Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2019

Lebaran Kubur ala ala

Selain lebaran anak yatim, orang Betawi juga mengenal yang namanya "Lebaran Kubur." Lebaran apa pula itu? Memangnya kuburan bisa lebaran? Ya, saya maklum, istilah lebaran kubur ini mungkin rada asing dan hanya dikenal dikalangan terbatas. Bila Anda atau kerabat Anda, tidak punya hubungan kekerabatan dengan etnis Betawi, maka istilah ini mungkin terdengar aneh.

Menjadi kebiasaan bagi sebagian besar muslim etnis Betawi  –paling tidak setahun dua kali- untuk ziarah kubur, mengunjungi para kerabatnya yang telah meninggal dunia. Ziarah pertama, pada bulan rowah, atau menjelang datangnya bulan puasa (Ramadhan). Dan kedua, di bulan Syawal (lebaran). Biasanya kuburan ramai pada hari kedua setelah lebaran, dan kami menyebutnya Lebaran Kubur. Ya, jika di hari pertama lebaran kami disibukkan dengan silaturahmi ke kerabat terdekat (nyak/babe, ncang/ncing) yang masih hidup, maka dihari kedua kami ziarah atau lebaran ke kerabat yang sudah wafat.

Oh ya, biasanya kami ziarah kubur waktunya di pagi hari, tak lama setelah shubuh berlalu, begitu matahari mulai rada terangan. Maklum, Betawi gak kuat panas-panasan. Kan kalian tahu sendiri, di kuburan jarang pepohon untuk neduh dari sengatan matahari. Disamping itu, pertimbangannya, sekelar ziarah kubur sekira jam 8-an, mereka bisa melanjutkan acara lebarannya dengan ngedatengin saudara-saudara lainnya yang rumahnya rada jauhan.

Lantaran kebanyakan anak Betawi ilmu agamanya mumpuni, maka di kuburan, mereka tak hanya tabur bunga dan baca fatihah saja, namun mereka ngedoain ahli kubur dengan doa paket lengkap. Saya katakan paket lengkap karena gak hanya baca rabbigfirli saja, namun diawali dengan baca Surah Yasin (full) kemudian kulhu 3X; Kul auzu birabbil falak dan annas sekali, lalu ayat pertama dan terakhir dari surat al-Baqorah; La ilaahaillah; Sholawatan, dan ditutup dengan doa yang panjangnya sekitar satu halaman quarto, heheh.. Ya total untuk acara lebaran kubur ini, kami, orang betawi menghabiskan waktu satu hingga dua jam di kuburan. Oh ya, paket doa komplit itu biasanya dibacakan di kuburan utama (Nyak/Babe). Nah, untuk kuburan ke dua, ketiga, keempat, (kuburan ncang/ncing) cukup baca al-fatihah dan doa arwah saja, heheh..

Enaknya momen lebaran kubur ini adalah, bagi mereka yang di hari pertama lebaran belum sempat bertemu atau berlebaran dengan kerabatnya, jangan khawatir. Datang aja ke kuburan pas hari kedua. In Sya Allah bakalan ketemu dengan saudara lainnya yang juga ziarah kubur di kuburan yang sama. Maklum, bagi orang Betawi, letak liang makam kerabatnya berdekat-dekatan. Walhasil, lebaran kubur di hari kedua dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi bermaaf-maafan di kuburan. Jadilah areal pemakanan ramai dengan prosesi salam-salaman dan basa basi dengan ujaran seperti ini:
ehh loe dah ke rumah Ncang Naseh blom? bareng ya..!
atau
Gak mudik loe, Mat? ” (karena yang nanya tahu, bini nya orang jawa)

Begitulah prosesi “lebaran kubur”, bagi kami, orang Betawi. Bagaimana dengan lebaran kubur versi Anda?

Senin, 09 Oktober 2017

Cium Tangan; Bahkan Mafioso Italia Pun Melakukannya

Tak hanya para mafioso di Italia sana yang lazim mencium tangan sebagai tanda tunduk, hormat dan pemasrahan diri pada para godfather atau pelindungnya, dalam masyarakat muslim di Indonesia, kebiasaan cium tangan ini sudah menjadi adat atau kelaziman yang banyak kita jumpai dalam keluarga. Biasanya, cium tangan kerap dilakukan oleh orang muda kepada yang paling tua. Anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya, istri kepada suaminya, dan bahkan yang lebih ‘gila’ lagi, bawahan kepada atasannya. Cium tangan ini sebagai wujud tanda bakti, penghormatan, kepasrahan dan penyerahan diri dari yang mencium tangan kepada yang diciumi tangannya.

Dari kecil, oleh orang tua, saya diajarkan untuk mencium tangan kepada para ncang, ncing, dan kerabat keluarga orang tua saya, terlebih kepada guru-guru yang mengajar saya di sekolah. Ciuman di telapak tangan yang diajarkan oleh orang tua saya tentu berbeda dengan ciuman tangan anak milenial zaman sekarang. Anak zaman sekarang kebanyakan meletakkan tangan orang yang diciumnya di dahi, atau dipipinya. Jarang yang meletakkan tangan di hidungnya, seperti waktu saya kecil dulu.

Cara dan gaya cium tangan ini tampaknya telah berubah mengikuti mode dan perkembangan zaman. Anak zaman sekarang tak lagi diajarkan bagaimana mencium tangan dengan sempurna. Memang, tak ada aturan baku (manner) dalam tata cara mencium tangan. Cium tangan yang sering saya lakukan ke orang tua atau guru saya tentu berbeda dengan cium tangan gaya mafioso Italia, ataupun cara cium tangan para pembesar (pangeran) dari Eropa terhadap tuan putri-nya.

Itulah yang terjadi. Setelah hampir lebih dari seperempat abad tak bersua dan mencium tangannya, barulah pada Ahad, 08 Oktober 2017, kemarin, tanganku kembali dapat mencium tangannya. Ada getaran dan aura berbeda yang kurasakan, namun getaran dan wangi tangannya itu masih sama saat pertama kali saya mencium tangannya sekitar pertengahan tahun 1988. Meski genggaman tangannya tak sekeras dulu, namun kelembutan tangannya masih kurasakan. Tak banyak yang berubah dari menantu KH. Abdul Manaf Mukhayar ini. Meski bicaranya pelan dan tak selantang dulu, namun logat Cirebon-nya masih tampak kental terdengar di telingaku saat kami duduk bersanding berdua.

Dahulu, saat itu kami para pelajar atau santri Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Kebayoran Lama (waktu itu belum menjadi bagian dari Kecamatan Pesanggrahan) begitu mudahnya berjabat tangan dengannya. Bahkan, saking mudahnya, sehari bisa lima kali cium tangan, bolak balik! Pasalnya, hampir saban shalat rawatib beliau meng-imami kami, para santrinya. Tak (jarang) pernah absen! Nah bila pengen berjabat dan mencium tangannya, maka datanglah di awal waktu sholat dan duduk persis dibelakang mihrab imam. Selepas shalat, beberapa santri yang berada dekat posisi imam berebutan untuk ngalap berkah dan mencium tangannya. Dan itu menjadi kebahagian tersendiri bagi para santri baru, seperti kami. Bagi santri lama, mereka cukup tahu diri, jarang yang mengambil shap dimuka, dan sengaja memberikan ‘previllage’ itu untuk para santri junior.

Meski saya dan teman-teman semasa tiga tahun awal pertama di Darunnajah tak pernah sekalipun diajar di kelas oleh beliau, namun kehadirannya dalam meng-imami shalat kami, lima kali dalam sehari, sudah cukup dan sangat besar efeknya dalam menguatkan mental belajar kami. Kehadiran Kyai jebolan Pondok Gontor ini semacam pelecut dan penambah spirit kami dalam mengarungi kehidupan. Asal tahu saja, tak banyak Kyai pimpinan pondok pesantren yang sanggup mengimami para santri-nya lima kali dalam sehari alias total full mengelola dan mengasuh santri-santrinya, even pesantren besar sekelas Tebuireng dan Gontor sekalipun.

Begitulah. Selepas ‘pergi’ di tahun 1991, lantaran tak kuat dengan gigitan bangsat di Pesantren, saya tak pernah sekalipun mencium kembali tangannya. Rada malu juga tatkala saya berucap di dekat telinganya bahwa ini adalah pertemuan kembali saya dan ayah setelah seperempat abad lebih. Ayah berkata lirih: “Kenapa tak main ke pondok dan bertemu ustaz (ayah)?”
Jlebb.. jawaban yang menohok sekaligus membuat diri ini terasa malu didepannya. Ya, meski saya pernah beberapa kali menyambangi pesantrennya, namun untuk bertemu “Sang Ayah” rasanya malu dan sungkan. Apalah artinya saya yang waktu itu masih remaja, masih begajulan. Maqom beliau terlalu tinggi untuk ditemui, padahal ia selalu membuka diri dan mudah ditemui oleh siapa saja, apalagi oleh santrinya sendiri. Maafkan saya ayah yang tak mau menemui ayah sewaktu kunjungan ke pondok.

