Selain lebaran anak yatim, orang Betawi juga mengenal yang namanya "Lebaran Kubur." Lebaran apa pula itu? Memangnya kuburan bisa lebaran? Ya, saya maklum, istilah lebaran kubur ini mungkin rada asing dan hanya dikenal dikalangan terbatas. Bila Anda atau kerabat Anda, tidak punya hubungan kekerabatan dengan etnis Betawi, maka istilah ini mungkin terdengar aneh.
Menjadi kebiasaan bagi sebagian besar muslim etnis Betawi –paling tidak setahun dua kali- untuk ziarah kubur, mengunjungi para kerabatnya yang telah meninggal dunia. Ziarah pertama, pada bulan rowah, atau menjelang datangnya bulan puasa (Ramadhan). Dan kedua, di bulan Syawal (lebaran). Biasanya kuburan ramai pada hari kedua setelah lebaran, dan kami menyebutnya Lebaran Kubur. Ya, jika di hari pertama lebaran kami disibukkan dengan silaturahmi ke kerabat terdekat (nyak/babe, ncang/ncing) yang masih hidup, maka dihari kedua kami ziarah atau lebaran ke kerabat yang sudah wafat.
Oh ya, biasanya kami ziarah kubur waktunya di pagi hari, tak lama setelah shubuh berlalu, begitu matahari mulai rada terangan. Maklum, Betawi gak kuat panas-panasan. Kan kalian tahu sendiri, di kuburan jarang pepohon untuk neduh dari sengatan matahari. Disamping itu, pertimbangannya, sekelar ziarah kubur sekira jam 8-an, mereka bisa melanjutkan acara lebarannya dengan ngedatengin saudara-saudara lainnya yang rumahnya rada jauhan.
Lantaran kebanyakan anak Betawi ilmu agamanya mumpuni, maka di kuburan, mereka tak hanya tabur bunga dan baca fatihah saja, namun mereka ngedoain ahli kubur dengan doa paket lengkap. Saya katakan paket lengkap karena gak hanya baca rabbigfirli saja, namun diawali dengan baca Surah Yasin (full) kemudian kulhu 3X; Kul auzu birabbil falak dan annas sekali, lalu ayat pertama dan terakhir dari surat al-Baqorah; La ilaahaillah; Sholawatan, dan ditutup dengan doa yang panjangnya sekitar satu halaman quarto, heheh.. Ya total untuk acara lebaran kubur ini, kami, orang betawi menghabiskan waktu satu hingga dua jam di kuburan. Oh ya, paket doa komplit itu biasanya dibacakan di kuburan utama (Nyak/Babe). Nah, untuk kuburan ke dua, ketiga, keempat, (kuburan ncang/ncing) cukup baca al-fatihah dan doa arwah saja, heheh..
Enaknya momen lebaran kubur ini adalah, bagi mereka yang di hari pertama lebaran belum sempat bertemu atau berlebaran dengan kerabatnya, jangan khawatir. Datang aja ke kuburan pas hari kedua. In Sya Allah bakalan ketemu dengan saudara lainnya yang juga ziarah kubur di kuburan yang sama. Maklum, bagi orang Betawi, letak liang makam kerabatnya berdekat-dekatan. Walhasil, lebaran kubur di hari kedua dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi bermaaf-maafan di kuburan. Jadilah areal pemakanan ramai dengan prosesi salam-salaman dan basa basi dengan ujaran seperti ini:
“ehh loe dah ke rumah Ncang Naseh blom? bareng ya..!
atau
“Gak mudik loe, Mat? ” (karena yang nanya tahu, bini nya orang jawa)
Begitulah prosesi “lebaran kubur”, bagi kami, orang Betawi. Bagaimana dengan lebaran kubur versi Anda?
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Juni 2019
Senin, 09 Oktober 2017
Cium Tangan; Bahkan Mafioso Italia Pun Melakukannya
Tak hanya para mafioso di Italia sana yang lazim mencium tangan sebagai tanda
tunduk, hormat dan pemasrahan diri pada para godfather atau pelindungnya, dalam masyarakat muslim di Indonesia,
kebiasaan cium tangan ini sudah menjadi adat atau kelaziman yang banyak kita
jumpai dalam keluarga. Biasanya, cium tangan kerap dilakukan oleh orang muda
kepada yang paling tua. Anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya, istri
kepada suaminya, dan bahkan yang lebih ‘gila’ lagi, bawahan kepada atasannya.
Cium tangan ini sebagai wujud tanda bakti, penghormatan, kepasrahan dan
penyerahan diri dari yang mencium tangan kepada yang diciumi tangannya.
Dari kecil, oleh orang tua, saya diajarkan
untuk mencium tangan kepada para ncang, ncing,
dan kerabat keluarga orang tua saya, terlebih kepada guru-guru yang mengajar
saya di sekolah. Ciuman di telapak tangan yang diajarkan oleh orang tua saya
tentu berbeda dengan ciuman tangan anak milenial
zaman sekarang. Anak zaman sekarang kebanyakan meletakkan tangan orang yang
diciumnya di dahi, atau dipipinya. Jarang yang meletakkan tangan di hidungnya,
seperti waktu saya kecil dulu.
Cara dan gaya cium tangan ini tampaknya
telah berubah mengikuti mode dan perkembangan zaman. Anak zaman sekarang tak
lagi diajarkan bagaimana mencium tangan dengan sempurna. Memang, tak ada aturan
baku (manner) dalam tata cara mencium tangan. Cium tangan yang sering saya
lakukan ke orang tua atau guru saya tentu berbeda dengan cium tangan gaya mafioso
Italia, ataupun cara cium tangan para pembesar (pangeran) dari Eropa terhadap tuan
putri-nya.
Itulah yang terjadi. Setelah hampir lebih
dari seperempat abad tak bersua dan mencium tangannya, barulah pada Ahad, 08
Oktober 2017, kemarin, tanganku kembali dapat mencium tangannya. Ada getaran
dan aura berbeda yang kurasakan, namun getaran dan wangi tangannya itu masih
sama saat pertama kali saya mencium tangannya sekitar pertengahan tahun 1988. Meski
genggaman tangannya tak sekeras dulu, namun kelembutan tangannya masih
kurasakan. Tak banyak yang berubah dari menantu KH. Abdul Manaf Mukhayar ini. Meski
bicaranya pelan dan tak selantang dulu, namun logat Cirebon-nya masih tampak kental terdengar di telingaku saat kami
duduk bersanding berdua.
Dahulu, saat itu kami para pelajar atau
santri Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Kebayoran Lama (waktu itu belum
menjadi bagian dari Kecamatan Pesanggrahan) begitu mudahnya berjabat tangan
dengannya. Bahkan, saking mudahnya,
sehari bisa lima kali cium tangan, bolak balik! Pasalnya, hampir saban shalat rawatib beliau meng-imami
kami, para santrinya. Tak (jarang) pernah absen! Nah bila pengen berjabat
dan mencium tangannya, maka datanglah di awal waktu sholat dan duduk persis
dibelakang mihrab imam. Selepas shalat, beberapa santri yang berada dekat
posisi imam berebutan untuk ngalap berkah
dan mencium tangannya. Dan itu menjadi kebahagian tersendiri bagi para santri
baru, seperti kami. Bagi santri lama, mereka cukup tahu diri, jarang yang mengambil
shap dimuka, dan sengaja memberikan ‘previllage’ itu untuk para santri
junior.
Meski saya dan teman-teman semasa tiga
tahun awal pertama di Darunnajah tak pernah sekalipun diajar di kelas oleh
beliau, namun kehadirannya dalam meng-imami shalat kami, lima kali dalam sehari,
sudah cukup dan sangat besar efeknya dalam menguatkan mental belajar kami.
Kehadiran Kyai jebolan Pondok Gontor ini semacam pelecut dan penambah spirit
kami dalam mengarungi kehidupan. Asal tahu saja, tak banyak Kyai pimpinan
pondok pesantren yang sanggup mengimami para santri-nya lima kali dalam sehari
alias total full mengelola dan
mengasuh santri-santrinya, even
pesantren besar sekelas Tebuireng dan Gontor sekalipun.
Begitulah. Selepas ‘pergi’ di tahun 1991,
lantaran tak kuat dengan gigitan bangsat di Pesantren, saya tak pernah
sekalipun mencium kembali tangannya. Rada malu juga tatkala saya berucap di
dekat telinganya bahwa ini adalah pertemuan kembali saya dan ayah setelah
seperempat abad lebih. Ayah berkata lirih: “Kenapa
tak main ke pondok dan bertemu ustaz (ayah)?”
Jlebb.. jawaban yang menohok sekaligus membuat diri ini
terasa malu didepannya. Ya, meski saya pernah beberapa kali menyambangi
pesantrennya, namun untuk bertemu “Sang Ayah” rasanya malu dan sungkan. Apalah
artinya saya yang waktu itu masih remaja, masih begajulan. Maqom beliau
terlalu tinggi untuk ditemui, padahal ia selalu membuka diri dan mudah ditemui
oleh siapa saja, apalagi oleh santrinya sendiri. Maafkan saya ayah yang tak mau
menemui ayah sewaktu kunjungan ke pondok.
