Minggu, 30 Juli 2017

Mewujudkan Perpustakaan Ramah Anak di DKI Jakarta

Selama saya mengunjungi perpustakaan, hampir dapat dipastikan bahwa sebagaian besar pengunjung perpustakaan adalah para mahasiswa/pelajar ataupun para kaum ‘jomblo’ yang mengisi waktunya dengan membaca. Jarang saya jumpai di dalamnya ibu-ibu atau istilah ngetrend-nya “Mahmud” atawa mamah muda, misalnya, yang mengisi hari-harinya sembari mengampu anaknya di perpustakaan.

Lalu, apakah fungsi perpustakaan diperuntukkan hanya untuk para dosen peneliti, mahasiswa/pelajar atau kaum ‘pengangguran’ terdidik dimana mereka mempunyai banyak waktu untuk membaca? Rasanya terlalu sayang bila gedung mewah nan megah perpustakaan dibangun dan berfungsi hanya untuk mereka semata.

Disatu sisi, kebiasaan membaca belum tertanam secara kokoh dalam budaya masyarakat Indonesia. Anak-anak kita lebih asyik ber-gadget ketimbang memegang buku. Agak sulit menanamkan kepada mereka agar menjadikan buku sebagai teman, dan membaca sebagai sebuah hobby yang mengasyikkan. Karena, bila membaca sudah menjadi hobby, maka buku apapun yang ada di rumah pasti dibacanya. 

Sayangnya, tidak semua referensi dan sumber bacaan dapat ditemukan di rumah maupun di sekolah, melainkan hanya ada di perpustakaan. Perpustakaan dengan beragam koleksi buku adalah tempat yang tepat untuk ‘berselanjar’ menambah pengetahuan kita. Lalu bagaimana kita mengenalkan kepada anak-anak tentang perpustakaan sebagai pusat dari beragam buku dan informasi yang tersedia?

Kendala yang sering kita hadapi adalah bagaimana kita menumbuhkan kebiasaan ‘main’ ke perpustakaan (atau bisa juga toko buku), bila untuk pergi ke perpustakaan saja anak-anak enggan atau merasa tak nyaman. Perpustakaan bagi mereka bisa jadi tempat yang membosankan.  Perpustakaan tak ubahnya hanya tempat bagi para ‘pemikir’ dan orang-orang ‘aneh’ yang sedang serius membaca. Ia bukanlah tempat yang asik untuk bermain dan bersenda gurau. Sudah terbayang dalam pikiran mereka bahwa di perpustakaan tidak boleh berisik, tidak boleh ribut, harus tenang, dan segala gambaraan keseriusan lainnya.

Definisi perpustakaan itu sendiri adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca (Sutarno NS, 2006:11). Bila merujuk pada definisi tersebut, inilah model perpustakaan jadul dan kuno yang sering dan banyak kita jumpai, dimana perpustakaan hanya berisi kumpulan rak-rak buku dengan meja dan kursi baca. Sebaiknya, lebih dari itu. Perlu ada revolusi dalam konsep penataan perpustakaan agar perpustakaan dapat dinikmati oleh beragam kalangan dari beragam usia, mulai anak-anak hingga manula. Ini merupakan tantangan dan peluang bagi para insan pustakawan untuk men-create suatu perpustakaan yang disukai oleh anak. Men-design perpustakaan yang ramah untuk anak.

Seperti yang saya uraikan dimuka, bagi sebagian kalangan, utamanya para ibu rumah tangga yang mempunyai balita, waktu dan kesempatan untuk membaca sangatlah sulit didapatkan. Jangankan jalan-jalan ke toko buku (perpustakaan), untuk membaca saja tak ada waktu bagi merekamembaca. Tidak mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya di rumah hanya untuk pergi ke perpustakaan. Bila ia membawa dan mengajak serta anaknya ke perpustakaan, di jamin si anak hanya akan tenang selama 5 menit. Selanjutnya tentu mereka akan uring-uringan, tidak nyaman dan merengek minta keluar untuk bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Tumbuh dan kembang mereka diwarnai dengan keceriaan, kebahagiaan dalam suasana permainan.

Lalu bagaimana agar perpustakaan itu ramah bagi anak? Alangkah idealnya bila di perpustakaan itu disediakan space dan ruang baca sekaligus ruang bermain bagi anak. Disamping orang tua dapat tenang membaca, anak anak mereka pun dapat bermain sekaligus belajar. Mereka dapat melihat gambar-gambar menarik dalam buku dan (jika bisa) membaca isi buku.

Bagi saya, Perpustakaan Ramah Anak (PRA) adalah suatu perpaduan konsep yang menempatkan anak pada subjek dan mengarahkan anak pada budaya dan kebiasaan membaca. Ada dua keuntungan yang didapat dari penerapan konsep perpustakaan ramah anak; yang pertama adalah anak dapat bermain di perpustakaan itu berpadu dengan (aktivitas) orang tua yang membaca dan berinteraksi secara aktif dengan anak; dan kedua adalah penyediaan bahan-bahan bacaan yang ramah anak dan sesuai dengan usia anak.

Di dalam PRA ini, selain anak dapat bermain dengan aneka permainan edukatif yang tersedia seperti: Lego; Susun Balok; dan sebagainya; Anak juga dapat menikmati bacaan atau melihat gambar-gambar menarik yang dapat meningkatkan fungsi kognitif anak. Informasi-informasi pengetahuan (buku) bergambar dan warna-warna yang mereka sukai harus tersedia di PRA.

Selain itu harus tersedia pula berbagai macam bahan dan sumber pengetahuan bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya, seperti: Bagaimana menerapkan disiplin pada anak; Bagaimana membiasakan hidup bersih pada anak; dsb. Buku-buku tentang pola dan cara pengasuhan anak menjadi bacaan yang pastinya disukai oleh para orangtua. Dengan demikian selagi mereka menemani anak-anaknya ke PRA, mereka juga dapat menggali dan mencari pengetahuan tentang tumbuh kembang anak.

Disamping itu PRA harus juga berisi tentang buku-buku bacaan anak yang edukatif dan informatif. Dari buku-buku itu, para orang tua pun dapat membacakan dongeng kepada anaknya. Keragaman koleksi dan kelengkapan PRA juga dilengkapi pula dengan APE atau Alat Permiana Edukatif dan ruang bermain anak. Di sudut PRA dapat diletakkan seperangkat permainan anak yang lazim dijumpai pada permainan outdoor seperti perosotan, ayunan, dan sebagainya.

