Kamis, 26 Januari 2017

Imlek; Mengenang yang Wafat

Imlek tahun ini --seperti imlek-imlek beberapa tahun yang lalu-- tak berarti apa-apa bagi mami. Meski mamiku berdarah tionghoa, namun sudah sejak lama beliau tidak pernah lagi merasakan suasana imlek. Sebelumnya, sekitar tahun 90-an saat famili dan kerabat dekat mamiku masih hidup, kami rutin kecipratan suasana imlek. Ya, Ini karena ada beberapa keluarga mami yang non-muslim, yang masih menjaga tradisi pergantian tahun baru china atau imlekan itu. Jadi, saban imlek tiba, kami pun bisa merasakan kemeriahan dan suka cita imlek sebagaimana saudara-saudara tionghoa lainnya di Indonesia.

Bicara tradisi Imlek di keluarga kami, mamiku pasti akan mengaitkannya dengan kisah dan cerita tentang saudara sepupunya. Kakak Sepupu mami ini tinggal di Kebayoran Lama, dekat pasar. Namanya Lauw Hong Nio. Aku memanggilnya Wak Hong Nio. Usianya lebih tua sekitar sepuluh tahun dengan mami. Yang hingga kini kami kenang dari kebiasaan Uwakku semasa hidupnya adalah, menjelang datangnya hari imlek, beliau tak pernah absen mengirimkan  aneka kue, yang kami kenal dengan nama dodol china. Kebiasaan ini selalu dilakukan rutin saban tahun, hampir tak pernah absen, hingga beliau wafat sekitar tahun 2000-an. Biasanya menjelang imlek, Ncang Amin, Abang mamiku akan datang ke rumah Wak Hong Nio untuk silaturahmi sekaligus mengambil titipan kue dodol cina yang memang sudah disiapkan oleh Hong Nio. Adakalanya juga salah satu anaknya datang ke rumah mengantarkan bingkisan kue imlek. Namun sayang, selepas kematiannya, kebiasaan yang baik ini tidak diteruskan oleh Beng Tek, Beng Yang, dan anak-anaknya yang lain.  

Mamiku cukup dekat dengannya. Sebab, hanya Wak Hong Nio, saudara sepupu mami yang tinggal di Jakarta. Sepupu-sepupu mami yang lain menyebar di beberapa kota. Jarang sekali mereka bertemu. Kalaupun mereka berkumpul, itu terjadi hanya setahun sekali, saat lebaran tiba, ketika kami ziarah dan silaturahmi kepada leluhur dan kerabat di Subang. Diluar itu biasanya kami bersua saat salah satu diantara saudara kami ada yang menggelar pesta perkawinan.

Saking dekatnya dengan Wak Hong Nio, dimasa muda mami, beliau sering menginap di rumah Wak-ku ini. Biasanya selepas kursus menjahit di kawasan Blok A, seperti anak gadis angkatan 60-an pada umumnya, mamiku -dengan bersepeda- kerap keluyuran hingga jauh ke Kebayoran Lama. Bersama teman-temannya, mamiku menghabiskan sore dengan mencari hiburan sembari nonton di bioskop Bintang Mas, di Pasar Kebayoran Lama. Pulang nonton, bukannya kembali ke Kemang, ke rumah nenekku, namun mamiku justru mampir bertandang ke rumah Hong Nio, yang letaknya tak jauh dari pasar.  

Seperti lazimnya pergaulan antar saudara, Hong Nio, sebagai seorang kakak sangat menjaga dan memperhatikan mami. Ya, mungkin lantaran Hong Nio tahu betapa kurang bahagianya mami menjalani masa kecilnya lantaran di tinggal mati ayahnya. Untuk menghibur mami, kadang-kadang keluarga Hong Nio mengajak mami jalan-jalan, plezier, bahkan hingga keluar kota.
“Mami pernah diajak ke Cimaja (?), waktu nguburin wak Alam, kuburannya ada di gunung. Kuburan China,” kenang mamiku bercerita padaku di suatu sore, di batas akhir senja.

Sebagai seorang yatim, mamiku memang kurang piknik, hehe.. Kalaupun piknik, palingan hanya main ke Pasar Kebayoran, ke rumah sepupunya ini. Biasanya sebelum bertandang, mami akan meng-ebel pintu gerbang dulu, memastikan keadaan ‘aman’. Begitu di tengok ada mami datang, Wak Hong Nio menyuruh Beng Tek (DR. Sunaryo, pakar pembuatan kapal laut), putranya yang masih kecil untuk mengandangkan anjing-anjing mereka. Mamiku memang takut anjing.
Tek, hayo dimasukin anjing-nya, ada Omah (panggilan dari Rohmah) datang,” kenang mamiku menirukan suara Hong Nio saat menyambut kedatangannya.
Keluarga Wak Hong Nio memang memelihara anjing. Anjingnya kecil, namun kalau menyalak, tak kalah garang dengan anjing herder yang besar.

Meski Wak Hong Nio telah wafat dan tradisi hantaran kue china terputus, namun silaturahmi antar keluarga kami dengan keluarga Wak Hong Nio tetap terjaga. Saban lebaran tiba, anak-anaknya selalu datang ke rumah mamiku untuk ber-lebaran. Biasanya mereka datang siang hari, setelah tamu-tamu dan kerabat mami bersilaturahmi selepas Shalat Ied dengan mami. Maklum, mami kini orang tua yang dituakan. Sebab, hanya tinggal mami-lah anak dari kakek/nenek-ku yang masih hidup.

Biasanya, di lebaran hari pertama, setelah para saudara dan ponakan-ponakan mami yang muslim pulang, hanya tinggal mami, aku dan adik-adik-ku saja yang tersisa. Meski sebagian besar tamu dan kerabat dekat telah datang bersilaturahmi, namun mami belum bisa tenang untuk sekadar selonjoran atau beristirahat. Ada salah satu tamu yang ditunggu kehadirannya oleh mami. Siapa dia? Mamiku belum tenang bila keluarga Wak Hong Nio belum datang berlebaran. Maka, sebagai persiapan menyambut mereka, sebelum para ponakannya (anak-anak Wak Hong Nio) datang, mami pasti akan menyisakan ketupat lebaran sebagai santapan makan siang untuk mereka.
Mat, pisahkan 10 ketupat buat anak-anaknya Hong Nio. Ketupat jangan sampai habis,” itulah executive order dan titah mamiku dihari pertama lebaran, saat aku bersiap menyantap hidangan ketupat yang tergelatak di meja.

Dan biasanya sekitar jam makan siang, barulah sebagian keluarga Besar Wak Hong Nio datang silaturahmi ke rumah. Nah, selepas mereka datang, legalah hati mami lantaran ketupat beserta sayur dan daging semur habis disantap oleh ponakan-ponakannya. Berkah, kata mami. 

Oh ya, selain kue imlek, Mami juga berbagi kisah lainnya, kebiasaan orang tua dulu sewaktu imlek adalah membeli ikan bandeng ukuran jumbo untuk disantap bersama. Sewaktu muda, mami sering diajak Wak Hong Nio membeli ikan bandeng ukuran jumbo di Pasar Rawa Belong, arah utara Pasar kebayoran lama. Mami dengan lancarnya bercerita, sewaktu muda ia pernah bersepeda hingga ke kawasan Slipi, dekat Rawa Belong.


