Senin, 15 Agustus 2016

Menelisik Motif Seseorang Menjadi Warga Negara (Asing) Amerika

Saat menjadi tamu dari Kemeneterian Luar Negeri Amerika Serikat dalam program International Visitor Leadership 2016 (IVLP) Maret silam, aku, dan beberapa peserta lainnya ditemani oleh pendamping yang bertugas sebagai Liason Officer dan penterjemah bagi kami, peserta dari Indonesia. Maklum, tidak semua dari kami yang empat orang ini lancar ber cas cis cus dengan style American English. Menyadari bahwa program ini sangat penting bagi transfer pengetahuan dan menjalin mutual understanding diantara kedua anak bangsa, Indonesia dan warga Amerika, pihak Kemenlu USA tampaknya tidak mau mengambil resiko. Dan, supaya program berjalan efektif dan lancar, mereka pun menyediakan dua orang penterjemah untuk kami.

Kedua penterjemah kami telah lama tinggal dan menetap di Amerika. Lancar berbicara bahasa Indonesia dan Inggris. Wanita (WNI) bersuamikan WN Amerika, dan seorang lagi, pria, ber-WN- Amerika. Keduanya adalah orang aseli Indonesia. Dikatakan asli karena keduanya sejak lahir, kecil dan tumbuh remaja tinggal di Indonesia, berdarah Indonesia, ditambah berayah dan ibu Indonesia. Namun, dalam perjalanannya suratan nasib lah yang membuat keduanya mempunyai WN yang berbeda.

Nah, saat senggang diwaktu break kegiatan, iseng-iseng aku coba menelisik kisah ‘kepindahan’ pendampingku, sebut saja namanya Jonny, dari WNI ke WN Amerika. “Pak Jon, kenapa sih milih jadi WN Amerika? Selidikku.
(jawabannya kurang lebih dalam redaksi yang bebas seperti ini) “Saya itu orangnya gak suka ribet Mas Rachmat. Coba bayangkan, saya dan keluarga tinggal disini (USA), mencari nafkah dan bekerja disini. Hampir dibilang jarang sekali kami pulang ke Indonesia. Bahkan pernah, saking jarangnya, selama 5 tahun itu paspor Indonsia saya nyaris bersih dari cap imigrasi Indonesia. Parahnya, meski saya jarang ke Indonesia atau bepergian ke lauar dari Amerika, namun saya harus memperpanjang passport itu 5 (lima) tahun sekali. Dan itu sangat menyita waktu saya. Bayangkan saja, saya tinggal di California, untuk mengurus urusan keimigrasian (passport), saya harus terbang ke kedutaan di Washington DC. Butuh waktu 4 jam terbang, sudah itu ditambah pula dengan keruwetan birokrasi khas Indonesia. Jadi ya, saya memutuskan pindah jadi WN Amerika agar PRAKTIS saja.” Ujarnya.

Kemudian dia menceritakan padaku tentang proses seseorang mendapatkan kewarganegaraan Amerika. Kebanyakan dari mereka (WNI atau WN luar Amerika yang melamar menjadi WN Amerika) sebelumnya telah mendapatan status Permanent Resident atau PR. PR adalah semacam pintu masuk untuk menjadi WN Amerika. “Saya pun juga demikian, Mas Rachmat”, ujarnya. Lalu ia kembali menjelaskan bahwa sebenarnya status PR dengan WN Amerika lainnya kedudukannya hampir tak ada beda. Semua hak dan kewajiban hukum yang melekat bagi seorang PR dan Warga Negara Amerika lainnya sama. Perbedaanya hanya pada urusan politik saja yakni WN Amerika boleh nyoblos Pemilu. Mereka boleh ikut election, pemilihan presiden Amerika, Hanya itu, tak lebih.

Nah, di lain waktu, pendampingku yang seorang lagi sebut saja namanya Wati, karena ia menikah dengan WN Amerika, maka ia telah mendapatkan PR. Ia pernah ‘curhat’ padaku, “Mas Rachmat, enaknya gimana ya, apakah aku apply jadi WN Amerika atau tetap dengan status ini. Toh aku juga jarang sekali ke Indonesia. Hidupku lebih banyak disisni, di Amerika.”
Dengan bijak aku kasih pandangan. “Mbak Wati, kata Pak Jonny, PR itu kan gak beda dengan WN Amerika. Mempunyai hak dan kedudukan yang sama di mata hukum. Nah, buat apa pula ngelamar jadi WN Amerika. Toh dengan masih memiliki passport hijau Indonesia, mbak punya keterikatan batin dengan Indonesia, disamping itu kalau suatu saat mbak berencana ‘pensiun’ dan menghabiskan masa tua di tanah air, mbak bisa beli tanah dan rumah di Indonesia. Kalau tak salah kan kepemilikan tanah untuk WN Asing dilarang di Indonesia.” Begitu kira-kira advisku. “Iya juga mas”. Ujarnya menutup obrolan kami.

Nah, bicara mengenai kasus Arcandra Tahar, Menteri ESDM saat ini, perlu juga ditelisik latar belakang dan motif yang bersangkutan mendapatkan passport Amerika. Dari obrolanku dengan kedua orang pendampingku itu maka dapat diduga bahwa lantaran Arcandra telah lama tinggal dan bekerja di Amerika, tentu ia sebelumnya telah mendapatkan status Permanent Resident (PR)  sebagai syarat untuk ‘meningkatkan status’ nya menjadi WN Amerika.

Lalu apa yang menjadi motif Arcandra melamar jadi WN Amerika. Apakah motif nya sama dengan Pak Jonny itu, karena ribet harus gonta-ganti passport ataukah ada motif lain? Apapun motif dan tujuannya, hanya Tuhan dan Arcandra yang tahu. Namun dari situ kita bisa sedikit menilai jiwa dan semangat patriotisme yang bersangkutan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia. Tentu kadar dan bobotnya berbeda dengan Umar Bakrie, guru yang bergaji kecil namun tetap setia dengan pengabdiannya. Nasionalisme Arcandra Tahar juga tak bisa disamakan dengan Ngadinu, tukang becak di Solo yang mengaku pernah menempeleng pemuda rakyat di tahun 1965.

Bicara masalah nasionalisme dan patrotisme, tentu akan panjang dan menyita energy kita. Ahh persetan dengan nasionalisme, ahh masa bodo dengan patriotsime, toh kewarganegaraan tidak ditanyakan malaikat maut saat kita meninggal, misalnya. Ok, aku tidak menyalahkan mereka yang punya pikiran itu, namun aku punya prinsip, bila seseorang telah meng-apply kewarganegaraan asing, bersumpah setia terhadap Negara asing itu, maka yang bersangkutan tentu tak mau ambil pusing dengan apapun yang terjadi di Indonesia. Ia tentu saja lebih concern dengan Negara ‘barunya’ tempat ia mencari makan dan hidup. Tempat dimana ia menghabiskan waktu dan hidupnya. Indonesia? Nanti dulu.