Oh ya, dulu kami memanggilnya dengan
sebutan Kyai Mahrus, sapaan hangat dari KH. Mahrus Amin. Dan, entah sejak kapan
pangilan “Kyai Mahrus” berubah menjadi ayah. Panggilan “ayah’ ini dibiasakan
dan dibahasakan oleh temen-teman saya yang lebih dekat dengan beliau ketimbang
saya. Saya pun awalnya agak kikuk memanggilnya ayah. Namun tatkala saya mendengar
teman-teman memanggil ayah kelahiran 14 Februari 1940 ini dengan panggilan sayang
ayah, saya pun ikut. Ya, mungkin lantaran kami para santri yang sudah lulus
lebih menganggap beliau ini selayaknya ayah kami. Kecuali ayah dalam nasab
(biologis), KH. Mahrus Amin adalah ayah dalam segala hal. Mulai dari tempat
mengadu, berkeluh kesah, dimintai nasehat, wejangan, sampai tempat kami menumpahkan
emosi kami padanya. Suka, duka, sedih, dan gembira.
Maka seperti kepada orang tua dan guru-guru
saya yang lainnya, begitupun yang Anda lihat dalam foto yang saya tampilkan,
itulah bukti penyerahan diri saya pada figur yang saya hormati, Ayah Mahrus. Lantas,
sebagai tanda hormat dan cinta kasih anda, sudahkah anda mencium tangan ayah,
bunda, dan orang-orang terkasih di sekeliling Anda??
Senin, 27 Maret 2017
Tentang Sepupuku
Mamiku
adalah anak bontot, dari empat bersaudara.
Berbeda dengan Mami yang hanya berputra empat orang, Ncang-ncang ku anaknya banyak. Jadilah aku, meski cuma empat
bersaudara kandung, namun mempunyai saudara sepupu yang banyak. Orang tua kami
memang sangat dekat satu dengan lainnya. Paling tidak sebulan sekali, diantara
mereka, waktu mudanya, saat kami masih kanak-kanak, saling main ke rumah. Lantaran
itulah aku dan para sepupuku sangat dekat.
Diantara
sepupu-sepupuku, ada satu yang punya kelebihan dan talenta yang tidak dimiliki
oleh yang lainnya. Ia, sebagaimana Mamiku, juga anak bontot di keluarganya. Entah sebab apa yang membuatnya punya
kelebihan dan maqom yang tinggi, aku
sendiripun tak tahu. Pasalnya, bila kita telisik satu persatu potensi yang ada
padanya, hampir tak dijumpai nilai positif pun yang patut dijadikan acuan atau
contoh untuk anak-anak kita. Gak percaya? mari kita kuliti sepupuku ini.
Kalau
di reken dari tampang wajah, sepupuku
ini (parasnya) jauh kemana-mana. Wajahnya hancur. Masih kalah ganteng denganku
dan mungkin dengan abang-abangnya yang lain. Itu dari segi face. Nah, dari segi education,
sepupuku ini gak pinter-pinter amat. Mungkin
hanya berkat katrolan nilai, ia,
konon akhirnya bisa lulus S1. Maklum, tempat ia kuliah, sebuah universitas apalah-apalah di Jakarta Selatan kebetulan
juga di ampu oleh sepupuku yang lain. Entah bagaimana ia menyelesaikan S1-nya.
Aku sendiri ragu bila ia sanggup membuat skripsi atau tugas akhir. Sewaktu
kecil, setamat SD, untuk tes masuk Pesantren Darunnajah (DN) saja, ia tak lulus
seleksi. Ia akhirnya berlabuh di pesantren cabang DN, di Parung. Jadi secara akademis, sepupuku ini memang tak
cerdas. Mungkin hanya nasib baiklah yang membuat namanya tercantum sebagai
lulusan bergelar SE, dan itupun bukan dari universitas bonafid sekelas trisakti
atau Untar, apalagi ITB dan Unpad, jauhhhh
bagai langit dan sumur.
Begitulah,
meski wajah dan nilai akademisnya tak patut dijadikan acuan untuk dicontoh,
namun ada banyak kelebihan dan
prestasi lainnya yang dapat ia bangakan kepada kami, para sepupunya. Jujur saja,
sejumlah prestasi dan kelebihannya itu tidak dimiliki olehku dan
sepupu-sepupuku yang lainnya. Bahkan, sampai lebaran kuda pun, kami para
sepupunya takkan pernah sanggup dan bisa menyainginya. Bukan itu saja, bila
kami berserikat untuk mengumpulkan kekuatan dan potensi yang ada pada kami,
tetap saja kami takkan sanggup mengalahkannya. Ia memang diberikan talenta yang
berpebih. Banyak kebisaan (keahlian) yang ia miliki yang justru keahlian itu
tak dimiliki oleh kami, para sepupunya. Agar seimbang, mari kita kuliti juga
kelebihan sepupuku ini.
Jika
kami hanya ahli bermain kelereng, ngaji qur’an, gaple-an, dan badminton, lantaran
hanya permaianan itu yang sering dimainkan oleh anak-anak kampung seperti kami,
maka ia punya keahlian yang jarang dimiliki oleh kami, bahkan oleh anak-anak gedongan
di Kemang. Bilyard misalnya, permainan jenis ini tentu tak pernah kami rasakan sewaktu
kecil. Boro-boro main bilyard, megang sticknya saja tak becus. Waktu
muda, pernah aku diajarinya ‘nyodok’,
namun tetap saja bidikan bola putih tak pernah dengan sempurna menimpa bola
warna lainnya, lantaran pegangan stick-ku yang tak kokoh dan mantaf. Aku give up bila diajak nyodok. Nah, hebatnya sepupuku ini,
sewaktu mudanya pernah menjuarai turnamen bilyard antar mahasiswa se DKI
Jakarta.
Bosen
bermain bilyard, lantaran seng ada lawan
(tak ada lawan yang seimbang) Ia beralih ke golf. Tanah engkongnya yang di Ciganjur
dan Pangkalan Jati yang telah dijual dan tersulap menjadi padang golf, ia
sambangi. Bukan untuk ia beli kembali namun untuk ia rumput alias untuk bermain
golf. Bersama kawan-kawannya para sosialita dan eksekutif papan atas Jakarta,
ia rutin merumput tak hanya di sekitaran Jakarta namun juga merambah hingga
Bali dan Luar Negeri. Hasilnya, ia sukses memenangi beberapa turnamen golf yang
rutin diadakan. Sepengetahuanku, tak hanya bilyard dan golf yang ia kuasai.
Beragam olahraga, hobby, dan kesenangan para orang kaya bin tajir di Jakarta pernah ia coba. Dan, ia
selulu unggul. Ia pernah ikutan hobby ber-motorcross.
Bosen disitu, ia beralih ke motor besar semacam Harley Davidson. Suntuk Di Harley, ia kini berlabuh di Triumph. Kalau kami hanya sanggup
touring seputaran Pelabuhan Ratu saja, itupun dengan motor bebek. Nah, sepupuku
ini level touring-nya menjelajah ke
Sumatera, Lintas Sulawesi, Nusa Tenggara, bahkan hingga ke Eropa.
Aku,
sebagaimana sepupu-sepupuku yang lain sebenarnya heran, apa sih kerjanya sepupuku
ini? Kok pergaulan dan relasinya begitu luas, seluas Samudra Pacific. Perbandingannya,
jika pergaulannya seluas samudera, maka pergaulanku hanya seluas kolam renang
samping rumah. Sepupuku ini, siapa yang tak kenal dengannya. Dari selebritis
kelas teri hingga se-level Raffi Ahmad adalah sohib dekatnya. Dari jajaran
pengusaha kelas teri yang hanya punya satu dua apartemen di Kemang hingga level
mafia migas kelas dunia juga akrab dengan sepupuku ini. Dari politisi kelas kampung
macam Haji Topa, Ketua Forkabi di kampungku, hingga politisi level senayan/istana
sekelas HR akrab ia gauli. Dengan anak-anaknya bahkan ia bergaul akrab. Dari ustadz
model kampung kayak Ustadz Syamsuddin, hingga level ulama sekelas Habib Umar
adalah kawannya. Belum lagi dari kalangan public
figure yang tak terbilang jumlahnya tak luput dari kekeran radar pertemanannya.
Tak ada yang ia tak kenal. Bukan cuma kenal, namun akrab dan terjalin relasi
dan hubungan personal yang hangat diantara mereka.
Pernah
suatu ketika kutanyakan ke sepupu-ku lainnya yang notabene adalah kakak-kakaknya. “Ehh
Si Anu kerjanya apa sih? Kalo Si Anu kerjanya wartawan sich gak heran kalau
punya relasi yang luas, lha Si Anu gw liat seringan di rumah kalo pagi. Usahanya
pun cuma nyewain genset. Kok temen-temennya banyak banget. Orang-orang kaya dan
berpengaruh di Indonesia. Saban bulan
Si Anu gw perhatiin jalan-jalan mlulu ke Bali. Barusan abis dari Jepang dan
Hongkong, duitnya kok banyak banget ya,” tanyaku.
“Gw sendiir gak tau ‘Mat apa kerjaan si Anu..
gw aja yang abangnya heran dia kayak gitu,” ujar abang dari sepupuku itu
Itulah
sepupuku. Meski tak ganteng dan berprestasi secara akademik, namun ia mampu
menggenggam dunia. Jujur saja, bila berbicara didepannya, aku rada keder juga. Untungnya, --diantara
sepupu-sepupuku yang lain--, hanya aku lah
(alhamdulillah) yang pernah ke Amrik, negeri yang belum pernah ia
singgahi. So, aku masih unggul satu lap darinya. Namun, bila ia telah ke Amrik, aku akan kalah segala-galanya. Oh
ya, ngomong-ngomong siapa sih
sepupuku itu? Penasaran…? Tampaknya ia hanya tertawa membaca kisahku ini.