Begitulah mamiku mengenang masa-masa mudanya bersama Wak Hong Nio menjelang imek tiba. Semoga kenangan mami tak lekang dimakan usianya yang kian sepuh. Panjang umur dan sehat selalu, mami. Gong Xi Fat Coi!!

Selasa, 03 Januari 2017

Berkaca Dari Udin Sarap

Bagi pasangan yang baru menikah, atau yang kita sebut pengentin baru, saat-saat awal pernikahan merupakan moment yang penuh dengan kebahagian. Segalanya indah. Aktivitas berkasih sayang, misalnya, boleh dibilang selalu rutin dilakukan, persis seperti minum obat, 3 kali dalam sehari. Itulah yang lazim kita sebut sebagai masa bulan madu. Praktis tidak ada gejolak dan keributan diantara mereka. Semuanya selalu terasa indah. Nah, seiring perjalanan waktu, madu pun habis, yang ada tinggal sepahnya saja. Saat usia pernikahan beranjak memasuki usia 1 tahun mulai lah kejenuhan terjadi. Yang tadinya saling memanggil dengan panggilan sayang, berubah menjadi hanya panggilan nama. Yang tadinya selalu memperhatikan dan mengingatkan, berubah menjadi mengabaikan. Mulailah terjadi letupan-letupan kecil. Masalah sepele bisa berubah menjadi besar. Bagi kita yang sudah/pernah menikah, tentu pernah mengalami hal seperti itu khan?

Saat saya hendak menikah, Udin Sarap, panggilan akrabku kepada sepupu yang bernama Safrudin ini, memberikan sedikit gambaran tentang lika-liku dan suka duka hidup berumah tangga. Lantaran ia adalah abang sepupuku, maka nasehatnya tentang pernikahan mau tak mau saya perhatikan dengan sungguh-sungguh. Ia, yang lebih dahulu menikah ketimbangku, dan kini telah mempunyai empat orang anak yang sudah beranjak dewasa, tentu telah kenyang makan asam garamnya pernikahan.

Diantara point penting obrolan ringan kami dengan suguhan pisang goreng dan kopi panas, buatan Mpo’ Mumun, istrinya, yang kuingat ialah tentang 5 tahun pertama usia pernikahan. Menurut Udin Sarap, sama seperti balita, maka usia pernikahan 5 tahun pertama boleh dibilang usia rawan. Beragam masalah yang sepele bisa menjadi besar. Belum punya anak, misalnya, jadi bahan cela’an dan beban yang tak ada habis-habisnya.

Menurut Udin Sarap, boleh dibilang pada masa-masa itu adalah rentang waktu yang genting dalam berumah tangga, bila lulus melaluinya, maka kesana-sananya akan lancar. Saya, yang memang belum pernah menikah sebelumnya, rada kaget juga dengan warning yang ia ungkapkan. Kenapa harus lima tahun pertama? Ada apa dengan lima tahun pertama itu? Akhirnya, setelah saya menjalani pernikahan yang telah menginjak satu dasawarsa ini, barulah saya ngeh betapa pentingnya mencermati 5 tahun pertama ini.

Oh ya, perlu diketahui bahwa dari pengamatan yang pernah saya lihat, dengar, dan tonton, ada beberapa orang atau teman dekat saya yang gagal dalam membina hubungan rumah tangga. Dan menariknya, kegagalan mereka itu (baca: perceraian) terjadi pada usia pernikahan di bawah 5 tahun. Benar juga apa yang diomongin Si Udin Sarap, batinku. Oke, lantaran saya sudah khatam dan melalui 5 tahun pertama itu, saya akan berbagi kisah dan analisa mengapa 5 tahun pertama dalam pernikahan itu bernilai penting dan strategis bagi perkawinan seseorang. Ada beberapa faktor yang meyebabkan itu terjadi.

Pertama, 5 tahun pertama adalah masa dimana pasangan suami istri itu belum mapan. Karena mereka baru menikah dan masih berusia muda, (rata-rata menikah dibawah usia 30 tahun) maka kemapanan secara ekonomi pun masih minim. Pendapatan bulanan hanya cukup untuk makan berdua, dan itu pun pas-pas-an tanpa mampu ber-saving. Bila salah satu pasangan menuntut gaya hidup mewah, dan tidak mau tahu dengan kondisi ekonomi yang ada, tentu akan merepotkan pasangannya. Bila ini tidak di-adjust dengan baik dan bijak, maka jangan kaget bila muncul konflik-konfik kecil diantara mereka.

Kedua, belum punya rumah dan masih gabung/tinggal dengan orang tua atau mertua. Kalian tentu pernah merasakan dong suka dukanya tinggal dan hidup serumah dengan orang tua atau mertua. Ada plus minusnya. Ada enak dan kagaknya. Ya, kalau banyakan enak ketimbang kagaknya mungkin tak masalah, namun bila sebaliknya, yang saya istilahkan banyakan makan hati, ketimbang daging, tentu menjadi problem tersendiri. Bagi mereka yang tidak bisa mengelola plus minusnya tinggal di rumah mertua, tentu akan menimbulkan konflik tersendiri. Bila tinggal dengan mertua/orang tua, yang sering terjadi ialah istri berkonflik dengan mertua perempuan. Atau, bisa pula suami berkonflik dengan mertua laki-laki. Si Suami yang dinilai oleh sang istri lebih condong atau sayang ke ibunya ketimbang dia. Nah, hal-hal inilah yang bisa menjadi benih pertengkaran diantara mereka, suami istri.

Ketiga penyatuan dan adaftasi dari dua karakter yang berbeda. Sifat dan karakter asli yang tidak bisa diterima dengan baik oleh pasangan, seperti kebiasaan bangun siang; Tidur selalu mendengkur; Merokok dalam kamar; Tidak membuatkan kopi/teh pada pasangan; Cemburu berlebihan; Boros; Suka keluyuran atau begadang, ataupun perilaku negatif lainnya dari pasangan  yang baru muncul justru setelah menikah.

Keempat, belum punya anak. Bagi mereka yang ingin segera memiliki momongan, setelah menikah tentu ingin segera punya anak. Nah, setelah 2, 3 hingga 4 tahun pernikahan kok belum ada tanda-tanda hamil bagi si istri. Kondisi ini tentu menjadi tanda tanya. Kok istri belum hamil, apa yang salah. Disatu sisi orang tua/mertua juga ingin cepat-cepat memomong cucu. Timbulllah rasa curiga jangan-jangan salah satunya mandul atau tidak bisa membuahi. Nah, mulailah timbul riak-riak kecil yang menggangu keharmonisan rumah tangga yang bisa berakibat perceraian.  

Kelima sudah atau terlalu cepat punya anak. Dilalahnya mereka justru belum mau punya anak. Akibatnya dalam pola pengasuhan dan pendidian anak mereka belum siap, mereka belum faham dalam mendidik dan mengurus anak. Celakanya, masalah (kehadiran) anak ini justru menyulut potensi perceraian. Masing-masing pihak menyalahkan yang lain dalam mengasuh dan mendidik anak.