Oh ya, dulu kami memanggilnya dengan sebutan Kyai Mahrus, sapaan hangat dari KH. Mahrus Amin. Dan, entah sejak kapan pangilan “Kyai Mahrus” berubah menjadi ayah. Panggilan “ayah’ ini dibiasakan dan dibahasakan oleh temen-teman saya yang lebih dekat dengan beliau ketimbang saya. Saya pun awalnya agak kikuk memanggilnya ayah. Namun tatkala saya mendengar teman-teman memanggil ayah kelahiran 14 Februari 1940 ini dengan panggilan sayang ayah, saya pun ikut. Ya, mungkin lantaran kami para santri yang sudah lulus lebih menganggap beliau ini selayaknya ayah kami. Kecuali ayah dalam nasab (biologis), KH. Mahrus Amin adalah ayah dalam segala hal. Mulai dari tempat mengadu, berkeluh kesah, dimintai nasehat, wejangan, sampai tempat kami menumpahkan emosi kami padanya. Suka, duka, sedih, dan gembira.


Maka seperti kepada orang tua dan guru-guru saya yang lainnya, begitupun yang Anda lihat dalam foto yang saya tampilkan, itulah bukti penyerahan diri saya pada figur yang saya hormati, Ayah Mahrus. Lantas, sebagai tanda hormat dan cinta kasih anda, sudahkah anda mencium tangan ayah, bunda, dan orang-orang terkasih di sekeliling Anda??

Senin, 27 Maret 2017

Tentang Sepupuku

Mamiku adalah anak bontot, dari empat bersaudara. Berbeda dengan Mami yang hanya berputra empat orang, Ncang-ncang ku anaknya banyak. Jadilah aku, meski cuma empat bersaudara kandung, namun mempunyai saudara sepupu yang banyak. Orang tua kami memang sangat dekat satu dengan lainnya. Paling tidak sebulan sekali, diantara mereka, waktu mudanya, saat kami masih kanak-kanak, saling main ke rumah. Lantaran itulah aku dan para sepupuku sangat dekat.

Diantara sepupu-sepupuku, ada satu yang punya kelebihan dan talenta yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Ia, sebagaimana Mamiku, juga anak bontot di keluarganya. Entah sebab apa yang membuatnya punya kelebihan dan maqom yang tinggi, aku sendiripun tak tahu. Pasalnya, bila kita telisik satu persatu potensi yang ada padanya, hampir tak dijumpai nilai positif pun yang patut dijadikan acuan atau contoh untuk anak-anak kita. Gak percaya? mari kita kuliti sepupuku ini.

Kalau di reken dari tampang wajah, sepupuku ini (parasnya) jauh kemana-mana. Wajahnya hancur. Masih kalah ganteng denganku dan mungkin dengan abang-abangnya yang lain. Itu dari segi face. Nah, dari segi education, sepupuku ini gak pinter-pinter amat. Mungkin hanya berkat katrolan nilai, ia, konon akhirnya bisa lulus S1. Maklum, tempat ia kuliah, sebuah universitas apalah-apalah di Jakarta Selatan kebetulan juga di ampu oleh sepupuku yang lain. Entah bagaimana ia menyelesaikan S1-nya. Aku sendiri ragu bila ia sanggup membuat skripsi atau tugas akhir. Sewaktu kecil, setamat SD, untuk tes masuk Pesantren Darunnajah (DN) saja, ia tak lulus seleksi. Ia akhirnya berlabuh di pesantren cabang DN, di Parung. Jadi secara akademis, sepupuku ini memang tak cerdas. Mungkin hanya nasib baiklah yang membuat namanya tercantum sebagai lulusan bergelar SE, dan itupun bukan dari universitas bonafid sekelas trisakti atau Untar, apalagi ITB dan Unpad, jauhhhh bagai langit dan sumur.

Begitulah, meski wajah dan nilai akademisnya tak patut dijadikan acuan untuk dicontoh, namun ada banyak kelebihan dan prestasi lainnya yang dapat ia bangakan kepada kami, para sepupunya. Jujur saja, sejumlah prestasi dan kelebihannya itu tidak dimiliki olehku dan sepupu-sepupuku yang lainnya. Bahkan, sampai lebaran kuda pun, kami para sepupunya takkan pernah sanggup dan bisa menyainginya. Bukan itu saja, bila kami berserikat untuk mengumpulkan kekuatan dan potensi yang ada pada kami, tetap saja kami takkan sanggup mengalahkannya. Ia memang diberikan talenta yang berpebih. Banyak kebisaan (keahlian) yang ia miliki yang justru keahlian itu tak dimiliki oleh kami, para sepupunya. Agar seimbang, mari kita kuliti juga kelebihan sepupuku ini.

Jika kami hanya ahli bermain kelereng, ngaji qur’an, gaple-an, dan badminton, lantaran hanya permaianan itu yang sering dimainkan oleh anak-anak kampung seperti kami, maka ia punya keahlian yang jarang dimiliki oleh kami, bahkan oleh anak-anak gedongan di Kemang. Bilyard misalnya, permainan jenis ini tentu tak pernah kami rasakan sewaktu kecil. Boro-boro main bilyard, megang sticknya saja tak becus. Waktu muda, pernah aku diajarinya ‘nyodok’, namun tetap saja bidikan bola putih tak pernah dengan sempurna menimpa bola warna lainnya, lantaran pegangan stick-ku yang tak kokoh dan mantaf. Aku give up bila diajak nyodok. Nah, hebatnya sepupuku ini, sewaktu mudanya pernah menjuarai turnamen bilyard antar mahasiswa se DKI Jakarta.

Bosen bermain bilyard, lantaran seng ada lawan (tak ada lawan yang seimbang) Ia beralih ke golf. Tanah engkongnya yang di Ciganjur dan Pangkalan Jati yang telah dijual dan tersulap menjadi padang golf, ia sambangi. Bukan untuk ia beli kembali namun untuk ia rumput alias untuk bermain golf. Bersama kawan-kawannya para sosialita dan eksekutif papan atas Jakarta, ia rutin merumput tak hanya di sekitaran Jakarta namun juga merambah hingga Bali dan Luar Negeri. Hasilnya, ia sukses memenangi beberapa turnamen golf yang rutin diadakan. Sepengetahuanku, tak hanya bilyard dan golf yang ia kuasai. Beragam olahraga, hobby, dan kesenangan para orang kaya bin tajir di Jakarta pernah ia coba. Dan, ia selulu unggul. Ia pernah ikutan hobby ber-motorcross. Bosen disitu, ia beralih ke motor besar semacam Harley Davidson. Suntuk Di Harley, ia kini berlabuh di Triumph. Kalau kami hanya sanggup touring seputaran Pelabuhan Ratu saja, itupun dengan motor bebek. Nah, sepupuku ini level touring-nya menjelajah ke Sumatera, Lintas Sulawesi, Nusa Tenggara, bahkan hingga ke Eropa.

Aku, sebagaimana sepupu-sepupuku yang lain sebenarnya heran, apa sih kerjanya sepupuku ini? Kok pergaulan dan relasinya begitu luas, seluas Samudra Pacific. Perbandingannya, jika pergaulannya seluas samudera, maka pergaulanku hanya seluas kolam renang samping rumah. Sepupuku ini, siapa yang tak kenal dengannya. Dari selebritis kelas teri hingga se-level Raffi Ahmad adalah sohib dekatnya. Dari jajaran pengusaha kelas teri yang hanya punya satu dua apartemen di Kemang hingga level mafia migas kelas dunia juga akrab dengan sepupuku ini. Dari politisi kelas kampung macam Haji Topa, Ketua Forkabi di kampungku, hingga politisi level senayan/istana sekelas HR akrab ia gauli. Dengan anak-anaknya bahkan ia bergaul akrab. Dari ustadz model kampung kayak Ustadz Syamsuddin, hingga level ulama sekelas Habib Umar adalah kawannya. Belum lagi dari kalangan public figure yang tak terbilang jumlahnya tak luput dari kekeran radar pertemanannya. Tak ada yang ia tak kenal. Bukan cuma kenal, namun akrab dan terjalin relasi dan hubungan personal yang hangat diantara mereka.

Pernah suatu ketika kutanyakan ke sepupu-ku lainnya yang notabene adalah kakak-kakaknya. “Ehh Si Anu kerjanya apa sih? Kalo Si Anu kerjanya wartawan sich gak heran kalau punya relasi yang luas, lha Si Anu gw liat seringan di rumah kalo pagi. Usahanya pun cuma nyewain genset. Kok temen-temennya banyak banget. Orang-orang kaya dan berpengaruh di Indonesia. Saban bulan Si Anu gw perhatiin jalan-jalan mlulu ke Bali. Barusan abis dari Jepang dan Hongkong, duitnya kok banyak banget ya,” tanyaku.
Gw sendiir gak tau ‘Mat apa kerjaan si Anu.. gw aja yang abangnya heran dia kayak gitu,” ujar abang dari sepupuku itu


Itulah sepupuku. Meski tak ganteng dan berprestasi secara akademik, namun ia mampu menggenggam dunia. Jujur saja, bila berbicara didepannya, aku rada keder juga. Untungnya, --diantara sepupu-sepupuku yang lain--, hanya aku lah (alhamdulillah) yang pernah ke Amrik, negeri yang belum pernah ia singgahi. So, aku masih unggul satu lap darinya. Namun, bila ia telah ke Amrik, aku akan kalah segala-galanya. Oh ya, ngomong-ngomong siapa sih sepupuku itu? Penasaran…? Tampaknya ia hanya tertawa membaca kisahku ini. Sudahlah tak usah diungkap, toh para sepupuku yang lain tentu tahu siapa yang aku maksud, heheh

Kamis, 09 Maret 2017

Rano, Sang Legenda Remaja Sepanjang Masa

Baru saja aku membaca kisah hidup Rano Karno yang dibukukan oleh penerbit Gramedia. Bukunya berisi kisah dan perjalanan hidup putra aktor legendaris Sukarno M. Noer,  dari sejak kecil, yang tinggal di gang sempit berbau (maaf) ta*, di kawasan Kemayoran, hingga ia menjadi Gubernur Banten menggantikan Atut. Meski aku dan Rano tidak seumuran, dan berbeda generasi, namun saat aku kecil, aku sangat akrab dengan film-film yang ia bintangi. Maklum saja, zaman aku SD hanya film yang dibintangi oleh Si Doel lah yang merajai jagat bioskop di tanah air. Film-film Rano sering pula di putar di TVRI, sebagai satu-satunya tipi pada masa itu. Jadi, tak mengherankan bila hanya Rano lah bintang dan idola remaja saat itu. Bukan profile Rano yang ingin aku ulas, namun aku ingin berbagi kisah tentang figur dan idola remaja pada masaku. Figur mereka tentu tak lepas dari film-film yang mereka bintangi.