Sudahlah tak usah diungkap, toh para sepupuku yang lain tentu tahu siapa yang
aku maksud, heheh…
Kamis, 09 Maret 2017
Rano, Sang Legenda Remaja Sepanjang Masa
Baru
saja aku membaca kisah hidup Rano Karno yang dibukukan oleh penerbit Gramedia.
Bukunya berisi kisah dan perjalanan hidup putra aktor legendaris Sukarno M.
Noer, dari sejak kecil, yang tinggal di
gang sempit berbau (maaf) ta*, di kawasan Kemayoran, hingga ia menjadi Gubernur
Banten menggantikan Atut. Meski aku dan Rano tidak seumuran, dan berbeda
generasi, namun saat aku kecil, aku sangat akrab dengan film-film yang ia
bintangi. Maklum saja, zaman aku SD hanya film yang dibintangi oleh Si Doel lah yang merajai jagat bioskop di tanah
air. Film-film Rano sering pula di putar di TVRI, sebagai satu-satunya tipi pada masa itu. Jadi, tak
mengherankan bila hanya Rano lah
bintang dan idola remaja saat itu. Bukan profile
Rano yang ingin aku ulas, namun aku ingin berbagi kisah tentang figur dan idola
remaja pada masaku. Figur mereka tentu tak lepas dari film-film yang mereka
bintangi.
Bagi
remaja seusiaku, saat itu di tahun 90-an,
kami nyaris tak punya figur idola remaja. Memang selepas era Rano, aku masih
ingat, ada beberapa artis yang menjadi teen
figure. Saking ngetop-nya, wajah
mereka dengan mudah ditemukan di sampul buku tulis sekolah. Namun figur seperti
Dina Mariana, Richi Ricardo ataupun Ongky Alexander, menurutku, (maaf) kualitas
dan ketokohan mereka masih jauh dibawah Rano, cs. Sialnya lagi disamping krisis
figur, tak ada satu pun film yang
mewakili generasi kami. Kalaupun ada, palingan
cuma sinetron serial “Rumah Masa Depan”
yang dibintangi oleh Septhian Dwi Cahyo Cs dan serial “Aku Cinta Indonesia” (ACI).
Lain
halnya bagi kakak-kakak-ku yang lahir di tahun 60-an, mereka masih sempat menyaksikan film dari kisah percintaannya Rano Karno dan Yessy Gusman. Sebut saja
misalnya film “Selamat Tinggal Masa
Remaja”, ataupun “Ali Topan Anak
Jalanan”. Rano, sang legenda remaja saat itu sering tampil di film-film ber-genre percintaan dan kisah kasih remaja
di sekolah. Saat ini mungkin sosok Rano bisa diwakilkan oleh Reza Rahardian Si
pemeran Habibie yang laris ditanggap sebagai pemeran utama film-film ber-genre anak muda.
Sama
seperti generasi remaja tahun 80-an,
begitupun halnya dengan remaja yang tumbuh di era tahun 2000-an, mereka punya kisah kasih romantis yang bisa diceritakan untuk anak cucunya. Mereka punya film “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC) yang fenomenal, yang dibintangi oleh Dian Sastro, perempuan dengan kecantikan khas Jawa-nya, dan
Nicholas Saputra sebagai icon remaja saat itu.
Bagiku
yang lahir tahun 70-an, tentu sudah out of date ‘tuk hanyut
dalam kisah romantika Rangga dan Cinta, pasalnya saat film itu di luncurkan,
aku baru saja tamat kuliah. Tak seumur dengan setting
film AADC itu yang berseragam putih abu-abu anak remaja SMA. AADC adalah film-nya generasi adikku. Ya, saat film itu booming, adikku baru saja lulus SMU.
Sejujurnya
aku iri dengan mereka yang lahir pada tahun 80-an dan 60-an. Betapa bahagianya mereka. Ada cerita dan
kisah film
atau tontonan yang bisa diceritakan diantara mereka. Ada tokoh yang menjadi idola, kebanggaan, dan pujaan mereka. Bagi mereka kelahiran
tahun 60-an saat beranjak remaja, maka mereka hidup di tahun 80-an. Banyak film-film berkisah asmara
anak muda hadir di tengah-tengah mereka. Saya masih ingat bintang idola remaja kelahiran
60-an antara lain: Rano Karno; Herman Felani; Lydia Kandau; dan Yessy Gusman. Film-film remaja yang dibintangi mereka pun banyak. Seperti; Selamat Tinggal Masa Remaja;
Selamat Tinggal Duka; Masih Adakah Cinta, dan film-film roman picisan yang
menjadi hits dan merajai blantika
perbioskopan tanah air.
Bayangkan
saja, anak remaja seusiaku, saat itu tak ada film percintaan remaja yang
layak diobrolkan. Kalaupun ada hanya film-film sex
murahan seperti: “Ratu Laut Selatan”,
dengan bintang film sekelas; Febby Lawrence; Meriam
Bellina; Yurike Prastica; Ataupun Sally Marcellina. Tak ada yang lain. Tahun 90-an itu, saat aku
remaja, jagat perfilm-an di tanah air hanya
dipenuhi
dengan 3 (tiga) tema, yakni: Sex; Action (laga); Dan mistis. Judulnya pun tak
jauh dari kata-kata yang ada dalam stensilan-nya Enny Arrow; seperti: “Gairah Malam”; “Kenikmatan Tabu”; ataupun “Ranjang yang Ternoda”. Masih untung tak selamanya
judul-judul seperti itu merajai jagat perbioskopan nusantara; Film-film bermutu
pun bukannya tak ada, namun segmen-nya terlalu luas untuk
dibilang sebagai film anak muda/remaja. Film berjudul
“Perwira dan
Ksatria” yang dibintangi Dede Yusuf boleh juga dikatakan sebagai film yang mewakili genre remaja, namun film itu tidak se-booming film remaja generasi AADC.
Itulah
zaman saat aku remaja. Meski tak ada kisah (film) yang patut diceritakan, namun
aku bangga pernah menjadi anak yang tumbuh dan besar tanpa gadget dan masih menikmati aneka permainan khas anak kampung.
Mungkin generasi-ku lah, generasi (remaja) terakhir yang selamat dari arus
informasi dan hoax yang diakibatkan oleh kemunculan sosial media macam twitter,
facebook dan kroni-kroninya. Dan, Rano Karno masih menjadi legenda, setidaknya
bagiku..
Kamis, 26 Januari 2017
Imlek; Mengenang yang Wafat
Imlek tahun ini --seperti imlek-imlek
beberapa tahun yang lalu-- tak berarti apa-apa bagi mami. Meski mamiku berdarah tionghoa, namun sudah
sejak lama beliau tidak pernah lagi merasakan suasana imlek. Sebelumnya, sekitar
tahun 90-an saat famili dan kerabat dekat mamiku masih hidup, kami rutin kecipratan suasana imlek. Ya, Ini karena
ada beberapa keluarga mami yang non-muslim, yang masih menjaga tradisi
pergantian tahun baru china atau imlekan
itu. Jadi, saban imlek tiba, kami pun bisa merasakan kemeriahan dan suka cita imlek
sebagaimana saudara-saudara tionghoa lainnya di Indonesia.
Bicara tradisi Imlek di keluarga kami, mamiku pasti akan mengaitkannya
dengan kisah dan cerita tentang saudara sepupunya. Kakak
Sepupu mami ini tinggal di Kebayoran Lama, dekat pasar. Namanya Lauw Hong Nio. Aku memanggilnya Wak Hong Nio. Usianya lebih
tua sekitar sepuluh tahun dengan mami. Yang hingga kini kami kenang dari
kebiasaan Uwakku semasa hidupnya adalah, menjelang datangnya hari imlek, beliau tak pernah
absen mengirimkan aneka kue, yang kami
kenal dengan nama dodol china. Kebiasaan ini selalu dilakukan rutin saban tahun, hampir tak
pernah absen,
hingga beliau wafat sekitar tahun 2000-an. Biasanya menjelang imlek, Ncang Amin, Abang mamiku akan datang ke rumah
Wak Hong Nio untuk silaturahmi sekaligus mengambil titipan kue dodol cina yang
memang sudah disiapkan oleh Hong Nio. Adakalanya juga salah satu anaknya datang
ke rumah mengantarkan bingkisan kue imlek. Namun sayang, selepas kematiannya,
kebiasaan yang baik ini tidak diteruskan oleh Beng Tek, Beng
Yang, dan anak-anaknya yang lain.
Mamiku cukup
dekat dengannya. Sebab, hanya Wak Hong
Nio, saudara sepupu mami yang tinggal di Jakarta. Sepupu-sepupu mami yang lain
menyebar di beberapa kota. Jarang sekali mereka bertemu. Kalaupun mereka
berkumpul, itu terjadi hanya setahun sekali, saat lebaran tiba, ketika kami
ziarah dan silaturahmi kepada leluhur dan kerabat di Subang. Diluar itu
biasanya kami bersua saat salah satu diantara saudara kami ada yang menggelar
pesta perkawinan.
Saking dekatnya dengan Wak Hong Nio, dimasa muda
mami, beliau sering menginap
di rumah Wak-ku ini. Biasanya selepas
kursus menjahit di kawasan Blok A, seperti anak gadis angkatan
60-an pada umumnya, mamiku -dengan bersepeda- kerap keluyuran hingga jauh ke
Kebayoran Lama. Bersama teman-temannya, mamiku menghabiskan sore dengan mencari
hiburan sembari nonton di bioskop Bintang Mas, di Pasar Kebayoran Lama. Pulang
nonton, bukannya kembali ke Kemang, ke rumah nenekku, namun mamiku justru
mampir bertandang ke rumah Hong Nio, yang letaknya tak jauh dari pasar.
