Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2018

Pelajaran Kesetiaan Itu Kita Dapat Dari Mursjid


Setelah resmi menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia, Pak Harto menyalami semua yang hadir di Istana. Ia salami Presiden (pengganti) BJ Habibie, para lelaki bertoga (Ketua dan Wakil ketua MA), dan beberapa pejabat negara berpakaian safari yang hadir dan menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Setelah bersalaman dengan mereka, Pak Harto meninggalkan ruangan tempat upacara, dan dengan bergegas, beberapa orang mengikutinya, termasuk putri kesayangannya, Mba Tutut. Ia lalu beranjak ke ruang Jepara, dimana berkumpul para pimpinan MPR/DPR. Setelah bicara sebentar, ia meninggalkan ruangan itu, langsung keluar menuju beranda istana. Dengan langkah pasti ia turuni kediaman resminya, yang telah ia tempati selama lebih kurang 32 tahun, digamit oleh putrinya yang berkerudung.

Entah, apakah karena terikat oleh aturan protokoler atau ada sebab lain, tak tampak Presiden (pengganti) BJ Habibie mendampinginya saat menuju ke mobil kepresidenan yang telah diubah platnya menjadi plat sipil. Dalam foto-foto sejarah tak tampak pejabat yang menemaninya membuka pintu atau sekadar melambaikan tangan dan berucap: “Selamat jalan pak…!”

Sedetik kemudian, praktis curahan pemberitaan media beralih ke Habibie, sang presiden yang baru. Pak Harto? Tentu diberitakan, namun porsinya bukan sebagai presiden, tapi sebagai mantan presiden dengan pemberitaan ber-tone negatif terkait penyelenggaraan negara yang ia pimpin. Korupsi oleh kroni-kroninya, menjadi bahasan utama media. Sejak saat itu, ia menjadi sosok yang sepi dan sendiri. Ditinggalkan oleh lawan bahkan kawan seperjuangan. 

Beruntung, diantara sekian banyak orang yang meninggalkannya, masih ada sosok yang setia hingga akhir. Meski tahu kapal pasti karam, dan sang nahkoda akan tenggelam bersama kapalnya, ia memilih menemani sang nahkoda bahkan hingga maut memisahkan keduanya. Darinya kita bisa belajar akan arti sebuah kesetiaan. Siapa dia?

Usai Pak Harto mengucapkan kata berhenti, terlihat dalam lintasan kamera sejarah, ada satu pejabat yang masih ngintilin mantan pengusa Orde Baru itu. Dialah Saadilah Mursjid (SM). SM masih mengikuti Pak Harto menuruni tangga istana, terus berlanjut ikut hingga ke kediaman pribadinya di Jalan Cendana. Secara profesional, tak ada kewajiban dari SM untuk melu Pak Harto. Memang, secara kedinasan saat itu ia menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara, tangan kanan sang presiden, Tapi, waktu ia mendampingi Pak Harto menuruni istana, ia bukanlah apa-apanya Pak Harto lagi. Saudara bukan, apalagi keponakan Pak Harto! Kabinet telah demisioner. Bos baru telah dilantik.

Namun itulah yang dapat kita ambil pelajaran dari sosok SM. Ia tak memandang seseorang hanya dalam kacamata hubungan atasan dan bawahan, antara bos dan anak buah, namun lebih dari itu. Ia tahu bahwa persahabatan tak diukur hanya oleh sebatas title dan status diantara dua anak manusia. Kesetiannya dengan Pak Harto menjadikannya seorang sahabat yang tak ada tandingannya.

Dimasa kejayaan Orde Baru, tak banyak yang tahu sosok pria kelahiran 7 September 1937 ini. Ia tenggelam diantara nama-nama besar dan tenar pejabat-pejabat orde baru; Sebut saja; BJ. Habibie, Harmoko, Moerdiono, Akbar Tanjung, Try Sutrisno, LB Moerdani, dan seabrek nama-nama beken lainnya. Menurut Wikipedia, Mursyid mulai menjabat menteri, yakni sebagai Menteri Sekretaris Kabinet pada tahun 1988. Dan ia bukanlah satu-satunya pejabat ‘kesayangan’ Pak Harto. Masih banyak ‘senior’-nya yang mempunyai kedekatan emosional, baik dari jabatan maupun kekeluargaan dengan bapak 6 orang anak ini.  Namun mereka, begitu tahu kapal Soeharto akan karam, beramai ramai meninggalkannya.

Bila dihitung sejak menjabat dan menjadi orang dekat pak Harto (1988) praktis hanya sekitar 10 tahun ia dekat dengan pak Harto. Jika beliau tega’an dan tak menjiwai arti penting sebuah kesetiaan, tentu ia akan mengikuti para ‘senior’nya (mereka yang lebih lama bergaul dengan pak harto) untuk balik kanan, dan meninggalkan sang jendral.

Biarlah, sang jendral menyelesaikan masalahnya sendiri, saya gak mau ikut-ikutan. Bukan apa-apa, takut saya terserat masalahnya. Mungkin itu yang ada di benak mereka.yang meninggalkan Pak Harto. Tak mau ikut-ikutan menanggung beban kesalahan kolektif. Biarlah itu ditanggung Si Bos.

Kesetiaan memang menjadi barang langka dalam hidup ini. Suami/istri tak selamanya setia pada pasangannya. Begitu pasangannya meninggal dunia, ia akan mencari pendamping baru. Begitu pun bos, sering tak setia pada anak buahnya. Ketemu anak buah yang pintar, (anak buah) yang lama akan ditendang. Anak buah pun demikian pula, ketemu bos yang baru, bos lama dicuekin.

Hari ini, tepat 20 tahun reformasi. Diantara kepingan-kepingan peristiwa yang mengiringi perjalanan reformasi itu, tentu ada pelajaran yang bisa kita petik. Dan, kita yang masih hidup akan selalu disuguhkan dengan pelajaran dari model kesetiaan yang ditunjukkan oleh Saadilah Mursjid.
Terima kasih Pak Mursjid!

Minggu, 29 Oktober 2017

Makna Penting Dibalik Sertijab

Bagi anda yang pernah di opname di rumah sakit, tentu akan menyaksikan momen saat pergantian (aplusan) perawat. Tatkala tiba waktu aplusan, perawat lama akan mendampingi perawat baru berkeliling menengok para pasien. Perawat yang lepas tugas akan menjelaskan kondisi dan perkembangan terakhir pasien sebelum diserahterimakan kepada perawat yang menggantikannya. Begitupun dalam aplusan tugas lainnya. Satpam di suatu perusahaan akan menyerahkan buku besar (stambook) yang berisi laporan atas kondisi ‘kamtib’ yang ada di perusahaan. Gunanya tentu agar petugas yang baru tahu kondisi real terakhir yang ia akan hadapi saat bertugas kedepan. Inilah yang dinamakan serah terima tugas.

Nah, bila pada level bawah (perawat di rumah sakit, dan satpam di perkantoran) ada kebiasaan serah terima tugas, tentu pada level pemerintahan (sipil maupun militer) lebih canggih lagi. Bila terjadi pergantian pejabat, maka di pemerintahan dikenal dengan istilah “Sertijab” atau serah terima jabatan. Maksudnya tentu agar pejabat baru mengetahui medan tugas serta apa yang mesti dikerjakan olehnya. Sertijab ini juga semacam perpisahan pejabat lama dan perkenalan pejabat baru kepada para staf kantornya. Sertijab ini bisa juga dimaknai sebagai kesinambungan kerja, dimana, jangan sampai terjadi, yang akan dikerjakan oleh pejabat baru, justru telah digarap oleh pejabat lama, misalnya. Tentu, yang paling utama dari acara serah terima jabatan ini adalah ada pengoperan atau pengalihan tanggung jawab dan wewenang dari pejabat lama ke pejabat baru.

Namun sayangnya kebiasaan baik itu tampaknya belum berlaku secara menyeluruh di tempatku bekerja. Kalau boleh dikatakan belum membudaya dan belum membiasa. Hanya pada jabatan di level-level tertentu saja yang men-tradisikan acara serah terima jabatan (sertijab). Biasanya, setelah si pejabat baru di lantik di Balaikota, maka pejabat lama yang digantikannya pun terkena rotasi, (entah itu mutasi, promosi atau demosi). Pejabat lama pindah ke selatan, pejabat baru masuk di utara. Nah, kedua pejabat ini tidak janjian untuk bertemu di kantor untuk menserahterimakan tugas, tanggung jawab, dan jabatannya. Keduanya langsung berkantor di kantor barunya masing-masing.