Bagi remaja seusiaku, saat itu di tahun 90-an, kami nyaris tak punya figur idola remaja. Memang selepas era Rano, aku masih ingat, ada beberapa artis yang menjadi teen figure. Saking ngetop-nya, wajah mereka dengan mudah ditemukan di sampul buku tulis sekolah. Namun figur seperti Dina Mariana, Richi Ricardo ataupun Ongky Alexander, menurutku, (maaf) kualitas dan ketokohan mereka masih jauh dibawah Rano, cs. Sialnya lagi disamping krisis figur, tak ada satu pun film yang mewakili generasi kami. Kalaupun ada, palingan cuma sinetron serial “Rumah Masa Depan” yang dibintangi oleh Septhian Dwi Cahyo Cs dan serial “Aku Cinta Indonesia” (ACI).

Lain halnya bagi kakak-kakak-ku yang lahir di tahun 60-an, mereka masih sempat menyaksikan film dari kisah percintaannya  Rano Karno dan Yessy Gusman. Sebut saja misalnya film “Selamat Tinggal Masa Remaja”, ataupun “Ali Topan Anak Jalanan”. Rano, sang legenda remaja saat itu sering tampil di film-film ber-genre percintaan dan kisah kasih remaja di sekolah. Saat ini mungkin sosok Rano bisa diwakilkan oleh Reza Rahardian Si pemeran Habibie yang laris ditanggap sebagai pemeran utama film-film ber-genre anak muda.

Sama seperti generasi remaja tahun 80-an, begitupun halnya dengan remaja yang tumbuh di era tahun 2000-an, mereka punya kisah kasih romantis yang bisa diceritakan untuk anak cucunya. Mereka punya film “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC) yang fenomenal, yang dibintangi oleh Dian Sastro, perempuan dengan kecantikan khas Jawa-nya, dan Nicholas Saputra sebagai icon remaja saat itu.

Bagiku yang lahir tahun 70-an, tentu sudah out of date tuk hanyut dalam kisah romantika Rangga dan Cinta, pasalnya saat film itu di luncurkan, aku baru saja tamat kuliah. Tak seumur dengan setting film AADC itu yang berseragam putih abu-abu anak remaja SMA. AADC adalah film-nya generasi adikku. Ya, saat film itu booming, adikku baru saja lulus SMU.

Sejujurnya aku iri dengan mereka yang lahir pada tahun 80-an dan 60-an. Betapa bahagianya mereka. Ada cerita dan kisah film atau tontonan yang bisa diceritakan diantara mereka. Ada tokoh yang menjadi idola, kebanggaan, dan pujaan mereka. Bagi mereka kelahiran tahun 60-an saat beranjak remaja, maka mereka hidup di tahun 80-an. Banyak film-film berkisah asmara anak muda hadir di tengah-tengah mereka. Saya masih ingat bintang idola remaja kelahiran 60-an antara lain: Rano Karno; Herman Felani; Lydia Kandau; dan Yessy Gusman. Film-film remaja yang dibintangi mereka pun banyak. Seperti; Selamat Tinggal Masa Remaja; Selamat Tinggal Duka; Masih Adakah Cinta, dan film-film roman picisan yang menjadi hits dan merajai blantika perbioskopan tanah air.

Bayangkan saja, anak remaja seusiaku, saat itu tak ada film percintaan remaja yang layak diobrolkan. Kalaupun ada hanya film-film sex murahan seperti: “Ratu Laut Selatan”, dengan bintang film sekelas; Febby Lawrence; Meriam Bellina; Yurike Prastica; Ataupun Sally Marcellina. Tak ada yang lain. Tahun 90-an itu, saat aku remaja, jagat perfilm-an di tanah air hanya dipenuhi dengan 3 (tiga) tema, yakni: Sex; Action (laga); Dan mistis. Judulnya pun tak jauh dari kata-kata yang ada dalam stensilan-nya Enny Arrow; seperti: Gairah Malam; Kenikmatan Tabu; ataupun Ranjang yang Ternoda. Masih untung tak selamanya judul-judul seperti itu merajai jagat perbioskopan nusantara; Film-film bermutu pun bukannya tak ada, namun segmen-nya terlalu luas untuk dibilang sebagai film anak muda/remaja. Film berjudul Perwira dan Ksatria yang dibintangi Dede Yusuf boleh juga dikatakan sebagai film yang mewakili genre remaja, namun film itu tidak se-booming film remaja generasi AADC.


Itulah zaman saat aku remaja. Meski tak ada kisah (film) yang patut diceritakan, namun aku bangga pernah menjadi anak yang tumbuh dan besar tanpa gadget dan masih menikmati aneka permainan khas anak kampung. Mungkin generasi-ku lah, generasi (remaja) terakhir yang selamat dari arus informasi dan hoax yang diakibatkan oleh kemunculan sosial media macam twitter, facebook dan kroni-kroninya. Dan, Rano Karno masih menjadi legenda, setidaknya bagiku..

Kamis, 26 Januari 2017

Imlek; Mengenang yang Wafat

Imlek tahun ini --seperti imlek-imlek beberapa tahun yang lalu-- tak berarti apa-apa bagi mami. Meski mamiku berdarah tionghoa, namun sudah sejak lama beliau tidak pernah lagi merasakan suasana imlek. Sebelumnya, sekitar tahun 90-an saat famili dan kerabat dekat mamiku masih hidup, kami rutin kecipratan suasana imlek. Ya, Ini karena ada beberapa keluarga mami yang non-muslim, yang masih menjaga tradisi pergantian tahun baru china atau imlekan itu. Jadi, saban imlek tiba, kami pun bisa merasakan kemeriahan dan suka cita imlek sebagaimana saudara-saudara tionghoa lainnya di Indonesia.

Bicara tradisi Imlek di keluarga kami, mamiku pasti akan mengaitkannya dengan kisah dan cerita tentang saudara sepupunya. Kakak Sepupu mami ini tinggal di Kebayoran Lama, dekat pasar. Namanya Lauw Hong Nio. Aku memanggilnya Wak Hong Nio. Usianya lebih tua sekitar sepuluh tahun dengan mami. Yang hingga kini kami kenang dari kebiasaan Uwakku semasa hidupnya adalah, menjelang datangnya hari imlek, beliau tak pernah absen mengirimkan  aneka kue, yang kami kenal dengan nama dodol china. Kebiasaan ini selalu dilakukan rutin saban tahun, hampir tak pernah absen, hingga beliau wafat sekitar tahun 2000-an. Biasanya menjelang imlek, Ncang Amin, Abang mamiku akan datang ke rumah Wak Hong Nio untuk silaturahmi sekaligus mengambil titipan kue dodol cina yang memang sudah disiapkan oleh Hong Nio. Adakalanya juga salah satu anaknya datang ke rumah mengantarkan bingkisan kue imlek. Namun sayang, selepas kematiannya, kebiasaan yang baik ini tidak diteruskan oleh Beng Tek, Beng Yang, dan anak-anaknya yang lain.  

Mamiku cukup dekat dengannya. Sebab, hanya Wak Hong Nio, saudara sepupu mami yang tinggal di Jakarta. Sepupu-sepupu mami yang lain menyebar di beberapa kota. Jarang sekali mereka bertemu. Kalaupun mereka berkumpul, itu terjadi hanya setahun sekali, saat lebaran tiba, ketika kami ziarah dan silaturahmi kepada leluhur dan kerabat di Subang. Diluar itu biasanya kami bersua saat salah satu diantara saudara kami ada yang menggelar pesta perkawinan.

Saking dekatnya dengan Wak Hong Nio, dimasa muda mami, beliau sering menginap di rumah Wak-ku ini. Biasanya selepas kursus menjahit di kawasan Blok A, seperti anak gadis angkatan 60-an pada umumnya, mamiku -dengan bersepeda- kerap keluyuran hingga jauh ke Kebayoran Lama. Bersama teman-temannya, mamiku menghabiskan sore dengan mencari hiburan sembari nonton di bioskop Bintang Mas, di Pasar Kebayoran Lama. Pulang nonton, bukannya kembali ke Kemang, ke rumah nenekku, namun mamiku justru mampir bertandang ke rumah Hong Nio, yang letaknya tak jauh dari pasar.  