Itulah sekilas gambaran dan analisa saya mengapa 5 tahun pertama masa pernikahan itu begitu urgent bagi pasangan suami istri. Dan yang perlu diingat adalah meski kita akan menghadapi kondisi kegentingan dan kerawanan di 5 tahun pertama itu, hindarilah perkataan “cerai”. Bila kita sukses melaluinya, niscaya kita akan mudah untuk menjalani etape-etape berikutnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga, semoga. 

Rabu, 28 Desember 2016

Tentang Uwak-ku

Desember tahun ini adalah liburan sekolah yang pertama bagi anakku, Razijed. Meski bila kencing masih aku angkat pinggangnya lantaran posisi urinoir yang tinggi, namun ia telah mengisi liburannya dengan banyak jalan-jalan ke beberapa kota di tanah air, pulang pergi naik Garuda. Saat ini ia tengah ikutan kemping bersama dengan teman-teman seusianya, Anak Baik Indonesia. Kebahagiannya nyaris sempurna. Ia berbeda denganku. Dulu aku mengisi liburan hanya dengan main bola di lapangan, seharian penuh. Praktis aku jarang keluar kampung.  Bagiku, anak Kampung Kebon, Kemang, yang tak punya apa-apa, bisa pergi ke luar kota untuk liburan adalah kenikmatan dan surga yang tiada tara. Kalaupun aku bisa pergi ke luar kota, itu pun sebatas hanya ke Puncak, Subang atau Bandung, nunut (ngintil) dengan uwak-ku, Ncang A min yang saban tahun rutin silaturahmi ke kerabat di sana. Maka bila sekarang ia bahagia menghadapi liburannya, itu akibat dendam kecilku yang memang kurang piknik, yang kulampiaskan pada anakku saat ini.

Nah, ketika usiaku remaja, saat SMP, teman dan pergaulanku pun bertambah luas tak hanya sebatas teman main di kampung saja. Usai liburan sekolah, tema obrolan kami tak jauh dari jalan-jalan mengisi liburan. Ada yang bercerita pergi ke Puncak bersama keluarganya (ahh yang ini mah terlalu mainstream), ada pula ada yang jauh pergi berlibur pulang kampung ke Sumatera ataupun jalan-jalan ke Jogjakarta dan Jawa Timur.

Nah, diantara cerita-cerita teman-teman itu ada cerita yang menarik minatku untuk menelisik lebih jauh yakni pergi berlibur dengan kereta api. Waktu itu ada diantara kami yang meng-organise untuk ber-plezier secara rombongan. Bersama teman-teman sekelas, mereka jalan-jalan ke Gontor, Ponorogo dengan Kereta Api. Cerita mereka sangat seru dan menarik. Menyesal rasanya tak bisa gabung dan ikutan dengan teman-temanku itu. Dengar mereka bercerita, ada perasaan mupeng dan iri. Wahh enak banget ya jalan-jalan naek kereta yang jauh, batinku. Asal tahu saja, aku belum pernah sekalipun naik kerata, dalam arti kereta sebenarnya. Memang sich kalau jalan-jalan ke Bogor selalu naik Kereta, namun bukan (naik) kerata itu yang aku impikan. Ke Bogor kan naik KRL atau KRD, tentu suasana dan chemistry-nya beda dengan kerata jarak jauh.

Setelah mendengar cerita teman-teman, aku menjadi terobsesi untuk bisa seperti mereka, pergi berlibur naik kereta. Tapi (pergi) kemana? Hendak kemana arah yang ingin kutuju? Naik kereta yang jauh tentu harus ada tujuan, dan saat itu belum ada tujuan dibenakku. Nah, sampai tibalah saat liburan besar tahun berikutnya, liburan kenaikan kelas dari kelas dua ke kelas tiga SMP. Ketika ngobrol-ngobrol dengan Kak Fuji, di Bawah, ia memberitahuku bahwa ada family atau kerabat kami yang tinggal di Malang, Jawa Timur. Namanya, Kwee Wie Hian. Kami memangilnya Wak Hian, lantaran ia adalah kakak sepupu dari mamiku. Mereka seumuran, sama-sama lahir tahun 48-an.
Kamu jalan-jalan ke Malang aja, Mat, ke rumah Tante Yanti (nama Indonesia-nya) di Malang,” begitu saran Kak Fuji padaku.
Oh, ternyata ada toh keluarga Mami-ku yang tinggal di Malang, batinku. Maklum saja, kami tak pernah bertemu sebelumnya. Jarak yang jauh memisahkan kami. Mamiku di Jakarta sedangkan keluarga besar dari Uwak-ku ada di Cirebon. Lantaran ikut sang suami yang bertugas sebagai pegawai di pabrik rokok Benteol, maka beliau pun hijrah ke Malang.

Rencana liburan ke Malang ini aku sounding ke sepupuku yang lainnya, yakni ke Hafiz, anak Ncang A min, abang dari mamiku. Lantaran pergi berdua dirasa kurang pede, maka Hafiz atas usulku mengajak sepupunya yang bernama Amma, panggilan akrab kami pada Ahmad Rudi. Akhirnya jadilah kami bertiga merencanakan liburan ke Malang. Hari H-nya pun ditentukan. Sebelumnya kami memesan tiket kereta api melalui travel yang berlokasi di pertigaan Sajam, Kemang Selatan. Sayang travel itu kini telah tutup. Tiketnya kalau tak salah sekitar 12 ribu rupiah. Kereta Matar Maja namanya.

Hari yang dinanti pun tiba. Kereta berwarna hijau lumut itu bergerak dari St. Gambir. Oh ya, Stasiun Gambir sendiri masih old style, dengan bangunan dan arsitektur yang lama, belum bertingkat dan di renovasi seperti sekarang. Aku ingat, waktu itu kereta telat masuk, akibatnya kami pun terlambat berangkat, dari jadwal yang seharusnya berangkat jam 14.00 menjadi jam 16.00.

Hari sebelum keberangkatan, Ncang-ku, berpesan agar kami berhati-hati selama di Malang. Ini lantaran Malang, meski tak sebesar Jakarta, namun kota ini termasuk salah satu kota besar di Jawa Timur. Kata Ncangku, luas kotanya seperti Kebayoran Baru, Jakarta. Sebelum berangkat tak lupa beliau menitipkan sebuah photo untuk nantinya diperlihatkan kepada kerabat kami itu. Bukan apa-apa, Ncangku ini khawatir bila Wak Hian tidak percaya kalau kami adalah saudaranya. Jadi, photo itu kami bawa sebagai bukti bahwa kami anak dari Ncang A min dan bersaudara dengan Wak Hian.

Saat naik kereta itulah akhirnya kami bertiga baru benar-benar merasakan liburan naik kereta. Asal tahu saja, kami bertiga mungkin satu-satunya penumpang anak yang tidak didampingi oleh orang dewasa. Kebanyakan yang naik adalah keluarga dengan anak disertai dengan orang dewasa. Hanya kami yang tanpa pendamping. Modal nekat. Anehnya, orang tua kami cukup berani juga mengizinkan kami, anak berumur 14 tahun, pergi jauh dengan tujuan (rumah) yang belum pasti lantaran kami memang belum pernah ke sana.