Begitulah, si pejabat baru, keesokan harinya masuk kantor baru. Ia melapor kepada Kepala Kantor/Dinas. Oleh Pejabat atau staf yang membidangi masalah kepegawaian, ia diantar ke ruang kerjanya, dan mulailah ia bekerja. Ya, kalau ia sudah paham pekerjaannya lantaran telah lama menguasai bidang itu, tentu tak jadi masalah. Namun, bila ia orang baru, tentu ia akan ‘bengong’ dan meraba-raba tugas dan pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Nah, menyiasati hal itu mulailah ia bertanya-tanya kepada staf (senior)-nya yang lebih paham masalah di bidang itu. Dan, jadilah si staf senior ini ‘mengajarkan’ bos-nya. 

Begitulah yang terjadi. Tampaknya kita harus membudayakan dan membiasakan trasisi sertijab ini. Tradisi ini harus diwajibkan, dan menjadi satu kesatuan dalam proses pelantikan jabatan. Contoh yang bagus dapat kita lihat dalam dunia militer. Biasanya, setelah pejabat baru dilantik, tak berapa lama akan digelar sertijab, dimana pejabat lama menyerahkan panji kehormatan kepada atasannya untuk kemudian menyerahkannya kepada pejabat baru. Begitulah tradisi dan atau kebiasaan baik yang berlaku di militer.

Inilah yang tidak terjadi kemarin, usai Anies Rasyid Baswedan dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Setelah prosesi pelantikan di istana, seharusnya Djarot Syaiful Hidayat, selaku gubernur lama (2017) menyambut gubernur baru di Balaikota untuk melaksanakan serah terima jabatan dengan Anies. Disamping itu, akan terlihat elok bila Djarot mengantarkan dan memperkenalkan Anies kepada para staf dan pejabat dinas yang ada di Pemprov DKI Jakarta, yang akan membantunya nanti. Mungkin moment dimana Djarot memperkenalkan Anies kepada lingkungan kerja di Balaikota akan menjadi headline yang menyejukkan dan tertulis di media dengan judul; “Djarot Menggandeng Tangan Anies, Memperkenalkan Balakikota”. Dan, kira-kira begini obrolan keduanya saat di Balaikota:
Pak Anies, ini loh pak Andri Yansyah yang ngurusin transportasi di Jakarta. Pokoknya, kalau ada apa-apa dengan kemacetan Jakarta, jewer aja pak Andri,” ujar Djarot memperkenalkan Andri Yansyah Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Oh, iya, makasih Pak Djarot, sudah dikenalkan sama Pak Andri,’ jawab Anies dengan senyum mengembang.

Dalam sertijab itu tentu ada penyampaian pesan dan harapan dari pejabat lama sebagai refleksi atas kerja, pengabdian, dan karya yang telah dihasilkan pada 5 tahun yang lalu. Tentu saya berkeyakinan bahwa dalam momen sertijab itu pejabat lama (PL) akan berkata (entah tersirat atau tersurat) kepada pejabat baru (PB):
PL: “Pak, ini loh hasil pekerjaan yang telah kami selesaikan selam kami menjabat. Dan ini yang belum selesai, kalau bisa mohon perkenan ini diselesaikan, sayang lho, sudah nanggung, hampir 80 persen selesai.”
PB: “Oh ya, tentu akan kami selesaikan nantinya. Kalau pun ada perubahan tentu akan kami sempurnakan ke arah yang lebih baik”.

Kalalu sudah seperti ini, maka semuanya akan legawa. Yang telah menjabat rela melepas jabatannya dengan tenang, sedangkan pejabat baru tahu apa yang akan dikerjakan dan warisan apa yang mesti diselesaikan. Jalannya pemerintahan pun akan berkesinambungan. Itulah hikmah sesunguhnya dari serah terima jabatan.

Meski menghadiri dan melaksanakan serah terima jabatan bukan suatu keharusan, namun inilah suatu tata krama yang seharusnya dilakukan oleh seorang ksatria. Tampaknya level ‘kenegarawan’ Djarot hanya sampai tingkat kabupaten. Ia tidak dapat menempatkan diri sebagai seorang tokoh yang layak dijadikan panutan.

Bahkan saking geram-nya dengan tindakan Djarot --saat menyaksikan tayangan televisi tatkala ia asyik berlibur di Labuhan Bajo--, istri-ku sempat bergumam bahwa dia (Djarot) type orang yang tak punya tata krama yang tinggi. “Memangnya liburan gak bisa diundur sehari, kan dia (djarot) sudah tau kalau hari senin itu Anies dilantik,” ujar istriku. Maklum, istri saya sangat njawani sekali, ia wanita Klaten, Jawa Tengah, perasaan dan pembawaannya memang halus. Aku hanya tersenyum mendengar gumamannya. Tampaknya istriku begitu naïf dengan menganggap bahwa tiap orang Jawa pasti santun dan bertata krama yang tinggi.


Maka ingatlah, kekuasaan itu ada batasnya. Tak selamanya kita mengangkangi jabatan dan kekuasaan. Ada masanya kita akan surut (fade away). Hari ini dilantik, maka esok atau kapan saja, kita akan menyerahkan jabatan itu kepada pengganti kita. Tak ada yang abadi. Yang abadi adalah sifat ksatria kita yang akan kita wariskan pada anak cucu kita kelak. 

Senin, 09 Oktober 2017

Cium Tangan; Bahkan Mafioso Italia Pun Melakukannya

Tak hanya para mafioso di Italia sana yang lazim mencium tangan sebagai tanda tunduk, hormat dan pemasrahan diri pada para godfather atau pelindungnya, dalam masyarakat muslim di Indonesia, kebiasaan cium tangan ini sudah menjadi adat atau kelaziman yang banyak kita jumpai dalam keluarga. Biasanya, cium tangan kerap dilakukan oleh orang muda kepada yang paling tua. Anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya, istri kepada suaminya, dan bahkan yang lebih ‘gila’ lagi, bawahan kepada atasannya. Cium tangan ini sebagai wujud tanda bakti, penghormatan, kepasrahan dan penyerahan diri dari yang mencium tangan kepada yang diciumi tangannya.

Dari kecil, oleh orang tua, saya diajarkan untuk mencium tangan kepada para ncang, ncing, dan kerabat keluarga orang tua saya, terlebih kepada guru-guru yang mengajar saya di sekolah. Ciuman di telapak tangan yang diajarkan oleh orang tua saya tentu berbeda dengan ciuman tangan anak milenial zaman sekarang. Anak zaman sekarang kebanyakan meletakkan tangan orang yang diciumnya di dahi, atau dipipinya. Jarang yang meletakkan tangan di hidungnya, seperti waktu saya kecil dulu.

Cara dan gaya cium tangan ini tampaknya telah berubah mengikuti mode dan perkembangan zaman. Anak zaman sekarang tak lagi diajarkan bagaimana mencium tangan dengan sempurna. Memang, tak ada aturan baku (manner) dalam tata cara mencium tangan. Cium tangan yang sering saya lakukan ke orang tua atau guru saya tentu berbeda dengan cium tangan gaya mafioso Italia, ataupun cara cium tangan para pembesar (pangeran) dari Eropa terhadap tuan putri-nya.

Itulah yang terjadi. Setelah hampir lebih dari seperempat abad tak bersua dan mencium tangannya, barulah pada Ahad, 08 Oktober 2017, kemarin, tanganku kembali dapat mencium tangannya. Ada getaran dan aura berbeda yang kurasakan, namun getaran dan wangi tangannya itu masih sama saat pertama kali saya mencium tangannya sekitar pertengahan tahun 1988. Meski genggaman tangannya tak sekeras dulu, namun kelembutan tangannya masih kurasakan. Tak banyak yang berubah dari menantu KH. Abdul Manaf Mukhayar ini. Meski bicaranya pelan dan tak selantang dulu, namun logat Cirebon-nya masih tampak kental terdengar di telingaku saat kami duduk bersanding berdua.