Seperti lazimnya pergaulan antar saudara, Hong Nio, sebagai seorang kakak sangat menjaga dan memperhatikan mami. Ya, mungkin lantaran Hong Nio tahu betapa kurang bahagianya mami menjalani masa kecilnya lantaran di tinggal mati ayahnya. Untuk menghibur mami, kadang-kadang keluarga Hong Nio mengajak mami jalan-jalan, plezier, bahkan hingga keluar kota.
“Mami pernah diajak ke Cimaja (?), waktu nguburin wak Alam, kuburannya ada di gunung. Kuburan China,” kenang mamiku bercerita padaku di suatu sore, di batas akhir senja.

Sebagai seorang yatim, mamiku memang kurang piknik, hehe.. Kalaupun piknik, palingan hanya main ke Pasar Kebayoran, ke rumah sepupunya ini. Biasanya sebelum bertandang, mami akan meng-ebel pintu gerbang dulu, memastikan keadaan ‘aman’. Begitu di tengok ada mami datang, Wak Hong Nio menyuruh Beng Tek (DR. Sunaryo, pakar pembuatan kapal laut), putranya yang masih kecil untuk mengandangkan anjing-anjing mereka. Mamiku memang takut anjing.
Tek, hayo dimasukin anjing-nya, ada Omah (panggilan dari Rohmah) datang,” kenang mamiku menirukan suara Hong Nio saat menyambut kedatangannya.
Keluarga Wak Hong Nio memang memelihara anjing. Anjingnya kecil, namun kalau menyalak, tak kalah garang dengan anjing herder yang besar.

Meski Wak Hong Nio telah wafat dan tradisi hantaran kue china terputus, namun silaturahmi antar keluarga kami dengan keluarga Wak Hong Nio tetap terjaga. Saban lebaran tiba, anak-anaknya selalu datang ke rumah mamiku untuk ber-lebaran. Biasanya mereka datang siang hari, setelah tamu-tamu dan kerabat mami bersilaturahmi selepas Shalat Ied dengan mami. Maklum, mami kini orang tua yang dituakan. Sebab, hanya tinggal mami-lah anak dari kakek/nenek-ku yang masih hidup.

Biasanya, di lebaran hari pertama, setelah para saudara dan ponakan-ponakan mami yang muslim pulang, hanya tinggal mami, aku dan adik-adik-ku saja yang tersisa. Meski sebagian besar tamu dan kerabat dekat telah datang bersilaturahmi, namun mami belum bisa tenang untuk sekadar selonjoran atau beristirahat. Ada salah satu tamu yang ditunggu kehadirannya oleh mami. Siapa dia? Mamiku belum tenang bila keluarga Wak Hong Nio belum datang berlebaran. Maka, sebagai persiapan menyambut mereka, sebelum para ponakannya (anak-anak Wak Hong Nio) datang, mami pasti akan menyisakan ketupat lebaran sebagai santapan makan siang untuk mereka.
Mat, pisahkan 10 ketupat buat anak-anaknya Hong Nio. Ketupat jangan sampai habis,” itulah executive order dan titah mamiku dihari pertama lebaran, saat aku bersiap menyantap hidangan ketupat yang tergelatak di meja.

Dan biasanya sekitar jam makan siang, barulah sebagian keluarga Besar Wak Hong Nio datang silaturahmi ke rumah. Nah, selepas mereka datang, legalah hati mami lantaran ketupat beserta sayur dan daging semur habis disantap oleh ponakan-ponakannya. Berkah, kata mami. 

Oh ya, selain kue imlek, Mami juga berbagi kisah lainnya, kebiasaan orang tua dulu sewaktu imlek adalah membeli ikan bandeng ukuran jumbo untuk disantap bersama. Sewaktu muda, mami sering diajak Wak Hong Nio membeli ikan bandeng ukuran jumbo di Pasar Rawa Belong, arah utara Pasar kebayoran lama. Mami dengan lancarnya bercerita, sewaktu muda ia pernah bersepeda hingga ke kawasan Slipi, dekat Rawa Belong.


Begitulah mamiku mengenang masa-masa mudanya bersama Wak Hong Nio menjelang imek tiba. Semoga kenangan mami tak lekang dimakan usianya yang kian sepuh. Panjang umur dan sehat selalu, mami. Gong Xi Fat Coi!!

Selasa, 02 Agustus 2016

Patokan yang Pernah Melegenda di Jakarta

Saya masih ingat, saat kecil bila ingin pergi ke rumah teman atau kerabat di kawasan Ciganjur, mesti akan dikasih clue oleh tuan rumah, “dari Herman Soesilo belok kiri.“ atau “sebelum Herman Soesilo ada gang, kanan pertama, namanya Gang Manggis.” Begitulah petunjuk yang diberikan. Ya, Herman menjadi patokan.

Bagi anak yang lahir tahun 90-an keatas, mungkin rada asing atau tak terlalu kenal dengan nama dan sosok Herman Soesilo. Siapa dia? Saya akan me-refresh ingatan kita akan dokter berkaca mata yang pernah popular pada tahun 80-an. Beliau adalah bekas Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Beliau terkenal lantaran wajahnya sering terlihat pada acara-acara kesehatan di TVRI, satu-satunya stasiun televisi pada masa itu. Ok, Saya tidak akan membahas tentang sosok Herman Soesilo, namun saking populernya nama tersebut, ia atau lebih tepatnya rumah kediamannya di tetapkan sebagai patokan dan rujukan bagi penduduk di kawasan sekitar Ciganjur. Maklum, dokter ini tinggal di ujung Jalan Kahfi I (sekarang posisinya dekat dengan taman Tabebuya). Kenapa (rumah) Dokter Herman bisa jadi patokan. Ya, mungkin saat itu tidak ada tempat atau icon yang menjadi penanda kawasan Ciganjur.

Bila kita berkendara dari arah Blok M menuju ke kawasan Ragunan, tentu bias melawati Jalan Kemang Raya sebagai akses terdekat ke sana. Waktu tahun 80-an yang menjadi icon dan perlambang kawasan Kemang adalah: Kem-Chick, Hotel Kemang, LPPI (sekarang IBI) dan Pom Bensin, di ujung jalan arah ke Ampera. Ya, hanya empat tempat itu, tak ada yang lain. Maklum, belum ada bangunan atau gedung fenomenal yang dapat dijadikan rujukan dan tanda. Saat itu, sepanjang Jalan Kemang hanya ada perumahan penduduk di kiri kanannya, dengan beberapa kavling tanah kosong yang belum dibangun yang akhirnya hanya berupa kumpulan ilalang tempat tumbuhnya rumput-rumput liar.

Sama dengan Kemang, di sepanjang Jalan Sudirman pun, awal tahun 80-an rada sulit juga kita menentukan patokan berdiri. Saat itu yang masih kuingat, sewaktu usiaku masih sekolah dasar hanya ada showroom Toyota di kanan jalan arah ke Dukuh Atas. Showroom ini bukanlah gedung bertingkat seperti banyak dijumpai di kiri kanan Jalan Sudirman, namun hanya bangunan 2 (dua lantai). Bila dari arah Kebayoran Baru, maka gedung Summitmas akan menjadi pertanda. Ini adalah gedung bertingkat pertama yang akan dijumpai di sebelah kanan jalan. 

Di kawasan Cilandak pun demikian adanya. Komplek Marinir di Cilandak menjadi rujukan bagi siapapun yang hendak menuju dari dan ke Cilandak/Ragunan. Beringsut ke utara, ke kawasan Jalan Sahardjo dan sekitarnya, dulunya ada (nama) Jembatan Merah. Kondektur Bus PPD 105 (?) tujuan Manggarai - Blok M sering meneriakan kata “merah-merah’. Posisinya sendiri sebelum Jalan Barkah, berada di sebelah kiri arah ke Manggarai. Oh ya, di namakan Jalan Barkah, lantaran jalan ini adalah jalan masuk ke Masjid Al Barkah. Sekira 800 meteran ada masjid dan Perguruan Islam As-Syafiiyyah, milik ulama legendaris KH. Abdullah Syafi’e.

Demikian adanya, tiap-tiap kawasan di Jakarta mempunyai tempat atau nama sebagai clue atau penanda patokan arah. Patokan itu sendiri bisa berupa kediaman rumah tokoh terkenal, tempat legendaris, ataupun kantor/instansi yang besar. Tentu patokan ini sangat membatu di zaman yang belum ada aplikasi google map. Terlebih, saat itu sangat sedikit bangunan dan gedung besar yang dapat dijadikan rujukan bagi seseorang yang baru tiba atau sampai di lokasi itu.

Begitulah warna warni dalam menentukan patokan dan arah di tahun 80-an, Kini, meski beberapa ‘situs’ masih tetap berdiri, namun ada pula yang hilang atau terlupakan lantaran sudah jarang disebut atau diperbincangkan. Tak hanya itu, tragisnya beberapa bangunan dan tempat bahkan sudah digusur dan diganti fungsinya.


