Selasa, 09 Mei 2017

Layakkah Ahok di-Cipinang-kan?

Sebagai umat manusia yang beradab, kita telah bersepakat, bahwa segala perselisihan yang terjadi diantara kita diputuskan dan diselesaikan melalui mekanisme (jalur) pengadilan (hukum). Kita tak mengenal hukum rimba dimana yang kuat memangsa yang lemah, atau yang kuat bertindak semena-mena terhadap yang lemah. Hukum adalah panglimanya. Dan, tatkala ada seseorang disangka telah menodai suatu agama yang dianut di Indonesia, maka untuk meredakan gejolak yang terjadi di masyarakat, perangkat penegak hukum memproses yang bersangkutan. Yang bersangkutan diajukan ke muka hakim untuk diadili.

Hakim sebagai wakil Tuhan di dunia pada tanggal 09 Mei 2017 telah menetapkan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok secara sah dan meyakinkan terbukti telah menodai ajaran agama (Islam) yang dianut di Indonesia. Ahok telah melanggar pasal 156a KUHP yang isinya: Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

Selain menghukum Ahok dengan pidana penjara selama dua tahun, dalam amar putusannya, majelis hakim juga memerintahkan agar Ahok ditahan! Tepatkah perintah penahanan Ahok ini, mengingat selama ini perlakuan terhadapnya sangat berbeda dengan terdakwa kasus penodaan agama lainnya, dimana Ahok selama proses persidangan tak pernah sekalipun ditahan?  

Keputusan hakim tentu tak memuaskan semua pihak. Bagi pro Ahok, keputusan itu dirasa berat. Namun bagi kontra Ahok keputusan itu tentu terlalu ringan dan tak sebanding dengan kasus-kasus penodaan agama lainnya, seperti yang melibatkan Arswendo dan Mushaddeq, misalnya, yang di vonis lebih berat dari Ahok.

Bagi kita yang mempercayai institusi pengadilan, keputusan hakim adalah keputusan ‘final’ dalam arti keputusan itu sebagai penentu untuk mengakhiri polemik yang selama ini berkembang di masyarakat mengenai salah atau tidaknya Ahok dalam kasus penodaan agama Islam. Palu hakim telah terketuk, sedangkan Ahok memilih banding. Selama proses banding inilah, bukan berarti ahok terlepas dari stigma bersalah, karena banding, tidak serta merta menggugurkan putusan hakim. Dalam kaidah hukum dikenal dengan Res Judicata Pro Veritate Habetur yang berarti putusan hakim itu dianggap benar dan harus dihormati. Ini berarti keputusan hakim --PN Jakarta Utara (Hakim Dwiarso)-- diangap benar sebelum pengadilan yang lebih tinggi memutus lain atau sepanjang belum ada putusan yang membatalkannya. Selengkapnya lihat: (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PHPU.D-X/2012, hlm. 152-153).

Salah satu tujuan dari penerapan hukum adalah agar menjadi pembelajaran bagi pelaku itu sendiri, agar pelaku menyadari kesalahan-kesalahannya dan segera memperbaikinya. Dengan ditahannya Ahok, maka diharapkan akan menimbulkan efek jera bagi yang bersangkutan, agar ia segera kapok dan tak mengulangi lagi perbuatannya. Salah satu yang memberatkan Ahok dimata hakim adalah, bahwa yang bersangkutan tidak menyesali perbuatannya. Semoga dengan kasus ini Ahok insyaf, menyadari kesalahannya, dan menjadi manusia yang lebih baik. Baik perangainya, baik tutur katanya, dan baik segalanya. Kita tentu berharap, selepas dari penjara, Ahok diharapkan seperti bayi yang baru dilahirkan, suci bersih. Memulai hidup baru dengan kehidupan lebih baik.

Disamping itu, penahanan segera Ahok juga berfungsi sebagai pembelajaran bagi kita bahwa yang salah pasti akan di hukum, atau bahasa sederhananya adalah, siapapun tidak kebal hukum (penjara) dan agar kita (masyarakat) tak meniru tindakan yang telah dilakukan oleh pelaku. Bahwa perbuatan melanggar pidana akan mendapat ganjarannya yakni di penjara. Bahwa di penjara itu tak enak, maka hindarilah masuk penjara dengan tidak melanggar hukum. Itu pesan moralnya.

Semoga dari kasus Ahok ini kita memperoleh pelajaran bahwa tutur kata harus kita jaga. Jangan mengomentari dengan ‘melompat pagar’ membahas isi kitab dari agama yang bukan agama yang kita anut. Jadikan kasus Ahok ini sebagai momentum untuk saling hormat menghormati antar pemeluk agama. Dengan itu niscaya kerukunan umat beragama akan tetap lestari dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Sumber foto:


Kamis, 04 Mei 2017

Papi-nya Mamiku

Haji Maidih telah lama wafat. Beliau kukenal sebagai orang tua yang suka memakai sorban. Sorban yang sering ia kenakan itu telah lusuh dan kucel, berpadu dengan pakaiannya yang juga telah tipis dan pudar termakan usia. Biasanya, ia mengenakannya bila menghadiri undangan selamatan atau arwahan. Nah, selain sorban, menariknya, bila pergi kemanapun, ia selalu membawa senter. Senter ini ia gunakan sebagai penunjuk jalan. Batu baterai-nya hampir saban hari d-‘chas’ di teriknya matahari. Padahal menurutku, tanpa senterpun, jalan-jalan yang ia lalui di sekitaran Kampung Kebon, Kemang, sudah berlampu semua. Sudah terang. Keadaan sekitar tahun 80-an saat itu, tentu kontras dengan yang dijumpai Kong Maidih, sapaan akrabku padanya, ketika ia muda, saat lampu belum ada, dan jalan masih beralaskan tanah. Aku tak ingin bercerita banyak tentangnya. Namun ada beberapa kalimat yang mengusik pikiranku tatkala kami ngobrol ngalor-ngidul dengan ayah dari Haji Matalih ini.
“Baba-nya Ji Damin ‘ntu, diculik waktu zaman NICA. Gak balik-balik”. Itulah kalimat yang sering ia ucapkan kala tahu aku adalah ponakan Haji Madamin.