Dahulu, saat itu kami para pelajar atau santri Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Kebayoran Lama (waktu itu belum menjadi bagian dari Kecamatan Pesanggrahan) begitu mudahnya berjabat tangan dengannya. Bahkan, saking mudahnya, sehari bisa lima kali cium tangan, bolak balik! Pasalnya, hampir saban shalat rawatib beliau meng-imami kami, para santrinya. Tak (jarang) pernah absen! Nah bila pengen berjabat dan mencium tangannya, maka datanglah di awal waktu sholat dan duduk persis dibelakang mihrab imam. Selepas shalat, beberapa santri yang berada dekat posisi imam berebutan untuk ngalap berkah dan mencium tangannya. Dan itu menjadi kebahagian tersendiri bagi para santri baru, seperti kami. Bagi santri lama, mereka cukup tahu diri, jarang yang mengambil shap dimuka, dan sengaja memberikan ‘previllage’ itu untuk para santri junior.

Meski saya dan teman-teman semasa tiga tahun awal pertama di Darunnajah tak pernah sekalipun diajar di kelas oleh beliau, namun kehadirannya dalam meng-imami shalat kami, lima kali dalam sehari, sudah cukup dan sangat besar efeknya dalam menguatkan mental belajar kami. Kehadiran Kyai jebolan Pondok Gontor ini semacam pelecut dan penambah spirit kami dalam mengarungi kehidupan. Asal tahu saja, tak banyak Kyai pimpinan pondok pesantren yang sanggup mengimami para santri-nya lima kali dalam sehari alias total full mengelola dan mengasuh santri-santrinya, even pesantren besar sekelas Tebuireng dan Gontor sekalipun.

Begitulah. Selepas ‘pergi’ di tahun 1991, lantaran tak kuat dengan gigitan bangsat di Pesantren, saya tak pernah sekalipun mencium kembali tangannya. Rada malu juga tatkala saya berucap di dekat telinganya bahwa ini adalah pertemuan kembali saya dan ayah setelah seperempat abad lebih. Ayah berkata lirih: “Kenapa tak main ke pondok dan bertemu ustaz (ayah)?”
Jlebb.. jawaban yang menohok sekaligus membuat diri ini terasa malu didepannya. Ya, meski saya pernah beberapa kali menyambangi pesantrennya, namun untuk bertemu “Sang Ayah” rasanya malu dan sungkan. Apalah artinya saya yang waktu itu masih remaja, masih begajulan. Maqom beliau terlalu tinggi untuk ditemui, padahal ia selalu membuka diri dan mudah ditemui oleh siapa saja, apalagi oleh santrinya sendiri. Maafkan saya ayah yang tak mau menemui ayah sewaktu kunjungan ke pondok.

Oh ya, dulu kami memanggilnya dengan sebutan Kyai Mahrus, sapaan hangat dari KH. Mahrus Amin. Dan, entah sejak kapan pangilan “Kyai Mahrus” berubah menjadi ayah. Panggilan “ayah’ ini dibiasakan dan dibahasakan oleh temen-teman saya yang lebih dekat dengan beliau ketimbang saya. Saya pun awalnya agak kikuk memanggilnya ayah. Namun tatkala saya mendengar teman-teman memanggil ayah kelahiran 14 Februari 1940 ini dengan panggilan sayang ayah, saya pun ikut. Ya, mungkin lantaran kami para santri yang sudah lulus lebih menganggap beliau ini selayaknya ayah kami. Kecuali ayah dalam nasab (biologis), KH. Mahrus Amin adalah ayah dalam segala hal. Mulai dari tempat mengadu, berkeluh kesah, dimintai nasehat, wejangan, sampai tempat kami menumpahkan emosi kami padanya. Suka, duka, sedih, dan gembira.


Maka seperti kepada orang tua dan guru-guru saya yang lainnya, begitupun yang Anda lihat dalam foto yang saya tampilkan, itulah bukti penyerahan diri saya pada figur yang saya hormati, Ayah Mahrus. Lantas, sebagai tanda hormat dan cinta kasih anda, sudahkah anda mencium tangan ayah, bunda, dan orang-orang terkasih di sekeliling Anda??

Rabu, 13 September 2017

Untung Ada Foke: Menengok Proses Seleksi CPNS Pemprov DKI Jakarta.

Minggu-minggu ini adalah waktu-waktu tersibuk bagi para sarjana lulusan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk menyiapkan berkas dan persyaratan yang diperlukan untuk mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tak hanya itu, mereka pun dituntut kesiapan mental dan me-refresh kemampuan dan pengetahuan mereka agar siap untuk bertarung dalam ajang seleksi CPNS. Jika ada satu kekurangan yang luput saja, niscaya akan membuyarkan impian mereka menjadi CPNS.

Bicara mengenai integritas dan profesionalitas PNS sangat erat kaitannya dengan proses atau awal mula seseorang diterima menjadi CPNS. Bila dalam proses penerimaannya diawali dengan cara-cara kotor, hasilnya pun akan kotor. Maka, agar diperoleh PNS yang bagus, harus dimulai dari hulu-nya yakni proses seleksi penerimaan itu sendiri. Mulai dari keterbukaan penyampaian informasi (diumumkan secara resmi dan tranparan proses dan tahapan-tahapannya sampai kepada pengumuman kelulusannya) hingga yang terpenting adalah proses atau tahapan seleksi itu sendiri. Bagaimana para pengambil kebijakan (Panitia Seleksi) menjalankan proses seleksi itu secara fair, jujur, transparan dan bersih. Bila proses awalnya bagus, dalam arti tak ada unsur KKN, maka boleh kita berharap bahwa output atau pegawai yang nanti akan di terima menjadi PNS adalah pegawai dengan kualitas dan integritas diatas rata-rata.

Lalu, adakah role model proses seleksi CPNS yang bersih yang pernah kita rasakan? Sekitar tahun 2009 hal tersebut pernah diterapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo atau Foke. Beliau, meski orang Betawi asli namun tidak aji mumpung dengan cara mengistimewakan atau memberikan privilege kepada orang Betawi untuk bekerja dan berkarier di Pemprov DKI Jakarta. Padahal, --kalau beliau mau-- bisa saja memasukkan sebanyak mungkin putra-putri asli Betawi untuk mengabdi di Pemprov DKI, wong dia Gubernur-nya. Bicara dari segi kepatutan dan kewajaran, bisa dimaklumi bila ada putra daerah yang diberikan prioritas untuk membangun dan mengabdi di daerahnya. Selain itu, kedekatan beliau dengan para tokoh masyarakat Betawi, ulama, dan pemuda-nya yang notabene mayoritas ber-etnis Betawi sangat lah mudah untuk membuat kebijakan yang pro-Betawi, even menyangkut kebijakan rekrutmen pegawai di Pemprov DKI Jakarta. Tak hanya itu, Sekda Provinsinya pun, Muhayat, yang juga berdarah Betawi, tentu akan meng-amini setiap langkah dan kebijakan sang Gubernur. Namun kedua pimpinan pemerintahan tertinggi di ibukota ini tidak melakukan itu. Mereka berdua bekerja secara professional, dengan menanggalkan jubah suku dan etnis Betawinya.

Saking cintanya Fauzi Bowo kepada kota Jakarta, beliau tak ingin merusak Jakarta dengan mewariskan aparatur yang tidak professional, tidak bersih, dan tidak kredibel. Pada masa-nya lah dimulai proses seleksi CPNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang transparan, bersih dan professional. Teman saya, wong ndeso dari Pacitan dan Klaten, misalnya, bisa keterima lulus menjadi CPNS di Pemprov DKI Jakarta. Padahal di satu sisi banyak pemuda potensial Betawi yang masih ngangur. Namun itulah seleksi. Tidak ada kebijakan afirmatif action yang digulirkan Fauzi Bowo bagi etnis Betawi meskipun itu hanya untuk berkarier di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Akibatnya pada masa penerimaan CPNS Pemprov DKI Jakarta periode 2009 itulah dihasilkan para staf CPNS yang kredibel, professional dan mumpuni di bidangnya masing-masing. Para PNS Pemprov DKI Jakarta dengan NIP 2010 adalah pegawai pilihan dengan latar belakang dari universitas terkemuka di tanah air. Saat itu sarjana-sarjana terbaik jebolan dari Unpad, ITB, dan UI, terserak di dinas-dinas teknis yang ada di Pemprov DKI.

Fauzi Bowo sebagai pegawai yang telah lama berkarier di Pemprov DKI Jakarta tampaknya memendam luka lama. Sudah menjadi rahasia umum pada sekitar tahun 70 – 90-an di Pemprov DKI Jakarta dikuasai oleh etnis dan suku tertentu. Saat itu dikenal dengan istilah “Babi Kuning”. Bila atasan atau pimpinan di dinas atau instansi tersebut berasal dari etnis A, maka semua pejabat bawahannya hingga staf-nya akan terkoneksi dengan si bos. Orang diluar kelompok itu akan sulit masuk ke dinas tersebut. Pasalnya, setiap ada rekrutmen, pasti yang diprioritaskan untuk masuk dan diterima bekerja adalah mereka yang berasal atau satu etnis dengan pimpinannya. Jadilah di dinas tersebut menjadi dikuasai oleh mereka yang satu group.

