Rabu, 15 November 2017

Secret Service di Sekitar Gedung Putih

Bandara Ronald Reagen yang letaknya di Washington DC, tak jauh lokasinya dari pusat pemerintahan Amerika Serikat, seperti Gedung Putih, Capito Hill ataupun tempat-tempat bernilai strategis lainnya. Dari Bandara ke lokasi-lokasi itu jaraknya tak lebih dari 10 km. Agar mudah, aku bisa kasih sedikit ilustrasi jika Gedung Putih berlokasi di Istana Merdeka, Jakarta, maka Bandara letaknya sekitar kawasan Jembatan Semanggi. Dari Monumen Hall, kita dapat dengan jelas melihat saat pesawat akan landing ataupun takeoff. Begitupun dari Jembatan Sungai Potamac, jembatan menuju ke Arlington National Cemetery ini misalnya terlihat dengan jelas roda pesawat menyembul di balik badan pesawat pertanda pesawat hendak turun.

Lantaran posisi Bandara Ronald Reagen yang dekat dengan instalasi strategis dan obyek vital inilah, pasca 9/11, ada kekhawatiran dari Secret Service (SS), Paspampres-nya Amerika, terhadap potensi bahaya yang diakibatkan dari pesawat terbang yang bisa sewaktu-waktu di bajak dan diarahkan untuk menyeruduk gedung itu. Namun kekhawatiran itu tampaknya telah diantisipasi dengan menerapkan aturan yang sangat ketat saat kita hendak naik pesawat di seluruh bandara yang ada di USA. Dan, nyatanya meski Gedung Putih dan Capitol Hill hanya sepelemparan meriam saja dari Bandara Ronald Reagent, toh bandara itu tetap saja beroperasi melayani penerbangan sipil. Tak ada yang berubah.

Bicara mengenai keamanan di obyek-obyek vital di DC, utamanya Gedung Putih, aku ingin sedikit berbagi pengalaman. Pagi itu, selepas subuh, di keremangan antara gelap dan terang, saat mentari belum terbit, aku beringsut meninggalkan kamar hotel turun ke bawah menuju lobby. Malam tadi secara sekilas aku telah mempelajari peta kota DC. Dari tempatku menginap, kulihat di peta posisi White House tampaknya tidak begitu jauh dari hotelku, Washington Circle. Begitu pintu lift terbuka, bergegas aku menuju meja resepsionis yang hanya di jaga oleh wanita cantik usia remaja dan seorang petugas keamanan yang berdiri di dekatnya. 

Sambil menyorongkan peta kutunjukan posisi Gedung Putih dan berkata: “Show me direction to White House from your hotel, here,” Setelah melihat petaku, dengan cekatan si petugas keamanan yang ramah itu berkata: “follow the Pensylvania Street. Over there, straight” tunjuknya kearah luar lobby hotel. Aku masih bingung. Ya bingung lantaran di depan hotelku ada begitu banyak persimpangan, bahkanb hingga delapan persimpangan. Mana yang lurus? Lurus yang sebelah kiri, agak mencong ke kiri atau yang agak ke kanan. Takut salah, maka kutarik tangan si petugas keamanan tadi keluar lobby hotel menuju parkiran depan hotel dan berkata show me the street. “Over there”, tunjuknya. Begitu yakin, kubalas dengan anggukan sambil berkata: “Oke, thank you, I willl be there. See You.”

Bergegas kepacu langkahku menyusuri Pensylvania Street. Tak sampai seperapat jam, sampailah aku di ujung jalan dan kawasan jalan sekitar Gedung Putih (GP) membentang di depan mata. Di sepinya lalu lintas di minggu pagi itu, tampak beberapa mobil polisi dan mobil Secret Service milintang jalan menandakan bahwa kawasan itu bukan jalan umum. Saat tiba, belum banyak wisatawan yang berkunjung. Hanya ada satu dua warga yang sedang jogging pagi. Yang kutaksir mereka juga adalah turis sama sepertiku. Langsung saja aku mendekat ke arah GP dan bernarsis. Akhirnya sampai juga di Gedung Putih. Oo ini toh rumahnya Obama, gumamku.

Lantaran sepi, rada sulit juga untuk meminta tolong seseorang memotoku dengan Gedung Putih sebagai background. Untung ada salah seorang turis juga yang sama sepertiku, jalan pagi dan mengambil poto gedung itu. Langsung kuhampiri dan berkata take me a picture please. Begitulah, akhirnya aku dapat berpose persis di pinggir pagar gedung putih, hanya sendiri, saat belum ramai orang. Tadinya aku rada khawatir akan disuruh menjauh atau dilarang mendekat, namun nyatanya, fine fine saja. Petugas SS hanya mengawasi dari jarak 20 meter dari posisi ku berdiri. Saat itu kulihat ada beberapa petugas SS yang berdiri di sekitar pagar luar gedung putih dengan senjata laras panjangnya. Mereka pun tampaknya tak keberatan saat aku mengambil foto mereka. Dan, beberapa foto SS berlatar belakang GP dengan beragam pose berhasil kuambil. Beres, segera kupacu langkah kembali ke hotel masih dengan menyusuri jalan yang sama.

Setelah sarapan dan beberes untuk persiapan acara di minggu pagi itu, rupanya pihak Kemenlu AS telah mengagendakan kegiatan City Tour. Mereka khusus mendatangkan tour leader untuk mengajak kami berkeliling DC, sekaligus melihat dan menerangkan GP secara lebih mendetail. Saat tiba di siang itu sudah banyak wisatawan yang datang. Kutaksir jumlahnya seratusan. Kuamati dan kulihat para wisatawan dapat dengan mudah berpose persis menempel di pagar GP. Sekali lagi, tak tampak kekhawatiran pada SS bila sewaktu-waktu ada teroris yang menyamar sebagai wisatawan yang melempar sesuatu (granat atau bom) ke dalam taman GP. Tampaknya SS telah terlatih sehingga tahu potensi bahaya dan profile para pembawa bahaya, hehe.. Meski demikian jika dirasa jumlah wisatawan terlalu banyak dan crowded, maka petugas SS dengan anjing-anjing penjaganya akan memaksa pengunjung untuk menjauh dari pagar, dan bisa pula seketika dengan tiba-tiba areal itu harus dikosongkan. Mungkin penghuni gedung putih sedang keluar atau berada dekat dengan taman, siapa tahu.


