Tampilkan postingan dengan label IVLP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IVLP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Januari 2018

Imitate the spirit of sharing from Granite City.

Some volunteers I saw were busy loading bottles of milk, meat and vegetables into the walking basket, as I see when shopping at a supermarket, in Jakarta.. There's also that-because he's old, I've been for about sixty years-just sitting and taking down the expenses and receiving the incoming goods. Yes, it seems he is in charge of the bookkeeping department. In the corner I watched a grandmother sitting on a lounger waiting for her name to be called. The atmosphere in the room measuring 4X6 meters was like a queue at the Public Service. A few moments later, the name of the grandmother was called, and the volunteer came up with a basket full of various food needs for the grandmother.

When I turned, there was a 5 pound rice, bread, processed meat/fish like sardines, vegetables, and fruits and some bottles of liquid milk, all in the basket. I'm afraid, the super-complete foods - that's enough for one week ahead. Luckily, I can freely observe the activities in this 'department store' because in the schedule #IVLP today, one of the activities listed in my agenda is as a volunteer. My job is to help them pack and sort things out.

Who are they and why am I labeling a 'department store'? Here's the story. In my trip to the United States, in March 2016, ago. I had the opportunity to visit an area on the edge of the state of Illinois, in Granite City, bordering St. Louis. Here, there is a local social organization called Granite City Community Care Center, Inc. The institute specifically caters to marginalized, social troublemakers, such as the homeless, as well as the poor families around Granite City. No less than 3000 people per month can be served Center or about 100 people per day who regularly came to this 'department store'.

The Center itself is like a department store that provides a variety of necessities of life for the poor in vicinity. And everything is given free or free. A wide variety of food, drink and live furnishings are available and complete. There is a large warehouse that is specially prepared to accommodate diverse necessities of life, ranging from clothing to all ages, from children to the elderly with a variety of modes for all seasons, even toys are available. Center itself has an office together with a warehouse to store various needs of citizens, both clothing and food.

To accommodate thousands of clothing donated by residents, the Center prepared a kind of 'boutique' on the top floor of an area of ​​approximately 200 square meters. The clothes-apparently still worthy of use, may be used only once or even have never been worn at all-, sorted by type, size, and designation. There are summer outfits, there are also clothes for winter. Also, separating clothes, both for children and adults. And of course, men and women's clothing.

Besides, food needs are also provided. The supply of food was obtained in addition to donations from donors in the form of food, as well as donations in the form of money bought in the form of food. To accommodate and store all the food, the Center prepares several refrigerators (refrigerator) or cold storage as the size of a large wardrobe. Various processed ingredients such as meat, fruits, vegetables and milk into the refrigerator.

Those who come to the Center are the poor who live nearby, not even that, some are coming from the next area. I was surprised when I saw those who came mostly driving. However, my rushing companion explained that car ownership is not something fancy in America. Because the car has such a primary needs for most Americans, such as the ownership of motor vehicles for the poor in Jakarta. Here, the rich and poor indicators are not determined by car ownership, but the extent to which they can live independently to make ends meet.

To get help from the Center, they are recorded by volunteers and given a kind of social security card. On the card was recorded the names of family members. Although the impression of "wow" and royalty in giving (charity) is seen in this Center, unfortunately, the value of this policy, whether consciously or not, will make them (spouses of social problems) become spoiled and lulled by the ease of obtaining assistance in the form of goods or food, which is indeed abundant. It seems that the policy came out of the grip that I believe this is better teaching fishing than fishing. However, the Center may have its own consideration. And, it may be that those people who are helped are really citizens who should always be helped like elderly parents who disable to work anymore.


The spirit of sharing is indeed one of the strengths of Americans. They do not hesitate to help someone who really needs help. This spirit seems to be fading and difficult to implement in Jakarta. Either, perhaps because the level of care of the citizens of the city is less or it could be no one who can move and to organize the potential that exists in the community. And the model of social institution such 'department store' like Granite City Community Care Center, inc this when applied in our environment will be super power magnitude. Hopefully!

Kamis, 04 Januari 2018

Kunjungan Pihak Kedubes USA ke Kantor

Saat itu selepas Sholat Jumat. Maret, sekira awal-awal bulan. Waktu itu kami (saya dan Pak Jum, selaku Kabid PP dan PA) sedang padat-padatnya kegiatan dan kerjaan. Ya, meski masih awal tahun anggaran, dalam arti, belum ada kegiatan yang bisa dilaksanakan, tidak lantas hari kami kosong tanpa kerjaan. Justru di bulan Februari dan Maret 2015 itu, kami disibukkan dengan proyek pengerjaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, (RPTRA) yang menjadi ‘anak emas’ atau program unggulannya Bu Vero, selaku Ketua TP PKK Prov. DKI Jakarta. Hampir tiap hari, saya dan Pak Jum (tentu Bu tantri, --selaku Kasubid LPA juga--, namun beliau lebih banyak di kantor dan mengurusi kerjaan lain, seperti kasus Pupellla dsb) pontang panting menginisiasi proyek tersebut lantaran ini adalah pilot project untuk pembangunan ratusan RPTRA berikutnya. Harap maklum, kami hanya berdua saat itu lantaran Ewi, partner saya, sedang cuti melahirkan. Jadilah tiap hari, kami, berpindah tempat dari satu palagan ke palagan lainnya –berkoordinasi-- hanya untuk menyiapkan RPTRA ini.
                     
Seperti biasa, sehabis sholat Jum’at ditegakkan, saya makan siang. Namun, kali ini Pak Jum ikut serta. Jadilah kami makan bersama di Soto Mas Hari, Cempaka Putih. Nah, ditengah-tengah santap makan itu, Bu Evi mengabarkan bahwa orang dari Kedutaan Amerika sudah datang di Kantor. Oh ya, sebelumnya memang saya sudah denger selentingan kabar bahwa akan ada pihak dari Kedubes USA yang mau datang ke kantor untuk membicarakan masalah kerjasama atau apalah namanya dengan Bidang PP. Jujur, saya tidak terlalu antusias dan berprasangka macam-macam dengan kehadiran mereka. Alih-alih merasa senang atau sudah ada gambaran akan ada good news dari kehadiran mereka, yang ada dibenak saya –saat itu-- mungkin pertemuan biasa saja. Walhasil, selepas makan, bergegas lah kami ke kantor menemui mereka.

Merasa ini adalah pertemuan tingkat pejabat, maka saya pun tidak terlalu aktif atau sengaja melibatkan diri. Biarkan saja Pak Jum beserta para Kasubid menemui mereka. Namun tatkala saya bersiap membuka file di komputer, seraya berdiri dari ruangannya yang memang terlihat dari posisi duduk saya, Pak Jum memanggil saya. “Mas Rachmat, tolong kemari.” Saya tahu maksud panggilannya. Tentu saya diminta untuk menerjemahkan maksud dan kehendak para pihak (Pak Jum Cs, serta Kedubes USA) dalam berkomunikasi. Ya, meski pihak Kedubes Amerika menyertakan Bu Kus Wahyuni sebagai penerjemah dari Ms. Stephanie M Stallings, namun tampaknya Pak Jum mempercayakan saya untuk mendampinginya. Meski bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat, namun saya yakin bahasa Inggris saya tentu bisa mengimbangi eksen amerika-nya Ms Stephanie, hehe.. 

Di ruang Pak Jum, selain para Kasubid yang hadir tampak pula 2 (dua) orang wanita. Satu orang kita (Indonesia), dan yang lainnya bule cantik. Mereka memperkenalkan diri. Kami pun balas memperkenalkan diri. Lalu, tanpa basa-basi saya tanya maksud kedatangan mereka. Dengan sigap, Ms Stephanie selaku Political Officer Kedubes Amerika di Jakarta menjelaskan apa itu International Visitor Leadership Program (IVLP). Inti pembicaraan yang saya tangkap adalah pihak Kedubes USA akan mengundang atau meminta 1 (satu) nama dari Bidang PP dan PA untuk berkunjung ke USA mengikuti program dimaksud. “Wah program apa lagi tu,” batinku. Selepas penjelasan, terjadi dialog. Ya semacam tanya jawab mengenai program dan semacamnya. Namun saya enggan menelisik lebih jauh tentang apa itu IVLP, takut semakin mupeng. Jujur, mendengar penjelasan dari Ms. Stephanie M Stalling, hatiku berdetak kencang. Widihh ke Amerika.. Gratis, selama 3 minggu. Ckck.. Namun saya sadar, siapa lah saya yang hanya staf biasa di kantor. Kalaupun saya ada kelebihan dan potensi ketimbang staf lainnya tapi itu pun masih jauh untuk membayangkan bahwa saya lah yang nantinya ditunjuk pergi ke Amerika mengikuti seleksi program IVLP tersebut.