Kita tidak dapat membayangkan bila proses dan cara-cara ‘jahiliyah’ ini diteruskan dan tidak diputus mata rantai-nya oleh Fauzi Bowo maka dapat dipastikan langgam dan gaya pelayanan pemerintahan di DKI Jakarta mungkin menjadi tidak professional, lemah, amburadul, bahkan hancur. Tak ada yang bisa diharapkan dari mereka, calon pegawai, yang (proses) diterimanya  dengan dengan cara sogokan, kedekatan kekerabatan (nepotisme), dan kolusi. Nah, usaha yang dirintis oleh Foke inilah yang tinggal dipetik hasilnya dengan manis oleh penggantinya yakni Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Betapa Ahok, saat menjabat sebagai gubernur sangat membangga-banggakan angkatan 2010 sebagai angkatan yang hebat, professional, dan kredibel. Tak heran banyak dari angkatan ini yang diangkat Ahok menjadi pejabat dan menjadi ujung tombok setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Kalau saja tak ada angkatan 2010, entah apa yang terjadi dengan kepemimpinan Ahok? Beruntung Ia banyak dibantu oleh staf PNS professional hasil kebijakan seleksi yang dilakukan oleh Gubernur Fauzi Bowo.


Kini, pemerintah pusat kembali membuka kesempatan kepada putra putri terbaik bangsa untuk berkarier sebagai PNS. Langkah ini patut kita syukuri bersama, mengingat sudah beberapa tahun ini penerimaan pegawai ditiadakan. Kita sama-sama berharap semoga niat baik dan upaya mereka, para sarjana, putra putri Indonesia, yang memang tulus dan ikhlas untuk mengabdi bagi kejayaan, kemajuan nusa dan bangsa Indonesia dapat diapresiasi dengan sebaik-baiknya dengan tidak menyimpangkan proses seleksi CPNS 2017 menjadi ajang titip menitip anak, keponakan, tetangga, kerabat, dan anak-anak dari teman-teman sang pejabat. Semoga dengan proses seleksi, seperti yang pernah dilakukan di Pemprov DKI Jakarta era Fauzi Bowo, menjadi barometer dalam proses seleksi CPNS yang bersih, transparan, adil, dan jujur. Semoga!

Sumber Foto: http://www.tigapilarnews.com/berita/2017/07/01/112508-Pemprov-DKI-Ancam-Potong-Uang-TKD-PNS

Selasa, 09 Mei 2017

Layakkah Ahok di-Cipinang-kan?

Sebagai umat manusia yang beradab, kita telah bersepakat, bahwa segala perselisihan yang terjadi diantara kita diputuskan dan diselesaikan melalui mekanisme (jalur) pengadilan (hukum). Kita tak mengenal hukum rimba dimana yang kuat memangsa yang lemah, atau yang kuat bertindak semena-mena terhadap yang lemah. Hukum adalah panglimanya. Dan, tatkala ada seseorang disangka telah menodai suatu agama yang dianut di Indonesia, maka untuk meredakan gejolak yang terjadi di masyarakat, perangkat penegak hukum memproses yang bersangkutan. Yang bersangkutan diajukan ke muka hakim untuk diadili.

Hakim sebagai wakil Tuhan di dunia pada tanggal 09 Mei 2017 telah menetapkan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok secara sah dan meyakinkan terbukti telah menodai ajaran agama (Islam) yang dianut di Indonesia. Ahok telah melanggar pasal 156a KUHP yang isinya: Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

Selain menghukum Ahok dengan pidana penjara selama dua tahun, dalam amar putusannya, majelis hakim juga memerintahkan agar Ahok ditahan! Tepatkah perintah penahanan Ahok ini, mengingat selama ini perlakuan terhadapnya sangat berbeda dengan terdakwa kasus penodaan agama lainnya, dimana Ahok selama proses persidangan tak pernah sekalipun ditahan?  

Keputusan hakim tentu tak memuaskan semua pihak. Bagi pro Ahok, keputusan itu dirasa berat. Namun bagi kontra Ahok keputusan itu tentu terlalu ringan dan tak sebanding dengan kasus-kasus penodaan agama lainnya, seperti yang melibatkan Arswendo dan Mushaddeq, misalnya, yang di vonis lebih berat dari Ahok.

Bagi kita yang mempercayai institusi pengadilan, keputusan hakim adalah keputusan ‘final’ dalam arti keputusan itu sebagai penentu untuk mengakhiri polemik yang selama ini berkembang di masyarakat mengenai salah atau tidaknya Ahok dalam kasus penodaan agama Islam. Palu hakim telah terketuk, sedangkan Ahok memilih banding. Selama proses banding inilah, bukan berarti ahok terlepas dari stigma bersalah, karena banding, tidak serta merta menggugurkan putusan hakim. Dalam kaidah hukum dikenal dengan Res Judicata Pro Veritate Habetur yang berarti putusan hakim itu dianggap benar dan harus dihormati. Ini berarti keputusan hakim --PN Jakarta Utara (Hakim Dwiarso)-- diangap benar sebelum pengadilan yang lebih tinggi memutus lain atau sepanjang belum ada putusan yang membatalkannya. Selengkapnya lihat: (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PHPU.D-X/2012, hlm. 152-153).

Salah satu tujuan dari penerapan hukum adalah agar menjadi pembelajaran bagi pelaku itu sendiri, agar pelaku menyadari kesalahan-kesalahannya dan segera memperbaikinya. Dengan ditahannya Ahok, maka diharapkan akan menimbulkan efek jera bagi yang bersangkutan, agar ia segera kapok dan tak mengulangi lagi perbuatannya. Salah satu yang memberatkan Ahok dimata hakim adalah, bahwa yang bersangkutan tidak menyesali perbuatannya. Semoga dengan kasus ini Ahok insyaf, menyadari kesalahannya, dan menjadi manusia yang lebih baik. Baik perangainya, baik tutur katanya, dan baik segalanya. Kita tentu berharap, selepas dari penjara, Ahok diharapkan seperti bayi yang baru dilahirkan, suci bersih. Memulai hidup baru dengan kehidupan lebih baik.

Disamping itu, penahanan segera Ahok juga berfungsi sebagai pembelajaran bagi kita bahwa yang salah pasti akan di hukum, atau bahasa sederhananya adalah, siapapun tidak kebal hukum (penjara) dan agar kita (masyarakat) tak meniru tindakan yang telah dilakukan oleh pelaku. Bahwa perbuatan melanggar pidana akan mendapat ganjarannya yakni di penjara. Bahwa di penjara itu tak enak, maka hindarilah masuk penjara dengan tidak melanggar hukum. Itu pesan moralnya.

Semoga dari kasus Ahok ini kita memperoleh pelajaran bahwa tutur kata harus kita jaga. Jangan mengomentari dengan ‘melompat pagar’ membahas isi kitab dari agama yang bukan agama yang kita anut. Jadikan kasus Ahok ini sebagai momentum untuk saling hormat menghormati antar pemeluk agama. Dengan itu niscaya kerukunan umat beragama akan tetap lestari dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Sumber foto:


Senin, 24 April 2017

Berkaca Dari Cerita Semut, Tak Susah Memahami Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Syahdan, tersebutlah kisah tentang komunitas semut disuatu tempat, di kawasan Sentul, Jawa barat. Para semut tinggal di suatu lembah yang tersembunyi, di kelilingi oleh tanaman perdu dan rumput-rumput ilalalng. Kawasan yang dihuni oleh komunitas semut ini sangat terlindungi dari gangguan mahluk-mahluk lainnya. Jarang ada binatang maupun manusia yang pernah singgah ke lembah tersembunyi itu. Kalaupun ada manusia yang kesana, tentulah para pencari kayu bakar ataupun kelompok pecinta alam.

Sama seperti bangsa manusia, mereka pun suka kongkow dan ber-sosialita. Ada suatu tempat favorit sebagai meeting point mereka untuk ngobrol sekaligus melepas penat setelah seharian mencari makan atau bekerja di sekitar rumah-rumah mereka. Saban pagi atau sore, para semut itu berkumpul di suatu tempat membicarakan urusan mereka. Tempat ini semacam alun-alun kota. Kebetulan disana terdapat semacam bangunan yang enak untuk dijadikan sandaran atau berteduh.