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah penataan ruang dan fasilitas penunjang harus mencerminkan suatu model penataan yang ramah anak. Pemilihan wall paper dan cat dinding yang dekat dengan dunia anak (gambar winny the poh) misalnya, patut diperhatikan.


Lantas adakah contoh Perpustakaan yang ideal bagi semua kalangan seperti uraian saya diatas? Ada. Perpustakaan yang dikelola oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, misalnya layak diacungi jempol lantaran telah membuat konsep penataan perpustakaan yang ramah bagi semua kalangan, utamanya anak-anak. Jika Anda ada waktu senggang, cobalah ajak buah hati anda bermain dan berekreasi sekaligus belajar disana. Nah, bila konsep ini dapat diaplikasikan pada seluruh perpustakaan yang ada, niscaya anak-anak akan merasa akrab dengan perpustakaan yang pada gilirannya, budaya dan kebiasaan membaca dapat ditumbuhkan sejak usia dini. 

Jumat, 07 Juli 2017

Jangankan Jam Tangan, Sepatu Pun Harus Dilepas

@Helena Airport
Menarik juga mencermati kisah dimana ada istri pejabat yang marah hingga menampar petugas Aviation Security (Avsec) di Bandara. Rada geli juga membaca kisahnya, kok bisa-bisanya penumpang pesawat menampar petugas Avsec. Adakah yang salah dalam prosedur pemeriksaan di bandara di Indonesia? Atau bisa jadi yang bersangkutan kurang ‘piknik’ sehingga berlaku arogan di bandara. Well, Lantaran sudah sering ‘piknik’, aku ingin berbagi pengalaman tentang prosedur pemeriksaan penumpang pesawat terbang di bandara-bandara di Amerika Serikat. Semoga cerita ini menjadi bahan refleksi kita.

@Ronald Reagen Washington DC Airport
Setelah peristiwa 9/11 tampaknya untuk masalah keamanan di bandara-bandara di Amerika Serikat menjadi hal yang sangat prioritas untuk diperhatikan. Meski kejadian itu telah lama berlalu, namun kelengahan sedikit saja, tak bisa ditolerir. Di Bandara Helena, Negara bagian Montana, misalnya, meski bandara ini relatif kecil dan bukan bandara utama, namun untuk prosedur keamanannya tak beda dengan bandara-bandara besar lainnya di negeri Paman Sam. Di dekat ruang pemeriksaan, pas pintu masuk tertulis quote warning atau poster peringatan  bagi para petugas Avsec untuk tidak mengendorkan kewaspadaan dan ketelitiannya sedikit pun dalam memeriksa setiap penungpang. Di poster itu tertulis dengan jelas, “we never forget 9/11”. Sayangnya aku tak diperkenankan mengambil tulisan yang menarik itu.

Begitulah, setiap kali ke bandara untuk bepergian ke kota-kota lainnya di Amerika, aku diminta oleh pendampingku untuk datang lebih awal. Meski jadwal penerbangan tertera pukul 11 misalnya, kita harus sudah tiba di bandara sekitar pukul 09.30. Ada spare waktu sekitar 30 menit untuk menjalani pemeriksaan fisik dan barang bawaan sebelum kita dinyatakan clear and clean untuk naik pesawat.

@St. Louis Airport
Begitu tiba di bandara, setelah urusan (di counter maskapai) tiket penerbangan beres, maka kita akan memasuki antrian untuk menuju (mesin) bilik tembus pandang yang akan memeriksa secara laser seluruh tubuh kita. Nah, saat menunggu masuk ke bilik itu, secara random petugas akan memeriksa kita dengan mengoleskan sejenis cairan khusus, bentuknya seperti tisu basah. Tisu basah itu dioleskan ke tubuh atau ke (tas jinjing) barang bawaan kita. Disamping itu, ada juga beberapa petugas yang hilir mudik dengan anjing pelacaknya. Anjing terlatih itu tak henti-hentinya mengendusi seluruh penumpang. Dengan pelatihnya, si anjing berjalan hilir mudik menyela antrian. Aku, entah mengapa, mungkin lantaran tampangku yang rada kriminal selalu dapet olesan ‘tisu basah’ tersebut.

Lepas dari pemeriksaan pertama ini, barulah kita memasuki bilik (tembus pandang) pemeriksaan. Sebelum masuk, kita harus melepaskan seluruh benda logam yang melakat pada tubuh kita, sepeti gesper, cincin, jam tangan, dompet, bahkan hingga sepatu. Semuanya dimasukkan dan dikumpulkan dalam satu wadah/tempat. Karena banyaknya barang yang harus ditanggalkan, maka setiap penumpang memerlukan minimal dua wadah untuk menaruh barang-barangnya. Praktis hanya baju, celana, dan kaos kaki saja yang melekat dibadan. Tak lebih. Saat memasuki bilik itu, kaki harus dalam posisi terentang, dan tangan diangkat ke atas. Setelah dirasa pada posisi pas, mulailah sejenis sinar tak terlihat ‘menembak’ tubuh kita, memastikan bahwa tubuh kita clear. Lepas dari bilik itu, kita keluar untuk mengambil dan mengemasi kembali barang-barang yang tadi kita tanggalkan dan tertaruh di wadahnya.

Just landed in DC
Nah, keruwetan saat pemeriksaan bertambah lagi bila kita membawa laptop atau tas jinjing yang tak dimasukkan ke dalam bagasi pesawat. Akan butuh waktu extra bila Si pemeriksa, melalui mesin ‘kotak pemeriksa’-nya menemukan ‘sesuatu’ yang mencurigakan. Si petugas akan meminta konfirmasi ke kita tentang temuan yang mereka dapatkan. Disinilah proses ‘interogasi’ berlangsung. Apa barang itu? Untuk apa? Kenapa dibawa? dan pertanyaan menyelidik yang mesti kita jawab dengan clear dan tampang menyakinkan. Jika lolos maka kita akan mengepak-nya kembali, namun jika tidak, inilah masalahnya. Keberangkatan kita akan sedikit terhambat. Butuh waktu yang tak sebentar untuk membuat barang-barang yang kita bawa dapat status clear and clean.

