Rabu, 13 April 2016

Minuman yang Selalu Dingin

Telah menjadi kelaziman, sesaat setelah kita memesan makanan, sambil menunggu hidangan siap untuk disajikan, sang pramusaji atau pelayan di rumah makan atau restoran, selalu menanyakan tentang minuman apa yang kita inginkan. Teman-temanku kebanyakan memesan es teh manis, es jus, ataupun teh panas manis sebagai air minum pendamping santapan. Aku sendiri punya pilihan baku. Biasanya teman-temanku yang lama mengenalku dan sering makan bareng pasti akan memilihkan tawar hangat untukku. Begitulah, masing-masing punya pilihan menu dan minumannya.

Tidak hanya di Jakarta. Kebiasaan itu hampir merata di tiap-tiap rumah makan, di kota-kota di Indonesia. Kalaupun berbeda hanya pada penyebutan istilah saja. Bila kita ke Medan, Sumatera Utara, mungkin sering terdengar pelayan menyebutkan “teh tong”. Teh tong merupakan istilah yang biasanya disematkan untuk minuman teh tanpa gula dan es. Di Batam lain lagi. Ada istilah “teh obeng”. Teh obeng tidak lain adalah es teh manis. Bila kita ingin teh manis panas, biasanya disebut “teh O”. Namun, kalau kita hanya pesan teh tawar maka sebut saja “teh O kosong”.

Well. aku tidak ingin bercerita tentang budaya atau istilah minum meminum di Indonesia, namun kali ini saya ingin bercerita tentang minuman sebagai pendamping dari hidangan saat kita bersantap di Amerika!

Aku berada di Amerika selama hampir satu purnama. Ada kebiasaan yang menurutku sangat absurd dan rada aneh. Biasanya, setelah kami, para peserta IVLP dari Indonesia memesan makanan, sambil menunggu makanan siap dihidangkan, sang pramusaji atau pelayan di rumah makan, dengan sigapnya, -seolah sudah standar baku- menyajikan minuman air putih SELALU dengan es. Ini menarik. Bila kita berada di negara bergurun di timur tengah ataupun di wilayah tropis yang beriklim panas, sajian minuman dingin tentu sangat diharapkan. Namun, saat ini aku tinggal di negara 4 musim, dan kebetulan saat kunjunganku ke USA, jatuh di penghabisan musim dingin, yang berarti suhu udara masih dikisaran 5 (lima) derajat Celcius bahkan pernah dibawah 0 derajat Celcius. Bayangkan, suhu dingin tapi selalu disajikan minuman dingin, dan selalu dengan Es. Tanpa es saja air putih di Amerika itu sudah sangat dingin. Lha, sudah dingin, masih ditambah pula dengan es. Alamak!!

Lantaran sudah tahu kebiasaan para pelayan restoran disana, selalu, bila si pelayan mendekat kepadaku, akan kubilang: “mineral without ice, plisss!” Meski without ice tetap saja air putih itu terasa dingin. Saking jengkelnya, sering pula aku memesan air putih very hot!! Ya, takutnya dikasih yang hangat-hangat kuku, maka sekalian saja aku nikmati air putih super panas sebagai penghangat badan di suhu minus 0 derajat.

Oh ya, satu lagi yang kuamati. Untuk ukuran gelas minuman-nya pun juga ukuran jumbo. Tidak pernah kutemukan ukuran gelas se-ukuran gelas di Indonesia (sebesar buah belimbing), selalu dengan gelas (plastic) ukuran jumbo.

Tatkala kebiasaan itu (minum air dingin) kutanyakan kepada Pak Hengki, teman dudukku, -meski ia lama tinggal di Amerika- namun jawaban yang ia berikan tidak memuaskanku. Di udara dingin kok masih minum air dingin plus ditambah es. (maaf) Sinting! Hehhe.. Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan yang konyol, bila aku dan mungkin saudara-saudaraku berdarah biru, mungkin saja mereka, orang Amerika berdarah panas.  

State Owned @Montana


Sewaktu zaman Pak Harto masih presiden, bila kita berpapasan dengan Volvo berplat akhiran hurup BS, ada rasa ‘takut’ dan takjim. Oleh temanku, BS diplesetkan sebagai Bantuan Setneg. Jadi, jangan coba-coba berurusan dengan BS. Dulu, jangankan melihat orang (baca;pejabat) yang berada di dalam mobil itu, baru lihat tongkrongan mobilnya saja kita akan respek dan hormat. Bahkan, bersentuhan dengan mobilnya saja merupakan suatu kebanggan yang tak terkira. 

Bicara mengenai mobil dinas atau mobil milik negara, disamping berplat merah, ada pula yang ber-plat hitam. Plat merah tentu dengan mudah dikenal sebagai property negara. Namun untuk plat hitam, butuh ‘keahlian khusus’ untuk memcirikannya sebagai milik negara. Plat hitam biasanya ditandai dengan akhiran hurup RFS, RFD, RFR, atau RF-RF lainnya. Meski tidak ber-plat merah, polisi yang bertugas di jalan raya akan tahu bila penumpang didalamnya mesti orang penting. Ya, minimal jabatannya eselon 2. Plat merah, biasanya digunakan sebagai kendaraan operasional, atau kendaraan sejuta umat bagi pegawai di instansi tersebut. Mobilnya pun bukan sedan. Lazimnya berjenis van dengan kursi ditengah dan dibelakang. Kebanyakan digunakan untuk mobil jemputan karyawan atau untuk dinas operasional kantor. 