Itulah prosedur pengamanan di GP yang kulihat. Tidak parno dan berlebih-lebihan. SS sadar bahwa disamping sebagai tempat kediaman resmi presiden AS, GP juga menjadi salah satu destinasi menarik di DC bagi para turis di dunia. Maka mereka memberikan kebebasan kepada turis untuk mendekat dan berfoto di depan GP. Siapa sih yang tak bangga bisa berfoto di depan Gedung Putih? Bila dibandingkan dengan Istana Kepresidenan di Jakarta, mungkinkah kita dengan mudah dan leluasa berpoto dan bernarsis persis di pagar dan hanya sepelemparan batu dengan bangunan utama istana? Sepertinya tidak. Bila mereka mengizinkan turis berpoto dipinggir pagar istana, lalu kenapa di istana kepresidenan Jakarta tidak. Tampaknya Paspampres kita perlu belajar banyak dengan SS.

Senin, 06 November 2017

Warisan Sejarah Itu Bernama Tukang Gigi Mester.

Zaman old, jika warga kampung saya hendak plesir ke ‘ibu kota’ Jakarta Timur, mereka menyebutnya pergi ke Mester. Jarang yang bilang ke Jatinegara. Jarak dari Kampung Kebon di Kemang ke Mester lumayan jauh untuk ukuran kala itu. Perlu waktu setengah hari pulang pergi. Biasanya mereka ke Mester untuk membeli keperluan yang tidak di dapat di Pasar Minggu, atau Pasar Kebayoran, kedua pasar yang cukup besar di Jakarta Selatan. Salah satu tujuan ke Mester adalah betulin gigi atau masang gigi palsu.

Selain panca indera yang lima macam itu, gigi juga memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Tanpa gigi depan misalnya, takkan bisa kita menggarot apel, atau jambu. Apalagi, kalau gigi geraham kita ada yang tanggal, saya pastikan salah satu kenikmatan hidup berupa mengunyah makanan akan terganggu. Tak heran bila ada orang yang berkata, lebih baik sakit hati ketimbang sakit gigi. Disamping untuk mengunyah dan menggarot makanan, gigi juga berfungsi untuk estetika atau keindahan. Orang akan dipandang menawan salah satunya, bila gigi-giginya tertata dengan rapi, tidak tonggos (maju kemuka seperti bemo), putih dan bersih. Sayangnya, bila gigi depan kita tanggal, ini akan menjadi cacat permanen. Untuk mengobatinya hanya ada satu solusi, buat gigi palsu.

Meski zaman now, tukang gigi palsu banyak bertebaran di sudut kampung di Jakarta. Namun, bicara sejarah dan ke’orisinal’-an dari tukang gigi itu, bolehlah kita berpaling ke Jatinegara. Salah satu sudut sejarah tukang gigi palsu di Jakarta yang masih tersisa ada di ruas Jalan Jatinegara Barat. Disinilah terdapat deretan toko pembuat gigi palsu yang telah dirintis oleh para imigran dari tionghoa saat mereka hijrah dan menetap di Jakarta. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari bioskop Nusantara, yang sayangnya kini telah almarhum.

Ada empat toko gigi palsu yang menghiasi jalan sepanjang satu setengah kilometer itu, selain toko karpet, terpal, plastik, dan aneka kebutuhan lainnya. Paling selatan ada Toko Gigi Ekadi Kasim, sebelahnya ada Tukang Gigi Makmur, kemudian Tukang Gigi Indah, dan diujungnya Tukang Gigi Bandung. Toko/Tukang Gigi Makmur, misalnya, toko ini telah ada sejak tahun 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut Jayadi (65), pembuat gigi di Tukang Gigi Makmur, ia telah menekuni dunia per-gigi-an sejak zamannya Bung Karno, di tahun 1964. Sewaktu tukang gigi belum banyak di Jakarta, keempat toko ini pernah memasuki masa keemasan. Waktu itu bahkan toko tutup hingga malam. Zaman terus berganti, di masa Ali Sadikin, sekitar tahun 70-an, keempat toko ini terkena pelebaran jalan. Beruntung bisnis mereka tidak gulung tikar. Kini profesi itu masih berlanjut dan diteruskan oleh generasi ketiga atau cucu.

Bicara kualitas dan kerapihan, para tukang gigi palsu boleh diadu dengan dokter gigi tamatan universitas ternama sekalipun. Gigi palsu buatan mereka sangat bagus dan awet. Bahkan, dokter gigi yang buka praktek pun banyak yang memesan untuk dibuatkan gigi palsu ke mereka. Meski hasil kerja mereka memuaskan, namun untung-untungan juga, dalam arti ada juga hasil buatan mereka yang kurang presisi sedikit. Ada yang enak dan nyaman dipakai, adapula yang mesti berkali-kali datang untuk meng-epaskan ‘stelan’nya. Karena bila kurang sedikit saja (stelan-nya), maka makan apapun takkan terasa nikmat. Terlepas dari itu, hasil pembuatan gigi palsu, yang berfungsi sebagai estetika, patut diapresiasi. Pasalnya tanpa kemahiran tangan mereka mengolah cetakan gigi (dinamakan Modano, bahan yang diimpor dari Jerman) dapat dipastikan penampilan kita saat tersenyum bukannya bertambah manis, namun akan semakin hancur lantaran ompong, heheh..

Oh ya, urusan ompong ternyata bukan domain para manula ataupun rakyat jelata. Ada beragam orang dengan status sosial yang macam-macam yang datang ke tukang gigi di Jatinegara. Ada selebritis, ada politisi, dan banyak pula rakyat kebanyakan. Mereka datang tentu dengan kondisi dimana gigi depan mereka ompong atau tanggal. Dari penuturan Jayadi, ada beragam sebab yang membuat gigi mereka tanggal, seperti jatuh akibat tabrakan dimana gigi depan membentur aspal. Adapula yang patah/copot giginya akibat berkelahi, kena tonjok, dsb. Paling banyak tentu karena kecelakaan.

