Tampilkan postingan dengan label Cullinary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cullinary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2017

Dimana Makan Soto Betawi yang Asli..?

Soto. Makanan berkuah ini sangat terkenal bukan saja di Jakarta bahkan menjadi kuliner andalan daerah-daerah lain di Indonesia. Sebut saja yang terkenal dan banyak di jumpai di Jakarta seperti; Soto Kudus; Soto Lamongan; Soto Padang; Dan Soto Bogor. Nah, Jika daerah lain memakai nama kota sebagai nama soto-nya, namun tidak demikian dengan Jakarta. Makanan berkuah yang kental dengan aroma rempah dan santan ini tidak dinamakan dengan Soto Jakarta, namun merujuk pada etnis asli Jakarta yakni Betawi. Jadilah namanya “Soto Betawi”.

Bagi anda pecinta kuliner dan senang berburu sajian kuliner yang menggugah rasa dan selera, tentu tidak lah sulit untuk membedakan antara sop (betawi) dan soto (betawi). Meski sama-sama berkuah dan berkaldu --dengan bahan utama berisi irisan daging-- namun sop (betawi) dan soto (betawi) mempunyai perbedaan rasa dan aroma yang kontras. Biasanya sop (betawi)  berkuah bening, alias tanpa santan, sedangkan soto (betawi) memakai santan yang sangat kental. Namun, pakem ini tidak berlaku untuk penyebutan soto khas dari suatu daerah. Soto Kudus misalnya, ia berkuah bening. Demikian pula Soto Bogor dan Soto Lamongan. Semuanya nyaris tanpa santan. Nah, untuk kita para pecinta kuliner khas betawi, maka jangan sampai salah untuk membedakan penyebutan sop (betawi) dan soto (betawi) bila memesan makanan di rumah makan khas Betawi yang tersebar di Jakarta. Ingat, keduanya berbeda.

Soto Betawi, --selain gado-gado-- tentunya menjadi trade mark dan legacy aneka kuliner asli Jakarta. Dari namanya yang mewakili etnis, tentu akan lebih nikmat jika olahan soto ini dibuat langsung oleh orang Betawi asli. Untuk rasa memang tak mengenal kompromi. Rasa adalah nomor satu. Banyak pengunjung yang rela antri agar dapat menikmati lezatnya soto Betawi (asli) saat jam makan tiba. Ini bisa dilihat di beberapa warung makan Soto Betawi terkenal seperti di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran, dekat kantor Fed**; Adapula warung soto Betawi Bang Husin, di Manggarai, Jakarta Selatan. Bila di Bang Husin, disajikan dalam mangkok, menariknya, warung soto Sambung Nikmat di Pondok Pinang disajikan dalam sebuah piring besar. Bagiku, lantaran porsinya jumbo, satu porsi piring besar ini bisa disantap oleh dua orang.

Makin terkenal warung soto-nya, makin mahal pula harga untuk se-porsi soto yang ditawarkan. Soto yang enak biasanya mempunyai kuah santan yang kental dengan rasa rempah-rempah yang ‘nendang’. Biasanya kisaran harganya antara 15 hingga 45 ribu per porsinya. Meski tergolong mahal, namun tak menyurutkan pecinta kuliner untuk berburu dan menyantap soto kegemaran mereka. Harga nomor sekian, asalkan rasanya enak. Meski begitu, adapula warung atau rumah makan yang menyajikan Soto Betawi bagi mereka yang berkocek tipis. Soal rasa, ya lumayan lah. Not bad. Untuk soto Betawi level ini biasanya dibanderol dengan harga kisaran 15 hingga 20 ribu per-porsinya.

Bagi anda yang ragu apakah warung soto tersebut asli betawi atau tidak, biasanya salah satu cirri-nya adalah adanya toples yang berisi racikan acar sebagai penambah selera atau kudapan penutup sehabis bersantap soto. Konon, acar ini disediakan sebagai penawar atau penetralisir rasa kuah santan yang menyengat. Acar ini terdiri dari timun dan wortel yang diiris kecil berbentuk dadu dengan campuran air cuka, cabe rawit, dan bawang merah mentah.

Uniknya, tidak seperti soto dari daerah lain di Nusantara, Soto Betawi (asli) tidak memakai ayam sebagai menu utamanya, namun selalu memakai daging sapi atau kerbau yang digoreng kering. Disamping itu, irisan kaki, babat, otak, torpedo, dan paru kerap disajikan sebagai pendamping dari daging, tergantung dari selera penikmat. Dengan olahan bumbu bersari santan kelapa kental dengan kuah berwarna kuning kemerah-merahan, Soto Betawi akan nikmat dimakan sewaktu jam makan siang ataupun malam hari.


Selain gorengan dari daging kerbau atau sapi, semangkuk atau satu porsi Soto Betawi akan berisi irisan tomat segar, daun bawang, potongan kentang goreng, plus taburan emping. Tak ketinggalan pula sebotol kecap manis dan seiris jeruk limau sebagai penambah citarasa. Soto Betawi selalu disajikan dengan seporsi nasi putih hangat dengan taburan bawang goreng diatasnya. Sungguh nikmat rasanya menyantap soto sambil ditemani oleh air teh tawar hangat. Mari berburu soto aseli Betawi!!

Rabu, 16 November 2016

Lezatnya Sarapan Dengan Sayur Berbumbu Tikus

Bagi yang pernah merasakan kehidupan di pesantren, tentu akan mengalami kisah beraneka rupa, yang mewarnai hari-hari mereka, mulai dari selepas subuh hingga larut malam tiba. Banyak kisah dan cerita baik suka maupun duka yang layak untuk kembali diceritakan kepada teman, kerabat, bahkan anak cucu kelak. Aku ingin berbagi kisah tentang menu dan makanan kami di pesantren kepada kalian, para pembaca semua.

Hari pertama tinggal di Pesantren tentunya memerlukan adaptasi yang tak mudah. Salah satu adaptasi yang harus dilalui adalah masalah makanan. Saat pertama kali mencicipi hidangan makan di pesantren, kami merasa kaget dan shok. Bayangkan saja, di rumah, kami biasa makan enak, dengan olahan yang menggugah selera hasil racikan dari tangan Bunda tercinta. Makanan olahan Bunda tentu berbeda dengan di pesantren, bagai langit dan sumur. Tempe goreng, misalnya, akan berbeda rasanya bila tempe goreng itu dibuat oleh Bunda ketimbang tempe goreng di pesantren, meskipun sama-sama tempe.