Dan, inilah yang terjadi padaku. Jauh sebelumnya aku sudah diwanti-wanti bahwa setiap barang atau cairan dilarang dibawa ke dalam bagasi pesawat. Rules itu aku patuhi dan camkan benar-benar. Namun sayangnya, lantaran sering kali bongkar pasang koper dan re-packing karena harus pindah-pindah kota (states), maka terlewatlah sebuah botol kecil, masuk ke tas besar. Ya, biasanya aku tak pernah lupa memasukan odol, parfum, deterjen ataupun sejenis barang cairan lainnya, termasuk obat-obatan pribadi ke dalam koper besar. Lha kok bisa ada satu barang yang luput masuk ke koper besar itu. Ingatnya pas saat koper besar sudah masuk ke jalur bagasi.

Aku baru menyadari ada sesuatu yang salah pas aku membuka resleting tas kecil untuk mengambil paspor. Oalah, ternyata ada botol kecil madu terselip didalamnya. “Wah gimana ini?” batinku. Padahal biasanya botol kecil isi madu itu ada di koper besar. “Ah, abaikan saja, semoga saja lolos,” batinku.

Aku sengaja membawa madu ke Amerika lantaran madu itu bukan sembarang madu. Itu adalah madu “Wadi Bin Ali”, madu obat. Sangat manjur tatkala badan kurang fit dan kondisi tubuh lemah. Aku bawa ini lantaran badanku memang ringkih. Gampang masuk angin. Madu ini semacam ‘jimat’ bagiku sebagai bekal (obat) kepergianku ke Amerika. Makanya, pas ada madu di tas kecil itu, kaget juga aku. Aku khawatir madu ini akan jadi masalah lantaran tergolong benda cair.

Saat pemeriksaan fisik (di bilik tembus pandang) aku lalui dengan lancar, maka tibalah saat mengambil barang-barangku yang telah masuk melalui mesin pemeriksaan yang terpisah. Ternyata tas kecilku belum keluar juga dari mesin pemeriksa. Di computer kulihat petugas meneliti dengan seksama isi tasku. Tampaknya ia tahu bahwa ada botol atau cairan dalam tas itu. Kekhawatiranku terbukti. Sejurus kemudian, petugas itu memerintahkan temannya untuk mengambil tas kecilku untuk dilakukan pemeriksaan (fisik) langsung. Nah, kejadian juga akhirnya, batinku. Oleh petugas madu itu ditemukan, dan diambilnya. Dengan setengah berteriak, petugas itu berkata, punya siapa tas ini? Mengacunglah aku. Lalu proses interogasi-pun dimulai. Ditanya olehnya, barang (botol) apa ini? Dengan sedikit gugup kujelaskan bahwa botol itu adalah obat. “Hi, Buddy, It’s only honey, like jelly, no water,” terangku padanya. Meski aku menjelaskan bahwa botol kecil itu bukan sembarang cairan, namun ia tetap pada aturan bahwa sesuatu yang bersifat cair, meskipun itu madu, tidak boleh lolos ke dalam pesawat. Jiahhh kejadian juga deh.

Aku masih berharap madu itu akan lolos. Aku hubungi pendampingku yang telah menunggu diluar area pemeriksaan. Aku terangkan padanya bahwa barangku ada yang disita. Aku berharap ia, dengan passport USA-nya, dapat meminta keringanan ke petugas supaya maduku lolos. Pendampingku sendiri sudah yakin usahanya akan sia-sia, namun karena aku memaksa, dicobanya juga untuk meloby petugas itu.  Ia coba menerangkan ke petugas bahwa cairan itu just honey, dan untuk obat!! Namun tetap aja si petugas Avsec tak meloloskannya. Ia ku-nilai saklek menerapkan aturan, atau memang demikianlah SOP-nya.

Dengan perasaan berat hati, akhirnya kurelakan Wadi Bin Ali-ku direngut secara paksa oleh aturan. Ya, petugas hanya menjalankan aturan, akulah yang ceroboh. Hanya kepasrahan saja yang ada. Pasrah sekaligus mangkel dan kesal. Untungnya sisa hariku di Amerika hanya tinggal sepekan saja, sehingga ketiadaan madu itu tidak mempengaruhi kondisi fisikkku.


Akhirnya, disetiap pemeriksaan berikutnya dengan sangat teliti kuperiksa tas kecilku, jangan sampai terjadi ada botol kecap atau saos masuk ke tas itu. Untung hanya madu, coba kalau parfum dengan merk terkenal nan mahal. Bisa nangis bombay lantaran harus di buang, hehe..

Selasa, 09 Mei 2017

Layakkah Ahok di-Cipinang-kan?

Sebagai umat manusia yang beradab, kita telah bersepakat, bahwa segala perselisihan yang terjadi diantara kita diputuskan dan diselesaikan melalui mekanisme (jalur) pengadilan (hukum). Kita tak mengenal hukum rimba dimana yang kuat memangsa yang lemah, atau yang kuat bertindak semena-mena terhadap yang lemah. Hukum adalah panglimanya. Dan, tatkala ada seseorang disangka telah menodai suatu agama yang dianut di Indonesia, maka untuk meredakan gejolak yang terjadi di masyarakat, perangkat penegak hukum memproses yang bersangkutan. Yang bersangkutan diajukan ke muka hakim untuk diadili.

Hakim sebagai wakil Tuhan di dunia pada tanggal 09 Mei 2017 telah menetapkan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok secara sah dan meyakinkan terbukti telah menodai ajaran agama (Islam) yang dianut di Indonesia. Ahok telah melanggar pasal 156a KUHP yang isinya: Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

Selain menghukum Ahok dengan pidana penjara selama dua tahun, dalam amar putusannya, majelis hakim juga memerintahkan agar Ahok ditahan! Tepatkah perintah penahanan Ahok ini, mengingat selama ini perlakuan terhadapnya sangat berbeda dengan terdakwa kasus penodaan agama lainnya, dimana Ahok selama proses persidangan tak pernah sekalipun ditahan?  

Keputusan hakim tentu tak memuaskan semua pihak. Bagi pro Ahok, keputusan itu dirasa berat. Namun bagi kontra Ahok keputusan itu tentu terlalu ringan dan tak sebanding dengan kasus-kasus penodaan agama lainnya, seperti yang melibatkan Arswendo dan Mushaddeq, misalnya, yang di vonis lebih berat dari Ahok.