Maka, bila anda mengalami masalah dengan tanggalnya gigi, jangan berkecil hati. Segeralah ke dokter gigi untuk mengobati luka di gusi anda, lalu pergilah ke tukang gigi palsu. Bila ragu dengan banyaknya tukang gigi yang ada, tak ada salahnya anda mencoba tukang gigi yang berlokasi di Jatinegara. Saya jamin penampilan dan senyum anda akan semakin menawan dengan gigi palsu buatan para tukang gigi. Dan, inilah salah satu warisan Jakarta yang tersisa untuk anda, si ompong, hehe..



Minggu, 29 Oktober 2017

Makna Penting Dibalik Sertijab

Bagi anda yang pernah di opname di rumah sakit, tentu akan menyaksikan momen saat pergantian (aplusan) perawat. Tatkala tiba waktu aplusan, perawat lama akan mendampingi perawat baru berkeliling menengok para pasien. Perawat yang lepas tugas akan menjelaskan kondisi dan perkembangan terakhir pasien sebelum diserahterimakan kepada perawat yang menggantikannya. Begitupun dalam aplusan tugas lainnya. Satpam di suatu perusahaan akan menyerahkan buku besar (stambook) yang berisi laporan atas kondisi ‘kamtib’ yang ada di perusahaan. Gunanya tentu agar petugas yang baru tahu kondisi real terakhir yang ia akan hadapi saat bertugas kedepan. Inilah yang dinamakan serah terima tugas.

Nah, bila pada level bawah (perawat di rumah sakit, dan satpam di perkantoran) ada kebiasaan serah terima tugas, tentu pada level pemerintahan (sipil maupun militer) lebih canggih lagi. Bila terjadi pergantian pejabat, maka di pemerintahan dikenal dengan istilah “Sertijab” atau serah terima jabatan. Maksudnya tentu agar pejabat baru mengetahui medan tugas serta apa yang mesti dikerjakan olehnya. Sertijab ini juga semacam perpisahan pejabat lama dan perkenalan pejabat baru kepada para staf kantornya. Sertijab ini bisa juga dimaknai sebagai kesinambungan kerja, dimana, jangan sampai terjadi, yang akan dikerjakan oleh pejabat baru, justru telah digarap oleh pejabat lama, misalnya. Tentu, yang paling utama dari acara serah terima jabatan ini adalah ada pengoperan atau pengalihan tanggung jawab dan wewenang dari pejabat lama ke pejabat baru.

Namun sayangnya kebiasaan baik itu tampaknya belum berlaku secara menyeluruh di tempatku bekerja. Kalau boleh dikatakan belum membudaya dan belum membiasa. Hanya pada jabatan di level-level tertentu saja yang men-tradisikan acara serah terima jabatan (sertijab). Biasanya, setelah si pejabat baru di lantik di Balaikota, maka pejabat lama yang digantikannya pun terkena rotasi, (entah itu mutasi, promosi atau demosi). Pejabat lama pindah ke selatan, pejabat baru masuk di utara. Nah, kedua pejabat ini tidak janjian untuk bertemu di kantor untuk menserahterimakan tugas, tanggung jawab, dan jabatannya. Keduanya langsung berkantor di kantor barunya masing-masing.

Begitulah, si pejabat baru, keesokan harinya masuk kantor baru. Ia melapor kepada Kepala Kantor/Dinas. Oleh Pejabat atau staf yang membidangi masalah kepegawaian, ia diantar ke ruang kerjanya, dan mulailah ia bekerja. Ya, kalau ia sudah paham pekerjaannya lantaran telah lama menguasai bidang itu, tentu tak jadi masalah. Namun, bila ia orang baru, tentu ia akan ‘bengong’ dan meraba-raba tugas dan pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Nah, menyiasati hal itu mulailah ia bertanya-tanya kepada staf (senior)-nya yang lebih paham masalah di bidang itu. Dan, jadilah si staf senior ini ‘mengajarkan’ bos-nya. 

Begitulah yang terjadi. Tampaknya kita harus membudayakan dan membiasakan trasisi sertijab ini. Tradisi ini harus diwajibkan, dan menjadi satu kesatuan dalam proses pelantikan jabatan. Contoh yang bagus dapat kita lihat dalam dunia militer. Biasanya, setelah pejabat baru dilantik, tak berapa lama akan digelar sertijab, dimana pejabat lama menyerahkan panji kehormatan kepada atasannya untuk kemudian menyerahkannya kepada pejabat baru. Begitulah tradisi dan atau kebiasaan baik yang berlaku di militer.

Inilah yang tidak terjadi kemarin, usai Anies Rasyid Baswedan dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Setelah prosesi pelantikan di istana, seharusnya Djarot Syaiful Hidayat, selaku gubernur lama (2017) menyambut gubernur baru di Balaikota untuk melaksanakan serah terima jabatan dengan Anies. Disamping itu, akan terlihat elok bila Djarot mengantarkan dan memperkenalkan Anies kepada para staf dan pejabat dinas yang ada di Pemprov DKI Jakarta, yang akan membantunya nanti. Mungkin moment dimana Djarot memperkenalkan Anies kepada lingkungan kerja di Balaikota akan menjadi headline yang menyejukkan dan tertulis di media dengan judul; “Djarot Menggandeng Tangan Anies, Memperkenalkan Balakikota”. Dan, kira-kira begini obrolan keduanya saat di Balaikota:
“Pak Anies, ini loh pak Andri Yansyah yang ngurusin transportasi di Jakarta. Pokoknya, kalau ada apa-apa dengan kemacetan Jakarta, jewer aja pak Andri,” ujar Djarot memperkenalkan Andri Yansyah Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
“Oh, iya, makasih Pak Djarot, sudah dikenalkan sama Pak Andri,’ jawab Anies dengan senyum mengembang.

Dalam sertijab itu tentu ada penyampaian pesan dan harapan dari pejabat lama sebagai refleksi atas kerja, pengabdian, dan karya yang telah dihasilkan pada 5 tahun yang lalu. Tentu saya berkeyakinan bahwa dalam momen sertijab itu pejabat lama (PL) akan berkata (entah tersirat atau tersurat) kepada pejabat baru (PB):
PL: “Pak, ini loh hasil pekerjaan yang telah kami selesaikan selam kami menjabat. Dan ini yang belum selesai, kalau bisa mohon perkenan ini diselesaikan, sayang lho, sudah nanggung, hampir 80 persen selesai.”
PB: “Oh ya, tentu akan kami selesaikan nantinya. Kalau pun ada perubahan tentu akan kami sempurnakan ke arah yang lebih baik”.