Pertemuan yang singkat itu pun usai. Saat escort (mengantar) mereka kembali ke parkiran mobil, tak lupa Ms. Stephanie dan Bu Kus Wahyuni mengingatkan sekali lagi bahwa mereka sangat berharap --dengan segera-- agar Bidang PP dan PA dapat menunjuk 1 (satu) nama tersebut. ASAP! Mereka memberikan waktu seminggu. Namun, yang namanya birokrasi tetaplah ribet dan terlalu prosedural. Nampaknya pihak Kedubes USA belum terlalu familiar dengan jalur dan jenjang birokrasi yang harus kami lalui. Tidak semudah itu menentukan dan menunjuk satu nama untuk diikutkan dalam seleksi IVLP 2016. Dan itu mungkin yang terlintas di pikiran Pak Jum. Tidak mudah menentukan siapa yang layak ke Amerika. Menunjuk si A tentu harus ada dasarnya, tidak asal tunjuk saja. Sadar akan itu, segera atas inisiatif pribadi dan arahan pak Jum, saya menulis nota dinas ke Bu Dien, selaku Kepala BPMPKB. Ya, semacam laporan agar beliau memberikan disposisi dan arahan.

Sesudah pertemuan terlihat masing-masing Kasubid mulai saling ‘ledek-ledekan’.
Wah enak neh kalo kita bisa ke Amerika,” sahut A.
Pak Jum, saya saja ya yang ke Amerika-nya, sekalian ngecengin bule sana,” canda Si B.
Aduh saya juga mau.. saya aja ya,” teriak yang lain.
Pak Jum tentu berada dalam posisi dilematis. Meng-iya-kan Kasubid yang ini tentu akan menyakiti Kasubid yang itu. Mendisposisikan ke Subid A tentu gak enak dengan Subid B.

Dari penjelasan Ms Stephanie tergambar bahwa program IVLP untuk tahun 2016 ini akan mengambil tema “Sistem Peradilan Anak.” Nah, mengacu pada tema tersebut tampaknya Subid saya lah yang punya chance besar untuk ditunjuk. Saya sendiri, tentu saja berharap-harap cemas. Ya, selain Pak Jum tentunya, masih ada Bu Tantri yang menjadi atasan saya yang mempunyai peluang terbesar untuk diikutkan dalam seleksi IVLP 2016 ini. Saya berusaha realistis dengan menyodorkan pilihan agar Pak Jum saja yang ke Amerika, saya akan menjadi cadangannya, mengingat persyaratan usia yang harus di bawah 45 tahun, sedangkan Pak Jum sudah kepala 5. Pertimbangannya, bila Pak Jum gagal diproses seleksi administrasi, maka saya berpeluang menggantikannya. Namun Pak Jum tidak bereaksi atas usulanku. Tampaknya beliau menunggu arahan dan disposisi dari Bu Dien.

Beberapa hari kemudian keluarlah disposisi dari Bu Dien. Ia menyambut baik tawaran tersebut. Namun celakanya ia tidak serta merta mengarahkan agar bidang PP menunjuk satu nama, melainkan meminta agar pihak Kedubes USA bersurat ke Gubernur DKI Jakartta. Beliau berpandangan bahwa kerjasama ini (pengiriman utusan IVLP) sudah menyangkut G to G. Jadi, bukan level-nya Kaban untuk menindaklanjutinya.
Wahh.. bakalan lama dan ribet lagi neh urusan. Padahal pihak sana (Kedubes) hanya meminta Bidang PP&PA untuk mengirim 1 (satu) saja nama untuk ikutan seleksi. Ya, cuma mengirim nama dan di-email ke mereka. It’s so simple. Kenapa harus melibatkan Gubernur..? batinku.

Tanpa membuang waktu, langsung saja saya ber-sms dengan Bu Kus, mengabarkan bahwa pihak Pemprov DKI Jakarta membutuhkan surat dari Kedubes USA sebagai dasar dan legal standing menentukan atau menominasikan 1 (satu) nama untuk diikutkan dalam seleksi program tersebut. Beruntung, Bu Kus mau menerima penjelasan saya. Sejurus kemudian surat itu sampai ke kantor melalui fax. Segera saya menindaklanjutinya dengan mengirimnya langsung ke ajudan Gubernur, tanpa melalui ‘calo’ atau perantara.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih semingu, keluar lah disposisi dari Gubernur. Nah, disinilah perasaan galau dan deg-degan terjadi. Ya, sejak awal saya yang mengawal proses ini, --menghubungi para ajudan dan sekretariat Gubernur hingga Sekda-- namun hingga saat ini belum ada kepastian siapa yang akan ditunjuk sebagai nominasi mengikuti seleksi program IVLP 2016 ke USA. Meski secara tidak resmi saya sudah ber-email (atas arahan Pak Jum) ke Ms Stephanie, me-info-kan bahwa nama saya yang dinominasikan untuk mengikuti program tersebut, namun dalam email itu jelas saya memberi note bahwa nama saya masih tentative, dalam arti masih bersifat sementara, sembari menunggu arahan dan disposisi dari Gubernur.


Ada yang bilang kalau rezeki takkan kemana. Syukur Alhamdulillah disposisi itu turun berjenjang, dari Gubernur ke Kekda lalu ke Kepala BPMPKB, kemudian ke Kabid PP & PA. Akhirnya, Pak Jum secara resmi menominasikan saya untuk mengikuti seleksi program tersebut. Segera, dengan hati berbunga, saya buat surat dari BPMPKB Prov. DKI Jakarta, --officially-- yang menginformasikan bahwa saya lah yang dinominasikan untuk mengikuti proses seleksi IVLP 2016, ke email Ms. Stephanie. Alhamdulillah, satu tahapan langkah menuju ke Amerika telah dilalui.

Pesta dan Bahagia dari Kegagalan.

Akibat mengikuti proses lelang jabatan di BPTSP awal tahun 2015 lalu --maka karena system itu-- aku harus hengkang dari BPMPKB yang telah menempaku lebih kurang selama 5 tahun ini. Sejak awal Mei 2015 aku sudah tidak berkantor di Ahmad Yani, By Pass. Banyak kenangan dan romantika yang kuperoleh selama ini. Suka serta duka. Kejenuhan dan kedinamisan. Semuanya hadir silih berganti.

Jujur, rada kaget juga saat tahu bahwa listing gajiku per Mei 2015 sudah tidak tercantum lagi di BPMPKB. Ini berarti, secara de jure aku bukanlah pegawai BPMPKB. Kemana gerangan nyangkutnya? Walhasil, aku harus cari tahu dan menyelidiki ada dimana daftar gajiku itu. Beruntung seorang kawan memberikan clue. “Mat, mungkin gaji loe nyangkut di BPTSP, kan loe pernah daftar ikutan lelang di BPTSP.”
“Oh iya, mungkin juga ya,” batinku.

Akhirnya, selepas upacara hari Kebangkitan Nasional di IRTI Monas, bersama Pak Jum aku meluncur ke gedung BPTSP mencari tahu akar masalah dan sebab musabab status kepegawaianku. Nah, ternyata dugaan temanku benar adanya. Listing gajiku sudah ada di BPTSP. Menurut cerita dari Staf kepegawaian BPTSP, bahwa mereka telah berulangkali coba mengontakku, namun hasilnya selalu nihil. Bahkan pihak kepegawaian BPTSP telah menghubungiku sejak pertengahan awal Maret, namun sayangnya nomor HP yang mereka peroleh salah. Terjadi kekeliruan dan keterbalikan angka.