Kenapa aku bisa pada kesimpulan itu karena dengan ia menjadi WN (asing) Amerika, misalnya, maka ia dapat menentukan kebijakan dan arah politik bangsa Amerika dengan ikut pemilu misalnya. Lalu untuk apa pula seseorang bersusah payah menjadi WN (Asing) Amerika bila dengan status PR saja ia sudah mendapatkan segalanya di Amerika. Toh, cukup dengan status PR saja, kewarganegaran Indonesia-nya tak kan hilang. Lalu dimana letak kepeduliannya terhadap Indonesa bila –mungkin- saja ia tidak memilih presiden Indonesia, karena paspornya otomatis hangus akibat kebijakan dari UU Nonor 12/2016. Namun, terlepas dari apapun motif dan tujuannya, dimataku bagi seseorang yang sudah (pernah) menjadi WN Asing, tentu tak lah elok untuk dilibatkan membicarakan nasib dan masa depan (kemajuan) Indonesia kedepan. 

Selasa, 02 Agustus 2016

Patokan yang Pernah Melegenda di Jakarta

Saya masih ingat, saat kecil bila ingin pergi ke rumah teman atau kerabat di kawasan Ciganjur, mesti akan dikasih clue oleh tuan rumah, “dari Herman Soesilo belok kiri.“ atau “sebelum Herman Soesilo ada gang, kanan pertama, namanya Gang Manggis.” Begitulah petunjuk yang diberikan. Ya, Herman menjadi patokan.

Bagi anak yang lahir tahun 90-an keatas, mungkin rada asing atau tak terlalu kenal dengan nama dan sosok Herman Soesilo. Siapa dia? Saya akan me-refresh ingatan kita akan dokter berkaca mata yang pernah popular pada tahun 80-an. Beliau adalah bekas Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Beliau terkenal lantaran wajahnya sering terlihat pada acara-acara kesehatan di TVRI, satu-satunya stasiun televisi pada masa itu. Ok, Saya tidak akan membahas tentang sosok Herman Soesilo, namun saking populernya nama tersebut, ia atau lebih tepatnya rumah kediamannya di tetapkan sebagai patokan dan rujukan bagi penduduk di kawasan sekitar Ciganjur. Maklum, dokter ini tinggal di ujung Jalan Kahfi I (sekarang posisinya dekat dengan taman Tabebuya). Kenapa (rumah) Dokter Herman bisa jadi patokan. Ya, mungkin saat itu tidak ada tempat atau icon yang menjadi penanda kawasan Ciganjur.

Bila kita berkendara dari arah Blok M menuju ke kawasan Ragunan, tentu bias melawati Jalan Kemang Raya sebagai akses terdekat ke sana. Waktu tahun 80-an yang menjadi icon dan perlambang kawasan Kemang adalah: Kem-Chick, Hotel Kemang, LPPI (sekarang IBI) dan Pom Bensin, di ujung jalan arah ke Ampera. Ya, hanya empat tempat itu, tak ada yang lain. Maklum, belum ada bangunan atau gedung fenomenal yang dapat dijadikan rujukan dan tanda. Saat itu, sepanjang Jalan Kemang hanya ada perumahan penduduk di kiri kanannya, dengan beberapa kavling tanah kosong yang belum dibangun yang akhirnya hanya berupa kumpulan ilalang tempat tumbuhnya rumput-rumput liar.

Sama dengan Kemang, di sepanjang Jalan Sudirman pun, awal tahun 80-an rada sulit juga kita menentukan patokan berdiri. Saat itu yang masih kuingat, sewaktu usiaku masih sekolah dasar hanya ada showroom Toyota di kanan jalan arah ke Dukuh Atas. Showroom ini bukanlah gedung bertingkat seperti banyak dijumpai di kiri kanan Jalan Sudirman, namun hanya bangunan 2 (dua lantai). Bila dari arah Kebayoran Baru, maka gedung Summitmas akan menjadi pertanda. Ini adalah gedung bertingkat pertama yang akan dijumpai di sebelah kanan jalan. 

Di kawasan Cilandak pun demikian adanya. Komplek Marinir di Cilandak menjadi rujukan bagi siapapun yang hendak menuju dari dan ke Cilandak/Ragunan. Beringsut ke utara, ke kawasan Jalan Sahardjo dan sekitarnya, dulunya ada (nama) Jembatan Merah. Kondektur Bus PPD 105 (?) tujuan Manggarai - Blok M sering meneriakan kata “merah-merah’. Posisinya sendiri sebelum Jalan Barkah, berada di sebelah kiri arah ke Manggarai. Oh ya, di namakan Jalan Barkah, lantaran jalan ini adalah jalan masuk ke Masjid Al Barkah. Sekira 800 meteran ada masjid dan Perguruan Islam As-Syafiiyyah, milik ulama legendaris KH. Abdullah Syafi’e.

Demikian adanya, tiap-tiap kawasan di Jakarta mempunyai tempat atau nama sebagai clue atau penanda patokan arah. Patokan itu sendiri bisa berupa kediaman rumah tokoh terkenal, tempat legendaris, ataupun kantor/instansi yang besar. Tentu patokan ini sangat membatu di zaman yang belum ada aplikasi google map. Terlebih, saat itu sangat sedikit bangunan dan gedung besar yang dapat dijadikan rujukan bagi seseorang yang baru tiba atau sampai di lokasi itu.

Begitulah warna warni dalam menentukan patokan dan arah di tahun 80-an, Kini, meski beberapa ‘situs’ masih tetap berdiri, namun ada pula yang hilang atau terlupakan lantaran sudah jarang disebut atau diperbincangkan. Tak hanya itu, tragisnya beberapa bangunan dan tempat bahkan sudah digusur dan diganti fungsinya.


Zaman boleh berubah, pembangunan boleh lanjut, namun tidaklah elok bila ‘situs-situs; yang ada di Jakarta itu tergusur. Harus ada kesadaran kolektif untuk melestarikan peninggalan masa lalu sebagai penanda atau legacy (pengingat) bahwa disitu atau di kawasan itu pernah –dulunya- terkenal dengan sebutan dan menjadi penanda kawasan, bahwa dimasanya tempat atau bangunan itu pernah berjaya dan menjadi patokan atau rujukan untuk orang-orang sekitarnya. Kita berharap generasi sekarang masih ingat dimana Rumah Herman Soesilo, dimana Kem-Chick dan dimana posisi Jembatan Merah, semoga.

