Senin, 11 April 2016

Ada Cita Rasa Indonesia Di Philadelphia


Philly atau Philadelphia, berada di negara bagian Pennsylvania. Kota ini memang kota yang multicultural. Beragam ras dan bangsa ada disini. Bahkan orang Indonesia pun gak mau ketinggalan dalam mengadu nasib dan peruntungannya di kota seribu satu mural ini, ditaksir ada sekitar 5000-an warga Indonesia yang bekerja –baik legal maupun illegal- di pabrik-pabrik dan sektor informal yang tersedia. Tak sulit menemukan mereka. Saat aku belanja di Reading Terminal Market, kujumpai beberapa kasir dan pelayan toko asal Pluit, Jakata dan kota-kota di Indonesia lainnya. Kusempatkan waktu untuk mengobrol dengan mereka.. Saat sore, selepas jam kerja, rupa warna dan raga orang-orang lalu lalang di depan hotel-ku. Hilir mudik, sibuk dengan urusannya. Bahkan, pengemis pun tak kalah ‘sibuk’ nya, banyak yang nongkrong di lokasi-lokasi strategis. Dengan modal sobekan karton bertuliskan “Homeless, Give your pennies, please. Need Food” seakan melambaikan iba ‘tuk dikasihani.

Lantaran banyaknya orang kulit berwarna (baca:asia), maka tak sukar menemukan makanan Asia di kota yang pernah menjadi ibu kota dari Amerika serikat ini. Di Reading Terminal Market, ‘Pasar Modern’ nan khas yang ada di Phili, misalnya, banyak stand makanan dari Thai, India, dan China.  Nah, sewaktu berada di Philadelphia, rupanya Pak Hendki dan Mba Nunu, LO kami selama di Amerika, tahu kerinduan kami akan masakan Indonesia. Dibawanya kami untuk menikmati dan mencicipi cita rasa nusantara ke sebuah rumah makan yang sudah terkenal di kalangan warga Indonesia yang bermukim di sekitar kawasan pantai timur Amerika. Restoran Hadena namanya. Lokasinya di 1754 S Hicks Street, Philadelphia Restoran ini dimiliki dan dikelola oleh imigran asal Surabaya yang telah lama bermigrasi ke Amerika. Kami menyapanya dengan panggilan Oom. Si Oom mengaku telah ada di Amerika sekitar tahun 70-an, dimana awalnya sempat bekerja sebagai staf di KJRI Indonesia di New York.

Saat aku memasukinya, terlihat ornament khas Indonesia berupa patung dan beberapa ukiran dari Jawa. Tampak pula meja kursi yang tertata persis seperti rumah makan sederhana di Jawa. Nah, untuk penyajian makanan, gak beda dengan sajian tata letak makanan ala Warteg. Terhampar di bilik kaca aneka masakan dan olahan. Semua makanan dan sayuran khas Indonesia (Jawa) tersaji. Ada sayur lodeh; Sop, Sayur Asem; Oseng-oseng kacang panjang; Tempe goreng; Gulai Telor/Ikan; Rendang; Kerecek; Kering tempe dan teri; Gudek; Bahkan soto, dan gado-gado. Semuanya tampak menggugah selera. Pilihan menu nasi ramesan di Hadena ini lumayan banyak dan variatif. Harganya pun relatif murah, berada di kisaran 10 an dollar.

Mungkin kalau kita berada di tanah air, hidangan demikian akan terlihat biasa saja dalam pandangan mata. Namun saat ini aku sedang berada di Amerika, jarak yang beribu-ribu mile dari Jakarta, adalah hal yang amazing dan excited menemukan ada makanan khas nusantara terhampar di depan mata.

Puas melihat hidangan yang ada, barulah aku menentukan pilihan. Aku memesan sayur lodeh dengan telor dan tempe kering, plus sambal terasi. Tadinya kupikir rasa sambalnya biasa saja, seperti sambal olahan dalam botol. Namun dugaanku salah. Ternyata sambalya asli sambal olahan tangan (sambal dadak) dengan rasa terasi Indonesia yang khas. Saat aku tanyakan dimana mendapatkan ini semua, Si Oom menjawab bahwa pencarian aneka bumbu dan rempah dilakukan secara bergerilya, dalam arti tidak di satu lokasi saja namun merambah state lain hingga ke Los Angeles, dimana banyak bermukim warga Indonesia. Adakalanya rempah dan bahan-bahan masakan itu sengaja di boyong dari Indonesia bila kebetulan Si Oom atau kerabatnya ‘mudik’ ke Indonesia. Saat aku bersantap siang, tampak beberapa warga kulit putih yang sedang menikmati hidangan khas Jawa ini. Kulirik pula ada seorang pria Indonesia sedang memesan makanan untuk di to go atau dibawa pulang.

Setelah kenyang bersantap siang, kami menyempatkan diri mampir ke minimarket khas Indonesia yang lokasinya gak terlalu jauh dari Hadena Resto. Namanya Pandawa. Saat masuk, aku melihat aneka tulisan berbahasa Indonesia. Tulisan ini tampaknya sengaja ditampilkan mengingat hampir 90 persen pengunjung Pandawa adalah warga Indonesia yang banyak bermukim di South Philly.