Diculik? Zaman NICA? Siapa yang menculik? Kenapa kakek-ku diculik? Sebab apa yang membuat penculik menculik dan menggelandang kakek-ku? Kenapa Kakek-ku dieksekusi? Dimana kuburan kakek-ku? Beragam pertanyaan ini sayangnya tidak aku dapatkan jawaban yang memuaskan. Semuanya serba samar. Semuanya masih misteri. Maklum saja, zaman itu zaman susah, zaman revolusi, saksi-saksi yang mengetahui saat kakek-ku diciduk dan diculik sangat sedikit, dan semuanya sudah meninggal. Namun dari potongan kisah-kisah yang aku dengar dari berbagai sumber tentang pribadi papi-nya mamiku dapat kurangkum sekelumit kisah tentang kakek-ku ini.  

Aku teringat kisah-kisah pilu yang dialami para aktivis korban penghilangan paksa (penculikan) pada tahun 1998, menjelang turunnya Pak Harto. Juga tentang kisah penculikan dan pembunuhan pada tragedi nasional tahun 1966, pasca G30S/PKI. Jadi, bicara tragedi penghilangan paksa, meminjam istilah yang sering dikemukakan para praktisi HAM, jauh sebelumnya, mamiku dan keluarganya telah sejak lama merasakan perihnya ditinggal seseorang tanpa tahu dimana kuburnya. Mungkin bila Komnas HAM telah ada sejak dulu misteri hilangnya kakekku dapat tersingkap atau paling tidak diketahui siapa oknum-oknum pelaku penghilangan kakek-ku.

Papi-nya mamiku bernama Poey Tjin Ban. Beliau adalah putra ketiga dari pasangan Poey Sun Eng dan Tan Kim Moey. Kakek beliau, Poey Kang Soey adalah imigran dari Macau yang hijrah dan merantau di sekitaran Cirebon. Kuburan Kakeknya ada di Kampung Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat. Menurut Cerita, kuburannya itu berada di dalam rumah, seperti kuburan leluhur etnis Tionghoa pada umumnya. Sedangkan kakek mamiku dikuburkan di Kampung Kamarung, Pagaden, Subang.

Tjin Ban, menurut cerita yang kudengar adalah seorang dari kalangan terpelajar, menguasai beberapa bahasa asing (poliglot) dengan fasih. Saat zaman Belanda, ia telah memakai jas, busana yang jarang dikenakan oleh kebanyakan orang, pertanda bahwa beliau seorang yang well educated. (lukisan Tjin Ban berjas tersimpan dengan apik di dinding rumah mamiku). Tjin Ban dimasa mudanya menganut kepercayaan Konghuchu. Nah, ketika merantau ke Jakarta inilah ia menemukan jodohnya. Ia kepincut gadis Betawi yang bernama Aminah, putri tokoh masyarakat dan guru ngaji di Kemang, Haji Muhammad. Mereka menikah sekitar tahun 1930-an. Namun, sebelum menikah, Tjin Ban diwajibkan oleh mertuanya untuk bersaksi dan mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Selepas itu, ia ber-khitan dan mengganti namanya menjadi Abdul Mu’ti.

Kembali ke kisah penculikan kakekku, dari penjelasan Kong Maidih yang sepotong-potong (lantaran usia lanjut dan ingatannya yang mulai pudar) aku mencoba merangkai puzzle kisah tragis papi-nya mamiku yang hilang di culik orang. Beliau hilang (meninggal) saat zaman revolusi, diculik oleh para laskar rakyat di sekitaran Klender. Ceritanya, pada sekitar tahun 1948-an, masa dimana revolusi sedang berkobar dengan dahsyatnya, masa dimana keamanan dan ketertiban tidak terkendali, dimana saat itu, tak hanya tentara resmi (BKR) yang eksis, pencoleng dan penyamun pun berbaur bersama rakyat membentuk laskar rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Disekitaran antara Klender hingga Bekasi, misalnya banyak terdapat “laskar-laskar hitam” sebutan untuk laskar yang kebanyakan diisi oleh bekas penyamun dan pencoleng, yang rutin berpatroli. Kakekku, lantaran seorang Tionghoa, kena imbasnya. Ia kena ciduk dan dituduh sebagai mata-mata (spionase) NICA, tentara sekutu.

Menurut cerita mamiku, saat itu ayahnya pergi mencari beras di Bekasi untuk dijual ke Jakarta. Saat berjalan beriringan bersama teman-temannya yang pribumi dan memasuki daerah Klender, berjumpalah mereka dengan beberapa laskar. Apesnya, yang dijumpai adalah laskar hitam. Tatkala dari kejauhan terlihat ada razia dan pemeriksaan oleh laskar, teman-teman ayah mamiku sudah mengingatkan Muti, nama Islam kakek-ku untuk lari.
“Muti, hayo lari, kita sembunyi, ada pemeriksaan laskar di depan sana,” seru salah seorang temannya.
Namun Tjin Ban, bukannya lari malahan berjalan dengan santainya sambil membawa beras dagangan-nya. Dengan tenang ia berkata kepada teman yang memperingatkannya itu. “Buat apa lari, kita kan tidak salah. Kita kan Republik.”
Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Lantaran berwajah bukan pribumi, Tjin Ban kena ciduk laskar dan terpisah dengan teman-temannya. Oleh laskar, Ia dituduh sebagai mata-mata NICA.