Seingatku, kereta banyak berhenti, baik di stasiun besar maupun kecil. Maklum kereta ekonomi, harus selalu mengalah. Tiba di Madiun pas hari telah terang, sekitar jam 10 pagi. Sangat terlambat. Dari informasi penumpang lainnya, biasanya kerata merapat di Madiun sekitar waktu Subuh. Akhirnya setelah beberapa kali berhenti untuk langsir yang biasanya memakan waktu 30 menit, kereta akhirnya tiba di st. Malang kota Lama. Kira-kira jam 17-an kami menapak emplasemem stasiun Malang Kota Lama.

Menjelang memasuki Malang, sebenarnya kami belum pasti mau turun dimana, mengingat kota Malang punya 2 (dua) stasiun yakni Stasiun Kota Lama dan Stasiun Kota Baru. Setelah tanya menanya, akhirnya kami putuskan untuk turun di St. Kota Lama, perhentian pertama di Kota Malang. Karena bingung mau melangkah kemana, maka setelah turun, kami langsung menuju ke pos polisi yang ada di stasiun dan menceritakan maksud kami. Oleh petugas yang baik hati itu kami dicarikan becak, sambil berpesan ke tukang becak agar mengantarkan kami, ketiga bocah ingusan ini ke perumahan karyawan pabrik rokok Bentoel di kawasan Janti, Malang. Untungnya St. Kota Lama lokasinya dekat dengan alamat yang kami tuju, hingga tak lebih seperapat jam tibalah kami di alamat Wak Hian.

Setelah sampai perumahan itu, kami lalu mencari nomor rumah seperti yang tertera di alamat yang kami simpan. Bel pun kami pencet. Lalu muncullah seorang wanita dengan tampang bingung, sama seperti kami, lantaran diantara kami memang tak saling kenal atau berjumpa sebelumnya.
“Kalian siapa? Mau ketemu siapa?” selidiknya.
Alhamdulillah ada orangnya batinku, saat kulihat seorang wanita membukakan pintu rumahnya, dan memberondong kami dengan pertanyaan menyelidik. Maklum saja, zaman dulu tak ada telepon, jadi kedatangan kami tentu tak kami kabarkan ke Uwak kami itu. Untungnya mereka ada di Malang, coba kalau mereka pergi ke luar kota tentu kami akan terkatung-katung di Malang tanpa tujuan, disebabkan kami tak bertelpon atau bersurat yang mengabarkan kami akan berlibur dan datang ke rumahnya.
Kami anaknya A min, dari Jakarta,” jawab Hafiz, sekenanya.
Wak Hian setengah kaget mendengar nama Ncang A min disebut. Maklum mereka sudah lama tak bersua, dan sudah lama pula diantara mereka tak bertukar kabar.

Begitu kami ceritakan siapa kami, wanita itu yang ternyata benar Uwak kami menpersilakan kami masuk. Disaat ngobrol dan menelisik lebih dalam siapa kami, Hafiz menyodorkan photo yang diberikan ayahnya untuk diperlihatkan pada Wak Hian.
Ohh kamu anaknya A min ya. Iya (photo) ini saya kenal. ini kan A min bersama Hong Nio,” serunya.
Ya, di potret itu tergambar dengan jelas A min dan supupunya yang lain yakni Hong Nio, ibu dari Beng Tek, juga sepupu kami. Mereka (A min, Hong Nio, dan Wak Hian) ini memang sepupuan, atau mempunyai kakek/nenek yang sama.

Keluarga Wak Hian ini pemeluk Khatolik yang taat. Setiap mau makan, beliau selalu berdoa dengan khusyuk. Di rumahnya yang asri di Malang terpampang dengan jelas simbol-simbol Khatolik. Meski keyakinan kami berbeda, selama di rumahnya, kami tak pernah kesulitan untuk beribadah. Menariknya, dirumahnya selalu terhampar sajadah untuk kami gunakan shalat. Kami diperlakukan dengan sangat baik. Mereka selalu mengingatkan kami untuk sholat, dan tak pernah memasak makanan berbahan babi. Diperhatikan pula makan dan kesehatan kami. Wak Mul, misalnya, Suami Wak Hian ini selalu melarang kami nyeker (tanpa alas kaki) meski pun berada di dalam rumah. Kami diingatkan agar selalu pakai sandal, karena Malang kota dingin, takut kami masuk angin, katanya. Setiap selesai makan pun kami selalu di tawari untuk minum vitamin, suatu kebiasaan yang tak pernah diterapkan di rumahku.  


Uwak kami ini punya dua orang anak, namanya Eko dan Euis. Eko se-umuran dengan kami. Lantaran seumuran itulah, kami, selama di Malang ditemeni jalan-jalan oleh Eko. Kami jalan-jalan keliling kota Malang. Oleh Eko kami juga diantar rekreasi ke Selekta, Sengkaling, dan Batu. Begitulah, akhirnya obsesiku untuk berlibur naik kereta yang jauh kesampaian. Dan itu terjadi saat usiaku 14 tahun, pergi ke Malang tanpa didampingi orang dewasa. Itulah pengalaman liburanku. Bagaimana denganmu? 

Rabu, 16 November 2016

Lezatnya Sarapan Dengan Sayur Berbumbu Tikus

Bagi yang pernah merasakan kehidupan di pesantren, tentu akan mengalami kisah beraneka rupa, yang mewarnai hari-hari mereka, mulai dari selepas subuh hingga larut malam tiba. Banyak kisah dan cerita baik suka maupun duka yang layak untuk kembali diceritakan kepada teman, kerabat, bahkan anak cucu kelak. Aku ingin berbagi kisah tentang menu dan makanan kami di pesantren kepada kalian, para pembaca semua.

Hari pertama tinggal di Pesantren tentunya memerlukan adaptasi yang tak mudah. Salah satu adaptasi yang harus dilalui adalah masalah makanan. Saat pertama kali mencicipi hidangan makan di pesantren, kami merasa kaget dan shok. Bayangkan saja, di rumah, kami biasa makan enak, dengan olahan yang menggugah selera hasil racikan dari tangan Bunda tercinta. Makanan olahan Bunda tentu berbeda dengan di pesantren, bagai langit dan sumur. Tempe goreng, misalnya, akan berbeda rasanya bila tempe goreng itu dibuat oleh Bunda ketimbang tempe goreng di pesantren, meskipun sama-sama tempe.

Lalu, setelah hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, maka kami pun mulai terbiasa dengan olahan dan cita rasa masakan made by chef pesantren. Mungkin lapar karena capek berkegiatan yang tak habis-habisnya, maka hidangan apapun yang disajikan oleh dapur pesantren akan kami sikat dengan lahapnya, walaupun -maaf- rasanya sangat jauh untuk disebut sebagai makanan yang enak. Tapi ya itu, karena lapar dan tidak ada lagi makanan enak yang bisa di makan, maka nasi dan tempe goreng plus sayur kangkung (yang rasanya gak karuan) pun dengan lancar masuk kerongkongan dan bersemayam di perut kami dengan damainya. Seingatku, saat itu tak ada diantara kami yang susah makan lantaran menyantap makanan dari dapur pesantren. Kalaupun tak berselera dengan lauk yang disajikan, maka kami biasanya membeli “salatoh” (sambal) sebagai penambah rasa lauk yang hambar agar ada tambahan rasa pedas, manis, dan asinnya. Ya, salatoh itu aku istilahkan sebagai doping agar lauk dan sayur dapat dengan lancar masuk ke tenggorokan.