Toko ini menyajikan hampir semua jenis makanan dan kebutuhan masak Indonesia. Aneka rupa bumbu dan penyedap cita rasa khas Indonesia dengan mudah kita temukan disini. Ada saos sambel, kecap manis, dan sebagainya. Aneka snack kering dan kerupuk (dalam kemasan) nampak tergantung di dinding toko. Ada pula keripik, kacang, kue, permen dan aneka kue basah lainnya yang menggoda ‘tuk dicicipi. Bukan itu saja, bahkan ada nasi padang bungkusan, nasi kuning, nasi rames(an), lontong sayur, nasi pecel, dan bumbunya pun tersedia. Untuk kudapan teman minum teh di sore hari pun tersedia, seperti aneka gorengan, kue lopis, juga makanan hasil kukus. Ada pula bakmi, empek-empek dan sebagainya Singkatnya, bagi mereka yang rindu olahan masakan tanah air, bisa berbelanja di toko Pendawa ini.

Toko Pendawa menerapkan sistem konsinyasi atau titipan. Semua barang dan makanan diolah dan dipasok oleh warga Indonesia yang ada di Philli. Jadi tak aneh bila cita rasa dan olahan yang di jual di Pendawa di jamin 100 persen cita rasa Indonesia. Dari (titipan) warga, (diolah dan dimasak) oleh warga, dan untuk (disantap) warga Indonesia yang ada di Phili.


Inilah Philadelphia. Tampaknya warga Indonesia memanfaatkan betul peluang bisnis yang ada. Banyaknya orang Indonesia di Phili adalah peluang bagi bisnis kuliner. Orang Indonesia tentu lebih memilih makanan Indonesia ketimbang kuliner dari negara lain. Kehadiran masakan dan olahan Indonesia pastinya akan menjadi obat penawar rindu mereka dengan tanah airnya, juga dengan kulinernya. Dan kerinduan itu terobati oleh kehadiran Hadena dan Pendawa di Philadelphia. 

Kamis, 07 April 2016

Meski Di Amerika, Sarapan Nasi Perlu.


Biasanya di pagi hari, menu sarapanku adalah lontong sayur atau nasi uduk. Gonta ganti.  Atau bisa pula diselingi dengan sayur (asem, sop, lodeh) dicampur dengan tempe goreng dan nasi hanngat. Sayur matang tersebut aku beli di warung makan depan rumah yang khusus menjual makanan siap santap yang telah dibungkus. Sebungkusnya 5 (lima) ribu rupiah. Cuma itu yang tersaji di warung atau lapak makanan deket rumah,. Lapak itupun hanya ada di pagi hari, yang memang sengaja dijajakan untuk ngebantu orang kantoran sepertiku yang gak sempet makan atau meramu nasi goreng, sekalipun. Keberadaan lapak makanan di pagi hari cukup membantuku. Ya, kita sama-sama saling membantu. Mereka terbantu menggulirkan uangnya untuk tambahan jajan anak-anaknya, aku pun terbantu hingga tak perlu repot meminta istri membuatkan nasi goreng atau sekadar ceplok dadar telor.

Nah, saat aku di Amerika mengikuti program IVLP selama 3 (tiga) pekan, mau tak mau pola dan menu sarapanku pun berubah. Tak ada lagi lontong sayur ataupun nasi uduk semur jengkol. Kini yang ada dan selalu tersaji di ruang makan hotel adalah kentang rebus, roti (bisa dipanggang), telur dadar, dan pancake, serta daging olahan. Ya, hampir saban hari seperti itu. Gak berubah. Kalau satu dua kali nyoba, tentu masih ada rasa exciting-nya dan enak disantap. Namun bila telah menjadi rutinitas sarapan selama 3 (tiga) pekan, ya bosen juga.

Gimana caranya biar gak bosen? Selalu ada jalan dan cara bagi orang Indonesia katro sepertiku untuk mencari celah dan menyiasatinya. Biasanya aku menghangatkan lauk pauk makan malam yang tersisa untuk disantap keesokan paginya. Untuk makan malam, sengaja aku memilih resto China atau resto Asia di tiap kota yang kusinggahi, yang kadang menjual nasi. “Do you have steam rice?” Selidikku pada pramusaji, tatkala melihat magic jar di sudut tempat menaruh aneka makanan. Jadilah aku memesan nasi putih plus ayam atau beef poured with sweet sauce sebagai menu pelangkap.

Ngomong-ngomong kok bisa ada sisa? Iya, mesti ada sisa. Di sini, di Amerika, satu porsi makanan cukup untuk dua kali makan orang Indonesia yang berusus pendek dan kecil sepertiku. Porsi Amerika itu jumbo, lantaran body mereka pun diatas rata-rata tubuh orang Indonesia. Jadi, wajar bila pramusaji di semua food court atau di rumah makan menyendokkan lauk pauk dengan porsi yang banyak. Nah, lantaran sering gak sanggup menghabiskannya, timbullah ide kreatif untuk membungkus makanan yang dibeli supaya bisa disisakan untuk dimakan keesokan paginya. Beruntung, ditiap hotel yang kusinggahi selalu ada microwave, benda ini sangat membantu. Jadi gak perlu repot untuk urusan hangat-menghangatkan makanan. Thanks to you, Micro.

Meski selama di Amerika Serikat aku menghabiskan malam rata-rata 4 (empat) hari di suatu hotel, untuk kemudian pindah ke negara (state) lainnya, namun tetap saja format dan standard baku per-sarapan di amerika seperti itu. Gonta-ganti hotel, tetap saja SOP-nya gak berubah. Boro-boro nyari nasi pecel atawa salad khas america, seperti di kampung istriku di Klaten, nyari nasi goreng atau porridge made in hotel saja impossible.