Nah, versi kedua adalah; Pelaku penculikan kakek-ku bukan laskar melainkan NICA. Ia di culik lantaran beretnis tionghoa dan dituduh sebagai mata-mata Republik. Dari kedua versi ini, mana yang bisa dijadikan patokan, wallahu a’lam. Dari penjelasan Kong Maidih, dapat di tarik benang merah bahwa Muti hilang diculik orang (entah siapa pelakunya) saat NICA datang ke Indonesia, ditahun 1948. Lokasi penculikan ada di sekitaran Klender, lebih kurang 20 KM dari Kemang.

Teman-teman Muti yang lolos dari hadangan laskar/NICA dapat kembali ke rumah mereka dengan selamat berkumpul dengan keluarganya. Sedangkan Muti, terciduk ikut dibawa oleh penculik. Begitu tak didapati Muti bersama mereka, nenekku menjadi bingung. Lalu oleh teman-teman Muti, diceritakanlah kisah tragis di Klender tesebut. Mendengar cerita dari teman-teman-nya yang pergi berdagang bersama, nenekku hanya dapat pasrah. Ditunggu hingga beberapa purnama berganti, bahkan hingga lebaran berbilang, namun Muti tak kunjung pulang ke Kemang. Ia tidak pernah kembali ke rumah, berkumpul dengan anak istrinya.

Begitulah, Tjin Ban telah meninggal tanpa diketahui dimana mayatnya. Masih terbayang dengan jelas diingatan nenekk-ku saat Muti pamit hendak berdagang di pagi hari, lalu kini hilang tak berbekas. Jadilah mamiku yang saat itu masih dalam kandungan nenekku, seorang yatim. Ya, ketika itu nenekku harus membesarkan empat orang anak yang masih kecil-kecil, tanpa sempat mengetahui jasad dan kuburan suaminya..


Kamis, 27 April 2017

Cukup Ahok Menjadi Pembelajaran Bagi Kita

Pada dasarnya Indonesia adalah negeri yang terbuka, toleran dan menghargai segala perbedaan yang ada. Praktis, sepanjang berdirinya Republik, tak ada kerusuhan dan huru hara yang diakibatkan oleh perbedaan SARA yang terjadi merata di seluruh kawasan di Indonesia dalam skala luas. Kalaupun ada, sifatnya hanya kerusuhan lokal, dan mampu segera diredakan dengan pendekatan yang dinamakan kearifan lokal. Itulah sebabnya jauh sebelum Negara ini resmi berdiri, semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah dipatrikan oleh para founding father sebagai slogan yang dilekatkan pada kaki burung Garuda. Mereka menyadari bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, dan ras, dan itu tidak bisa dihilangkan atau diseragamkan. Keberagaman adalah takdir Indonesia itu sendiri.

Berbicara tentang kepemimpinan di Indonesia, kita tak mengenal kepemimpinan yang diwariskan, atau kepemimpinan yang telah di ‘jatahkan’ untuk etnis atau golongan tertentu. Semua warga Negara berhak menjadi pemimpin. Oleh karenanya, tak menjadi soal siapapun yang menjadi pemimpin di suatu wilayah, sepanjang yang bersangkutan mempunyai kemampuan leadership, bertingkah dan berprilaku santun, sopan, menghormati dan menghargai kearifan dan budaya lokal, maka ia akan diterima dengan baik oleh warga setempat. Mau bukti? Bali misalnya, sebagai wilayah yang mayoritas hampir 100% dihuni oleh warga beragama Hindu, pada tahun 70-an, bisa dengan damai menerima kepemimpinan Bapak Soekarmen sebagai gubernur mereka, meskipun beliau adalah seorang Muslim dan bukan orang asli Bali. Saat kepemimpinannya berlangsung, tak ada gejolak dan polemik yang terjadi di Bali. Segalanya berlangsung damai, aman, dan tentram. Begitupun dengan Aceh, Papua, NTT, Sulawesi Utara dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Mereka menerima dengan baik kepemimpinan seseorang yang bukan berasal dari etnis ataupun kepercayaan yang sama dengan mereka.

Demikian pula dengan Jakarta, jauh sebelum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang ber-etnis Tionghoa dan beragama Kristen menjabat Gubernur, Jakarta telah dipimpin oleh putra Manado yang juga beragama Kristen. Dalam catatan sejarah, tak pernah ada penolakan terhadap figure Henk Ngantung, meskipun ia menganut kepercayaan berbeda dengan mayoritas warga Jakarta. Betawi, sebagai etnis asli Jakarta welcome terhadapnya. Lalu, bagaimana dengan Ahok? Tidak seperti Soekarmen di Bali, yang stabil tanpa gejolak, kepemimpinan Ahok tidak berjalan mulus, ia mendapat penolakan dari sebagian warga Jakarta, utamanya etnis Betawi. Mengapa hal ini terjadi? Apakah penolakan ini murni masalah perbedaan agama yang dianut oleh sang gubernur dan warganya? Tampaknya tidak demikian halnya.

Dari berbagai analisa yang disampaikan oleh beberapa lembaga survey, faktor dominan kekalahan Ahok dalam Pilkada 19 April lalu adalah ketakutan warga Jakarta terhadap figur Ahok itu sendiri. Ketakutan-ketakutan ini dapat berupa: Takut di gusur. Ketakutan akan digusur dari tempat tinggalnya; Ketakutan di gusur tempat usahanya; Takut di larang. Larangan-larangan yang mengekang terhadap hajat yang bersentuhan dengan rakyat kecil, seperti wacana larangan sepeda motor melintasi jalan Sudirman-Thamrin, misalnya, ataupun kebijakan-kebijakan lainnya yang justru pro kalangan menengah atas, bukan kepada rakyat kecil.