Bagi kita yang mempercayai institusi pengadilan, keputusan hakim adalah keputusan ‘final’ dalam arti keputusan itu sebagai penentu untuk mengakhiri polemik yang selama ini berkembang di masyarakat mengenai salah atau tidaknya Ahok dalam kasus penodaan agama Islam. Palu hakim telah terketuk, sedangkan Ahok memilih banding. Selama proses banding inilah, bukan berarti ahok terlepas dari stigma bersalah, karena banding, tidak serta merta menggugurkan putusan hakim. Dalam kaidah hukum dikenal dengan Res Judicata Pro Veritate Habetur yang berarti putusan hakim itu dianggap benar dan harus dihormati. Ini berarti keputusan hakim --PN Jakarta Utara (Hakim Dwiarso)-- diangap benar sebelum pengadilan yang lebih tinggi memutus lain atau sepanjang belum ada putusan yang membatalkannya. Selengkapnya lihat: (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PHPU.D-X/2012, hlm. 152-153).

Salah satu tujuan dari penerapan hukum adalah agar menjadi pembelajaran bagi pelaku itu sendiri, agar pelaku menyadari kesalahan-kesalahannya dan segera memperbaikinya. Dengan ditahannya Ahok, maka diharapkan akan menimbulkan efek jera bagi yang bersangkutan, agar ia segera kapok dan tak mengulangi lagi perbuatannya. Salah satu yang memberatkan Ahok dimata hakim adalah, bahwa yang bersangkutan tidak menyesali perbuatannya. Semoga dengan kasus ini Ahok insyaf, menyadari kesalahannya, dan menjadi manusia yang lebih baik. Baik perangainya, baik tutur katanya, dan baik segalanya. Kita tentu berharap, selepas dari penjara, Ahok diharapkan seperti bayi yang baru dilahirkan, suci bersih. Memulai hidup baru dengan kehidupan lebih baik.

Disamping itu, penahanan segera Ahok juga berfungsi sebagai pembelajaran bagi kita bahwa yang salah pasti akan di hukum, atau bahasa sederhananya adalah, siapapun tidak kebal hukum (penjara) dan agar kita (masyarakat) tak meniru tindakan yang telah dilakukan oleh pelaku. Bahwa perbuatan melanggar pidana akan mendapat ganjarannya yakni di penjara. Bahwa di penjara itu tak enak, maka hindarilah masuk penjara dengan tidak melanggar hukum. Itu pesan moralnya.

Semoga dari kasus Ahok ini kita memperoleh pelajaran bahwa tutur kata harus kita jaga. Jangan mengomentari dengan ‘melompat pagar’ membahas isi kitab dari agama yang bukan agama yang kita anut. Jadikan kasus Ahok ini sebagai momentum untuk saling hormat menghormati antar pemeluk agama. Dengan itu niscaya kerukunan umat beragama akan tetap lestari dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Sumber foto:


Kamis, 04 Mei 2017

Papi-nya Mamiku

Haji Maidih telah lama wafat. Beliau kukenal sebagai orang tua yang suka memakai sorban. Sorban yang sering ia kenakan itu telah lusuh dan kucel, berpadu dengan pakaiannya yang juga telah tipis dan pudar termakan usia. Biasanya, ia mengenakannya bila menghadiri undangan selamatan atau arwahan. Nah, selain sorban, menariknya, bila pergi kemanapun, ia selalu membawa senter. Senter ini ia gunakan sebagai penunjuk jalan. Batu baterai-nya hampir saban hari d-‘chas’ di teriknya matahari. Padahal menurutku, tanpa senterpun, jalan-jalan yang ia lalui di sekitaran Kampung Kebon, Kemang, sudah berlampu semua. Sudah terang. Keadaan sekitar tahun 80-an saat itu, tentu kontras dengan yang dijumpai Kong Maidih, sapaan akrabku padanya, ketika ia muda, saat lampu belum ada, dan jalan masih beralaskan tanah. Aku tak ingin bercerita banyak tentangnya. Namun ada beberapa kalimat yang mengusik pikiranku tatkala kami ngobrol ngalor-ngidul dengan ayah dari Haji Matalih ini.
Baba-nya Ji Damin ntu, diculik waktu zaman NICA. Gak balik-balik”. Itulah kalimat yang sering ia ucapkan kala tahu aku adalah ponakan Haji Madamin.

Diculik? Zaman NICA? Siapa yang menculik? Kenapa kakek-ku diculik? Sebab apa yang membuat penculik menculik dan menggelandang kakek-ku? Kenapa Kakek-ku dieksekusi? Dimana kuburan kakek-ku? Beragam pertanyaan ini sayangnya tidak aku dapatkan jawaban yang memuaskan. Semuanya serba samar. Semuanya masih misteri. Maklum saja, zaman itu zaman susah, zaman revolusi, saksi-saksi yang mengetahui saat kakek-ku diciduk dan diculik sangat sedikit, dan semuanya sudah meninggal. Namun dari potongan kisah-kisah yang aku dengar dari berbagai sumber tentang pribadi papi-nya mamiku dapat kurangkum sekelumit kisah tentang kakek-ku ini.  

Aku teringat kisah-kisah pilu yang dialami para aktivis korban penghilangan paksa (penculikan) pada tahun 1998, menjelang turunnya Pak Harto. Juga tentang kisah penculikan dan pembunuhan pada tragedi nasional tahun 1966, pasca G30S/PKI. Jadi, bicara tragedi penghilangan paksa, meminjam istilah yang sering dikemukakan para praktisi HAM, jauh sebelumnya, mamiku dan keluarganya telah sejak lama merasakan perihnya ditinggal seseorang tanpa tahu dimana kuburnya. Mungkin bila Komnas HAM telah ada sejak dulu misteri hilangnya kakekku dapat tersingkap atau paling tidak diketahui siapa oknum-oknum pelaku penghilangan kakek-ku.

Papi-nya mamiku bernama Poey Tjin Ban. Beliau adalah putra ketiga dari pasangan Poey Sun Eng dan Tan Kim Moey. Kakek beliau, Poey Kang Soey adalah imigran dari Macau yang hijrah dan merantau di sekitaran Cirebon. Kuburan Kakeknya ada di Kampung Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat. Menurut Cerita, kuburannya itu berada di dalam rumah, seperti kuburan leluhur etnis Tionghoa pada umumnya. Sedangkan kakek mamiku dikuburkan di Kampung Kamarung, Pagaden, Subang.