Seperti lazimnya pergaulan antar saudara, Hong Nio, sebagai seorang
kakak sangat menjaga dan memperhatikan mami. Ya, mungkin lantaran Hong Nio tahu
betapa kurang bahagianya mami menjalani masa kecilnya lantaran di tinggal mati
ayahnya. Untuk menghibur mami, kadang-kadang keluarga Hong Nio mengajak mami
jalan-jalan, plezier, bahkan hingga
keluar kota.
“Mami pernah diajak ke Cimaja (?),
waktu nguburin wak Alam, kuburannya ada di gunung. Kuburan China,” kenang mamiku bercerita padaku di suatu sore,
di batas akhir senja.
Sebagai seorang yatim, mamiku memang kurang piknik, hehe.. Kalaupun piknik, palingan
hanya main ke Pasar Kebayoran, ke rumah sepupunya ini. Biasanya sebelum
bertandang, mami akan meng-ebel pintu
gerbang dulu, memastikan keadaan ‘aman’. Begitu di tengok ada mami datang, Wak Hong
Nio menyuruh Beng Tek (DR. Sunaryo, pakar pembuatan kapal laut), putranya yang
masih kecil untuk mengandangkan anjing-anjing mereka. Mamiku memang takut
anjing.
“Tek, hayo dimasukin anjing-nya,
ada Omah (panggilan dari Rohmah) datang,” kenang mamiku menirukan suara
Hong Nio saat menyambut kedatangannya.
Keluarga Wak Hong Nio memang memelihara anjing. Anjingnya kecil, namun
kalau menyalak, tak kalah garang dengan anjing herder yang besar.
Meski Wak Hong Nio telah wafat dan tradisi hantaran
kue china terputus, namun silaturahmi antar keluarga kami dengan keluarga Wak Hong
Nio tetap terjaga. Saban lebaran tiba, anak-anaknya selalu datang ke rumah mamiku untuk ber-lebaran. Biasanya
mereka datang siang hari, setelah tamu-tamu dan kerabat mami bersilaturahmi selepas Shalat Ied dengan
mami. Maklum, mami kini orang tua yang dituakan. Sebab, hanya tinggal mami-lah
anak dari kakek/nenek-ku yang masih hidup.
Biasanya, di lebaran hari pertama, setelah para saudara dan ponakan-ponakan
mami yang muslim pulang, hanya tinggal mami, aku dan adik-adik-ku saja yang tersisa.
Meski sebagian besar tamu dan kerabat dekat telah datang bersilaturahmi, namun
mami belum bisa tenang untuk
sekadar selonjoran atau beristirahat. Ada salah satu tamu yang ditunggu kehadirannya
oleh mami. Siapa dia? Mamiku belum tenang bila keluarga Wak Hong Nio belum
datang berlebaran. Maka, sebagai
persiapan menyambut mereka, sebelum para ponakannya (anak-anak Wak Hong Nio) datang,
mami pasti akan menyisakan ketupat lebaran sebagai santapan makan siang untuk mereka.
“Mat, pisahkan 10 ketupat buat
anak-anaknya Hong Nio. Ketupat jangan sampai habis,” itulah executive order dan titah mamiku dihari
pertama lebaran, saat aku bersiap menyantap hidangan ketupat yang tergelatak di
meja.
Dan biasanya sekitar jam makan siang, barulah sebagian keluarga Besar
Wak Hong Nio datang silaturahmi ke rumah. Nah,
selepas mereka datang, legalah hati mami lantaran ketupat beserta sayur dan
daging semur habis disantap oleh ponakan-ponakannya. Berkah, kata mami.
Oh ya, selain kue imlek, Mami juga berbagi kisah lainnya,
kebiasaan orang tua dulu sewaktu imlek adalah membeli ikan bandeng ukuran jumbo
untuk disantap bersama. Sewaktu
muda, mami sering diajak Wak Hong Nio membeli ikan bandeng ukuran jumbo
di Pasar Rawa Belong, arah utara Pasar kebayoran lama. Mami
dengan lancarnya bercerita, sewaktu muda ia pernah bersepeda hingga ke kawasan
Slipi, dekat Rawa Belong.
Begitulah mamiku mengenang masa-masa mudanya bersama Wak Hong Nio
menjelang imek tiba. Semoga kenangan mami tak lekang dimakan usianya yang kian
sepuh. Panjang umur dan sehat selalu, mami. Gong Xi Fat Coi!!
Selasa, 02 Agustus 2016
Patokan yang Pernah Melegenda di Jakarta
Saya masih ingat, saat kecil bila ingin pergi
ke rumah teman atau kerabat di kawasan Ciganjur, mesti akan dikasih clue oleh tuan rumah, “dari Herman
Soesilo belok kiri.“ atau “sebelum Herman Soesilo ada gang, kanan pertama,
namanya Gang Manggis.” Begitulah petunjuk yang diberikan. Ya, Herman menjadi
patokan.
Bagi anak yang lahir tahun 90-an keatas,
mungkin rada asing atau tak terlalu kenal dengan nama dan sosok Herman Soesilo.
Siapa dia? Saya akan me-refresh ingatan kita akan dokter berkaca mata yang
pernah popular pada tahun 80-an. Beliau adalah bekas Kepala Dinas Kesehatan DKI
Jakarta. Beliau terkenal lantaran wajahnya sering terlihat pada acara-acara
kesehatan di TVRI, satu-satunya stasiun televisi pada masa itu. Ok, Saya tidak
akan membahas tentang sosok Herman Soesilo, namun saking populernya nama
tersebut, ia atau lebih tepatnya rumah kediamannya di tetapkan sebagai patokan
dan rujukan bagi penduduk di kawasan sekitar Ciganjur. Maklum, dokter ini
tinggal di ujung Jalan Kahfi I (sekarang posisinya dekat dengan taman
Tabebuya). Kenapa (rumah) Dokter Herman bisa jadi patokan. Ya, mungkin saat itu
tidak ada tempat atau icon yang menjadi penanda kawasan Ciganjur.
Bila kita berkendara dari arah Blok M menuju
ke kawasan Ragunan, tentu bias melawati Jalan Kemang Raya sebagai akses terdekat
ke sana. Waktu tahun 80-an yang menjadi icon
dan perlambang kawasan Kemang adalah: Kem-Chick, Hotel Kemang, LPPI (sekarang
IBI) dan Pom Bensin, di ujung jalan arah ke Ampera. Ya, hanya empat tempat itu,
tak ada yang lain. Maklum, belum ada bangunan atau gedung fenomenal yang dapat
dijadikan rujukan dan tanda. Saat itu, sepanjang Jalan Kemang hanya ada
perumahan penduduk di kiri kanannya, dengan beberapa kavling tanah kosong yang
belum dibangun yang akhirnya hanya berupa kumpulan ilalang tempat tumbuhnya
rumput-rumput liar.
Sama dengan Kemang, di sepanjang Jalan
Sudirman pun, awal tahun 80-an rada sulit juga kita menentukan patokan berdiri.
Saat itu yang masih kuingat, sewaktu usiaku masih sekolah dasar hanya ada showroom Toyota di kanan jalan arah ke Dukuh
Atas. Showroom ini bukanlah gedung bertingkat seperti banyak dijumpai di kiri
kanan Jalan Sudirman, namun hanya bangunan 2 (dua lantai). Bila dari arah
Kebayoran Baru, maka gedung Summitmas akan menjadi pertanda. Ini adalah gedung
bertingkat pertama yang akan dijumpai di sebelah kanan jalan.
Di kawasan Cilandak pun demikian adanya.
Komplek Marinir di Cilandak menjadi rujukan bagi siapapun yang hendak menuju
dari dan ke Cilandak/Ragunan. Beringsut ke utara, ke kawasan Jalan Sahardjo dan
sekitarnya, dulunya ada (nama) Jembatan Merah. Kondektur Bus PPD 105 (?) tujuan
Manggarai - Blok M sering meneriakan kata “merah-merah’. Posisinya sendiri
sebelum Jalan Barkah, berada di sebelah kiri arah ke Manggarai. Oh ya, di
namakan Jalan Barkah, lantaran jalan ini adalah jalan masuk ke Masjid Al Barkah.
Sekira 800 meteran ada masjid dan Perguruan Islam As-Syafiiyyah, milik ulama
legendaris KH. Abdullah Syafi’e.
Demikian adanya, tiap-tiap kawasan di Jakarta
mempunyai tempat atau nama sebagai clue atau penanda patokan arah. Patokan itu sendiri
bisa berupa kediaman rumah tokoh terkenal, tempat legendaris, ataupun kantor/instansi
yang besar. Tentu patokan ini sangat membatu di zaman yang belum ada aplikasi google map. Terlebih, saat itu sangat
sedikit bangunan dan gedung besar yang dapat dijadikan rujukan bagi seseorang
yang baru tiba atau sampai di lokasi itu.
Begitulah warna warni dalam menentukan
patokan dan arah di tahun 80-an, Kini, meski beberapa ‘situs’ masih tetap
berdiri, namun ada pula yang hilang atau terlupakan lantaran sudah jarang
disebut atau diperbincangkan. Tak hanya itu, tragisnya beberapa bangunan dan
tempat bahkan sudah digusur dan diganti fungsinya.
Zaman boleh berubah, pembangunan boleh
lanjut, namun tidaklah elok bila ‘situs-situs; yang ada di Jakarta itu
tergusur. Harus ada kesadaran kolektif untuk melestarikan peninggalan masa lalu
sebagai penanda atau legacy (pengingat)
bahwa disitu atau di kawasan itu pernah –dulunya- terkenal dengan sebutan dan
menjadi penanda kawasan, bahwa dimasanya tempat atau bangunan itu pernah berjaya
dan menjadi patokan atau rujukan untuk orang-orang sekitarnya. Kita berharap
generasi sekarang masih ingat dimana Rumah Herman Soesilo, dimana Kem-Chick dan
dimana posisi Jembatan Merah, semoga.