Disamping itu, Ahok lemah secara leadership. Ia tidak mempunyai kemampuan leadership yang mumpuni. Sebagai pemimpin, ia tidak mengayomi seluruh warga sebaliknya justru menebar ketakutan dan intimidasi kepada warganya. Banyak statemen dan kebijakan gubernur yang justru kontra produktif untuk merangkul masyarakat. Larangan takbir keliling; Larangan ber-sholawat di Monas; Larangan pemotongan hewan qurban di sekolah, misalnya, adalah sebagian contoh nyata bagaimana gubernur tidak sensitif terhadap keadaan dan budaya dari warga asli yang ia pimpin (Betawi). Dari situlah muncul bibit-bibit ketidakpercayaan kepada kepemimpinan gubernur. Ia melupakan dan mengabaikan kearifan lokal dari bangsa Indonesia umumnya dan etnis Betawi pada khususnya. Meminjam istilah kasar yang diucapkan oleh sesepuh masyarakat Betawi Bapak Eddy Marzuki Nalapraya; “Bacot loe jaga! Yang merefleksikan ungkapan kekesalan warga Betawi terhadap langkah dan ucapan yang sering dikemukakan oleh Ahok.

Ahok tampaknya tak menyadari bahwa ia adalah minoritas. Ia terlalu jumawa dan sombong. Ia tidak menjaga budi pekertinya. Dulu, sewaktu mahasiswa, dalam berbagai kesempatan memimpin atau me-moderatori rapat, diskusi atau berdialog dengan para rekan-rekan saya calon pemimpin bangsa, sering saya utarakan kepada mereka bahwa: “Yang merasa mayoritas JANGAN sombong dan jumawa! Sedangkan yang minoritas, HARUS tahu diri!’ Bila teori saya ini diterapkan, maka tak mustahil kepemimpinan Ahok akan di nilai oleh seluruh warga Jakarta dengan khusnul khotimah, berakhir baik. Ia akan selalu dikenang oleh warga Jakarta seperti mereka mengenang Ali Sadikin (Bang Ali) sebagai Bapak Pembangunan Jakarta.


Paska Pilkada dimana warga Jakarta telah memutuskan vonisnya dengan menarik mandat Ahok dan menyerahkannya kepada pasangan Anies-Sandi, marilah kita akhiri gonjang ganjing dan hiruk pikuk yang terjadi di Jakarta. Suka atau tidak, cukuplah figur dan kepribadian Ahok, dengan segala plus minus-nya menjadi pembelajaran bagi kita semua dan mereka yang ingin menjadi pemimpin, bahwa jangan sekali-kali mengabaikan kearifan lokal dalam suatu wilayah. Selalu ingat mantra lama yang masih terbukti keampuhannya, yakni: “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.” Mari gandeng tangan menata Jakarta dan Indonesia dengan semangat persatuan dan kesatuan. 

Senin, 24 April 2017

Berkaca Dari Cerita Semut, Tak Susah Memahami Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Syahdan, tersebutlah kisah tentang komunitas semut disuatu tempat, di kawasan Sentul, Jawa barat. Para semut tinggal di suatu lembah yang tersembunyi, di kelilingi oleh tanaman perdu dan rumput-rumput ilalalng. Kawasan yang dihuni oleh komunitas semut ini sangat terlindungi dari gangguan mahluk-mahluk lainnya. Jarang ada binatang maupun manusia yang pernah singgah ke lembah tersembunyi itu. Kalaupun ada manusia yang kesana, tentulah para pencari kayu bakar ataupun kelompok pecinta alam.

Sama seperti bangsa manusia, mereka pun suka kongkow dan ber-sosialita. Ada suatu tempat favorit sebagai meeting point mereka untuk ngobrol sekaligus melepas penat setelah seharian mencari makan atau bekerja di sekitar rumah-rumah mereka. Saban pagi atau sore, para semut itu berkumpul di suatu tempat membicarakan urusan mereka. Tempat ini semacam alun-alun kota. Kebetulan disana terdapat semacam bangunan yang enak untuk dijadikan sandaran atau berteduh.

Diantara komunitas semut itu, ada beberapa ekor semut yang cukup berpengaruh diantara semut-semut lainnya. Karena ketokohan dan pengaruhnya, masing-masing semut menjadi pelindung bagi kelompok semut yang lemah diantara mereka. Semut itu semacam God Father yang melindungi semut-semut lemah dari ancaman semut-semut lainnya yang lebih besar dan kuat. Nah, diantara tokoh-tokoh semut itu terdapat seekor semut yang disenangi oleh semut-semut lainnya. Ia disenangi lantaran tak pernah berbohong, dapat dipercaya, atau bahasa kerennya mempunyai integritas yang tinggi, selalu bersikap ramah, adil dan menolong kepada semut-semut lainnya. Ia juga memiliki tutur kata halus, berbudi pekerti baik, dan, satu lagi, ia dikenal sebagai keturunan dari keluarga semut yang terpandang. Terpandang bukan karena kekayaannya, namun terpandang karena ketokohannya diantara bangsa semut-semut lainnya. Kita panggil saja semut ini dengan sebutan Semut Ireng.

Nah, pada suatu pagi yang cerah, di saat komunitas semut itu berkumpul seperti biasanya di ‘alun-alun kota,’ Semut Ireng ini bercerita kepada bangsanya.
“Hai bangsaku aku baru saja pergi ke tempat yang sangat jauh dari sini. Tempat itu sangat menarik dan bagus, belum pernah aku lihat tempat sebaik tempat itu. Aku menyebrangi sungai yang airnya jernih. Disana juga aku melihat taman-taman yang indah, yang tak ada di sekitar tempat kita ini. Aku juga melihat teman-teman kita, para semut lainnya sedang berjalan-jalan menyusuri jalan yang aku lewati.”  
“Ahh masa, yang benar saja? Aku tak percaya pada ceritamu, Semut Ireng. Aku lihat kamu tadi malam tidur di rumah istrimu, lalu bagaimana mungkin kamu pergi ke suatu tempat yang kau ceritakan itu. Untuk keluar dari lembah ini saja, kita butuh perjalanan satu purnama penuh, lalu bagaimana mungkin kamu dapat pergi ke suatu tempat seperti yang kau ceritakan itu? Kau pembohong besar, bulshit!! (kata bulshit juga dikenal di komunitas semut, yang berarti omong kosong, heheh..)