Tjin Ban, menurut cerita yang kudengar adalah seorang dari kalangan terpelajar, menguasai beberapa bahasa asing (poliglot) dengan fasih. Saat zaman Belanda, ia telah memakai jas, busana yang jarang dikenakan oleh kebanyakan orang, pertanda bahwa beliau seorang yang well educated. (lukisan Tjin Ban berjas tersimpan dengan apik di dinding rumah mamiku). Tjin Ban dimasa mudanya menganut kepercayaan Konghuchu. Nah, ketika merantau ke Jakarta inilah ia menemukan jodohnya. Ia kepincut gadis Betawi yang bernama Aminah, putri tokoh masyarakat dan guru ngaji di Kemang, Haji Muhammad. Mereka menikah sekitar tahun 1930-an. Namun, sebelum menikah, Tjin Ban diwajibkan oleh mertuanya untuk bersaksi dan mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Selepas itu, ia ber-khitan dan mengganti namanya menjadi Abdul Mu’ti.

Kembali ke kisah penculikan kakekku, dari penjelasan Kong Maidih yang sepotong-potong (lantaran usia lanjut dan ingatannya yang mulai pudar) aku mencoba merangkai puzzle kisah tragis papi-nya mamiku yang hilang di culik orang. Beliau hilang (meninggal) saat zaman revolusi, diculik oleh para laskar rakyat di sekitaran Klender. Ceritanya, pada sekitar tahun 1948-an, masa dimana revolusi sedang berkobar dengan dahsyatnya, masa dimana keamanan dan ketertiban tidak terkendali, dimana saat itu, tak hanya tentara resmi (BKR) yang eksis, pencoleng dan penyamun pun berbaur bersama rakyat membentuk laskar rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Disekitaran antara Klender hingga Bekasi, misalnya banyak terdapat “laskar-laskar hitam sebutan untuk laskar yang kebanyakan diisi oleh bekas penyamun dan pencoleng, yang rutin berpatroli. Kakekku, lantaran seorang Tionghoa, kena imbasnya. Ia kena ciduk dan dituduh sebagai mata-mata (spionase) NICA, tentara sekutu.

Menurut cerita mamiku, saat itu ayahnya pergi mencari beras di Bekasi untuk dijual ke Jakarta. Saat berjalan beriringan bersama teman-temannya yang pribumi dan memasuki daerah Klender, berjumpalah mereka dengan beberapa laskar. Apesnya, yang dijumpai adalah laskar hitam. Tatkala dari kejauhan terlihat ada razia dan pemeriksaan oleh laskar, teman-teman ayah mamiku sudah mengingatkan Muti, nama Islam kakek-ku untuk lari.
“Muti, hayo lari, kita sembunyi, ada pemeriksaan laskar di depan sana,” seru salah seorang temannya.
Namun Tjin Ban, bukannya lari malahan berjalan dengan santainya sambil membawa beras dagangan-nya. Dengan tenang ia berkata kepada teman yang memperingatkannya itu. “Buat apa lari, kita kan tidak salah. Kita kan Republik.”
Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Lantaran berwajah bukan pribumi, Tjin Ban kena ciduk laskar dan terpisah dengan teman-temannya. Oleh laskar, Ia dituduh sebagai mata-mata NICA.

Nah, versi kedua adalah; Pelaku penculikan kakek-ku bukan laskar melainkan NICA. Ia di culik lantaran beretnis tionghoa dan dituduh sebagai mata-mata Republik. Dari kedua versi ini, mana yang bisa dijadikan patokan, wallahu a’lam. Dari penjelasan Kong Maidih, dapat di tarik benang merah bahwa Muti hilang diculik orang (entah siapa pelakunya) saat NICA datang ke Indonesia, ditahun 1948. Lokasi penculikan ada di sekitaran Klender, lebih kurang 20 KM dari Kemang.

Teman-teman Muti yang lolos dari hadangan laskar/NICA dapat kembali ke rumah mereka dengan selamat berkumpul dengan keluarganya. Sedangkan Muti, terciduk ikut dibawa oleh penculik. Begitu tak didapati Muti bersama mereka, nenekku menjadi bingung. Lalu oleh teman-teman Muti, diceritakanlah kisah tragis di Klender tesebut. Mendengar cerita dari teman-teman-nya yang pergi berdagang bersama, nenekku hanya dapat pasrah. Ditunggu hingga beberapa purnama berganti, bahkan hingga lebaran berbilang, namun Muti tak kunjung pulang ke Kemang. Ia tidak pernah kembali ke rumah, berkumpul dengan anak istrinya.

Begitulah, Tjin Ban telah meninggal tanpa diketahui dimana mayatnya. Masih terbayang dengan jelas diingatan nenekk-ku saat Muti pamit hendak berdagang di pagi hari, lalu kini hilang tak berbekas. Jadilah mamiku yang saat itu masih dalam kandungan nenekku, seorang yatim. Ya, ketika itu nenekku harus membesarkan empat orang anak yang masih kecil-kecil, tanpa sempat mengetahui jasad dan kuburan suaminya..


Kamis, 27 April 2017

Cukup Ahok Menjadi Pembelajaran Bagi Kita

Pada dasarnya Indonesia adalah negeri yang terbuka, toleran dan menghargai segala perbedaan yang ada. Praktis, sepanjang berdirinya Republik, tak ada kerusuhan dan huru hara yang diakibatkan oleh perbedaan SARA yang terjadi merata di seluruh kawasan di Indonesia dalam skala luas. Kalaupun ada, sifatnya hanya kerusuhan lokal, dan mampu segera diredakan dengan pendekatan yang dinamakan kearifan lokal. Itulah sebabnya jauh sebelum Negara ini resmi berdiri, semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah dipatrikan oleh para founding father sebagai slogan yang dilekatkan pada kaki burung Garuda. Mereka menyadari bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, dan ras, dan itu tidak bisa dihilangkan atau diseragamkan. Keberagaman adalah takdir Indonesia itu sendiri.