Jujur, saat mengikuti proses lelang jabatan, dan gagal, ada perasaan sedih dan kecewa. Kenapa aku bisa gagal? Padahal, aku telah mengidam-idamkan posisi dan jabatan itu. Terbayang saat hadir di acara pelantikan pejabat teman dan bersua dengan rekan-rekan yang lulus dan terlantik hari itu. Ada perasaan sedih. Mereka dilantik, kenapa aku gagal?  Bahkan rekan se-kantorku pun banyak yang ikut terlantik. Hanya aku seorang yang tidak terlantik. Sedih rasanya kalau mengingat itu. Bagimanapun juga kegagalan adalah hal yang pahit. Kegagalan bukan untuk di rayakan.

Namun, jalan takdir dan suratan nasib telah ditentukan. Bisa saja aku lulus dan dilantik, tapi apakah itu nantinya membuatku bahagia? Bisa saja aku peroleh nilai yang baik dalam proses seleksi, namun apakah itu membuatku nyaman dengan posisi dan jabatan yang aku peroleh? Allah SWT telah menggariskan-ku gagal, dan mencukupkan-ku hanya sebagai staf.

Kalau aku set back, aku bersyukur ditakdirkan gagal. Ada beberapa kejadian yang membuat aku mensyukuri kegagalan dan ketidakberhasilan-ku. Lho kenapa kegagalan layak disyukuri dan dirayakan? Ini hikmahnya. Andaikata aku lulus dan dilantik, maka akan terjadi:

Pertama; Aku menyesal dengan posisi dan jabatanku saat ini. Kedua; Aku terbebani dengan jabatan-ku dan tidak enjoy dengan semua itu.
Banyak teman bercerita dan berkeluh kesah kepadaku lantaran mereka tidak nyaman dan tidak enjoy dengan posisi sebagai pejabat saat ini.
“Enakan loe, mas, jadi staff. Nyesel gw ikutan lelang dan jadi pejabat,” kata si A, temenku.
“Masih enakan di kantor lama, disini gak bisa kemana-mana” kata si B, juga temanku.
“Ah, banyakan nombokin, gw, uang pribadi banyak kepake, enakan loe, mas jadi staf, nyantai gak ada beban,” sungut si C, masih temanku.
Pada intinya, semua teman yang aku kenal, menyesal ikut lelang jabatan dan jadi pejabat.

Meski aku gagal dalam lelang jabatan di BPTSP --lantaran kuota yang terbatas-- namun bila saja aku peroleh nilai lumayan baik, niscaya aku akan menjadi pejabat di tempat lain (ikut pelantikan berikutnya) tentu aku telah hengkang dari BPMPKB sekitar bulan Februari. Artinya semenjak Februari aku mungkin menjadi pejabat di kelurahan atau di sekolah. Dan, aku akan bergelut dengan suasana dan budaya kerja baru, yang berbeda dari tempatku kerja selama ini.

Mungkin ini yang orang sebut, bila rezeki, gak kan kemana. Saat aku gagal ikutan lelang, seharusnya, --sebagai konsekwensinya-- aku harus pindah ke BPTSP sebagai staf. Nah, dengan sistem itu, santer terdengar bahwa aku akan dipindahkan ke BPTSP. Tapi kapan? Bulan besok, 3 bulan lagi atau bahkan tidak sama sekali. Gosip berseliweran. Banyak pula ‘ledekan’ yang terdengar, “eh kapan pindah ke BPTSP?” Kata temanku. Aku pun tidak tahu persis kapan bisa segera pindah ke BPTSP. Aku hanya pasif menunggu telpon dari mereka. Dan, dilalahnya, staf kepegawaian di BPTSP gagal menghubungiku lantaran nomor yang mereka peroleh dari BKD, salah.

Mujur tampaknya. Dengan gagalnya mereka menghubungiku, akibatnya aku masih tertahan di BPMPKB hingga akhir April. Sepanjang masa itulah terjadi berbagai peristiwa, kegiatan, dan pekerjaan yang bisa mengubah segalanya. 2 (dua) bulan ‘bonus’ di BPMPKB membuatku berkesempatan jumpa dengan pihak Kedubes USA. Mungkin akan lain cerita bila mereka –staf BPTSP-- berhasil menghubungiku di bulan Maret itu, kesempatan ke USA akan terbang. (kisahnya dirubrik terpisah).


Beranjak dari kejadian itu, banyak hikmah yang aku petik. Ternyata berbaik sangka dengan Allah SWT itu suatu keniscayaan. “Ana ‘inda dzonni abdi, Aku menurut persangkaan hambaku,” begitu yang kerap kudengar dari ustazdku saat mengurai hikmah berbaik sangka dengan Rabb. Ada hikmah yang terkandung di balik suatu peristiwa. Aku selalu berpikir positif atas kegagalanku. Mungkin memang jalanku harus seperti ini dan tetap menjadi staf. Kembali ter-ngiang di telinga saat Ustazku mengutip firman Allah SWT, yakni, boleh jadi sesuatu yang kamu nilai baik, ternyata jelek di mata Tuhan. Dan sesuatu yang kamu nilai jelek, bisa jadi, ternyata baik di mata Tuhan. 

Minggu, 19 November 2017

Budaya Tip

Beberapa jam sebelum berangkat ke USA, pihak Kedubes USA mengundang kami untuk mengikuti pertemuan singkat atau semacam pre departure briefing. Ini semacam pembekalan singkat dan arahan atau petunjuk apa-apa saja yang harus/tidak boleh dikerjakan di sana. Dalam briefing pre departure ini juga diterangkan sedikit tentang adat istiadat, kebiasaan dan budaya Amerika yang tentunya berbeda dengan Indonesia. Salah satunya adalah pemberian tip.

Di Amerika berlaku budaya tip atau persenan. Boleh dibilang Tip adalah sunnah muakkadah atau sesusatu yang sangat dianjurkan dan diapresiasi. Jika ‘dilanggar’, meski tidak ada sanksi hukum namun tentu kurang bijak bila kita mengabaikannya. Lantaran ini sudah semacam budaya, tentu dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung. Tip ini yang berupa pemberian ‘uang receh’ ini tentu semacam apresisasi dan penghargaan kita kepada seseorang yang telah melayani dan membantu kita. Bagiku tip tak masalah, toh hitung-hitung berderma kepada sesama, hehe..

Karena tip diberikan bila kita dalam posisi dilayani, maka biasanya kita harus menyiapkan uang kecil bila kita berada di hotel, di restoran atau saat naik taksi. Di hotel, misalnya saat cek in dimana kita membawa koper banyak dan bell boy/room membantu kita mengangkat dan membawakan koper-koper itu ke kamar, tentu kita harus memberikan tip. Berapa? Kisarannya adalah 1 koper seharga 1 dollar. Jadi kalo kita rasa mererka membantu kita dengan sangat baik dan koper-koper itu berat, tentu tak ada salahnya memberikan minimal 2 hingga 5 dollar sebagai tip. Lalu dimana tip

Nah, bila kita berada di restorant atu rumah makan, dan sistem pelayanannya bukan self service atau semacam restoran cepat saji, dimana biasanya waitress atau pelayan akan melayani kita, seperti dituangkan minum, dihidangkan makanan (pembuka/penutup), maka begitu kita membayar bill tagihan makan, tentu kita harus menyisihkan sekitar 10 persen dari tagihan itu untuk tip kepada pelayan. Jadi bila tagihan makan kita 50 dollar, maka tip ke mereka sekitar 5 dollar. Namun adapula rumah makan yang telah mencantumkan item tiup kedalam lembar tagihan makan kita, jadi kita langsung membayar seharga tagihan itu. Oh ya, lantaran restoran cepat saji (self service) tidak ada pelayannya, maka kita harus membereskan perangkat makan kita setelah kita selesai bersantap. Ada tempat khusus untuk meletakan nampan, piring dan gelas ke dalam wadah khusus. Kecuali nampan, semua piring, sendok, dan gelas berbahan plastik dan langsung dibuang ke tempat sampah khusus.