Rabu, 27 Juli 2016
Berkat Usaha Susu Sapi, Anak Betawi Banyak Yang Jadi Orang
Hingga
sekitar tahun 80-an, jangan heran bila di Jakarta, susu segar di pasok langsung
dari Jakarta. Bukan dari Lembang ataupun dari kawasan lain di luar Jakarta.
Selain di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, salah satu kawasan penghasil susu
sapi segar adalah Kemang dan Mampang, semuanya di Jakarta Selatan.
Namun,
selain kawasan tersebut diatas, ada beberapa tempat lainnya di Jakarta yang
mengelola usaha peternakan sapi perah. Condet di Jakarta Timur, misalnya, kawasan
ini adalah sentra penghasil susu sapi segar di Jakarta Timur. Menariknya usaha
peternakan sapi perah di Jakarta, dikelola dan dikembangkan oleh etnis Betawi.
Mungkin lantaran tidak ada pendatang dari etnis lainnya yang memilii tanah dan
pekarangan yang luas dan lebar di belakang rumahnya sebagai syarat pengusahaan
sapi perah. Saat itu boleh dibilang hampir mayoritas orang tua Betawi
berprofesi sebagai peternak sapi. Maka, dengan modal 2 (dua) ekor sapi paling
sedikit, jadilah mereka berprofesi sebagai peternak sapi. Peternak dalam hal
ini yakni pemerah susu sapi. Meski profesi sebagai peternak sapi perah banyak
dilakoni oleh orang betawi di tahun 80-an, namun ada juga dari mereka yang
berprofesi sebagai perkebun, dalam arti menjual hasil kebun yang tersebar di
tanah-tanah meraka, seperti buah-buahan langsung ke pasar.
Boleh
jadi usaha susu sapi perah ini menjadi mata pencarian pokok bagi etnis betawi
di sekitaran Mampang dan Kemang lantaran saat itu untuk penyediaan pakan sapi
sangat mudah didapat. Rumput tersebar dimana-mana. Kalaupun harus beli,
harganya pun sangat terjangkau. Dari usaha per-susu-an inilah keluarga Betawi
dapat menyekolahkan anaknya hingga menjadi tukang insinyur, dokter, dan guru
ngaji. Bahkan mampu membiayai anak-anaknya untuk sekolah agama ke luar negeri,
ke Cairo, Mesir.
Waktu
itu, sejak zamannya Bung Karno, beberapa familiku, pernah terlibat dan menekuni
profesi sebagai petenak sapi perah. Aku masih ingat, dulu, saat usiaku sekolah
dasar sering ngintilin (ikut) encang-ku mengantarkan susu ke
pelanggannya. Tak hanya itu, aku juga sering diajak mencari rumput sebagai
pakan untuk sapi-sapinya. Dengan mobil kijang bak terbuka type doyok-nya, Ncang-ku, Haji Madamin (nama beken dari
dari Haji Muhammad Amin) membeli rumput di kawasan sekitar Warung Buncit. Berkah
dari bisnis susu sapi perah ini memang luar biasa. Ncang-ku ini anaknya 8
orang, semuanya disekolahkan hingga menjadi tukang sarjana, hanya dengan
mengandalkan bisnis susu sapi perahnya. Encangku yang lain pun demikian. Ncang
Naseh namanya, anaknya juga banyak, bererod
kayak bebek. Semuanya disekolahkan hingga jadi ‘orang’ hanya dengan lantaran
sapi.
Untuk
pemasarannya sendiri, biasanya para peternak sapi perah memasarkan susu segarnya
ke arah utara ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang banyak didiami oleh para
orang kaya, berpangkat, dan para pejabat. Untuk mengantarkan susu-susu itu,
mereka, para pemerah susu biasanya bersepeda beriringan di pagi buta, selepas
subuh saat matahari belum muncul. Mereka bersepeda dari rumahnya di Kemang menyusuri
jalan Mampang Raya, Rasuna Said (Kuningan) hingga naik menyebrang menuju kawasan
Menteng. Selain ke Menteng, pelanggannya tersebar hingga ke Pasar Kebayoran
Lama.
Aktivitas
memerah susu dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pagi-pagi sekali, dinihari,
saat azan subuh belum berkumandang. Selepas subuh, susu segar itu langsung
diantar kepada para pelanggan. Pemerahan kedua biasanya dilakukan menjelang
asar, sekira jam 3 sore. Selepas Ashar, susu segar itu langsung di kirim ke pelanggan
atau bisa juga ke penampung atau koperasi. Koperasi ini lokasinya di kawasan
tebet, di Jalan Saharjo.
Hingga
sekitar akhir 2010-an di Condet, misalnya masih ditemukan 1, 2 peternak sapi
perah. Namun Seiring perkembangan jaman –entah mengapa—usaha peternakan sapi
itu terhenti. Areal bekas kandang sapi-nya sendiri berubah menjadi rumah
petakan untuk disewakan kepada para pendatang. Salah satu penyebab banting
setirnya para peternak sapi perah menjadi juragan kost-kost-an adalah makin sulitnya
mendapatkan pakan ternak berupa rumput segar. Kalaupun ada, rumput-rumput itu
didatangkan dari luar Jakarta, dan tentu dengan biaya mahal. Disamping itu, faktor
lainnya adalah ketiadaan penerus pengganti orang tua yang meneruskan usaha
pemerahan ini. Maklum saja, anak muda Betawi, selepas jadi tukang insinyur dan
sarjana, gengsinya lebih tinggi, mereka lebih memilih kerja di kantoran jadi
‘orang berpangkat’ ketimbang harus berpeluh dengan keringat dan kotoran sapi.
Usaha
pemerahan sapi di wilayah Kuningan telah lebih dulu bangkrut. Bangkrut lantaran
tata kota mengharuskan di kawasan itu terlarang untuk pemukiman penduduk
marginal betawi dengan usaha peternakannya. Dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah
(RTRW), kawasan itu harus disulap menjadi areal perkantoran dan bisnis. Kemang
pun menyusul wafat. Tak ada tersisa peternak sapi di kawasan elite Jakarta ini.
Di Kampung Kebon dan Pedurenan (keduanya di Kemang) misalnya, para peternaknya
sudah menyulap lahan tempat beternak sapinya menjadi perumahan mewah dan
kost-kost-an. Nafkah dan mata pencarian warga asli betawi di Kemang berubah dari
bisnis perah sapi menjadi juragan kost-kost-an atau properti. Beruntung, di Kelurahan
Tegal Parang, Mampang masih ada satu dua peternak sapi, namun itu tinggal
menunggu waktu, menunggu untuk mati secara perlahan.
Rabu, 15 Juni 2016
Pergilah Keluar, di Jamin Anda Tak Nyasar!
Sering kita merasa kebingungan bila baru
datang di suatu tempat. Ingin pergi dan lihat-lihat suasana sekitar kota, namun
tak tahu harus kemana. Tak ada petunjuk atau clue yang bisa jadi pegangan. Mau keluar atau pergi pun ada
perasaan takut. Takut nyasar tepatnya. Mengingat saat check in dan tinggal di
hotel, tak semua hotel menyajikan peta dan denah suatu kota, sebagai pegangan
kita untuk melangkah. Akhirnya satu-satunya cara ya harus membuka applikasi google map, dan itu tidak lah seringkas
bila ada peta saku yang tersedia.
Untuk menjelajahi suatu kota, adakalanya kita
perlu adaptasi yang lama untuk mengenali dan menghapal nama-nama jalan di kota
itu, dan itu tidaklah mudah. Maklum, nama-nama jalan di kota-kota di Indonesia
sangat banyak dan beragam. Ada yang diberi nama tumbuhan, gunung, pulau, hewan,
kota, bahkan bisa juga sebuah hurup. Dan anehnya, nama itu pun kadang tidak
teratur. Misalkan saja sering kita jumpai untuk mengklasifikasikan jalan di satu
kawasan, penamaannya dengan nama-nama bunga, (cendana, anyelir, kamboja, dsb), namun
ajaibnya kadang terselip nama orang (pahlawan), gunung, bahkan binatang pada
kawasan yang sama. Tidak ajek dan teratur.
Kelemahan atau kekurang cerdasan kita dalam penataan
suatu kawasan atau jalan adalah ketidakdisiplinan kita dalam menerapkan aturan
yang baku. Ya, contohnya seperti penamaan jalan atau kawasan itu. Ada yang
berurutan atau dengan langgam yang sama, seperti nama-nama tumbuhan dan
semacamnya, namun entah mengapa -ujug-ujug- bisa dijumpai penamaan itu keluar
dari pakemnya.
Memang demikianlah adanya. Penamaan jalan-jalan
di kota-kota di Indonesia tidak diatur berdasarkan hurup seperti A, B, C, dst,
ataupun berupa angka seperti jalan 1, jalan 2, 3 dst yang merujuk kepada
petunjuk dari satu blok berpindah ke blok sebelah atau blok lainnya, namun
berupa nama-nama tertentu. Inilah yang membuat kita harus ektra hati-hati dalam
mempelajari jalan dan lingkungan kota yang baru kita kunjungi, di Indonesia. Lalu,
bagaimana dengan di negara maju? Adakah situasinya sama dengan di Indonesia?
Tentu beda. Bagai langit dan sumur.