Oh ya, tak selamanya menu makanan di pesantren tak enak atau melulu hanya tahu dan tempe goreng saja. Menunya bagiku cukup bervariasi dan sesuai standard kesehatan yang ditetapkan oleh WHO, hehe... Selang seling. Ada ikan kembung goreng, telor dadar/rebus, ayam, dan daging. Menariknya, untuk lauk tempe-nya pun diolah dengan beragam model. Ada yang disebut tempe jilbab, karena tempe itu ditepungin (seperti mendoan); Ada pula yang kami juluki tempe berontak, sebutan untuk tempe yang diiris tipis-tipis, dan diberi kecap. Dan banyak sebutan aneh lainnya. Ironisnya, bila makan pagi (sarapan), maka menunya hampir seragam yakni sayur (bersantan bening) dan selalu berkrupuk. Itu saja terus menerus, tanpa perubahan, kecuali saban Jumat pagi, dimana kami biasanya menyantap nasi goreng plus kerupuk putih. Just it.

Nah, untuk menu makan siang relatif beragam dan ada peningkatan ‘gizi’ ketimbang menu sarapan dan makan malam. Menu lunch kami lumayan ‘berkelas’. Setiap rabu siang ada opor ayam, yang lumayan enak untuk lidahku. Lantaran lauknya opor ayam, maka saban rabu siang, selepas shalat zuhur, kami ‘dipastikan’ shalat tanpa khusyuk. Begitu selesai do’a tanda ibadah shalat kelar, maka kami, para santri langsung ngacir laksana kecepatan kilat menyambar menuju kamar dan mengambil piring lalu ngantri di dapur. Kenapa kami harus lari? Pertama agar bisa segera dilayani oleh petugas; Karena yang sudah-sudah pernah kejadian sebagian kecil dari kami tidak dapat lauk opor ayam. Kehabisan. Sebagai gantinya, oleh pengurus dapur maka di-rebusin-lah telor, hiks.. Sungguh tragis! Opor ayam diganti telor rebus. Alasan kedua, agar kami dapat memilih potongan ayam yang kami sukai. Jangan sampai kami hanya tinggal mendapat sayap atau maaf- empot-nya ayam. Biasanya pilihan favorit kami adalah dada atau paha bagian dalam yang banyak terdapat daging ketimbang tulangnya. Bila antrian kami jauh dibelakang, jangan berharap dapat potongan daging yang oke, apesnya ya mendapat empot ayam. Begitulah, hari rabu siang adalah salah satu hari yang kami nanti-nanti.

Temans, tak selamanya kami menikmati dengan sempurna kelezatan hidangan ala pesantran. Pernah suatu hari disuatu masa, kejadiannya kalau tak salah pada hari kamis pagi. Daftar menu sarapan hari itu adalah sayur kol berkuah (santan) dengan krupuk. Menu ini salah satu menu favorit kami, karena sayur kol berkuah ini rasanya gak jauh beda dengan sayur padang yang berkuah lezat. Lumayan enak. Nah, disaat kami mulai mengunyah nasi bercampur sayur itu, kok ada yang beda rasanya dibandingkan dengan kamis-kamis kemarin. Rasa sayur kol ini rada aneh, berbeda dengan sebelum-sebelumya. “Ah, mungkin lidahku saja yang lagi error,” pikirku. Namun, tak hanya aku, teman-temanku yang lain pun merasakan keanehan yang sama. Tapi, sudahlah, habiskan saja, toh masih ada rasa asin dan gurih khas sayur bersantan. Akhirnya kami pun menghabiskan sarapan bersayur itu, tanpa tersisa. Piring kami licin tandas. Laper, hehe..

Nah, saat mentari mulai naik, sekira waktu dhuha, pas jam istirahat pertama tiba, setempo jam 09-an, tersiarlah kabar yang membuat perut ini mules. Ya, mendengar selentingan kabar itu langsung kami tercekat kaget. Ternyata sarapan yang kami santap di kamis pagi itu bercampur dengan (bulu) tikus. Inti kabar di pagi itu adalah selagi sayur kol itu di masak dalam panci yang besar, sayur itu kemasukan tikus. Lho kok bisa? Lha bisa, lha wong tikus dan santri jumlahnya bersaing. Waktu itu banyak tikus berkeliaran di sekitar pesantren kami. Nah, tikus got berbadan besar yang berkeliaran di dapur pesantren itu tanpa sengaja tergelincir jatuh ke dalam panci besar tempat sayur kol yang siap dihidangkan untuk sarapan pagi para santri. Oleh juru masak, tikus yang masuk ke panci besar yang sedang mendidih hebat itu segera diambil dan dibuang. Tikusnya sendiri ketika terpeleset masuk panci besar langsung menggelepar-gelepar dan koit seketika.


Kalau bicara kesehatan, tentu sayur itu harus dibuang dan diganti (dimasak) dengan sayur yang baru. Oleh pengurus dapur, lantaran waktunya sudah mepet, sedangkan jam sarapan santri sudah tiba, maka sayur itu terpaksa dihidangkan. Mereka kompak untuk tak menceritakan ‘aib’ besar itu, takut para santri tak nafsu makan. Barulah setelah selesai sarapan, dimana para santri telah belajar di kelasnya masing-masing, berita tikus masuk ke panci besar itu kami dengar. Pantesan rasanya kok rada aneh, ternyata ada campuran tikus disana. Ola la. Untungnya, meski kami menyantap sayur kol bercampur tikus, namun tak ada yang sakit diantara kami. Hanya setelahnya, setiap hari kamis pagi saat sayur kol itu kembali dihidangkan, ada perasaan geli dan tak enak, mungkin lantaran teringat tikusnya. Itulah ceritaku yang sempat menikmati olahan sayur kol berbulu tikus. Berani mencoba?

Minggu, 13 November 2016

Indonesia Bisa Menjadi Role Model Perwujudan Pulau Layak Anak (PLA) Di Dunia

Sejak dicanangan pada tahun 2010 oleh Kementerian PP&PA, Kota Layak Anak (KLA) telah merambah ke hampir sebagian besar Kota/Kabupaten di Indonesia. Kota Layak Anak adalah suatu sistem pembangunan Kabupaten/Kota yang mengintergrasikan komitmen dan sumberdaya dari para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, masyarakat dan dunia usaha secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan yang terencana untuk pemenuhan hak-hak anak. Beranjak dari komitmen tersebut, tiap-tiap Kota/Kabupaten telah mencoba menerapkan kebijakan KLA dalam program dan tahapan rencana pembangunan kota/kab mereka.

Dari judul dan penamaan program, yakni Kota Layak Anak (KLA), niscaya tidak ditemukan atau belum disentuh pengembangan Pulau Layak Anak (PLA) secara khusus. Selama ini, yang menjadi sasaran program ini adalah Kota atau Kabupaten di Indonesia, yang berada –tentunya—di pulau-pulau besar, seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Lalu, bagaimana dengan pengembangan Pulau Layak Anak itu sendiri? Sudahkah kita menerapkan kebijakan Pulau Layak Anak? Memang, sejatinya keberadaan pulau itu sendiri berada dalam lingkup suatu kabupaten, dan KLA pastinya akan menyasar ke pulau yang notabene berada (include) dalam kabupaten tersebut. Namun peng-intensifan atau penajaman program sebaiknya juga menyentuh suatu pulau atau beberapa pulau sebagai pilot project pengembangan Pulau Layak Anak di Indonesia (PLA).