Selain di hotel dan rumah makan, tip juga diberikan kepada supir taksi. Sama seperti di Jakarta, kadang kita membulatkan tagihan argo taksi dan memberikan kelebihannya pada si supir. Dari Bandara ke Kemang, misalnya, rata-rata tagihan argo taksi sekitar 125 ribu rupiah. Biasanya supir taksi –entah disengaja atau tidak- jarang mempunyai unga kembalian. Nah, disinilah kearifan kita. Kita harus tahu bahwa sebenarnya si supir juga mengharapkan agar uang kembalian itu tidak diminta oleh penumpang. Biasanya aku menyerahkan 2 lembar uang pecahan, yakni 100 ribu dan 50 ribu. Argo taksi itu aku bulatkan menjadi 150 ribu. Sisa yang 25 ribu itu aku ‘sedekahkan’ sebagai tip kepada supir taksi. Nah, bila kita bertaksi di USA, sesaat hendak turun dari taksi, kita harus menyiapkan sekitar 10 persen dari argo yang tertera. Jadi bila argo taksi kita menunjuk angka sekitar 20 dollar, misalnya, maka tip supir sekitar 2 dollar. Itulah ‘rule’nya.


Lalu, untuk menghemat pengeluaran tip ini. kadang aku menyiasatinya dengan meminimalkan seoptimal mungkin jasa pelayanan yang kuperoleh. Prinsipku, selagi bisa kulakukan sendiri, maka aku tak ingin meminta bantuan bell room untuk mengangkat koper-ku yang cuma dua, misalnya. Untuk pelayanan kamar hotel pun aku berhemat. Aku akan selalu menggantungkan tanda “Don’t Disturb!” di pintu kamar hotel, sebelum meninggalkan kamar untuk aktivitas keluar kamar. Tentu tujuannya agar kamarku tidak perlu dibersihkan tiap harinya. Bila aku tak menggantungkan tanda itu, maka pasti kamarku dibersihkan, dan akibatnya adalah ada kewajiban moral untuk menyelipkan 1 atau 2 dollar di bantal kamar sebagai tip untuk petugas pembersih kamar. Lalu kapan aku ngasih tip ke meraka? Biasanya aku akan memberikan tip saat cek out di hari terakhir aku menginap. Ketika check out itu, kuselipkan saja sisa-sisa koin dan dollar yang kupunya dan kutuliskan disecarik kertas. TIP FOR YOU! Jadi beruntung sekali petugas yang kedapatan membersihkan kamarku saat aku cek out, hehe..

Bangsa Yang Takkan Lupa Akan Sejarahnya

Jalur yang membentang sepanjang lebih kurang 1,2 kilometer itu tertata rapi dan anggun dengan pohon-pohon sakura yang menaunginya. Kuamati sebagian mulai bermekaran. Banyak burung-burung terbang dan hinggap di pepohonan dalam kawasan yang diapit oleh Independence Avenue dan Constitution Avenue. Kawasan ini memang menjadi icon-nya Amerika, atau Washington DC secara khusus. Banyak film-film yang pernah menjadi box office mengambil gambar di kawasan seluas lebih kurang 160 hectare ini.

Beberapa remaja kulihat sedang bermain piring terbang. Adapula sekelompok remaja yang bermain bola. Ya, taman berumput itu memang luas, dengan monument tinggi menjulang di tengah-tengahnya, persis seperti Monas di Jakarta. Berada dalam suatu kawasan yang memang di-design dan diniatkan untuk sebagai memorial. Mengenang berbagai peristiwa maupun figure seseorang yang pernah berjasa pada Amerika.

Pandangan kualihkan ke arah Tidal Basin. Tampak beberapa pasang turis asyik memadu kasih di taman rumput yang luas. Adapula yang duduk-duduk menikmati makanan yang dibeli dari truck/van resto yang banyak tersedia disekitar taman yang mengelilingi Washington Monument. Saat aku tiba sekitar jam 03.00 pm, sayangnya beberapa truck resto telah bersiap tutup, ini berarti makanan yang mereka siapkan telah habis. Meski demikian ada satu dua yang masih buka, namun antriannya sangat panjang. Aku tak tertarik untuk ngantri lantaran kulihat menu yang ter-display di body truck kurang cocok dengan lidahku.

Aku berjalan menjauh, mencari tempat yang pewe untuk berhenti dan duduk sejenak sembari menggigit apel, jatah sarapan pagi di hotel yang sengaja ku selipkan di tas sebagai bekal makan siangku. Ya, siang itu aku hanya makan roti dan apel untuk pengganjal perutku. Sebelum menelan sisa gigitan yang terakhir, kubasahi kerongkonganku dengan air. Meskipun lunch kali ini tanpa nasi, namun aku yakin sanggup untuk meng-explore kawasan di sekitaran ‘Monas-nya’ Washington hingga berjalan ke arah Lincoln Memorial ini.

Sebelum aku mengukur jalan, Mas Hengky, penghubung kami selama program #IVLP di Amerika menjelaskan bahwa di seputaran Washington Monument akan banyak dijumpai memorial dan tugu peringatan yang bagus-bagus untuk di foto. “Sayang kalau Mas Rachmat tak mengabadikannya”, begitu sarannya. Ya, ternyata memang benar adanya. Banyak spot-spot bagus dan menarik untuk kuambil gambarnya, sebagai bukti yang akan kuperlihatkan pada anakku nantinya, bahwa ayahnya yang katro ini pernah ke Amerika, hehe..

Amerika memang negara besar. Dan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Makin besar suatu bangsa, tentu makin banyak pahlawan yang dihasilkan. Amerika, dengan sejarahnya yang panjang, tentu memiliki banyak pahlawan. Para penandatangan deklarasi kemerdekaannya saja, adalah pahlawan-pahlawan mereka, belum lagi pahlawan-pahlawan di medan atau palagan peperangan yang pernah di jalani oleh negara Uncle Sam ini.

Di Wahington DC -sebagai miniaturnya Amerika Serikat- lantaran perannya sebagai ibukota negara, kulihat banyak terhampar patung-patung dan tugu peringatan juga tempat-tempat yang banyak merefleksikan tentang sejarah Amerika. Disini bisa kita lihat tugu atau memorial untuk mengenang Perang Korea dan Perang Vietnam. Kuamati dengan seksama, tertulis dengan jelas dan lengkap nama-nama pahlawan yang gugur atau hilang di kedua peperangan tersebut. Selain itu ada pula monument peringatan tentang Perang Pacipic dan Perang Dunia II. Pembangunan monument ini seolah memaksa kita untuk larut menjadi saksi sejarah akan jiwa patriotisme para veteran yang pernah berjuang dalam beberapa palagan pertempuran

Tak hanya di DC saja, namun di kota/state lain pun demikian. Betapa besar komitmen pemerintah kota untuk menghormati peran dan jasa para pahlawannya. Ada banyak kawasan atau jalan yang diberi nama veteran, seperti Veteran Perang Korea, Perang Vietnam, dsb. Baru kutahu, ternyata dimana bangsa Amerika terlibat peperangan di dalamnya, pasti akan dibuatkan monument atau semacam simbol dan tugu peringatan untuk mengenang para pemberani dan pahlawan mereka. Ya, disini para veteran perang sangat dihargai jasa dan pengabdiannya.

Bertebarannya monument sebagai tanda peringatan akan sebuah peristiwa atau untuk penghormatan para pahlawan yang gugur dimedan perang seakan memperteguh pendapat yang beredar bahwa sekecil apapun pengorbanan seseorang bagi bangsa Amerika, akan dinilai dan diapresiasi dengan baik. Tiap jiwa tak ternilai harganya. Sering kita lihat di film-film betapa Amerika akan mencari seorang warga negaranya sampai ketemu meski harus mengeluarkan biaya besar dengan mengerahkan puluhan bahkan ratusan tentara. Itu cuma warga negara biasa, lalu bagaimana bila tentara atau pahlawannya, tentu akan mendapat perlakukan yang lebih. Mereka tahu bagaimana berbalas jasa dan berbalas budi terhadap mereka yang berjuang. Tanpa pahlawan mungkin tidak akan ada kemakmuran dan pembangunan. Tanpa pahlawan bisa dikatakan tidak ada bangsa dan negara Amerika. Amerika tidak lupa akan sejarahnya.