Diantara komunitas semut itu, ada beberapa ekor semut yang cukup berpengaruh diantara semut-semut lainnya. Karena ketokohan dan pengaruhnya, masing-masing semut menjadi pelindung bagi kelompok semut yang lemah diantara mereka. Semut itu semacam God Father yang melindungi semut-semut lemah dari ancaman semut-semut lainnya yang lebih besar dan kuat. Nah, diantara tokoh-tokoh semut itu terdapat seekor semut yang disenangi oleh semut-semut lainnya. Ia disenangi lantaran tak pernah berbohong, dapat dipercaya, atau bahasa kerennya mempunyai integritas yang tinggi, selalu bersikap ramah, adil dan menolong kepada semut-semut lainnya. Ia juga memiliki tutur kata halus, berbudi pekerti baik, dan, satu lagi, ia dikenal sebagai keturunan dari keluarga semut yang terpandang. Terpandang bukan karena kekayaannya, namun terpandang karena ketokohannya diantara bangsa semut-semut lainnya. Kita panggil saja semut ini dengan sebutan Semut Ireng.

Nah, pada suatu pagi yang cerah, di saat komunitas semut itu berkumpul seperti biasanya di ‘alun-alun kota,’ Semut Ireng ini bercerita kepada bangsanya.
“Hai bangsaku aku baru saja pergi ke tempat yang sangat jauh dari sini. Tempat itu sangat menarik dan bagus, belum pernah aku lihat tempat sebaik tempat itu. Aku menyebrangi sungai yang airnya jernih. Disana juga aku melihat taman-taman yang indah, yang tak ada di sekitar tempat kita ini. Aku juga melihat teman-teman kita, para semut lainnya sedang berjalan-jalan menyusuri jalan yang aku lewati.”  
“Ahh masa, yang benar saja? Aku tak percaya pada ceritamu, Semut Ireng. Aku lihat kamu tadi malam tidur di rumah istrimu, lalu bagaimana mungkin kamu pergi ke suatu tempat yang kau ceritakan itu. Untuk keluar dari lembah ini saja, kita butuh perjalanan satu purnama penuh, lalu bagaimana mungkin kamu dapat pergi ke suatu tempat seperti yang kau ceritakan itu? Kau pembohong besar, bulshit!! (kata bulshit juga dikenal di komunitas semut, yang berarti omong kosong, heheh..)

Lalu, terjadilah kehebohan di komunitas semut itu atas cerita dan pengakuan si Semut Ireng. Mereka menudingnya telah gila. Namun tak semua semut menuduhnya berbohong, ada satu teman Semut Ireng, yang mempercayai ceritanya.
Kalaupun Semut Ireng bercerita atau membual yang lebih heboh dari cerita ini, aku pasti mempercayainya. Sepanjang kehidupanku, tak pernah aku temui semut sejujur Si Ireng di lembah ini. Maka, mana mungkin ia mempertaruhkan kredibiltasnya, hanya untuk cerita yang kalian katakana bohong ini. Aku beriman dan percaya pada kisahnya,” ujar satu teman si Ireng.

Pembaca, bila memakai logika para semut tentu takkan mungkin ia pergi ke suatu negeri yang jauh hanya dalam hitungan setengah malam saja. Namun, bila memakai logika mahluk yang bernama manusia, apa yang dialami Semut Ireng itu tidak lah mustahil. Menurut logika manusia, kisah yang terjadi pada Semut Ireng ini bisa dikisahkan sebagai berikut:

Pada saat Semut Ireng tidur, ia dibangunkan oleh sosok mahluk besar bernama manusia. Sosok itu memegang tubuh kecil Semut Ireng dengan hati-hati dan meletakkannya ke sebuah mobil. Lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju ke jalan tol Jagorawi, dan melewati beberapa kawasan yang tak pernah di lihat oleh Semut Ireng. Nah, tibalah mobil itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Disana telah menunggu pesawat jet pribadi yang memang telah disiapkan untuk membawa orang itu beserta Semut Ireng ke suatu wilayah/negeri yang jauh, yang  belum pernah dilihat oleh bangsa semut.

Dengan kecepatan supersonik pesawat jet pribadi itu terbang, melintasi Pulau Sumatera, Lautan Hindia, terus berputar hingga sampailah pesawat itu ke Pegunungan Himalaya, di Nepal. Di puncak bukit, di dataran tinggi itu, pesawat mendarat. Lalu orang yang membawa Semut Ireng itu turun bersamanya. Dan Semut Ireng itu bertemu dengan mahluk-mahluk lainnya yang mendiami pegunungan Himalaya. Sampai akhirnya Semut Ireng itu bertemu dan berbicara dengan Penciptanya, di puncak gunung Himalaya.

Dalam perjalanan dari Halim ke Himalaya itu, Semut Ireng sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Tak sampai subuh, pesawat itu sudah terbang kembali ke Halim dan orang itu membawa kembali si Semut Ireng ke rumahnya kembali ke komunitasnya.

Lalu Semut Ireng mulai bercerita seperti cerita diawal tulisan ini. Itulah kisah perjalanan ‘Isra’ Mi’raj’ si Semut Ireng dari Sentul hingga Halim, di Jakarta, lalu ia terbang ke pegunungan Himalaya di Nepal. Peristiwa yang menimpa Semut Ireng itu bisa dikatakan kejadian yang luar biasa dan merupakan peristiwa yang tergolong suprarasional dan metafisika bagi bangsa semut. Namun, lain halnya bagi bangsa manusia, atau bagi alam pikiran manusia. Kejadian yang menimpa Semut Ireng itu tidaklah sulit untuk dipahami. Ia begitu mudah untuk dicerna. Sama halnya dengan kisah Isra’ Miraj-nya Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu tentu sulit untuk dipahami oleh akal manusia biasa. Akan tetapi, dari percontohan dan cerita tentang Semut Ireng diatas, kisah yang dialami Nabi Muhammad SAW tidak lah sulit untuk dipahami. Ia nyata adanya, bukan isapan jempol belaka..

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di Palestina) yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ ayat 1)


Sumber photo: http://islamidia.com/kenapa-rute-isra-miraj-lewat-palestina-ini-penjelasan-detailnya/

Kamis, 20 April 2017

Mari Jadikan Anies-Sandi Gubernur Kita Bersama

Keriuhan Pilkada DKI Jakarta baru saja usai. Beruntung kita mengenal metode hitung cepat atau Quick Count hingga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui siapa pemenang dari perhelatan 5 tahunan ini. Dari hasil hitung cepat yang disajikan oleh berbagai lembaga survey, tampak dengan jelas dan meyakinkan, kemenangan pasangan Anies-Sandi atas pasangan yang diusung oleh koalisi PDIP, Golkar dan Nasdem. Dan segera, setelah publik mengetahui hasil hitung cepat tersebut, beragam, komentar, ucapan dan pendapat dari warga masyarakat bermunculan. Ada yang pro atau berpendapat positif, ada pula yang masih nyinyir.

Bagi mereka yang jagoannya menang, tentu komentar yang berupa puja puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah pemimpin baru, di panjatkan tak henti-hentinya oleh mereka. Nyaris seluruh isi timeline di media sosial dihiasi oleh kalimat-kalimat penyejuk, pembakar semangat dan harapan menyongsong era baru. Ungkapan dan komentar tersebut sebagai wujud perasaan gembira dan rasa syukur yang meraka rasakan. Tak hanya di media sosial, di dunia nyata pun, keriuhan dan kegembiraan segera tampak begitu masyarakat mengetahui psangan Anies-Sandi menang, ribuan rakyat melakukan sujud syukur, bahkan banyak diantara mereka menangis terharu menandakan sudah lama mereka mengidam-idamkan mempunyai pemimpin  yang santun, cerdas, amanah, dan bersih.

Nah disisi yang berbeda, bagi pendukung pasangan Ahok-Djarot, atau pasangan yang kalah, kesedihan tentu mereka rasakan. Banyak diantara mereka yang seolah tak percaya bahwa Ahok-Djarot kalah dengan selisih  suara yang sangat signifikan. Untuk menghilangkan kesedihan itu, mereka pun membangkitkan semangat dengan komentar dan pendapat, yang kebanyakan membesarkan hati dengan mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas upaya, dedikasi dan hasil kerja yang telah ditorehkan oleh Ahok-Djarot untuk masyarakat Jakarta selama ini.