Di saat sarapan, tatkala sedang mengunyah kentang yang terasa hambar di mulut, sering aku termenung dan lalu bersyukur. Beruntung, aku, keluargaku dan teman-temanku berwarga negara dan tinggal di Indonesia. Dengan uang 10 (sepuluh) ribu rupiah ditangan, bisa peroleh sarapan yang super lezat dan nikmat. Dengan uang sebesar itu kita bisa membeli nasi pecel, atau bubur ayam atau nasi uduk lengkap dengan semur jengkolnya, plus teh manis panas. Bandingkan dengan mereka yang tinggal di Amerika, yang saban hari hanya ber-sarapan kentang, telor, roti dan daging olahan. Semuanya nyaris tanpa racikan aneka rempah dan bumbu-bumbu penyedap rasa. Hambar. Vivat dunia kuliner Indonesia…


Rabu, 06 April 2016

Di Amerika, Hotel Membuatku Bisa Berhemat

Selain dekat kemana-mana, apa sich yang menarik dari suatu hotel –selain- tentu saja layanan dan fasilitas yang ditawarkan? Tergantung tujuannya. Kalau untuk berbulan madu, lokasi yang jauh dari pusat keramaian dengan pemandangan indah, serta fasilitas dan pelayanan prima yang ditawarkan tentu menjadi pilihan utama. Aku sendiri, bila kebetulan harus bepergian dan menginap di suatu kota, biasanya memilih hotel dengan lokasi yang strategis, atau dekat kemana-mana agar kesukaanku dalam meng-explore, dan melihat sesuatu yang baru di tempat yang kukunjungi dapat terpenuhi. Tempat-tempat yang banyak diperguncingkan orang tentu lebih menarik perhatian untuk kulihat ketimbang lama-lama berdiam diri di kamar hotel. 

Dalam kunjunganku ke Amerika baru-baru ini, dimana paling lama hanya 5 (lima) malam aku beristirahat di satu hotel. Selebihnya, aku harus kembali ber-packing dan bersiap untuk pindah ke kota selanjutnya, yang berarti harus check in kembali di hotel yang baru. Selama di Amerika Serikat, hotel yang disediakan oleh Kemenlu AS lumayan cozy. Standar bintang 4. Semuanya berada di pusat kota, dan –kebetulan- dekat kemana-mana. Dekat ke pusat-pusat keramaian, tempat-tempat yang menarik, dan, yang penting, nyari makan pun gampang.

Segera setelah landing di Washington DC, pihak panitia penyelenggara menginapkanku di Hotel One Washington Circle. Lokasinya persis berseberangan dengan Universitas George Washington. Dari namanya yang circle, hotel ini tepat berada disisi lingkaran jalan/tugu Washington. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki untuk sampai ke Gedung Putih, ke kawasan Abraham Lincoln Memorial, museum-musem yang ada di sekitarannya ataupun ke Kedubes Republik Indonesia yang berlokasi di 2020 Massachusetts Avenue.

Hotel yang kutinggali di DC sangat nyaman, yang ku taksir kalau di Jakarta seharga bintang 5. Semua fasilitas tersedia lengkap. Disamping standar fasilitas bintang 4, di dalam kamar, ada pula ruang masak. Ya, ruang masak dengan kompor gas yang siap untuk dinyalakan. Peralatan masak pun tersedia. Jadi, tinggal beli beras atau mie instan, kita bisa memasak dan menggoreng telor dan daging untuk bekal makan malam.

Begitupun saat aku di Phili atau Philadelphia. Aku tinggal di hotel yang hanya berjarak selemparan batu dari pusat belanja dan kuliner. Hotelnya Club Quarters Philadelphia 1628 Chestnut Street Philadelphia, Pennsylvania. Namun sayangnya fasilitas di hotel ini tidak selengkap One Washington Circle. Tidak ada ruang masak. Kamarnya pun kecil.

Bagiku, yang namanya hotel bintang 4 dimanapun berada, entah itu di Indonesia atau di negeri pewayangan lainnya, tentu punya standar fasilitas dan pola layanan yang sama dan baku. Dan itu biasa saja, tanpa ada kesan yang berarti bagiku. Namun, ada satu hal menarik yang membuatku terkesan selama tinggal di hotel-hotel di Amerika. Ada yang unik dan beda dalam fasilitas kamar hotel di Amerika. Selama 5 (lima) kali gonta ganti hotel, ada satu benda atau fasilitas yang selalu ada dan tergantung di sudut pojok ruang tempat gantungan baju.

Di hotel manapun yang pernah kuinapi, baik itu di negeri pewayangan ataupun negeri impian, biasanya fasilitas dan barang-barang standard yang terlihat dimata adalah sandal hotel, kantong plastik untuk laundry, gantungan baju, kotak deposit, mini bar, alat tulis, teh/kopi beserta gelasnya, handuk, dan perlengkapan mandi. Hanya itu. Namun di Amerika, selain benda-benda tersebut, ada satu benda yang tampaknya menjadi benda yang mesti ada di dalam per-standard-an hotel di Amerika. Ya. Di setiap hotel yang kusinggahi selalu tersedia setrikaan beserta alas untuk menyetrika. Amazing! Justru sandal hotel yang gak pernah ada di kamar hotel-hotel yang kuinapi.