Kalalu sudah seperti ini, maka semuanya akan legawa. Yang telah menjabat rela melepas jabatannya dengan tenang, sedangkan pejabat baru tahu apa yang akan dikerjakan dan warisan apa yang mesti diselesaikan. Jalannya pemerintahan pun akan berkesinambungan. Itulah hikmah sesunguhnya dari serah terima jabatan.

Meski menghadiri dan melaksanakan serah terima jabatan bukan suatu keharusan, namun inilah suatu tata krama yang seharusnya dilakukan oleh seorang ksatria. Tampaknya level ‘kenegarawan’ Djarot hanya sampai tingkat kabupaten. Ia tidak dapat menempatkan diri sebagai seorang tokoh yang layak dijadikan panutan.

Bahkan saking geram-nya dengan tindakan Djarot --saat menyaksikan tayangan televisi tatkala ia asyik berlibur di Labuhan Bajo--, istri-ku sempat bergumam bahwa dia (Djarot) type orang yang tak punya tata krama yang tinggi. “Memangnya liburan gak bisa diundur sehari, kan dia (djarot) sudah tau kalau hari senin itu Anies dilantik,” ujar istriku. Maklum, istri saya sangat njawani sekali, ia wanita Klaten, Jawa Tengah, perasaan dan pembawaannya memang halus. Aku hanya tersenyum mendengar gumamannya. Tampaknya istriku begitu naïf dengan menganggap bahwa tiap orang Jawa pasti santun dan bertata krama yang tinggi.


Maka ingatlah, kekuasaan itu ada batasnya. Tak selamanya kita mengangkangi jabatan dan kekuasaan. Ada masanya kita akan surut (fade away). Hari ini dilantik, maka esok atau kapan saja, kita akan menyerahkan jabatan itu kepada pengganti kita. Tak ada yang abadi. Yang abadi adalah sifat ksatria kita yang akan kita wariskan pada anak cucu kita kelak. 

Rabu, 25 Oktober 2017

Haruskah Mengadu Langsung Ke Gubernur Anies Baswedan?

Dulu, saat Jakarta masih dipimpin oleh Fauzi Bowo (Foke), tak tampak kerumunan warga yang menghadang sang gubernur --begitu tiba di kantornya-- untuk mengadukan permasalahnnya. Apakah ini indikasi tak ada masalah dalam kehidupan warga? Tentu tidak! Masalah dan urusan warga yang butuh pemecahan dari aparat pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentu ada. Mulai dari ngurus KTP/KK; Akte Kelahiran/Kematian; Izin domisili; sampai pada permasalahan saluran air (got) yang mampet. Lalu apakah untuk urusan yang ‘remeh temeh’ itu warga mengadu ke Balaikota (Foke)? Tidak, saat itu cukup diselesaikan oleh Pak Lurah dan stafnya saja.

Beda dengan Foke. Dimasa Ahok menjabat sebagai gubernur, ia terlalu one man show. Ibaratnya, bila tanpa Ahok maka pemerintahan Provinsi DKI Jakarta akan berhenti. Itulah yang terjadi saat itu, setiap permasalahan, baik itu besar atau kecil, warga maunya ngadu langsung ke gubernur tanpa terlebih dahulu mengadu ke para stafnya (pejabat dibawahnya). Jadilah saban hari kantor Balaikota kebanjiran warga yang datang mengadu ke gubernurnya. Dari (permasalahan) yang ecek-ecek, hingga yang memang Ahok sendiri yang harus turun tangan untuk mengeluarkan arahan (disposisi). Sayangnya, tak semua yang datang ke Balaikota memang membutuhkan arahan dan pemecahan langsung oleh gubernur. Banyak juga yang datang hanya untuk sekadar mencari popularitas (sensasi), diliput media, bahkan ada warga Bekasi yang mengadu ke Gubernur DKI Jakarta, ckck.. dan, --tentu-- ber-selfi dengan gubernur.


Dan inilah kesalahan sistem yang dibangun oleh Ahok. Seharusnya ada mekanisme pengaduan yang tertata dengan baik, sehingga permasalah itu dapat tersaring, hingga permasalahan tertentu (berat dan penting) saja yang bisa naik hingga ke level gubernur. Maka menjadi pertanyaan, apakah aparat pemerintahan di tingkat bawah tidak bekerja, sehingga permasalahan warga harus sampai ke gubernur? Rasanya tidak! Tak ada permasalahan, even berat sekalipun yang tak dapat kami tangani. Selama ini sistem pelayanan kepada warga telah berjalan dengan baik. Masing-masing jenis pelayanan/perizinan ada tingkatannya. Contoh, untuk urusan nutup jalan buat acara ngawinin anak, maka izinnya cukup di tingkat kelurahan, agar nantinya Satpol PP tingkat kelurahan berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas Polsek. Begitupun kalau ada warga yang hendak membangun apartemen atau sarana olahraga (lapangan futsal) maka kewenangan perizinan itu tentu ada di tingkat kota. Semuanya sudah ter-sistem dengan baik.

Selama saya bekerja di lapisan bawah pemerintahan, tepatnya di kelurahan, saban hari tak kurang puluhan warga datang ke kantor kelurahan. Beragam permasalahan dan aduan yang mereka bawa ke kami, aparat pemerintah di kelurahan. Ada yang datang hanya bersandal jepit, dengan busana ala ‘dasteran’, adapula yang datang dengan harum parfum yang menggoda, memakai busana kerja dengan sepatu tersemir mengkilap, menandakan dari kalangan mana mereka berasal. Dengan profesional kami layani mereka tanpa pilah-pilih dalam memperlakukan mereka. Intinya, semua yang datang harus tertib, ngantri, menunggu pelayanan.  

Dari berbaur dan merasakan terjun langsung dalam pelayanan warga masyarakat di level terbawah pemerintahan (kelurahan), saya jadi tahu pattern atau pola permasalahan di masyarakat. Masalah yang ada dalam kehidupan mereka tak jauh dari urusan ekonomi, yakni minta keringanan. Keringanan dalam urusan apapun. Nah, permasalahan utama yang sering terjadi dalam masyarakat dapat saya bagi kedalam empat bidang, yakni; Pendidikan; Kesehatan; Kependudukan; dan Pertanahan (Perumahan).