Rabu, 27 Juli 2016

Berkat Usaha Susu Sapi, Anak Betawi Banyak Yang Jadi Orang

Hingga sekitar tahun 80-an, jangan heran bila di Jakarta, susu segar di pasok langsung dari Jakarta. Bukan dari Lembang ataupun dari kawasan lain di luar Jakarta. Selain di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, salah satu kawasan penghasil susu sapi segar adalah Kemang dan Mampang, semuanya di Jakarta Selatan.

Namun, selain kawasan tersebut diatas, ada beberapa tempat lainnya di Jakarta yang mengelola usaha peternakan sapi perah. Condet di Jakarta Timur, misalnya, kawasan ini adalah sentra penghasil susu sapi segar di Jakarta Timur. Menariknya usaha peternakan sapi perah di Jakarta, dikelola dan dikembangkan oleh etnis Betawi. Mungkin lantaran tidak ada pendatang dari etnis lainnya yang memilii tanah dan pekarangan yang luas dan lebar di belakang rumahnya sebagai syarat pengusahaan sapi perah. Saat itu boleh dibilang hampir mayoritas orang tua Betawi berprofesi sebagai peternak sapi. Maka, dengan modal 2 (dua) ekor sapi paling sedikit, jadilah mereka berprofesi sebagai peternak sapi. Peternak dalam hal ini yakni pemerah susu sapi. Meski profesi sebagai peternak sapi perah banyak dilakoni oleh orang betawi di tahun 80-an, namun ada juga dari mereka yang berprofesi sebagai perkebun, dalam arti menjual hasil kebun yang tersebar di tanah-tanah meraka, seperti buah-buahan langsung ke pasar.

Boleh jadi usaha susu sapi perah ini menjadi mata pencarian pokok bagi etnis betawi di sekitaran Mampang dan Kemang lantaran saat itu untuk penyediaan pakan sapi sangat mudah didapat. Rumput tersebar dimana-mana. Kalaupun harus beli, harganya pun sangat terjangkau. Dari usaha per-susu-an inilah keluarga Betawi dapat menyekolahkan anaknya hingga menjadi tukang insinyur, dokter, dan guru ngaji. Bahkan mampu membiayai anak-anaknya untuk sekolah agama ke luar negeri, ke Cairo, Mesir.

Waktu itu, sejak zamannya Bung Karno, beberapa familiku, pernah terlibat dan menekuni profesi sebagai petenak sapi perah. Aku masih ingat, dulu, saat usiaku sekolah dasar sering ngintilin (ikut) encang-ku mengantarkan susu ke pelanggannya. Tak hanya itu, aku juga sering diajak mencari rumput sebagai pakan untuk sapi-sapinya. Dengan mobil kijang bak terbuka type doyok-nya, Ncang-ku, Haji Madamin (nama beken dari dari Haji Muhammad Amin) membeli rumput di kawasan sekitar Warung Buncit. Berkah dari bisnis susu sapi perah ini memang luar biasa. Ncang-ku ini anaknya 8 orang, semuanya disekolahkan hingga menjadi tukang sarjana, hanya dengan mengandalkan bisnis susu sapi perahnya. Encangku yang lain pun demikian. Ncang Naseh namanya, anaknya juga banyak, bererod kayak bebek. Semuanya disekolahkan hingga jadi ‘orang’ hanya dengan lantaran sapi.

Untuk pemasarannya sendiri, biasanya para peternak sapi perah memasarkan susu segarnya ke arah utara ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang banyak didiami oleh para orang kaya, berpangkat, dan para pejabat. Untuk mengantarkan susu-susu itu, mereka, para pemerah susu biasanya bersepeda beriringan di pagi buta, selepas subuh saat matahari belum muncul. Mereka bersepeda dari rumahnya di Kemang menyusuri jalan Mampang Raya, Rasuna Said (Kuningan) hingga naik menyebrang menuju kawasan Menteng. Selain ke Menteng, pelanggannya tersebar hingga ke Pasar Kebayoran Lama.

Aktivitas memerah susu dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pagi-pagi sekali, dinihari, saat azan subuh belum berkumandang. Selepas subuh, susu segar itu langsung diantar kepada para pelanggan. Pemerahan kedua biasanya dilakukan menjelang asar, sekira jam 3 sore. Selepas Ashar, susu segar itu langsung di kirim ke pelanggan atau bisa juga ke penampung atau koperasi. Koperasi ini lokasinya di kawasan tebet, di Jalan Saharjo.

Hingga sekitar akhir 2010-an di Condet, misalnya masih ditemukan 1, 2 peternak sapi perah. Namun Seiring perkembangan jaman –entah mengapa—usaha peternakan sapi itu terhenti. Areal bekas kandang sapi-nya sendiri berubah menjadi rumah petakan untuk disewakan kepada para pendatang. Salah satu penyebab banting setirnya para peternak sapi perah menjadi juragan kost-kost-an adalah makin sulitnya mendapatkan pakan ternak berupa rumput segar. Kalaupun ada, rumput-rumput itu didatangkan dari luar Jakarta, dan tentu dengan biaya mahal. Disamping itu, faktor lainnya adalah ketiadaan penerus pengganti orang tua yang meneruskan usaha pemerahan ini. Maklum saja, anak muda Betawi, selepas jadi tukang insinyur dan sarjana, gengsinya lebih tinggi, mereka lebih memilih kerja di kantoran jadi ‘orang berpangkat’ ketimbang harus berpeluh dengan keringat dan kotoran sapi.

Usaha pemerahan sapi di wilayah Kuningan telah lebih dulu bangkrut. Bangkrut lantaran tata kota mengharuskan di kawasan itu terlarang untuk pemukiman penduduk marginal betawi dengan usaha peternakannya. Dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan itu harus disulap menjadi areal perkantoran dan bisnis. Kemang pun menyusul wafat. Tak ada tersisa peternak sapi di kawasan elite Jakarta ini. Di Kampung Kebon dan Pedurenan (keduanya di Kemang) misalnya, para peternaknya sudah menyulap lahan tempat beternak sapinya menjadi perumahan mewah dan kost-kost-an. Nafkah dan mata pencarian warga asli betawi di Kemang berubah dari bisnis perah sapi menjadi juragan kost-kost-an atau properti. Beruntung, di Kelurahan Tegal Parang, Mampang masih ada satu dua peternak sapi, namun itu tinggal menunggu waktu, menunggu untuk mati secara perlahan.