Dalam lamunanku di perjalanan pulang ke hotel, aku merasa iri. Di Indonesia, berapa banyak monument yang berisi palagan dan kisah perjuangkan para pendiri bangsa yang berhasil di abadikan entah berbentuk patung, diorama atau seni instalasi bertema kesejarahan lainnya? Padahal, banyak peristiwa bersejarah yang layak diabadikan dalam wujud miniatur atau dioroma yang artistik, agar jiwa dan semangat para pahlawan akan selalu hadir dalam sanubari rakyat. Kedepannya, perlu ada review menyeluruh terhadap pengembangan kawasan di suatu daerah agar dalam satu kawasan tersebut ada space atau tempat yang dapat menghadirkan semangat kepahlawanan, yang nantinya bisa di saksikan oleh anak cucu kelak. 

Biaya Makan di Amerika

Selama di Negara Paman Sam ini, biaya harian dan makan kami memang telah ditanggung oleh pihak pengundang yakni Kemenlu AS. Ya, kami memperoleh uang saku yang lumayan besar untuk ukuran Indonesia. Lantaran kami akan berkunjung ke 5 kota dengan harga dan biaya hidup yang berbeda, maka uang saku-nya pun disesuaikan dengan biaya hidup di kota yang kami singgahi. Nah, agar bisa membawa oleh-oleh berupa lembaran-lembaran dollar ke tanah air, maka jurus penghematan pun dimulai. Ya, kami harus bersiasat dengan meminimalkan pengeluaran. Satu diantaranya adalah dengan mencari tempat makan yang murah. Kalau di Jakarta maka sebisa mungkin akan mencari Warteg dengan menu sayur dan tempe oreg ketimbang makan di restoran atau RM Padang, hehe..

Dalam buku dan jadwal panduan yang diberikan setiap kami tiba di suatu kota, pihak penyelenggara pasti akan mencantumkan daftar nama restoran dari mulai kelas bintang 5 sampai kaki lima. Mereka mengklasifikasikan nya berdasarkan range mulai dari termahal yakni di kisaran 20 – 30 dollar yang ditunjukkan dengan tanda bintang ***, kisaran midle dari 10 hingga 20 dollar **, hingga di kisaran ekonomis antara 5 hingga 10 dollar *. Nah sebelum aku beranjak dari hotel tuk pergi nyari makan, biasanya aku akan lihat dulu range harga yang tercantum di buku panduan. Aku akan lihat dari yang berbintang * hingga ** dengan mengabaikan yang ***. Dari situ barulah aku melihat alamatnya apakah dekat atau jauh dari hotel, bisa di tempuh dengan naik taksi atau hanya jalan kaki saja. Prinsipnya, cari yang dekat dengan hotel. Bila ada yang murah namun jauh, ya terpaksa cari yang rada mahalan namun dekat dengan hotel, sehingga gak perlu naik taksi hanya untuk nyari makan saja. Apesnya terjadi bila rumah makan berkode bintang * dan ** tak ada yang memenuhi standar selera lidah Jakarta-ku, seperti masakan dari Asia Barat atau dari Afrika Utara. Senengnya bila menemukan makanan oriental, seperti chinese food yang ada di Jakarta, dengan harga di bawah 10 dollar.

Menu khas dari North Africa
Kisaran harga makan siang di restoran atau rumah makan di kota-kota Amerika pun bervariasi, tergantung Negara bagiannya. Bila kota besar macam New York atau Washington DC, tentu harga makanannya rada mahal. Yang termurah berada dikisaran 8-15 dollar. Namun bila kita berkunjung ke kota-kota menengah atau kota kecil , di Negara yang letaknya di tengah Amerika Serikat, maka harga makanannya pun tak semahal di kota-kota di pantai timur atau east coast. Di St. Louis misalnya harga makanan asia di kota itu banyak yg dibawah 10 dollar. Ya, kisaran 6-10 dollar. Begitupun di Helena dan Salt Lake City. Di kedua kota itu dengan uang 10 dollar, kita bisa makan dengan menu beragam dari beragam restoran yang ada di kota itu.

Lantaran kota pertama yang kusinggahi adalah DC dengan biaya makan yang rada mahal, maka tatkala menemukan restoran dengan total tagihan di kisaran 10 dollar betapa senangnya hati ini. Ya, kalau di Jakarta makan dengan menu dan cita rasa enak seperti ini juga akan habis sekitar 100 ribuan rupiah. Jadi ya gak mahal-mahal banget menurutku. Bandingkan saja dengan di Singapore, di food court di Negara tetangga ini misalnya, sekali makan kira-kira kisaran 15 an dollar. Meski adapula yang kisaran 5-7 dollar, namun tempatnya bukan di pusat kota.


Selain makan berat (dengan nasi sebagai makanan utamanya) sering pula aku makan gaya America, yakni hanya dengan kentang atau roti, orekan telor, dan sosis. Biasanya menu itu untuk sarapan pagi hari. Sering pula bila ketemu foodcout dengan beragam menu dan olahan dari berbagai dunia, saking pusingnya milih menu aku lebih prefer untuk mesan burger. Harga burger dengan ukuran yang super jumbo bagi size-ku, berada di kisaran 5 hingga 8 dollar. Nasi rames ala oriental food berada di kisaran 7 hingga 13 dollar, dengan menu nasi putih, sayuran, daging/ayam, dan mie atau lauk lainnya. Sedangkan bila kita makan di restoran yang rada kerenan dengan seting makanan pembuka, utama dan penutup, tentu agak mahalan. Lauk pauknya pun beragam dan bercita rasa tinggi. Makan seperti itu bisa habis sekitar 30 hingga 50 dollar berikut tip yang diberikan ke pelayan.

Murahnya Buah-Buahan di Reading Terminal Market

Buah-buahan import produk Amerika dengan kualitas terbaik  tentu akan mahal bila di jual di fruit market terkenal di Jakarta. Namun bagaimana bila buah-buahan segar itu hanya dibandrol seharga 1 dollar? Wah laper mata tentunya. Pengen ngeborong abis. Stawberry seukuran kepalan tangan bayi misalnya, dengan berat kurang lebih sekilo, hanya seharga 13 ribuan rupiah. Rasanya sangat segar dan manis. Bandingkan dengan ukuran dan rasa yang sama, tentu berpuluh kali lipas bila kita membelinya di toko buah di Jakarta. Begitupun anggur, baik berwarna black, red maupun green dan plum. Ya, buah-buahan khas dari negara 4 musim ini banyak tersedia dengan kualitas dan rasa yang maknyus bingits. Dimana saya bisa dapatkan itu semua? 

Saat kami tiba di Philadelhia, salah satu kota di negara bagian Pennsilvania, ada satu tempat yang relative nyaman untuk berbelanja. Belanja apa saja yang menjadi kebutuhan pokok utamanya masalah perut. Tempat belanja ini namanya Reading Terminal Market. Antik juga namanya ya. Entah mengapa dinamakan demikian, padahal disamping belakang, depan kiri dan kanan sekitar kawasan itu tidak dijumpai perpustakaan atapun ruang baca di dalamnya. Tadinya juga kupikir didalamnya akan tersambung dengan lorong bawah tanah yang menghubungkan dengan terminal bus atau stasiun MRT. Ternyata, gak ada apa-apa. Lalu kenapa disebut Reading Terminal? Saat kutelisik kedalam nyatanya hanya ada tempat untuk nongkrong, makan dan minum, tak ubahnya seperti di pusat-pusat perbelanjaan di tanah air. Cuma bedanya disini rada bersih, dan tentunya gak bau.

Reading Terminal Market sangat terkenal di Philly. Ia menjadi semacam iconic dan salah satu destinasi yang tak afdol rasanya bila kita tak berkunjung kesana. Sebagai gambaran, market ini hanya berbentuk bangunan kotak dengan luas sekitar 1000 meter persegi. Tak ada lantai atas maupun basement. Hanya ada dua akses pintu kelaur masuk yang langsung terhubung ke jalan raya. Cikal bakal Market ini telah ada sejak berabad-abad silam, dimulai sekitar abad ke 16, dimana para petani dan nelayan sungai membawa hasil bumi dan tangkapan mereka dari selatan New Jersey. Sama seperti sejarah Sunda Kelapa, di Jakarta, dimana terdapat Kawasan Kota Tua di dekatnya, Market ini hanya berjarak sekitar 1/2 mile dari pelabuhan Deleware, sebagai pusat lalu lintas keluar masuk barang yang menghubungkan kota Philly, sebutan dari Philadelphia dengan ‘dunia luar’. Saat ini, Reading Terminal Market berada di antara jalan 12 dan Arch street. Hanya sepelemparan batu dari tempat-tempat strategis dan iconic di Philly, seperti The Liberty Bell, dan Balaikota (lama).