Pendidikan misalnya, warga datang untuk meminta keringanan SPP; Meminta agar di catat sebagai warga tidak mampu untuk memperoleh KJP (Kartu Jakarta Pintar). Kesehatan pun demikian, warga meminta surat keterangan keringanan biaya rumah sakit; Meminta dibuatkan KJS (Kartu Jakarta Sehat) atau BPJS Kesehatan. Untuk masalah kependudukan: Mengurus KK/KTP; Domisili/pindah; Surat Keterangan Kelahiran/Kematian, Surat Pengantar Nikah, dsb. Adapun terkait pertanahan/perumahan: Balik nama/keringanan pembayaran PBB; Jual beli tanah/rumah; Meminta jatah rusun; Izin mendirikan/merenovasi bangunan (IMB), dsb. Tak ada yang keluar dari tuntutan (permintaan) seperti itu. Tak ada permasalahan yang aneh-aneh, seperti permintaan memindahkan sarang lebah/tawon dari rumah salah satu warga, yang, tentu untuk masalah ini, kami, pihak kelurahan harus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran, hehe..

Nah, laksana penyakit, maka aduan atau masalah yang dihadapi warga masyarakat levelnya hanya sakit ‘demam (radang tengorokan) biasa’, dan cukup diselesaikan di tingkat kelurahan saja. Lha, bila setiap ‘demam biasa’ warga mengadu ke gubernur, lalu untuk apa fungsi Kelurahan/Kecamatan dan Kantor Walikota? Gubernur tentu tak mesti meng-handle permasalahan yang ecek-ecek, justru gubernur dituntut untuk bekerja secara professional. Mengeluarkan kebijakan pro rakyat yang bersifat makro (global) sebagai guidance bagi bawahannya. Memonitor kerja bawahannya. Jika ada yang tak beres dengan arahan dan kebijakan gubernur, maka ia akan ‘menjewer’ bawahannya. Begitulah seharusnya managemen kepemimpinan yang baik dan benar. Ada pembagian tugas dan wewenang.

Anies dan Sandi tampaknya tahu betul bagaimana menjadi pemimpin yang baik, dan ini telah diterapkan oleh keduanya. Pendelegasian wewenang, tugas dan tanggung jawab, misalnya. Anies dan Sandi yang paham hal itu tentu tidak ingin show off dengan menampilkan kesan ke masyarakat bahwa bawahan mereka tidak bisa bekerja dan hanya mereka berdua yang hero dan smart. Untuk itulah mekanisme pengaduan itu perlu dibuat agar fungsi Kelurahan, Kecamatan, Kantor Walikota, serta seluruh Badan dan Dinas di pemerintahan Provinsi DKI Jakarta bisa berfungsi dan bekerja secara optimal sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) sehingga tidak semua masalah diadukan ke Balaikota, ke kantor gubernur.

Dan, justru disinilah Gubernur Anies Baswedan ingin mewargakan warga Jakarta. Menempatkan warga Jakarta sebagai raja dan tuan di rumahnya sendiri. Dan, bahwa bila ada permasalahan warga, maka mereka cukup datang hanya sampai kantor Kelurahan/Kecamatan saja. Jadi, buat apa ke (Balaikota) Gubernur bila permasalahan itu dapat ditangani oleh Lurah, Camat, Walikota atau Kepala Dinas? Namun, bila mereka semua ‘angkat tangan’, maka Gubernur Anies-lah yang akan turun tangan langsung dan memberikan arahan atau disposisi pada mereka. Inilah (sistem) yang dibangun oleh Gubernur Anies Baswedan.

Kebijakan ini tentu bukan untuk membatasi warga masyarakat bertemu atau mengadukan permasalahan (curhat) kepada gubernur idolanya, tidak! Gubernur Anies Baswedan selalu welcome terhadap warga yang datang. Namun ini dimaksudkan agar perangkat pemerintahan Kota Jakarta bekerja dengan sistem yang tertata baik. Sebagai pemimpin, Anies percaya bahwa semua pegawai pemerintah provinsi DKI Jakarta mulai dari tingkatan terendah hingga Sekda akan bekerja secara sungguh-sungguh untuk kemajuan kota Jakarta. Melayani warga Jakarta dengan sepenuh hati dan seoptimal mungkin demi kesejahteraan warga Jakarta.

Akhirnya, mari kita bantu pekerjaan Gubernur Anies Baswedan dengan tidak membebani beliau dengan urusan yang ecek-ecek, yang sejatinya urusan itu bisa diselesaikan di kantor kelurahan saja. Mari kita bantu Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno agar konsentrasi bekerja untuk meningkatkan harkat dan martabat kita sebagai warga Jakarta.

Sumber Foto:
https://news.detik.com/berita/3690397/anies-persilakan-warga-mengadu-seperti-era-ahok-djarot
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/21/13151281/di.tengah.antrean.di.balai.kota.warga.bekasi.mengadu.ke.ahok


Senin, 09 Oktober 2017

Cium Tangan; Bahkan Mafioso Italia Pun Melakukannya

Tak hanya para mafioso di Italia sana yang lazim mencium tangan sebagai tanda tunduk, hormat dan pemasrahan diri pada para godfather atau pelindungnya, dalam masyarakat muslim di Indonesia, kebiasaan cium tangan ini sudah menjadi adat atau kelaziman yang banyak kita jumpai dalam keluarga. Biasanya, cium tangan kerap dilakukan oleh orang muda kepada yang paling tua. Anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya, istri kepada suaminya, dan bahkan yang lebih ‘gila’ lagi, bawahan kepada atasannya. Cium tangan ini sebagai wujud tanda bakti, penghormatan, kepasrahan dan penyerahan diri dari yang mencium tangan kepada yang diciumi tangannya.

Dari kecil, oleh orang tua, saya diajarkan untuk mencium tangan kepada para ncang, ncing, dan kerabat keluarga orang tua saya, terlebih kepada guru-guru yang mengajar saya di sekolah. Ciuman di telapak tangan yang diajarkan oleh orang tua saya tentu berbeda dengan ciuman tangan anak milenial zaman sekarang. Anak zaman sekarang kebanyakan meletakkan tangan orang yang diciumnya di dahi, atau dipipinya. Jarang yang meletakkan tangan di hidungnya, seperti waktu saya kecil dulu.