Lalu, setelah hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, maka kami pun mulai terbiasa dengan olahan dan cita rasa masakan made by chef pesantren. Mungkin lapar karena capek berkegiatan yang tak habis-habisnya, maka hidangan apapun yang disajikan oleh dapur pesantren akan kami sikat dengan lahapnya, walaupun -maaf- rasanya sangat jauh untuk disebut sebagai makanan yang enak. Tapi ya itu, karena lapar dan tidak ada lagi makanan enak yang bisa di makan, maka nasi dan tempe goreng plus sayur kangkung (yang rasanya gak karuan) pun dengan lancar masuk kerongkongan dan bersemayam di perut kami dengan damainya. Seingatku, saat itu tak ada diantara kami yang susah makan lantaran menyantap makanan dari dapur pesantren. Kalaupun tak berselera dengan lauk yang disajikan, maka kami biasanya membeli “salatoh” (sambal) sebagai penambah rasa lauk yang hambar agar ada tambahan rasa pedas, manis, dan asinnya. Ya, salatoh itu aku istilahkan sebagai doping agar lauk dan sayur dapat dengan lancar masuk ke tenggorokan.

Oh ya, tak selamanya menu makanan di pesantren tak enak atau melulu hanya tahu dan tempe goreng saja. Menunya bagiku cukup bervariasi dan sesuai standard kesehatan yang ditetapkan oleh WHO, hehe... Selang seling. Ada ikan kembung goreng, telor dadar/rebus, ayam, dan daging. Menariknya, untuk lauk tempe-nya pun diolah dengan beragam model. Ada yang disebut tempe jilbab, karena tempe itu ditepungin (seperti mendoan); Ada pula yang kami juluki tempe berontak, sebutan untuk tempe yang diiris tipis-tipis, dan diberi kecap. Dan banyak sebutan aneh lainnya. Ironisnya, bila makan pagi (sarapan), maka menunya hampir seragam yakni sayur (bersantan bening) dan selalu berkrupuk. Itu saja terus menerus, tanpa perubahan, kecuali saban Jumat pagi, dimana kami biasanya menyantap nasi goreng plus kerupuk putih. Just it.

Nah, untuk menu makan siang relatif beragam dan ada peningkatan ‘gizi’ ketimbang menu sarapan dan makan malam. Menu lunch kami lumayan ‘berkelas’. Setiap rabu siang ada opor ayam, yang lumayan enak untuk lidahku. Lantaran lauknya opor ayam, maka saban rabu siang, selepas shalat zuhur, kami ‘dipastikan’ shalat tanpa khusyuk. Begitu selesai do’a tanda ibadah shalat kelar, maka kami, para santri langsung ngacir laksana kecepatan kilat menyambar menuju kamar dan mengambil piring lalu ngantri di dapur. Kenapa kami harus lari? Pertama agar bisa segera dilayani oleh petugas; Karena yang sudah-sudah pernah kejadian sebagian kecil dari kami tidak dapat lauk opor ayam. Kehabisan. Sebagai gantinya, oleh pengurus dapur maka di-rebusin-lah telor, hiks.. Sungguh tragis! Opor ayam diganti telor rebus. Alasan kedua, agar kami dapat memilih potongan ayam yang kami sukai. Jangan sampai kami hanya tinggal mendapat sayap atau maaf- empot-nya ayam. Biasanya pilihan favorit kami adalah dada atau paha bagian dalam yang banyak terdapat daging ketimbang tulangnya. Bila antrian kami jauh dibelakang, jangan berharap dapat potongan daging yang oke, apesnya ya mendapat empot ayam. Begitulah, hari rabu siang adalah salah satu hari yang kami nanti-nanti.

Temans, tak selamanya kami menikmati dengan sempurna kelezatan hidangan ala pesantran. Pernah suatu hari disuatu masa, kejadiannya kalau tak salah pada hari kamis pagi. Daftar menu sarapan hari itu adalah sayur kol berkuah (santan) dengan krupuk. Menu ini salah satu menu favorit kami, karena sayur kol berkuah ini rasanya gak jauh beda dengan sayur padang yang berkuah lezat. Lumayan enak. Nah, disaat kami mulai mengunyah nasi bercampur sayur itu, kok ada yang beda rasanya dibandingkan dengan kamis-kamis kemarin. Rasa sayur kol ini rada aneh, berbeda dengan sebelum-sebelumya. “Ah, mungkin lidahku saja yang lagi error,” pikirku. Namun, tak hanya aku, teman-temanku yang lain pun merasakan keanehan yang sama. Tapi, sudahlah, habiskan saja, toh masih ada rasa asin dan gurih khas sayur bersantan. Akhirnya kami pun menghabiskan sarapan bersayur itu, tanpa tersisa. Piring kami licin tandas. Laper, hehe..

Nah, saat mentari mulai naik, sekira waktu dhuha, pas jam istirahat pertama tiba, setempo jam 09-an, tersiarlah kabar yang membuat perut ini mules. Ya, mendengar selentingan kabar itu langsung kami tercekat kaget. Ternyata sarapan yang kami santap di kamis pagi itu bercampur dengan (bulu) tikus. Inti kabar di pagi itu adalah selagi sayur kol itu di masak dalam panci yang besar, sayur itu kemasukan tikus. Lho kok bisa? Lha bisa, lha wong tikus dan santri jumlahnya bersaing. Waktu itu banyak tikus berkeliaran di sekitar pesantren kami. Nah, tikus got berbadan besar yang berkeliaran di dapur pesantren itu tanpa sengaja tergelincir jatuh ke dalam panci besar tempat sayur kol yang siap dihidangkan untuk sarapan pagi para santri. Oleh juru masak, tikus yang masuk ke panci besar yang sedang mendidih hebat itu segera diambil dan dibuang. Tikusnya sendiri ketika terpeleset masuk panci besar langsung menggelepar-gelepar dan koit seketika.