Senin, 18 Juli 2016

Wawancara Visa USA

Sebelum menuju ke Kedubes USA yang berlokasi agak bersebelahan dengan Balaikota, aku menuju ke Jalan Budi Kemuliaan untuk mengambil surat pengantar dari bagian Exhange Program, yang mengurusi IVLP. Aku tiba agak telat, (sekitar seperapat jam dari yang dijanjikan) yakni pukul 08.35. Sedangkan jadwal wawancaraku di Kedubes USA, Medan Merdeka Selatan adalah pukul 09.00. Setelah mendapat briefing sejenak --tentang tata cara dan apa yag mesti aku minta dan lakukan saat wawancara nanti-- dari Mas Heru, staf yang mengurusi keberangkatanku ke USA, segera kupacu sepeda motorku menuju arah Balaikota.

Alhamdulillah tiba tepat jam 8.55. Hampir saja.. Bergegas aku menuju antrian. Saat itu sudah banyak WNI yang antri untuk mengurus VISA. Karena terlambat, aku berada di urutan ketiga dari belakang. Saat jarum jam menunjuk angka 9.15,  antrian atau appointment visa untuk jam 09.00 itu diberi akses masuk. Petugas security membagi kami ke dalam tiga ‘kloter’. Aku masuk di kloter ketiga, atau kloter terakhir. Kami diarahkan masuk ke ruang (semacam pos keamanan) yang lokasinya persis di depan Jalan Medan Merdeka Selatan. Di pos keamanan ini, semua barang bawaan kami di perikasa dengan seksama. Kamera, Handphone, Laptop, USB, dan segala jenis cairan dilarang masuk. Semuanya harus dititipkan di pos keamanaan. Lalu petugas security memberikan nomor identitas tamu dan para pelamar visa masuk melalui security gate (seperti yang ada di Bandara) dan diarahkan untuk menuju ruang tunggu selanjutnya yang berlokasi sekitar seratus meter dari pos keamanan depan.

Di ruang tunggu ini suasananya persis bila kita hendak mengantri untuk menaiki mobil jemputan di site. Ada bangku-bangku yang tersusun rapi membentuk sekitar tiga row atau banjar. Di ruang ini ada 4 (empat) loket. Pas kami tiba di ruangan ini, kami langsung dihadang oleh petugas jaga. Ia bertugas memeriksa kelengkapan berkas wawancara. Setelah melihat berkasku, aku diarahkan olehnya menuju loket 1. Menariknya, keempat loket ini dijaga oleh seluruhnya tenaga kerja WNI. Disini petugas mem-verifikasi berkas-berkas yang aku bawa seperti pasport dan pasport lama (bila ada), undangan wawancara, formulir DS160, dan formulir DS2019 yang merupakan salah satu persyaratan penting untuk memohon visa J1. (foto gambar). Oleh petugas, aku diberikan semacam boarding pass untuk wawancara visa. Boarding pass ini bentuknya mirip dengan kartu gantungan “DON’T DISTURB” yang lazim terdapat di pintu hotel. Disitu tertulis tata cara pengajuan VISA USA, seperti pengambilan sidik jari, dan sebagainya. Setelah berkasku dinyatakan ok, maka petugas mempersilahkanku menunggu dalam antrian kelompok 32. Masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 4 hingga 5 orang pelamar. Tak berapa lama, sekitar 30 menit menungu petugas mempersilakan kelompok 31, 32, dan 33 untuk masuk ke ruang yang berada lebih di dalam areal kedutaan. Di Ruang ini tertulis Visa Section.

Tatkala memasuki Ruang Visa Section ini, kulihat para pelamar duduk untuk menunggu pengambilan sidik jari. Untuk pengambilan sidik jari, operatornya ada dua orang. Satu petugas WNI yang mengarahkan (posisi) jari kita, dan satu officer dari pihak USA, yang berada dalam ruangan yang meneliti identitas kita. Lalu tibalah giliran kelompok ku untuk maju. Kami berbaris. Ada lima orang berbaris rapi untuk mengambil sidik jari. Selepas itu, petugas mengarahkan kami duduk di ruang sebelah untuk menunggu panggilan wawancara.

Sekadar gambaran, bahwa ruang VISA Section (pengambilan sidik jari dan wawancara) berada dalam satu ruang yang berbentuk letter L. Ruang Pengambilan Sidik Jari dan Wawancara hanya dipisahkan oleh sekat kecil tempat menaruh koran dan majalah. Kembali kami mengantri untuk wawancara. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat proses wawancara yang sedang berlangsung. Ada sekitar lima loket. Dan masing-masing loket digawangi oleh petugas dari Kedutaan Amerika. Pelamar berbaris rapi berjejer ke belakang, seperti bila kita ngantri membeli tiket. Tibalah giliran kelompokku, kelempok 32 dipanggil. Langsung, tanpa dikomando kami bangkit dari kursi antrian dan berbaris rapi menuju loket 2.  Kebetulan aku dapat loket yang asik. Loket 1, 2 dan 4 di jaga oleh perempuan, staf Kedubes USA. Jadi, perempuan inilah yang akan mewawancaraiku. “Wah, enak, orangnya ramah dan cantik,” batinku.

Kenapa aku merasa beruntung. Jujur, aku rada salting bila menghadapi wawancara. Masalah gender ini mempengaruhi mood-ku dalam menjawab setiap pertanyaan. Pernah aku dihadapkan pada pewawancara pria, dan –dilalahnya-- pewawancara tersebut tidak friendly, akibatnya, mood-ku jadi jelek dalam menjawab pertanyaan. Ini pernah terjadi tatkala aku diwawancara pada seleksi jabatan terbuka dulu. Dan aku gagal.

Sengaja aku mengambil urutan berdiri ke tiga dalam barisan, dengan pertimbangan agar aku dapat mengintip dan melihat dengan lebih jelas proses wawancara yang sedang berlangsung. Kuperhatikan ada ibu disebelahku, di loket 1 ditanya oleh petugas dengan sangat mendetail. Kuamati petugasnya ramah. Nampaknya petugas wanita itu ingin menggali lebih mendalam maksud dan tujuan si ibu berangkat ke USA. Sampai aku dipangil, ibu tersebut belum juga kelar dari wawancra. Aku tidak tahu ia berhasil atau tidak mendapatkan Visa USA. Dalam proses wawancara ini waktu dan durasi interview tidak dapat diprediksi. Ada yang cepat, yang hanya sekitar 10 menit, namun ada pula yang hampir setengah jam lebih. Makin cepat wawancara, maka bisa dipastikan ia lulus. Namun kalau lama, ya, fifty-fifty, bisa lulus, bisa pula gagal.