Lalu, terjadilah kehebohan di komunitas semut itu atas cerita dan pengakuan si Semut Ireng. Mereka menudingnya telah gila. Namun tak semua semut menuduhnya berbohong, ada satu teman Semut Ireng, yang mempercayai ceritanya.
“Kalaupun Semut Ireng bercerita atau membual yang lebih heboh dari cerita ini, aku pasti mempercayainya. Sepanjang kehidupanku, tak pernah aku temui semut sejujur Si Ireng di lembah ini. Maka, mana mungkin ia mempertaruhkan kredibiltasnya, hanya untuk cerita yang kalian katakana bohong ini. Aku beriman dan percaya pada kisahnya,” ujar satu teman si Ireng.

Pembaca, bila memakai logika para semut tentu takkan mungkin ia pergi ke suatu negeri yang jauh hanya dalam hitungan setengah malam saja. Namun, bila memakai logika mahluk yang bernama manusia, apa yang dialami Semut Ireng itu tidak lah mustahil. Menurut logika manusia, kisah yang terjadi pada Semut Ireng ini bisa dikisahkan sebagai berikut:

Pada saat Semut Ireng tidur, ia dibangunkan oleh sosok mahluk besar bernama manusia. Sosok itu memegang tubuh kecil Semut Ireng dengan hati-hati dan meletakkannya ke sebuah mobil. Lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju ke jalan tol Jagorawi, dan melewati beberapa kawasan yang tak pernah di lihat oleh Semut Ireng. Nah, tibalah mobil itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Disana telah menunggu pesawat jet pribadi yang memang telah disiapkan untuk membawa orang itu beserta Semut Ireng ke suatu wilayah/negeri yang jauh, yang  belum pernah dilihat oleh bangsa semut.

Dengan kecepatan supersonik pesawat jet pribadi itu terbang, melintasi Pulau Sumatera, Lautan Hindia, terus berputar hingga sampailah pesawat itu ke Pegunungan Himalaya, di Nepal. Di puncak bukit, di dataran tinggi itu, pesawat mendarat. Lalu orang yang membawa Semut Ireng itu turun bersamanya. Dan Semut Ireng itu bertemu dengan mahluk-mahluk lainnya yang mendiami pegunungan Himalaya. Sampai akhirnya Semut Ireng itu bertemu dan berbicara dengan Penciptanya, di puncak gunung Himalaya.

Dalam perjalanan dari Halim ke Himalaya itu, Semut Ireng sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Tak sampai subuh, pesawat itu sudah terbang kembali ke Halim dan orang itu membawa kembali si Semut Ireng ke rumahnya kembali ke komunitasnya.

Lalu Semut Ireng mulai bercerita seperti cerita diawal tulisan ini. Itulah kisah perjalanan ‘Isra’ Mi’raj’ si Semut Ireng dari Sentul hingga Halim, di Jakarta, lalu ia terbang ke pegunungan Himalaya di Nepal. Peristiwa yang menimpa Semut Ireng itu bisa dikatakan kejadian yang luar biasa dan merupakan peristiwa yang tergolong suprarasional dan metafisika bagi bangsa semut. Namun, lain halnya bagi bangsa manusia, atau bagi alam pikiran manusia. Kejadian yang menimpa Semut Ireng itu tidaklah sulit untuk dipahami. Ia begitu mudah untuk dicerna. Sama halnya dengan kisah Isra’ Miraj-nya Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu tentu sulit untuk dipahami oleh akal manusia biasa. Akan tetapi, dari percontohan dan cerita tentang Semut Ireng diatas, kisah yang dialami Nabi Muhammad SAW tidak lah sulit untuk dipahami. Ia nyata adanya, bukan isapan jempol belaka..

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di Palestina) yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ ayat 1)


Sumber photo: http://islamidia.com/kenapa-rute-isra-miraj-lewat-palestina-ini-penjelasan-detailnya/

Kamis, 20 April 2017

Mari Jadikan Anies-Sandi Gubernur Kita Bersama

Keriuhan Pilkada DKI Jakarta baru saja usai. Beruntung kita mengenal metode hitung cepat atau Quick Count hingga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui siapa pemenang dari perhelatan 5 tahunan ini. Dari hasil hitung cepat yang disajikan oleh berbagai lembaga survey, tampak dengan jelas dan meyakinkan, kemenangan pasangan Anies-Sandi atas pasangan yang diusung oleh koalisi PDIP, Golkar dan Nasdem. Dan segera, setelah publik mengetahui hasil hitung cepat tersebut, beragam, komentar, ucapan dan pendapat dari warga masyarakat bermunculan. Ada yang pro atau berpendapat positif, ada pula yang masih nyinyir.

Bagi mereka yang jagoannya menang, tentu komentar yang berupa puja puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah pemimpin baru, di panjatkan tak henti-hentinya oleh mereka. Nyaris seluruh isi timeline di media sosial dihiasi oleh kalimat-kalimat penyejuk, pembakar semangat dan harapan menyongsong era baru. Ungkapan dan komentar tersebut sebagai wujud perasaan gembira dan rasa syukur yang meraka rasakan. Tak hanya di media sosial, di dunia nyata pun, keriuhan dan kegembiraan segera tampak begitu masyarakat mengetahui psangan Anies-Sandi menang, ribuan rakyat melakukan sujud syukur, bahkan banyak diantara mereka menangis terharu menandakan sudah lama mereka mengidam-idamkan mempunyai pemimpin  yang santun, cerdas, amanah, dan bersih.