Saat aku berkesempatan di undang Department
of State Amerika untuk menengok sisi-sisi kota mereka pada Maret 2016 silam,
ketakjubanku, -seperti juga takjubnya orang kampung atau ndeso yang baru tiba dan pertama kali sampai di kota- adalah kesan
“wah.” Dan semua yang terlihat adalah; Teratur, bersih, dan tertib.
Untuk jalan raya misalnya, tak akan dijumpai
jalan yang tak lurus atau bengkok. Tiap persimpangan jalan, bisa menjadi enam
bahkan hingga delapan simpang, seperti arah mata angin. Meski simpangannya
banyak, namun pengaturan lalu lintas dapat dibuat teratur dan tertib. Tak ada
antrian kendaraan di tiap persimpangan lampu merah, meskipun simpangannya lebih
dari empat, seperti kebanyakan simpangan rata-rata di Indonesia.
Selain itu, ciri khas dari keteraturan
tersebut adalah bentuk kotanya laksana ukuran kotak persegi. Kotak-kotak
bergaris lurus. Jalan dan blok tertata jelas. Bisa dipastikan, kita tak akan
kesasar bila berjalan seorang diri di rimbunan bangunan menjulang di DC ataupun
Philadelphia, misalnya. Tak ada kawasan libirin yang membingungkan.
Oh ya, ini istimewanya, penamaan jalan di
Amerika sangat berbeda dengan di tanah air. Penamaan jalan ditata dengan
tertib. Jalan di belah menjadi blok dan sector. Lazimnya penanda jalan itu
dimulai dari hurup atau angka yang berurutan. Misalkan saja namanya: Jalan 1SW,
artinya jalan 1 dalam sektor South West. Maka tentu di blok berikutnya jalan
2SW, begitu seterusnya. Blok pun demikian. Bila di depan kita Blok A, tentu
setelahnya Blok B, C, D berurutan dalam jejeran blok yang memancang.
Untuk peletakan plang jalan pun ada pakemnya.
Di tiap persimpangan selalu terpampang nama jalan dengan posisinya yang menggantung
di tengah-tengah jalan, atau bisa juga diletakkan disamping rambu lalu lintas.
Dan ini sudah semacam SOP hingga kita tak akan kesasar bila menemukan
persimpangan.
Disamping itu kenyamanan kota juga tergambar
dari keteraturan bangunan yang ada di dalamnya. Di Washington DC misalnya,
semua gedung bertingkat seragam tingginya, tidak ada yang boleh melebihi dari Washington
Monument (WM), sebagai landmark kota. Semua bangunan seakan tunduk dan taat
pada pimpinannya, yakni MW. Monas pun sebenarnya dicita-citakan seperti itu
dimasanya. Oleh Bung Karno sebagai inisiator pembangunannya, tidak beleh ada bangunan yang melebihi
ketinggian Monas. Namun sayang, seiring perjalanan waktu, aturan dan konsep itu
dilanggar.
Menurutku, keteraturan tata kota di Amerika
lantaran kota itu direncanakan dan dibangun terlebih dahulu untuk kemudian
ditempati. Beda dengan di Indonesia yang kesemuanya ditempati dulu baru
kemudian di adjust atau disesuaikan
dengan sesuatu yang telah ada. Bila kebetulan disitu telah ada lebih dulu pemukiman,
maka jalan raya pun bisa dibelokkan, digeser menyamping. Akibatnya bentuknya
tidak presisi atau lurus namun bengkok. Pertokoan dan perkantoran pun akan
digeser letaknya lantaran sebelumnya telah ada sesuatu yang sulit digeser.
Jadilah tata aturan kota yang diatas kertas bagus namun dalam tataran
aplikasinya menjadi menyimpang dan tentu saja semrawut. Begitulah adanya. Mungkin
inilah yang membedakan antara mereka dan kita. Dan, justru inilah keunikan kita
dibandingkan mereka.
Selasa, 10 Mei 2016
Seperti Apa Rasanya Nonton Ballet?
Di gedung itu sepertinya cuma aku seorang
yang bertampang tak rupawan. Tubuh kecil, dengan balutan jas penahan dingin yang
tebal, terlihat gempal. Walaupun demikian, aku tergolong orang yang beruntung,
meski bertampang pas-pasan, (pas dilihat rada ganteng juga, hehe..) aku bisa
masuk dalam golongan sosialita high class
yang tidak sembarang orang bisa masuk ke gedung itu. Maklum, tiket masuknya rada
mahal, sekitar 90 dollar. Dengan uang sebesar itu rasanya sayang untuk dihabiskan
hanya dengan menonton pertunjukan selama 3 jam. Namun lantaran tiket sudah
ditangan, jadilah malam itu aku laksana pangeran tampan yang sedang
berpetualang mencari kesenangan. Ya, sabtu malam di pertengahan Maret 2016 itu
aku akhirnya bisa nonton pertunjukan, berbaur dengan mereka yang well educated dan well manner.
Sejujurnya, aku orang rumahan. Jarang pergi
keluar untuk nonton, baik itu nonton bola ataupun nonton bioskop. Tontonan yang
pernah kulihat secara langsung adalah pertandingan-pertandingan olahraga yang
ada di Jakarta, utamanya sepakbola. Waktu kecil bahkan aku sudah diajak nonton
pertandingan Indonesia lawan tim asing di GBK. Pernah pula aku nonton live pertandingan
Tennis, Squash, dan Basket saat bertugas sebagai LO pada PON XIV tahun 1996, di
Jakarta. Jadi hanya dua jenis tontonan itu saja yang pernah kutonton yakni
nonton bola dan nonton bioskop. Selebihnya tak ada.
Nah, sewaktu di Philadelphia, memenuhi
undangan dari Kemenlu Amerika dalam program IVLP aku berkesempatan menonton
sesuatu yang tak ada di Indonesia. Ya, tontonan model begini sangat artistik,
menarik, dan dijamin takkan ada di Indonesia. Nonton pertunjukan balet. Balet,
seperti kita tahu adalah bukan budaya atau tarian Indonesia. Jadi tak kan
pernah ada nonton pertunjukan kolosal balet di Indonesia.
Balet berasal dari budaya barat. Yang kulihat
balet itu mungkin sejenis teaterikal dan pertunjukan lenong yang sering di
adakan di tanah Betawi. Balet seperti yang kusaksikan di Philly adalah bentuk opera
dan tari-tarian dimana semua pemainya berjalan, berputar dan berlari dengan
menjinjit kedua kakinya. Tak ada dialog dalam pertunjukan itu, semuanya menari
dan hanya tersenyum riang gembira dengan iringan instrument bernuansa klasik
Begitu masuk ruang pertunjukan, suasana mewah
dan meriah langsung tampak dihadapanku. Tercium oleh hidungku, mereka yang hadir
menyaksikan performance dari
Philadelphia Ballet semuanya wangi-wangi. Kaum prianya tampan-tampan dengan
pakaian parlente, umumnya berjas. Adapun yang wanita, semuanya terlihat cantik-cantik
dengan gaun yang sensual dibaluri oleh aroma wangi parfum yang sangat menggoda.
Pakaian yang mereka kenakan semuanya bagus-bagus, necis-necis. Dari tampilan
dan caranya berjalan, berbicara, dan berpakaian, jelas terlihat yang hadir
semuanya, termasuk aku tentunya, ber-well
educated.
Saat tiba di Academy of Music di Jalan Broad
240 S, Philadelphia dan masuk ke lobby, aku langsung diarahkan ke blok-blok
ruangan kursi sesuai dengan nomor tiket yang kuperoleh. Aku duduk di deretan
tengah, di bawah bukan dibalkon atas. Dari sini aku dengan jelas melihat
tampilan tata panggung yang mewah dan terkesan wah. Panggung seluas lebih
kurang 200 meter itu berhias ornament seni yang bernilai tinggi dengan
patung-patung ditiap sudutnya.
Begitu layar pertunjukan dibuka, muncullah
sepasang pemain ballet menari, sekitar 10 menit lamanya. Kemudian, masuklah
sekitar 60 hingga 80 orang pemain. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan
dengan beragam usia, bahkan anak-anak pun diikutsertakan dalam pertunjukan ballet
ini. Maklum saja, tema yang dimainkan pada malam itu adalah kisah percintaan
sepasang remaja di sebuah desa yang tidak direstui oleh orangtua. Ya, sebuah tema
yang klasik.
Saat layar tersingkap, baru kutahu, ternyata
para pemain ballet itu tidak hanya didominasi usia kanak-kanak atau remaja,
bahkan usia dewasa pun ada, bahkan banyak. Mereka bermain sesuai dengan peran
yang diberikan. Ada yang memerankan tokoh orang tua, dan banyak pula yang
memerankan remaja dan anak muda. Mereka berseragam warna warni dengan kostum
yang colorful. Ada banyak kostum yang
digunakan. Para peballet menari berdasarkan kelompoknya. Tiap kelompok ada
sekitar 8 pemain, dengan pakaian yang sama, berwarna cerah yang eye catching.
Meski baru pertama kali nonton ballet, namun
aku tidak merasakan kesulitan yang berarti dalam mencerna jalannya cerita. Aku
banyak terpukau dengan tampilan para penari yang begitu gemulai berjinjit
dengan gerakan yang sangat lincah. Aku seakan dibawa kedalam alam khayal, tempat
dan suasana dimana tanpa ada duka dan lara. Sejenak, aku seakan dibawa ke alam
surgawi, dimana para bidadari sedang menari.