Kalau bicara kesehatan, tentu sayur itu harus dibuang dan diganti (dimasak) dengan sayur yang baru. Oleh pengurus dapur, lantaran waktunya sudah mepet, sedangkan jam sarapan santri sudah tiba, maka sayur itu terpaksa dihidangkan. Mereka kompak untuk tak menceritakan ‘aib’ besar itu, takut para santri tak nafsu makan. Barulah setelah selesai sarapan, dimana para santri telah belajar di kelasnya masing-masing, berita tikus masuk ke panci besar itu kami dengar. Pantesan rasanya kok rada aneh, ternyata ada campuran tikus disana. Ola la. Untungnya, meski kami menyantap sayur kol bercampur tikus, namun tak ada yang sakit diantara kami. Hanya setelahnya, setiap hari kamis pagi saat sayur kol itu kembali dihidangkan, ada perasaan geli dan tak enak, mungkin lantaran teringat tikusnya. Itulah ceritaku yang sempat menikmati olahan sayur kol berbulu tikus. Berani mencoba?

Kamis, 12 Mei 2016

Di DC, Harga Sepotong Ikan Salmon & Pancake, Bisa Sama.

Biasanya dimana banyak menjamur rumah kost, disitu pula banyak rumah makan bertebaran. Sama seperti kost-kostan, masing-masing rumah makan tentu mencoba memberikan layanan terbaiknya. Disamping rasa yang enak, tentu harga yang miring yang menjadi andalan mereka, pemilik rumah makan, dalam menarik pelanggan. Dan, bagi sebagian pelanggan, ada satu lagi yang menjadi incaran-nya yakni, bebas mengambil nasi sesukannya, atau sistem prasmanan. Bagi anak kost, tentu model rumah makan prasmanan lebih disukai ketimbang model rumah makan padang atau sistem touch screen ala warteg, pasalnya mereka bebas mengambil lauk dan menciduk nasi sepuas-puasnya.

Sistem ini banyak dijumpai di rumah-rumah makan yang ada di sekitar kampus di Jawa Barat.. Kita dipersilakan untuk mengambil nasi sepuasnya, begitupun sayur dan aneka lauk. Biasanya sebelum bersantap, kita akan memperlihatkan dulu piring yang berisi nasi dan lauknya kepada penjaga, Dari situ si penjual akan tahu dan menaksir harga untuk sepiring makanan itu. Harganya tentu beda-beda, tergantung banyaknya porsi yang kita ambil, karena memang sistemnya self service.

Atau bisa juga, bersantap dulu sepuasnya kemudian menyebut nama lauk yang kita makan. Nah, biasanya ini diterapkan oleh rumah makan model rumahan atau dalam arti rumah makan yang dikelola ibu kost untuk melayani kebutuhan makan para penghuni kost-nya. Ibu kost biasanya menerapkan aturan yang longgar alias tak terlalu perhitungan dalam menerapkan kebijakan harga. Siapa yang mau makan, bebas mengambil nasi dan lauk sepuasnya, harganya pun harga kekeluargaan.

Tadinya kupikir kebijakan prasmanan atau self service ini hanya ada di rumah makan di Jawa Barat, seperti waktu zaman aku kuliah dulu di Jatinangor. Ternyata, model prasmanan ini ada pula di Washington DC dan Philadelphia, Amerika Serikat. Meski keduanya menerapkan sistem prasmanan, namun ada keunikan yang kujamin tidak ada di restoran atau rumah makan manapun di Indonesia! Mau tahu keunikannya? Ini dia.

Bicara masalah sistem makan dan sitem bayar makan, ada yang menarik di beberapa
rumah makan di Amerika, setidaknya ada dua kota yang kutemui, yang menerapkan cara penghitungan pembayaran yang unik untuk aneka lauk yang kita pilih. Ya, lauk dan makanan yang kita ambil secara self service atau pramanan akan ditimbang dulu untuk menentukan harga makanan itu, baru boleh kita santap. Ditimbang? Iya, apapun jenis makan itu, entah itu jenis daging, ikan, gorengan, steam-an, berbahan gandum, tepung, aneka kacang-kacangan, makanan berkelas atau murahan, semuanya yang tersaji di piring kita akan ditimbang.

Aku rada bingung juga dengan konsep ini, pasalnya berat sekerat daging dan sepotong tahu atau tempe akan ditimbang dan diperlakukan sama, dengan harga yang sama. Bagiku, daging tentu lebih berkualitas ketimbang tahu, begitupun satu butir telur akan beda kualitasnya ketimbang sekerat beef atau seekor ikan salmon. Disinilah uniknya. Bagaimana mereka, pengelola rumah makan, mengkalkulasi harga lantaran semua jenis makanan diperlakukan sama, dihitung harganya berdasarkan beratnya.

Dasar orang Indonesia, tentu aku gak mau rugi. Aku pilih makanan yang menurutku mempunyai prestige yang tinggi seperti salmon, beef ataupun sayuran yang berkelas dan gak ada di Indonesia. Sengaja aku hindari memilih daging ayam, ataupun sayuran yang umum, yang banyak ada di tanah air. Toh, semuanya ditimbang dan disamaratakan harganya tanpa memandang jenis dan kualitas makanannya.

Dengan sistem ini aku harus pandai-pandai berstrategi. Bagaimana menyiasati cara makan lezat, terkesan mewah, dan berkualitas dengan harga yang relative murah. Disinilah aku harus mengira-ngira mana lauk yang aku harus ambil banyak, dan mana jenis lauk yang cukup diambil sedikit saja. Rata-rata biaya makan untuk model timbangan seperti ini berkisar antara 8 hingga 13 dollar sepiringnya. Ya, sekali lagi tergantung beratnya.


Selepas bersantap, saat melihat kasir penjaga menimbang makanan yang dipesan oleh temanku, kepikiran juga dalam hati, sepertinya model makan di timbang ini belum ada atau belum diterapkan di rumah-rumah makan di Indonesia. Jika model ini diterapkan, mungkin akan menjadi rumah makan yang special dan unik dimata para pecinta kuliner tanah air. Model timbangan ini tentu menjadi bahan obrolan menarik bagi para penikmat wisata kuliner, dan tentu saja menjadi media promosi yang gratis bagi rumah makan itu. Jika konsep ini diterapkan, entahlah apakah pengusaha rumah makan akan untung atau sebaliknya justru akan merugi. Ya, sepertinya ini layak dicoba. 