Kedua benda itu sangat membantu selama kegiatanku mengikuti IVLP. Maklum saja, bila aku menggunakan jasa binatu untuk mencuci dan men-setrika pakaianku selama di Amerika, tentu akan mengeluarkan biaya yang tidak murah. Ketimbang dana itu dialokasikan untuk jasa laundry, lebih baik uangnya kusimpan untuk sekadar membeli oleh-oleh. Lumayan, ada penghematan, meskipun pihak penyelenggara telah mengalokasikan dana harian untuk laundry. Toh di kamar sudah ada setrikaan beserta alas untuk menyetrika-nya. Jadi, buat apa me-laundry. Kugunakan fasilitas itu. Beruntung aku sudah membawa deterjen bubuk dari Indonesia, jadi tinggal rendam cucian, kucek, jemur di kamar mandi, kering, lalu di setrika di kamar. Beres.


Selain setrikaan, ada satu lagi benda yang membantuku selama tinggal di negeri Paman Sam, yakni Microwave. Barang ini sangat sangat membantuku. Dengan adanya microwave, dapat menghemat pengeluaranku. Aku tidak perlu jajan makanan untuk bekal sarapan lantaran sisa makan malam (makanan yang kubungkus di malam hari) dapat kuhangatkan untuk sarapan pagiku.  

Senin, 04 April 2016

Americaaa.. I'm Coming..

Saat tiba dan menginjakkan kaki di benua Amerika, tepatnya di negara Amerika Serikat, ada perasaan kaget dan shock culture. Maklum saja, ini adalah kunjungan pertama saya ke negeri yang paling jauh dari Indonesia. Kaget dan keki* bercampur menjadi satu. Sebelumnya, bermimpi pun tidak untuk bisa ke Amerika. Selama ini (bendera) Amerika hanya ada dalam pandangan sekelabatan mata saja bila harus pergi ke Balaikota Pemprov DKI Jakarta lantaran ada urusan kerja, yang otomatis akan melintas di depan Kedubes Amerika, di Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Kantor Balaikota persis bertetangga dengan ‘Amerika’ yang hanya dipisahkan oleh Istana Wapres. Maka, gak nyangka kalau akhirnya aku bisa mendarat dengan selamat dan tiba di Amerika Serikat. Saat tiba, di Bandara Dallas/Fort Worth International Airport, sebagai pintu gerbang masuk ke Amerika Serikat, badan sudah di terpa dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Saat itu diawal bulan Maret 2016, negara-negara yang berada dibagian utara, seperti Amerika memasuki awal musim semi, ini berarti musim dingin baru saja berlalu.

Begitu turun dari pesawat American Airlines, kami para penumpang pesawat dari Narita, Tokyo, langsung bergegas menuju bagian imigrasi. Ini adalah salah satu pos imigrasi bagi mereka, yang biasanya datang --dari penerbangan-- dari bandara di Japan, China, Korea, Taipei atau Hongkong. Dallas adalah kota hub atau Bandar Udara Jangkar. Dari sini penerbangan lanjutan untuk menjelajah dan menuju destinasi selanjutnya ke kawasan lain di Amerika Serikat tersedia. Lantaran lokasinya berada di tengah-tengah, maka Dallas/Fort Worth International Airport sangat strategis. Dari Dallas kita bisa ke kawasan utara amerika (Montana, Salt Lake City, Wyoming, dsb) ataupun ke selatan (Florida. Miami, dsb). Bisa juga ke wilayah pantai barat amerika (Los Angeles, San Francisco, Portland, dsb) ataupun pantai timur (New York, Washongton DC, Philadelphia, Boston, dsb). Amerika memang luas. Bandingkan saja dengan Indonesia yang terentang dari Sabang samapi Merauke, mereka mempunyai 4 pembagian zona waktu.

Di pos pemeriksaan imigrasi ini kami dipilah-pilah berdasarkan maksud dan tujuan datang ke Amerika. Ada jalur khusus untuk bisnis, ada pula jalur khusus untuk turis atau rombongan tour wisata. Nah, karena saya ke Amerika atas undangan Kemenlu AS, maka saya tidak melalui kedua lajur tersebut, melainkan menuju lajur Exchange, Jalur ini khusus ditujukan bagi mereka yang mau sekolah di Amerika ataupun mereka yang datang untuk kunjungan pertukaran.

Setelah diarahkan oleh petugas, langsung aku menuju ke jalur exchange. Tiba giliranku maju ke meja imigrasi, petugas yang kebetulan laki-laki (sengaja aku tulis masalah gender, karena bila peng-interview laki atau perempuan akan berpengaruh padaku dalam menjawab pertanyaan yang diajukan). Seperti biasa, terjadilah proses introgasi atau tanya jawab.
“Mau apa datang ke Amerika?” kira-kira begitulah tanyanya
“Your State invite me to come here, to attend International Visitor Leadership Program,” jawabku dengan pede-nya.
“What?” Selidiknya. Tampaknya ia kurang mudeng tentang program IVLP atau memang sengaja ingin mengorek keterangan yang lebih mendetail tentang kunjunganku ke Amerika.

Lalu kujelaskan secara panjang lebar. Disambarnya dengan menanyakan itinerary-ku dan dimana aku tinggal selama di Amerika. Nah inilah keribetan pertama yang muncul. Di kertas ketibaan yang dibagikan saat jelang pesawat landing di Dallas, aku tidak jelas dalam menulis alamat hotelku di DC. Petugas tampaknya tidak merasa puas bila hanya nama hotel saja yang kutulis, ia butuh alamat lengkapnya. Sialnya, buku atau berkas yang diberikan saat briefing di Kedubes USA di Jakarta justru tertingal di Jakarta. Kepanikan sesaat melandaku, namun segera aku menoleh kebelakang, ke teman programku yang kebetulan masih dalam antrian imigrasi. Sejurus kemudian aku burujar. “Let me ask to my friend, plisss,”
Tanpa minta persetujuannya aku langsung mundur kebelakang dan meminta buku program pada temanku. Beruntung ia membawanya. Lalu setelah membaca buku program tersebut, yang tentu tertera namaku, beserta kontak-kontakku selama di Amerika, petugas imigrasi langsung men-cap pasporku sambil berkata: “Welcome to Amerika”.