Cara dan gaya cium tangan ini tampaknya telah berubah mengikuti mode dan perkembangan zaman. Anak zaman sekarang tak lagi diajarkan bagaimana mencium tangan dengan sempurna. Memang, tak ada aturan baku (manner) dalam tata cara mencium tangan. Cium tangan yang sering saya lakukan ke orang tua atau guru saya tentu berbeda dengan cium tangan gaya mafioso Italia, ataupun cara cium tangan para pembesar (pangeran) dari Eropa terhadap tuan putri-nya.

Itulah yang terjadi. Setelah hampir lebih dari seperempat abad tak bersua dan mencium tangannya, barulah pada Ahad, 08 Oktober 2017, kemarin, tanganku kembali dapat mencium tangannya. Ada getaran dan aura berbeda yang kurasakan, namun getaran dan wangi tangannya itu masih sama saat pertama kali saya mencium tangannya sekitar pertengahan tahun 1988. Meski genggaman tangannya tak sekeras dulu, namun kelembutan tangannya masih kurasakan. Tak banyak yang berubah dari menantu KH. Abdul Manaf Mukhayar ini. Meski bicaranya pelan dan tak selantang dulu, namun logat Cirebon-nya masih tampak kental terdengar di telingaku saat kami duduk bersanding berdua.

Dahulu, saat itu kami para pelajar atau santri Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Kebayoran Lama (waktu itu belum menjadi bagian dari Kecamatan Pesanggrahan) begitu mudahnya berjabat tangan dengannya. Bahkan, saking mudahnya, sehari bisa lima kali cium tangan, bolak balik! Pasalnya, hampir saban shalat rawatib beliau meng-imami kami, para santrinya. Tak (jarang) pernah absen! Nah bila pengen berjabat dan mencium tangannya, maka datanglah di awal waktu sholat dan duduk persis dibelakang mihrab imam. Selepas shalat, beberapa santri yang berada dekat posisi imam berebutan untuk ngalap berkah dan mencium tangannya. Dan itu menjadi kebahagian tersendiri bagi para santri baru, seperti kami. Bagi santri lama, mereka cukup tahu diri, jarang yang mengambil shap dimuka, dan sengaja memberikan ‘previllage’ itu untuk para santri junior.

Meski saya dan teman-teman semasa tiga tahun awal pertama di Darunnajah tak pernah sekalipun diajar di kelas oleh beliau, namun kehadirannya dalam meng-imami shalat kami, lima kali dalam sehari, sudah cukup dan sangat besar efeknya dalam menguatkan mental belajar kami. Kehadiran Kyai jebolan Pondok Gontor ini semacam pelecut dan penambah spirit kami dalam mengarungi kehidupan. Asal tahu saja, tak banyak Kyai pimpinan pondok pesantren yang sanggup mengimami para santri-nya lima kali dalam sehari alias total full mengelola dan mengasuh santri-santrinya, even pesantren besar sekelas Tebuireng dan Gontor sekalipun.

Begitulah. Selepas ‘pergi’ di tahun 1991, lantaran tak kuat dengan gigitan bangsat di Pesantren, saya tak pernah sekalipun mencium kembali tangannya. Rada malu juga tatkala saya berucap di dekat telinganya bahwa ini adalah pertemuan kembali saya dan ayah setelah seperempat abad lebih. Ayah berkata lirih: “Kenapa tak main ke pondok dan bertemu ustaz (ayah)?”
Jlebb.. jawaban yang menohok sekaligus membuat diri ini terasa malu didepannya. Ya, meski saya pernah beberapa kali menyambangi pesantrennya, namun untuk bertemu “Sang Ayah” rasanya malu dan sungkan. Apalah artinya saya yang waktu itu masih remaja, masih begajulan. Maqom beliau terlalu tinggi untuk ditemui, padahal ia selalu membuka diri dan mudah ditemui oleh siapa saja, apalagi oleh santrinya sendiri. Maafkan saya ayah yang tak mau menemui ayah sewaktu kunjungan ke pondok.

Oh ya, dulu kami memanggilnya dengan sebutan Kyai Mahrus, sapaan hangat dari KH. Mahrus Amin. Dan, entah sejak kapan pangilan “Kyai Mahrus” berubah menjadi ayah. Panggilan “ayah’ ini dibiasakan dan dibahasakan oleh temen-teman saya yang lebih dekat dengan beliau ketimbang saya. Saya pun awalnya agak kikuk memanggilnya ayah. Namun tatkala saya mendengar teman-teman memanggil ayah kelahiran 14 Februari 1940 ini dengan panggilan sayang ayah, saya pun ikut. Ya, mungkin lantaran kami para santri yang sudah lulus lebih menganggap beliau ini selayaknya ayah kami. Kecuali ayah dalam nasab (biologis), KH. Mahrus Amin adalah ayah dalam segala hal. Mulai dari tempat mengadu, berkeluh kesah, dimintai nasehat, wejangan, sampai tempat kami menumpahkan emosi kami padanya. Suka, duka, sedih, dan gembira.


Maka seperti kepada orang tua dan guru-guru saya yang lainnya, begitupun yang Anda lihat dalam foto yang saya tampilkan, itulah bukti penyerahan diri saya pada figur yang saya hormati, Ayah Mahrus. Lantas, sebagai tanda hormat dan cinta kasih anda, sudahkah anda mencium tangan ayah, bunda, dan orang-orang terkasih di sekeliling Anda??

Kamis, 05 Oktober 2017

Mungkin Ini Sepele, Namun Jangan Sampai Luput Dibawa

Untuk urusan santap makan tampaknya orang Indonesia punya selera yang tinggi. Belum puas dengan olahan bumbu yang telah di racik oleh sang koki atau chef, --sebelum menyantapnya, dengan mencicipi sedikit-- biasanya kita akan menambahkan rasa penyedap (bisa di tambah manis, asin ataupun pedas) kedalam piring atau mangkok makanan, tergantung selera masing-masing.  Barulah hidangan itu kita makan.
Nasi Goreng dari restoran Dynasti, DC

Maka di setiap rumah makan di tanah air, selain kecap (manis/asin), saos tomat dan saos pedas, kadang pula ada garam, ataupun merica yang biasanya tersaji di meja makan. Semua penyedap rasa itu semacam ‘aksesoris’ wajib yang harus ada dan tergeletak diatas meja, di samping tempat untuk menaruh seperangkat sendok/garpu. Bahkan ada pula tambahan kerupuk atau emping tersaji disudut meja makan. Baik itu restoran kelas kaki lima ataupun restoran elite, di Jakarta  ataupun di daerah lainnya, begitulah gambaran mejanya.