Selepas pertunjukan, para ‘bangsawan’ keluar
gedung dengan masih menyisakan aroma harum dibadannya. Aku berada
ditengah-tengah mereka, sendiri. Kuayunkan langkah meninggalkan gedung dalam
balutan hawa dingin yang menusuk tulang. Malam itu, aku seakan terbangun dari
mimpi sekejap tentang dunia yang penuh warna-warni keindahan dari lakon Don
Quixote yang menawan. Malam ini aku tertidur, dan besok terhampar realita. Dan realita
hidup yang akan kuhadapi mungkin tak seindah tampilan dalam pertunjukan balet.
Senin, 07 Desember 2015
Saat (Musimnya) Buaya dan Kepiting masuk Jakarta
Biasanya, saat musim
penghujan telah tiba, --atau selepas bulan Muharram/Suro (tahun baru dalam
penanggalan Islam)-- Buaya dan Kepiting akan banyak masuk ke Jakarta. Kok bisa?
Ya, bisa. Namun, perlu kiat khusus dan trik canggih untuk melihat kemunculannya.
Hanya orang-orang yang sering bergaul dengan komunitas anak Jakarta (Betawi), atau
punya kerabat berdarah Jakarta lah yang bisa melihat kedua hewan melata
tersebut. Cirinya, bila di setiap gang dan jalan di pelosok Jakarta ada
terjuntai bambu dengan hiasan janur kuning, maka akan tiba lah saat dimana buaya dan kepiting besar akan bermunculan.
Dalam kehidupan masyarakat
Indonesia yang multi etnis, kita dikenalkan dengan berbagai macam cara dan kebiasaan unik dalam melaksanakan
upacara atau prosesi pernikahan, baik pada saat prosesi menjelang, saat, dan
sesudah pernikahan. Walau demikian, hampir semua etnis yang ada di Indonesia mempunyai
kesamaan dalam mengiringi mempelai pria kepada mempelai wanita saat prosesi
akad nikah atau menuju altar upacara pernikahan yakni selalu membawa hantaran atau
serah-serahan. Biasanya keluarga mempelai pria membawa beraneka makanan,
barang, dan cinderamata yang khusus dipersembahkan kepada mempelai atau
keluarga mempelai wanita.
Menyaksikan prosesi
hantaran saat menjelang acara ijab kabul atau pemberkatan pernikahan niscaya kita
akan menemukan keramaian dalam suasana khas kecerian dan keunikan di
masing-masing adat budaya. Ada yang mengusung hasil panen bumi, seperti jagung,
umbi-umbian dan sayur mayur. Ada yang menyertakan hasil tangkapan laut, seperti
ikan. Ada pula yang membawa kerajianan tangan khas kampung halamannya, Bahkan
ada yang membawa hewan ternak seperti babi atau kambing dan ayam yang dibawa
dengan dibuatkan kerangkeng khusus dari bambu atau anyaman kelapa. Melihat
semuanya membuat kita tersenyum geli. Ada-ada saja.
Bagi masyarakat Jakarta
(Betawi) tentu mempunyai tradisi dan cara unik dalam prosesi hantaran
penganten. Keberbedaan ini tampak dari hantaran yang dibawa. Disamping aneka
makanan, buahan,
perhiasan, kain, baju kebaya, selop, alat kecantikan, serta beberapa peralatan
rumah tangga dan
cenderamata lainnya, Mereka kerap membawa sepasang roti ukuran besar sekitar 50
hingga 100 cm, yang berbentuk buaya. Roti ini merupakan bawaan wajib bagi
setiap hantaran. Boleh saja mereka tidak membawa buah atau penganan lainnya.
Tapi, khusus untuk roti buaya, harus disertakan. Kenapa harus roti besar
berbentuk buaya? Kenapa tidak roti macan atau roti beruang, misalnya.
Menurut kepercayaan para
tetua Betawi, binatang buaya diyakini adalah perlambang kesetiaaan. Roti buaya
adalah simbol bagi kesetiaan pasangan. Konon, buaya hanya kawin sekali seumur
hidupnya. Walau di masyarakat buaya sering kali diidentikkan dengan perilaku negatif
suka bermain wanita, seperti dalam umpatan “buaya darat”, namun khusus untuk roti
buaya dalam hantaran perkawinan mempunyai makna sebaliknya. Ia adalah simbol
kesetiaan pasangan untuk mengarungi mahligai rumah tangga sehidup semati.
Disamping roti buaya, roti
ukuran besar lainnya yang kerap dibawa adalah roti kepiting. Kalau buaya
lambang kesetiaan, maka kepiting adalah lambang silaturahmi. Sekali lagi, menurut
para tetua adat betawi, kepiting adalah hewan yang unik. Ia jika berjalan akan
terlihat miring. Diharapkan kedua mempelai jika berkunjung atau bersilaturahmi ke
rumah orang tua atau kerabat selalu dapat berjalan ‘miring’ seperti jalannya
kepiting. Tentu bukan miring sesungguhnya, tapi maksudnya adalah kalau datang berkunjung
sebaiknya membawa buah tangan (oleh-oleh) yang dipersembahkan pada orang tua
atau kerabat. Datang dengan lenggang kangkung alias tidak membawa apa-apa
sangat ditabukan. Cukup kreatif dan menarik juga perumpamaan itu.
Walau disetiap hantaran
untuk prosesi pernikahan adat Betawi selalu di’wajib’kan kehadiran roti buaya,
namun sayangnya, tidak semua toko roti di Jakarta menjual roti buaya. Hanya
toko roti tertentu saja yang dapat membuat dan menyajikan roti buaya, Ini dikarenakan
bentuk dan ukurannya yang khas, tidak asal roti yang berbentuk buaya, namun
sudah mempunyai pola, corak dan pakem tertentu. Disamping itu, tidak setiap
saat roti buaya yang kita ingini dapat kita beli secara langsung, namun harus
dipesan terlebih dahulu. Pasalnya harga sepasang roti buaya cukup mahal, sekitar
400 hingga 600 ribu rupiah.
Ingin melihat dan
menyicipi roti buaya dan kepiting? tunggu saja prosesi pernikahan adat betawi
yang mungkin kita saksikan di Jakarta. Dan saat itulah masa dimana para ‘buaya
dan kepiting’ masuk ke dalam kota..
Selasa, 01 Desember 2015
Mengapa orang Rusia namanya berakhiran hurup “V”
Catatan
tentang nama menentukan kualitas sang orang tua.
“Nama anak
loe keren banget, Mat, blom ada neh nama kayak gini”, komentar temanku setelah
membaca nama anakku yang tertera di Kartu Keluarga (KK). “Ya, siapa dulu dong
bapaknya”, jawabku dengan jumawa, hehe.. Bicara mengenai nama, saya kok jadi
ingin menulisnya. Mengapa? Karena tren pergantian dan pertukaran nama saat ini
mengalami revolusi yang patut diapresiasi. Sulit dibayangkan jika kita lihat ke
belakang, sekitar 10 atau 20 tahun lalu, dimana nama-nama anak –maaf-- tidak mempunyai
cita rasa dan jiwa/ruh yang tinggi. Ya, nama-nama anak zaman sekarang unik dan antik.
Berbeda dengan nama saya dan kebanyakan teman-teman saya yang hidup dan lahir
pada tahun 70-an.
Nama anak
zaman sekarang atawa yang lahir selepas tahun 2000-an terdiri dari minimal 3 (tiga)
suku kata dan bahkan lebih. Misalkan saja. Muhammad Azka Perwira Husada, atau
Nayla Andini Putri Husodo (sudah pasti nama bapaknya Husodo). Bandingkan saja
dengan nama anak sang ayah yang lahir tahun 70-an, yang cuma 2 (dua) suku kata yakni
Achmad Husada atau Rachmat Hidayat, hehe..
Disamping
itu beberapa ciri nama-nama anak zaman mutaakhir ini antara lain memakai hurup “Y”
atau terdiri dari 5 (lima) hurup seperti Nayla, Kayla; Nahda; Najwa; dsb. Adapula
yang memakai akhiran “Putra atau Putri”; Seperti Alfatihah Putri Nugroho; Irwan
Putra Kusuma; dsb. Disamping itu banyak pula yang melabelkan hurup “A”
didepannya seperti; Azka; Altaf; Andra; Ahsan. Awalan hurup A ini dalam bahasa
Arab bermakna super atau lebih. Azka dari kata Zaki, bermakna lebih pintar.
Altaf diambil dari kata Latief yang bermakna lebih lembut. Dsb.
Teman-teman
seusia saya, yang lahir tahun 70-an, tentu nama-nama mereka mirip-mirip dengan
nama saya, dalam arti, ya gak jauh banget type dan style-nya dengan nama
pemberian orang tua saya. 11, 12 lah. Semenjak saya mulai bisa membaca dan memasuki
usia SD pada tahun 80-an, nama-nama yang beredar dan saya dapati di daftar
absen kelas 1 SD AHDI, mempunyai kemiripan dan langggam yang sama. Mau bukti? Bila
anak perempuan, maka nama depannya SITI, dirangkai dengan kata atau bersuku
kata dari bahasa Arab dan akan diikuti dengan akhiran “AH”. Contohnya; Siti
ZubaedAH; Siti KomariyAH; Siti RosadAH; Siti FatimAH. Bila di sensus, pasti
tiap kelas ada yang bernama dengan langgam dan type diatas.