Senin, 18 April 2016

Menemukan kehalalan di Amerika

Seumur hidupku, bepergian ke luar negeri hanya sampai ke Singapura dan Kuala Lumpur saja, belum pernah melangkah jauh. Takut kesasar. Lagi pula aku rada susah dalam soal makan. Beruntung, kedua negara itu masih serumpun, jadi cita rasa makanan-nya pun gak beda dengan seleraku. Cocoklah untuk lidah melayu macamku ini. Nah, ketika diberi kesempatan pergi jauh ke seberang samudera, ke Amerika sana, rasa khawatirku pun muncul. Khawatir gak bisa makan. Istriku bahkan sempat menyarankan untuk membawa campuran kentang, tempe dan teri (digoreng kering) sebagai tambahan lauk. Namun usul itu aku tolak lantaran takut jenis makanan itu tak bisa masuk atau lolos di pemeriksaan imigrasi.

Dalam booklet, yang berisi itinerary dan agenda program IVLP selama di Amerika Serikat, yang kuperoleh setiap kali check in di suatu hotel, ada secarik kertas yang bertuliskan nama-nama restoran yang direkomendasikan untuk dicoba. Rekomendasi ini mulai dari yang berharga di bawah 10 dollar sampai pada kisaran 15 hingga 20 dollar untuk sekali makan. Dalam rekomendasi itu juga dicantumkan jenis-jenis masakan atau hidangan dengan cita rasa khas suatu kawasan atau negara. Seperti; restoran middle east cuisine, north africa cuisine, asia/oriental cuisine, south asia cuisine, dan western cuisine.

Lantaran beberapa peserta IVLP ada yang muslim, maka oleh panitia dari Departement of State USA, disertakan pula nama-nama restoran yang mencantumkan label halal. Namun, restoran model ini tidak banyak di Amerika. Makum, muslim di Amerika Serikat adalah minoritas. Biasanya restoran dari kawasan Asia Selatan dan Afrika Utara, yang memang berpenduduk mayoritas muslim, memasang label halal. Sementara restoran bergaya oriental ada yang halal dan adapula yang ‘abstain’ atau tingkat kehalalannya tidak ter-verifikasi.

Bicara mengenai halal atau tidaknya produk makanan dan olahan di Amerika, tentu tidak bisa dipersandingkan atau vis a vis dengan labelisasi halal haram ala MUI-nya Indonesia. Di Indonesia, akan banyak variable yang harus diaudit untuk menentukan makanan tersebut di-labeli halal atau tidak. Seperti (bila hewani); Cara penyembelihannya, prosesnya, pengolahannya, dan sebagainya. Sementara di Amerika Serikat tentu berbeda, lantaran tidak ada lembaga resmi pemerintah yang diberi wewenang untuk men-sertifikasi produk tersebut halal atau tidak. Kehalalan suatu produk/makanan biasanya ditentukan sendiri oleh si pemilik atau chef rumah makan tersebut.


Selama di Amerika Serikat, bila kebetulan ada rumah makan halal di dekat hotel atau tempat meeting, tentu itu jadi pilihan utamaku. Namun jika lokasinya sangat jauh, apa boleh buat, restoran ‘remang-remang’ pun (yang tak mencantumkan halal/haram) terpaksa aku sambangi. Aku tidak fanatik dalam ‘memburu’ restoran berlabel halal. Bagiku, selagi tak menyantap babi, bacon, pork atau sejenisnya di menu makanan yang tersaji, tentu aku makan. Untuk amannya, selain sayuran biasanya aku memesan olahan laut seperti udang dan salmon. Kadang olahan ayam atau beef.

Saat berada di Washington DC kebetulan tempatku menginap letaknya strategis. Aku tinggal di Hotel One Cicle yang berseberangan dengan Universitas George Washington. Hotel itu dekat kemana-mana. (ya, didekat-dekat-in aja, lha wong disana gak ada angkot, hehe). Dari hotel ke rumah makan berlabel halal cukup di tempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Ada 2 (dua) rumah makan halal. Satu restoran south asian dan lainnya masakan oriental. Pilihanku adalah restoran Dynansti, di kawasan Dupont. Lokasinya persis di belakang kantor Kedutaan Besar RI di DC. Restoran ini cukup ramai, yang datang tidak hanya Asia, namun banyak juga warga African American yang bersantap. Menariknya, beragam menu olahan asia ini tak asing untuk lidah Indonesia.

Menu favoritku tiap kali memesan adalah indonesian fried rice with shrimp. Nasi gorengnya cukup enak, tak beda dengan rasa di Indonesia. Aku curiga sang koki diajari cara memasak dan meramu nasi goreng ala Indonesia oleh salah seorang staf Kedubes kita yang ada disana. Atau boleh jadi staf Kedubes Indonesia itu punya saham dan royalty untuk menu nasi goreng Indonesia yang dibuat, hehe..

Biasanya, dimana banyak komunitas muslim bermukim di suatu wilayah atau negara bagian (state) tentu tak sukar menemukan rumah makan halal. Di Salt Lake City, Saint Louis, Philadelphia, dan Washington DC, rupanya banyak komunitas muslim yang tinggal. Tak sulit mencari Islamic Center, masjid, atau rumah makan halal disana. Kebanyakan imigran yang berdiam di negara-negara bagian tersebut (kecuali DC) berasal dari afrika utara dan kawasan konflik di timur tengah. Mereka datang dan mencari suaka di negara impian ini. Di Philly misalnya, ada beberapa food stall halal di sekitar ‘alun-alun’ kota.

Restoran dan rumah makan berlabel halal biasanya mendapat pasokan produk makanannya dari komunitas muslim yang ada disekitarnya. Daging (kambing dan sapi) misalnya, disembelih dan diolah dengan cara Islam. Mengolahnya pun dengan cara yang syar’i atau sesuai ajaran Islam. Produk halal yang disajikan, tidak bercampur dengan yang haram, seperti olahan dari daging babi, misalnya. Demikianlah, komunitas Muslim setempat menjual produk-produk halal untuk para warga muslim yang ada di sekitarnya.