Zaman boleh berubah, pembangunan boleh lanjut, namun tidaklah elok bila ‘situs-situs; yang ada di Jakarta itu tergusur. Harus ada kesadaran kolektif untuk melestarikan peninggalan masa lalu sebagai penanda atau legacy (pengingat) bahwa disitu atau di kawasan itu pernah –dulunya- terkenal dengan sebutan dan menjadi penanda kawasan, bahwa dimasanya tempat atau bangunan itu pernah berjaya dan menjadi patokan atau rujukan untuk orang-orang sekitarnya. Kita berharap generasi sekarang masih ingat dimana Rumah Herman Soesilo, dimana Kem-Chick dan dimana posisi Jembatan Merah, semoga.

Rabu, 27 Juli 2016

Berkat Usaha Susu Sapi, Anak Betawi Banyak Yang Jadi Orang

Hingga sekitar tahun 80-an, jangan heran bila di Jakarta, susu segar di pasok langsung dari Jakarta. Bukan dari Lembang ataupun dari kawasan lain di luar Jakarta. Selain di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, salah satu kawasan penghasil susu sapi segar adalah Kemang dan Mampang, semuanya di Jakarta Selatan.

Namun, selain kawasan tersebut diatas, ada beberapa tempat lainnya di Jakarta yang mengelola usaha peternakan sapi perah. Condet di Jakarta Timur, misalnya, kawasan ini adalah sentra penghasil susu sapi segar di Jakarta Timur. Menariknya usaha peternakan sapi perah di Jakarta, dikelola dan dikembangkan oleh etnis Betawi. Mungkin lantaran tidak ada pendatang dari etnis lainnya yang memilii tanah dan pekarangan yang luas dan lebar di belakang rumahnya sebagai syarat pengusahaan sapi perah. Saat itu boleh dibilang hampir mayoritas orang tua Betawi berprofesi sebagai peternak sapi. Maka, dengan modal 2 (dua) ekor sapi paling sedikit, jadilah mereka berprofesi sebagai peternak sapi. Peternak dalam hal ini yakni pemerah susu sapi. Meski profesi sebagai peternak sapi perah banyak dilakoni oleh orang betawi di tahun 80-an, namun ada juga dari mereka yang berprofesi sebagai perkebun, dalam arti menjual hasil kebun yang tersebar di tanah-tanah meraka, seperti buah-buahan langsung ke pasar.

Boleh jadi usaha susu sapi perah ini menjadi mata pencarian pokok bagi etnis betawi di sekitaran Mampang dan Kemang lantaran saat itu untuk penyediaan pakan sapi sangat mudah didapat. Rumput tersebar dimana-mana. Kalaupun harus beli, harganya pun sangat terjangkau. Dari usaha per-susu-an inilah keluarga Betawi dapat menyekolahkan anaknya hingga menjadi tukang insinyur, dokter, dan guru ngaji. Bahkan mampu membiayai anak-anaknya untuk sekolah agama ke luar negeri, ke Cairo, Mesir.

Waktu itu, sejak zamannya Bung Karno, beberapa familiku, pernah terlibat dan menekuni profesi sebagai petenak sapi perah. Aku masih ingat, dulu, saat usiaku sekolah dasar sering ngintilin (ikut) encang-ku mengantarkan susu ke pelanggannya. Tak hanya itu, aku juga sering diajak mencari rumput sebagai pakan untuk sapi-sapinya. Dengan mobil kijang bak terbuka type doyok-nya, Ncang-ku, Haji Madamin (nama beken dari dari Haji Muhammad Amin) membeli rumput di kawasan sekitar Warung Buncit. Berkah dari bisnis susu sapi perah ini memang luar biasa. Ncang-ku ini anaknya 8 orang, semuanya disekolahkan hingga menjadi tukang sarjana, hanya dengan mengandalkan bisnis susu sapi perahnya. Encangku yang lain pun demikian. Ncang Naseh namanya, anaknya juga banyak, bererod kayak bebek. Semuanya disekolahkan hingga jadi ‘orang’ hanya dengan lantaran sapi.

Untuk pemasarannya sendiri, biasanya para peternak sapi perah memasarkan susu segarnya ke arah utara ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang banyak didiami oleh para orang kaya, berpangkat, dan para pejabat. Untuk mengantarkan susu-susu itu, mereka, para pemerah susu biasanya bersepeda beriringan di pagi buta, selepas subuh saat matahari belum muncul. Mereka bersepeda dari rumahnya di Kemang menyusuri jalan Mampang Raya, Rasuna Said (Kuningan) hingga naik menyebrang menuju kawasan Menteng. Selain ke Menteng, pelanggannya tersebar hingga ke Pasar Kebayoran Lama.

Aktivitas memerah susu dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pagi-pagi sekali, dinihari, saat azan subuh belum berkumandang. Selepas subuh, susu segar itu langsung diantar kepada para pelanggan. Pemerahan kedua biasanya dilakukan menjelang asar, sekira jam 3 sore. Selepas Ashar, susu segar itu langsung di kirim ke pelanggan atau bisa juga ke penampung atau koperasi. Koperasi ini lokasinya di kawasan tebet, di Jalan Saharjo.

Hingga sekitar akhir 2010-an di Condet, misalnya masih ditemukan 1, 2 peternak sapi perah. Namun Seiring perkembangan jaman –entah mengapa—usaha peternakan sapi itu terhenti. Areal bekas kandang sapi-nya sendiri berubah menjadi rumah petakan untuk disewakan kepada para pendatang. Salah satu penyebab banting setirnya para peternak sapi perah menjadi juragan kost-kost-an adalah makin sulitnya mendapatkan pakan ternak berupa rumput segar. Kalaupun ada, rumput-rumput itu didatangkan dari luar Jakarta, dan tentu dengan biaya mahal. Disamping itu, faktor lainnya adalah ketiadaan penerus pengganti orang tua yang meneruskan usaha pemerahan ini. Maklum saja, anak muda Betawi, selepas jadi tukang insinyur dan sarjana, gengsinya lebih tinggi, mereka lebih memilih kerja di kantoran jadi ‘orang berpangkat’ ketimbang harus berpeluh dengan keringat dan kotoran sapi.

Usaha pemerahan sapi di wilayah Kuningan telah lebih dulu bangkrut. Bangkrut lantaran tata kota mengharuskan di kawasan itu terlarang untuk pemukiman penduduk marginal betawi dengan usaha peternakannya. Dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan itu harus disulap menjadi areal perkantoran dan bisnis. Kemang pun menyusul wafat. Tak ada tersisa peternak sapi di kawasan elite Jakarta ini. Di Kampung Kebon dan Pedurenan (keduanya di Kemang) misalnya, para peternaknya sudah menyulap lahan tempat beternak sapinya menjadi perumahan mewah dan kost-kost-an. Nafkah dan mata pencarian warga asli betawi di Kemang berubah dari bisnis perah sapi menjadi juragan kost-kost-an atau properti. Beruntung, di Kelurahan Tegal Parang, Mampang masih ada satu dua peternak sapi, namun itu tinggal menunggu waktu, menunggu untuk mati secara perlahan.


Rabu, 15 Juni 2016

Pergilah Keluar, di Jamin Anda Tak Nyasar!

Sering kita merasa kebingungan bila baru datang di suatu tempat. Ingin pergi dan lihat-lihat suasana sekitar kota, namun tak tahu harus kemana. Tak ada petunjuk atau clue yang bisa jadi pegangan. Mau keluar atau pergi pun ada perasaan takut. Takut nyasar tepatnya. Mengingat saat check in dan tinggal di hotel, tak semua hotel menyajikan peta dan denah suatu kota, sebagai pegangan kita untuk melangkah. Akhirnya satu-satunya cara ya harus membuka applikasi google map, dan itu tidak lah seringkas bila ada peta saku yang tersedia.

Untuk menjelajahi suatu kota, adakalanya kita perlu adaptasi yang lama untuk mengenali dan menghapal nama-nama jalan di kota itu, dan itu tidaklah mudah. Maklum, nama-nama jalan di kota-kota di Indonesia sangat banyak dan beragam. Ada yang diberi nama tumbuhan, gunung, pulau, hewan, kota, bahkan bisa juga sebuah hurup. Dan anehnya, nama itu pun kadang tidak teratur. Misalkan saja sering kita jumpai untuk mengklasifikasikan jalan di satu kawasan, penamaannya dengan nama-nama bunga, (cendana, anyelir, kamboja, dsb), namun ajaibnya kadang terselip nama orang (pahlawan), gunung, bahkan binatang pada kawasan yang sama. Tidak ajek dan teratur.

Kelemahan atau kekurang cerdasan kita dalam penataan suatu kawasan atau jalan adalah ketidakdisiplinan kita dalam menerapkan aturan yang baku. Ya, contohnya seperti penamaan jalan atau kawasan itu. Ada yang berurutan atau dengan langgam yang sama, seperti nama-nama tumbuhan dan semacamnya, namun entah mengapa -ujug-ujug- bisa dijumpai penamaan itu keluar dari pakemnya.

Memang demikianlah adanya. Penamaan jalan-jalan di kota-kota di Indonesia tidak diatur berdasarkan hurup seperti A, B, C, dst, ataupun berupa angka seperti jalan 1, jalan 2, 3 dst yang merujuk kepada petunjuk dari satu blok berpindah ke blok sebelah atau blok lainnya, namun berupa nama-nama tertentu. Inilah yang membuat kita harus ektra hati-hati dalam mempelajari jalan dan lingkungan kota yang baru kita kunjungi, di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan di negara maju? Adakah situasinya sama dengan di Indonesia? Tentu beda. Bagai langit dan sumur.