Oh ya, meski dinamakan Market, namun Reading Terminal tidak menjual kebutuhan sandang atau garment. Disana hanya terdapat aneka penjual makanan, minuman dan tentu juga merangkap semacam kedai untuk makan minum di dalamnya. Selain itu ada pula dijual aneka rempah-rempahan dari berbagai pelosok dunia, juga cindera mata unik dan artistik yang kebanyakan berasal dari kawasan asia timur. Just it! Jadi, meski dinamakan Market (pasar) jangan berharap ada yang menjual busana, panci, kebutuhan rumah tangga seperti; ember, panci, dsb.

Pasar yang mengusung motto “fresh and local everyday” ini memang memanjakan para pengunjungnya. Hanya makanan dengan kualitas terbaik dan segar lah yang bisa masuk sini. Seperti yang kukatakan tadi, harga di Market relatif sangat kompetitif ketimbang ‘pasar-pasar tradisional yang ada di sekitar Philly. Pasar Italia (Italian Market), misalnya, lokasinya persis di pinggir jalan Washington dan Jalan Kimball. Tata letak pasarnya persis tak beda dengan pasar Jatinom yang ada di Klaten, Jawa Tengah. Di pasar inipun banyak tersedia produk-produk makanan dari berbagai belahan Amerika. Ikan dan daging segar pun banyak tersedia. Jika Reading Terminal Market ada di dalam bangunan, dan ber-AC, maka Pasar Italia ini lokasinya outdoor. Jadi bila kita menginginkan belanja dengan nyaman sambil berkuliner, tampaknya Reading Market adalah pilihan yang nyaman ketimbang Pasar Italia ini. Oh ya, dinamakan Pasar Italia karena berada dekat dengan komunitas Italia yang ada di Philly. 

Lantaran Reading Market ini telah menjadi destinasi favorit yang ada di Philly, maka tak hanya turis mancanegara sepertiku, -saking terkenalnya- bahkan banyak warga Amerika yang tinggal di luar Philly, perlu menyempatkan diri melancong dan berbelanja di sini. Pernah, saat di lobby hotel aku sempat ngobrol dengan pasangan bule dari daerah Wilmington, -kawasan suburb sekitar 25-an mile dari kota philly- yang berakhir pekan ke Philly khusus hanya ingin berjalan jalan ke Liberty Bell dan tentu saja kuliner di Reading Terminal Market. Ditengah obrolan itu tak lupa pula mereka menanyakan direction ke Market. Lantaran aku telah kesana, dengan senang hati ketunjuki jalannya dari hotel tempat kami menginap. Tampaknya mereka pasangan bule yang kuper, heheh...




Grant-Kohrs National Historic Site, Sisa Kejayaan Ranch yang Mempesona

“You are a lucky team.” seloroh Mr. Rob Livergood Assistant United States Attorney dari St. Louis, saat kami berpamitan dengannya dan tahu bila kami hendak menuju ke Helena, keesokan harinya. Ya, Rob tampaknya cemburu pada kami berempat, lantaran telah lama ia memendam keinginan untuk dapat menikmati keindahan kota berjuluk “Queen City of the Rockies”. Bahkan saking cemburunya pada kami, ia berujar tak banyak orang Amerika yang bisa datang ke sana. Mbak Nunu, LO kami selama di Amerika sempat memberikan gambaran bahwa Helena mungkin sama dengan Wamena, di Papua, dimana tak banyak orang Indonesia yang dapat berkunjung kesana. Di samping jauh, tentu butuh dana banyak.

Untuk menuju ke Helena, ibu kota negara bagian Montana, di utara Amerika Serikat, kami, peserta IVLP 2016,  menggunakan pesawat yang lebih kecil, setelah sebelumnya transit sebentar di bandara Denver, Colorado. Saat tiba sore hari, 19 Maret 2016, sisa-sisa salju musim dingin masih tampak di apron bandara. Maklum saja, Denver berada di dataran tinggi, masuk dalam jajaran pegunungan Rocky. Salju yang tersisa di musim dingin lalu tampaknya sulit cair di kawasan pegunungan tersebut.

Pesawat bermesin jet, -tak ubahnya seperti pesawat jet pribadi yang biasa terparkir di Halim-, yang aku tumpangi hanya berkapasitas sekitar 55 seat. Formasi kursinya adalah 2 – 2, dengan hanya 1 orang pramugari sebagai pelayan selama penerbangan berdurasi 1,5 jam. Begitu mendarat di Helena, matahari baru saja tergelincir di ufuknya. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 08.40 pm, namun hari masih terlihat terang. Tak ada antrian bagasi yang aku lalui lantaran penumpang tujuan Helena hanya kami ber 30-an orang. Dan itu adalah penerbangan terakhir dari luar Helena yang masuk ke kota berpopulasi 30 ribuan jiwa.

Bandara Helena sendiri sangat kecil. Jika di Indonesia, tak ubahnya seperti bandara perintis di pedalaman. Meski kecil, namun, bandara ini mempunyai landas pacu pesawat yang panjang. Pesawat jenis apapun bakal dengan mudah mendarat di negara bagian yang berbatasan langsung dengan Kanada. Fasilitas ruang tunggu dan sarana pendukung penerbangan tersedia dengan lengkap. Bahkan fasilitas dan sistem pengamanan bandara pun sangat modern dan canggih, tak beda dengan bandara-bandara besar di kota-kota lainnya di Amerika.

Saat kami masuk ke kota dari County Lewis and Clark ini hari sudah malam. Hanya sepi yang tampak, tak ubahnya seperti kita memasuki kota ‘mati’.  Meski ada dua tiga mobil yang berseliweran, namun tidak ramai. Tak tampak orang berjalan kaki seperti yang biasanya kutemui di kota DC, Philadelphia, ataupun St. Louis. Semuanya bermobil. Ya, Helena memang kota kecil, dengan luas hanya sekitar 42 kilometer persegi dengan penduduk yang sedikit pula. Tak pernah ada kemacetan. Sunyi dan sepi. Malam itu kami menginap di Helena Comfort Suites Hotel, yang berlokasi sangat dekat dengan bandara.

Lanskap Helena sendiri seperti piring, dikelilingi pegunungan dengan sebagian sisi tampak putih terselimuti oleh salju sisa musim dingin. Meski kami tiba di awal musim semi, namun dingin masih menyergap. Kota ini seperti Kota Bukittinggi, Sumetera Barat  yang dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan. Ya, kota kecil nan indah ini laksana serpihan surga yang tercecer di utara Amerika.

Selama di Helena, kami dijamu dan dilayani dengan keramahan penduduknya yang diwakili oleh Alexandra (Sasha) Fendrick; Ronal (Ron) W. Lukenbill; dan Ellen M. Bush, Executive Director dari World Montana, sebuah LSM lokal yang cukup prestigious. Setiap penduduk yang kujumpai selalu menyapa dengan senyum tersungging ramah dan hangat seolah menggambarkan bahwa hidup dan tinggal di kota yang dibangun pada tahun 1864 ini nyaris tanpa beban dan masalah. Sasha dan Ron adalah rekan sekaligus ‘orang tua’ kami selama di Helena yang selalu sabar dan telaten menemani kami meng-explore sisi kehidupan kota yang pernah ramai dengan tambang emasnya di abad ke-17. 

Oleh keduanya, kami diajak untuk berkunjung ke ranch atau peternakan yang pernah popular di zamannya. Namanya the Grant-Kohrs National Historic Site, suatu peternakan yang berada dekat dengan Deer Lodge. Berjarak sekitar 60 kilometer dari Helena. Sepanjang perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam aku disuguhi oleh pemandangan alam yang sulit diuraikan oleh kata-kata. Aliran sungai yang bening di sisi jalan berpadu dengan hamparan padang savanna dengan sekumpulan sapi berkulit hitam yang sedang merumput. Tampak di kejauhan deretan pegunungan Rocky hijau keputihan berselimut salju. Beruntung, aku datang saat awal musim semi, dimana salju masih tampak. Menuju Deer Lodge, jalan terus menanjak.