Namun apakah hiruk pikuk Pilkada telah berakhir, setidaknya di media sosial? Tampaknya ‘perang’ di media sosial masih terus berlanjut, baik haters maupun lovers ataupun pengamat partisan masih beradu panggung. Seharusnya, setelah 19 April 2017, pukul 14.00, tensi keriuhan Pilkada ini berangsur menurun, namun yang terjadi, masih saja timeline dihiasi oleh perang opini. Patut disayangkan, dari beragam pendapat yang menghiasi timeline itu, ada saja yang masih bersikap nyinyir dan segan untuk mengakui keunggulan dan kemenangan pihak Anies-Sandi.
Horeee gw mo’ ambil rumah DP 0 rupiah.”
 “Siap-siap deh perda syariah diberlakukan.”
Padahal, seperti kita ketahui, pasangan Anies-Sandi dilantik saja belum, kok sudah ditagih janjinya dan di fitnah macam-macam. Mereka beralasan, hal tersebut bukan menagih janji namun mengingatkan Anies-Sandi akan janjinya. Namun apakah elegant mengutarakan hal itu mengingat masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama masih tersisa 6 purnama lagi. Justru ke-nyinyiran-lah yang tampak.

Bahkan, tak hanya itu, muncul pula peramal-peramal dan cenayang masa depan yang sudah dapat memperdiksi masa depan Jakarta lima tahun kedepan, seperti:
“Jakarta bakalan banjir dan macet kembali”. Lho, bukankah sejak dulu juga Jakarta identik dengan macet dan banjir. Justru bila tidak macet, pasti ada yang salah dengan Jakarta. Hanya ada 2 peristiwa yang membuat Jakarta tak macet yakni pas lebaran dan kerusuhan.
“Jakarta akan kembali di rampok oleh mafia anggaran”
“Jakarta bakalan menjadi banjakan sarang korupsi”
“Jakarta akan menjadi sarang radikalisme”
Begitulah predikasi dan ramalan-ramalan seram lainnya, yang prediksi ini hanya fitnahan belaka dan justru kontra produktif untuk upaya merekatkan kembali Jakarta yang selama ini terkotak-kotak. 

Kini pesta telah usai. Kehidupan tak berhenti hingga di tanggal 19 April 2017. Marilah kita hadapi hari esok, lusa, dan mendatang dengan kerja nyata demi kemajuan Jakarta. Kepada seluruh warga Jakarta, khususnya pendukung Ahok-Djarot, jangan berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Ahok-Djarot adalah pemimpin yang baik. Kini kita tagih dan usut janji-janji kampanye yang telah mereka ucapkan sejak tahun 2012 agar seluruh janji-janji itu tergenapi. Tak ada kata terlambat. Mumpung masih ada waktu 6 bulan, segera tuntaskan segala janji-janjinya, bia ada janji-janji itu yang belum terselesaikan. Ya, terlepas dari plus minus dan pro kontra, pasangan Ahok-Djarot telah berbuat yang terbaik untuk Jakarta. Telah ada program dan prestasi yang mereka banggakan sebagai legacy bagi penerus mereka. Kepada pasangan Ahok-Djarot, selamat kami ucapkan. Kalian telah membuat kami bangga pada Jakarta.

Dan akhirnya, kemenangan pasangan Anies-Sandi sejatinya adalah kemenangan akal sehat, kemenangan hati nurani dan kemenangan semua warga Jakarta yang selama ini mendambakan keadilan. Kini, marilah kita songsong Jakarta dengan semangat membangun, berjabat dan bergandengan tangan erat dengan menghilangkan kotak-kotak yang selama ini menjadi sekat diantara kita. Dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI kita jadikan Jakarta sebagai barometer kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, nyaman, damai dan tentram bagi kita semua. Maju kotanya, bahagia warganya, semoga terwujud.


Sumber Foto: http://www.klasemen.co/nasional/peristiwa/1617/berita-terkini-begin-bocoran-strategi-anies-baswedan-dan-sandiaga-uno-hadapi-putaran-2-pilkada-dki/

Kamis, 13 April 2017

Haji Maidih

(Ki-Ka) Haji Husin Mugni; Haji Asmari; Haji Maidih; Haji Abdul Razak.
Haji Maidih telah lama wafat. Beliau kukenal sebagai orang tua yang suka memakai sorban. Sorban yang sering ia kenakan itu telah lusuh dan kucel, berpadu dengan pakaiannya yang juga telah tipis dan pudar termakan usia. Biasanya, ia mengenakannya bila menghadiri undangan selamatan atau arwahan. Nah, selain sorban, menariknya, bila pergi kemanapun, ia selalu membawa senter. Senter ini ia gunakan sebagai penunjuk jalan. Batu baterai-nya hampir saban hari d-‘chas’ di teriknya matahari. Padahal menurutku, tanpa senterpun, jalan-jalan yang ia lalui di sekitaran Kampung Kebon, Kemang, sudah berlampu semua. Sudah terang. Keadaan sekitar tahun 80-an saat itu, tentu kontras dengan yang dijumpai Kong Maidih, sapaan akrabku padanya, ketika ia muda, saat lampu belum ada, dan jalan masih beralaskan tanah. Aku tak ingin bercerita banyak tentangnya. Namun ada beberapa kalimat yang mengusik pikiranku tatkala kami ngobrol ngalor-ngidul dengan ayah dari Haji Matalih ini.

Baba-nya Ji Damin ntu, diculik waktu zaman NICA. Gak balik-balik”. Itulah kalimat yang sering ia ucapkan kala tahu aku adalah ponakan Haji Madamin... (to be continue)
(kisah tentang penculikan kakek-ku akan kuceritakan pada alinea berikutnya)

Kamis, 09 Maret 2017

Rano, Sang Legenda Remaja Sepanjang Masa

Baru saja aku membaca kisah hidup Rano Karno yang dibukukan oleh penerbit Gramedia. Bukunya berisi kisah dan perjalanan hidup putra aktor legendaris Sukarno M. Noer,  dari sejak kecil, yang tinggal di gang sempit berbau (maaf) ta*, di kawasan Kemayoran, hingga ia menjadi Gubernur Banten menggantikan Atut. Meski aku dan Rano tidak seumuran, dan berbeda generasi, namun saat aku kecil, aku sangat akrab dengan film-film yang ia bintangi. Maklum saja, zaman aku SD hanya film yang dibintangi oleh Si Doel lah yang merajai jagat bioskop di tanah air. Film-film Rano sering pula di putar di TVRI, sebagai satu-satunya tipi pada masa itu. Jadi, tak mengherankan bila hanya Rano lah bintang dan idola remaja saat itu. Bukan profile Rano yang ingin aku ulas, namun aku ingin berbagi kisah tentang figur dan idola remaja pada masaku. Figur mereka tentu tak lepas dari film-film yang mereka bintangi.

Bagi remaja seusiaku, saat itu di tahun 90-an, kami nyaris tak punya figur idola remaja. Memang selepas era Rano, aku masih ingat, ada beberapa artis yang menjadi teen figure. Saking ngetop-nya, wajah mereka dengan mudah ditemukan di sampul buku tulis sekolah. Namun figur seperti Dina Mariana, Richi Ricardo ataupun Ongky Alexander, menurutku, (maaf) kualitas dan ketokohan mereka masih jauh dibawah Rano, cs. Sialnya lagi disamping krisis figur, tak ada satu pun film yang mewakili generasi kami. Kalaupun ada, palingan cuma sinetron serial “Rumah Masa Depan” yang dibintangi oleh Septhian Dwi Cahyo Cs dan serial “Aku Cinta Indonesia” (ACI).

Lain halnya bagi kakak-kakak-ku yang lahir di tahun 60-an, mereka masih sempat menyaksikan film dari kisah percintaannya  Rano Karno dan Yessy Gusman. Sebut saja misalnya film “Selamat Tinggal Masa Remaja”, ataupun “Ali Topan Anak Jalanan”. Rano, sang legenda remaja saat itu sering tampil di film-film ber-genre percintaan dan kisah kasih remaja di sekolah. Saat ini mungkin sosok Rano bisa diwakilkan oleh Reza Rahardian Si pemeran Habibie yang laris ditanggap sebagai pemeran utama film-film ber-genre anak muda.