Lalu, sejauh mana gaung KLA telah ada atau diimplementasikan di suatu kawasan atau pulau tertentu di Indonesia. Apakah ada sebuah pulau yang benar-benar menjadi benchmark bagi perwujudan PLA, dengan kata lain pulau tersebut telah 100 persen menjadi Pulau Layak Anak? Selain Jepang dan Filipina, tak banyak negara di dunia yang memiliki gugusan kepualaun. Untuk itu, sebagai salah satu negara kepulauan di dunia, adalah suatu keniscayaan mewujudkan Pulau layak Anak dalam salah satu kawasan gugusan kepulauan di nusantara.

Bila melihat dari scope dan cakupan pelaksanaan program, sejatinya sangat lah mudah mewujudkan Pulau Layak Anak ketimbang perwujudan Kota/Kab. Layak Anak yang berada di area (baca: daratan) yang luas. Lantaran luas cakupan areanya kecil, maka kompleksitas yang ada di pulau tidak serumit ketimbang di daratan yang luas. Pulau Untung Jawa, di gugusan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, misalnya, dapat dijadikan role model pengembangan Pulau Layak Anak di Indonesia. Selain itu, Gugusan Kepulauan di Mentawai, di Sumatera Barat, dan gugusan kepulauan di Sulawesi Tenggara, juga layak untuk dikembangkan sebagai percontohan PLA.

Sama seperti penerapan percepatan pelaksanaan KLA di daratan, maka untuk pengembangan Pulau Layak Anak (PLA) di Indonesia, kami ingin membagi penerapan PLA dalam 2 (dua) tataran konsep, yakni; Pertama: Tataran implementasi PLA yang dapat di lihat/tampak (seen) dan Kedua; implementasi perwujudan PLA yang tidak tampak (unseen) atau dalam bentuk pemenuhan data terpilah, peraturan perundangan, dan pendokumentasian/pengarsipan. Untuk tataran seen (dapat dilihat) maka perlu dikembangkan Sekolah Ramah Anak (SRA) di pulau tersebut, lalu mewujudkan Puskesmas Ramah Anak (PusRA), dan pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Seen concept adalah percepatan perwujudan PLA dengan membangun sarana dan prasarna (fisik) penunjang PLA. Keberadaan PLA dapat dirasakan langsung oleh masyarakat penghuni pulau dengan melihat apakah tersedia sarana dan prasarana yang ramah anak di pulau tersebut? Taman bermain, misalnya. Berapa dan bagaimana kondisi taman atau tempat bermain bagi anak yang tersedia?  

Faktor seen ini juga sangat penting untuk membuktikan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan PLA. Maka pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana bermain anak, yakni melalui perwujudan taman bermain interaktif adalah hal mutlak yang harus dikerjakan pertama kali bila ingin meng-create dan men-design pulau yang ramah anak.

Bila lahan/tanah yang ada cukup luas, maka pembuatan taman bermain tidak hanya tertuju lepada pembangunan taman bermain an sich namun dapat dikembangkan dan diintegrasikan menjadi RPTRA. RPTRA yang dimaksud adalah taman atau ruang yang memadukan konsep bermain, belajar, berkreasi, berseni, dan berolahraga, serta beragam aktivitas warga masyarakat yang kesemuanya ditujukan untuk mendukung pengembangan potensi anak. Di RPTRA harus tersedia Perpustakaan Anak; Panggung Seni & Kreasi Anak; Pojok Cyber/Komputer Anak; Sekretariat Forum Anak; Lapangan Futsal/Badminton/Tenis Meja dsb, serta sarana penunjang kegiatan anak lainnya. Singkatnya, RPTRA adalah perwujudan bagi pengintegrasian seluruh aktivitas dan kegiatan anak dan masyarakat yang ramah anak.

Disamping pemenuhan kebutuhan dasar anak (tempat bermain), permasalahan yang lekat dengan anak adalah dalam hal pendidikan dan kesehatan. Usia anak adalah usia sekolah, maka hampir sepertiga waktu anak dihabiskan di sekolah. Untuk itu bagaimana kita men-design Sekolah Ramah Anak (SRA); yakni suatu sekolah yang bertujuan untuk memastikan bahwa sekolah memenuhi, menjamin, dan melindungi  hak anak. Mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan anak agar terwujud anak yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Mempersiapkan anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membawa rahmat bagi seluruh alam.

Di bidang Kesehatan, bagaimana kita membangun Puskesmas Ramah Anak (PusRA), dimana didalamnya mutlak tersedia: Ruang menyusui bagi ibu (Ruang Laktasi); Adanya ruang/space bermain untuk balita/anak; Tersedianya ruang dan tenaga konsultasi kesehatan remaja (PIK Remaja); dan sarana penunjang kesehatan yang modern dan meng-cover seluruh jenis penyakit yang rentan menimpa anak-anak. Di tiap PusRA minimal tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter spesialis THT, dan dokter spesialis gigi.

Lalu bagaimana mewujudkan PLA di Indonesia? Untuk mewujudkan PLA, perlu dukungan dan komitmen yang kuat dari para stakeholder yang ada di pulau tersebut agar mereka merasa saling memiliki dan mempunyai ikatan emosional yang kuat untuk kesuksesan PLA. Para pemangku kepentingan, yakni kepala kampung/pulau, tokoh agama, guru/pendidik, dokter/bidan, dan aparat pemerintah setempat dapat merumuskan kebijakan-kebijakan apa yang akan diambil dan sarana/prasarana apa yang mesti dibangun untuk pelaksanaan PLA.


Dari 31 indikator KLA yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan PA, maka bila 3 (tiga) bidang tersebut diatas, yakni bidang Pendidikan; Kesehatan; Dan Pemanfaaatan Waktu Luang, digarap secara serius dan simultan, maka keberadaan PLA bukan impian kosong. Untuk mewujudkan itu semua, rasanya tidak berlebihan bila –sebagai negara kepulauan- Indonesia bisa menjadi pilot project pengembangan suatu pulau atau kepulauan yang ramah anak di dunia. 

Rabu, 19 Oktober 2016

Ternyata Staf Pun Mempunyai Kasta

Saya ingin berbagi kisah tentang staf di kantor saya.
Bagi kami yang bekerja di instansi pemerintah, dalam hierarki kedudukan dan jabatan, ada di kenal dengan yang namanya staf dan pimpinan atau pejabat struktural. Selain pejabat, tentu ada staf. Pejabat dibantu oleh beberapa orang staf. Bisa satu staf, bisa pula banyak, tergantung kebutuhan organisasi. Bahkan adapula pejabat yang tidak mempunyai seorang pun staf. Bila ini terjadi, biasanya terdapat pada lingkup organisasi yang kecil.

Bagi pimpinan yang punya staf banyak, jangan senang dulu. Adakalanya banyak staf namun tak satu pun staf itu yang bisa kerja. Inilah yang dikatakan pimpinan yang punya staf namun tanpa staf. Praktis Ia bekerja sendirian. Tak ada seorang staf pun yang dapat diandalkan untuk membantunya bekerja, bahkan staf itu menjadi beban. Gimana gak beban, bila saban makan siang bersama, si pimpinan akan mentraktir para staf yang notabene adalah anak buahnya sendiri, hehe..