Saat aku berkesempatan di undang Department of State Amerika untuk menengok sisi-sisi kota mereka pada Maret 2016 silam, ketakjubanku, -seperti juga takjubnya orang kampung atau ndeso yang baru tiba dan pertama kali sampai di kota- adalah kesan “wah.” Dan semua yang terlihat adalah; Teratur, bersih, dan tertib.

Untuk jalan raya misalnya, tak akan dijumpai jalan yang tak lurus atau bengkok. Tiap persimpangan jalan, bisa menjadi enam bahkan hingga delapan simpang, seperti arah mata angin. Meski simpangannya banyak, namun pengaturan lalu lintas dapat dibuat teratur dan tertib. Tak ada antrian kendaraan di tiap persimpangan lampu merah, meskipun simpangannya lebih dari empat, seperti kebanyakan simpangan rata-rata di Indonesia.

Selain itu, ciri khas dari keteraturan tersebut adalah bentuk kotanya laksana ukuran kotak persegi. Kotak-kotak bergaris lurus. Jalan dan blok tertata jelas. Bisa dipastikan, kita tak akan kesasar bila berjalan seorang diri di rimbunan bangunan menjulang di DC ataupun Philadelphia, misalnya. Tak ada kawasan libirin yang membingungkan.

Oh ya, ini istimewanya, penamaan jalan di Amerika sangat berbeda dengan di tanah air. Penamaan jalan ditata dengan tertib. Jalan di belah menjadi blok dan sector. Lazimnya penanda jalan itu dimulai dari hurup atau angka yang berurutan. Misalkan saja namanya: Jalan 1SW, artinya jalan 1 dalam sektor South West. Maka tentu di blok berikutnya jalan 2SW, begitu seterusnya. Blok pun demikian. Bila di depan kita Blok A, tentu setelahnya Blok B, C, D berurutan dalam jejeran blok yang memancang.

Untuk peletakan plang jalan pun ada pakemnya. Di tiap persimpangan selalu terpampang nama jalan dengan posisinya yang menggantung di tengah-tengah jalan, atau bisa juga diletakkan disamping rambu lalu lintas. Dan ini sudah semacam SOP hingga kita tak akan kesasar bila menemukan persimpangan.

Disamping itu kenyamanan kota juga tergambar dari keteraturan bangunan yang ada di dalamnya. Di Washington DC misalnya, semua gedung bertingkat seragam tingginya, tidak ada yang boleh melebihi dari Washington Monument (WM), sebagai landmark kota. Semua bangunan seakan tunduk dan taat pada pimpinannya, yakni MW. Monas pun sebenarnya dicita-citakan seperti itu dimasanya. Oleh Bung Karno sebagai inisiator pembangunannya,  tidak beleh ada bangunan yang melebihi ketinggian Monas. Namun sayang, seiring perjalanan waktu, aturan dan konsep itu dilanggar.


Menurutku, keteraturan tata kota di Amerika lantaran kota itu direncanakan dan dibangun terlebih dahulu untuk kemudian ditempati. Beda dengan di Indonesia yang kesemuanya ditempati dulu baru kemudian di adjust atau disesuaikan dengan sesuatu yang telah ada. Bila kebetulan disitu telah ada lebih dulu pemukiman, maka jalan raya pun bisa dibelokkan, digeser menyamping. Akibatnya bentuknya tidak presisi atau lurus namun bengkok. Pertokoan dan perkantoran pun akan digeser letaknya lantaran sebelumnya telah ada sesuatu yang sulit digeser. Jadilah tata aturan kota yang diatas kertas bagus namun dalam tataran aplikasinya menjadi menyimpang dan tentu saja semrawut. Begitulah adanya. Mungkin inilah yang membedakan antara mereka dan kita. Dan, justru inilah keunikan kita dibandingkan mereka.

Selasa, 10 Mei 2016

Seperti Apa Rasanya Nonton Ballet?

Di gedung itu sepertinya cuma aku seorang yang bertampang tak rupawan. Tubuh kecil, dengan balutan jas penahan dingin yang tebal, terlihat gempal. Walaupun demikian, aku tergolong orang yang beruntung, meski bertampang pas-pasan, (pas dilihat rada ganteng juga, hehe..) aku bisa masuk dalam golongan sosialita high class yang tidak sembarang orang bisa masuk ke gedung itu. Maklum, tiket masuknya rada mahal, sekitar 90 dollar. Dengan uang sebesar itu rasanya sayang untuk dihabiskan hanya dengan menonton pertunjukan selama 3 jam. Namun lantaran tiket sudah ditangan, jadilah malam itu aku laksana pangeran tampan yang sedang berpetualang mencari kesenangan. Ya, sabtu malam di pertengahan Maret 2016 itu aku akhirnya bisa nonton pertunjukan, berbaur dengan mereka yang well educated dan well manner.

Sejujurnya, aku orang rumahan. Jarang pergi keluar untuk nonton, baik itu nonton bola ataupun nonton bioskop. Tontonan yang pernah kulihat secara langsung adalah pertandingan-pertandingan olahraga yang ada di Jakarta, utamanya sepakbola. Waktu kecil bahkan aku sudah diajak nonton pertandingan Indonesia lawan tim asing di GBK. Pernah pula aku nonton live pertandingan Tennis, Squash, dan Basket saat bertugas sebagai LO pada PON XIV tahun 1996, di Jakarta. Jadi hanya dua jenis tontonan itu saja yang pernah kutonton yakni nonton bola dan nonton bioskop. Selebihnya tak ada.

Nah, sewaktu di Philadelphia, memenuhi undangan dari Kemenlu Amerika dalam program IVLP aku berkesempatan menonton sesuatu yang tak ada di Indonesia. Ya, tontonan model begini sangat artistik, menarik, dan dijamin takkan ada di Indonesia. Nonton pertunjukan balet. Balet, seperti kita tahu adalah bukan budaya atau tarian Indonesia. Jadi tak kan pernah ada nonton pertunjukan kolosal balet di Indonesia.

Balet berasal dari budaya barat. Yang kulihat balet itu mungkin sejenis teaterikal dan pertunjukan lenong yang sering di adakan di tanah Betawi. Balet seperti yang kusaksikan di Philly adalah bentuk opera dan tari-tarian dimana semua pemainya berjalan, berputar dan berlari dengan menjinjit kedua kakinya. Tak ada dialog dalam pertunjukan itu, semuanya menari dan hanya tersenyum riang gembira dengan iringan instrument bernuansa klasik

Begitu masuk ruang pertunjukan, suasana mewah dan meriah langsung tampak dihadapanku. Tercium oleh hidungku, mereka yang hadir menyaksikan performance dari Philadelphia Ballet semuanya wangi-wangi. Kaum prianya tampan-tampan dengan pakaian parlente, umumnya berjas. Adapun yang wanita, semuanya terlihat cantik-cantik dengan gaun yang sensual dibaluri oleh aroma wangi parfum yang sangat menggoda. Pakaian yang mereka kenakan semuanya bagus-bagus, necis-necis. Dari tampilan dan caranya berjalan, berbicara, dan berpakaian, jelas terlihat yang hadir semuanya, termasuk aku tentunya, ber-well educated.

Saat tiba di Academy of Music di Jalan Broad 240 S, Philadelphia dan masuk ke lobby, aku langsung diarahkan ke blok-blok ruangan kursi sesuai dengan nomor tiket yang kuperoleh. Aku duduk di deretan tengah, di bawah bukan dibalkon atas. Dari sini aku dengan jelas melihat tampilan tata panggung yang mewah dan terkesan wah. Panggung seluas lebih kurang 200 meter itu berhias ornament seni yang bernilai tinggi dengan patung-patung ditiap sudutnya.

Begitu layar pertunjukan dibuka, muncullah sepasang pemain ballet menari, sekitar 10 menit lamanya. Kemudian, masuklah sekitar 60 hingga 80 orang pemain. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan beragam usia, bahkan anak-anak pun diikutsertakan dalam pertunjukan ballet ini. Maklum saja, tema yang dimainkan pada malam itu adalah kisah percintaan sepasang remaja di sebuah desa yang tidak direstui oleh orangtua. Ya, sebuah tema yang klasik.

Saat layar tersingkap, baru kutahu, ternyata para pemain ballet itu tidak hanya didominasi usia kanak-kanak atau remaja, bahkan usia dewasa pun ada, bahkan banyak. Mereka bermain sesuai dengan peran yang diberikan. Ada yang memerankan tokoh orang tua, dan banyak pula yang memerankan remaja dan anak muda. Mereka berseragam warna warni dengan kostum yang colorful. Ada banyak kostum yang digunakan. Para peballet menari berdasarkan kelompoknya. Tiap kelompok ada sekitar 8 pemain, dengan pakaian yang sama, berwarna cerah yang eye catching.  

Meski baru pertama kali nonton ballet, namun aku tidak merasakan kesulitan yang berarti dalam mencerna jalannya cerita. Aku banyak terpukau dengan tampilan para penari yang begitu gemulai berjinjit dengan gerakan yang sangat lincah. Aku seakan dibawa kedalam alam khayal, tempat dan suasana dimana tanpa ada duka dan lara. Sejenak, aku seakan dibawa ke alam surgawi, dimana para bidadari sedang menari.