Nah disisi yang berbeda, bagi pendukung pasangan Ahok-Djarot, atau pasangan yang kalah, kesedihan tentu mereka rasakan. Banyak diantara mereka yang seolah tak percaya bahwa Ahok-Djarot kalah dengan selisih  suara yang sangat signifikan. Untuk menghilangkan kesedihan itu, mereka pun membangkitkan semangat dengan komentar dan pendapat, yang kebanyakan membesarkan hati dengan mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas upaya, dedikasi dan hasil kerja yang telah ditorehkan oleh Ahok-Djarot untuk masyarakat Jakarta selama ini.

Namun apakah hiruk pikuk Pilkada telah berakhir, setidaknya di media sosial? Tampaknya ‘perang’ di media sosial masih terus berlanjut, baik haters maupun lovers ataupun pengamat partisan masih beradu panggung. Seharusnya, setelah 19 April 2017, pukul 14.00, tensi keriuhan Pilkada ini berangsur menurun, namun yang terjadi, masih saja timeline dihiasi oleh perang opini. Patut disayangkan, dari beragam pendapat yang menghiasi timeline itu, ada saja yang masih bersikap nyinyir dan segan untuk mengakui keunggulan dan kemenangan pihak Anies-Sandi.
“Horeee gw mo’ ambil rumah DP 0 rupiah.”
 “Siap-siap deh perda syariah diberlakukan.”
Padahal, seperti kita ketahui, pasangan Anies-Sandi dilantik saja belum, kok sudah ditagih janjinya dan di fitnah macam-macam. Mereka beralasan, hal tersebut bukan menagih janji namun mengingatkan Anies-Sandi akan janjinya. Namun apakah elegant mengutarakan hal itu mengingat masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama masih tersisa 6 purnama lagi. Justru ke-nyinyiran-lah yang tampak.

Bahkan, tak hanya itu, muncul pula peramal-peramal dan cenayang masa depan yang sudah dapat memperdiksi masa depan Jakarta lima tahun kedepan, seperti:
“Jakarta bakalan banjir dan macet kembali”. Lho, bukankah sejak dulu juga Jakarta identik dengan macet dan banjir. Justru bila tidak macet, pasti ada yang salah dengan Jakarta. Hanya ada 2 peristiwa yang membuat Jakarta tak macet yakni pas lebaran dan kerusuhan.
“Jakarta akan kembali di rampok oleh mafia anggaran”
“Jakarta bakalan menjadi banjakan sarang korupsi”
“Jakarta akan menjadi sarang radikalisme”
Begitulah predikasi dan ramalan-ramalan seram lainnya, yang prediksi ini hanya fitnahan belaka dan justru kontra produktif untuk upaya merekatkan kembali Jakarta yang selama ini terkotak-kotak. 

Kini pesta telah usai. Kehidupan tak berhenti hingga di tanggal 19 April 2017. Marilah kita hadapi hari esok, lusa, dan mendatang dengan kerja nyata demi kemajuan Jakarta. Kepada seluruh warga Jakarta, khususnya pendukung Ahok-Djarot, jangan berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Ahok-Djarot adalah pemimpin yang baik. Kini kita tagih dan usut janji-janji kampanye yang telah mereka ucapkan sejak tahun 2012 agar seluruh janji-janji itu tergenapi. Tak ada kata terlambat. Mumpung masih ada waktu 6 bulan, segera tuntaskan segala janji-janjinya, bia ada janji-janji itu yang belum terselesaikan. Ya, terlepas dari plus minus dan pro kontra, pasangan Ahok-Djarot telah berbuat yang terbaik untuk Jakarta. Telah ada program dan prestasi yang mereka banggakan sebagai legacy bagi penerus mereka. Kepada pasangan Ahok-Djarot, selamat kami ucapkan. Kalian telah membuat kami bangga pada Jakarta.

Dan akhirnya, kemenangan pasangan Anies-Sandi sejatinya adalah kemenangan akal sehat, kemenangan hati nurani dan kemenangan semua warga Jakarta yang selama ini mendambakan keadilan. Kini, marilah kita songsong Jakarta dengan semangat membangun, berjabat dan bergandengan tangan erat dengan menghilangkan kotak-kotak yang selama ini menjadi sekat diantara kita. Dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI kita jadikan Jakarta sebagai barometer kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, nyaman, damai dan tentram bagi kita semua. Maju kotanya, bahagia warganya, semoga terwujud.


Sumber Foto: http://www.klasemen.co/nasional/peristiwa/1617/berita-terkini-begin-bocoran-strategi-anies-baswedan-dan-sandiaga-uno-hadapi-putaran-2-pilkada-dki/

Tentang Sepupuku (3)

Mami sangat dekat dengan semua ponakannya. Namun diantara keponakan-keponakan mami, hanya anak-anak Wak Iyom lah yang paling dekat dengannya. Bukan mami pilih kasih, namun lantaran anak-anak Wak Iyom tinggalnya dekat dengan mami. Bila sepupu-sepupuku yang lain memanggil mamiku dengan panggilan “Encing” atau “Ncing Omah”, maka anak-anak Wak Iyom, semuanya, memanggil mamiku dengan panggilan Ibu. Mamiku sudah dianggap ibunya sendiri, pengganti ibu mereka yang wafat. Ini bukti betapa dekatnya mereka dengan mamiku.

Semasa hidupnya, Wak Iyom sangat aktif berkegiatan di luar rumah. Beliau berbeda dengan kakaknya Maemunah, ataupun adiknya, yakni mamiku, yang seringan di rumah. Mungkin kalau zaman sekarang, beliau ini typikal wanita karier. Ia pernah berkarier di kantor kelurahan, sebagai staf potensial di Kelurahan Bangka. Mungkin bila umurnya tak pendek, Wak Iyom ini bakalan diangkat sebagai PNS Pemprov DKI Jakarta dan bukan tak mungkin akan menjadi walikota selevel Sylviana Murni, perempuan Betawi yang berkarier dari bawah. Wak Iyom memang wanita multi talent. Tipe pekerja keras. Sayang, Tuhan lebih sayang pada Wak-ku ini. Ia wafat dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih membutuhkan belaian kasih sayangnya.