Sebagai pegawai pemerintah, ada banyak konsekwensi yang harus aku rasakan bila mengendarai mobil plat merah. Ada beban dan tanggung jawab moral yang tak ringan. Aku pribadi sangat risih bila harus berkendaraan dinas lantaran tak bisa bebas berlaku semaunya. Diantaranya adalah, tidak boleh berkendara dengan ceroboh; harus mengisi bahan bakar dengan jenis tertentu; dan, ribetnya, gak boleh sembarangan berhenti di dekat-dekat tempat hiburan (bioskop, panti pijat, mall atau tempat karoke-an), meskipun bila ban bocor, yang tak mau kompromi. Apa kata dunia bila dilihat masyarakat ada plat merah terparkir persis di depan tempat karoke-an atau di sebuah mall, meskipun pengendarannya sedang operasi atau menunaikan tugas kedinasan. Ya, inilah moral obligation yang membebaniku saat membawa mobil dinas. 

Sejatinya mobil dinas hanya terbatas digunakan untuk dan/ke tempat-tempat yang baik-baik saja. Ke kantor, ke instansi pemerintah ataupun kunjungan ke warga masyarakat. Aib membawa kendaraan dinas untuk sesuatu yang tak ada hubungannya dengan kedinasan. Namun, banyak kujumpai di akhir pekan, mobil dinas digunakan untuk menghadiri resepsi pernikahan. Bahkan, banyak pula mobil dinas dipakai untuk liburan keluarga ke puncak. Padahal, aktivitas-aktivitas itu sudah diluar kedinasan dan pastinya itu adalah urusan pribadi. Ironis. 

Disamping ada ‘beban’, sebaliknya ada sebagian sejawatku, pengguna plat merah atau mobil dinas berplat RFS yang memanfaatkan ‘keuntungan’ tersebut, dengan merasa –seolah-olah- ‘bebas’ berkendara se-enaknya di jalan raya, tanpa menghiraukan aturan dan rambu lalu lintas yang berlaku. Mereka seakan menikmati privilege khusus seperti tanpa malu melaju di jalur busway, berhenti dan parkir seenaknya di rambu larangan berparkir. Lalu, bila melanggar dan diberhentikan polisi, biasanya mereka berdalih dengan seribu satu alasan. Aku sendiri, bila kebetulan ke-gap dengan polisi, aku dan temanku di samping kemudi melontarkan ucapan: ‘Izin Ndan, mohon diskresi, buru-buru neh, ada tugas kantor/negara ketemu pak Mentri”, (padahal tugas apa juga tak jelas, dan kondisi negara gak se-genting yang dibayangkan, hehe..). 

Jadi, kembali ke pribadi pengguna. Bila attitude-nya bagus, maka ada perasaan terbebani dalam mengendarai mobil dinas. Pasalnya, sekecil apapun kesalahan yang kita lakukan di jalan raya, maka akan menjadi buah bibir dan cibiran di masyarakat. Terlebih, masyarakat sekarang sangat kritis. Sering mereka berkeluh, aparat/PNS kok kelakuannya negatif. Aparat/PNS kok melanggar. Padahal, kita kan juga manusia biasa, bukan malaikat. 

Nah, saat aku berkunjung ke Amerika Serikat dalam rangkaian program IVLP di bulan Maret 2016 lalu, ada yang menarik yang berhasil aku jepret disana. Waktu itu, selepas mengunjungi instansi yang mengurusi masalah anak di negara bagian Montana, AS, tanpa sengaja mata ini menangkap deretan mobil yang terparkir rapi. Bukan parkiran rapi yang menarik mataku, namun ada satu mobil yang menarik perhatianku diantara jejeran mobil lainnya, yakni mobil berplat “state owned” 

Lalu, kutanyakan maksud dari tulisan di plat itu kepada Pak Hengky, Liaison Officer (LO) kami, Ia menerangkan bahwa itu adalah mobil ‘plat merah’-nya Montana. “Ooo, mobil dinas rupanya,” gumamku. Ya, di Montana, AS, mobil dinas atau mobil kantor ditandai dengan ciri yang kasat mata yakni ada tulisan state owned di plat mobil tersebut. Sehingga orang yang melihatnya akan tahu bahwa mobil itu adalah property negara. Tak semua pejabat di Montana mendapatkan mobil dinas. Anggota ‘DPRD’-nya Montana, misalnya, mereka tak mendapatkan jatah mobil dinas seperti anggota DPRD di beberapa Kab/Kota di Indonesia.

Mobil bertuliskan “State Owned” milik suatu departemen atau instansi biasanya diperuntukkan bagi mobil layanan kepada masyarakat dan pengguna-nya bisa siapa saja asalkan memang pegawai pemerintah di bagian atau divisi tersebut, tak mesti si pejabat atau bos di kantor itu. Jadi, mobil itu tidak dikuasai oleh orang per orang namun dikuasai oleh kantor dan untuk keperluan kantor, dan memang seperti itu semestinya.


Seperti kekayaan alam atau kekayaan lainya yang dimiliki oleh negara, mobil plat merah semestinya dikuasai dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan dan keperluan negara, dan bukan dikuasai secara pribadi oleh si bos atau pegawai tertentu, apalagi dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan.