Sebelum kami meng-explore ranch kami mampir sejenak untuk bersantap siang di rumah makan China di dekat Deer Lodge. Surprise juga menemukan makanan asia di ‘pedalaman’ Amerika. Memang tak banyak imigran yang tinggal di Montana seperti di kawasan pantai barat atau timur Amerika. Maklum saja, Montana jauh kemana-mana, mungkin lantaran kawasan berjuluk the treasure state ini jauh dari pusat migrasi penduduk sehinga yang kutemui dijalan seluruhnya warga kulit putih. Meski demikian ada juga kulit berwarna yang tinggal di sini. Ya buktinya ada imigran dari china yang membuka usaha rumah makan.

Menilik dari namanya, ranch ini awalnya dimiliki oleh Johnny Francis Grant dari Kanada. Lantaran terbelit masalah ekonomi, peternakan ini dijual kepada Conrad Kohrs, seorang imigran dari Jerman. Kohrs yang membangun dan mengembangkan The Grant-Kohrs hingga pernah berada dalam puncak kejayaan, saat banyak orang datang berburu emas di lokasi disekitarnya, sekitar abad ke-17. Kohrs mengembangkan peternakannya dengan menjual daging black angus, jenis sapi berwarna hitam yang banyak dijumpai di sekitar Deer Lodge kepada para pekerja tambang. Ranch ini sendiri dibangun tahun 1863.

Meski kejayaan Ranch itu kini tinggal nama, namun sisa-sisanya masih tetap mempesona. Oleh pemerintah Negara bagian Montana, peternakan di kaki pegunungan Rocky ini dijadikan semacam cagar budaya. Ada beberapa istal atau kandang kuda lengkap dengan bengkel untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan berkuda. Di dekatnya teronggok kereta kuda yang masih kokoh. Tampak pula disampingnya sisa-sisa perapian tempat dimana para koboi dan pekerja ranch menghangatkan diri. Kulihat disisi sebelah atas dari istal, bertengger rumah yang antik namun cukup mentereng. Rumah bergaya Victoria dengan perabotan dan furniture yang masih terkesan mewah ini masih terawat dengan rapi. Dari tempat inilah Kohrs, dahulunya, mengendalikan bisnisnya. Namun sayangnya oleh petugas, kami tak diperkenankan mengambil gambar suasana di dalam rumah.

Pesona the Grant-Kohrs National Historic Site tampaknya akan terus ada sebagai pertanda bahwa dulunya di sini bersemayam kemakmuran dan kejayaan peternakan dengan ribuan sapi sebagai hartanya. Dan beruntung aku masih dapat menyaksikan peninggalan itu dalam lawatanku ke Helena.


Gimana Rasanya Pegang Salju?

Tidak seperti di (dekat kutub) utara, bagi kita yang hidup hanya di kawasan atau negara 2 (dua) musim, panas dan hujan, tentu tak kan pernah bisa memegang salju seumur hidupnya, meski kita berada di dataran tinggi sekalipun. Yang mungkin pernah kita rasakan palingan hanya hujan es atau hujan dengan butiran es sebesar kelereng. Hujan model begini sering aku alami saat berkuliah di Bandung tahun 90-an silam. Menariknya, meski tinggal di khatulistiwa, kita masih bisa memegang dan merasakan salju bila berkesempatan mengunjungi kawasan pertambangan di Freeport yang berlokasi di pegunungan Jayawijaya, Papua. Ya, kita harus mendaki hingga puncak gunung itu.

Kayak apa sih megang salju? Apakah (rasanya) seperti memegang kapas yang terasa dingin ataukah seperti (memegang) serutan es? Belum ada gambaran apa-apa. Lha, melihat secara langsung salju saja belum pernah.  Jika pun melihat, itu terjadi pas nonton film-film produksi Hollywood yang kerap ditayangkan ketika natalan tiba, seperti home alone atau yang lainnya, dengan setting tempat dan suasana bersalju. Di film-film itu terekam bagaimana orang bule dengan pakaian tebal berjalan ketika salju turun. Melihat mereka mengenakan pakaian yang tebal saja sudah bisa membayangkan betapa dinginnya suhu saat itu. Lha wong semuanya dikelilingi es (salju). Saat itulah lamunanku muncul. Ngebayangin gimana ya rasanya megang salju, atau kayak apa ya berjalan di antara salju yang bertumpuk-tumpuk.

Alhamdulillah pada akhirnya bayangan di film mampu dihadirkan di alam nyata saat kuberada di Amerika, Maret 2016 lalu. Awal bulan itu baru masuk musim semi, yang berarti musim salju baru saja kelar. Udaranya masih terasa sangat dingin untuk ukuran orang Jakarta, sekitar 3 - 5 derajat celcius. Kadang suatu hari sempat pula hangat, ya sekitar 10 hingga 20 derajat celcius, tak lebih. Begitu tiba di Amerika, kota pertama yang kukunjungi semuanya berada di tengah, dalam arti bukan di (kawasan) utara Amerika Serikat. Ya, meski masih dingin, namun di Washington DC, Philadelphia, dan St. Louis salju telah mencair.

Barulah di kota ke-empat yakni di Helena, Montana, impian memegang salju benar-benar dapat terwujud. Ceritanya, sebelum sampai ke Helana, kami harus terbang dulu, transit di Denver, Colorado. Saat itulah pertama kalinya aku melihat gumpalan-gumpalan salju berserakan di apron Bandara Denver. Tak sabar rasanya tangan ini ingin menggengamnya. Sayang, sarung tangan tebal menutup rapat jari jemariku. Aku kenakan sarung tangan ini lantaran cuaca dingin sore itu menyergapku begitu mendarat di Denver. Sama dengan Montana, Negara Bagian Colorado dimana Denver berada masuk dalam kawasan jajaran Pegunungan Rocky Mountain, Jadi, tak heran bila salju masih tersisa.

Lantaran kami harus berpindah ke pesawat yang ukurannya lebih kecil, maka kami berjalan menuju ke pesawat melalui apron tempat pesawat terparkir. Ketika itulah aku sempat tergelincir saat sol sepatuku untuk pertama kalinya menginjak gumpalan salju. Beruntung, gak pake acara jatuh segala. Sama seperti kaki yang mengenakannya, tampaknya sol sepatu buatan Tanggulangin, Sidoarjo ini juga kaget lantaran baru berkenalan dengan dinginnya salju, hehe.. Karena diburu waktu, sepatu ini tak sempat lagi ‘tuk bermain dan menendang-nendang gumpalan putih itu. Jadilah aku harus segera masuk pesawat dengan masih memendam keinginan (bermain salju) yang masih tertahan.

Begitulah, saat pesawat kecil kami mendarat, tadinya kupikir salju akan terlihat juga di sekitaran apron Bandara Helena, namun pemandangan itu tak tampak. Mungkin beberapa hari lalu salju telah mencair, dan kering, meskipun suhu di Helena sangat dingin, sekitar 3 (tiga) derajat celcuis. Nampaknya Denver lebih dingin ketimbang Helena.

Di ruang kedatangan telah menanti beberapa relawan dari World Montana, selaku tuan rumah yang meng-arrange semua acara dan kegiatan kami selama di Montana. Karena kami tiba malam hari, dan sudah dalam kondisi lelah, langsung saja kami menuju mobil jemputan yang telah siap mengantar kami ke Hotel tanpa sempat merasakan dinginnya suasana kota di malam hari. Aku menginap di Comfort Suites Hotel, Helena.