Sama seperti generasi remaja tahun 80-an, begitupun halnya dengan remaja yang tumbuh di era tahun 2000-an, mereka punya kisah kasih romantis yang bisa diceritakan untuk anak cucunya. Mereka punya film “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC) yang fenomenal, yang dibintangi oleh Dian Sastro, perempuan dengan kecantikan khas Jawa-nya, dan Nicholas Saputra sebagai icon remaja saat itu.

Bagiku yang lahir tahun 70-an, tentu sudah out of date tuk hanyut dalam kisah romantika Rangga dan Cinta, pasalnya saat film itu di luncurkan, aku baru saja tamat kuliah. Tak seumur dengan setting film AADC itu yang berseragam putih abu-abu anak remaja SMA. AADC adalah film-nya generasi adikku. Ya, saat film itu booming, adikku baru saja lulus SMU.

Sejujurnya aku iri dengan mereka yang lahir pada tahun 80-an dan 60-an. Betapa bahagianya mereka. Ada cerita dan kisah film atau tontonan yang bisa diceritakan diantara mereka. Ada tokoh yang menjadi idola, kebanggaan, dan pujaan mereka. Bagi mereka kelahiran tahun 60-an saat beranjak remaja, maka mereka hidup di tahun 80-an. Banyak film-film berkisah asmara anak muda hadir di tengah-tengah mereka. Saya masih ingat bintang idola remaja kelahiran 60-an antara lain: Rano Karno; Herman Felani; Lydia Kandau; dan Yessy Gusman. Film-film remaja yang dibintangi mereka pun banyak. Seperti; Selamat Tinggal Masa Remaja; Selamat Tinggal Duka; Masih Adakah Cinta, dan film-film roman picisan yang menjadi hits dan merajai blantika perbioskopan tanah air.

Bayangkan saja, anak remaja seusiaku, saat itu tak ada film percintaan remaja yang layak diobrolkan. Kalaupun ada hanya film-film sex murahan seperti: “Ratu Laut Selatan”, dengan bintang film sekelas; Febby Lawrence; Meriam Bellina; Yurike Prastica; Ataupun Sally Marcellina. Tak ada yang lain. Tahun 90-an itu, saat aku remaja, jagat perfilm-an di tanah air hanya dipenuhi dengan 3 (tiga) tema, yakni: Sex; Action (laga); Dan mistis. Judulnya pun tak jauh dari kata-kata yang ada dalam stensilan-nya Enny Arrow; seperti: Gairah Malam; Kenikmatan Tabu; ataupun Ranjang yang Ternoda. Masih untung tak selamanya judul-judul seperti itu merajai jagat perbioskopan nusantara; Film-film bermutu pun bukannya tak ada, namun segmen-nya terlalu luas untuk dibilang sebagai film anak muda/remaja. Film berjudul Perwira dan Ksatria yang dibintangi Dede Yusuf boleh juga dikatakan sebagai film yang mewakili genre remaja, namun film itu tidak se-booming film remaja generasi AADC.


Itulah zaman saat aku remaja. Meski tak ada kisah (film) yang patut diceritakan, namun aku bangga pernah menjadi anak yang tumbuh dan besar tanpa gadget dan masih menikmati aneka permainan khas anak kampung. Mungkin generasi-ku lah, generasi (remaja) terakhir yang selamat dari arus informasi dan hoax yang diakibatkan oleh kemunculan sosial media macam twitter, facebook dan kroni-kroninya. Dan, Rano Karno masih menjadi legenda, setidaknya bagiku..

Kamis, 23 Februari 2017

I Never Doubted His Love

Pada zaman sekarang, panggilan seorang anak kepada orang tuanya cukup beragam, mengikuti trend dan gaya yang ada. Mas Agus Yudhoyono misalnya, memanggil ayahnya dengan panggilan sayang: “Pepo”. Ipan anak Ji Udin Naseh memanggil ayahnya dengan panggilan (P)Api. Nah, bagi kami anak Kampung Kebon, Kemang, hanya ada 2 (dua) panggilan yang sering dipakai untuk memanggil bapak mereka, yakni Baba(e) dan Buya. Ketika itu di tahun 70-an, hampir tak ada yang memanggil umi dan abi; Bapak dan ibu; Atau papa dan mama. Maklum, kebanyakan dari kami bukan anak gedongan atau orang berpunya, bisa jadi orangtua kami jengah juga bila membiasakan anak-anaknya dengan panggilan papah mamah atau papi dan mami. Namun ada satu temanku bernama Abdurrahman Haji Abdul Majid, yang keluarganya rada Islami, memanggil orang tuanya dengan panggilan Umi dan Buya. Aku sendiri menyapa kedua orangtuaku dengan panggilan ibu dan Buya.

Bicara mengenai kedua orang tuaku, bila tahu sejarah hidup mereka tentu kita akan bercucuran air mata. Bayangkan, Papi dari Ibuku hilang diculik orang, tak tentu dimana jasad dan kuburnya. Ia yatim selagi dalam kandungan. Begitupun dengan Buya-ku. Beliau ditinggal mati ayahnya selagi masih kecil, belum bersekolah. Lantaran menjadi janda muda, kedua nenekku menikah lagi. Akibatnya, kedua orangtuaku pun diasuh oleh bapak tiri. Praktis Ibu dan Buyaku tak mengenal dan mengecap kasih sayang dan belaian ayah biologis mereka. Tak heran bila gaya dan cara mereka mendidik anak, tak meng-copy paste ajaran dan pola pendidikan dari ayah mereka. Kedua orang tuaku hanya dididik oleh ibu-ibu mereka. Tak ada prototype dan figure ayah dalam diri mereka berdua.

Mungkin karena ‘dendam’ lantaran tak menikmati belaian dan kasih sayang seorang ayah, aku, sebagai anak lelaki pertama-nya, sangat ia sayangi. Beragam permaianan meskipun tak banyak, pernah aku punyai. Bola, misalnya, (teman-teman) yang lain belum punya, aku sudah dibelikan. Seingatku, hanya aku yang punya bola kulit, yang rada bagus. Aku masih ingat, bola ku pernah dipinjam oleh uwakku, sepupu ibuku, untuk main bola anak-anak yang usianya jauh diatasku. Mereka bermain di Pusri, di pinggir kali kecil yang airnya masih sangat jernih. Sayangnya setelah dipinjam, bola itu tak kembali padaku. Bola itu hilang atau pecah(?) Sedih juga saat ibuku mencecarku dengan pertanyaan, bolanya mana? Aku hanya dapat menggeleng tanda tak tahu. Padahal bola itu dibelikan oleh Buyaku. Seperti anak-anak lainnya, sejak kecil aku suka main bola. Benda apa saja yang ada di depanku, pasti akan kutendang. Tahu anaknya suka bola, sebagai ayah yang baik dibelikannya aku bola.

Sama seperti anak tetangga depan rumahku di Condet. Dulu, selagi kecil aku paling suka naik motor. Sebelum Buyaku berangkat kerja, aku pasti minta dianterin jalan-jalan naik motor. Tak jauh, hanya  setengah kilo, keluar dari rumah. Dibonceng di depan, duduk di tangki bensin, adalah kebahagiaan tersendiri bagiku yang kala itu belum bersekolah. Senengnya bukan main. Maklum, tidak seperti Razi dan Ranza yang sering aku ajak piknik, keluargaku hidup di zaman susah. Masa kecilku jarang piknik. Seingatku, aku pernah piknik dengan Ibu dan Buyaku ke Jakarta Fair, di Gambir, Monas. Bertiga kami naik motor dari Kemang ke Monas. Seperti biasa, aku didudukkan didepan, diatas tangki bensin. Selepas Maghrib kami berangkat menyusuri Jalan Jenderal Sudirman yang masih sepi dengan bangunan menjulang. Aku masih ingat, hanya ada Show Room Toyota di dekat Dukuh Atas. Inilah mungkin salah satu moment terindahku saat kecil, dibonceng motor hingga jauh ke Monas oleh Buyaku.

Oh ya, saban sore, saat Buyaku pulang ke rumah, yang selalu kutanyakan adalah: “Bawa koran gak Yah?”
Tanpa berkata apa-apa, ia keluarkan lipatan koran dari balik jaket yang menutupi badannya. Aku memang baru lancar membaca. Apa saja pasti akan kubaca. Koran yang dibawa Buyaku adalah Pos Kota. Berita-berita pembunuhan dan kriminalitas di halaman satu, yang hurupnya tercetak besar dan bold, aku baca habis. Selain itu berita olahraga, terutama sepakbola tak luput dari amatanku.