Jiahhhh, akhirnya. Lega!! Kami bertiga berhasil lolos dari proses imigrasi dengan ‘mudahnya’. Namun tidak demikian dengan salah satu teman programku. Ia harus digiring masuk ke bilik selanjutnya untuk diadakan intensive interview. Usut punya usut ternyata nama temanku itu yang dipermasalahkan. Temanku hanya mencantumkan satu suku kata pada namanya, yakni Sunoko, tanpa embel-embel. Ini yang membuat mereka, para petugas imigrasi mengintrogasi temanku lebih lanjut. Dalam perspektif mereka, nama temanku itu ada kejangalan. Tidak lazim dalam passport hanya ada satu suku kata. Ini bisa diindikasikan bahwa seseorang –menurut pandangan Amerika-- menyembunyikan asal-usul dan latar belakang keluarganya. Biasanya, paling tidak ada 2 nama yakni nama depan dan nama belakang atau nama keluarga. Setelah dijelaskan panjang lebar dan tentu dengan pendekatan cultural bahwa banyak di Indonesia atau budaya Indonesia seseorang hanya menyandang satu nama atau satu suku kata untuk namanya, akhirnya mereka percaya dan mempersilahkan temanku lewat setelah menahannya hampir sekitar seperapat jam.

Gara-gara masalah nama, urusan di imigrasi jadi terkendala. Dan ini bukan yang pertama. Berikutnya saat pemeriksaan di bandara kota-kota/states di Amerika Serikat yang kami kunjungi pun, passport temanku kadang bermasalah. Ya, mereka menyelidik dan tergelitik untuk mencari tahu kenapa hanya satu suku kata pada nama itu. yang tertera di paspor

Kini, setelah urusan Si Sunoko beres, kami, berempat, para peserta IVLP program Child Walfare 2016 bisa melenggang memasuki Amerika untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Kota Washington DC. Americaaa here i came..


*bahasa Betawi; maknanya campuran antara impressed dan excited 

Rabu, 03 Februari 2016

Duet Syafi’i, Penjaga Kemurnian Ajaran Islam Di Jakarta.

Selain Jalan Casablanca --Jalan ini dipersembahkan sebagai komitmen pemerintah kota bagi sister city project antara Kota Casablanca, Maroko, Afrika Utara dengan Jakarta--, ada sepenggal jalan yang menghubungkan kawasan Rasuna Said dengan Kampung Melayu. Bila Casablanca membentang dari Kolong Fly Over Rasuna Said hingga pertemuan dengan Jalan DR. Saharjo, maka terus ke arah timur, ruas jalan berganti dengan nama jalan KH. Abdullah Syafi’i. Jalannya sangat lebar dan panjang. Dulunya, hingga tahun 90-an, jalan itu bernama Jalan Lapangan Roos Raya. Lalu, siapakah Syafi’i ini yang bisa menggantikan Lapangan Roos itu? Bisa-bisanya nama itu bertengger di jalan yang cukup prestisius di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Masih di wilayah Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, ada sebidang jalan, sepanjang kurang lebih 800 meter, yang menghubungkan kawasan Gandaria ke arah barat, ke Mall Gandaria City, Kebayoran Lama. Saat itu (sekitar tahun 90-an) di sisi jalan ada perumahan mewah yang cukup mentereng, perumahan Taman Gandaria, makan oleh warga sekitar, jalan itu dinamakan Jalan Taman Gandaria. Namun itu dulu. Kini, jalan itu berubah nama menjadi Jalan KH. M. Syafi’i Hadzami. Lantas, siapakah Syafi’i yang satu ini, yang bisa menggantikan jalan Taman Gandaria? Bisa-bisanya nama itu bertengger di jalan yang cukup prestisius di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Siapa dia?

Keduanya menyandang nama yang sama. Keduanya juga sangat mumpuni di bidangnya. Keduanya juga sama-sama ahli agama. Keduanya juga mempunyai murid ribuan. Keduanya juga berasal dari etnis yang sama. Keduanya juga berguru pada guru yang sama. Ringkasnya, banyak kesamaan diantara keduanya. Ada duet Syafi’i yang berpengaruh dan termashur di tanah Jakarta, hingga nama keduanya ditasbihkan menjadi nama jalan di salah satu kawasan bergengsi di Jakarta. Tanpa ke-duo Syafi’i ini, entah apa jadinya dengan perjalanan Islam dan kehidupan keagamaan di tanah Jakarta pada tahun-tahun mutaakhir ini.

Bagi anak kemaren sore atau yang lahir pada tahun 2000-an, mungkin tidak tahu apa dan siapa duo Syafi’i itu. Boleh jadi dalam benak mereka, Syai’ei adalah nama pahlawan yang berperang di zaman Belanda dulu. Atau bisa jadi mereka berpikir bahwa duo Syafi’i itu adalah hanya nama jawara di kawasan deket-deket situ.

Baik, bagi mereka yang ingin tahu, inilah sedikit kisahnya.