Selepas pertunjukan, para ‘bangsawan’ keluar gedung dengan masih menyisakan aroma harum dibadannya. Aku berada ditengah-tengah mereka, sendiri. Kuayunkan langkah meninggalkan gedung dalam balutan hawa dingin yang menusuk tulang. Malam itu, aku seakan terbangun dari mimpi sekejap tentang dunia yang penuh warna-warni keindahan dari lakon Don Quixote yang menawan. Malam ini aku tertidur, dan besok terhampar realita. Dan realita hidup yang akan kuhadapi mungkin tak seindah tampilan dalam pertunjukan balet. 

Senin, 07 Desember 2015

Saat (Musimnya) Buaya dan Kepiting masuk Jakarta

Biasanya, saat musim penghujan telah tiba, --atau selepas bulan Muharram/Suro (tahun baru dalam penanggalan Islam)-- Buaya dan Kepiting akan banyak masuk ke Jakarta. Kok bisa? Ya, bisa. Namun, perlu kiat khusus dan trik canggih untuk melihat kemunculannya. Hanya orang-orang yang sering bergaul dengan komunitas anak Jakarta (Betawi), atau punya kerabat berdarah Jakarta lah yang bisa melihat kedua hewan melata tersebut. Cirinya, bila di setiap gang dan jalan di pelosok Jakarta ada terjuntai bambu dengan hiasan janur kuning, maka akan tiba lah saat dimana buaya dan kepiting besar akan bermunculan.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multi etnis, kita dikenalkan dengan berbagai macam cara dan kebiasaan unik dalam melaksanakan upacara atau prosesi pernikahan, baik pada saat prosesi menjelang, saat, dan sesudah pernikahan. Walau demikian, hampir semua etnis yang ada di Indonesia mempunyai kesamaan dalam mengiringi mempelai pria kepada mempelai wanita saat prosesi akad nikah atau menuju altar upacara pernikahan yakni selalu membawa hantaran atau serah-serahan. Biasanya keluarga mempelai pria membawa beraneka makanan, barang, dan cinderamata yang khusus dipersembahkan kepada mempelai atau keluarga mempelai wanita.

Menyaksikan prosesi hantaran saat menjelang acara ijab kabul atau pemberkatan pernikahan niscaya kita akan menemukan keramaian dalam suasana khas kecerian dan keunikan di masing-masing adat budaya. Ada yang mengusung hasil panen bumi, seperti jagung, umbi-umbian dan sayur mayur. Ada yang menyertakan hasil tangkapan laut, seperti ikan. Ada pula yang membawa kerajianan tangan khas kampung halamannya, Bahkan ada yang membawa hewan ternak seperti babi atau kambing dan ayam yang dibawa dengan dibuatkan kerangkeng khusus dari bambu atau anyaman kelapa. Melihat semuanya membuat kita tersenyum geli. Ada-ada saja.

Bagi masyarakat Jakarta (Betawi) tentu mempunyai tradisi dan cara unik dalam prosesi hantaran penganten. Keberbedaan ini tampak dari hantaran yang dibawa. Disamping aneka makanan, buahan, perhiasan, kain, baju kebaya, selop, alat kecantikan, serta beberapa peralatan rumah tangga dan cenderamata lainnya, Mereka kerap membawa sepasang roti ukuran besar sekitar 50 hingga 100 cm, yang berbentuk buaya. Roti ini merupakan bawaan wajib bagi setiap hantaran. Boleh saja mereka tidak membawa buah atau penganan lainnya. Tapi, khusus untuk roti buaya, harus disertakan. Kenapa harus roti besar berbentuk buaya? Kenapa tidak roti macan atau roti beruang, misalnya.

Menurut kepercayaan para tetua Betawi, binatang buaya diyakini adalah perlambang kesetiaaan. Roti buaya adalah simbol bagi kesetiaan pasangan. Konon, buaya hanya kawin sekali seumur hidupnya. Walau di masyarakat buaya sering kali diidentikkan dengan perilaku negatif suka bermain wanita, seperti dalam umpatan “buaya darat”, namun khusus untuk roti buaya dalam hantaran perkawinan mempunyai makna sebaliknya. Ia adalah simbol kesetiaan pasangan untuk mengarungi mahligai rumah tangga sehidup semati.

Disamping roti buaya, roti ukuran besar lainnya yang kerap dibawa adalah roti kepiting. Kalau buaya lambang kesetiaan, maka kepiting adalah lambang silaturahmi. Sekali lagi, menurut para tetua adat betawi, kepiting adalah hewan yang unik. Ia jika berjalan akan terlihat miring. Diharapkan kedua mempelai jika berkunjung atau bersilaturahmi ke rumah orang tua atau kerabat selalu dapat berjalan ‘miring’ seperti jalannya kepiting. Tentu bukan miring sesungguhnya, tapi maksudnya adalah kalau datang berkunjung sebaiknya membawa buah tangan (oleh-oleh) yang dipersembahkan pada orang tua atau kerabat. Datang dengan lenggang kangkung alias tidak membawa apa-apa sangat ditabukan. Cukup kreatif dan menarik juga perumpamaan itu.

Walau disetiap hantaran untuk prosesi pernikahan adat Betawi selalu di’wajib’kan kehadiran roti buaya, namun sayangnya, tidak semua toko roti di Jakarta menjual roti buaya. Hanya toko roti tertentu saja yang dapat membuat dan menyajikan roti buaya, Ini dikarenakan bentuk dan ukurannya yang khas, tidak asal roti yang berbentuk buaya, namun sudah mempunyai pola, corak dan pakem tertentu. Disamping itu, tidak setiap saat roti buaya yang kita ingini dapat kita beli secara langsung, namun harus dipesan terlebih dahulu. Pasalnya harga sepasang roti buaya cukup mahal, sekitar 400 hingga 600 ribu rupiah.


Ingin melihat dan menyicipi roti buaya dan kepiting? tunggu saja prosesi pernikahan adat betawi yang mungkin kita saksikan di Jakarta. Dan saat itulah masa dimana para ‘buaya dan kepiting’ masuk ke dalam kota..

Selasa, 01 Desember 2015

Mengapa orang Rusia namanya berakhiran hurup “V”

Catatan tentang nama menentukan kualitas sang orang tua.

“Nama anak loe keren banget, Mat, blom ada neh nama kayak gini”, komentar temanku setelah membaca nama anakku yang tertera di Kartu Keluarga (KK). “Ya, siapa dulu dong bapaknya”, jawabku dengan jumawa, hehe.. Bicara mengenai nama, saya kok jadi ingin menulisnya. Mengapa? Karena tren pergantian dan pertukaran nama saat ini mengalami revolusi yang patut diapresiasi. Sulit dibayangkan jika kita lihat ke belakang, sekitar 10 atau 20 tahun lalu, dimana nama-nama anak –maaf-- tidak mempunyai cita rasa dan jiwa/ruh yang tinggi. Ya, nama-nama anak zaman sekarang unik dan antik. Berbeda dengan nama saya dan kebanyakan teman-teman saya yang hidup dan lahir pada tahun 70-an.

Nama anak zaman sekarang atawa yang lahir selepas tahun 2000-an terdiri dari minimal 3 (tiga) suku kata dan bahkan lebih. Misalkan saja. Muhammad Azka Perwira Husada, atau Nayla Andini Putri Husodo (sudah pasti nama bapaknya Husodo). Bandingkan saja dengan nama anak sang ayah yang lahir tahun 70-an, yang cuma 2 (dua) suku kata yakni Achmad Husada atau Rachmat Hidayat, hehe..

Disamping itu beberapa ciri nama-nama anak zaman mutaakhir ini antara lain memakai hurup “Y” atau terdiri dari 5 (lima) hurup seperti Nayla, Kayla; Nahda; Najwa; dsb. Adapula yang memakai akhiran “Putra atau Putri”; Seperti Alfatihah Putri Nugroho; Irwan Putra Kusuma; dsb. Disamping itu banyak pula yang melabelkan hurup “A” didepannya seperti; Azka; Altaf; Andra; Ahsan. Awalan hurup A ini dalam bahasa Arab bermakna super atau lebih. Azka dari kata Zaki, bermakna lebih pintar. Altaf diambil dari kata Latief yang bermakna lebih lembut. Dsb.

Teman-teman seusia saya, yang lahir tahun 70-an, tentu nama-nama mereka mirip-mirip dengan nama saya, dalam arti, ya gak jauh banget type dan style-nya dengan nama pemberian orang tua saya. 11, 12 lah. Semenjak saya mulai bisa membaca dan memasuki usia SD pada tahun 80-an, nama-nama yang beredar dan saya dapati di daftar absen kelas 1 SD AHDI, mempunyai kemiripan dan langggam yang sama. Mau bukti? Bila anak perempuan, maka nama depannya SITI, dirangkai dengan kata atau bersuku kata dari bahasa Arab dan akan diikuti dengan akhiran “AH”. Contohnya; Siti ZubaedAH; Siti KomariyAH; Siti RosadAH; Siti FatimAH. Bila di sensus, pasti tiap kelas ada yang bernama dengan langgam dan type diatas.