Senin, 11 April 2016

Ada Cita Rasa Indonesia Di Philadelphia


Philly atau Philadelphia, berada di negara bagian Pennsylvania. Kota ini memang kota yang multicultural. Beragam ras dan bangsa ada disini. Bahkan orang Indonesia pun gak mau ketinggalan dalam mengadu nasib dan peruntungannya di kota seribu satu mural ini, ditaksir ada sekitar 5000-an warga Indonesia yang bekerja –baik legal maupun illegal- di pabrik-pabrik dan sektor informal yang tersedia. Tak sulit menemukan mereka. Saat aku belanja di Reading Terminal Market, kujumpai beberapa kasir dan pelayan toko asal Pluit, Jakata dan kota-kota di Indonesia lainnya. Kusempatkan waktu untuk mengobrol dengan mereka.. Saat sore, selepas jam kerja, rupa warna dan raga orang-orang lalu lalang di depan hotel-ku. Hilir mudik, sibuk dengan urusannya. Bahkan, pengemis pun tak kalah ‘sibuk’ nya, banyak yang nongkrong di lokasi-lokasi strategis. Dengan modal sobekan karton bertuliskan “Homeless, Give your pennies, please. Need Food” seakan melambaikan iba ‘tuk dikasihani.

Lantaran banyaknya orang kulit berwarna (baca:asia), maka tak sukar menemukan makanan Asia di kota yang pernah menjadi ibu kota dari Amerika serikat ini. Di Reading Terminal Market, ‘Pasar Modern’ nan khas yang ada di Phili, misalnya, banyak stand makanan dari Thai, India, dan China.  Nah, sewaktu berada di Philadelphia, rupanya Pak Hendki dan Mba Nunu, LO kami selama di Amerika, tahu kerinduan kami akan masakan Indonesia. Dibawanya kami untuk menikmati dan mencicipi cita rasa nusantara ke sebuah rumah makan yang sudah terkenal di kalangan warga Indonesia yang bermukim di sekitar kawasan pantai timur Amerika. Restoran Hadena namanya. Lokasinya di 1754 S Hicks Street, Philadelphia Restoran ini dimiliki dan dikelola oleh imigran asal Surabaya yang telah lama bermigrasi ke Amerika. Kami menyapanya dengan panggilan Oom. Si Oom mengaku telah ada di Amerika sekitar tahun 70-an, dimana awalnya sempat bekerja sebagai staf di KJRI Indonesia di New York.

Saat aku memasukinya, terlihat ornament khas Indonesia berupa patung dan beberapa ukiran dari Jawa. Tampak pula meja kursi yang tertata persis seperti rumah makan sederhana di Jawa. Nah, untuk penyajian makanan, gak beda dengan sajian tata letak makanan ala Warteg. Terhampar di bilik kaca aneka masakan dan olahan. Semua makanan dan sayuran khas Indonesia (Jawa) tersaji. Ada sayur lodeh; Sop, Sayur Asem; Oseng-oseng kacang panjang; Tempe goreng; Gulai Telor/Ikan; Rendang; Kerecek; Kering tempe dan teri; Gudek; Bahkan soto, dan gado-gado. Semuanya tampak menggugah selera. Pilihan menu nasi ramesan di Hadena ini lumayan banyak dan variatif. Harganya pun relatif murah, berada di kisaran 10 an dollar.

Mungkin kalau kita berada di tanah air, hidangan demikian akan terlihat biasa saja dalam pandangan mata. Namun saat ini aku sedang berada di Amerika, jarak yang beribu-ribu mile dari Jakarta, adalah hal yang amazing dan excited menemukan ada makanan khas nusantara terhampar di depan mata.

Puas melihat hidangan yang ada, barulah aku menentukan pilihan. Aku memesan sayur lodeh dengan telor dan tempe kering, plus sambal terasi. Tadinya kupikir rasa sambalnya biasa saja, seperti sambal olahan dalam botol. Namun dugaanku salah. Ternyata sambalya asli sambal olahan tangan (sambal dadak) dengan rasa terasi Indonesia yang khas. Saat aku tanyakan dimana mendapatkan ini semua, Si Oom menjawab bahwa pencarian aneka bumbu dan rempah dilakukan secara bergerilya, dalam arti tidak di satu lokasi saja namun merambah state lain hingga ke Los Angeles, dimana banyak bermukim warga Indonesia. Adakalanya rempah dan bahan-bahan masakan itu sengaja di boyong dari Indonesia bila kebetulan Si Oom atau kerabatnya ‘mudik’ ke Indonesia. Saat aku bersantap siang, tampak beberapa warga kulit putih yang sedang menikmati hidangan khas Jawa ini. Kulirik pula ada seorang pria Indonesia sedang memesan makanan untuk di to go atau dibawa pulang.

Setelah kenyang bersantap siang, kami menyempatkan diri mampir ke minimarket khas Indonesia yang lokasinya gak terlalu jauh dari Hadena Resto. Namanya Pandawa. Saat masuk, aku melihat aneka tulisan berbahasa Indonesia. Tulisan ini tampaknya sengaja ditampilkan mengingat hampir 90 persen pengunjung Pandawa adalah warga Indonesia yang banyak bermukim di South Philly.