KH. Abdullah Syafi’i adalah putra Betawi yang lahir di tahun 1910. Dari nama belakangnya, maka mudah dikenali bila ia adalah putra dari K.H Syafi'i bin Haji Sairan, seorang guru agama di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Semasa mudanya, ia aktif dalam kegiatan dakwah, belajar dan mengajar. Ia belajar dari berbagai macam guru dan habaib yang bertebaran di Jakarta. Diantara guru-gurunya adalah duo Habib Ali , yakni Habib Ali Kwitang dan Habib Ali Bungur.

Selepas belajar, ia habiskan waktu untuk memimpin dan mengajar murid-muridnya. Lantaran dirasa makin banyak muridnya,  di tahun 60-an ia dirikan, di dekat rumahnya, Perguruan Islam As-Syafi’iyaah di Balimatraman, Manggarai, Jakarta Selatan. Perguruan ini adalah salah satu Perguruan Islam tertua di Jakarta. Saking terkenalnya perguruan ini, banyak para orang tua Betawi yang menyekolahkan anaknya ke sini. (lihat link).  

Selain Perguruan Islam dan Pondok Pesantren di Jatiwaringin dan Pulo Aer, Sukabumi, legacy ayah dari Tutty Alawiyah, --bekas Menteri Peranan Wanita era Presiden Habibie-- adalah Radio Assafiyyah. Zaman tipi hanya ada TVRI, radio ini menjadi radio favorit para orang tua Betawi. Tiap menjelang kumandang azan, radio ini kerap melantunkan Shalawat Tarhim. Untuk positioning, kini radio tersebut berubah nama menjadi Radio RasFM dengan tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai radio rohani keagamaan. Beliau wafat pada 03 September 1985 dan perjuanganya diteruskan oleh anaknya yang bernama KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i.

Adapun KH. M. Syafi’i Hadzami, atau lebih dikenal dengan Muallim Syafi’i, adalah seorang fuqoha atau ahli fiqih dan hukum Islam. Sejatinya, nama aslinya hanya Muhammad Syafi’i. Ia lahir di Jakarta sekitar tahun 1931-an. Jika Habibie dijuluki sebagai Mr Clack lantaran keahliannya menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang, maka putra dari M. Saleh Raidi ini di tasbihkan oleh para gurunya dengan julukan Hadzami lantaran penguasaannya yang mendalam terhadap ilmu-ilmu agama, seperti Ilmu Fiqih; Ilmu Hadist; Ilmu Tafsir; dan Ilmu Tauhid.

Menariknya, bila ulama atau ahli agama kondang disebut dengan panggilan Pak Kyai, maka M. Syafi’i Hadzami, dipanggil dan dikenal di kalangan murid-muridnya dengan panggilan “Muallim”. Tampaknya beliau sengaja menyamankan diri dengan panggilan muallim lantaran kerendah hatian beliau. Gelar Muallim dirasa cocok disandang olehnya, sebab saban harinya, dari pagi hingga larut malam, beliau bergelut dengan kitab dan buku mengajar para murid-muridnya yang notabene kebanyakan sudah ber ‘title’ ustaz dan menjadi guru, yang tersebar diberbagai pelosok Jakarta. Boleh dibilang, Muallim adalah sang professor yang mengajari para doktor dalam keilmuan Islam.

Dimasa kecil hingga mudanya ia tinggal di Kampung Kepu, dekat kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Nah, menjelang usia dewasa baru lah ia hijrah ke bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Itulah sebabnya, Muallim pernah menjadi Pegawai Negeri dan ditempatkan di RRI, yang kantornya di Jalan Radio, Gandaria, Jakarta Selatan. Maka selepas kematiannya --07 Mei 2006-- untuk mengenang ketokohannya, para tetua masyarakat Jakarta mengabadikan namanya menggantikan Jalan Taman Gandaria, yang kebetulan jalan tersebut tepat melintasi makam tempat ia bersemayam dengan kedamaian.

Itulah duo Syafi’i, guru dari para guru dan pemuka agama yang pernah ada di wilayah Jakarta. Mereka berdua berguru pada guru yang sama yakni duet Habib Ali, yakni; Yang pertama, Habib Ali bin Husein Alattas, atau lebih dikenal dengan Habib Ali Bungur (lantaran bertempat tinggal di kawasan Bungur, Senen, Jakarta Pusat). Kedua, Habib Ali Bin Abdurrachman Alhabsy yang tinggal di Kwitang, juga dikenal sebagai Habib Ali Kwitang. Keduanya berasal dari kalangan Habaib, dari Hadramaut, Yaman.

Bersebab dari kedua Habib diatas yang menurunkan ilmu-ilmunya kepada duet Syafi’i inilah ajaran dan tuntunan Islam yang kita anut dan kita amalkan hingga saat ini terus dijaga kemurniannya. Bersilsilah, sambung menyambung dan berterus ke atas hingga ke Rasulullah SAW. Maka, boleh dibilang bahwa muara ilmu agama para ulama dan guru-guru di Betawi yang diturunkan kepada segenap murid-muridnya hingga sampai pada kita adalah bersumber dari kedua Syafi’i diatas. Sejatinya, ke-islam-an umat muslim Betawi di Jakarta adalah bersumber dari mereka. Ya,  jadilah muslim Betawi itu satu ilmu satu guru.