Aku dan Buyaku memang jarang bercakap-cakap. Ia terlalu banyak diam. Berbicara kepadaku hanya seperlunya. We were opposite. We would ‘fight’ and argue. But, I never doubted his love. He would do anything for me. Tadinya ia berharap aku menjadi seorang ulama, hingga ia rela menyekolahkanku jauh ke pesantren. Karena aku tak tertarik menekuni agama, ia pun mengidamkanku menjadi seorang diplomat, agar bisa selalu pakai dasi dan berjas. 'Kan keliatan gagah dan selalu bepergian ke luar negeri, katanya. Sayang harapan itu tak terwujud. Mungkin kalau ia masih hidup dan menyaksikan aku pernah (diundang) pergi ke Amerika, ke negara yang paling jauh dari Kampung Kebon, Kemang, dan memakai jas berdasi, ia akan tersenyum melihatku.


Ada kebiasaan menarik yang dilakukan oleh Buyaku sebelum men-sela (memanaskan) motor di pagi hari. Ia akan menambal tangki bensinnya yang selalu bocor. Seharusnya tangki itu diganti, namun karena tak ada uang untuk menggantinya, terpaksa ditambal dengan sejenis (sabun?) batangan. Motornya sendiri sudah tua. Berwarna merah. Nah, pas Mandra, lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan sedang naik daun dan mengiklankan motor merk Honda keluaran terbaru, kebetulan pula ada kelebihan rezeki, Buyaku mengganti motor tuanya dengan motor “mandra’. Motor itu bertahan menemani pulang pergi Buyaku dari rumah ke Gandaria, hingga ia berpulang ke haribaan-Nya. 

Senin, 19 September 2016

Mereka Dari Pesantren

Bagi kami yang pernah merasakan tinggal di pesantren, tentu kehidupan remaja yang kami alami berbeda dengan remaja kebanyakan yang pada usia pubertas asik belajar, bermain dan bermain. Kehidupan di alam pesantren (yang berasrama) membuat hidup kami tak jauh dari kamar, sumur, lapangan bola (bermain) dan sekolah. Tak lebih. Kami yang pernah nyantren tentu jarang berhubungan dengan dunia luar. Tak ubahnya seperti lapas, hidup kami terkungkung di kelilingi tembok, meskipun ada pula pesantren tradisional yang tidak berpagar dan berbaur dengan lingkungan masyarakat lokal di suatu dusun (kampung).

Kehidupan kami tak beda dengan pendidikan yang dijalani sebagian remaja terpilih dari seluruh Indonesia yang mengikuti pendidikan militer atau Akademi Militer, yang terkontrol 24 jam dengan beragam aturan, kebiasaan, dan tingkah laku yang terprogram, terstruktur dan tersistem. Bahkan, untuk urusan busana dan bicara pun kami punya aturan. Boleh dibilang semua aturan yang ada dan dibuat oleh pimpinan itu tidak enak. Makan hati. Namun tujuan aturan itu tentu baik, yakni agar kami bisa menghadapi bekal hidup kedepannya. Agar jiwa dan kepribadian kami tertempa dengan baik.

Diantara teman-teman saya sekampung sepermainan, selepas sekolah dasar, hampir 60 persen diantara kami diutus atau dikirim orang tuanya ke pesantren. Kebanyakan dikirim ke luar kota Jakarta. Tujuannya tentu agar jauh dari rumah dan jarang pulang. Menurut orang tua kami, bila keseringan pulang, takutnya kami kena pengaruh ‘angin’ Jakarta yang jelek. Jadilah, kami dikirim ke Jawa Timur atau ke paling dekat ke jawa Barat (Cirebon, Tasik, dsk). Lantaran jauh, kami hanya pulang setahun sekali pas mendekati hari raya lebaran.

Oh ya, beragam latar belakang dan status sosial teman-teman saya yang nyantren. Ada yang orang tuanya dagang di pasar, ada pula yang jadi makelar tanah atau pegawai kantoran. Meski pekerjaan orang tua kami beragam, namun kami semuanya berlatar belakang keluarga yang taat akan ajaran agama. Kami Islam (titik), dalam arti memperoleh ajaran Islam dari ulama-ulama dimana mereka berguru yang ajarannya bersanad (menyambung) hingga ke Rasulullah SAW. Sehingga dalam masalah pemahaman keagamaan ketika awal nyantren, praktis diantara kami tidak mengalami ‘jetlag’. Semuanya seragam, tak ada yang nganut ajaran agama islam yang ‘aneh-aneh, seperti dari golongan islam Liberal, apalagi islam Nusantara. Naudzublillah..

Selepas pesanteren yang di tempuh rata-rata selama 6 (enam) tahun, kami mulai melanjutkan pendidikan ke berbagai bidang. Ada yang ikutan UMPTN dengan harapan dapat nerusin kuliah di PTN ternama, adapula yang memilih jalur biasa, dikatakan biasa karena basis kami berlatar belakang pendidikan agama, maka kuliahnya pun ke bidang agama, yakni ke Institut Agama Iislam Negeri/IAIN era tahun 90-an (sekarang UIN) atau ke Universitas berbasis keagamaan seperti Universitas Muhammadiyah dan sebagainya. Bahkan ada pula dintara kami yang ke luar negeri, biasanya mereka dari keluarga yang kaya raya, punya kontrakan (property) banyak dan sawah yang lebar. Arab Saudi, dan Negara di kawasan Timur Tengah lainnya, atau ke Mesir adalah tujuannnya. Dan, bagi yang berasal dari keluarga yang ‘kismin’ biasanya selepas pesantren mereka tak kuliah dan memilih mengajar agama atau jadi guru ngaji di kampung mereka.

Nah, barulah setelah menginjak bangku kuliah jejak dan langkah mereka mulai sulit terlacak. Ini lantaran kami sibuk dengan dunianya masing-masing. Sibuk dengan kegiatan dan aktivitas yang baru, yang berbeda dengan dunia pesanteren. Aktivitas kampus tentu beda dengan pesantren. Di kampus kehidupan kami lebih hetrogen. Pergaulan pun berbeda.

Hatta, sampailah masa dimana kami telah tumbuh dewasa, telah lulus kuliah, kerja dan berkeluarga. Mulailah muncul satu dua nama-nama yang dulu aku kenal yang kembali mampir ke ingatanku. “Ohh.. ternayata dia sekarang di situ, ohh.. ternayata si Fulan di sana.” Begitu biasanya aku berguman tatkala tahu langkah dan pengabdian selanjutnya dari teman-temanku selepas kuliah.

Mereka yang tamatan dari pesantren lalu kuliah tersebar dalam beragam ladang pengabdian. Kebanyakan mereka menjadi guru agama. Menjadi ustaz, ngajar ngaji. Bila dia pintar, tentu derajat atau maqomnya tak sekadar ustaz namun menjadi Kyai. Sebagian kecil ada yang jadi PNS, ada pula yang dagang atau berwirasawasta, bahkan tak sedikit pula yang jadi tukang ojek pangkalan. Yang kerjaannya luntang lantung gak jelas pun banyak. Pagi ada di rumah, siang ke pangkalan, sore entah kemana, dan malam baru sampai rumah. Ada juga yang -karena ketokohannya- diangkat jadi Ketua RT atau RW. Ya, lumayan juga, eksistensinya diakui oleh warga masyarakat, hehe..

Meski demikian, lulusan pesantren jangan lah dipandang sebelah mata. Ada banyak dari mereka yang tampil dan sukses berkiprah dalam tataran global (internasional). Abdurrahman Wahid, misalnya, putra Kyai Haji Wahid Hasyim yang pernah jadi Presiden ini adalah jebolan dunia pesantren. Begitu pun dengan beberapa menteri dan pejabat tinggi negara pernah merasakan getirnya hidup di pesantren. AM Fachir yang menjabat wakil Menteri Luar Negeri, misalnya, adalah PNS karier yang jebolan pesantren. Begitupun pimpinan lembaga tinggi Negara MPR(S) yakni Idham Chalid dan Hidayat Nur Wahid juga alumnus pesantren. Kalau rajin menyisir tentu masih banyak lagi keluaran pesantren yang sukses berkiprah dan berkarier baik di swasta maupun pemerintahan.


Itulah mereka-mereka yang pernah merasakan gigitan nyamuk dan bangsat di pesantren, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak peduli jadi orang atau hanya luntang lantung gak jelas, namun sekecil apapun kontribusi mereka, yang jelas mereka kebanyakan orang baik-baik dan gak nyusahin, minimal untuk diri mereka dan keluarga mereka.