PR saja ia sudah mendapatkan segalanya di Amerika. Toh, cukup dengan status PR saja, kewarganegaran Indonesia-nya tak kan hilang. Lalu dimana letak kepeduliannya terhadap Indonesa bila –mungkin- saja ia tidak memilih presiden Indonesia, karena paspornya otomatis hangus akibat kebijakan dari UU Nonor 12/2016. Namun, terlepas dari apapun motif dan tujuannya, dimataku bagi seseorang yang sudah (pernah) menjadi WN Asing, tentu tak lah elok untuk dilibatkan membicarakan nasib dan masa depan (kemajuan) Indonesia kedepan. 

Selasa, 12 Juli 2016

Susahnya Nyari Buah Tangan Ber-Made In USA

Bagiku, menjadi ‘beban’ tersendiri bila bepergian jauh ke suatu tempat sudah dipusingkan dengan keruwetan mau beli apa tuk dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Menjadi beban kalau kebetulan duit cekak, sedangkan request dari istri, anak atau kerabat harus dituruti, bila tidak, bakalan end! Kalaupun uang tersedia, kadang aku bingung mau membelikan apa untuk mereka. Maklum, tak semua tempat yang dikunjungi banyak tersaji buah tangan atau sesuatu yang khas yang layak tuk dibeli.

Paling enak tentu pergi ke tempat-tempat yang kaya akan budaya dan kulinernya. Sumatera Barat misalnya, beli saja keripik sanjai ‘tuk oleh-oleh, beres! Ke Jogja pun demikian, borong saja batik, selesai urusan! Namun, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang kita sendiri bingung mau nyari apa lantaran tidak ada yang khas atau istimewa dari daerah itu.

Nah, inilah yang menjadi kegalauan dan bebanku lantaran dititipi ‘oleh-oleh’ menjelang keberangkaanku ke Amerika Serikat, Maret silam. Sebelum berangkat, orang rumah, yakni istri dan saudara-saudaraku jauh-jauh hari berpesan. “Mat, pokoknya gw jangan dibeliin apa-apa, cukup celana levis aja, ukurannya 42 ya,” pesan kakakku. Adikku yang laki gak mau kalah: “Bang, gw jaket aja ya.” (Saudara) Yang lain? Ya 11 12. Mereka juga kepengen dibelikan oleh-oleh khas Amerika. Dengan canda kubalas permintaan mereka. “Iya, tenang aja, kalo perlu patung liberty gw bungkus,” jawabku dengan santai sambil ngeloyor pergi meninggalkan mereka, hehe..

Apa sih yang menjadi ciri khas Amerika yang bisa dijadikan oleh-oleh? Jeans, tentu saja! Celana itu sudah menjadi semacam trade mark bagi mereka. Dikenal dengan celana cowboy, lantaran si pemakai adalah para penggembala sapi yang menggembakan hewan peliharaannya dengan berkuda dan hidup di padang rumput di pedalaman Amerika. Kata temanku, (jeans) disana selain tentunya asli, juga murah ketimbang di Jakarta. Selain celana jeans, aku belum ada gambaran mau beli apa lagi disana. Yang ada dalam pikiran palingan membeli gantungan kunci dan tempelan kulkas. Hanya itu. Sepertinya gantungan kunci atau tempelan kulkas sudah menjadi oleh-oleh yang mainstream, yang biasa dibawa sebagai buah tangan dari luar negeri.

Beruntung, ditengah padatnya business meeting dan acara-acara resmi lainnya di Washington DC, kami, peserta #IVLP dari Indonesia masih bisa mencuri sedikit waktu di sela-sela jam makan siang. Ya, siang itu selepas rehat, kami dengan dipandu oleh Pak Hengky, sebagai yang punya wilayah, meluncur ke ‘pinggiran’ DC, ke kawasan yang disebut “Gudang”. Gudang ini letaknya masih di kota DC, namun agak menjauh dari ‘pusat kota’. Adanya di kawasan ‘hitam’, yang banyak dihuni oleh warga African American. Alamatnya? Wah, lupa nyatet, namun tak jauh dari Capitol Hill kearah timur.