Rabu, 20 Januari 2016

Tradisi Mesantrenin Anak

Di kampungku, Kampung Kebon, Kemang, Jakarta, kebanyakan teman-teman sepermainanku, setamat Sekolah Dasar, melanjutkan pendidikannya di bangku pesantren. Jarang yang meneruskan sekolahnya ke sekolah umum atawa SMP. Tujuan mereka di kirim ke pesantren oleh orang tuanya agar kelak (syukur-syukur) bisa menjadi pemimpin agama atau –paling tidak—bisa memimpin tahlil, arwahan atau ngajarin ngaji para tetangga kiri kanan. Saking fanatik (atau lebih tepatnya) kuat memagang ajaran agama, para orang tua di kampungku seakan alergi dengan pola pendidikan yang diajarkan di sekolah mainstream alias sekolah berbasis pendidikan umum semisal, SD, SMP, dan SMA. Akibatnya, jenjang pendidikan yang dituju setamat  sekolah dasar adalah langsung dikirim ke pesantren, atau bagi mereka yang anaknya gak betahan tinggal di Pesantren, biasanya di kirim ke sekolah (binaan Kementrian Agama) tingkatan tsanawiyah, dan aliyah. 

Bagi para orang tua di kampungku, menyekolahkan anaknya ke pesantren seakan menyandang prestige dan gengsi yang tinggi di kalangan mereka. Makin jauh pesantren yang dituju, makin kesohor pula anak atau orangtuanya itu, apalagi bila sanggup mengirim putra putrinya berguru ke Cairo, Mesir. Oh ya, menariknya, kebanyakan pesantren yang dituju adalah di Jawa Timur. Tidak ada yang ke Jawa bagian barat atau tengah. Maklum, mayoritas atau hampir di-reken 90% muslim betawi di kampungku beraliran dan berpaham politik NU (entah sebagai partai politik ataupun sebagai jam’iyyah). Bagi mereka, Jawa Timur dipandang sebagai kiblat ajaran ahlussunnah waljamah dimana banyak berdiri pesantren. Sebut saja misalnya, di Jombang. Disana ada 4 (empat) pesantren besar yang mewakili 4 penjuru mata angin. Di selatan ada Tebuireng, di utara ada Tambak Beras, di barat ada Denanyar, dan di timur ada Rejoso, Peterongan.

Dalam analisaku, kebiasaan mengirim anaknya ke pesantren di Jombang, Jawa Timur, lantaran --pada selepas Gestapu-- banyak para pemuda Betawi di kampungku yang belajar disana. Walhasil, ini seakan meneruskan tradisi yang sudah berjalan selama ini yakni mengirim kembali para adik atau anaknya ke pesantren di sebelah Mojokerto itu. Selain itu, guru mengaji para orang tua di kampungku adalah juga jebolan dari pesantren asuhan kakek Gus Dur. Jadilah kebanyakan teman-teman di kampungku nyantri dan mondok di pesantren di Jawa Timur

Namun, bagi kalangan Islam ‘modernis’ di kampungku atau mereka yang tidak saklek pengikut NU, --meski jumlahnya sangat sedikt-- mereka, para orang tua, mengirim belajar putra nya ke Pondok Modern (PM) Gontor, di Ponorogo ataupun Pesantren yang berafiliasi ke Gontor. Kebalikan dari pesantren ‘tradisional’ khas NU, maka Gontor lebih menekankan pada ke’modern-annya. Seperti, para santri sudah dibiasakan berbusana rapi, berjas dan berdasi dalam tata acara resmi, serta memakai sarung dengan ikat pinggang saat shalat berjamaah di Masjid. Disamping itu, dalam sistem belajar pengajaran, maka bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Arab atau Inggris. Sebaliknya, pada pesantren yang berafiliasi ke Tebuireng, untuk penterjemahan kitab-kitab klasik  karya dari para ulama terdahulu adalah dengan memakai bahasa jawa atau Indonesia. Well, Saya tidak akan berpanjang kalam membahas perbedaan antara mazhab Tebuireng dan Gontor ini.

Waktu itu, tahun 80-an pesantren yang terkenal dan santer di perbincangan dalam obrolah antar para orang tua di kampungku, selain Tebuireng dan Gontor, adalah Yapi Bangil, Asembagus, Situbondo; Pesantren di Malang; dan di Kediri. Tampaknya para orangtua mulai mencoba keluar dari konvensi yang ada dalam dunia kepesantrenan dengan menyekolahkan anaknya diluar kedua pondok besar itu. Ya mungkin dengan melihat pertimbangan bahwa diluar kedua pesantren besar itu banyak pula pesantren bagus dengan kualitas kyai dan guru pengasuh yang mumpuni.

Selain ke Jawa Timur ada pula sebagian kecil temanku yang gak betah jauh dari orang tua alias hanya ‘nyantri ‘ di sekitaran Jakarta saja. Ada banyak Pesantren terkenal di Jakarta saat itu. Sebut saja misalnya Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta dimana pengasuhnya adalah jebolan dari PM Gontor. Ada pula pesantren yang diasuh oleh para Guru dan ulama Betawi, seperti Pesantren As-Syafiiyyah di bilangan Balimatraman, Jakarta Selatan. Pesantren asuhan KH Abdullah Syafei ini banyak digemari kalangan Betawi. Beliau adalah ulama pribumi, dalam arti bukan dari kalangan habaib yang banyak bertebaran di Jakarta saat itu. Sama dengan KH. Hasyim As’arie, pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Syafei juga pernah berguru dan belajar ditanah suci, di Mekkah.