Berbicara tentang kepemimpinan di Indonesia, kita tak mengenal kepemimpinan yang diwariskan, atau kepemimpinan yang telah di ‘jatahkan’ untuk etnis atau golongan tertentu. Semua warga Negara berhak menjadi pemimpin. Oleh karenanya, tak menjadi soal siapapun yang menjadi pemimpin di suatu wilayah, sepanjang yang bersangkutan mempunyai kemampuan leadership, bertingkah dan berprilaku santun, sopan, menghormati dan menghargai kearifan dan budaya lokal, maka ia akan diterima dengan baik oleh warga setempat. Mau bukti? Bali misalnya, sebagai wilayah yang mayoritas hampir 100% dihuni oleh warga beragama Hindu, pada tahun 70-an, bisa dengan damai menerima kepemimpinan Bapak Soekarmen sebagai gubernur mereka, meskipun beliau adalah seorang Muslim dan bukan orang asli Bali. Saat kepemimpinannya berlangsung, tak ada gejolak dan polemik yang terjadi di Bali. Segalanya berlangsung damai, aman, dan tentram. Begitupun dengan Aceh, Papua, NTT, Sulawesi Utara dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Mereka menerima dengan baik kepemimpinan seseorang yang bukan berasal dari etnis ataupun kepercayaan yang sama dengan mereka.

Demikian pula dengan Jakarta, jauh sebelum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang ber-etnis Tionghoa dan beragama Kristen menjabat Gubernur, Jakarta telah dipimpin oleh putra Manado yang juga beragama Kristen. Dalam catatan sejarah, tak pernah ada penolakan terhadap figure Henk Ngantung, meskipun ia menganut kepercayaan berbeda dengan mayoritas warga Jakarta. Betawi, sebagai etnis asli Jakarta welcome terhadapnya. Lalu, bagaimana dengan Ahok? Tidak seperti Soekarmen di Bali, yang stabil tanpa gejolak, kepemimpinan Ahok tidak berjalan mulus, ia mendapat penolakan dari sebagian warga Jakarta, utamanya etnis Betawi. Mengapa hal ini terjadi? Apakah penolakan ini murni masalah perbedaan agama yang dianut oleh sang gubernur dan warganya? Tampaknya tidak demikian halnya.

Dari berbagai analisa yang disampaikan oleh beberapa lembaga survey, faktor dominan kekalahan Ahok dalam Pilkada 19 April lalu adalah ketakutan warga Jakarta terhadap figur Ahok itu sendiri. Ketakutan-ketakutan ini dapat berupa: Takut di gusur. Ketakutan akan digusur dari tempat tinggalnya; Ketakutan di gusur tempat usahanya; Takut di larang. Larangan-larangan yang mengekang terhadap hajat yang bersentuhan dengan rakyat kecil, seperti wacana larangan sepeda motor melintasi jalan Sudirman-Thamrin, misalnya, ataupun kebijakan-kebijakan lainnya yang justru pro kalangan menengah atas, bukan kepada rakyat kecil.

Disamping itu, Ahok lemah secara leadership. Ia tidak mempunyai kemampuan leadership yang mumpuni. Sebagai pemimpin, ia tidak mengayomi seluruh warga sebaliknya justru menebar ketakutan dan intimidasi kepada warganya. Banyak statemen dan kebijakan gubernur yang justru kontra produktif untuk merangkul masyarakat. Larangan takbir keliling; Larangan ber-sholawat di Monas; Larangan pemotongan hewan qurban di sekolah, misalnya, adalah sebagian contoh nyata bagaimana gubernur tidak sensitif terhadap keadaan dan budaya dari warga asli yang ia pimpin (Betawi). Dari situlah muncul bibit-bibit ketidakpercayaan kepada kepemimpinan gubernur. Ia melupakan dan mengabaikan kearifan lokal dari bangsa Indonesia umumnya dan etnis Betawi pada khususnya. Meminjam istilah kasar yang diucapkan oleh sesepuh masyarakat Betawi Bapak Eddy Marzuki Nalapraya; “Bacot loe jaga! Yang merefleksikan ungkapan kekesalan warga Betawi terhadap langkah dan ucapan yang sering dikemukakan oleh Ahok.

Ahok tampaknya tak menyadari bahwa ia adalah minoritas. Ia terlalu jumawa dan sombong. Ia tidak menjaga budi pekertinya. Dulu, sewaktu mahasiswa, dalam berbagai kesempatan memimpin atau me-moderatori rapat, diskusi atau berdialog dengan para rekan-rekan saya calon pemimpin bangsa, sering saya utarakan kepada mereka bahwa: “Yang merasa mayoritas JANGAN sombong dan jumawa! Sedangkan yang minoritas, HARUS tahu diri!’ Bila teori saya ini diterapkan, maka tak mustahil kepemimpinan Ahok akan di nilai oleh seluruh warga Jakarta dengan khusnul khotimah, berakhir baik. Ia akan selalu dikenang oleh warga Jakarta seperti mereka mengenang Ali Sadikin (Bang Ali) sebagai Bapak Pembangunan Jakarta.


Paska Pilkada dimana warga Jakarta telah memutuskan vonisnya dengan menarik mandat Ahok dan menyerahkannya kepada pasangan Anies-Sandi, marilah kita akhiri gonjang ganjing dan hiruk pikuk yang terjadi di Jakarta. Suka atau tidak, cukuplah figur dan kepribadian Ahok, dengan segala plus minus-nya menjadi pembelajaran bagi kita semua dan mereka yang ingin menjadi pemimpin, bahwa jangan sekali-kali mengabaikan kearifan lokal dalam suatu wilayah. Selalu ingat mantra lama yang masih terbukti keampuhannya, yakni: “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.” Mari gandeng tangan menata Jakarta dan Indonesia dengan semangat persatuan dan kesatuan. 

Senin, 24 April 2017

Berkaca Dari Cerita Semut, Tak Susah Memahami Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Syahdan, tersebutlah kisah tentang komunitas semut disuatu tempat, di kawasan Sentul, Jawa barat. Para semut tinggal di suatu lembah yang tersembunyi, di kelilingi oleh tanaman perdu dan rumput-rumput ilalalng. Kawasan yang dihuni oleh komunitas semut ini sangat terlindungi dari gangguan mahluk-mahluk lainnya. Jarang ada binatang maupun manusia yang pernah singgah ke lembah tersembunyi itu. Kalaupun ada manusia yang kesana, tentulah para pencari kayu bakar ataupun kelompok pecinta alam.