Nah, untuk anak laki-laki punya styel dan gaya yang rada banyak. Namun kebanyakan ada disisipi suku kata berbahasa Arab “Dien” (bermakna agama), seperti Syamsuddin, Saifuddin, Bahruddin, Komarudin, dsb. Saifuddin sendiri yang bermakna pedang agama mempunyai ‘keturunan’, antara lain; Safruddin; Safaruddin; (mungkin saja akibat salah tulis, salah eja atau salah denger dari si pencatat nama di kantor kelurahan saat mengurus akte kelahiran sang anak.) Nah, untuk semua nama yang berakhiran “dien” tersebut, saya dan teman-teman saya memanggil mereka dengan panggilan si Udin. Bila yang pake nama akhiran “Udin” terlalu banyak di sekolah, maka biasanya kami memanggilnya dengan Udin Jangkung, Udin Kurus, Udin Pe’a (lantaran sering mabok), Udin bang Zen (lantaran anaknya Zaenuddin).

Oh ya, adalagi satu ciri khas anak yang lahir tahun 70-an. Bila anak perempuan berakhiran AH, maka untuk anak lelaki biasanya ada akhiran SYAH, seperti HermanSyah; ArdianSyah; HendianSyah; HadianSyah; dsb. Saat ini sepertinya model nama kayak gitu gak kan masuk itungan alias gak ada dipikiran para orangtua.

Di kampung saya sendiri, kampung Kebon, di bilangan Kemang Jakarta Selatan, para orang tua alias orang tua saya yang lahir pada tahun sebelum Indonesia merdeka atawa jaman Belanda, mempunyai nama yang rada unik. Orang Betawi Kemang, kalau memanggil nama seseorang jarang dengan benar melapalkannya dengan bagus dan sempurna sesuai nama aslinya. Walhasil saat pencatatan administrasi kependudukan, maka nama panggilan di masyarakat itu yang tertera di KTP. Misalkan saja Madamin. (nama panjangnya Muhammad Amin, lantaran orang Betawi suka nyingkat nama, jadilah nama yang tertera di KTP Madamin.) Madehir (Nama aslinya Muhammad Achir); Toye (nama lengkapnya Muhammad Turmudzi, namun di KTP ditulis Toye); Haji Bedur (nama benarnya Abdur Rachman, dipanggil Bedur); Siti Rohmah, dipanggil dan tertulis di KTP Omah; Siti Romlah dipanggil Iyom; Fauziah dipanggil Ipong; Ahmad Yani dipanggil Oyan; Kebanyakan nama mereka hanya satu kata, seperti; Nipan; Sanip; Ni’ih; Sami’un; Inan; Biasanya pas acara arwahan atau tahlilan orang yang meningal, sang shohibul hajat atau shohibul musibah akan dikirimi Fatihah. Sang Ustadz berkata. “Ila hadratinnabi, khususon ila arwahi Haji Madamin bin Muti, Haji Madehir bin Jum, dsb.

Imam Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Sedangkan Thabrani meriwayatkan secara marfu’ dari Abu Basrah, “Sebaik-baik nama kalian adalah Abdullah dan Abdurrahman serta Harits,” (Hadist shahih. Lihat Shahih Al-Jami: 3269). Selanjutnya para sahabat pun mengamalkan hadist ini sehingga Ibnu Shalah mencatat bahwa sahabat yang memiliki nama Abdullah ada sekitar 220 orang, sedangkan Al-Iraqi mengatakan bahwa jumlah keseluruhannya mencapai 300 orang, (Syeikh Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Al-Manhal Al-Lathif fi Ushul Al-Hadist, hal. 194). Mungkin lantaran berasal dari latar belakang agama yang kuat, maka banyak orang Betawi menamakan anaknya dengan nama Abdullah dan Abdurrahman (biasanya dipanggil Dul, Kong Dulloh), disamping nama-nama gaya kampung diatas.

Lalu, kenapa mereka, para orang tua, seakan kompak menamakan anak-anak mereka hampir seragam? Kalau saya coba analisa, mungkin, saat itu, --kalau saya bicara dalam tataran regional masyarakat Jakarta (betawi)-- arus dan terpaan informasi tidak semassif saat ini. Pada tahun 70-an, orang tua hanya tahu informasi dari TVRI. Jarang yang membaca surat kabar. Lingkungan sosial yang rada agamis, suka ke masjid, sering ke pengajian dan mendengar siaran ceramah agama dari radio As-Syafiiyyah yang terkenal itu, sehingga bisa jadi mereka dalam mentasbihkan nama untuk putra-putrinya tak kan keluar dari pakem dan ketentuan agama (Islam). Jarang orang Betawi yang menamakan anaknya dengan awalan Su, melainkan pasti dengan kosa kata Arab atau nama-nama Islami atau asmaul husna.

Ada pepatah klasik dari Timur Tengah yang mengungkapkan; “Bila hendak mengetahui kualitas seseorang, maka lihatlah nama anaknya” Ya, kualitas seorang dapat diterka dan dilihat dari cara ia memberikan nama kepada anaknya. Banyak saya jumpai –tentunya dengan random— nama-nama anak yang ‘canggih’ dan punya nunsa dan cita rasa yang tinggi lahir dari golongan atau kaum terpandang. Coba perhatikan secara sekilas saja, rasanya jarang kaum terpandang zaman itu menamai anaknya dengan nama pasaran seperti yang banyak dijumpai dikalangan rakyat kebanyakan, seperti: Tukiman; Partiyem; Ngatenu, Ngadinu; Joko, Agus; Panut; Untung; atau Bambang; Kebanyakan mereka menamai anaknya dengan nama yang rada intelek dan bergaya bangsawan. Salah satu cirinya banyak suku kata O ditengah-tengah atau akhiran namanya. Bisa pula dengan akhiran kata “Negara”, seperti Mangkunegoro; Joyonegoro; Notogegoro, Notolegowo; dsb.

Nabi Muhammad SAW pernah berucap, “..baguskanlah nama kalian..”. Mengapa demikian? Ini lantaran sebuah nama mengandung doa. Nama mengandung harapan dan asa dari si pemberi nama. Syahdan, pada zaman Nabi SAW, ada sahabat yang bernama Hazn, yang bermakna kesusahan. Oleh Nabi SAW si sahabat ini dianjurkan untuk berganti nama menjadi Sahl, Saad atau yang sejenisnya yang bermakna kemudahan atau kebahagiaan. Lantaran segan dan menghormati sang orang tua yang memberikan nama, maka sahabat Hazn tidak mau merubah namanya. Akhirnya hari berganti dan masa berubah hingga sampailah sahabat Hazn ini mempunyai keturunan sampai berbilang. Nah, anak keturunan Hazn ini tidak berada dalam kebahagiaan sepanjang hidupnya. Ada saja musibah dan kemalangan yang menerpa keluarga Bani Hazn. Sampai akhirnya salah seorang keturunannya yang bernama Sa’id bin al-Musayyab, berucap. “Oo mungkin karena kakek buyut kita punya nama Hazn sehingga hidup kita jadi selalu keblangsak (apes) begini”. Waalhua’lam.

Nama juga melambangkan atau mencirikan dari mana dia atau dari latar belakang budaya mana ia berasal.
  • Nama-nama yang berakhiran hurup “V” bisa dipastikan yang bersangkutan berasal dari Rusia. Misalkan saja; Gorbachev; Karpov; Kasparov; Ilanov; dsb.
  • Bagi kalangan Habaib dan/atau mereka yang berdarah Arab, kebanyakan atau hampir semuanya hanya memakai satu kata. Kalaupun dua kata maka kata kedua adalah merujuk kepada bapaknya. Satu lagi, nama-nama mereka kebanyakan diambil dari nama sahabat Nabi SAW, atau dari keturunan Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Saya jumpai misalnya: Hasan; Husain; Ali; Jakfar; Umar; Utsman; Abdurrachman; Hamid; Hasan Hamid, alias Hasan bin Hamid; dsb. Menariknya, tidak ada dari kuturunan mereka yang menamakan anaknya dengan Yazid. 
  • Hurup Ij atau van dapat dipastikan bahwa pemilik nama tersebut berasal dari kawasan Benelux (Belgia, Belanda,dan Luxemburg). Contohnya. Martijn; Arijan; Van Persie; Van Basten; Dsb.
  • Nama yang berakhiran Us kebanyakan dimiliki oleh kaum Nasrani. Contohnya; Martinus; Stephanus; Matius; dsb.
  • Fam atau marga yang didahului “Si” dipastikan berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara; Misalkan saja; Siregar; Simanjuntak; Sitepu; Sibarani; Sitinjak; dsb.


Berikut adalah nama-nama yang tak lekang dimakan usia dan lestari sepanjang zaman. 
  • Mengacu bulan kelahiran: Januar, Febri, Agus, Mei, Septi, Okta, Novi, Desi. 
  • Mengacu kejadian penting: Tavip, Purnama, Fajar.
  • Mengacu etnis tertentu: (awalan) Su; Joko; Bambang, Ucok; Asep; Hendra, Rizal Safril (biasanya orang minang menakan anaknya dengan akhira AL, atau akhiran hurup “L”).
  • Mengacu tokoh, public figure terkenal: Habibie (banyak dijumpai anak yang lahir tahun 80-an) Herman (Felani).


Setelah membaca tulisan ini, apakah anda type orangtua dengan cita rasa average, orang tua dengan ‘kualitas’ rata-rata atau orang tua dengan cita rasa tanggi??

Bahan bacaan:

http://www.mukminun.com/2015/10/tuntunan-islam-tentang-memberi-nama.html