Adanya muslim disuatu wilayah di negara adidaya ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi orang -dengan latar belakang muslim- sepertiku, sehingga tak perlu repot mencari dan berburu makanan halal di negara liberal macam amerika ini. Meski di AS jumlah warga muslim adalah minoritas, namun muslim mampu menunjukkan jati dirinya dengan kehadiran beberapa restoran dan food stall halal di sudut-sudut kota. Kehadirannya laksana oase di padang gurun yang luas. Dan bagiku, itu cukup sebagai penanda bahwa ada Islam di pelosok wilayah Amerika.


Senin, 11 April 2016

Ada Cita Rasa Indonesia Di Philadelphia


Philly atau Philadelphia, berada di negara bagian Pennsylvania. Kota ini memang kota yang multicultural. Beragam ras dan bangsa ada disini. Bahkan orang Indonesia pun gak mau ketinggalan dalam mengadu nasib dan peruntungannya di kota seribu satu mural ini, ditaksir ada sekitar 5000-an warga Indonesia yang bekerja –baik legal maupun illegal- di pabrik-pabrik dan sektor informal yang tersedia. Tak sulit menemukan mereka. Saat aku belanja di Reading Terminal Market, kujumpai beberapa kasir dan pelayan toko asal Pluit, Jakata dan kota-kota di Indonesia lainnya. Kusempatkan waktu untuk mengobrol dengan mereka.. Saat sore, selepas jam kerja, rupa warna dan raga orang-orang lalu lalang di depan hotel-ku. Hilir mudik, sibuk dengan urusannya. Bahkan, pengemis pun tak kalah ‘sibuk’ nya, banyak yang nongkrong di lokasi-lokasi strategis. Dengan modal sobekan karton bertuliskan “Homeless, Give your pennies, please. Need Food” seakan melambaikan iba ‘tuk dikasihani.

Lantaran banyaknya orang kulit berwarna (baca:asia), maka tak sukar menemukan makanan Asia di kota yang pernah menjadi ibu kota dari Amerika serikat ini. Di Reading Terminal Market, ‘Pasar Modern’ nan khas yang ada di Phili, misalnya, banyak stand makanan dari Thai, India, dan China.  Nah, sewaktu berada di Philadelphia, rupanya Pak Hendki dan Mba Nunu, LO kami selama di Amerika, tahu kerinduan kami akan masakan Indonesia. Dibawanya kami untuk menikmati dan mencicipi cita rasa nusantara ke sebuah rumah makan yang sudah terkenal di kalangan warga Indonesia yang bermukim di sekitar kawasan pantai timur Amerika. Restoran Hadena namanya. Lokasinya di 1754 S Hicks Street, Philadelphia Restoran ini dimiliki dan dikelola oleh imigran asal Surabaya yang telah lama bermigrasi ke Amerika. Kami menyapanya dengan panggilan Oom. Si Oom mengaku telah ada di Amerika sekitar tahun 70-an, dimana awalnya sempat bekerja sebagai staf di KJRI Indonesia di New York.

Saat aku memasukinya, terlihat ornament khas Indonesia berupa patung dan beberapa ukiran dari Jawa. Tampak pula meja kursi yang tertata persis seperti rumah makan sederhana di Jawa. Nah, untuk penyajian makanan, gak beda dengan sajian tata letak makanan ala Warteg. Terhampar di bilik kaca aneka masakan dan olahan. Semua makanan dan sayuran khas Indonesia (Jawa) tersaji. Ada sayur lodeh; Sop, Sayur Asem; Oseng-oseng kacang panjang; Tempe goreng; Gulai Telor/Ikan; Rendang; Kerecek; Kering tempe dan teri; Gudek; Bahkan soto, dan gado-gado. Semuanya tampak menggugah selera. Pilihan menu nasi ramesan di Hadena ini lumayan banyak dan variatif. Harganya pun relatif murah, berada di kisaran 10 an dollar.

Mungkin kalau kita berada di tanah air, hidangan demikian akan terlihat biasa saja dalam pandangan mata. Namun saat ini aku sedang berada di Amerika, jarak yang beribu-ribu mile dari Jakarta, adalah hal yang amazing dan excited menemukan ada makanan khas nusantara terhampar di depan mata.

Puas melihat hidangan yang ada, barulah aku menentukan pilihan. Aku memesan sayur lodeh dengan telor dan tempe kering, plus sambal terasi. Tadinya kupikir rasa sambalnya biasa saja, seperti sambal olahan dalam botol. Namun dugaanku salah. Ternyata sambalya asli sambal olahan tangan (sambal dadak) dengan rasa terasi Indonesia yang khas. Saat aku tanyakan dimana mendapatkan ini semua, Si Oom menjawab bahwa pencarian aneka bumbu dan rempah dilakukan secara bergerilya, dalam arti tidak di satu lokasi saja namun merambah state lain hingga ke Los Angeles, dimana banyak bermukim warga Indonesia. Adakalanya rempah dan bahan-bahan masakan itu sengaja di boyong dari Indonesia bila kebetulan Si Oom atau kerabatnya ‘mudik’ ke Indonesia. Saat aku bersantap siang, tampak beberapa warga kulit putih yang sedang menikmati hidangan khas Jawa ini. Kulirik pula ada seorang pria Indonesia sedang memesan makanan untuk di to go atau dibawa pulang.

Setelah kenyang bersantap siang, kami menyempatkan diri mampir ke minimarket khas Indonesia yang lokasinya gak terlalu jauh dari Hadena Resto. Namanya Pandawa. Saat masuk, aku melihat aneka tulisan berbahasa Indonesia. Tulisan ini tampaknya sengaja ditampilkan mengingat hampir 90 persen pengunjung Pandawa adalah warga Indonesia yang banyak bermukim di South Philly.