Sama seperti bangsa manusia, mereka pun suka kongkow dan ber-sosialita. Ada suatu tempat favorit sebagai meeting point mereka untuk ngobrol sekaligus melepas penat setelah seharian mencari makan atau bekerja di sekitar rumah-rumah mereka. Saban pagi atau sore, para semut itu berkumpul di suatu tempat membicarakan urusan mereka. Tempat ini semacam alun-alun kota. Kebetulan disana terdapat semacam bangunan yang enak untuk dijadikan sandaran atau berteduh.

Diantara komunitas semut itu, ada beberapa ekor semut yang cukup berpengaruh diantara semut-semut lainnya. Karena ketokohan dan pengaruhnya, masing-masing semut menjadi pelindung bagi kelompok semut yang lemah diantara mereka. Semut itu semacam God Father yang melindungi semut-semut lemah dari ancaman semut-semut lainnya yang lebih besar dan kuat. Nah, diantara tokoh-tokoh semut itu terdapat seekor semut yang disenangi oleh semut-semut lainnya. Ia disenangi lantaran tak pernah berbohong, dapat dipercaya, atau bahasa kerennya mempunyai integritas yang tinggi, selalu bersikap ramah, adil dan menolong kepada semut-semut lainnya. Ia juga memiliki tutur kata halus, berbudi pekerti baik, dan, satu lagi, ia dikenal sebagai keturunan dari keluarga semut yang terpandang. Terpandang bukan karena kekayaannya, namun terpandang karena ketokohannya diantara bangsa semut-semut lainnya. Kita panggil saja semut ini dengan sebutan Semut Ireng.

Nah, pada suatu pagi yang cerah, di saat komunitas semut itu berkumpul seperti biasanya di ‘alun-alun kota,’ Semut Ireng ini bercerita kepada bangsanya.
“Hai bangsaku aku baru saja pergi ke tempat yang sangat jauh dari sini. Tempat itu sangat menarik dan bagus, belum pernah aku lihat tempat sebaik tempat itu. Aku menyebrangi sungai yang airnya jernih. Disana juga aku melihat taman-taman yang indah, yang tak ada di sekitar tempat kita ini. Aku juga melihat teman-teman kita, para semut lainnya sedang berjalan-jalan menyusuri jalan yang aku lewati.”  
“Ahh masa, yang benar saja? Aku tak percaya pada ceritamu, Semut Ireng. Aku lihat kamu tadi malam tidur di rumah istrimu, lalu bagaimana mungkin kamu pergi ke suatu tempat yang kau ceritakan itu. Untuk keluar dari lembah ini saja, kita butuh perjalanan satu purnama penuh, lalu bagaimana mungkin kamu dapat pergi ke suatu tempat seperti yang kau ceritakan itu? Kau pembohong besar, bulshit!! (kata bulshit juga dikenal di komunitas semut, yang berarti omong kosong, heheh..)

Lalu, terjadilah kehebohan di komunitas semut itu atas cerita dan pengakuan si Semut Ireng. Mereka menudingnya telah gila. Namun tak semua semut menuduhnya berbohong, ada satu teman Semut Ireng, yang mempercayai ceritanya.
Kalaupun Semut Ireng bercerita atau membual yang lebih heboh dari cerita ini, aku pasti mempercayainya. Sepanjang kehidupanku, tak pernah aku temui semut sejujur Si Ireng di lembah ini. Maka, mana mungkin ia mempertaruhkan kredibiltasnya, hanya untuk cerita yang kalian katakana bohong ini. Aku beriman dan percaya pada kisahnya,” ujar satu teman si Ireng.

Pembaca, bila memakai logika para semut tentu takkan mungkin ia pergi ke suatu negeri yang jauh hanya dalam hitungan setengah malam saja. Namun, bila memakai logika mahluk yang bernama manusia, apa yang dialami Semut Ireng itu tidak lah mustahil. Menurut logika manusia, kisah yang terjadi pada Semut Ireng ini bisa dikisahkan sebagai berikut:

Pada saat Semut Ireng tidur, ia dibangunkan oleh sosok mahluk besar bernama manusia. Sosok itu memegang tubuh kecil Semut Ireng dengan hati-hati dan meletakkannya ke sebuah mobil. Lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju ke jalan tol Jagorawi, dan melewati beberapa kawasan yang tak pernah di lihat oleh Semut Ireng. Nah, tibalah mobil itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Disana telah menunggu pesawat jet pribadi yang memang telah disiapkan untuk membawa orang itu beserta Semut Ireng ke suatu wilayah/negeri yang jauh, yang  belum pernah dilihat oleh bangsa semut.

Dengan kecepatan supersonik pesawat jet pribadi itu terbang, melintasi Pulau Sumatera, Lautan Hindia, terus berputar hingga sampailah pesawat itu ke Pegunungan Himalaya, di Nepal. Di puncak bukit, di dataran tinggi itu, pesawat mendarat. Lalu orang yang membawa Semut Ireng itu turun bersamanya. Dan Semut Ireng itu bertemu dengan mahluk-mahluk lainnya yang mendiami pegunungan Himalaya. Sampai akhirnya Semut Ireng itu bertemu dan berbicara dengan Penciptanya, di puncak gunung Himalaya.

Dalam perjalanan dari Halim ke Himalaya itu, Semut Ireng sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Tak sampai subuh, pesawat itu sudah terbang kembali ke Halim dan orang itu membawa kembali si Semut Ireng ke rumahnya kembali ke komunitasnya.

Lalu Semut Ireng mulai bercerita seperti cerita diawal tulisan ini. Itulah kisah perjalanan ‘Isra’ Mi’raj’ si Semut Ireng dari Sentul hingga Halim, di Jakarta, lalu ia terbang ke pegunungan Himalaya di Nepal. Peristiwa yang menimpa Semut Ireng itu bisa dikatakan kejadian yang luar biasa dan merupakan peristiwa yang tergolong suprarasional dan metafisika bagi bangsa semut. Namun, lain halnya bagi bangsa manusia, atau bagi alam pikiran manusia. Kejadian yang menimpa Semut Ireng itu tidaklah sulit untuk dipahami. Ia begitu mudah untuk dicerna. Sama halnya dengan kisah Isra’ Miraj-nya Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu tentu sulit untuk dipahami oleh akal manusia biasa. Akan tetapi, dari percontohan dan cerita tentang Semut Ireng diatas, kisah yang dialami Nabi Muhammad SAW tidak lah sulit untuk dipahami. Ia nyata adanya, bukan isapan jempol belaka..