Toko ini menyajikan hampir semua jenis makanan dan kebutuhan masak Indonesia. Aneka rupa bumbu dan penyedap cita rasa khas Indonesia dengan mudah kita temukan disini. Ada saos sambel, kecap manis, dan sebagainya. Aneka snack kering dan kerupuk (dalam kemasan) nampak tergantung di dinding toko. Ada pula keripik, kacang, kue, permen dan aneka kue basah lainnya yang menggoda ‘tuk dicicipi. Bukan itu saja, bahkan ada nasi padang bungkusan, nasi kuning, nasi rames(an), lontong sayur, nasi pecel, dan bumbunya pun tersedia. Untuk kudapan teman minum teh di sore hari pun tersedia, seperti aneka gorengan, kue lopis, juga makanan hasil kukus. Ada pula bakmi, empek-empek dan sebagainya Singkatnya, bagi mereka yang rindu olahan masakan tanah air, bisa berbelanja di toko Pendawa ini.

Toko Pendawa menerapkan sistem konsinyasi atau titipan. Semua barang dan makanan diolah dan dipasok oleh warga Indonesia yang ada di Philli. Jadi tak aneh bila cita rasa dan olahan yang di jual di Pendawa di jamin 100 persen cita rasa Indonesia. Dari (titipan) warga, (diolah dan dimasak) oleh warga, dan untuk (disantap) warga Indonesia yang ada di Phili.


Inilah Philadelphia. Tampaknya warga Indonesia memanfaatkan betul peluang bisnis yang ada. Banyaknya orang Indonesia di Phili adalah peluang bagi bisnis kuliner. Orang Indonesia tentu lebih memilih makanan Indonesia ketimbang kuliner dari negara lain. Kehadiran masakan dan olahan Indonesia pastinya akan menjadi obat penawar rindu mereka dengan tanah airnya, juga dengan kulinernya. Dan kerinduan itu terobati oleh kehadiran Hadena dan Pendawa di Philadelphia. 

Kamis, 07 April 2016

Meski Di Amerika, Sarapan Nasi Perlu.


Biasanya di pagi hari, menu sarapanku adalah lontong sayur atau nasi uduk. Gonta ganti.  Atau bisa pula diselingi dengan sayur (asem, sop, lodeh) dicampur dengan tempe goreng dan nasi hanngat. Sayur matang tersebut aku beli di warung makan depan rumah yang khusus menjual makanan siap santap yang telah dibungkus. Sebungkusnya 5 (lima) ribu rupiah. Cuma itu yang tersaji di warung atau lapak makanan deket rumah,. Lapak itupun hanya ada di pagi hari, yang memang sengaja dijajakan untuk ngebantu orang kantoran sepertiku yang gak sempet makan atau meramu nasi goreng, sekalipun. Keberadaan lapak makanan di pagi hari cukup membantuku. Ya, kita sama-sama saling membantu. Mereka terbantu menggulirkan uangnya untuk tambahan jajan anak-anaknya, aku pun terbantu hingga tak perlu repot meminta istri membuatkan nasi goreng atau sekadar ceplok dadar telor.

Nah, saat aku di Amerika mengikuti program IVLP selama 3 (tiga) pekan, mau tak mau pola dan menu sarapanku pun berubah. Tak ada lagi lontong sayur ataupun nasi uduk semur jengkol. Kini yang ada dan selalu tersaji di ruang makan hotel adalah kentang rebus, roti (bisa dipanggang), telur dadar, dan pancake, serta daging olahan. Ya, hampir saban hari seperti itu. Gak berubah. Kalau satu dua kali nyoba, tentu masih ada rasa exciting-nya dan enak disantap. Namun bila telah menjadi rutinitas sarapan selama 3 (tiga) pekan, ya bosen juga.

Gimana caranya biar gak bosen? Selalu ada jalan dan cara bagi orang Indonesia katro sepertiku untuk mencari celah dan menyiasatinya. Biasanya aku menghangatkan lauk pauk makan malam yang tersisa untuk disantap keesokan paginya. Untuk makan malam, sengaja aku memilih resto China atau resto Asia di tiap kota yang kusinggahi, yang kadang menjual nasi. “Do you have steam rice?” Selidikku pada pramusaji, tatkala melihat magic jar di sudut tempat menaruh aneka makanan. Jadilah aku memesan nasi putih plus ayam atau beef poured with sweet sauce sebagai menu pelangkap.

Ngomong-ngomong kok bisa ada sisa? Iya, mesti ada sisa. Di sini, di Amerika, satu porsi makanan cukup untuk dua kali makan orang Indonesia yang berusus pendek dan kecil sepertiku. Porsi Amerika itu jumbo, lantaran body mereka pun diatas rata-rata tubuh orang Indonesia. Jadi, wajar bila pramusaji di semua food court atau di rumah makan menyendokkan lauk pauk dengan porsi yang banyak. Nah, lantaran sering gak sanggup menghabiskannya, timbullah ide kreatif untuk membungkus makanan yang dibeli supaya bisa disisakan untuk dimakan keesokan paginya. Beruntung, ditiap hotel yang kusinggahi selalu ada microwave, benda ini sangat membantu. Jadi gak perlu repot untuk urusan hangat-menghangatkan makanan. Thanks to you, Micro.

Meski selama di Amerika Serikat aku menghabiskan malam rata-rata 4 (empat) hari di suatu hotel, untuk kemudian pindah ke negara (state) lainnya, namun tetap saja format dan standard baku per-sarapan di amerika seperti itu. Gonta-ganti hotel, tetap saja SOP-nya gak berubah. Boro-boro nyari nasi pecel atawa salad khas america, seperti di kampung istriku di Klaten, nyari nasi goreng atau porridge made in hotel saja impossible.