Tak banyak turis atau orang luar DC yang tahu keberadaan gudang ini. Maklum tempatnya memang menyerupai gudang beneran, tempat bongkar muat. Gudang ini adalah pusat grosir oleh-oleh. Hanya orang-orang tertentu saja, semacam Pak Hengki, penghubung kami di USA yang tahu letaknya. Ada beragam perintilan yang disediakan, seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, pulpen, gelas souvenir, kaos, aksesoris penghias meja, dan sebagainya. Melihat itu semua, kami seakan kalap. Maklum harganya yang miring. Sebelumnya kami telah survey harga. Perintilan yang ada di Gudang banyak di jajakan di toko bermobil, di pinggiran jalan di tengah kota, seperti di dekat objek-obyek wisata (monument Washington, Monument Hall, dsk) namun harga yang mereka tawarkan rada mahalan. satu item rata-rata 1 (satu) dollar. Nah, kalau di gudang ini harganya bandrolan. Harganya di hitung per kantong atau bisa juga per lusin. Rata-rata 10 item bisa kena 6 dollar, tergantung pinter-pinternya kita menawar.

Setelah urusan oleh-oleh yang ‘mainstream’ terpenuhi, kini giliran mencari oleh-oleh yang rada mahalan. Ya, masak cuma gantungan kunci. Kan gak mungkin pergi jauh-jauh ke Amerika hanya beli itu saja. Nah, inilah sulitnya. Meski barang disana bagus-bagus namun made in nya buka made in USA melainkan made in china.

Diperhentian kota berikutnya, di Philadelphia, beberapa temanku membeli parfum, baju, tas, sepatu ataupun jaket musim dingin yang banyak dijual di store dan supermarket disana. Katanya sih murah, ketimbang beli di Indonesia, sudah begitu, branded pula. Aku tentu saja tertarik, ingin juga membeli satu atau dua barang sebagai buah tangan. Namun saat kepengen beli, selalu saja urung. Ada saja yang kurang sreg. Ya itu tadi, kebanyakan barang yang ter-display ber-made in bukan made in USA.  

Begitulah, setiap kali tertarik ingin belanja dan beli sesuatu, yang selalu aku perhatikan pertama kalinya adalah made in nya. Jangan sampai beli di Amerika namun ber-made in China, ntar disangka belanja di PGC lagi, hehe.. Nah, pas asyik menelisik label made in tersebut, ada juga ternyata made in Indonesia di USA. Untung gak kebeli. Kan lucu jauh-jauh belanja di Helena, nyatanya barangnya buatan Solo, Indonesia.  grgh grgh..

Selain China, kuperhatikan banyak pula barang-barang buatan negara dunia ketiga atau negara berkembang, semisal Vietnam, Bangladesh, Haiti, Honduras, Malaysia, dsb. Jarang sekali barang buatan eropa, meskipun ada satu dua ber-made in dari negara di kawasan eropa timur.

Kalau temanku sudah mem-voor belanja oleh-oleh di DC dan Philly, hingga kopernya beranak menjadi satu, penuh dengan buah tangan, aku masih menahan diri, belum belanja banyak. Dollar masih kusimpan, belum banyak kubelanjakan. Maklum, masih ada tiga kota tersisa.

Tampaknya siasatku terbukti topcer. Di dua kota terakhir yang kami sambangi, di Helena, Montana dan Salt Lake City, Utah, barulah aku hamburkan dollar-ku. Aku banyak shopping lantaran di kedua kota itu barangnya bagus-bagus dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang di kawasan east coast. Di Salt Lake City misalnya. Ada satu toko dekat dengan hotel Little Amerika, tempat kami menginap, yang menjual barang-barang kebutuhan hidup mulai dari baju, jas, jaket, hingga perkakas rumah tangga dengan harga yang sangat murah dan kualitas yang sangat bagus. Aku banyak membeli aksesoris kecil, kaos, jaket, dan baju musim dingin.


Begitulah, sampai menjelang kepulanganku, setelah lebih kurang berada satu bulan di beberapa kota di Amerika Serikat, aku masih belum juga mendapatkan sesuatu yang unik, khas, dan menarik. Tadinya kupikir bisa membeli semacam keripik sanjai atau dodol garut. Namun Amerika bukan Indonesia yang kaya akan dunia kuliner. Jadilah hanya kaos dan gantungan kunci yang terbeli, sebagai oleh-oleh khas Amerika. Dan, satu lagi, sungguh sangat susah menemukan merk barang ber-made in USA.