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di Palestina) yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ ayat 1)


Sumber photo: http://islamidia.com/kenapa-rute-isra-miraj-lewat-palestina-ini-penjelasan-detailnya/

Kamis, 20 April 2017

Mari Jadikan Anies-Sandi Gubernur Kita Bersama

Keriuhan Pilkada DKI Jakarta baru saja usai. Beruntung kita mengenal metode hitung cepat atau Quick Count hingga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui siapa pemenang dari perhelatan 5 tahunan ini. Dari hasil hitung cepat yang disajikan oleh berbagai lembaga survey, tampak dengan jelas dan meyakinkan, kemenangan pasangan Anies-Sandi atas pasangan yang diusung oleh koalisi PDIP, Golkar dan Nasdem. Dan segera, setelah publik mengetahui hasil hitung cepat tersebut, beragam, komentar, ucapan dan pendapat dari warga masyarakat bermunculan. Ada yang pro atau berpendapat positif, ada pula yang masih nyinyir.

Bagi mereka yang jagoannya menang, tentu komentar yang berupa puja puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah pemimpin baru, di panjatkan tak henti-hentinya oleh mereka. Nyaris seluruh isi timeline di media sosial dihiasi oleh kalimat-kalimat penyejuk, pembakar semangat dan harapan menyongsong era baru. Ungkapan dan komentar tersebut sebagai wujud perasaan gembira dan rasa syukur yang meraka rasakan. Tak hanya di media sosial, di dunia nyata pun, keriuhan dan kegembiraan segera tampak begitu masyarakat mengetahui psangan Anies-Sandi menang, ribuan rakyat melakukan sujud syukur, bahkan banyak diantara mereka menangis terharu menandakan sudah lama mereka mengidam-idamkan mempunyai pemimpin  yang santun, cerdas, amanah, dan bersih.

Nah disisi yang berbeda, bagi pendukung pasangan Ahok-Djarot, atau pasangan yang kalah, kesedihan tentu mereka rasakan. Banyak diantara mereka yang seolah tak percaya bahwa Ahok-Djarot kalah dengan selisih  suara yang sangat signifikan. Untuk menghilangkan kesedihan itu, mereka pun membangkitkan semangat dengan komentar dan pendapat, yang kebanyakan membesarkan hati dengan mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas upaya, dedikasi dan hasil kerja yang telah ditorehkan oleh Ahok-Djarot untuk masyarakat Jakarta selama ini.

Namun apakah hiruk pikuk Pilkada telah berakhir, setidaknya di media sosial? Tampaknya ‘perang’ di media sosial masih terus berlanjut, baik haters maupun lovers ataupun pengamat partisan masih beradu panggung. Seharusnya, setelah 19 April 2017, pukul 14.00, tensi keriuhan Pilkada ini berangsur menurun, namun yang terjadi, masih saja timeline dihiasi oleh perang opini. Patut disayangkan, dari beragam pendapat yang menghiasi timeline itu, ada saja yang masih bersikap nyinyir dan segan untuk mengakui keunggulan dan kemenangan pihak Anies-Sandi.
Horeee gw mo’ ambil rumah DP 0 rupiah.”
 “Siap-siap deh perda syariah diberlakukan.”
Padahal, seperti kita ketahui, pasangan Anies-Sandi dilantik saja belum, kok sudah ditagih janjinya dan di fitnah macam-macam. Mereka beralasan, hal tersebut bukan menagih janji namun mengingatkan Anies-Sandi akan janjinya. Namun apakah elegant mengutarakan hal itu mengingat masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama masih tersisa 6 purnama lagi. Justru ke-nyinyiran-lah yang tampak.

Bahkan, tak hanya itu, muncul pula peramal-peramal dan cenayang masa depan yang sudah dapat memperdiksi masa depan Jakarta lima tahun kedepan, seperti:
“Jakarta bakalan banjir dan macet kembali”. Lho, bukankah sejak dulu juga Jakarta identik dengan macet dan banjir. Justru bila tidak macet, pasti ada yang salah dengan Jakarta. Hanya ada 2 peristiwa yang membuat Jakarta tak macet yakni pas lebaran dan kerusuhan.
“Jakarta akan kembali di rampok oleh mafia anggaran”
“Jakarta bakalan menjadi banjakan sarang korupsi”
“Jakarta akan menjadi sarang radikalisme”
Begitulah predikasi dan ramalan-ramalan seram lainnya, yang prediksi ini hanya fitnahan belaka dan justru kontra produktif untuk upaya merekatkan kembali Jakarta yang selama ini terkotak-kotak. 

Kini pesta telah usai. Kehidupan tak berhenti hingga di tanggal 19 April 2017. Marilah kita hadapi hari esok, lusa, dan mendatang dengan kerja nyata demi kemajuan Jakarta. Kepada seluruh warga Jakarta, khususnya pendukung Ahok-Djarot, jangan berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Ahok-Djarot adalah pemimpin yang baik. Kini kita tagih dan usut janji-janji kampanye yang telah mereka ucapkan sejak tahun 2012 agar seluruh janji-janji itu tergenapi. Tak ada kata terlambat. Mumpung masih ada waktu 6 bulan, segera tuntaskan segala janji-janjinya, bia ada janji-janji itu yang belum terselesaikan. Ya, terlepas dari plus minus dan pro kontra, pasangan Ahok-Djarot telah berbuat yang terbaik untuk Jakarta. Telah ada program dan prestasi yang mereka banggakan sebagai legacy bagi penerus mereka. Kepada pasangan Ahok-Djarot, selamat kami ucapkan. Kalian telah membuat kami bangga pada Jakarta.

Dan akhirnya, kemenangan pasangan Anies-Sandi sejatinya adalah kemenangan akal sehat, kemenangan hati nurani dan kemenangan semua warga Jakarta yang selama ini mendambakan keadilan. Kini, marilah kita songsong Jakarta dengan semangat membangun, berjabat dan bergandengan tangan erat dengan menghilangkan kotak-kotak yang selama ini menjadi sekat diantara kita. Dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI kita jadikan Jakarta sebagai barometer kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, nyaman, damai dan tentram bagi kita semua. Maju kotanya, bahagia warganya, semoga terwujud.


Sumber Foto: http://www.klasemen.co/nasional/peristiwa/1617/berita-terkini-begin-bocoran-strategi-anies-baswedan-dan-sandiaga-uno-hadapi-putaran-2-pilkada-dki/