Di saat sarapan, tatkala sedang mengunyah kentang yang terasa hambar di mulut, sering aku termenung dan lalu bersyukur. Beruntung, aku, keluargaku dan teman-temanku berwarga negara dan tinggal di Indonesia. Dengan uang 10 (sepuluh) ribu rupiah ditangan, bisa peroleh sarapan yang super lezat dan nikmat. Dengan uang sebesar itu kita bisa membeli nasi pecel, atau bubur ayam atau nasi uduk lengkap dengan semur jengkolnya, plus teh manis panas. Bandingkan dengan mereka yang tinggal di Amerika, yang saban hari hanya ber-sarapan kentang, telor, roti dan daging olahan. Semuanya nyaris tanpa racikan aneka rempah dan bumbu-bumbu penyedap rasa. Hambar. Vivat dunia kuliner Indonesia…


Rabu, 06 April 2016

Di Amerika, Hotel Membuatku Bisa Berhemat

Selain dekat kemana-mana, apa sich yang menarik dari suatu hotel –selain- tentu saja layanan dan fasilitas yang ditawarkan? Tergantung tujuannya. Kalau untuk berbulan madu, lokasi yang jauh dari pusat keramaian dengan pemandangan indah, serta fasilitas dan pelayanan prima yang ditawarkan tentu menjadi pilihan utama. Aku sendiri, bila kebetulan harus bepergian dan menginap di suatu kota, biasanya memilih hotel dengan lokasi yang strategis, atau dekat kemana-mana agar kesukaanku dalam meng-explore, dan melihat sesuatu yang baru di tempat yang kukunjungi dapat terpenuhi. Tempat-tempat yang banyak diperguncingkan orang tentu lebih menarik perhatian untuk kulihat ketimbang lama-lama berdiam diri di kamar hotel. 

Dalam kunjunganku ke Amerika baru-baru ini, dimana paling lama hanya 5 (lima) malam aku beristirahat di satu hotel. Selebihnya, aku harus kembali ber-packing dan bersiap untuk pindah ke kota selanjutnya, yang berarti harus check in kembali di hotel yang baru. Selama di Amerika Serikat, hotel yang disediakan oleh Kemenlu AS lumayan cozy. Standar bintang 4. Semuanya berada di pusat kota, dan –kebetulan- dekat kemana-mana. Dekat ke pusat-pusat keramaian, tempat-tempat yang menarik, dan, yang penting, nyari makan pun gampang.

Segera setelah landing di Washington DC, pihak panitia penyelenggara menginapkanku di Hotel One Washington Circle. Lokasinya persis berseberangan dengan Universitas George Washington. Dari namanya yang circle, hotel ini tepat berada disisi lingkaran jalan/tugu Washington. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki untuk sampai ke Gedung Putih, ke kawasan Abraham Lincoln Memorial, museum-musem yang ada di sekitarannya ataupun ke Kedubes Republik Indonesia yang berlokasi di 2020 Massachusetts Avenue.

Hotel yang kutinggali di DC sangat nyaman, yang ku taksir kalau di Jakarta seharga bintang 5. Semua fasilitas tersedia lengkap. Disamping standar fasilitas bintang 4, di dalam kamar, ada pula ruang masak. Ya, ruang masak dengan kompor gas yang siap untuk dinyalakan. Peralatan masak pun tersedia. Jadi, tinggal beli beras atau mie instan, kita bisa memasak dan menggoreng telor dan daging untuk bekal makan malam.

Begitupun saat aku di Phili atau Philadelphia. Aku tinggal di hotel yang hanya berjarak selemparan batu dari pusat belanja dan kuliner. Hotelnya Club Quarters Philadelphia 1628 Chestnut Street Philadelphia, Pennsylvania. Namun sayangnya fasilitas di hotel ini tidak selengkap One Washington Circle. Tidak ada ruang masak. Kamarnya pun kecil.

Bagiku, yang namanya hotel bintang 4 dimanapun berada, entah itu di Indonesia atau di negeri pewayangan lainnya, tentu punya standar fasilitas dan pola layanan yang sama dan baku. Dan itu biasa saja, tanpa ada kesan yang berarti bagiku. Namun, ada satu hal menarik yang membuatku terkesan selama tinggal di hotel-hotel di Amerika. Ada yang unik dan beda dalam fasilitas kamar hotel di Amerika. Selama 5 (lima) kali gonta ganti hotel, ada satu benda atau fasilitas yang selalu ada dan tergantung di sudut pojok ruang tempat gantungan baju.

Di hotel manapun yang pernah kuinapi, baik itu di negeri pewayangan ataupun negeri impian, biasanya fasilitas dan barang-barang standard yang terlihat dimata adalah sandal hotel, kantong plastik untuk laundry, gantungan baju, kotak deposit, mini bar, alat tulis, teh/kopi beserta gelasnya, handuk, dan perlengkapan mandi. Hanya itu. Namun di Amerika, selain benda-benda tersebut, ada satu benda yang tampaknya menjadi benda yang mesti ada di dalam per-standard-an hotel di Amerika. Ya. Di setiap hotel yang kusinggahi selalu tersedia setrikaan beserta alas untuk menyetrika. Amazing! Justru sandal hotel yang gak pernah ada di kamar hotel-hotel yang kuinapi.