Begitulah, selepas kematian Wak Iyom, anak-anaknya diasuh oleh nenekku. Hasil didikan dan asuhan nenekku membuahkan hasil positif. Tak ada dari anak-anak wak iyom yang keleleran tak terurus dan menjadi beban masyarakat. Semuanya berhasil jadi orang. Dan, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Polah, tingkah, dan jejak Wak Iyom ini diteruskan oleh salah satu putrinya. Ada satu anaknya yang mewarisi bakatnya dalam bekerja. Penasaran ingin mendengar kisahnya? Oke, sedikit aku ingin menceritakan tentang sepupuku yang satu ini.

Sepupuku ini bukan lah teman sepermainanku, usianya jauh diatasku sekitar 10 tahunan. Ia seumuran dengan Bang Ojih Amin dan Bang Udin Naseh. Meski usia kami terentang jarak yang tak pendek, namun hubungan keluargaku dengannya sangat dekat. Meski jarak rumah nenekku dengan rumah mamiku tak dekat, namun hampir saban hari sepupuku ini mampir ke rumah mamiku. Ya, wajar saja karena mamiku adalah bibinya. Segala macam persoalan yang terjadi tentu diadukan pada mamiku yang secara emosional dekat dengannya. Sepulang kerja, misalnya, ia kerap mampir ke rumah mamiku untuk memandikan adikku yang bontot, yang masih kecil. Selepas itu, ia kerap membantu mamiku di dapur. Diusianya yang masih remaja, ia memang telah mulai bekerja banting tulang membiayai hidupnya. Itu terjadi tahun 85-an, ketika aku masih SD

Garis tangan dan nasib seseorang memang unik. Sepupuku ini, bila bukan karena didikan nenekku, khususnya dan saudara-saudara ibunya, mungkn takkan pernah jadi orang. Selepas Tsanawiyah, ia diarahkan nenekku untuk terus berkarier atau melanjutkan pendidikan ke jenjang agama. Ke Aliyah, tepatnya. Namun ia menampik, ia lebih memilih pindah jurusan dan bersekolah di SMA umum. Nenek tentu kecewa, namun beliau tak mengekang keinginannya. Ia bebaskan cucunya meniti jalannya, sambil terus mengarahkannya.

Nah, selepas SMA, kebetulan ada tetangga kontrakan rumah nenek yang bekerja sebagai PNS di kementerian. Dia punya anak perempuan. Anaknya ini pengen juga dimasukkan sebagai PNS. Harap maklum, zaman dulu, jadi PNS sangat mudah, asal ada yang bawa, pasti keterima. Berbeda dengan sekarang, yang butuh seleksi dan sikut sana sikut sini, bahkan ada yang berani sampai nyogok ratusan juta. Lantaran si anak butuh teman untuk pulang pergi bareng, maka tawaran bekerja jadi honorer di kementerian tersebut ditawarkan kepada nenekku. Dengan sigap nenekku mengajukan cucunya yang baru tamat SMA untuk bisa bekerja menemani anak tetangga kontrakan itu.

Sampai akhirnya sepupuku ini mulai bekerja sebagai pegawai honorer rendahan yang tugasnya hanya baca Koran dan mengetik berkas, yang kadang tak perlu diketik, heheh.. Ya, meski gajinya sebagai abdi Negara sangat sedikit, namun ia tak bergeming untuk pindah haluan, melamar bekerja ke tempat lainnya. Ia menekuni pekerjaanya dengan sabar dan telaten. Sebagai tambahan untuk uang jajan, sewaktu remaja, sepupuku ini cukup kreatif, ia membuat es rujak. Bumbu asinan rujak yang berisi kedondong, dan bangkoang, di iris tipis tipis dan dibungkus kedalam pelastik lalu dimasukkan ke dalam freezer. Es rujak ini dijajakan oleh Budi, orang kontrakan rumah. Dagangan sepupuku cukup laris, hampir tak tersisa. Rasanya seger, manis asem asin.

Lantaran sepupuku sudah bekerja, hanya di hari minggulah aku sering bertemu dengannya. Aku masih ingat, ketika aku berkisar di kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar, kebetulan waktu itu lagi doyan-doyannya membaca. Segala macam Koran, buku, dan majalah aku baca. Lantaran minimnya buku yang tersedia, sepupuku ini paham kebutuhanku. Ia tahu kehausanku akan buku. Suatu hari ia berkata: “Mat, kakak punya buku bagus-bagus di kantor, kamu mau dibawain buku tentang apa? besok kakak bawain deh”
“Oh ya,” seruku dengan bersemangat.
Ketika itu aku sangat tertarik membaca kisah perjuangan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia. Kupesan padanya agar dibawakan buku-buku biografi dari Ahmad Yani; Adam Malik; Soekarno; Syahrir; dan Bung Hatta. Benar saja, besoknya ia bawa kumpulan buku yang aku minta. Betapa girang hati ini mendapatkan buku-buku yang, bahkan, kutaksir anak-anak lain seusiaku pasti belum pernah membacanya. Bukunya tebal-tebal, ratusan halaman. Sehabis kulahap buku-buku itu, dibawakannya lagi aku buku yang lain. Ya, aku sangat berhutang budi padanya. Berkat bawaan buku-buku itu, kegemaranku membaca kisah biografi tokoh terkenal terus berlanjut hingga sekarang.

Aku masih ingat, saking sayangnya padaku, semasa pacaran dengan suaminya sekarang, lantaran butuh orang ketiga, maka sepupuku ini mengajaku nonton film. Pacarnya pun mengajak adiknya. Jadilah kami berempat menonton film “Pengkhianatan G30S/PKI”. Film ini belum pernah tayang di televisi, hanya tayang di bioskop. Kami nonton di Adi Theater, di Blok A. Ini adalah pertama kalinya aku tahu gedung bioskop. Sehabis nonton, karena pacarnya orang Padang, kami makan sate padang di parkiran depan pasar.