Kita mungkin pernah dengar istilah staf ahli yang merujuk kepada jabatan seseorang. Biasanya mantan pejabat yang di-lengser-kan akan di tempatkan posisinya di jajaran staf ahli. Di lingkungan militer kejadian ini adalah sesuatu yang jamak dan lazim. Yang ingin saya tekankan adalah sebenarnya tidak ada perbedaan antara staf ahli, staf senior atau staf lainnya. Staf ya staf. Kroco (titik). Tak lebih dan kurang. Meski kami sama-sama staf, namun, diantara kami para staf, ada ‘kasta’ tak tertulis yang telah dipahami oleh setiap staf, lantaran itulah terjalin harmoni diantara kami, sehingga antara staf satu dengan lainnya saling tahu diri dan respek diantara mereka.

Lalu -meski sama-sama staf- yang membedakan antara staf yang satu dengan staf yang lainnya adalah pada golongan dan tingkatan pangkat, walkasil gaji dan tunjangan diantara kami, para staf pun berbeda. Staf golongan 3A tentu berbeda dengan staf golongan 2A. Perbedaan (tunjangan) nya bisa bagai langit dan sumur. Kebanyakan staf 3A berlatar belakang pendidikan S1, berbeda dengan 2A yang hanya tamatan SMA. Pola pikir dan attitude mereka pun berbeda, meskipun sama-sama staf, hehe..  

Nah, lantaran perbedaan ‘kasta’ pendidikan inilah, staf pun ada ‘golongannya’-nya, yakni mulai dari yang ‘prestise’-nya tertinggi yakni staf ahli atau staf senior hingga staf rendahan alias staf  yang tidak mempunyai keahlian apa-apa, selain kerjanya di suruh-suruh. Kedua golongan staf inilah yang mewarnai blantika perbirokrasian di tanah air, dimana ada sebagian staf dengan keahlian yang mumpuni dan banyak sekali staf yang tak bisa apa-apa. Ada staf yang sering kerja dan ada pula staf yang hanya ngisi absen lalu duduk dan baca koran saja sepanjang hari.

Lantaran staf rendahan itu gak bisa ngapa-ngapain, maka oleh bos, tiap harinya disuruh kerja yang enteng-enteng aja, seperti disuruh moto copi, disuruh nge-fax ataupun di suruh nyopirin bos. Merekalah kasta terendah dari staf. Ya, satf rendahan ini gak bisa di suruh ngapa-ngapain selain pekerjaan yang tak membutuhkan keahlian komputer ataupun di suruh mikir yang rada berat-berat. Ciri-ciri staf rendahan model begini kebanyakan adalah usia mereka sudah mendekati pensiun; Menjadi PNS sejak zamannya Pak Harto, dimana masuk (PNS) nya pun gak pake tes, hanya bermodalkan izajah SD/SMP dan tentu dengan koneksi atau kenalan kepada pejabat yang membawanya. Biasanya si pejabat itu akan merekrut saudara atau orang sekampungnya untuk ikut bekerja di instransinya. Untuk loyalitas, mereka pasti sangat loyal kepada yang ‘membawa’-nya. Hutang budi. Maka tak heran bila pada zaman itu suatu instansi atau kantor dikuasai oleh etnis tertentu.  Di Pemprov DKI misalnya, pada rentang tahun 80 hingga 90-an terkenal dengan istilah yang disingkat “Babi Kuning”, suatu akronim yang merujuk ke etnis tertentu.

Diatas staf rendahan ini, masih ada juga staf yang rada mendingan. Ini kasta menengah. Mereka masih bisa diandalkan untuk bantu-bantu staf lainnya. Konduite kerjannya pun lumayan, bisa disuruh ngetik ataupun membantu menyiapkan kegiatan atau acara. Staf model begini kebanyakan diisi oleh para lulusan SLTA yang masih ada. Sama seperti staf rendahan, mereka masuk jadi PNS sudah lama, sejak rezim Orde Baru. Karena ijazah mereka sebatas SLTA, maka tak ada yang bisa diharapkan dari mereka selain aktivitas administrasi belaka, semisal ngetik (itupun sudah dikonsep oleh staf senior atau pejabat-nya), menghubungi narasumber, ataupun mengurus perbal surat dinas.

Nah, terakhir adalah golongan staf yang rajin kerja, mikir, dan ngonsep inilah yang menduduki kasta tertinggi. Mereka (staf senior) inilah yang kontribusinya benar-benar dibutuhkan republik ini. Ya, ini lantaran pejabat –kebanyakan- bisanya hanya nyuruh doang. Sedangkan yang mengkonsep, memikir dan meng-create adalah para staf senior. Mereka, karena nasib yang belum berpihak, belum diangkat jadi pejabat, masih menyandang status staf. Jika staf rendahan pulangnya selalu tenggo, maka staf senior ini sering sekali pulang lembur, kerja pagi pulang larut malam. Saking giatnya kerja, banyak diantara mereka yang tumbang, bila fisik tak kuat, sakit demam typoid akibatnya, sungguh kasihan..

Boleh dibilang yang mengalami suka duka dunia per-staf-an adalah para staf senior ini. Dinamika dan asam garam kerja jadi pegawai negeri benar-benar dirasakan oleh mereka. Bayangkan saja, disaat orang lain sudah tiba di rumah dan bercengkrama dengan anak istrinya, para staf senior ini masih berjibaku dan berkutat dengan kerjaan-nya. Menyusun anggran dan kegiatan, misalnya menjadi menu utamanya. Meng-create suatu pola program dan kebijakan adalah santapan harian mereka. Ringkasnya tiada hari tanpa berpikir dan berkarya. (Bagaimana dengan) Pimpinan? Ya tahu beres aja. Kebanyakan mereka (pejabat) sudah sibuk dengan kegiatan seremonial ataupun pendampingan. Namun demikian mereka juga full supported kepada anak buahnya (staf senior) yang kerja. Dengan ‘dignity’-nya mereka memberikan supervisi, arahan dan persetujuan terhadap rancangan kerja yang dibuat oleh staf senior.

Kalau tadi kita bicara duka, maka sukanya adalah kami para staf senior ini sering kali ditugaskan keluar kota bahkan keluar negeri sampai ke Amerika untuk mengikuti pelatihan atau acara yang berkaitan dengan kedinasan. Untung-untungan juga sih, tergantung rezeki, pasalnya adapula undangan kegiatan/program yang ditujukan langsung dan harus dihadiri oleh si pejabat. Namun adakalanya pula undangan itu ditujukan -karena berkaitan dengan hal-hal teknis yang hanya dikuasai oleh staf- kepada staf senior, jadilah disposisi itu jatuh ke tangan mereka.


Ya, begitulah romantika kerja, suka dan duka kami para staf senior, dimana pengabdian dan dedikasi kami tak pernah terlihat. Kami selalu bergerak dibelakang layar, ibaratnya yang punya susu kerbau, yang punya nama sapi. Yang kerja kami, yang punya nama pimpinan/pejabat, hehe.. 