Kedua benda itu sangat membantu selama kegiatanku mengikuti IVLP. Maklum saja, bila aku menggunakan jasa binatu untuk mencuci dan men-setrika pakaianku selama di Amerika, tentu akan mengeluarkan biaya yang tidak murah. Ketimbang dana itu dialokasikan untuk jasa laundry, lebih baik uangnya kusimpan untuk sekadar membeli oleh-oleh. Lumayan, ada penghematan, meskipun pihak penyelenggara telah mengalokasikan dana harian untuk laundry. Toh di kamar sudah ada setrikaan beserta alas untuk menyetrika-nya. Jadi, buat apa me-laundry. Kugunakan fasilitas itu. Beruntung aku sudah membawa deterjen bubuk dari Indonesia, jadi tinggal rendam cucian, kucek, jemur di kamar mandi, kering, lalu di setrika di kamar. Beres.


Selain setrikaan, ada satu lagi benda yang membantuku selama tinggal di negeri Paman Sam, yakni Microwave. Barang ini sangat sangat membantuku. Dengan adanya microwave, dapat menghemat pengeluaranku. Aku tidak perlu jajan makanan untuk bekal sarapan lantaran sisa makan malam (makanan yang kubungkus di malam hari) dapat kuhangatkan untuk sarapan pagiku.  

Senin, 04 April 2016

Americaaa.. I'm Coming..

Saat tiba dan menginjakkan kaki di benua Amerika, tepatnya di negara Amerika Serikat, ada perasaan kaget dan shock culture. Maklum saja, ini adalah kunjungan pertama saya ke negeri yang paling jauh dari Indonesia. Kaget dan keki* bercampur menjadi satu. Sebelumnya, bermimpi pun tidak untuk bisa ke Amerika. Selama ini (bendera) Amerika hanya ada dalam pandangan sekelabatan mata saja bila harus pergi ke Balaikota Pemprov DKI Jakarta lantaran ada urusan kerja, yang otomatis akan melintas di depan Kedubes Amerika, di Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Kantor Balaikota persis bertetangga dengan ‘Amerika’ yang hanya dipisahkan oleh Istana Wapres. Maka, gak nyangka kalau akhirnya aku bisa mendarat dengan selamat dan tiba di Amerika Serikat. Saat tiba, di Bandara Dallas/Fort Worth International Airport, sebagai pintu gerbang masuk ke Amerika Serikat, badan sudah di terpa dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Saat itu diawal bulan Maret 2016, negara-negara yang berada dibagian utara, seperti Amerika memasuki awal musim semi, ini berarti musim dingin baru saja berlalu.

Begitu turun dari pesawat American Airlines, kami para penumpang pesawat dari Narita, Tokyo, langsung bergegas menuju bagian imigrasi. Ini adalah salah satu pos imigrasi bagi mereka, yang biasanya datang --dari penerbangan-- dari bandara di Japan, China, Korea, Taipei atau Hongkong. Dallas adalah kota hub atau Bandar Udara Jangkar. Dari sini penerbangan lanjutan untuk menjelajah dan menuju destinasi selanjutnya ke kawasan lain di Amerika Serikat tersedia. Lantaran lokasinya berada di tengah-tengah, maka Dallas/Fort Worth International Airport sangat strategis. Dari Dallas kita bisa ke kawasan utara amerika (Montana, Salt Lake City, Wyoming, dsb) ataupun ke selatan (Florida. Miami, dsb). Bisa juga ke wilayah pantai barat amerika (Los Angeles, San Francisco, Portland, dsb) ataupun pantai timur (New York, Washongton DC, Philadelphia, Boston, dsb). Amerika memang luas. Bandingkan saja dengan Indonesia yang terentang dari Sabang samapi Merauke, mereka mempunyai 4 pembagian zona waktu.

Di pos pemeriksaan imigrasi ini kami dipilah-pilah berdasarkan maksud dan tujuan datang ke Amerika. Ada jalur khusus untuk bisnis, ada pula jalur khusus untuk turis atau rombongan tour wisata. Nah, karena saya ke Amerika atas undangan Kemenlu AS, maka saya tidak melalui kedua lajur tersebut, melainkan menuju lajur Exchange, Jalur ini khusus ditujukan bagi mereka yang mau sekolah di Amerika ataupun mereka yang datang untuk kunjungan pertukaran.

Setelah diarahkan oleh petugas, langsung aku menuju ke jalur exchange. Tiba giliranku maju ke meja imigrasi, petugas yang kebetulan laki-laki (sengaja aku tulis masalah gender, karena bila peng-interview laki atau perempuan akan berpengaruh padaku dalam menjawab pertanyaan yang diajukan). Seperti biasa, terjadilah proses introgasi atau tanya jawab.
“Mau apa datang ke Amerika?” kira-kira begitulah tanyanya
Your State invite me to come here, to attend International Visitor Leadership Program,” jawabku dengan pede-nya.
What?” Selidiknya. Tampaknya ia kurang mudeng tentang program IVLP atau memang sengaja ingin mengorek keterangan yang lebih mendetail tentang kunjunganku ke Amerika.