Tiba giliranku. Aku maju dua langkah. Dengan kesadaran penuh, aku perlihatkan senyumanku yang paling manawan, dan sebelum ia berkata, aku dahului dengan: “hai, how are you..?” sengaja aku lakukan itu. Aku ingin menciptakan kesan optimis dan bersahabat dengan pewawancara. Langsung dijawab olehnya, “fine”, dan sedetik kemudia ia bertanya. “What’s your name?
Langsung ku jawab. “Rachmat Hidayat”
Ia bertanya nama lantaran harus membuka file atas namaku sebelum menelisik lebih lanjut profil diriku yang tertera dalam komputer yang berada di sisi sebelah kirinya.
“Mo ngapain ke Amerika” mungkin itu terjemahan bebas dari pertanyaan yang ia ajukan selanjutnya.
I’ll attend International Visitor Leadership Program, ” jawabku dengan lancar.
“Oh.. Congratulation,” sambarnya dengan senyum manis mengembang, dan aku tahu senyumnya tidak dibuat-buat.

Sejurus kemudian dunia di sekelilingku terasa cerah. Lalu, perempuan itu, --yang aku tak tahu namanya namun kutaksir ia berusia 30-an tahun, pirang, cantik, smart, bisa bicara Indonesia dengan aksen amerika-- berujar yang kurang lebih kuterjemahkan sebagai berikut: “Karena anda dibiayai oleh Pemerintah Amerika Serikat, maka anda harus kembali ke Indonesia selama 2 tahun, dalam arti selama waktu itu anda tidak boleh ke Amerika.”
Langsung aku jawab Ok, sambil tersenyum.
Lalu basa-basiku pun muncul. Kami berbincang sejenak. Aku sok mengakrabkan diri. Tanpa ditanya, aku ceritakan bahwa aku belum pernah ke LN sejauh amerika. Paling banter hanya ke Singapur dan Malaysia. Ia menimpali dengan bahasa campuran. “Wooow congrats, you’re lucky man, bisa pergi ke USA.”

Aku juga cerita bahwa aku sibuk membantu Gubernur Jakarta. Sengaja aku singgung kata “gubernur” mengingat reputasi Pak Ahok sangat baik dimata Amerika. “My office next to your office,” pancingku. Dia menimpali, “ya. I know.” Baru aku sadar, ternyata selama proses wawancara berlangsung, matanya sesekali melirik ke layar komputer yang berada di sampingnya. Layar komputer itu memuat data-data pribadiku. Setelah dirasa cukup menelisik tentangku, lalu ia mulai menandatangani berkas-berkasku dan memberikanku semacam name card yang berisi jadwal pengambilan passport. Ia juga memberikan selembar kertas bertuliskan: “Congratulations. Your U.S. visa has been approved” dan satu lagi semacam buku atau leaflet panduan selama aku berada di USA nantinya. Ini berarti visaku disetujui dan aku bisa pergi ke Amerika!


Selepas aku menerima berkas-berkas itu, aku masih tertegun berdiri. Aku tak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Menyadari hal itu, dengan ramah ia memberikan semacam signal bahwa proses wawancara selesai. Aku lalu pamit sambil sekali lagi memberikan senyum manisku padanya dengan mengucap: “Thank you”.

Selasa, 12 Juli 2016

Susahnya Nyari Buah Tangan Ber-Made In USA

Bagiku, menjadi ‘beban’ tersendiri bila bepergian jauh ke suatu tempat sudah dipusingkan dengan keruwetan mau beli apa tuk dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Menjadi beban kalau kebetulan duit cekak, sedangkan request dari istri, anak atau kerabat harus dituruti, bila tidak, bakalan end! Kalaupun uang tersedia, kadang aku bingung mau membelikan apa untuk mereka. Maklum, tak semua tempat yang dikunjungi banyak tersaji buah tangan atau sesuatu yang khas yang layak tuk dibeli.

Paling enak tentu pergi ke tempat-tempat yang kaya akan budaya dan kulinernya. Sumatera Barat misalnya, beli saja keripik sanjai ‘tuk oleh-oleh, beres! Ke Jogja pun demikian, borong saja batik, selesai urusan! Namun, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang kita sendiri bingung mau nyari apa lantaran tidak ada yang khas atau istimewa dari daerah itu.

Nah, inilah yang menjadi kegalauan dan bebanku lantaran dititipi ‘oleh-oleh’ menjelang keberangkaanku ke Amerika Serikat, Maret silam. Sebelum berangkat, orang rumah, yakni istri dan saudara-saudaraku jauh-jauh hari berpesan. “Mat, pokoknya gw jangan dibeliin apa-apa, cukup celana levis aja, ukurannya 42 ya,” pesan kakakku. Adikku yang laki gak mau kalah: “Bang, gw jaket aja ya.” (Saudara) Yang lain? Ya 11 12. Mereka juga kepengen dibelikan oleh-oleh khas Amerika. Dengan canda kubalas permintaan mereka. “Iya, tenang aja, kalo perlu patung liberty gw bungkus,” jawabku dengan santai sambil ngeloyor pergi meninggalkan mereka, hehe..

Apa sih yang menjadi ciri khas Amerika yang bisa dijadikan oleh-oleh? Jeans, tentu saja! Celana itu sudah menjadi semacam trade mark bagi mereka. Dikenal dengan celana cowboy, lantaran si pemakai adalah para penggembala sapi yang menggembakan hewan peliharaannya dengan berkuda dan hidup di padang rumput di pedalaman Amerika. Kata temanku, (jeans) disana selain tentunya asli, juga murah ketimbang di Jakarta. Selain celana jeans, aku belum ada gambaran mau beli apa lagi disana. Yang ada dalam pikiran palingan membeli gantungan kunci dan tempelan kulkas. Hanya itu. Sepertinya gantungan kunci atau tempelan kulkas sudah menjadi oleh-oleh yang mainstream, yang biasa dibawa sebagai buah tangan dari luar negeri.

Beruntung, ditengah padatnya business meeting dan acara-acara resmi lainnya di Washington DC, kami, peserta #IVLP dari Indonesia masih bisa mencuri sedikit waktu di sela-sela jam makan siang. Ya, siang itu selepas rehat, kami dengan dipandu oleh Pak Hengky, sebagai yang punya wilayah, meluncur ke ‘pinggiran’ DC, ke kawasan yang disebut “Gudang”. Gudang ini letaknya masih di kota DC, namun agak menjauh dari ‘pusat kota’. Adanya di kawasan ‘hitam’, yang banyak dihuni oleh warga African American. Alamatnya? Wah, lupa nyatet, namun tak jauh dari Capitol Hill kearah timur.