Toko ini menyajikan hampir semua jenis makanan dan kebutuhan masak Indonesia. Aneka rupa bumbu dan penyedap cita rasa khas Indonesia dengan mudah kita temukan disini. Ada saos sambel, kecap manis, dan sebagainya. Aneka snack kering dan kerupuk (dalam kemasan) nampak tergantung di dinding toko. Ada pula keripik, kacang, kue, permen dan aneka kue basah lainnya yang menggoda ‘tuk dicicipi. Bukan itu saja, bahkan ada nasi padang bungkusan, nasi kuning, nasi rames(an), lontong sayur, nasi pecel, dan bumbunya pun tersedia. Untuk kudapan teman minum teh di sore hari pun tersedia, seperti aneka gorengan, kue lopis, juga makanan hasil kukus. Ada pula bakmi, empek-empek dan sebagainya Singkatnya, bagi mereka yang rindu olahan masakan tanah air, bisa berbelanja di toko Pendawa ini.

Toko Pendawa menerapkan sistem konsinyasi atau titipan. Semua barang dan makanan diolah dan dipasok oleh warga Indonesia yang ada di Philli. Jadi tak aneh bila cita rasa dan olahan yang di jual di Pendawa di jamin 100 persen cita rasa Indonesia. Dari (titipan) warga, (diolah dan dimasak) oleh warga, dan untuk (disantap) warga Indonesia yang ada di Phili.


Inilah Philadelphia. Tampaknya warga Indonesia memanfaatkan betul peluang bisnis yang ada. Banyaknya orang Indonesia di Phili adalah peluang bagi bisnis kuliner. Orang Indonesia tentu lebih memilih makanan Indonesia ketimbang kuliner dari negara lain. Kehadiran masakan dan olahan Indonesia pastinya akan menjadi obat penawar rindu mereka dengan tanah airnya, juga dengan kulinernya. Dan kerinduan itu terobati oleh kehadiran Hadena dan Pendawa di Philadelphia. 

Kamis, 07 April 2016

Meski Di Amerika, Sarapan Nasi Perlu.


Biasanya di pagi hari, menu sarapanku adalah lontong sayur atau nasi uduk. Gonta ganti.  Atau bisa pula diselingi dengan sayur (asem, sop, lodeh) dicampur dengan tempe goreng dan nasi hanngat. Sayur matang tersebut aku beli di warung makan depan rumah yang khusus menjual makanan siap santap yang telah dibungkus. Sebungkusnya 5 (lima) ribu rupiah. Cuma itu yang tersaji di warung atau lapak makanan deket rumah,. Lapak itupun hanya ada di pagi hari, yang memang sengaja dijajakan untuk ngebantu orang kantoran sepertiku yang gak sempet makan atau meramu nasi goreng, sekalipun. Keberadaan lapak makanan di pagi hari cukup membantuku. Ya, kita sama-sama saling membantu. Mereka terbantu menggulirkan uangnya untuk tambahan jajan anak-anaknya, aku pun terbantu hingga tak perlu repot meminta istri membuatkan nasi goreng atau sekadar ceplok dadar telor.

Nah, saat aku di Amerika mengikuti program IVLP selama 3 (tiga) pekan, mau tak mau pola dan menu sarapanku pun berubah. Tak ada lagi lontong sayur ataupun nasi uduk semur jengkol. Kini yang ada dan selalu tersaji di ruang makan hotel adalah kentang rebus, roti (bisa dipanggang), telur dadar, dan pancake, serta daging olahan. Ya, hampir saban hari seperti itu. Gak berubah. Kalau satu dua kali nyoba, tentu masih ada rasa exciting-nya dan enak disantap. Namun bila telah menjadi rutinitas sarapan selama 3 (tiga) pekan, ya bosen juga.

Gimana caranya biar gak bosen? Selalu ada jalan dan cara bagi orang Indonesia katro sepertiku untuk mencari celah dan menyiasatinya. Biasanya aku menghangatkan lauk pauk makan malam yang tersisa untuk disantap keesokan paginya. Untuk makan malam, sengaja aku memilih resto China atau resto Asia di tiap kota yang kusinggahi, yang kadang menjual nasi. “Do you have steam rice?” Selidikku pada pramusaji, tatkala melihat magic jar di sudut tempat menaruh aneka makanan. Jadilah aku memesan nasi putih plus ayam atau beef poured with sweet sauce sebagai menu pelangkap.

Ngomong-ngomong kok bisa ada sisa? Iya, mesti ada sisa. Di sini, di Amerika, satu porsi makanan cukup untuk dua kali makan orang Indonesia yang berusus pendek dan kecil sepertiku. Porsi Amerika itu jumbo, lantaran body mereka pun diatas rata-rata tubuh orang Indonesia. Jadi, wajar bila pramusaji di semua food court atau di rumah makan menyendokkan lauk pauk dengan porsi yang banyak. Nah, lantaran sering gak sanggup menghabiskannya, timbullah ide kreatif untuk membungkus makanan yang dibeli supaya bisa disisakan untuk dimakan keesokan paginya. Beruntung, ditiap hotel yang kusinggahi selalu ada microwave, benda ini sangat membantu. Jadi gak perlu repot untuk urusan hangat-menghangatkan makanan. Thanks to you, Micro.

Meski selama di Amerika Serikat aku menghabiskan malam rata-rata 4 (empat) hari di suatu hotel, untuk kemudian pindah ke negara (state) lainnya, namun tetap saja format dan standard baku per-sarapan di amerika seperti itu. Gonta-ganti hotel, tetap saja SOP-nya gak berubah. Boro-boro nyari nasi pecel atawa salad khas america, seperti di kampung istriku di Klaten, nyari nasi goreng atau porridge made in hotel saja impossible.