Esoknya, pagi-pagi sekali selepas sarapan di hotel, aku keluar ruangan makan menuju tanah lapang seberang hotel. Kulihat ada seseorang yang jogging pagi dengan anjingnya. Saat asyik menyapanya, angin dingin bertiup dengan lembut. Di kejauhan tampak jajaran pegunungan berselimut putih salju. Jaraknya mungkin hanya sekitar 2 hingga 3 kilo dari tempatku berdiri. Oh ya, semalam, setelah mengantar kami, sebelum pamitan, Ellen Bush, tuan rumah kami selama di Helena sudah menjanjikan akan mengajak kami ber-plezijer menikmati alam dan pemandangan Montana. Ya pagi ini adalah Minggu, waktu yang tepat untuk piknik. Tujuan kami adalah Deer Lodge, kawasan perbukitan dekat Helena.

Jadilah pagi menjelang siang setelah acara kebaktian temanku yang nasrani usai, kami berangkat meninggalkan hotel menuju Deer Lodge. Kami menggunakan 2 (dua) mobil. Aku menumpang di mobil yang disopiri oleh Shasa Frederich, wanita cantik asal Rusia, yang lama tinggal di Amerika. Temanku yang lain ada di mobil Ron, pengurus di World Montana, yang meski sudah berumur, namun masih energik. Jadilah kami beriringan berkendara. Selepas kota Helena, barulah aku benar-benar melihat tumpukan salju menyelimuti sebagian bukit-bukit disisi jalan yang kami lalui. Ditengah perjalanan kami sempat mampir sejenak untuk menengok salju itu. Ya, tampaknya Ron dan Shasa adalah tuan rumah yang sangat baik, tahu kalau aku dan teman-teman yang berasal darti negara tropis belum pernah memegang salju. Saat dirasa menemukan spot yang baik, Ron, yang berada di mobil terdepan menepi dan berbelok ke kiri. Akhirnya tibalah kami disuatu tempat berbukit dengan hamparan salju yang luas. Saking luasnya bukit itu, dua pertiga diselimuti salju yang sangat bersih, putih. Mungkin ini sisa salju yang turun pada malam harinya. Tak sabar mencumbunya, begitu mobil berhenti, langsung aku turun dan menghampiri si putih. Woww dingin.

Bagi yang belum pernah megang salju, aku ingin memberikan ilustrasi sedikit tentang kumpulan salju, (Itu) seperti kita melihat dan memegang kumpulan ‘salju’ di lemari es (kulkas) type murahan. Atau bisa juga seperti es serut yang biasa di jajakan di pinggiran jalan. Tentu ada perasaan excited, heran, kagum, dan takjub saat pertama kali megang salju. Saking excited-nya, Aku sempat bergulingan dan berpolah laksana anak kecil kegirangan dibelikan mainan. Yeay.. Akhirnya kesampaian juga megang salju.

Pada kesempatan kedua, atau di hari berikutnya saat pulang dari kunjungan ke lapas anak di Boulder Riverside, kami mampir untuk makan siang. Kebetulan saat itu cuaca sedang mendung. Sejak pagi, hujan salju turun. Nah, selagi menunggu santap siang siap tersedia, aku keluar untuk bermain dan merasakan butiran-butiran salju laksana kapas turun dan menerpa jasku. Karena jasku berwarna hitam, maka butiran kapas putih itu sangat kontras menempel di jasku. Baru aku tahu bahwa (rasa) memegang hujan salju akan berbeda dengan memegang tumpukan salju. Bila hujan salju turun, ia seperti butiran kapas yang terbang dibawa angin. Ia seperti sutera. Tidak dingin saat kusentuh. Akhirnya, kesampean juga megang salju yang turun langsung dari atas langit. Itulah salju, seputih kapas, sebening air.


Semua Kran Air Bisa Diminum

Begitu sampai di kamar hotel, dari brosur yang kudapat, pasti akan tertera peringatan dan ketentuan selama kami berada di daerah itu, seperti larangan untuk keluar kamar bila terjadi badai atau hujan salju, juga aturan dan etiket tak tertulis yang sebaiknya dilakukan/tidak. Nah, diantara peringatan itu adalah agar kami tidak lupa untuk minum air putih sebanyak mungkin selama berada di Amerika. Tadinya aku agak mengabaikan peringatan itu. Bagiku, ngapain pula banyak minum di saat cuaca dingin sekarang ini. Ya suhu rata-rata saat ku tiba di Washington DC sekitar 5 hingga 10 derajat Celcius, cukup dingin untuk ukuran Indonesia. Dalam logika sederhanaku, bukankah kalau banyak minum akan sering buang air kecil. Sudah dingin, harus sering ke toilet pula, wah no way, begitulah yang ada dibenakku.

Namun, Ketika mendarat di Amerika, penghubung kami sudah wanti-wanti agar kami banyak-banyak minum. Menurut mereka yang sudah tahunan berada di Amerika, meskipun udara di luar terasa dingin menusuk tulang, namun kita harus dan diwajibkan minum air sebanyak mungkin agar tak dehidrasi. Wow, kok bisa? batinku. Pendamping kami menerangkan bahwa meski cuaca diluar terasa dingin, namun itu adalah dingin (dalam keadaan) kering, yang membuat lidah menjadi kering, rawan dehidrasi. Dan di cuaca dingin kering di musim semi itulah kita dianjurkan untuk banyak meminum air putih. Disamping itu, baru aku tahu kemudian bahwa dari literature yang kubaca, salah satu gejala jetlag adalah insomnia dan dehidrasi. Nah, untuk mengatasi itu kita disarankan minum air putih sebanyak-banyaknya. Oalah, ternyata aku sekarang mengalami jetleg, pantesan kok begitu tiba lalu dua tiga hari setelahnya, lidah dan tenggorokan ini rasanya kering. Jadilah, karena lidah terasa kering inilah selama di Amerika aku minum air putih lebih banyak ketimbang saat berada di cuaca panas di Jakarta.

Air (untuk) minum bukanlah sesuatu yang sulit dijumpai di Amerika. Banyak tersedia keran-keran air yang bisa langsung diminum. Di DC misalnya, di beberapa areal publik seperti di taman, di kawasan Monument Hall misalnya, banyak tersedia keran untuk diminum. Lokasinya biasanya menyatu atau dekat dengan toilet. Di bandara pun ditiap pojokan pasti terdapat air keran untuk di mimun, begitupun di gedung-gedung pertemuan. Singkatnya, selama di Amerika air minum tak sulit tuk di dapatkan. Jadi, kalau kerongkongan terasa kering, maka segeralah mencari kran air. Bila kita tak membawa wadah atau botol, cukup miringkan kepala kita ke arah kran. Caranya pun gampang, cukup dengan memutar putaran yang adanya di bawah, dan membuka mulut, maka air dingin segar pun akan memancar air. Segar terasa di lidah.

Dalam penjelasannya, pendamping kami juga menambahkan bahwa selama kita berada di Negara Paman Sam ini nyaris hampir semua air yang tersedia di kran-kran hotel dapat di minum. Jadi sebelum keluar untuk beraktivitas pada hari itu, aku disarankan untuk memenuhi botol minum dengan air. Ya, jaga-jaga bila di suatu tempat tidak ada keran air. Disamping itu untuk apa pula membeli air putih di Mart atau Toserba bila air di kran kamar hotel dapat langsung diminum.

Praktis selama aku berada di Amerika aku tak pernah membeli aqua botol di Toserba yang ada. Bagiku rasa air putih yang ada di kran hotel dan areal publik lainnya tak terasa aneh. Ya, rasanya sama saja dengan air botol kemasan yang dijual di toko. Atau bisa juga lidahku sudah kebas sehingga sulit membedakan rasa air keran dengan air botol kemasan, hehe.. Bagi indera perasa ini, rasa air putih di kran sudah cukup nyaman terasa di tenggorokan. Rasanya pun segar dan dingin.

Nah, pengecualian terjadi bila ada pemberitahuan atau peringatan sebelumnya (caution) bila air di kran tersebut tidak dapat diminum. Bila ada caution itu, maka tentu air itu tak aman untuk diminum. Namun sepanjang tidak ada caution maka air putih itu aman-aman saja dan layak untuk diminum.


So, selama di USA jangan khawatir kehausan dan tekor pengeluaran lantaran membeli air minum, cukup penuhi botol air minum dari kran yang ada di dekat kita, dan langsung minum tanpa khawatir dan takut ada bakteri di dalamnya. Aman kok, Bismillah aja, saya sudah membuktikan, dan selama di sana tak pernah kena diare, heheh..