Tak banyak turis atau orang luar DC yang tahu keberadaan gudang ini. Maklum tempatnya memang menyerupai gudang beneran, tempat bongkar muat. Gudang ini adalah pusat grosir oleh-oleh. Hanya orang-orang tertentu saja, semacam Pak Hengki, penghubung kami di USA yang tahu letaknya. Ada beragam perintilan yang disediakan, seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, pulpen, gelas souvenir, kaos, aksesoris penghias meja, dan sebagainya. Melihat itu semua, kami seakan kalap. Maklum harganya yang miring. Sebelumnya kami telah survey harga. Perintilan yang ada di Gudang banyak di jajakan di toko bermobil, di pinggiran jalan di tengah kota, seperti di dekat objek-obyek wisata (monument Washington, Monument Hall, dsk) namun harga yang mereka tawarkan rada mahalan. satu item rata-rata 1 (satu) dollar. Nah, kalau di gudang ini harganya bandrolan. Harganya di hitung per kantong atau bisa juga per lusin. Rata-rata 10 item bisa kena 6 dollar, tergantung pinter-pinternya kita menawar.

Setelah urusan oleh-oleh yang ‘mainstream’ terpenuhi, kini giliran mencari oleh-oleh yang rada mahalan. Ya, masak cuma gantungan kunci. Kan gak mungkin pergi jauh-jauh ke Amerika hanya beli itu saja. Nah, inilah sulitnya. Meski barang disana bagus-bagus namun made in nya buka made in USA melainkan made in china.

Diperhentian kota berikutnya, di Philadelphia, beberapa temanku membeli parfum, baju, tas, sepatu ataupun jaket musim dingin yang banyak dijual di store dan supermarket disana. Katanya sih murah, ketimbang beli di Indonesia, sudah begitu, branded pula. Aku tentu saja tertarik, ingin juga membeli satu atau dua barang sebagai buah tangan. Namun saat kepengen beli, selalu saja urung. Ada saja yang kurang sreg. Ya itu tadi, kebanyakan barang yang ter-display ber-made in bukan made in USA.  

Begitulah, setiap kali tertarik ingin belanja dan beli sesuatu, yang selalu aku perhatikan pertama kalinya adalah made in nya. Jangan sampai beli di Amerika namun ber-made in China, ntar disangka belanja di PGC lagi, hehe.. Nah, pas asyik menelisik label made in tersebut, ada juga ternyata made in Indonesia di USA. Untung gak kebeli. Kan lucu jauh-jauh belanja di Helena, nyatanya barangnya buatan Solo, Indonesia.  grgh grgh..

Selain China, kuperhatikan banyak pula barang-barang buatan negara dunia ketiga atau negara berkembang, semisal Vietnam, Bangladesh, Haiti, Honduras, Malaysia, dsb. Jarang sekali barang buatan eropa, meskipun ada satu dua ber-made in dari negara di kawasan eropa timur.

Kalau temanku sudah mem-voor belanja oleh-oleh di DC dan Philly, hingga kopernya beranak menjadi satu, penuh dengan buah tangan, aku masih menahan diri, belum belanja banyak. Dollar masih kusimpan, belum banyak kubelanjakan. Maklum, masih ada tiga kota tersisa.

Tampaknya siasatku terbukti topcer. Di dua kota terakhir yang kami sambangi, di Helena, Montana dan Salt Lake City, Utah, barulah aku hamburkan dollar-ku. Aku banyak shopping lantaran di kedua kota itu barangnya bagus-bagus dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang di kawasan east coast. Di Salt Lake City misalnya. Ada satu toko dekat dengan hotel Little Amerika, tempat kami menginap, yang menjual barang-barang kebutuhan hidup mulai dari baju, jas, jaket, hingga perkakas rumah tangga dengan harga yang sangat murah dan kualitas yang sangat bagus. Aku banyak membeli aksesoris kecil, kaos, jaket, dan baju musim dingin.


Begitulah, sampai menjelang kepulanganku, setelah lebih kurang berada satu bulan di beberapa kota di Amerika Serikat, aku masih belum juga mendapatkan sesuatu yang unik, khas, dan menarik. Tadinya kupikir bisa membeli semacam keripik sanjai atau dodol garut. Namun Amerika bukan Indonesia yang kaya akan dunia kuliner. Jadilah hanya kaos dan gantungan kunci yang terbeli, sebagai oleh-oleh khas Amerika. Dan, satu lagi, sungguh sangat susah menemukan merk barang ber-made in USA.

Senin, 11 Juli 2016

Siapa Bilang Mengalah Itu Mudah

“Yah (ayah), enam kali ya..”
“Iya, tapi ayah makan dulu ya, ayah laper..,” jawabku
“Ok,” sahutnya.

Masih belum hilang penat dan lelah ini setelah seharian dihadapkan oleh aneka rupa dan ragam manusia yang silih berganti datang mengurus berbagai keperluan di kantor kelurahan, saat motorku tiba persis di depan pintu pagar dan suara motor terdengar olehnya. Dari balik jendela ia mengintip. Sejurus kemudian ia langsung membuka pintu dan terucaplah kata itu.

Selepas makan cemilan, langsung papan catur kami buka. Masing-masing membereskan bidak caturnya. Biasanya ia suka hitam, entah mengapa. Jelas ia belum mengerti akan makna hitam putih bidak catur, seperti belum paham pula makna hitum putih kehidupan. Meski memegang bidak hitam, ia selalu melangkah lebih dulu. Baginya, bidak warna putih tidak otomatis akan melangkah dan memulai permainan.

Sejujurnya aku agak bingung melatih dan mengajarinya main catur. Mulai dari mana? Bagaimana mengajarinya? Apa yang harus dikenalkan lebih dulu, dsb. Bagiku, awalnya –pembelajarannya-- hanya sambil lalu saja. “Kuda jalannya miring, seperti hurup “L”, kalau benteng lurus saja” ujarku, mengajarinya. Beruntung, mungkin lantaran otaknya rada encer ia sudah dapat menangkap bagaimana menjalankan bidak-bidak catur. Ia paham memindahkan kuda, benteng, luncur, menteri, hinga raja. Lalu ‘pelajaran’ berikutnya adalah cara memakan bidak.