Nah, untuk
anak laki-laki punya styel dan gaya yang rada banyak. Namun kebanyakan ada disisipi
suku kata berbahasa Arab “Dien” (bermakna agama), seperti Syamsuddin, Saifuddin,
Bahruddin, Komarudin, dsb. Saifuddin sendiri yang bermakna pedang agama
mempunyai ‘keturunan’, antara lain; Safruddin; Safaruddin; (mungkin saja akibat
salah tulis, salah eja atau salah denger dari si pencatat nama di kantor
kelurahan saat mengurus akte kelahiran sang anak.) Nah, untuk semua nama yang
berakhiran “dien” tersebut, saya dan teman-teman saya memanggil mereka dengan
panggilan si Udin. Bila yang pake nama akhiran “Udin” terlalu banyak di sekolah,
maka biasanya kami memanggilnya dengan Udin Jangkung, Udin Kurus, Udin Pe’a
(lantaran sering mabok), Udin bang Zen (lantaran anaknya Zaenuddin).
Oh ya, adalagi
satu ciri khas anak yang lahir tahun 70-an. Bila anak perempuan berakhiran AH,
maka untuk anak lelaki biasanya ada akhiran SYAH, seperti HermanSyah;
ArdianSyah; HendianSyah; HadianSyah; dsb. Saat ini sepertinya model nama kayak
gitu gak kan masuk itungan alias gak ada dipikiran para orangtua.
Di kampung saya
sendiri, kampung Kebon, di bilangan Kemang Jakarta Selatan, para orang tua
alias orang tua saya yang lahir pada tahun sebelum Indonesia merdeka atawa
jaman Belanda, mempunyai nama yang rada unik. Orang Betawi Kemang, kalau
memanggil nama seseorang jarang dengan benar melapalkannya dengan bagus dan
sempurna sesuai nama aslinya. Walhasil saat pencatatan administrasi
kependudukan, maka nama panggilan di masyarakat itu yang tertera di KTP. Misalkan
saja Madamin. (nama panjangnya Muhammad Amin, lantaran orang Betawi suka
nyingkat nama, jadilah nama yang tertera di KTP Madamin.) Madehir (Nama aslinya
Muhammad Achir); Toye (nama lengkapnya Muhammad Turmudzi, namun di KTP ditulis
Toye); Haji Bedur (nama benarnya Abdur Rachman, dipanggil Bedur); Siti Rohmah,
dipanggil dan tertulis di KTP Omah; Siti Romlah dipanggil Iyom; Fauziah
dipanggil Ipong; Ahmad Yani dipanggil Oyan; Kebanyakan nama mereka hanya satu
kata, seperti; Nipan; Sanip; Ni’ih; Sami’un; Inan; Biasanya pas acara arwahan
atau tahlilan orang yang meningal, sang shohibul hajat atau shohibul musibah
akan dikirimi Fatihah. Sang Ustadz berkata. “Ila hadratinnabi, khususon ila arwahi Haji Madamin bin Muti, Haji Madehir
bin Jum, dsb.
Imam Muslim,
Abu Dawud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahuanhu bahwa
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Nama yang
paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Sedangkan
Thabrani meriwayatkan secara marfu’ dari Abu Basrah, “Sebaik-baik nama
kalian adalah Abdullah dan Abdurrahman serta Harits,” (Hadist shahih. Lihat Shahih Al-Jami: 3269).
Selanjutnya para sahabat pun mengamalkan hadist ini sehingga Ibnu Shalah
mencatat bahwa sahabat yang memiliki nama Abdullah ada sekitar 220 orang,
sedangkan Al-Iraqi mengatakan bahwa jumlah keseluruhannya mencapai 300 orang,
(Syeikh Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Al-Manhal Al-Lathif fi Ushul
Al-Hadist, hal. 194). Mungkin lantaran berasal dari latar belakang agama
yang kuat, maka banyak orang Betawi menamakan anaknya dengan nama Abdullah dan
Abdurrahman (biasanya dipanggil Dul, Kong Dulloh), disamping nama-nama gaya kampung
diatas.
Lalu, kenapa
mereka, para orang tua, seakan kompak menamakan anak-anak mereka hampir seragam?
Kalau saya coba analisa, mungkin, saat itu, --kalau saya bicara dalam tataran
regional masyarakat Jakarta (betawi)-- arus dan terpaan informasi tidak
semassif saat ini. Pada tahun 70-an, orang tua hanya tahu informasi dari TVRI.
Jarang yang membaca surat kabar. Lingkungan sosial yang rada agamis, suka ke
masjid, sering ke pengajian dan mendengar siaran ceramah agama dari radio
As-Syafiiyyah yang terkenal itu, sehingga bisa jadi mereka dalam mentasbihkan
nama untuk putra-putrinya tak kan keluar dari pakem dan ketentuan agama (Islam).
Jarang orang Betawi yang menamakan anaknya dengan awalan Su, melainkan pasti
dengan kosa kata Arab atau nama-nama Islami atau asmaul husna.
Ada pepatah
klasik dari Timur Tengah yang mengungkapkan; “Bila hendak mengetahui kualitas
seseorang, maka lihatlah nama anaknya” Ya, kualitas seorang dapat diterka dan
dilihat dari cara ia memberikan nama kepada anaknya. Banyak saya jumpai –tentunya
dengan random— nama-nama anak yang ‘canggih’ dan punya nunsa dan cita rasa yang
tinggi lahir dari golongan atau kaum terpandang. Coba perhatikan secara sekilas
saja, rasanya jarang kaum terpandang zaman itu menamai anaknya dengan nama
pasaran seperti yang banyak dijumpai dikalangan rakyat kebanyakan, seperti: Tukiman;
Partiyem; Ngatenu, Ngadinu; Joko, Agus; Panut; Untung; atau Bambang; Kebanyakan
mereka menamai anaknya dengan nama yang rada intelek dan bergaya bangsawan. Salah
satu cirinya banyak suku kata O ditengah-tengah atau akhiran namanya. Bisa pula
dengan akhiran kata “Negara”, seperti Mangkunegoro; Joyonegoro; Notogegoro, Notolegowo;
dsb.
Nabi Muhammad
SAW pernah berucap, “..baguskanlah nama kalian..”. Mengapa demikian? Ini lantaran
sebuah nama mengandung doa. Nama mengandung harapan dan asa dari si pemberi
nama. Syahdan, pada zaman Nabi SAW, ada sahabat yang bernama Hazn, yang bermakna
kesusahan. Oleh Nabi SAW si sahabat ini dianjurkan untuk berganti nama menjadi
Sahl, Saad atau yang sejenisnya yang bermakna kemudahan atau kebahagiaan.
Lantaran segan dan menghormati sang orang tua yang memberikan nama, maka
sahabat Hazn tidak mau merubah namanya. Akhirnya hari berganti dan masa berubah
hingga sampailah sahabat Hazn ini mempunyai keturunan sampai berbilang. Nah,
anak keturunan Hazn ini tidak berada dalam kebahagiaan sepanjang hidupnya. Ada
saja musibah dan kemalangan yang menerpa keluarga Bani Hazn. Sampai akhirnya
salah seorang keturunannya yang bernama Sa’id
bin al-Musayyab, berucap. “Oo mungkin karena kakek buyut kita punya nama
Hazn sehingga hidup kita jadi selalu keblangsak
(apes) begini”. Waalhua’lam.
Nama juga
melambangkan atau mencirikan dari mana dia atau dari latar belakang budaya mana
ia berasal.
- Nama-nama yang berakhiran hurup “V” bisa dipastikan yang bersangkutan berasal dari Rusia. Misalkan saja; Gorbachev; Karpov; Kasparov; Ilanov; dsb.
- Bagi kalangan Habaib dan/atau mereka yang berdarah Arab, kebanyakan atau hampir semuanya hanya memakai satu kata. Kalaupun dua kata maka kata kedua adalah merujuk kepada bapaknya. Satu lagi, nama-nama mereka kebanyakan diambil dari nama sahabat Nabi SAW, atau dari keturunan Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Saya jumpai misalnya: Hasan; Husain; Ali; Jakfar; Umar; Utsman; Abdurrachman; Hamid; Hasan Hamid, alias Hasan bin Hamid; dsb. Menariknya, tidak ada dari kuturunan mereka yang menamakan anaknya dengan Yazid.
- Hurup Ij atau van dapat dipastikan bahwa pemilik nama tersebut berasal dari kawasan Benelux (Belgia, Belanda,dan Luxemburg). Contohnya. Martijn; Arijan; Van Persie; Van Basten; Dsb.
- Nama yang berakhiran Us kebanyakan dimiliki oleh kaum Nasrani. Contohnya; Martinus; Stephanus; Matius; dsb.
- Fam atau marga yang didahului “Si” dipastikan berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara; Misalkan saja; Siregar; Simanjuntak; Sitepu; Sibarani; Sitinjak; dsb.
Berikut
adalah nama-nama yang tak lekang dimakan usia dan lestari sepanjang zaman.
- Mengacu bulan kelahiran: Januar, Febri, Agus, Mei, Septi, Okta, Novi, Desi.
- Mengacu kejadian penting: Tavip, Purnama, Fajar.
- Mengacu etnis tertentu: (awalan) Su; Joko; Bambang, Ucok; Asep; Hendra, Rizal Safril (biasanya orang minang menakan anaknya dengan akhira AL, atau akhiran hurup “L”).
- Mengacu tokoh, public figure terkenal: Habibie (banyak dijumpai anak yang lahir tahun 80-an) Herman (Felani).
Setelah
membaca tulisan ini, apakah anda type orangtua dengan cita rasa average, orang tua
dengan ‘kualitas’ rata-rata atau orang tua dengan cita rasa tanggi??
Bahan bacaan:
http://www.mukminun.com/2015/10/tuntunan-islam-tentang-memberi-nama.html
Langganan:
Postingan (Atom)