Lalu kujelaskan secara panjang lebar. Disambarnya dengan menanyakan itinerary-ku dan dimana aku tinggal selama di Amerika. Nah inilah keribetan pertama yang muncul. Di kertas ketibaan yang dibagikan saat jelang pesawat landing di Dallas, aku tidak jelas dalam menulis alamat hotelku di DC. Petugas tampaknya tidak merasa puas bila hanya nama hotel saja yang kutulis, ia butuh alamat lengkapnya. Sialnya, buku atau berkas yang diberikan saat briefing di Kedubes USA di Jakarta justru tertingal di Jakarta. Kepanikan sesaat melandaku, namun segera aku menoleh kebelakang, ke teman programku yang kebetulan masih dalam antrian imigrasi. Sejurus kemudian aku burujar. “Let me ask to my friend, plisss,”
Tanpa minta persetujuannya aku langsung mundur kebelakang dan meminta buku program pada temanku. Beruntung ia membawanya. Lalu setelah membaca buku program tersebut, yang tentu tertera namaku, beserta kontak-kontakku selama di Amerika, petugas imigrasi langsung men-cap pasporku sambil berkata: “Welcome to Amerika”.

Jiahhhh, akhirnya. Lega!! Kami bertiga berhasil lolos dari proses imigrasi dengan ‘mudahnya’. Namun tidak demikian dengan salah satu teman programku. Ia harus digiring masuk ke bilik selanjutnya untuk diadakan intensive interview. Usut punya usut ternyata nama temanku itu yang dipermasalahkan. Temanku hanya mencantumkan satu suku kata pada namanya, yakni Sunoko, tanpa embel-embel. Ini yang membuat mereka, para petugas imigrasi mengintrogasi temanku lebih lanjut. Dalam perspektif mereka, nama temanku itu ada kejangalan. Tidak lazim dalam passport hanya ada satu suku kata. Ini bisa diindikasikan bahwa seseorang –menurut pandangan Amerika-- menyembunyikan asal-usul dan latar belakang keluarganya. Biasanya, paling tidak ada 2 nama yakni nama depan dan nama belakang atau nama keluarga. Setelah dijelaskan panjang lebar dan tentu dengan pendekatan cultural bahwa banyak di Indonesia atau budaya Indonesia seseorang hanya menyandang satu nama atau satu suku kata untuk namanya, akhirnya mereka percaya dan mempersilahkan temanku lewat setelah menahannya hampir sekitar seperapat jam.

Gara-gara masalah nama, urusan di imigrasi jadi terkendala. Dan ini bukan yang pertama. Berikutnya saat pemeriksaan di bandara kota-kota/states di Amerika Serikat yang kami kunjungi pun, passport temanku kadang bermasalah. Ya, mereka menyelidik dan tergelitik untuk mencari tahu kenapa hanya satu suku kata pada nama itu. yang tertera di paspor

Kini, setelah urusan Si Sunoko beres, kami, berempat, para peserta IVLP program Child Walfare 2016 bisa melenggang memasuki Amerika untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Kota Washington DC. Americaaa here i came..


*bahasa Betawi; maknanya campuran antara impressed dan excited 

Rabu, 03 Februari 2016

Duet Syafi’i, Penjaga Kemurnian Ajaran Islam Di Jakarta.

Selain Jalan Casablanca --Jalan ini dipersembahkan sebagai komitmen pemerintah kota bagi sister city project antara Kota Casablanca, Maroko, Afrika Utara dengan Jakarta--, ada sepenggal jalan yang menghubungkan kawasan Rasuna Said dengan Kampung Melayu. Bila Casablanca membentang dari Kolong Fly Over Rasuna Said hingga pertemuan dengan Jalan DR. Saharjo, maka terus ke arah timur, ruas jalan berganti dengan nama jalan KH. Abdullah Syafi’i. Jalannya sangat lebar dan panjang. Dulunya, hingga tahun 90-an, jalan itu bernama Jalan Lapangan Roos Raya. Lalu, siapakah Syafi’i ini yang bisa menggantikan Lapangan Roos itu? Bisa-bisanya nama itu bertengger di jalan yang cukup prestisius di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Masih di wilayah Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, ada sebidang jalan, sepanjang kurang lebih 800 meter, yang menghubungkan kawasan Gandaria ke arah barat, ke Mall Gandaria City, Kebayoran Lama. Saat itu (sekitar tahun 90-an) di sisi jalan ada perumahan mewah yang cukup mentereng, perumahan Taman Gandaria, makan oleh warga sekitar, jalan itu dinamakan Jalan Taman Gandaria. Namun itu dulu. Kini, jalan itu berubah nama menjadi Jalan KH. M. Syafi’i Hadzami. Lantas, siapakah Syafi’i yang satu ini, yang bisa menggantikan jalan Taman Gandaria? Bisa-bisanya nama itu bertengger di jalan yang cukup prestisius di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Siapa dia?

Keduanya menyandang nama yang sama. Keduanya juga sangat mumpuni di bidangnya. Keduanya juga sama-sama ahli agama. Keduanya juga mempunyai murid ribuan. Keduanya juga berasal dari etnis yang sama. Keduanya juga berguru pada guru yang sama. Ringkasnya, banyak kesamaan diantara keduanya. Ada duet Syafi’i yang berpengaruh dan termashur di tanah Jakarta, hingga nama keduanya ditasbihkan menjadi nama jalan di salah satu kawasan bergengsi di Jakarta. Tanpa ke-duo Syafi’i ini, entah apa jadinya dengan perjalanan Islam dan kehidupan keagamaan di tanah Jakarta pada tahun-tahun mutaakhir ini.

Bagi anak kemaren sore atau yang lahir pada tahun 2000-an, mungkin tidak tahu apa dan siapa duo Syafi’i itu. Boleh jadi dalam benak mereka, Syai’ei adalah nama pahlawan yang berperang di zaman Belanda dulu. Atau bisa jadi mereka berpikir bahwa duo Syafi’i itu adalah hanya nama jawara di kawasan deket-deket situ.