Di saat sarapan, tatkala sedang mengunyah kentang yang terasa hambar di mulut, sering aku termenung dan lalu bersyukur. Beruntung, aku, keluargaku dan teman-temanku berwarga negara dan tinggal di Indonesia. Dengan uang 10 (sepuluh) ribu rupiah ditangan, bisa peroleh sarapan yang super lezat dan nikmat. Dengan uang sebesar itu kita bisa membeli nasi pecel, atau bubur ayam atau nasi uduk lengkap dengan semur jengkolnya, plus teh manis panas. Bandingkan dengan mereka yang tinggal di Amerika, yang saban hari hanya ber-sarapan kentang, telor, roti dan daging olahan. Semuanya nyaris tanpa racikan aneka rempah dan bumbu-bumbu penyedap rasa. Hambar. Vivat dunia kuliner Indonesia…


Minggu, 13 Desember 2015

Gado-Gado yang Selalu Menggoda

Bagi tiap orang yang baru tiba di Jakarta, untuk urusan makan tak lah terlalu mengkhawatirkan. Beragam makanan dengan aneka cita, rasa, dan selera sangat mudah dijumpai. Hampir di tiap penjuru dan gang (lorong) di Jakarta dapat dijumpai para penjual aneka makanan, mulai dari kelas kaki lima hingga hotel bintang lima. Namun, ada satu jenis makanan khas Jakarta yang sangat mudah untuk ditemui yakni Gado-Gado. Selain Ketoprak, Bakso ataupun Mie Ayam, Penjual Gado-Gado, dengan gerobak dorong bertuliskan Gado-Gado Lontong ataupun yang menempati warung sederhana, sangat mudah untuk dikenali.

Dari namanya, Gado-Gado adalah campur aduk. Campuran dari berbagai sayuran plus tahu tempe dan telor rebus yang di aduk oleh racikan saos kacang berbumbu garam, terasi, cabai, gula merah, campuran air asem, dan jeruk limau untuk kemudian ditaburi dengan bawang goreng dan krupuk. Kata Gado, juga bermakna dimakan tanpa nasi. Di jambal, menurut kosa kata Jawa.

Begitu populernya Gado-Gado sebagai kuliner khas Jakarta, sampai-sampai ia di racik bukan hanya oleh orang asli Jakarta (baca; Betawi) saja, tetapi banyak penjual di luar etnis Betawi --paling banyak dari daerah Kuningan, Jawa Barat-- yang meng-ulek bumbu gado-gado. Mengenai rasa, boleh diadu. Bahkan kini sangat sulit menjumpai Gado-Gado ‘asli’ Betawi di Jakarta, yakni Gado-Gado bikinan Mpok-Mpok (sapaan khas perempuan Betawi) yang diracik di warung makan Betawi. Salah satu ciri khas dari Gado-Gado Betawi Asli adalah pada penggunaan nangka muda rebus. Ya, ini menjadi penanda yang membedakan Gado-gado ini dibuat oleh orang Betawi atau bukan.
Gado-Gado Mpo Iyom, Pos Pengumben, Jak-Bar


Ada beberapa penjual Gado-Gado ASELI Betawi yang ada dan masih setia melestarikan kuliner leluhurnya. Di kawasan Condet, Jakarta Timur, misalnya, di Jalan Olahraga I ada Mpo Iti, yang membuka lapak persis di depan rumahnya. Gado-gadonya sangat terkenal kegurihannya. Pembelinya rela antri berjam-jam hanya untuk menikmati sebungkus gado-Gado yang dijual seharga 10 ribu rupiah. Selain Mpo iti, di Kawasan Ampera, Kemang, Jakarta Selatan, juga ada, tepatnya di depan gedung ANRI. Di Jakarta Barat dapat dijumpai di Prapatan Pos Pengumben, namanya Gado-Gado Mpo Iyom. Oh ya, salah satu tips mendapatkan Gado-Gado ASELI Betawi adalah di kawasan dimana banyak etnis Betawi tinggal, seperti wilayah Condet, Jakarta Timur; Kebon Jeruk, Kemanggisan Jakarta Barat; Kebayoran Lama, dan Ciganjur, di Jakarta Selatan. Menariknya, Gado-Gado ASELI Betawi tidak dijajakan di gerobak melainkan di warung atau berbentuk warung/rumah makan di rumah si penjual Gado-Gado itu sendiri. Jadi, jangan harap menemukan Gado-Gado ASELI Betawi di Pondok Indah ataupun Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Walau dengan racikan bumbu yang sederhana, tapi mengenai rasa, Gado-Gado dapat memiliki rasa yang berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung dari takaran bumbu dan ‘goyangan’ Si pengulek atau penjualnya. Makin ia menjiwai aura dan ruh spirit Gado-Gado, maka makin mantap lah goyangan pinggulnya dalam mengulek bumbu kacang, sebagai saos utama Gado-Gado. Biasanya, sebelum mengulek bumbunya, si penjual akan menanyakan kepada kita: “Pedes gak?” Jika kita meminta Gado-Gado dengan rasa pedas, maka ia akan menambahkan beberapa potong cabai ke dalam ulekan, begitupun sebaliknya jika rasa manis atau sedang yang kita inginkan.

Bagi kalangan menengah atas, Gado-Gado seperti salad, penganan yang kerap dijumpai dihotel-hotel berbintang. Ia seperti Rujak Cingur khas Surabaya. Mirip Nasi Pecel ataupun Karedok khas bumi parahyangan. Namun untuk rasa, Gado-Gado sangat melegenda dan mempunyai cita rasa khas dan eksentrik yang membedakan dengan rasa kuliner di atas.


Gado-Gado merupakan ‘makanan berat’ namun ‘ringan’ yang murah meriah. Dibilang berat, jika seporsi Gado-Gado ditambah dengan seporsi nasi putih. Menjadi ‘ringan’ bila ia hanya di gado saja alias tanpa tambahan nasi atau lontong. Ya, cocok untuk mereka yang sedang diet karbohidrat. Hanya dengan Rp 10.000 hingga Rp 15.000 rupiah, sepiring Gado-Gado dengan campuran nasi atau lontong dapat menjadi penganjal perut yang sangat nikmat. Biasanya, makin enak bumbu kacangnya (ada yang memakai kacang tanah, kacang mete ataupun campuran keduanya), akan semakin mahal harga per-porsi yang ditawarkan. Itulah Gado-Gado, makanan khas Jakarta dengan kompleksitas permasalahan yang gado-gado pula.  

Rabu, 08 Juli 2015

Soto dan Asinan Betawi

Kuliner yang berani menyandang nama etnisnya.