Oh ya, kehidupan dan kisah asmara sepupuku ini bagaikan kisah Galih dan Ratna di film tahun 80-an, yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Kisah asmara sepupuku ini tidak direstui oleh nenek kami. Nenek menetang keras hubungan mereka. Lantaran tak peroleh restu, mereka pun seringan back street. Namun cinta tak menghalangi mereka untuk meyakinkan nenek. Nenek selalu bilang: “Kenapa sih loe suka ama Padang? Padahal anak sini yang demen loe kan banyak?” Bagi kami orang Betawi kalau bisa sebaiknya menikah dengan orang yang sesuku atau paling tidak Jawa atau Sunda tak masalah. Sebaliknya, jangan orang seberang (Sumatra/Sulawesi, dsb). Saat itu di lingkungan kami ada ledekan kalau orang Padang itu bengkok, entah apa-nya yang bengkok, heheh…

“Pokoknya gw gak demen dah ama padang”. Kalimat itu sering diucapkan nenek ketika marah dan meledek sepupuku. Sepupuku menghadapinya dengan sabar. Kadang kala ia memberi argument kepada nenek bahwa jangan melihat seseorang dari suku-nya. “Lha nenek aja kawin ama china”, begitu kerap ia men-skak neneknya. Mendengar ucapan itu, nenek nyaris tak berkutik, KO. Beliau nyerah. Mungkin karena si Padang ini pendekatannya nyaris sempurna kepada mami dan nenek, akhirnya beliau merestui hubungan antara sepupuku dan si Uda. Mereka pun menikah. Tanda nenek merestui hubungan itu, beliau pun menggelar pesta yang meriah bagi mereka, pesta 2 hari 2 malam.

Begitulah, waktu terus bergulir. Tampaknya dewi fortuna masih terus melingkupi sepupuku ini. Kariernya terus menapak. Sejujurnya, menurut penilaianku, sepupuku ini biasa-biasa saja. Orangnya pintar sih, tapi tak pintar-pintar amat. Standar lah. Ibaratnya, bila ada requirement atau persyaratan, ia sekadar masuk syarat saja. Meski demikian, seperti yang pernah diucapkan Oom Ded padaku bahwa orang pintar akan kalah dengan orang yang beruntung. Nah, sepupuku ini ditakdirkan sebagai orang yang beruntung. Mau bukti? Mari kita runut satu persatu:

Pertama; Setamat SMA, bila anak-anak yang lain melanjutkan kuliah, ia memutuskan untuk bekerja ketimbang kuliah. Bekerja pun ditawarkan orang, tanpa sengaja. Ajukan lamaran, langsung diterima bekerja. Kedua; saat berkarier dan menjadi PNS, ia mengambil S2 di UI, itupun dengan biaya talangan alias minjam sana-sini sebelum diganti oleh Negara. Nah, teman S2 sepupuku ini adalah seorang menteri di tempatnya bekerja. Maka selepas S2, lantaran temen sekelas sang menteri, sepupuku ini langsung mendapat promosi menjadi pejabat eselon 4. Lepas dari sana, tampaknya keberuntungan tak mau lepas darinya, kariernya terus meroket hingga mencapai level eselon 2. Itu semua terjadi, disamping tentunya dengan sedikit kepintaran plus dibumbui dengan keberuntungan, maka klop sudah pencapaian sepupuku ini. Ia kini menjabat direktur di kantor yang cukup prestisius.

Kini, dengan jabatan sekelas Wakil Walikota di Jakarta, tampaknya mimpi Wak Iyom telah digenapkan oleh sepupuku ini. Seperti Wak Iyom yang berkarier dari bawah, Ia menapaki kariernya setapak demi setapak hingga menjadi orang dan dipanggil “Ibu” oleh anak buahnya.  Oh ya, ngomong-ngomong siapa sih sepupuku itu? Penasaran…? Tampaknya ia hanya tertawa membaca kisahku ini. Sudahlah tak usah diungkap, toh para sepupuku yang lain tentu tahu siapa yang aku maksud, heheh…


Kamis, 13 April 2017

Haji Maidih

(Ki-Ka) Haji Husin Mugni; Haji Asmari; Haji Maidih; Haji Abdul Razak.
Haji Maidih telah lama wafat. Beliau kukenal sebagai orang tua yang suka memakai sorban. Sorban yang sering ia kenakan itu telah lusuh dan kucel, berpadu dengan pakaiannya yang juga telah tipis dan pudar termakan usia. Biasanya, ia mengenakannya bila menghadiri undangan selamatan atau arwahan. Nah, selain sorban, menariknya, bila pergi kemanapun, ia selalu membawa senter. Senter ini ia gunakan sebagai penunjuk jalan. Batu baterai-nya hampir saban hari d-‘chas’ di teriknya matahari. Padahal menurutku, tanpa senterpun, jalan-jalan yang ia lalui di sekitaran Kampung Kebon, Kemang, sudah berlampu semua. Sudah terang. Keadaan sekitar tahun 80-an saat itu, tentu kontras dengan yang dijumpai Kong Maidih, sapaan akrabku padanya, ketika ia muda, saat lampu belum ada, dan jalan masih beralaskan tanah. Aku tak ingin bercerita banyak tentangnya. Namun ada beberapa kalimat yang mengusik pikiranku tatkala kami ngobrol ngalor-ngidul dengan ayah dari Haji Matalih ini.

“Baba-nya Ji Damin ‘ntu, diculik waktu zaman NICA. Gak balik-balik”. Itulah kalimat yang sering ia ucapkan kala tahu aku adalah ponakan Haji Madamin... (to be continue)
(kisah tentang penculikan kakek-ku akan kuceritakan pada alinea berikutnya)