Senin, 17 Oktober 2016

Cerita Tentang Orang Kaya di Jakarta

Banyak yang bilang bahwa kaya dan miskin itu relatif. Bagaimana mengukur seseorang kaya atau miskin. Apa parameternya? Apa tolak ukurnya? Bagi saya pribadi, untuk menilai seseorang masuk golongan kaya atau tidak kaya (sengaja saya gunakan kata tidak kaya untuk menggantikan kata miskin) yakni bila ia memiliki rumah pribadi (bukan ngontrak atau masih numpang dengan orang tua/mertua, hehe..) berlokasi MASIH di Jakarta, lebih spesifik lagi di kawasan Menteng, Kebayoran Baru, Kemang, dan Pondok Indah, dengan luas tanah sekitar –sedikitnya-- 500 meter persegi, plus punya kendaraan roda empat tentunya, dan penghasilan sebulan at least 20 jutaan. It’s simple parameter. Lebih dari itu, berarti kaya bingits. Nah, justru, bagi orang yang kaya bingits, bila ukurannya hanya memakai, saya punya parameter, seperti diatas, bisa jadi mereka masih dianggap belum kaya atau masuk kategori orang yang biasa-biasa saja. Jadi, mungkin inilah makna relativitas dari kekayaan atau ketidak-kayaan itu sendiri.

Jika saya amati sekilas, ada 2 (dua) type atau golongan orang kaya. Pertama; Orang kaya yang tahu bahwa ia kaya. Ia sadar bahwa ia orang kaya dan tahu akan kemana uang dan harta kekayaannya itu akan ia gunakan. Lantaran tahu bahwa ia kaya, maka ia nikmati harta kekayaannya sebaik-baiknya. Ia tidak ingin dibelenggu oleh harta dan kekayaanya, justru gunakan uang dan hartanya untuk bersenang-senang. Tiada hari tanpa kebahagiaan, tawa dan canda.

Banyak teman saya memanfaatkan kekayaannya untuk kesenangan pribadi dan keluarganya. Saban semester diisi dengan jalan-jalan, wisata kuliner, spa, hangout, dan sebagainya. Sering saya jumpai dalam updetan status di fesbuk-nya, teman saya terlihat sedang ber-selfie dengan latar belakang Menara Eifel. Di lain kesempatan saya lihat pula ia berada di Patung Liberty, NY.

Nah, menariknya golongan ini mampu mengimplementasikan kekayaanya dengan amal sosial yang bernilai ibadah. Mereka membelanjakan kekayaannya --disamping untuk kesenangan pribadi-- juga untuk kemaslahatan umat manusia. Mereka mendonasikan sebagian –entah besar atau kecil—harta yang dimiliki untuk amal ibadah sosial secara simultan dan beriringan. Tak jarang mereka saban tahun suka ber-umroh ke Masjidil Haram, Kerap mengundang anak yatim untuk perayaan hari ulang tahunnya ataupun perayaan kesyukuran lainnya. Bahkan, saking ‘riya’ nya foto-foto aktivitas sosial dengan para pengurus panti sosial di unggah di medsos. Dengan kata lain, Ia dan harta kekayaannya bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Inilah jenis atau type orang kaya yang saya istilahkan “High Quality Rich.” Orang kaya model ini adalah mereka yang sadar bahwa meraka kaya sehingga mampu dan mendayagunakan potensi kekayaannya untuk sesuatu yang bernilai sosial, produktif, rekreatif, dan multi useful. Tegasnya, kekayaan yang ia miliki mampu membuat ia dihormati, dipandang dan dianggap oleh masyarakat sekitar.

Nah, ada pula orang kaya yang sadar bahwa ia kaya namun mereka membelanjakan kekayaannya hanya untuk kepentingan dan ego pribadi dan keluarga saja tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Bahasa sosiologinya “Asosial. Tidak peduli akan nasib tetangga yang kesusahan. Tidak care terhadap anak yatim dan janda sekitar rumah yang perlu disantuni. Bahkan, tidak pernah ikut iuran satpam atau iuran RT/RW. Bila ada tetangga selemparan rumah yang meninggal, ia tidak melayat ataupun menitipkan amplop uang duka kepada shohibul musibah. Golongan ini berprisnsip: “gw gak ngerugiin loe, so jangan janggu gw.” “Loe asik, gw asik.” Walhasil, mereka menikmati kekayaannya hanya untuk kepentingan diri sendiri, hanya untuk pemuasan ego dan nafsu pribadi, tanpa peduli dengan lingkungan masyarakat sekitar. Sepanjang tidak merugikan orang lain, buat apa pusing mikirin orang lain. Ego lah yang timbul.

Sebaliknya, ada pula golongan kedua, yakni orang kaya yang tidak sadar bahwa ia kaya sehinga tidak bisa menikmati dan memanfaatkan harta kekayaannya. Mereka diperbudak oleh hartanya. Mereka ini, sibuk bekerja dari pagi buta hingga malam berselimut gelap. Yang ada dibenaknya bagaimana uang hari ini terkumpul banyak. Buka toko dipagi hari, berdagang seharian di toko, tutup toko lalu pulang, begitu seterusnya. Bagi mereka yang kerja kantoran, eksekutif papan atas, misalnya, pergi saat belum tampak mentari, pas jam pulang tak sempat bersua dengan kelembutan mentari. Jika saya lirik dari penampilannya tentu gajinya sekitar 30 jutaan. Mobil keluaran terbaru, walaupun masih ada sisa kredit 12 bulan.

Karena tidak sadar bahwa ia kaya, maka hampir dibilang tidak ada kamus ber-leisure dan bersenang-senang dalam hidup mereka. Tiap akhir pekan menghadang, hanya pergi ke mall lalu balik ke rumah. Tak pernah sekalipun saya lihat keluarga mereka plezier ke Bali, misalnya. Namun demikian, beruntung mereka masih mau iuran RT/RW, masih mau nyumbang pembangunan gedung PAUD, dan masih peduli dengan menyantuni anak tetangga yang ileran dan belekan lantaran kurang gizi. Menarik memang, meski gak pernah jalan-jalan ke Lombok, mereka juga masih sempet-sempetnya nyumbang kegiatan maulid Nabi SAW di mushola deket rumah. Golongan ini ‘pelit’ terhadap diri sendiri, namun royal terhadap lingkungan sekitar. Mereka masih mau bersosialisasi dengan warga sekitar tempat tinggal.

Nah, celakanya golongan kedua ini adalah meski kaya, namun tidak sadar ia kaya malahan justru apaptis terhadap lingkungan sosialnya. Sungguh, saya kasihan terhadap mereka, tidak bahagia hidupnya. Dibudak oleh harta, tanpa mampu menikmatinya. Pergi pagi, pulang malam, begitu saban hari menumpuk dan mengumpulkan harta. Apesnya lagi, dalam tata pergaulan masyarakat pun golongan ini nyaris diacuhkan bahkan tidak di reken keberadaannya oleh Pak RT/RW. Kalau ia mati, entah ketabrak Bus TransJakarta atau tertimpa pohon tumbang, dipastikan gak ‘kan ada orang yang men-shalatinya, bahkan tetangga kiri kanan pun segan bertandang ke rumahnya tuk ngelawat.  


Maka, beruntunglah kita bila diamanahi kekayaan oleh Tuhan YME dan sadar bahwa kita kaya karena-Nya dan membelanjakan kekayaan itu untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar, amien.