Baik, bagi mereka yang ingin tahu, inilah sedikit kisahnya.

KH. Abdullah Syafi’i adalah putra Betawi yang lahir di tahun 1910. Dari nama belakangnya, maka mudah dikenali bila ia adalah putra dari K.H Syafi'i bin Haji Sairan, seorang guru agama di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Semasa mudanya, ia aktif dalam kegiatan dakwah, belajar dan mengajar. Ia belajar dari berbagai macam guru dan habaib yang bertebaran di Jakarta. Diantara guru-gurunya adalah duo Habib Ali , yakni Habib Ali Kwitang dan Habib Ali Bungur.

Selepas belajar, ia habiskan waktu untuk memimpin dan mengajar murid-muridnya. Lantaran dirasa makin banyak muridnya,  di tahun 60-an ia dirikan, di dekat rumahnya, Perguruan Islam As-Syafi’iyaah di Balimatraman, Manggarai, Jakarta Selatan. Perguruan ini adalah salah satu Perguruan Islam tertua di Jakarta. Saking terkenalnya perguruan ini, banyak para orang tua Betawi yang menyekolahkan anaknya ke sini. (lihat link).  

Selain Perguruan Islam dan Pondok Pesantren di Jatiwaringin dan Pulo Aer, Sukabumi, legacy ayah dari Tutty Alawiyah, --bekas Menteri Peranan Wanita era Presiden Habibie-- adalah Radio Assafiyyah. Zaman tipi hanya ada TVRI, radio ini menjadi radio favorit para orang tua Betawi. Tiap menjelang kumandang azan, radio ini kerap melantunkan Shalawat Tarhim. Untuk positioning, kini radio tersebut berubah nama menjadi Radio RasFM dengan tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai radio rohani keagamaan. Beliau wafat pada 03 September 1985 dan perjuanganya diteruskan oleh anaknya yang bernama KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i.

Adapun KH. M. Syafi’i Hadzami, atau lebih dikenal dengan Muallim Syafi’i, adalah seorang fuqoha atau ahli fiqih dan hukum Islam. Sejatinya, nama aslinya hanya Muhammad Syafi’i. Ia lahir di Jakarta sekitar tahun 1931-an. Jika Habibie dijuluki sebagai Mr Clack lantaran keahliannya menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang, maka putra dari M. Saleh Raidi ini di tasbihkan oleh para gurunya dengan julukan Hadzami lantaran penguasaannya yang mendalam terhadap ilmu-ilmu agama, seperti Ilmu Fiqih; Ilmu Hadist; Ilmu Tafsir; dan Ilmu Tauhid.

Menariknya, bila ulama atau ahli agama kondang disebut dengan panggilan Pak Kyai, maka M. Syafi’i Hadzami, dipanggil dan dikenal di kalangan murid-muridnya dengan panggilan “Muallim”. Tampaknya beliau sengaja menyamankan diri dengan panggilan muallim lantaran kerendah hatian beliau. Gelar Muallim dirasa cocok disandang olehnya, sebab saban harinya, dari pagi hingga larut malam, beliau bergelut dengan kitab dan buku mengajar para murid-muridnya yang notabene kebanyakan sudah ber ‘title’ ustaz dan menjadi guru, yang tersebar diberbagai pelosok Jakarta. Boleh dibilang, Muallim adalah sang professor yang mengajari para doktor dalam keilmuan Islam.

Dimasa kecil hingga mudanya ia tinggal di Kampung Kepu, dekat kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Nah, menjelang usia dewasa baru lah ia hijrah ke bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Itulah sebabnya, Muallim pernah menjadi Pegawai Negeri dan ditempatkan di RRI, yang kantornya di Jalan Radio, Gandaria, Jakarta Selatan. Maka selepas kematiannya --07 Mei 2006-- untuk mengenang ketokohannya, para tetua masyarakat Jakarta mengabadikan namanya menggantikan Jalan Taman Gandaria, yang kebetulan jalan tersebut tepat melintasi makam tempat ia bersemayam dengan kedamaian.

Itulah duo Syafi’i, guru dari para guru dan pemuka agama yang pernah ada di wilayah Jakarta. Mereka berdua berguru pada guru yang sama yakni duet Habib Ali, yakni; Yang pertama, Habib Ali bin Husein Alattas, atau lebih dikenal dengan Habib Ali Bungur (lantaran bertempat tinggal di kawasan Bungur, Senen, Jakarta Pusat). Kedua, Habib Ali Bin Abdurrachman Alhabsy yang tinggal di Kwitang, juga dikenal sebagai Habib Ali Kwitang. Keduanya berasal dari kalangan Habaib, dari Hadramaut, Yaman.

Bersebab dari kedua Habib diatas yang menurunkan ilmu-ilmunya kepada duet Syafi’i inilah ajaran dan tuntunan Islam yang kita anut dan kita amalkan hingga saat ini terus dijaga kemurniannya. Bersilsilah, sambung menyambung dan berterus ke atas hingga ke Rasulullah SAW. Maka, boleh dibilang bahwa muara ilmu agama para ulama dan guru-guru di Betawi yang diturunkan kepada segenap murid-muridnya hingga sampai pada kita adalah bersumber dari kedua Syafi’i diatas. Sejatinya, ke-islam-an umat muslim Betawi di Jakarta adalah bersumber dari mereka. Ya,  jadilah muslim Betawi itu satu ilmu satu guru.