Kini, selepas mesantren, saat usia teman-temanku rata-rata berada di kisaran 40 (empat puluh) tahunan, yang berarti mereka sudah punya anak yang masuk usia layak di-pesantren-in, sudah tidak ada lagi yang meneruskan tradisi mengirim anaknya ke pesantren. Entah karena apa. Zaman dan pergeseran budaya telah berubah tampaknya. Atau bisa jadi ke-‘engganan’ mereka mengirim anak-anaknya ke pesantren lantaran himpitan dan biaya ekonomi yang tidak murah. Maklum saja, sekarang biaya untuk mesantren tidak murah, bisa berjuta-juta. Lain bila dibandingkan dengan uang masuk SMP/SMA yang murah bahkan gratis, ditambah ada embel-embel tunjangan dari Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Sawit Itu Masih Menjadi Penanda

Dahulu, sekitar tahun 70-an, saat aku masih kecil, bila diajak bunda pergi berbelanja ke Pasar Minggu dengan Bus, (Mayasari Bakti, warna Hijau) pasti akan ‘singgah’ sebentar di Ragunan, tepatnya di Pintu Utama (Utara). Bus sengaja berhenti untuk melayani mereka yang hendak datang dan bertolak ke/dari Ragunan, Jakarta Selatan. Bus terpaksa singgah lantaran saat itu minim sekali trayek yang menuju dari dan ke objek wisata –satu-satunya dan murah meriah di Jakarta-- Kebun Binatang, Ragunan. Walhasil, rute Pasar Minggu – Blok M via Kemang yang di jalani Mayasari itu tidak langsung menuju ke barat, ke arah Ampera/Kemang, namun harus melipir terlebih dahulu selatan, ke Ragunan, untuk kemudian balik arah lagi ke utara lalu berbelok ke barat ke arah TB Simatupang dan Ampera, lalu ke Kemang dan berakhir di Terminal Blok M, (Aldiron Plaza) Kebayoran Baru.

Kebun Binatang Ragunan itu sendiri adalah pindahan dari Kebun Binatang Cikini yang berlokasi di pusat kota persis berseberangan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) saat ini. Hikayat bercerita bahwa sekitar tahun 1964-an awal mula hijrahnya para kafilah binatang yang ada disana. Dalam catatan yang ditulis Soe Hok Gie, seorang pentolan mahasiswa UI tahun 60-an, ia dan teman-temannya kerap bersepeda, dari kampus mereka di Salemba/Rawamangun menuju ke arah selatan, yang berudara masih sangat segar, masih ijo royo-royo dan bersuasana alam khas ‘pedesaan,’ di Ragunan, Cilandak Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Hanya untuk sekadar melepas kepenatan dan hiruk pikuk kota.

Saking terkenalnya kawasan Pasar Minggu saat itu sebagai wilayah “pedesaan,’ maka masih sangat banyak dijumpai kebun-kebun penduduk Betawi yang lebar dan luas. Mata pencarian utama mereka adalah dengan berkebun, memanfaarkan luas areal lahan yang dimiliki untuk ditanami dengan aneka macam buahan. Jadilah kawasan Pasar Minggu, Ragunan, Cilandak, Jagakarsa, dan Ciganjur sebagai sentra penghasil beraneka macam buahan segar, di selatan Jakarta. Tak heran pada saat aku kecil, aku sering mendendangkan lagu anak-anak yang sangat beken pada saat itu yakni:
“Papaya, mangga, pisang, jambu..
Dibawa dari Pasar Minggu..
Disana banyak penjualnya..
Dikota banyak pembelinya..”   

Nah, kembali ke ceritaku dimuka. Ada yang manarik saat bus melaju, yakni kita akan disuguhi jejeran pepohonan kelapa sawit yang dengan rapinya berbaris seolah menyambut dan tersenyum melambaikan dahan dan daunnya kepada para penumpang yang hendak ke Ragunan. Barisan kelapa sawit ini seakan sebagai penanda bahwa sebentar lagi, (lebih kurang 2KM) kita akan sampai di Kebun Binatang Ragunan. Saat itu, deretan Sawit itu, --dengan rentang jarak antar pohon sekira lima langkah-- terlihat oleh anak kecil sepertiku, seakan tentara yang berbaris rapi. Anggun dan seragam pertumbuhannya. Ini bisa jadi, lantaran sewaktu awal mula ditanam, dengan kondisi anakan pohon yang sama, maka pertumbuhannya pun seragam, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama berjejer rapi.

Deretan pohon sawit ini akan kita jumpai mulai dari pertigaan Jalan Buncit Raya dan Jalan Raya Ragunan. Dengan sisi di kiri kanan jalan rumah penduduk yang masih tampak asri, belum terlihat show room ataupun perkantoran di sekitarnya, seperti saat ini. Namun kini (dalam amatanku pada Desember 2015 lalu) meski jajaran pohon sawit masih tersisa di sana, deretan itu tidak berjajar rapi, melainkan ada beberapa pohon yang sengaja atau tidak, telah tumbang atau ditumbangkan dan tercabut dari asalnya. Akibatnya, meski penanda arah menuju ke Ragunan yakni Sawit itu masih ada, namun tidak serapih dan seanggun saat aku sering melewatinya di tahun 70-an.


Tampaknya arus pembangunan menerjang berbagai kawasan di Jakarta. Wilayah yang dulunya tertata rapi, kini berubah oleh tuntutan hidup dan modernitas. Rumah dan pekarang milik warga Betawi yang lebar dan luas, tergusur oleh pembangunan, berubah menjadi show room, bengkel, pom bensin, perkantoran, dan lahan usaha lainnya. Beruntung, meski tidak se-asri dan sebagus dulu, namun kini, selepas 30 tahun berlalu, mascot Ragunan, berupa deretan pohon kelapa sawit masih tetap ada. Deretan sawit masih kokoh berdiri sebagai penanda tak jauh darinya akan dijumpai aneka satwa di Kebun Binatang Ragunan.