Mulanya ia berpikir bahwa jika bidak itu berdekatan atau berhimpitan, maka bisa langsung dimakan. Awalnya aku acuh saja dan mendiamkannya. Namun setelah beberapa kali bermain, mulai dengan telaten aku mendebat pemikirannya. Aku bilang bahwa pion itu makannya miring. Meski begitu, ia sering kali keliru. Tetap saja ia suka memakan apapun yang berhimpitan dengan bidak catur. Untungnya, kekeliruan itu cepat kubenarkan, dan kembali ia patuh dan taat asas. Namun sayangnya ia hanya mampu menjalankan saja, memakan saja. Ia belum paham makna dan nilai benteng vis a vis pion. Atau menteri vis a vis kuda. Baginya, jika ada kesempatan dan bidak catur bisa dimakan, maka dimakanlah. Simple.

Well, bagiku itu sudah bagus. Bahkan ia kerap ‘mengajariku’
“Yah (ayah), bentengnya kok gak dimakan. Ini kan bisa dimakan ama ini, “ tunjuknya.
Padahal, sengaja aku tidak memakan bidaknya, lantaran memberikan voor untuknya, agar bidakku banyak dimakan oleh bidaknya hingga ia nantinya akan mudah meruntuhkan rajaku. Serba salah juga. Jelas ia belum paham strategi dan taktik permainan. Ia selalu bermain cepat, nyaris tanpa berpikir. Dan selalu memakan apa yang bisa dimakan.

Maka tidak lah bijak bila saban main catur dengannya aku selalu menang. Itu tidak mendidik. Tentu ia akan down, dan tak semangat bermain lantaran selalu kalah. Nah, bagaimana membuatnya menang? Menang dengan wajar tentunya. Nah, inilah sulitnya. Bermain catur dengan anak kecil usia 6 (enam) tahun, tentu beda dengan anak yang sudah rada besar. Bila dengan anak yang sudah agak mahiran, tentu mudah men-skenario-kan kekalahan. Namun bagaimana bila bermain dengan anak yang tahunya cuma makan doang. Jujur, kadang aku kesulitan juga untuk membuatnya menang. Pernah aku coba membuat rajaku mudah dimakannya, namun ia justru memakan benteng. Dan skenario-ku pun berantakan. Di lain kesempatan aku memakan pionnya dengan harapan ia akan memakan rajaku, namun yang terjadi ia justru balik memakan pion juga. Serba salah. Untung-untungan juga membuatnya agar bisa mengalahkanku. Tentu dengan cara yang seolah-olah memang ia mampu menaklukkanku. Begitulah, seringkali agar permainan cepat berakhir, dengan sengaja aku memposisikan raja pada posisi yang memudahkannya untuk memakannya, heheh..


Maka sudah dapat ditebak, akhir permainan kita selalu dengan skor imbang 3-3. Ya, ini sesuai pintanya bermain catur dalam 6 set atau 6 kali permainan. Selepas itu, aku bisa beristirahat melepas lelah tanpa disibukkan dengan rengakannya: “Yah, (ayah) enam kali ya..” sambil menenteng papan catur, menyambutku sepulang kerja.

Senin, 27 Juni 2016

Pergi dan Pulang dengan Kejemuan

Untuk pergi ke benua Amerika, aku seperti juga para pelancong lainnya harus terlebih dahulu menuju ke negara-negara yang berada di kawasan utara, seperti Hongkong, Jepang, Taiwan, ataupun Korea (selatan). Maklum, tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju benua Amerika. Harus singgah di salah satu negara diatas. Kepergianku ke Amerika ini merupakan perjalanan pertama dengan pesawat yang akan memakan waktu tempuh yang lama. Selama ini paling lama aku berada dalam burung besi sekitar 2-3 jam. Belum pernah lebih dari itu.

Sebelum berangkat mengikuti program #IVLP d Amerika Serikat, pihak kedutaan Amerika Serikat di Jakarta mengundang aku untuk mengikuti briefing atau semacam technical meeting menjelang keberangkatanku ke negeri Paman Sam. Ya, ini adalah semacam pengenalan singkat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mengikuti program yang dibiayai dari pajak warga USA. Aku tiba Jum’at pagi (4 Maret 2016), di kantor sementara mereka di bilangan Budi Kemulyaan. Diterima dengan hangat oleh Bu Stephanie dan teamnya.

Setelah briefing selesai, bergegas aku menuju Condet, -setelah sebelumnya Jumatan di bilangan Otista- lantaran belum semua barang aku check dalam packing-an. Istriku di rumah sengaja mengambil cuti untuk mengantar kepergianku ke bandara. Rencananya kami akan berangkat dari Kemang, rumah ibuku. Setelah dirasa tak ada yang terlewat, kami meninggalkan Kemang menuju bandara pada pukul 15.30, persis setelah shalat ashar. Sengaja kami berangkat agak dini meski penerbanganku ke Tokyo pada pukul 21.25, khawatir jika tertinggal pesawat. Maklum ini adalah penerbangan pertamaku keluar negeri yang jauh. 

Penerbanganku menuju Amerika Serikat akan transit terlebih dahulu di Bandara Narita, Tokyo, Jepang.  Aku berangkat dengan menggunakan maskapai JAL. Direncanakan tiba keesokan paginya pada pukul 06.35 waktu setempat.  Penerbangan ini memakan waktu 7 jam lebih. Ya, waktu di Tokyo lebih cepat 2 jam ketimbang di Jakarta. Begitu mendarat, Para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya akan melalui terminal transit. Dari sini aku menunggu penerbangan ke Dallas yang direncanakan akan terbang pada pukul 11.30 waktu setempat.

Sepanjang waktu menunggu penerbangan ke benua Amerika ini, kuhabiskan waktuku dengan menyusuri bandara Narita, yang seperti bandara lainnya diisi oleh aneka butik dan toko-toko pakaian, mainan, gadget, dan tentu warung makan. Seperti kebiasannku, sarapan adalah hal wajib. Aku sempat sarapan pagi di salah satu food court, membeli makanan sejenis lontong dengan campuran ikan tuna. Aneh rasanya. Meski demikian, kupaksakan masuk dengan menelan air sebagai pendorong agar sampai di kerongkongan.  Setelah bosan melihat sudut-sudut bandara, aku memutuskan untuk ke ruang tunggu tempat pesawat American Airlines terparkir.

Pesawat yang kutumpangi ini jenis pesawat berbada lebar, dengan komposisi tempat duduk kelas bisnis dan ekonomi dengan formasi seat 3 - 5 – 3 yakni masing-masing 3 seat dipinggir selasar dan 5 seat di lorong atau row tengah. Jenis Boeing, type 777. Aku duduk dibarisan tengah, jauh dari jendela. Meski demikian, sesekali aku bisa melihat angkasa luas dari balik jendela bila kebetulan ada penumpang yang membuka penutup jendela jauh disampingku.