Soto. Makanan berkuah ini sangat terkenal bukan saja di Jakarta bahkan menjadi kuliner andalan daerah-daerah lain di Indonesia. Sebut saja yang terkenal dan banyak di jumpai di Jakarta seperti; Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Padang, dan Soto Bogor. Nah, Jika daerah lain memakai nama kota sebagai nama soto-nya, namun tidak demikian dengan Jakarta. Makanan berkuah yang kental dengan aroma rempah dan santan ini tidak dinamakan dengan soto Jakarta, namun merujuk pada etnis asli Jakarta yakni Betawi. Jadilah namanya “Soto Betawi”.

Bagi anda pecinta kuliner dan senang berburu sajian kuliner yang menggugah rasa dan selera, tentu tidak lah sulit untuk membedakan antara sop (betawi) dan soto (betawi). Meski sama-sama berkuah dan berkaldu --dengan bahan utama berisi irisan daging-- namun sop (betawi) dan soto (betawi) mempunyai perbedaan rasa dan aroma yang kontras. Biasanya sop (betawi)  berkuah bening, alias tanpa santan, sedangkan soto (betawi)  memakai santan yang sangat kental. Namun, pakem ini tidak berlaku untuk penyebutan soto khas dari suatu daerah. Soto Kudus misalnya, ia berkuah bening. Demikian pula Soto Bogor dan Soto Lamongan. Semuanya nyaris tanpa santan. Nah, untuk kita para pecinta kuliner khas betawi, maka jangan sampai salah untuk membedakan penyebutan sop (betawi) dan soto (betawi) bila memesan makanan di rumah makan khas Betwai yang tersebar di Jakarta. Ingat, keduanya berbeda.

Soto Betawi, --selain gado-gado-- tentunya menjadi trade mark dan legacy aneka kuliner asli Jakarta. Dari namanya yang mewakili etnis, tentu akan lebih nikmat jika olahan soto ini dibuat langsung oleh orang Betawi asli. Untuk rasa memang tak mengenal kompromi. Rasa adalah nomor satu. Banyak pengunjung yang rela antri agar dapat menikmati lezatnya soto Betawi (asli) saat jam makan tiba. Ini bisa dilihat di beberapa warung makan Soto Betawi terkenal seperti di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran, dan Manggarai, Jakarta Selatan.

Makin terkenal warung soto-nya, makin mahal pula harga untuk se-porsi soto yang ditawarkan. Soto yang enak biasanya mempunyai kuah santan yang kental dengan rasa rempah-rempah yang ‘nendang’. Biasanya kisaran harganya  15 hingga 35 ribu per porsinya. Meski tergolong mahal, namun tak menyurutkan pecinta kuliner untuk berburu dan menyantap soto kegemaran mereka. Harga nomor sekian, asalkan rasanya enak. Meski begitu, adapula warung atau rumah makan yang menyajikan Soto Betawi bagi mereka yang berkocek tipis. Soal rasa, ya lumayan lah. Untuk soto Betawi level ini biasanya dijual dengan harga berkisar 12 hingga 18 ribu per porsinya.

Biasanya salah satu ciri warung Soto Betawi adalah adanya toples yang berisi racikan acar sebagai penambah selera atau kudapan penutup sehabis bersantap soto. Konon, acar ini disediakan sebagai penawar atau penetralisir rasa kuah santan yang menyengat. Acar ini terdiri dari timun dan wortel yang diiris kecil berbentuk dadu dengan campuran air cuka, cabe rawit, dan bawang merah mentah.

Uniknya, tidak seperti soto dari daerah lain di Nusantara, Soto Betawi (asli) tidak memakai ayam sebagai menu utamanya, namun selalu memakai daging sapi atau kerbau yang digoreng kering. Disamping itu, irisan kaki, babat, otak, torpedo, dan paru kerap disajikan sebagai pendamping dari daging, tergantung dari selera penikmat. Dengan olahan bumbu bersari santan kelapa kental dengan kuah berwarna kuning kemerah-merahan, Soto Betawi akan nikmat dimakan sewaktu jam makan siang ataupun malam hari.

Selain gorengan dari daging kerbau atau sapi, semangkuk atau satu porsi Soto Betawi akan berisi irisan tomat segar, daun bawang, potongan kentang goreng, plus taburan emping. Tak ketinggalan pula sebotol kecap manis dan seiris jeruk limau sebagai penambah citarasa. Soto Betawi selalu disajikan dengan seporsi nasi putih hangat dengan taburan bawang goreng diatasnya.


Asinan Betawi dan Rujak Buah

Selain Asinan Bogor yang sudah lebih dulu melegenda, Jakarta juga memiliki asinan dengan aroma dan rasa yang khas. Ya, Asinan Betawi. Pada dasarnya Asinan Betawi adalah perpaduan  aneka sayuran seperti timun, kol, dan tauge yang diiris tipis. Aneka sayuran itu kemudian disiram dan diberi kuah dengan warna coklat kemerah-merahan. Kuah ini adalah bumbu utama penyegar rasa hasil campuran dari cuka aren, gula merah, aneka bahan alami lainnya, dan kacang tanah.

Selain asinan sayur, ada pula asinan buah. Kuah dasarnya nyaris sama, hanya berbeda pada isinya. Biasanya buah yang digunakan adalah nanas, kedondong, dan bangkuang. Asinan khas Betawi ini banyak dijumpai di lingkungan dengan mayoritas penduduk ber-etnis betawi seperti kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat dan Condet di Jakarta Timur. Asinan Betawi selalu memakai kerupuk kuning dan taburan kacang tanah sebagai pelengkapnya.

Satu porsi asinan atau rujak buah biasa dijual seharga 10 ribu hingga 15 ribu rupiah tergantung dari banyak tidaknya aneka campuran buah yang digunakan. Makin beragam dan segarnya jenis buah yang digunakan, maka makin mahal pula harga yang dikenakan. Umumnya, buah yang dipakai adalah buah dengan rasa yang manis dan keasam-asaman, seperti mangga muda, kedondong, nanas, pepaya, jambu air, jambu biji, belimbing, bangkuang, mentimun, melon, dan jeruk bali.

Maka tak lengkap rasanya bisa sehabis makan Soto Betawi tidak mencicipi Asinan Betawi sebagai desert-nya. Inilah kedua kuliner dengan rasa betawi yang menggoda selera.

Berani mencoba?