Santapan ala mediterania, North Africa
Sebelum berangkat ke Amerika, berulang kali kubaca dan kupelajari kisah perjalanan dari beberapa orang yang ada di blog mereka. Dari situ banyak informasi dan masukan yang kudapatkan, seperti hal-hal kecil yang mungkin sepele yang luput dari pikiran. Colokan listrik misalnya. Disana, model colokannya beda dengan di Indonesa, bentuknya lancip seperti obeng dengan ‘duamata’. Nah, yang pertama kucari dan amankan dalam tas kecilku tentu colokan itu, Jangan sampai gara-gara lupa bawa, hape tak ter-charger. Benda kedua yang kupersipakan dan kubawa adalah detergent. Ya, untuk menghemat pengeluaran, aku sengaja tidak menggunakan jasa laundry di hotel. Nyuci sendiri menjadi pilihan bijak. Meski disana banyak tersedia detergent namun dari literature yang kubaca, ukurannya sangat besar dan tak ada yang seukuran sachet atau sekali pakai. Maka di Jakarta, kubeli detergent yang ukuran kecil, agar begitu selesai nyuci, langsung dibuang tanpa sisa. Beres! Nampaknya tak ada barang remeh temeh namun penting yang luput kubawa. Packing pun dimulai, semuanya masuk ke koper besar dan tas selempang kecil untuk menaruh dokumen-dokumen penting seperti passport dan tiket perjalanan.

Salmon panggang ala Thailand di Reading Market, Philly
Begitulah hingga mendaratlah aku di tanah impian. Nah, begitu tiba waktu makan dan mulai mencicipi pola dan budaya makan Amerika, kejadian juga akhirnya. Ternyata ada satu barang yang luput kubawa. Apa itu? Kecap manis! Ceritanya, waktu pertama kali makan malam, oleh pemandu aku diajak untuk menikmati santap malam di restoran Chinese yang halal, deket dengan Dupont Circle. Mereka sengaja mengajakku ke sana lantaran restoran itu sudah terkenal di kalangan para indonesianis yang tinggal di Washington DC. Beragam menu dengan olahan nasi tersedia. Dan, yang paling favorit tentu saja nasi goreng. Rasanya khas seperti nasi goring (nasgor) yang dijual di restoran-restoran mahal di tanah air. Nah, inilah mulanya. Saat hendak menyantap nasgor, ada rasa yang kurang pas di lidah. Kurang manis. Bila nyantap nasgor di Jakarta, biasanya aku pasti menambahkan kecap manis sebagai penyedap rasa olahan nasgor. Namun yang kulihat tak ada kecap manis tersedia di meja makan ataupun di dapur mereka. Tampaknya mereka tak mengenal rasa Kecap model AB* atau Bang*. Kalaupun ada, bentuk dan rasanya seperti selei manis. Hanya itu. Karena bentuknya seperti jel dan tidak cair, jelas rasanya jadi aneh bila dicampur dengan nasi atau masakan lainnya.

ala vietnam, udang. @St Louis
Apa boleh buat meski tanpa kecap manis, nasgor itu kuhabiskan. Meski habis namun santapanku kurang lahap, kurang nikmat. Malam itu aku belum begitu ‘sakau’ lantaran makan tanpa kecap. Baru pada waktu makan berikutnya, disaat masakan dan makanan itu membutuhkan penyedap rasa dari kecap, mulailah aku mengutuk diri, kenapa waktu di tanah air tak sempat beli kecap botol. Sekiranya aku bawa tentu cita rasa dan kelezatan santapanku akan dahsyat.

Tak hanya di DC, di kota-kota lain pun demikian adanya. Tak ada kecap manis. Hanya ada saos tomat dan sejenis saos cabe (pedas), berbentuk sachet kecil. Sialnya, kecap model (rasa dan bentuk) seperti di tanah air tak kujumpai di toko-toko yang menjual kebutuhan masak. Yang ada hanya produk olahan dari berbagai macam daging dan keju. Kalaupun ada saos, rasa dan bentuknya sangat beda. Biasanya digunakan untuk penambah cita rasa olahan makanan dari Eropa (Italia) atau Afrika Utara.

Ketiadaan kecap ini menjadi masalah bila aku bersantap di rumah makan asia. Dimana selalu tersedia rice dalam salah satu menunya. Menu dan olahan yang disajikan pun sesuai dengan lidah Indonesia. Dan bagiku, kecap manis tentu harus ditambahkan sebagai penyedap rasa. Selama di Amerika, memang tidak selamanya kami memakan masakan asia (oriental). Hanya sesekali saja. Sering kali kami mencoba menu dan masakan berbeda dari berbagai Negara dan budaya. Hari ini makan di restoran Jepang, besok nyicipin makanan ala timur tengah, lusa nyoba makanan afrika utara, (mediterania) lain waktu nyoba makanan asia barat (India, Pakistan, dsk), dan kembali kemakanan amerika (barat). Memang bila kita bersantap dengan makanan style America, kecap manis tak perlu digunakan. Steak misalkan, hanya cukup saos sambal dan tomat. Begitupun sandwich atau burger. Sama seperti Amerika, olahan dari Afrika Utara pun yang rasanya kayak nano nano tidak membutuhkan kecap manis.
Ala Jepang


Begitulah, bagi Anda yang gak bisa lepas dari masakan asia jangan lupa bawa botol kecap/saos agar selera makan anda tak terganggu, hehe..