Saat berangkat dari Narita Tokyo menuju Dallas USA (DFW). Rute yang dilalui adalah membelah Samudera Pasifik. Ya hampir 90 persen penerbangan itu berada diatas samudera nan luas. Perjalanan pergi ini memakan waktu 11 jam 40 menit. Hampir setengah hari penuh. Waktu yang sangat lama itu kuhabiskan dengan bengong, nonton film di layar kecil yang ada tepat di depan kursi duduk, denger music, bengong lagi, lalu mencoba tidur atau lebih tepatnya memejamkan mata, tidur sekejap, ngiler, bangun, bengong lagi. Begitu seterusnya. Bosan? Tentu saja. Ditambah lagi makanan yang di sajikan di dalam pesawat tak ada satupun yang menggugah selera. Semuanya hambar. Dilalahnya, kepalaku pun terasa pening dan sakit. Mungkin lantaran terbang di ketinggian atau bisa jadi kurang istirahat. Maklum, semalam saat terbang dari Jakarta ke Tokyo aku sulit tidur. Jadilah penerbangan 11 jam-an ini sangat menyiksa.

Hatta, sampai juga pagi di Amerika. Jam menunjukkan pukul 08.10 waktu Dallas. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara yang sangat luas. Ya, sepertinya bandara ini berada di padang gurun yang luas lantaran tidak ada bangunan menjulang tinggi sebagai penanda ada kota deket-dekat situ. Yang tampak dimata hanya tanah lapang dengan langit yang biru bersih, persis seperti di Amerika, hehe.. Finally, sampai juga di Amerika.

Sedikit aku ingin bercerita tentang bandara Dallas Fort Wort atau DFW. Bandara ini adalah gerbangnya Amerika yang akan menghubungan para pelaju menju kota-kota lainnya di Amerika. Ia semacam bandara hub. Dari sini kita bisa terbang ke utara amerika, ke selatan, terus ke timur bahkan ke Negara tetangga USA lainnya. Ada 5 terminal, A sampai E. Untuk menuju terminal satu dengan yang lainnya, kita harus naik trem atau semacam kereta layang yang mengitari bandara. Bentuk bandaranya sendiri seperti daun atau jembatan semanggi, di Jakarta. Namun daun semanggi ini banyak jumlahnya. Bisa di lihat di

Itulah perjalanan atau keberangkatanku ke Amerika. Nah, lalu bagaiman adengan perjalanan atau kepulanganku dari Amerika? Berbeda tentunya, meski sama-sama dating dan pulang dari bandara Dalllas. Ini sedikit paragraf rute kepulanganku ke Jakarta.

Rute pulang dan pergi ku ke USA mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Bila saat pergi hanya menempuh perjalanan terbang selama sekitar 11 jam 40 menit, nah ketika pulang ke Jakarta Via Hongkong, kami menempuh jarak 13.053 Km, dengan waktu terbang selama 16 jam 35 menit! Kok bisa lama? Inilah yang menggelitik keingintahuannku.

Yang namanya pulang, tentu sesuatu yang diidam-idamkan. Ingin cepat bertemu dengan keluarga di rumah. Kalau bisa, penerbangannya tak lama. Namun dari tiket yang kuperoleh, untuk kepulanganku ke Jakarta akan memakan waku tempuh selama 16 jam lebih, non stop!!

Jujur saja aku tidak nyaman dengan jadwal kepulanganku ini. Aku tidak puas dengan itinerary yang dibuat. Namun, mau bagaimana lagi. Dalam programku, kota terakhir yang kusambangi adalah Salt Lake City, Utah. Dari kota ini biasanya penerbangan keluar Amerika yang akan menuju kawasan Asia, akan melalui bandara di negara bagian California, di barat benua Amerika. Nah, lantaran menggunakan maskapai American Airlines, -untuk ke Jakarta- kami harus terlebih dulu kembali ke Dallas yang berada di tenggara Salt Lake City. Agar jelasnya, mungkin bisa aku gambarkan sebagai berikut; Bila kita hendak ke kawasan Timur Tengah atau Eropa dari Indonesia; Jika posisi kita saat itu ada di Palembang, maka tentu lebih dekat langsung ke Batam atau Singapura. Nah, kami dipaksa terbang dulu dari Palembang ke Jakarta untuk kemudian balik lagi ke arah barat, yang berarti akan terbang atau melintasi kembali wilayah Palembang atau Sumatera Selatan! Jika dilihat di peta, tentu akan lebih ekonomis bila dari SLC kami terbang ke San Francisco ataupun kota-kota di California untuk kemudian lompat ke barat, ke arah Jepang atau Pasifik.

Dan ternyata, sialnya pesawat tidak lurus terbang melawati Samudera Pasifik melainkan ke utara melalui Vancouver, Canada, Kutub Utara, Rusia, Korea, Cina dan berakhir di Hongkong. Total waktu tempuh yang digunakan 16 jam 35 menit, nonstop. Jadilah aku rugi 5 jam di udara, grrr grr..!!

Pesawat terbang dari DFW, Sabtu 26 Maret 2016 tepat pukul 12.25, siang hari. Saat mengudara, ada terbersit kekhawatiran bila tiba-tiba saja mesin pesawat mati. Ya, mungkin agak naïf dan konyol, aku sendiri tak tahu mengenai permesinan, tapi dengan 16 jam nonstop mesin dalam kondisi ON dan terus berfungsi, pikiran sederhanaku terbersit. “lha apa gak capek mesin bekerja hamper seharian penuh!” Batinku.

Sama seperti waktu berangkat, pulang pun tak banyak aktivitas yang kulakukan. Hanya duduk tenang, nonton, denger music, tidur, bengong, begitu seterusnya selama 16 jam lebih. Nyaris sepanjang perjalanan aku tidak menjumpa malam. Yang tampak dari balik jendela hanya warna terang, dengan daratan berselimut putih salju. Beruntung aku tak mengalami pusing dan sakit kepala seperti ketika waktu berangkat.

Akhirnya menjelang batas akhir senja, tepat pukul 18.00 waktu Hongkong, American Airlines mendarat dengan mulus. Lega rasanya. Masih tampak jelas kulihat suasana kota Hongkong dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang dan posisi bandaranya yang terletak tepat di pinggir laut.

Bergegas kami berlari lantaran hanya tersisa waktu satu jam untuk pindah dan ganti pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta. Kami terbang pukul 19.05, dengan Cathay Pacipic, dan direncanakan kami tiba di Jakarta tengah malam pada pukul 22.50. Di Jakarta, Razi dan Ranza telah menunggu. Pelukan dan sapaaan hangat mereka meluluhkan kepenatanku setelah seharian penuh terbang melintasi benua dan samudera. Welcome Jakarta!