Selasa, 03 Oktober 2017

Seni Memimpin Rapat

Sebagai staf senior, sering kali saya ditugaskan untuk menghadiri rapat mewakili pimpinan. Beragam rapat saya ikuti. Mulai dari rapat yang sifatnya ecek-ecek, seperti membahas teknis pelaksanaan suatu kegiatan, sampai pada rapat yang rada serius, seperti menentukan rancangan suatu kebijakan. Sayangnya, tidak semua rapat yang saya ikuti terkait bidang dan keahlian saya. Banyak pula disposisi untuk menghadiri rapat, yang datang ke meja saya, yang materinya atau bahasannya tidak saya pahami atau bukan fak saya. Menghadiri rapat kayak gini, saya mengambil sikap mendengarkan dan mencatat, atau bahasa kaum sufi-nya: sami’na wa ato’na, tanpa bisa memberikan pandangan atau masukan. Nah, lantaran sering ditugaskan ikut rapat itulah saya bisa tahu banyak karakter dan sikap pejabat dalam memimpin rapat.

Rapat di jajaran birokrasi tentu berbeda dengan di perusahaan swasta. Rapat di pemerintahan dipimpin oleh pejabat yang menggawangi masalah itu. Asal tahu saja, tak ada rapat yang bisa dipimpin oleh staf senior macam saya, misalnya, meskipun saya sangat ahli dibidang tersebut, atau bahasa kerennya senior expert. Rapat tetap harus dipimpin oleh level pejabat. Biasanya, bila rapat membahas mengenai suatu kebijakan stategis yang mesti diambil atau diputuskan, maka rapat akan dipimpin langsung oleh pejabat level tinggi, bahkan bisa langsung diambil alih oleh gubernur itu sendiri –tentunya dengan didampingi oleh pejabat teknis yang menguasi bidang itu-- untuk memimpinnya.

Mau tahu bagaimana alur rapat yang dipimpin oleh gubernur? Melalui pintu khusus, gubernur akan masuk ke ruang rapat. Beliau menyapa yang hadir, lalu gubernur memberikan arahan atau pandangan secara global. (Jangan dulu berpikir bahwa gubernur akan selalu tahu atau menguasai permasalah itu, tidak! Beliau juga manusia, tak semua masalah ia kuasai dengan baik. Ada panduan atau pointer rapat yang telah disiapkan oleh pejabat/staf yang menguasai teknis permasalahan tersebut. Dari sini gubernur sebelumnya membaca dan mempelajarinya --tentu di ruangannya, agar tak kelihatan bodoh di depan anak buahnya, hehe-- untuk kemudian memimpin dan mengarahkan secara langsung jalannya rapat). Dari arahan itu terbukalah cakrawala dan wawasan peserta rapat akan permasalahan yang sedang dibicarakan. Lalu mulailah para pejabat berbicara dengan tak lupa didahului kata: “mohon izin!” Dari sini, muncullah silang pendapat dan argument untuk kemudian disaring dan diputuskan dalam rapat tersebut.

Bila gubernur memimpin langsung hingga selesai rapat, maka hari itu juga keputusan final bisa diambil tanpa menunggu kembali arahan dari sang gubernur. Namun bila sang gubernur hanya memberi arahan singkat, lalu keluar ruang rapat, maka hasil rapat yang diputuskan akan dibuatkan surat berupa nota dinas yang meminta gubernur untuk memberikan disposisinya. Diakhir paragraf nota dinas HARUS tertulis kalimat: “Demikian laporan ini kami sampaikan, mohon arahan lebih lanjut.”
Begitulah kurang lebihnya.

Kembali ke bahasan saya dimuka. Sayangnya, tidak semua rapat dipimpin oleh mereka yang memang cakap dalam memimpin rapat, even pejabat tinggi level gubernur sekalipun. Ternyata masih banyak pimpinan atau pejabat yang memimpin rapat tidak mengarahkan jalannya rapat agar berlangsung dengan baik. Banyak yang tak cakap dalam men-direct jalannya rapat. Akibatnya (jalannya) rapat sering over time, karena melebar ke hal-hal yang tidak substansial untuk dibahas.

Lalu bagimana sih rapat yang baik itu? Nah, disinilah ada seni tersendiri dalam memimpin rapat agar hal-hal yang tak perlu dibahas dapat dikesampingkan, sehingga jalannya rapat menjadi efektif. Kecakapan memimpin rapat ini tidak ada dalam mata kuliah manapun di dunia. Kecakapan ini menurut saya erat kaitanya dengan pengalaman seseorang dalam berorganisasi. Seni ini mengalir pada jiwa seorang yang mempunyai leadership yang kuat. Ya, kalau semasa kuliah, misalnya, tak aktif berorganisasi, bagaimana mungkin ia dapat mengarahkan topik dan berbicara di depan orang. Hanya mereka yang dulunya aktif dalam organisasi mahasiswa lah yang tahu asam garam dan dinamika pe-rapat-an. Ia tahu bagaimana memimpin. Ia tahu bagaimana mengarahkan orang.  

Karena sering rapat itulah saya dapat menyimpulkan bahwa rapat yang baik itu adalah:
  1. Dipimpin oleh orang yang ngerti masalah yang akan dibicarakan. Sering saya perhatikan pimpinan rapat tidak paham substansi materi pada rapat yang ia pimpin. Akibatnya ia tak dapat memimpin dan mengarahakan alur topik pembicaraan diantara peserta rapat. Harusnya membicarakan A, misalnya, ehh malah topik B yang sering diungkit.
  2. Optimal, alias efektif dari segi penggunaan waktu. Lantaran tak cakap dalam memimpin rapat maka ia tak mampu membatasi topik-topik apa yang menjadi penekanan untuk diselesaikan pembahasannya. Akibatnya, waktu pun terbuang percuma karena habis berkutat membicarakan sesuatu yang di luar substansi rapat.
  3. Tepat sasaran alias goal atau output dari rapat yang  diadakan dapat diperoleh. Sering kita ikut rapat namun selalu tersisa permasalahan yang tidak terpecahkan. Akibatnya rapat yang membahas satu permasalahan yang sama dapat terjadi hingga berjilid-jilid. Atau bahasa sederhananya akan ada rapat lanjutan, hehe..
  4.  Dan terakhir dapat ditemukan solusi pemecahannya.



Begitulah romantika pe-rapat-an yang sering saya jumpai. Tidak semuanya berakhir dengan kekecewaan, bahkan banyak pula rapat yang saya hadiri berakhir dengan hasil sukses, dalam arti; Rapat dimulai tepat waktu; Berlangsung secara singkat: Terakhir, dihasilkan keputusan yang sesuai dengan maksud dan isi rapat. Demikian adanya.